
Sejak Biyung Pergi
Sajak-sajak nyaring itu berhenti
Kelopak mata sembab sudah seperti kemarau di khatulistiwa
Mimpi-mimpi sebatas lewat di awang-awang
dan semua lagu jadi alpa tak bermakna
Kau, tanggal
Sejak biyung pergi
Kau tak lagi punya hasrat berpuisi
Semua kata-kata jadi kaku dan asing
Musikalisasi dan instrumen-instrumen yang memelintir keningmu, ikut kering
Jalan Panjang dan juang yang kau elukan pupus
Tersisa luput yang belum sempat kau tebus
Begini nasib mendewakan manusia
yang hanya berjarak sepenggal napas dari mautnya
Ketika ia kembali
Kau jatuh sendiri.
Pesarean, Oktober 2023
Kepada Sang Maut
Sebuah motor bebek melesat pesat ke depan
Membawa tubuh lelaki tanpa tuan yang bersiap lepas
Ia hantam tabebuya yang baru mekar di pinggir jalan beraspal
Dengan lantam memecah batok kepala
bersamanya aroma wine bercampur peluh menyeruak beradu anyir
Kepada maut,
Betapa kerdil nyali seorang manusia yang melihat kematian tepat di hadapannya
Betapa sukar memelintir ingatan untuk pura-pura lupa
bahwa tiap-tiap manusia bakal punya cerita perihal kematian yang menggelikan
Aku pernah bermimpi
Di sisa napas penghabisan seonggok tubuh disepuh terik dan lava pijar yang lembut
yang hangat memeluk jasad sampai sukma
Kepada maut yang tak berjarak, yang leluasa mematahkan arteri – vena
Bisakah manusia bersiasat sebelum kematiannya?
Menemukenali tiap-tiap wujud Tuhan pada sepersekian detik terakhirnya
perkara hitam atau putih dan abu-abu yang ranum itu
Kepada maut,
Bagaimana kematianku kelak?
Tulungagung, Oktober 2023
Buat emPuan
Seorang perempuan duduk di satu batang pohon besar di tepi pantai sendirian
Menyulut satu dua batang kretek mendongak ke atas mengingat-ingat
Petaka hidup menjadi perempuan
Haruskah ombak membawa mimpi-mimpinya ke tengah laut lalu tenggelam sampai palung?
Mimpi-mimpi yang lebih banyak pupus dari tercapai yang hilang sebab ia perempuan
Haruskah ia mengubur tubuhnya pada pasir hitam biar tercerabut segala kalut hidup yang ia tahan?
Sebab jadi perempuan harus dan tak boleh sekena hati mencapai tujuan
Biar biarlah kau sekarat di tegur ombak
Biar dirampas dipapas seperti bukit-bukit yang bakal koyak hilang punuknya
Bakal hilang daun-daun rindangnya bakal jadi aspal pekat jalang
Seorang perempuan terperanjat
Bangkit berdiri dari lamunan panjang mencari-cari alasan
Kenapa Tuhan masih giat memberi umur panjang?
Dayang Seni, 13 Maret 2023
Surat Buat Tole
Seorang ibu sedang menