Cerpen

X, Y, dan Z

Cerpen Ken Hanggara

Dua hari setelah kematian X, seseorang bernama Y pergi ke kota kelahirannya dan memikirkan kematiannya sendiri. Jika dia lahir di kota itu, dia harusnya mati di kota yang sama. Ada ikatan bagi Y yang menyatukan masa lalu dan masa depan. Sulit dijelaskan, tapi bisa dibayangkan seperti biji pepaya dengan daging buahnya, atau seperti jeruk dengan pusarnya.

“Sedekat itulah saya,” begitu kata Y ke gadis penjual kebab yang ditemuinya sekeluar dari pintu stasiun. Gadis penjual kebab hanya memandangi sambil lalu karena harus melayani pembeli lain.

Hari itu udara begitu dingin. Setiap orang mendamba kehangatan bukan hanya pada permukaan kulit tubuh dan wajah, melainkan juga lambung dan, barangkali, jiwa.

Y berlalu sebelum potongan terakhir kebab yang dibelinya habis. Dia menikmati kunyahan terakhir sambil melangkah melewati barisan toko di tepi jalan.

Orang-orang begitu sibuk. Andai saat ini hari penting seperti perayaan dalam skala nasional atau ada peristiwa dahsyat yang memiliki daya tarik dalam radius ribuan mil, Y barangkali tidak akan bisa membeli kebab dan mungkin juga tidak sempat bercerita soal kaitan masa lalu dan masa depan yang serupa jeruk dengan pusarnya.

Y berhenti di depan toko elektronik, memandangi rak lusinan TV yang dinyalakan dengan tayangan berita hari itu. Y memikirkan perenggutan paksa bisa merusak ikatan masa lalu dan masa depan dengan mudah.

Biji pepaya akan dengan gampang digelontorkan ke selokan, sementara daging pepaya bisa dimakan dan masuk ke lambung di tubuh seseorang, yang bepergian ke sana kemari, dan boleh jadi tidak akan pernah kembali ke area di mana selokan tempat biji pepaya tersebut digelontorkan. Lagi pula, tak ada yang menjamin apa sesuatu yang terbuang sia-sia di selokan tetap berada di titik yang sama; orang hanya peduli jika cincin atau benda berharganya jatuh dan mulai memikirkan hal semacam ini.

Y membayangkan, kalau dia mau, bisa saja kaitan antara masa lalu dan masa depan baginya terputus begitu saja, tanpa harus membuatnya hilang ingatan. Maksudnya, masa lalu bisa digelontorkan begitu saja ke selokan dan dia akan baik-baik saja dengan segala peristiwa di masa depan. Masa lalu akan tertinggal di sana atau hanyut entah ke mana; biar itu menjadi urusan selokan dan Tuhan. Biar Tuhan mengaturnya sebagaimana yang seharusnya terjadi. Biar juga Tuhan membisiki walikota di mana dulu dia dilahirkan, yang menjabat hari ini, untuk bekerja dengan cara-cara yang entah seperti apa, sehingga fungsi dari selokan itu menyuguhkan pelbagai kemungkinan bagi masa lalunya yang ada di sana; terbuang dengan sengaja karena memang Y menginginkannya begitu.

“Andai bisa begitu,” gumam Y selagi menatap barisan manusia di gedung parlemen yang saling melempar kursi demi uang, di tayangan berita. Tentu saja demi uang. Omong kosong kalau ada yang bilang politik untuk rakyat. Barangkali betul, jika sudut pandangnya diletakkan di pojok paling tersembunyi dan kotor dan penuh penyakit di kota kecil ini, dan bukan diletakkan di batok kepala seorang akademisi, misalnya, yang menjelma politisi dengan segala tujuan dan misi yang tak benar-benar mulia.

Y melanjutkan langkah sambil membayangkan, andai hatinya bisa sekebas politisi, yang mampu berkata lain dengan apa-apa yang dikerjakan, tanpa terbebani moralnya. Y jelas tak akan bisa tidur andai dia terjebak dalam situasi seperti potongan berita tadi; dia tidak mampu membohongi diri dan selalu dihantui. Demikianlah cara kerja dari ikatan yang menyatukan masa lalu dan masa depan. Ikatan yang justru dirawat oleh Y karena dia tak ingin melepaskan itu. Dia bisa, bukannya tidak bisa. Dia bisa, tetapi enggan.

Y dan X begitu lekat. Mungkin mereka adalah wujud dari masa lalu dan masa depan itu sendiri.

Y tidak mengerti bagaimana X bisa begitu lekat hingga saat kematian tersebut dia sadari. Tidak ada yang perlu Y lakukan selain pergi ke masa lalu, ke kota kelahirannya, dan mencari segala tentang X di sana, sosok yang tak dia kenal di masa-masa ketika masalah hidup hanya sebatas PR matematika yang tak pernah dia gemari atau ledekan beberapa teman sekolah karena dia tidak memiliki sepatu bagus.

Jejak-jejak lama X, barangkali, dapat menjadi obat bagi Y.

Dia menolak saat orang-orang berkata, “Dialah cinta sejatimu.”

Mereka berkelakar atas hal itu, tapi Y menolak dan sekaligus sakit hati. Y tak mau melukai Z yang menjadi istri X sejak dulu, jauh sebelum mereka bertemu.

X, Y, Z, adalah sebuah takdir yang lucu, dan Y kerap tertawa akan perkara ini, lalu membayangkan Tuhan juga tertawa, para malaikat, setan-setan, para arwah di kuburan, keluarga besarnya, bahkan ayah-ibunya yang menyayangi, juga tertawa. Seluruh tawa tergabung sempurna, membuat kuping Y kebas atas segala suara. Lagi pula, dia tak benar-benar bermain api bersama X.

Y hanya membayangkan takdir nama mereka membuatnya terjebak di antara kedua manusia yang sudah saling memiliki sebelum dirinya hadir.

“Andai saya Z, apa segala yang saya jalani akan berbeda, Tuhan?” Y pernah membatin.

Tapi, biji pepaya yang digelontorkan ke selokan akan memiliki pelbagai kemungkinan nasib yang tidak bisa ditebak. Bahkan, andai dia membayangkan kisah ini tak ubahnya jeruk dan pusarnya, maka pusar yang menghilang usai juring demi juring jeruk dirobek oleh tangan pemangsa jeruk, juga memiliki nasib yang misteri; pusar itu memang di suatu tempat yang tidak terlihat atau bisa disebut hilang karena tak ada jejak, tetapi tidak ada seorang pun yang tahu di mana pusar itu berakhir dan jelas tak akan ada yang tahu.

Jika Y adalah Z, tidak lantas X menjadi suaminya. Bisa saja X dan Y (yang bukan dirinya) justru menikah dan itu terjadi setelah (barangkali) X dan Z (yang andai dirinya) bertemu lebih dulu. Bisa saja X dan Y (yang bukan dirinya) menikah sebelum Z (yang andai dirinya) hadir di antara mereka. Bisa jadi X dan Y (yang bukan dirinya) tak akan pernah menikah karena tak saling mencintai, tetapi Z (yang andai dirinya) ternyata juga tak ada kesempatan diperistri oleh X karena beragam faktor.

Y benar-benar pusing memikirkan itu.

Kemarin lusa, X mati di apartemennya. Tak ada yang tahu–sejauh yang Y tahu.

Y pergi begitu saja, batal mengajak X berbicara soal permainan yang mungkin akan seru jika mereka lakukan kali itu, karena saat itu Z tidak sedang di kota tersebut. Z menghadiri acara penting sebagai tamu undangan. Y merasa rendah begitu menatap X yang pucat dan tidak lagi bernyawa.

Y tidak perlu menelepon siapa-siapa, karena dia hanya akan malu. Yang perlu dia lakukan adalah merawat cinta tanpa dihantui rasa malu, dengan menggali masa lalu X. Dia akan tetap begitu, entah sampai kapan. Mungkin sampai kiamat datang dan seisi dunia hancur bersamaan dengan hancurnya seluruh jejak dan ikatan yang ada tentang mereka.***

Gempol, 2019-2023


Ken Hanggara lahir di Sidoarjo, 21 Juni. Menulis cerpen, novel, esai, puisi, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-hara (2018), dan Buku Panduan Mati (2022). Segera terbit kumpulan cerita terbarunya dengan judul Pengetahuan Baru Umat Manusia.

Puisi

Puisi Faustina Hanna

Tuguran*

        sejam berlalu semenjak jurit waktu berpiuh bersama

                   keranjang dosa

                                         yang kumuh

/1/

dari kejauhan ada yang menanti;

pada jalur utama sepeda motorku: gapura-gapura teguh

penuh paru lampu. maka mulailah kuhitung teliti  

     −lembar per lembar

kerabat jauh langit merah telah lengkap. semestinya hanya

satu yang termuda akan terlambat melapor.

/2/

perlahan, begitu berhati-hati dan khidmat

induk-induk angin datang berkabar tentang sepenggal kidung

baru. mengapa ada yang sebegitu lembut dan mulia seperti cara

Bunda berbisik di sisi telingaku

/3/

sebelum tiba saatnya, izinkan kami terlebih dahulu kelola hati

berarak serupa larva iman yang mentah, lapar dan kian bergerak

hingga jarak;

bisa saja segala telaten ditanami menjadi sederet kebun jiwa

yang rapat. di sana akan banyak yang bersahutan mesra

tentang lesung usia yang menyimak secara santun setiap wadah

hingga ketukan,

terdengar jelas, bukan? aku, dia, dan sejatinya tentang setiap tubuh.

tak perlu tungku dipesan untuk memasak setiap nama yang

sulit teringat pada daftar panjang kekeliruan serta kesalahan.

sudi pandanglah ketika ranting yang geram itu bisa saja melubangi

beratus pasang mata kami (menuju lantas menggempur nurani

yang terkadang kerdil).

     tidak!

asalkan kami dieratkan oleh aroma dupa nan syahdu milik-Mu.

milik-Mu

yang kerap memulangkan kembara senja kepada kanak-kanaknya.

/4/

semenit lalu aku baru saja mengambil air suci, membuat

tanda salib, lalu biarkan rindu paling abadi yang kumiliki sejatinya

akan bermuara di dada. memperbarui tiap janji darah dan tulangku.

ya, persis hari itu di antara lebat temaram Kau bersabda agar kami

berbuah banyak.

     Tuhan…

kami sungguh ingin menjadi cinta yang bersahaja di dalam rumah-Mu.

/5/

pada altar suci;

induk-induk angin masih bercerita akan kasih mahasempurna dan

segenap anak-anak-Mu serupa gapura-gapura teguh penuh paru lampu

/6/

tiba saat bagi lilin-lilin mungil untuk segera dipadamkan. berilah waktu

sejenak, kepada baris cahaya untuk segera terkatup,

biar hening ini tercipta untuk-Mu. biar kami berdoa kemudian berjaga-jaga

bersama Engkau.

     “Berjaga-jagalah dan berdoalah,

     supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan:

     roh memang penurut, tetapi daging lemah.”**                       

5-6 April 2012-2022

* Tuguran adalah Ibadat dalam umat Katolik yang dilakukan setelah Misa

Kamis Putih Malam. Memiliki makna penting: umat akan berjaga-jaga

bersama Yesus Kristus dalam doa kepada Bapa-Nya di Taman Getsemani.

Umat berdoa bersama di hadapan Sakramen MahaKudus yang telah dipindahkan

dari Altar Utama. Untuk merenungkan wafat Kristus demi umat manusia,

keesokan harinya pada Jumat Agung.

** Injil Matius 26:41


Jantung Hati

− bagi ‘wajah Silentium’ yang dilukis oleh Adikku, Jefron (Viktorinus Dale Hikon)

#1

Maka merupalah bayanganku,

niscaya kau takkan berkhianat

kepada apa yang terjamah

dan terpangkas oleh

cahaya

sepanjang tubuhku.

#2

Terima kasih.

Telah bersedia menjadi biji mata tersendiri

yang teramat kukasihi. Tatkala aku

memutuskan menutup raga,

sepasang mata

pun hatiku

dari setiap kemungkinan

— duka maupun suka cita.

Juli 2023


Risalah Rambut, 1

tanpa sepengetahuanmu −namun sedalam ingatanku− bibir ini

selalu gagal membujuk pulang setiap jejak senyum masamku

yang tertinggal, dan berserakan pada simpanan cermin kamar

mandi. aku tahu, aku telah menghafalnya: segala peristiwa itu

seperti harus terjadi sewaktu kau berhari-hari menjadi lugu,

dan tak tersentuh oleh gemetar jari-jemari di tanganku. kau

acuh tak acuh, seolah bukan lagi bagian dari diriku yang utuh.

kepada cinta yang terasa sulit mengeratkan wewangi sampo

dengan ujung-ujung halusmu, pagi kembali datang bersama gerak

sendu hari kemarin yang dukanya mudah memecahkan vas bunga.

— vas bunga di sisi kiri hatiku. maka; kini kau yang lebih dulu

berani memutuskan berantakan mendahului segala pikiran,

membilangkan isi gumamanku, mendamparkan bagian-bagian

remeh dirimu yang belum lama tumbuh, di keningku.

September 2013-2020


Risalah Rambut, 2

   (bisikanku bagi ujung rambut yang telah mencapai pinggul)

tumbuh, teruslah tumbuh memanjang. hingga cinta menjadi

sedemikian alpa akan keberpihakan malam ini; entah kepada

ujung penghabisanmu, atau kepada mabuk yang dijanjikan

oleh sentuhan bibirnya. abaikan! sebab tentu kau perlu

durhaka pada sepanjang kisah yang ditentang sebagai batas

kewajaran dan keteraturan dalam kembar cermin muram di

hadapanku ini. 

Mei 2020


Anuptaphile

Ada kalanya cinta berupaya mengetuk pintu hati saya.

Dengan teramat santun, saya meminta kepadanya

Agar sabar menunggu, namun tiada sekali pun saya

Bergerak maju untuk membuka pintu dan menyambutnya.

Saya ngeri menghadapi setiap kemungkinan; bahwa saya

Akan mabuk meski tanpa anggur, hingga alpa membedakan

Warna-warna pelangi.

2019


Aksentuasi

Di belantara puisi,

tiada yang dapat menyesatkan sekaligus

menyelamatkan dirimu

selain

bisamu sendiri.

18 September 2023

(17.05)


Faustina Hanna, lahir di Jakarta, 5 April 1987. Penikmat seni budaya dan kearifan lokal. Sehari-hari bekerja sebagai karyawan perusahaan swasta di Jakarta, aktif menulis puisi, freelance Graphic Design, menekuni fotografi dan ragam kuliner Nusantara. Sajak-sajaknya telah tersiar di pelbagai media cetak dan online. Silentium (Teras Budaya Jakarta, 2023) adalah buku kumpulan puisi pertamanya. Beberapa sajaknya tergabung dalam antologi. Pernah menjuarai lomba penulisan puisi dan berencana melanjutkan studi ke Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Cerpen

Frans

Cerpen Erna Surya

Tikus-tikus kecil berlarian di atas kepala Frans. Mereka memakan rambut, lalu kulit kepala lelaki itu hingga lenyap seluruhnya.      Dua telinga Frans berpindah ke bawah ketiaknya, dan matanya kini ada di dada. Frans mulai ketakutan. Ia mendengar suara teriakan orang-orang. Frans tahu betul siapa mereka. Mata Frans menangkap sebuah bayangan.

It’s your turn,” bayangan itu bersuara.

Frans bangun dengan tubuh berkeringat.

***

Frans baru saja meniup lilin ulang tahunnya yang ke empat puluh bersama istri dan kedua putrinya ketika telepon berdering. Sebuah panggilan datang di waktu yang kurang tepat.  Frans sedikit menggerutu setelah mendengar suara dari seorang lelaki yang ia panggil ‘bos’ karena dua alasan: pertama,  ini adalah hari ulang tahunnya yang seharusnya ia habiskan untuk di rumah saja bersama keluarga tanpa harus diganggu dengan berbagai macam pekerjaan. Kedua,  ia sedang tidak siap untuk sebuah misi. Ini adalah hari istimewanya.

“Dia sudah membuat banyak perempuan kehilangan masa depannya,” ucap lelaki itu.  Frans diam sesaat,  kemudian mematikan telepon. Kepada istrinya,  Frans beralasan bahwa seorang pelanggan lama sedang mengalami masalah dengan mobil Chevrolet tuanya dan harus segera diperbaiki karena esok akan dibawa berkendara ke luar kota untuk sebuah urusan mendadak. Dan hanya dirinya yang bisa mengatasi masalah ini.

“Adakah urusan yang lebih penting daripada merayakan ulang tahunmu, Sayang?” tanya istrinya dengan suara lembut, berharap suaminya akan berubah pikiran untuk tetap tinggal di rumah dan menghabiskan waktu bersamanya.  Frans berjanji akan segera kembali setelah semua selesai,  dan ia tak akan melewatkan jam makan malam keluarganya. 
Frans segera memacu mobil ke bengkelnya yang berjarak dua puluh menit perjalanan dari rumahnya. 

Bengkel Frans berada di pinggiran kota, sebuah lokasi yang sangat strategis untuk sebuah usaha bengkel mobil di mana ia bisa mendapatkan harga sewa dengan sangat murah tetapi akses menuju kota pun sangat dekat.  Sedangkan untuk tempat tinggal,  Frans setuju untuk tinggal di sebuah desa kecil di mana istrinya punya lahan yang cukup untuk menanam bunga-bunga. Semenjak menikahi perempuan muda yang berjarak sepuluh tahun di bawahnya itu,  hidup Frans seketika berubah.  Ia tak lagi senang dengan berbagai macam pesta yang menyuguhkan alkohol dan perempuan bersama teman-temannya. Frans juga lebih senang menyisihkan hasil kerjanya untuk amal.  Semua itu karena istrinya senang berbagi dengan orang-orang miskin.  Frans menemukan kedamaian bersama perempuan itu.  Dan kebahagiaan semakin berlipat ketika putri pertamanya lahir dan disusul putri keduanya dua tahun kemudian.

Ketika memasuki bengkel,  Frans tak menemukan siapa pun.  Semua pegawai sudah pulang.  Bau oli menyengat.  Frans segera menuju sebuah ruangan di sudut,  sebuah ruangan yang biasanya ia pakai untuk bersantai di waktu istirahat siang.  Frans segera menggeser posisi meja dengan gerakan sangat cepat.  Lalu ia angkat tiga deret keramik sehingga menimbulkan lubang.  Di tempat itulah tersimpan rahasia Frans.
Frans mengangkat sebuah tas kecil keluar dan segera membukanya. Sudah ada catatan untuknya.

‘Bos’ yang beberapa saat menelepon tadi telah lebih dulu masuk dengan cara rahasia, meletakkan tas itu,  dan pergi lagi dengan cara ajaib tanpa seorang pun tahu.
Sudah ada sebuah catatan tentang siapa yang akan ia eksekusi malam ini,  seorang dokter bedah syaraf yang membuka praktek sampai pukul sepuluh malam setiap harinya.  Bahkan di hari Minggu pun,  ia tak libur.  Berdasarkan catatan itu, Frans tahu bahwa dokter itu memanfaatkan pasien-pasiennya yang masih muda dan cantik untuk pelampiasan nafsunya. Dan semua itu sudah berlangsung selama puluhan tahun.  Dokter itu tak menikah. Namun ia punya seorang putri yang kerap mengunjunginya di hari Minggu siang sekadar untuk mengantarkan makan siang. Tentu saja putrinya tak tertulis secara hukum negara.

Sedangkan tentang seseorang yang ia panggil ‘bos’ itu, Frans sendiri belum pernah bertemu dengannya. Entah dari mana,  lelaki itu tahu bahwa Frans pernah keluar masuk penjara sejak usianya remaja.  Banyak perkara.  Frans pernah memukul kepala tetangganya hingga gegar otak ketika mendapati lelaki itu di rumahnya dan ibunya berteriak-teriak minta tolong. Ibunya gagal diperkosa,  tapi Frans harus masuk penjara untuk beberapa saat.  Kasus lain masih ada.  Frans juga pernah mendapati dirinya tiba-tiba babak belur lantaran mencuri kalung emas di sebuah toko emas kecil di dekat pasar kota. Menjadi kurir narkoba pun pernah ia kerjakan.  Nasib baiknya,  ia belum pernah tertangkap.

‘Bos’ menggali segala informasi tentang Frans dan akhirnya merekrut lelaki itu menjadi timnya.  Frans awalnya menolak. Ia tak ingin kembali ke dalam penjara suatu saat nanti. Kedua putrinya yang menjadi alasan. Frans lebih menikmati kehidupan menjadi seorang montir yang membuka bengkel di pagi hari dan menutupnya di sore hari dengan penghasilan pas-pasan ketimbang berurusan dengan kriminal lagi. Itu sudah cukup asal ia punya banyak waktu untuk keluarganya. Namun semua pikiran itu seketika berubah ketika datang dua pilihan kepadanya: ikut bergabung atau istri dan kedua anaknya dibunuh. 

Frans resmi menjadi anggota tim eksekutor dengan bayaran sangat tinggi.  ‘Bos’ memiliki cukup banyak uang untuk melenyapkan orang-orang yang dianggapnya merusak tatanan dan nilai-nilai kemanusiaan tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Frans salah satu pembunuh bayaran yang paling ia senangi. Gerakan Frans cepat dan rapi.

Frans segera menuju ke sebuah alamat yang tertulis di sebuah kertas kecil.  Ia akan bersembunyi di sebuah tempat rahasia di rumah sang dokter,  muncul ketika dokter itu masuk,  membunuhnya,  menghilangkan jejak,  kemudian pulang.  Ia merencanakan semua itu dengan sangat saksama tanpa menghabiskan banyak waktu.  Sepanjang perjalanan, Frans bernyanyi-nyanyi kecil.  Ia ingat sebuah lagu anak-anak yang dinyanyikan ibunya waktu ia masih kanak-kanak.  Lagu itu pula yang ia nyanyikan untuk kedua putrinya setiap malam menjelang tidur. Frans sangat mencintai keduanya.

Tiba di rumah sang dokter, Frans tak menemukan siapa pun.  Frans semakin yakin bahwa misinya kali ini tak akan mendapatkan kesulitan yang berarti, juga akan memakan waktu singkat saja. Semua sudah ia pikirkan secara detail.  Dengan mengendap-endap,  Frans masuk ke rumah yang tak begitu besar itu.  Pertama, ia perhatian sudut-sudut  rumah tempat biasanya orang memasang CCTV.  Setelah merasa semua aman,  Frans memutuskan untuk bersembunyi di loteng.  Tak berapa lama, Frans mendengar suara mobil datang.  Ia bergerak pelan untuk mencari celah guna pengamatan. Dilihatnya seorang lelaki berjalan memasuki halaman,  teras,  lalu masuk ke rumah.  Frans segera menyiapkan senjatanya dan bersiap turun. Ia bergerak pelan sekali,  sampai tak menimbulkan suara.
Di ruang tengah, Frans bersembunyi di samping lemari besar. Ia melihat targetnya tengah menuang minuman ke dalam gelas.

Dooorrrrr….

Sebuah tembakan mengenai kepala Frans.  Seketika ia roboh. Frans masih bisa melihat darahnya sendiri mengalir dari kepala dan membuat lantai memerah. Tikus-tikus kecil datang lagi. Mereka muncul dari genangan darah lelaki sekarat itu. Frans merasakan kaki-kaki kecil mereka yang berjinjit menaiki hidung dan telinganya. Kini tikus itu tak hanya memakan kepala Frans, tapi semuanya. Suara-suara teriakan datang lagi. Satu per satu wajah-wajah itu muncul di kelopak matanya, dekat sekali. Frans tak sempat meminta ampun lantaran telah menghilangkann nyawa mereka.

Tiba-tiba ia mendengar suara ibunya bernyanyi lagu masa kecilnya. Kemudian suara itu berubah menjadi suara putrinya.

“Tikus kecilmu sudah kulenyapkan, ” suara lelaki itu masih samar terdengar di telinga Frans bersama lagu yang hampir selesai dan akhirnya semuanya benar-benar gelap.

“Terimakasih.  Dia paling membahayakan, ” suara ‘Bos’ di ujung sana.


Erna Surya, suka dengan cerita-cerita dan kata-kata. Seorang pengajar Bahasa Inggris di SMK. Berdomisili di Klaten.

Puisi

Puisi Ludira Lazuardi

RHAPSODY OF LONGING

Kekasih,

tak pernah alpa dalam kepala

kala debar pertama

melebur bersama debur-debur

ombak di karang dan pantai

dan rayleigh biru menghambur memburai

angkasa berwarna jingga

seketika rindu tak terhingga

Lalu setelah itu

tiap kedatanganmu

adalah tantangan bagi nyaliku

mampukah aku nyalakan

rasa di kedalaman relungmu yang misteri

mimpikan cinta mengaliri vena-arteri

karena kau begitu indah

sebab kau begitu rapuh

Bila tiba waktu untuk berpisah

aku ingin berkesah

namun tak ingin buatmu resah

sungguh, pergimu

adalah perigi setiap sunyi

terasingku di sunyaruri

sepi bersepai-sepai

di antara dersik angin sepoi-sepoi

Kekasih,

seumpama kaudedah dada

geledahlah dengan seksama

kau akan menemu gundah gelebah tiada sudah

berkelindan pada asa

pada rasa

pada karsa

Kekasih,

bilamana aku bangun setiap pagi

itu untuk mencintamu sekali lagi

Jogja, 2023


REPENTANCE

Aku telah sampai di sini

di mana apa yang layak kuingat hanya sebatas senyummu yang terkembang

membawamu berlayar jauh dariku.

Tiap pagi aku bangun untuk memungut hari-hari kemarin

yang tercecer ketika kita melewati jalanan dengan riang pun amarah

lalu pulang dengan sebuket kenangan dalam genggaman

 hadiah dari semesta untukku merayakan malam dalam diam

(Empedu malam pecah, kuarkan pahit di ujung-ujung lidah)

Bunyi-bunyi sunyi mulai berani keluar dari tempat sembunyi

Ah, berisik sekali keheningan ini

Dulu bersama kita pernah mengunjungi dunia mimpi-mimpi

sengaja lupa cara bangun

menutup mata pada realita

Dulu bersama kita pernah berdiri di puncak dunia

dengan angkuh hendak melampaui yang namanya selamanya

Ketika kita tak lagi saling paham

tersesatku dalam angan sangat dalam,

ingin yang dingin aku menggigil di ujung asa

Ketika kita saling mendiamkan

diam-diam memendam dendam

Kekosongan berdesak-desak memenuhi jemala

Sungguh sesak, aku nyaris meledak

Adakah punggungmu masih menanggung

reruntuhan tahun-tahun yang kita bangun dengan tangan kita?

Karena di tiap tapak langkah kakimu menjejak jarak

 menjelma jenggala kelam

kediaman bagi sesal yang terkutuk

Aku lelah sampai di sini

di mana aku telah berhenti menghitung usia

hanya demi mendapati waktu tersia-sia

dalam penantian yang tak kenal kata usai

Katanya, kita tidak akan ada tanpa waktu

sementara definisinya masih saja menyusahkanku.

Jogja, 2023


DALAM

dalam matamu

badai abadi

dalam hatimu

luka tiada terperi

dalam ingatmu

aku mati

dalam hidupmu

aku tak lagi berarti

dalam kamusmu

tak ada kata

kembali

dalam sesalku

kamu

Jogja, 2023


LUAR ANGKASA

hampa udara

diam

melayang dalam arus abadi yang diam

sedetik adalah selamanya

selamanya yang tak berarti apa-apa

Jogja, 2023


HINGGA PENANTIAN USAI

Hingga penantian usai

Yang aku sendiri tak tahu kapan akan terjadi

Barangkali nanti kala kita telah berhenti menghitung usia

Dan mendapati waktu tersia-sia

Kau tahu aku masih akan di sini

Hingga penantian usai

Dan musim-musim kesedihan berhasil dilerai

Ketika benih-benih rindu yang ditabur

Berbuah manis nan menggiur

Kubayangkan kamu dalam dekap

Mengisi setiap gelap dengan harap

Hingga penantian usai

Dan kelopak bunga jiwa terakhir jatuh

Kau masih akan menemukanku di situ

Berlutut di sebuah batu berlumut menunggu

Hingga penantian usai

Di mana aku tak lagi mengumpat jarak yang tak sudi dilipat

Ataupun mengutuk penantian yang tak punya usai

Sehingga aku selesai.

Jogja, 2022


SOLAR PLEXUS

Pada suatu ketika

: Ganglion terinfeksi kecupan mesra

: Impulse teraktivasi kerlingan mata

Kemudian

Di kedalaman rongga gulita ini,

rahim cinta sekaligus makamnya

Antagonisme dada dan kepala tak berkesudahan

Bergumul kalut kalang kabut saling serang jatuh menjatuhkan

Ada kalanya pencipta rasa berdiri tegak di tengah hamparan

            : biarkan mawar mekar di atas akar-akar

            : biarkan burung-burung bercinta di luar sangkar

Seketika produsen logika datang membadik, harapan

tumbang tepat di ujung lantunan

tembang

            : cinta, bentangan sepi berduri

              tak mungkin mampu kauseberangi.

Dan demikianlah mereka terus bertarung

Hingga deras darah yang naik terjun mencipta halimun

Di kedalaman liang abdomen ini

Sang pencinta yang sekarat, penguasa kelam masa silam

Lunglai luruh di tubir nestapa, menatap, meratap sesaat

Perasaan dan penalaran laksana makan buah simalakama

Mana kalah mana menang

Dia tetap binasa.

Jogja, 2022


Ludira Lazuardi, perempuan yang memendam bara di hatinya.

Puisi

Puisi Diana Rustam

UBAN

kuucapkan terima kasih kepada uban

yang memperingatkanku kepada layu setelah mekar

kepada padam setelah menyala

kuucapkan terima kasih kepada uban

yang mengajariku menghitung sebuah penghabisan

bahwa fajar akan menjadi senja

kulihat diriku kepada uban

aku ada, dan akan menjadi tiada


LIDAH

suatu ketika aku tiada lagi mengenal dirinya

bagai kuda yang lepas dari kekang di padang pasir gersang

yang telah merasuk ke dalam rongga-rongga tubuhnya nafsu buta

tiada timur kepada barat kepada utara kepada selatan

penjuru-penjuru tertabir badai

kemana kata-kata yang bersilaju ditambat

aku tiada lagi mengenal dirinya

lidahku yang suatu ketika memagut berbongkah-bongkah hati

dan menjadikan mereka berdarah dan mati.


MATA

maafkan aku

telah kunodai beningmu, asal mula yang sejati itu

yang ditetesi kasih ibu dan peluh di dahi ayah

hari-hariku adalah memupuk noktah hitam

dan membiarkanmu tumbuh menjadi buta kepada cahaya


TELINGA

dapatkah aku mengulang, duhai?

akan kuletakkan engkau dimana kicau burung mendendangkan kidung pagi

dimana angin berkesiur menimpali ombak yang membelai karang ketika senja menjinggakan langit

dimana gemericik air sungai yang pecah menabrak bebatuan

dan serangga-serangga menimang malam di perut-perut dedaunan

dan bersemayamlah engkau dalam ketenangan

dapatkah aku mengulang, duhai?

akan kuletakkan dirimu di mana seruan Tuhan digaungkan

dan teguhlah engkau di atas kebenaran


KAKI

sepasang kaki yang diam

gentar kepada onak

gamang memandang jalan-jalan bercabang

Menimbang- nimbang pada neraca hati yang bimbang

sepasang kaki yang diam

menunggu sampai waktu menjadi usang

lapuk kemudian roboh sebelum berjuang

alangkah menyedihkan dan pengecutnya


Diana Rustam. menulis puisi dan cerpen di media sosial. Beberapa karyanya telah dimuat di media sastra online dan koran lokal.

Cerpen

Spelunkers

Cerpen Ludira Lazuardi

You will find what you seek. Kamu akan menemukan apa yang kamu cari.” Aku ingat betul kata-kata ayahku saat aku kecil. Beliau adalah seorang speleolog. Meneliti gua-gua di seluruh dunia adalah pekerjaannya. Seumur hidup ayah dihabiskan untuk menyusuri gua, terlebih yang belum pernah terjamah manusia.

“Apa yang ayah cari di gua?” tanyaku suatu waktu.

“Banyak hal, Sayang. Sisa-sisa peradaban, dunia baru, dan terutama, keajaiban.”

“Apakah Ayah percaya keajaiban?”

“Tentu saja. Keajaiban akan membuatmu mengerti betapa berharganya hidup ini.”

Barangkali kegemaranku menyusuri gua karena sedikit banyak aku ingin menjadi seperti beliau. Aku juga ingin menemukan keajaiban. Itu satu alasan. Aku sangat merindukan ayah, mungkin itu alasan paling kuat kenapa aku rela tersesat berlama-lama di dalam gua-gua penuh jalan rahasia. Dengan menyusuri gua, aku berharap bisa mengerti kenapa ayah sampai lebih memilih pergi daripada menemani aku tumbuh.

Ayah menghilang sepuluh tahun yang lalu saat meneliti salah satu gua yang baru ditemukan di China. Sampai sekarang jasadnya belum ditemukan. You’ll find what you seek. Jadi sekarang aku yang akan mencari ayah.

Aku berada di Guangxi dengan beberapa teman sesama spelunkers. Kami mulai dari gua terakhir yang ayah datangi. Pintu gua itu berupa lubang berdiameter sekitar setengah meter. Kami terpaksa masuk satu-satu menggunakan tali. Siapa sangka, setelah kami turun sekitar tiga puluh meter, jalan sempit gua berubah menjadi sangat luas.

Ada sekitar lima pintu lain yang bisa dilewati manusia. Kami putuskan untuk membagi tim. Aku memilih sendiri sementara tim lain terdiri dari 3 orang. Mereka adalah teman-teman yang sudah sering menyusuri gua bersamaku. Jadi mereka sudah hafal kebiasaanku, juga sudah tahu kemampuanku. Jadi mereka tidak menolak saat aku ingin sendiri dengan hak istimewa memilih pintu mana yang akan kutelusuri. Kupejamkan mata sekejap dan kudengarkan suara angin yang berembus dari tiap pintu. Suatu nyanyian memanggilku dari arah lubang gua paling sempit. “Aku ambil yang ini,” ucapku sambil menunjuk lubang paling kiri.

“Oke, kita bertemu di sini maksimal tiga jam lagi. Setuju?”

“Sip, kita mulai. Jangan lupa hidupkan alat komunikasi dan perekamnya.”

Gua ini tipikal karst yang mirip dengan gua-gua di Indonesia. Pintu sempit yang kulewati hanya sekitar dua meter saja, selebihnya gua makin melebar dan tinggi. Kususuri tiap dinding, berharap menemukan lukisan purba, tetapi aku harus kecewa karena dindingnya bersih dan basah.

“Kay, gimana keadaan di sana? Ganti.” Protofonku berbunyi.

“Belum ada yang menarik. Ganti,” jawabku.

Aku sudah berada dalam gua itu sendirian sekitar satu jam. Kubayangkan ayahku sedang bekerja mencatat batuan dan keadaan gua. Beliau terlihat sangat antusias dan bahagia. Aku terus bergerak maju dan hampir putus asa sampai kurasakan embusan angin dari arah depan. Makin dekat, gua makin terang. Aku matikan senter yang kubawa dan mempercepat langkah.

Betapa terpukaunya aku melihat pemandangan di hadapanku. Sebuah hutan purba dengan berbagai tumbuhan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tanaman dengan aneka macam bentuk bunga bercahaya, pohon-pohon kemerahan dengan daun biru tua, dan hamparan rumput yang berwarna merah terang.

“Bagaimana tanaman-tanaman ini bisa tumbuh di sini?” Aku mendongak mencari sumber cahaya selain dari tumbuhan yang bersinar. Barangkali ada lubang tempat kemungkinan matahari masuk. Yang kutemukan lebih menakjubkan dari yang ada di dasar. Langit-langit gua itu tinggi dan penuh cahaya gemerlap seperti bintang. Awalnya kupikir itu sejenis cacing Arachnocampa Luminosa. Namun, cacing yang menghuni Glowworm Cave di Selandia Baru itu memancarkan cahaya biru temaram. Sedangkan langit-langit gua ini lebih berwarna kemerahan dan menyilaukan.

Guys, kurasa aku menemukan sesuatu. Ganti.” Aku mendekatkan mulut ke protofon, tidak sabar membagikan tempat istimewa ini dengan teman-temanku. Sambil menunggu jawaban, aku mengitari tempat itu lagi dan tergoda untuk menyentuh salah satu bunga paling cantik di antara lainnya. Warnanya biru terang, mahkotanya lebih rumit dari bunga lain, dan aromanya lembut memabukkan.

“Kay, kami juga menemukan sesuatu.” Kurasa itu suara Yuda. Dia terdengar lesu. “Sepertinya, kami menemukan yang selama ini kamu cari. Maaf,” lanjutnya.

Tanpa Yuda menerangkan lebih lanjut, aku tahu yang mereka temukan, ayahku. “Seperti apa keadaannya?”

“Yah, sepuluh tahun berlalu, Kay. Kami membuka tasnya dan menemukan foto dan namamu. Jadi kurasa sudah seratus persen.”

“Oke,” jawabku singkat, bingung harus bersikap bagaimana. Aku tahu tidak seharusnya berharap beliau masih hidup. Akan tetapi, aku masih yakin bisa menemukannya, dan harus siap seperti apa pun keadaannya. Nyatanya kini, saat tahu beliau benar-benar sudah meninggal, aku masih saja merasa patah hati. Yah, paling tidak aku telah menemukan apa yang ingin aku temukan. Ayahku, bersama keajaiban yang beliau ceritakan.

“Tapi ada yang aneh, Kay. Ada tanaman bersinar kemerahan tumbuh dalam apa yang tersisa dari jasadnya. Seperti, bagaimana ya menjelaskannya.” Suara Yuda terjeda, seolah dia sedang berusaha menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang dilihatnya. “Kuharap perkiraanku salah. Sebelum menjadi tulang, tanaman ini seperti memakan beliau.”

“Itu tidak mungkin. Aku juga menemukan banyak sekali tanaman bersinar di sini, Yud. Indah sekali.”

“Untuk berjaga-jaga, sebaiknya kamu jangan menyentuh tanaman itu, Kay. Siapa tahu beracun. Kita laporkan dulu hasil temuan kita.” Seorang teman lain menimpali.

“Thomas ada benarnya, Kay,” ucap Yuda. “Kay, halo, Kay, kamu masih di sana? Kay?” Gelombang kekhawatiran terdengar jelas dari suara teman-teman.

Aku ingin menjawab mereka, tetapi tidak satu pun kata mampu keluar dari mulutku. Aku merasa sangat pusing, dunia di sekitarku berputar-putar dan pandanganku makin kabur. Rasanya aku melihat bunga yang kusentuh tadi tumbuh makin tinggi dan melilitku sebelum akhirnya gelap total dan aku tidak bisa merasakan apa pun.


Ludira Lazuardi, perempuan yang memendam bara di hatinya.

Cerpen

Percakapan di Meja Makan dalam Kepalaku

Cerpen Eko Setyawan

Istriku ingin segera memiliki rumah baru karena merasa hidup satu atap dengan keluargaku seperti halnya ikan yang hidup di akuarium. Ia begitu gerah dengan keadaan karena tidak bisa leluasa melakukan hobi dan hal-hal yang disukainya. Sebenarnya, hobinya sederhana, yakni menonton film. Tapi sering kali orang rumah seolah tak suka pada dirinya dan serasa ingin menunjukkan apa yang dilakukannya adalah salah satu bentuk kemalasan. Hal itu membuat istriku tersinggung. Ketika di kamar, ia menyampaikan padaku bahwa dirinya ingin segera angkat kaki dari sini.

Pada akhirnya hal ini harus kulakukan untuk menuntaskan semua masalah yang sedang kuhadapi. Apa yang dikeluhkan istriku harus segera tuntas secepatnya agar tidak menjadi masalah yang meluas. Terlebih, karena posisi istriku yang sudah bekerja keras sepanjang hari demi membantuku mendapat uang.  Karena gaji dari mengajar menurut kami belum cukup memenuhi kebutuhan, cara inilah yang kugunakan mendamaikan keadaan dan meredam segala persoalan yang ada.

Aku menggelar meja makan dan kusiapkan segala keperluan yang nantinya kugunakan menyelesaikan masalah dengan cara menjamu semua orang yang terlibat dalam masalahku. Karena menurutku, masalah dapat dibicarakan dan diselesaikan dengan suasana yang tenang dan khusyuk, salah satunya dengan makan bersama demi menguraikan persoalan satu demi satu.

Meja makan yang kusediakan cukup sederhana. Hanya berbentuk persegi panjang yang tak seberapa lebar, kualasi dengan taplak renda motif bunga. Ditambah empat kursi mengelilinginya. Dan yang paling utama yakni piring, sendok, dan peralatan makan yang sekiranya diperlukan. Kulanjutkan dengan memasak dan kusesuaikan dengan makanan kesukaan mereka. Aku tahu itu karena aku akrab dengan orang-orang yang akan kuhadapi.

Cara ini menurutku akan manjur menuntaskan masalah yang ada. Sebelumnya, istriku mengatakan ia sudah melakukan banyak hal, baik di rumah maupun saat pergi bekerja, tetapi, ketika ia istirahat dengan menonton film, ibuku meliriknya dengan tatapan tak suka. Karena hal itu, istriku ingin kami memiliki rumah sendiri. Begitulah cerita yang ia sampaikan padaku dan mau tidak mau aku berada di posisi saat ini.

Sebenarnya, untuk meredam amarah dan kegelisahan istriku cukup mudah. Aku hanya perlu berbicara dengannya. Maka aku menggorengkan ia ikan tongkol disertai dengan sambal. Aku tahu semua makanan yang disukainya. Dan di antara yang paling disukai adalah ikan tongkol goreng dengan sambal yang kubuat sama seperti waktu kami awal-awal menikah. Lantas ia ketagihan. Sambal yang kubuat cukup sederhana yakni dengan menggoreng cabai, bawang merah dan putih, lalu dibumbui dengan garam, micin, gula, dan terasi, lantas disertai dengan potongan kulit jeruk purut. Bau dari kulit jeruk purut katanya sangat sedap dan membangkitkan selera makannya. Sebagai tambahan, aku menggoreng kol dan juga memotong mentimun tanpa dikupas.

Dengan makanan yang kuhidangkan, ia akan lahap, bahkan menambah makanannya dan memenuhi lagi piringnya. Mungkin tidak terdengar etis atau di luar kebiasaan perempuan di luar sana, tetapi aku menyaksikan itu semua dan diam-diam ikut menikmati setiap suapnya. Karena sebagai bentuk penyelesaian masalah yang kuhadapi saat ini, ketika ia makan, aku menyela kecil untuk membicarakan masalah yang tak mengenakkan hatinya.

Aku mengatakan pada istriku memang ibu kadang seperti itu. Mungkin saja karena ibu terlampau lelah mengurus bapak yang sakit. Bisa saja memang istriku yang merasa tersindir. Serba risih karena ibu selalu melihat ke arahnya ketika ia sedang istirahat. Maka aku menyarakan padanya agar tidak perlu diambil hati. Aku mengatakan itu sembari menyuapkan makanan ke mulutku.

Istriku memandang sejenak, lantas kembali melihat piringnya dan menjumput nasi serta pelengkapnya. Itu kebiasaannya ketika makan makanan yang kumasak ini. Ia makan dengan tangannya.

Ia menyahut perkataanku. Istriku mengatakan kalau apa yang dilakukan ibu bukan basa-basi semata dengan melihatku tapi sudah dengan tatapan tidak suka. Dari raut wajah istriku menunjukkan kekecewaan dan amarah yang coba diredam. Matanya menatapku tajam. Tangannya berhenti menyuap makanan. Hanya memainkan makanan saja.

Aku coba memahami apa yang dirasakan istriku. Tapi menurutku ia hanya sungkan saja pada ibu. Dan tentu kurasa ibu tahu kalau istriku sudah bekerja keras dari pagi hingga sore. Menurutku, itu bukan masalah yang perlu dipikirkan. Aku mencoba menenangkan suasana.

Tak lama setelahnya, istriku menyampaikan keinginannya memiliki rumah sendiri untuk kami berdua. Ia terus-terusan kepikiran akan kejadian yang menimpanya. Katanya, kami sudah enam tahun menikah,  sudah selayaknya tidak lagi menumpang di sini. Ibu juga sering menyinggung soal anak pada istriku. Karena kami belum memiliki anak sampai saat ini. Saat mengatakan itu, matanya tajam seperti pisau yang siap menghunjamku.

Aku menatapnya dalam. Dari raut wajahnya menunjukkan keinginan yang dalam. Hatiku sedikit getir. Tapi kenyataannya aku belum bisa memenuhi keinginannya. Tapi dalam hati kecilku merasa sejujurnya apa yang ia katakan benar. Aku menyetujui itu dalam hati, namun kenyataan berkata lain. Ibuku tidak mau aku pergi dari rumah ini dan meninggalkannya karena aku anak satu-satunya. Terlebih, yang membantu mengurus bapak dan merawat rumah tidak ada. Jadi kuputuskan meyakinkan istriku.

Tentu apa yang dikatakan istriku membuat dilema perasaan. Itu pilihan sulit karena keadaan tidak memungkinkan. Jika kami meninggalkan rumah ini, bagaimana dengan bapak dan ibu. Karena di rumah ini bukan semata tinggal bersama, tetapi ada perkerjaan dan tugas yang harus dilakukan. Aku mencoba meyakinkan istriku kembali.

Istriku menimpali dengan gusar, keinginannya meninggalkan rumah ini terlampau besar. Namun dirinya juga memberiku kesempatan berbicara pada ibu agar aku memberi pengertian pada ibu mengenai situasi kami. Ia sedikit meredam emosinya. Tapi dari raut wajahnya terlihat gamang. Aku menyunggingkan senyum ke arahnya. Ia melihatku dengan tatapan yang tak biasa. Aku mencoba menafsir maksudnya, tapi gagal.

Kukatakan pada istriku tentang rencana berbicara dengan ibu. Tapi apakah ibu menerima apa yang istriku keluhkan dan harapkan menjadi persoalan lain. Semua kembali pada ibu. Itulah kata terakhirku untuk menutup pembicaraan di meja makan, lantas bergegas membereskan meja makan.

Dengan apa yang telah dikatakan dan diinginkan istriku, kuberanikan diri mengatakan semua pada ibu. Di hari berikutnya, kusiapkan meja makan yang sama dengan sebelumnya. Kumasak nasi dan urap untuk ibu, juga kugorengkan ikan asin serta sambal petai kesukaannya. Tak beda dengan istriku, ibu lahap memakan apa yang telah kubuatkan untuknya. Tak beda dengan istriku, ibu juga lebih memilih makan dengan tangan secara langsung, lebih nikmat katanya.

Tak berselang lama, di tengah lahapnya ibu, aku mulai menyela. Jauh sebelum ini, sebenarnya ibuku menatapku curiga karena kelakuanku kali ini. Tak biasanya aku memasak untuknya. Hanya sesekali saja. Biasanya ketika ibu sedang sakit atau malas memasak. Kukatakan apa perluku sembari melahap makanan yang sebenarnya seleranya tak jauh beda dengan istriku.

Kukatakan mengenai keluhan istriku atas sikap ibu. Tak lama setelahnya, mata ibu memicing dan menatapku tajam seolah hendak menerkamku. Mata teduh yang biasanya aku lihat, kali ini benar-benar berganti dengan tatapan yang menakutkan. Baru kali ini aku menatap tatapan ibu semenakutkan ini. Dadaku bergetar. Perasaanku terasa getir.

Ibu menimpali perkataanku dengan suara yang keras. Emosinya meluap. Ibu mengatakan bahwa sudah enam tahun aku menikah dengannya dan sampai sekarang tidak punya anak. Ibu khawatir terjadi sesuatu dan jika apa yang ditakutkan ibu benar, maka masalah lebih besar akan terjadi. Ibu menekankan bahwa dirinya tidak akan diam saja dengan persoalan yang ada di hadapannya. Istri anaknya tidak bisa memiliki keturunan. Lebih dari itu, kata ibu, akhir-akhir ini istriku terlalu bermalas-malasan. Jadi apa yang dilakukan ibu sudah benar. Ibu berbicara dengan sangat gamblang dan lantang.

Makanan yang ada di hadapanku terasa hambar. Begitu pun ibu, ia tak lagi menggubris makanan yang ada di piringnya. Dan yang mengagetkanku ketika ibu tiba-tiba mengatakan perihal perceraian. Persoalan anak adalah persoalan genting, karena keturunan menjadi segalanya bagi ibu.

Ibu mengajukan pilihan padaku. Aku memilih menceraikan istriku atau kami harus meninggalkan rumah ini. Pilihan itu membuatku tercengang. Seperti kilatan cahaya petir yang menyambar tiba-tiba. Aku bingung dengan pertanyaan ibu, juga dengan apa yang harus kukatakan pada istriku. Aku bingung untuk mengatasi masalah yang kuhadapi. Pikiranku kacau sejadi-jadinya.

Berkelindan dengan hal itu, aku mengingat satu hal yang pernah kulakukan di tahun-tahun sebelumnya. Sebenarnya, aku telah melakukan tes kesuburan ke dokter secara diam-diam. Dari hasil lab menunjukkan bahwa kesuburanku tidak normal dan tidak bisa menghasilkan keturunan. Tapi mulutku terasa berat ketika akan menyampaikan pada ibu. Apalagi kepada istriku. Aku takut menyakiti hati keduanya. Untuk pindah dari rumah ini terasa berat karena ada tanggung jawab yang tersemat di pundakku. Aku harus menjaga ibu dan bapak. Dan yang lebih penting dari itu, tabungan kami tak cukup untuk membeli rumah seperti yang diangankan istriku.

Kenyataannya, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku ditinggal istriku yang pergi dari rumah ini karena tak nyaman dengan tuntutan ibu. Sementara aku lebih memilih menemani bapak dan ibu di sini. Akhirnya, apa yang kubayangkan mengenai percakapan di meja makan dalam kepalaku berlalu begitu saja. Persoalan yang ada hanya berputar di angan-anganku, bahkan tak pernah bisa kuselesaikan. Aku tak berani mengatakan apa pun pada istriku maupun ibu. Memang meja makan ini tak lebih hanya angan-angan semata.


Eko Setyawan, lahir di Karanganyar, 22 September. Dosen di Universitas Dehasen Bengkulu. Alumni Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020), Mengunjungi Janabijana (2020), Peristiwa yang Kami Sepakati (2022), & Manten (2022). Buku Mengunjungi Janabijana meraih Penghargaan Prasidatama 2021 Balai Bahasa Jawa Tengah kategori Buku Puisi Terbaik. Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018, serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Karya-karyanya termuat di media massa. Instagram: @setyawan721, surat-menyurat: [email protected].

Puisi

Puisi Rizka Umami

Sejak Biyung Pergi

Sajak-sajak nyaring itu berhenti

Kelopak mata sembab sudah seperti kemarau di khatulistiwa

Mimpi-mimpi sebatas lewat di awang-awang

dan semua lagu jadi alpa tak bermakna

Kau, tanggal

Sejak biyung pergi

Kau tak lagi punya hasrat berpuisi

Semua kata-kata jadi kaku dan asing

Musikalisasi dan instrumen-instrumen yang memelintir keningmu, ikut kering

Jalan Panjang dan juang yang kau elukan pupus

Tersisa luput yang belum sempat kau tebus

Begini nasib mendewakan manusia

yang hanya berjarak sepenggal napas dari mautnya

Ketika ia kembali

Kau jatuh sendiri.

Pesarean, Oktober 2023


Kepada Sang Maut

Sebuah motor bebek melesat pesat ke depan

Membawa tubuh lelaki tanpa tuan yang bersiap lepas

Ia hantam tabebuya yang baru mekar di pinggir jalan beraspal

Dengan lantam memecah batok kepala

            bersamanya aroma wine bercampur peluh menyeruak beradu anyir

Kepada maut,

Betapa kerdil nyali seorang manusia yang melihat kematian tepat di hadapannya

Betapa sukar memelintir ingatan untuk pura-pura lupa

bahwa tiap-tiap manusia bakal punya cerita perihal kematian yang menggelikan

Aku pernah bermimpi

Di sisa napas penghabisan seonggok tubuh disepuh terik dan lava pijar yang lembut

yang hangat memeluk jasad sampai sukma

Kepada maut yang tak berjarak, yang leluasa mematahkan arteri – vena

Bisakah manusia bersiasat sebelum kematiannya?

Menemukenali tiap-tiap wujud Tuhan pada sepersekian detik terakhirnya

perkara hitam atau putih dan abu-abu yang ranum itu

Kepada maut,

Bagaimana kematianku kelak?

Tulungagung, Oktober 2023


Buat emPuan

Seorang perempuan duduk di satu batang pohon besar di tepi pantai sendirian

Menyulut satu dua batang kretek mendongak ke atas mengingat-ingat

Petaka hidup menjadi perempuan

Haruskah ombak membawa mimpi-mimpinya ke tengah laut lalu tenggelam sampai palung?

Mimpi-mimpi yang lebih banyak pupus dari tercapai yang hilang sebab ia perempuan

Haruskah ia mengubur tubuhnya pada pasir hitam biar tercerabut segala kalut hidup yang ia tahan?

Sebab jadi perempuan harus dan tak boleh sekena hati mencapai tujuan

Biar biarlah kau sekarat di tegur ombak

Biar dirampas dipapas seperti bukit-bukit yang bakal koyak hilang punuknya

Bakal hilang daun-daun rindangnya bakal jadi aspal pekat jalang

Seorang perempuan terperanjat

Bangkit berdiri dari lamunan panjang mencari-cari alasan

Kenapa Tuhan masih giat memberi umur panjang?

Dayang Seni, 13 Maret 2023


Surat Buat Tole

Seorang ibu sedang menggendong putranya

Duduk menunggu pembeli di pasar subuh

Menuju terbit matahari

Ia biarkan bocahnya menetek sampai pulas lagi

Ia bertanya dalam batin

Sudah sampai di mana kita, Le?

Aku yakin kelak kau dewasa tak sudi hidup seperti aku

Tapi jangan menghukumku

Ini pilihanku jadi mandiri sebab bapakmu tak mau ambil bagian menghidupi

Ini pilihanku sebab aku tahu masih mampu

Jika suatu hari kau temui tubuhku lebih lusuh, Le percayalah

Aku masih teguh pendirian pilihanku sebagai ibumu

Sebab hidup berkalang lelaki bukan pilihanku

Sebab menghamba harusnya bukan pada sesama manusia.

Dayang Seni, 13 Maret 2023


Ritual Menuju Akhir

Suara tokek bersahutan dari kamar 04 sampai 08

Di balik pintu-pintu yang terkunci dari dalam

Sedang sebuah ritual dijalankan

Mereka saling mendebat warna baju

Yang mencolok menarik perhatian sang ratu

Lalu tahun-tahun melesat jauh

Daun-daun beringin makin lebat disusul suhu ruangan yang naik

Membuat semua jerih payahmu koyak

Ada yang tak segan datang

Dari ujung imajimu

Menebas mencuri napas terakhir.

17 Januari 2023


Perihal Batas

matamu menatap nanar ke perempuan di sebelahmu

ia lebih keriput setengah renta

kaki kirinya sudah mulai penuh borok

kau kira separuh usianya digerogoti Diabetes

perkara ia telah sampai limit

kau menyaksi kematiannya lamat-lamat

kau bergegas lari menyeru ke toa ada yang mati – ada yang mati

lalu ia minta kau jangan kembali

– sedang kau percaya ia datang serupa bekal buat diri yang papa untuk waspada

Tapi kepada siapa kau kembali?

Tulungagung, 02 Juni 2023



Rizka Umami, perempuan kelahiran Tulungagung yang masih menyenangi sastra, isu perempuan dan lingkungan.

Puisi

Puisi Lailah Nurdiana

Tak Ada Pintu Setelah yang Ke 28

:matroni moserang

Setelah menyudahi

Huruf-huruf dengan gelombangnya masing-masing

Tak ada pintu lain

Selain semua yang sudah tertutup

Dengan knop yang terkatup

Perjumpaan rasa dan samudera

Berada di titik paling terang

Antara pertemuan gelombang dan puisi

Kuharap tak ada pintu lain

Di mana-mana, kecuali pintu kembali

Ke puisi dan alam imaji

: pertemuan kembali, tentang pisah

  Yang secara perlahan terbaca

Pangabasen, 2023


Kata Si Penyair

/I/ lantas apa selain kata

    Yang akan menciptakan dingin

    Menjadi hangat dalam tulisan

/II/ sedangkan kalimat

     Dapat Menafkahi hidup

     Di saat surat-surat dari pejabat

     Tak ada yang menyokong tenagaku

/III/ haruskah bait ini disia-siakan

       Untuk semua andai-andai

        tanpa ada bait yang terlahir

      Dari metafora mimpi malam ini

       Malam sebelumnya dan selanjutnya

    :Maka si penyair

     Berada pada pilihan

    Yang tak pernah ada dunianya

Pamgabasen 2023


Hakikat Pertemuan di Dhamar Korong

Di tengah penyair berkepala puisi

Kita mendiamkan diri

Dengan tubuh yang hilang kata

Hanya mengunci tatap yang menggigil

Di lautan yang sama-sama pasang

Di mata kita.

Tanpa mereka tahu,

Kita dalah perjanjian yang ingkar

Nyeri yang bertemu untuk sebuah sembuh yang gagal

Emtah kita sudah sama-sama melupakan

Atau memperbaiki dengan sebuah perdebatan

(dalam batin kita yang masih sama lukanya)

Dan di bagian mana kita bahagia?

: ya! Saat dunia masih setia

  Dengan kepalanya yang sepi

20 februari 2023


Kembali yang Hampir Sama

Dari sebuah jamuan tak diundang

Kita berada di atas alas hitam

Dengan puisi yang melatarbelakangi pertemuan

Tanpa sengaja, tanpa ada kontak kata

Kita sama-sama menyepikan ramai

Merangkai ucapan, hingga mengambang

Menjadi awan yang menggumpal  di

Kepala kita masing-masing

Masihkah kau memiliki peran yang sama

Di dunia baruku?

21 februari 2023


Kepada yang Khianat

Kepada lambungmu yang menyimpanku

Menjadi problematik hidup yang tandus

Aku menjadi liar dalam laut

Yang segalanya tawar,

(sebab ucapan yang rahasia di balik mata bumi)

Menjelma bayang di ruang kosong

Membawa matamu yang tanpa tubuh

Dari balik jendela yang terkatup

Oh, pemilik rupa-rupa

Dan kaubiarakan segalanya hancur

Menjadi gemeretak waktu yahng tak terkendali.

Jika diriku api di dadamu,

Maka jadikan aku kobar paling bara,

Yang setelah padam

Otakmu tak dapat melahirkanku Kembali

Dalam pujian yang kau haturkan pada Tuhan.

Ruang Tengah, 2023


Selepas Menidurkanmu

Setelah kususun bantal-bantal

Di kepalaku yang kosong

Kutimang kau di depan wajahku yang pucat

Sesekali termenung,

Dengan bibirku yang gemetar.

Harapan semua tanggal

Sisa tubuhmu yang tak bernyawa, Kaku dalam rengkuhanku.

Baju-baju yang kupakai

Sudah serupa daun yang lusuh

Di tanah yang tanpa wajah

Hai malaikat kecilku

Kulepas tubuhmu Bersama maut

Dengan Nasib yang abadi

:dan selepas menidurkanmu

Tak ayal mimpiku kambuh

Tentang kau yang pergi

Saat jam berkelana

Tak sesuai keinginanannya sendiri.

Gapura, 2023


Lailah Nurdiana, lahir di Sumenep juruan laok batu putih, sekarang masih duduk di bangku Ma Al-Huda, merupakan santri aktif di PP Miftahul Huda Gapura Timur, penggiat sastra di komonitas sanggar 7 KEJORA dan komunitas sanggar Dhamar Korong, mulai menulis sejak duduk di bangku MTs Al-Huda II. Karyanya bisa ditemui di media nasional dan lokal. Email: [email protected] dan Instagram:  @_xdynaaa

Cerpen

Kamar Tanpa Jendela

Cerpen Diana Rustam

Di balik pintu dan jendela yang terkunci, segala sesuatu berbahaya. Mata seorang gadis menatap pintu dan jendela, hanya menatap saja.

***

Ketika Rosane membuka mata, di hadapannya, di atas meja rias, seekor kucing berbulu hitam sedang duduk dengan sepasang mata bulat hijau yang seolah sedang mengawasinya. Gadis itu bertanya-tanya, dari mana kucing itu datang. Mustahil  kucing itu bisa menyelinap masuk sebab pintu dan jendela kamarnya selalu terkunci rapat. Pintu kamarnya hanya dibuka oleh ibunya di waktu-waktu tertentu saja: saat mengantar sarapan pagi, makan siang, makan malam, dan setiap sore ketika pembantu kepercayaan ibunya harus membersihkan kamarnya.

Mata biru gadis itu bertemu pandang dengan mata hijau si Kucing Hitam. Kucing itu tersenyum lebar, menampakkan gigi-gigi taringnya. Seumur hidup, itulah pertama kali ia melihat seekor kucing tersenyum. Senyum itu tidak membuat si Kucing terlihat lucu atau menggemaskan, sebaliknya ia tampak menyeramkan.

Kucing itu melompat dari meja. Berjalan pelan-pelan mendekati ranjang di mana gadis itu berbaring. Ranjangnya terbuat dari kayu yang dipernis, mengilap dan ditudungi kelambu putih. Kasur tempat gadis itu berbaring dilapisi seprai sutera yang sama putih dengan kelambunya. Setelah jaraknya cukup dekat, kucing itu duduk di lantai. “Hei, Rosane, bangun dari sana.” Kucing itu bicara padanya.

Gadis itu tersentak dan terpekik kecil, “Jangan mendekat.” Ia menegakkan tubuhnya kemudian menyurutkan punggung ke sandaran ranjang.

Kucing hitam maju selangkah. “Tidak ada yang perlu ditakutkan.”

Rosane tidak langsung membalas ucapan kucing hitam, hanya memandanginya dengan pikiran yang dijalari rasa takut.

Kucing hitam menjilati kakinya sebentar, kemudian punggungnya, kemudian ekornya. Usai dari ritual itu, ia mengangkat wajah, mata hijaunya berkedip. “Panggil saja aku Tuan Kacang Polong.”

“Ta-tapi, dari mana kaudatang?”

“Aku tak tahu. Tiba-tiba saja aku ada di sini. Sepertinya kaulah yang menghendaki aku ada di sini. Kau kesepian, bukan? Setiap hari kau hanya melihat tembok dan dinding yang putih ini, hidup yang membosankan. Kukira itulah alasannya.”

Kucing hitam itu naik ke atas ranjang. Ia melepaskan sepasang sarung tangan yang membungkus tangan Rosane dan melucuti masker yang menutupi mulut gadis itu. Tetapi Rosane berusaha mempertahankan sarung tangan dan maskernya. “Jangan menyentuhku! Kau ingin membuatku celaka?”

“Ayo beranjak dari kasur itu dan keluar dari kamar ini.”

“Tidak bisa! Itu akan membuatku sakit!”

“Omong kosong! Kau tidak boleh berbaring di sini terus-menerus dan hanya mengitari kamar ini saja.”

Rosane menggeleng. “Cahaya, udara, air dan segala sesuatu yang ada di luar ruangan ini berbahaya.”

“Seperti itu yang ibumu katakan padamu. Tapi aku tidak akan membiarkanmu seperti ini selamanya.”

Kucing hitam terus bicara dan mendesak Rosane dengan tatapan yang tajam, sehingga gadis itu menutup telinga dan matanya. Ia berusaha mengabaikan ucapan-ucapan kucing hitam. Tetapi, kucing hitam itu tidak berhenti sampai suara langkah kaki seseorang terdengar dari luar kamar Rosane, dan kucing hitam itu tiba-tiba mengilang.

Kucing itu sudah duduk di meja riasnya setiap pagi, ketika ia membuka mata. Seolah-olah ia menghadapi hari yang sama setiap bangun pagi. Dan semakin ia berusaha mengabaikan keberadaannya, dari hari ke hari ucapan kucing hitam itu semakin gencar di telinganya dan menancap dalam pikirannya. Rosane merasa lelah, dan kemudian tidak bisa lagi menolak ucapan kucing hitam itu. Lantas pada sebuah pagi ketika matahari telah terbit, gadis itu menyerah dan menuruti ucapan kucing hitam. Rosane bangkit, menanggalkan kaos tangan dan masker yang menutup separuh wajahnya.

Mengikuti langkah kucing hitam, Rosane berdiri di depan jendela kamarnya yang tertutup tirai tebal berwarna gelap, sepasang jendela besar di bagian timur kamar itu. Jendela yang selama ini hanya berani dipandanginya saja dari tempat tidur.

“Kau butuh udara segar. Bukalah jendelanya lebar-lebar,” ujar kucing hitam.

Gadis itu ragu-ragu, ada raut kecemasan di wajahnya. Ia memandang kucing hitam untuk menyiratkan bahwa dirinya tidak yakin akan membuka jendela itu. Kucing hitam mendesak dengan suara tegas, “Apa yang kautunggu, Rosane!”

Setelah berdiri beberapa jenak di depan jendela, akhirnya Rosane membuka daun jendela yang bertahun-tahun terkunci. Sinar matahari langsung menabrak wajahnya, mata Rosane seketika silau, seolah sinar matahari menusuk kedua bola mata itu. Kaki Rosane langsung surut selangkah ke belakang, badannya limbung, dan sigap menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangan. Rosane gemetar karena merasa takut.

“Jangan takut, matahari tidak akan melukaimu. Lepaskan tanganmu dan pandanglah matahari itu. Ulurkanlah tanganmu padanya.”

“Itu berbahaya, Tuan Kacang Polong.”

“Bahaya hanya ada di kepalamu saja.”

Meskipun enggan karena dibebani perasaan cemas, Rosane akhirnya menjulurkan tangan ke luar jendela. Gadis itu mengembangkan telapak tangan seperti hendak menadah sinar matahari. Perlahan-lahan, Rosane merasakan hangat sinar matahari pagi menjalari kulitnya. Kulitnya yang pucat menjadi sedikit merona. Rosane membalikkan telapak tangannya, mempersilakan hangat matahari menjilati punggung tangan itu.

“Kau akan terbiasa. Sekarang julurkan kepalamu keluar jendela, hirup udara dalam-dalam, Rosane.”

“Tapi….”

“Udara dari luar tidak akan membunuhmu.”

“Tuan Kacang Polong, bagaimana kalau aku sesak?”

“Itu tidak akan terjadi. Percaya padaku.” Kucing hitam melompat naik ke bingkai jendela, kemudian duduk menghadap keluar. Kucing itu membusungkan dada, menghirup udara banyak-banyak ke paru-paru, kemudian mengembuskannya pelan-pelan sambil mengibas-ngibaskan ekornya.

“Lakukan sekarang. Bukankah matahari yang kautakuti itu tidak membakarmu?”

Mula-mula gadis itu ragu, ia berdiri bagaikan patung dalam waktu yang cukup lama. Kemudian angin yang berembus dari luar menerpa wajahnya, dan menggoyangkan anak rambutnya yang keemasan. Rautnya yang semula tegang, berangsur lembut. Perlahan ia melongok keluar, paru-parunya mengembang. Bersama udara yang masuk ke rongga hidungnya, datang pula aroma yang segar.

“Mawar,” Rosane menggumam.

“Ya, itu mawar. Lihat ke sana, mawar-mawar sedang mekar. Sudah berapa lama, Rosane?”

“Kupikir sejak usiaku sepuluh tahun, Tuan Kacang Polong.”

“Sudah enam tahun. Kebun mawar itu tidak berubah, ia dirawat dengan baik. Sedangkan kau, tumbuh di kamar ini sendiri dalam kesepian.”

“Aku tak bisa dibandingkan dengan mawar itu.”

“Ibumu sudah meracuni pikiranmu. Dia mengurungmu di kamar yang terpencil ini, di lantai tiga yang tidak berpenghuni, karena dia takut terhadap sesuatu yang ada dalam pikirannya sendiri.”

Sayup-sayup suara tapak sepatu yang mengetuk lantai terdengar dari luar kamar, seketika percakapan kucing hitam dan Rosane terhenti, mata mereka saling melempar pandang. Kucing hitam melompat turun. Rosane bersegera menutup jendela dan merapikan tirai.

Lekas-lekas Rosane mengenakan sarung tangan dan maskernya, kemudian berbaring seperti sejak sebelum ia beranjak dari ranjang. Sementara kucing hitam sudah hilang dari pandangannya, entah kemana. “Tuan Kacang Polong!” Rosane memanggil, tetapi tidak ada jawaban dari kucing hitam.

Seorang perempuan paruh baya masuk setelah mengetuk pintu. Perempuan itu, Nyonya Julia, ibu dari Rosane. Nyonya Julia mengenakan gaun hitam dan rambutnya digulung rapi. Ia datang dengan sebuah nampan di tangannya, berisi roti yang sudah diolesi selai dan segelas susu.

“Rosane, waktunya sarapan pagi.”

Nyonya Julia memiliki wajah yang kecil. Air wajahnya tampak selalu tegang, seolah-olah di kepalanya ada banyak hal yang ia pikirkan. Ia berbicara dengan cepat, seakan-seakan ia tidak punya banyak waktu untuk bicara. Dengan pembawaanya yang seperti itu, ia terlihat jauh lebih tua dari usia yang sebenarnya.

“Habiskan sarapanmu, setelah itu minum vitaminnya.”

Rosane menurunkan masker dan mulai menyantap sarapannya di tempat tidur. Sementara Nyonya Julia, menyiapkan pakaian baru, masker baru dan sarung tangan baru untuk dipakai oleh Rosane setelah mandi pagi. Perlengkapan Rosane telah dipastikan dalam keadaan steril oleh Nyonya Julia.

Setelah semua ritual yang monoton dan membosankan selama bertahun-tahun itu, Rosane kembali ditinggalkan sendirian. Sebelum pergi, Nyonya Julia berpesan, pesan yang diucapkan setiap hari, yang pesan itu diulanginya sampai lebih dari tiga kali. “Jangan pernah mendekati jendela, Rosane. Semua yang ada di luar kamar ini berbahaya.” Ketika bicara, Nyonya Julia mendekatkan wajahnya yang tegang pada Rosane. Kedua tangannya mencengkeram bahu gadis itu. Dan dengan nada yang ditekan sedemikian rupa, ia berkata, “Percayalah pada ibu, dengan penjagaan ibu, kau akan selamat dari semua bahaya.”

Kucing hitam kembali datang ketika Nyonya Julia sudah pergi. “Ibumu sudah gila. Setelah kakakmu meninggal enam tahun lalu, sikapnya semakin buruk. Tidakkah kau merasakannya, Rosane?”

“Mungkin ibuku benar. Kakakku meninggal karena terpapar virus ganas. Virus melayang di udara, kau tidak bisa melihat mereka, sementara mereka bisa masuk ke dalam tubuhmu dengan mudah. Selain itu, di luar sana banyak orang jahat yang tidak tertebak isi hatinya, bisa saja mereka memiliki niat buruk kepada kita, dan menghabisi kita sebelum kita menyadari niat buruknya.”

“Sudah kubilang itu hanya perkataan ibumu. Dia memiliki ketakutan dalam dirinya yang tidak bisa dia kendalikan.”

Mula-mula Rosane menolak semua ucapan kucing hitam, dan tetap meyakini ucapan ibunya sebab dalam dirinya sendiri telah tumbuh kekhawatiran yang sama, meskipun sebenarnya ia merasa kesepian dalam hidupnya yang terkurung. Akan tetapi, setelah beberapa lama, di sebuah pagi setelah sarapan Rosane mulai memikirkan ucapan kucing hitam. “Lalu, apa yang harus aku lakukan, Tuan Kacang Polong?”

“Keluar dari sini. Kau tidak mau hidup sampai tua di kamar yang terkunci ini, kan?”

Rosane mengangguk.

Dan pada sebuah malam, ketika Nyonya Julia datang untuk mengantarkan makan malam ke kamarnya, Rosane mengutarakan keinginannya untuk keluar dari kamar itu. Nyonya Julia terkejut dan berang ketika mendengar permintaan Rosane. Tubuh perempuan itu gemetar hebat, seolah-olah saat itu ia sedang berhadapan dengan sebuah bahaya yang mengancam nyawanya. “Susah payah ibu menjagamu bertahun-tahun, tapi kau malah ingin keluar dan menghancurkan dirimu di luar sana. Apa yang kaupikirkan, Rosane!”

Rosane tersentak dengan bentakan ibunya. Gadis itu tertunduk dengan wajah pasi.

Maka tidak ada yang bisa dilakukan Rosane untuk membebaskan dirinya kungkungan dan keterpencilan hidup, kecuali diam-diam mencuri waktu membuka jendela kamarnya setiap hari, memandangi kebun mawar yang terhampar, merasakan hangat sinar matahari pagi dan menghirup udara segar. Dan pada setiap kesempatan itu, kucing hitam selalu berbisik di telinganya, “Tidakkah kau ingin pergi lebih jauh, Rosane? Melihat lebih banyak? Melompatlah. Di luar sana kau merdeka.”

“Melompatlah, Rosane.”

“Melompatlah.”

***

Nyonya Julia menangkap gelagat Rosane yang tidak biasa. Sering kali dari luar kamar anaknya itu, ia mendengar suara Rosane seperti sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Tetapi, ketika ia masuk memeriksa ke dalam kamar, tidak ada siapa-siapa kecuali Rosane.

Ketakutan Nyonya Julia bertambah, ketika memergoki Rosane berdiri dan bercakap-cakap seorang diri di depan jendela yang terbuka, tanpa masker dan sarung tangannya. Rosane hendak melompat dari jendela. Nyonya Julia panik dan berpikir harus menutup seluruh jendela itu dengan tembok.

Dan, sejak saat itu, tinggalah Rosane di kamar yang tidak lagi memiliki jendela.

Kian hari keadaan Rosane kian memburuk. Rosane mulai membenturkan kepalanya di tembok dan memanggil-manggil seseorang dengan nama yang aneh, “Tuan Kacang Polong.” Sehingga tidak ada cara lain yang dipikirkan Nyonya Julia, kecuali memasung Rosane. Rosane sudah gila, demikian Nyonya Julia meyakini keadaan anaknya.

Makassar, 29 September 2023.


Diana Rustam, menulis puisi dan cerpen di media sosial. Beberapa karyanya telah dimuat di media sastra online dan koran lokal.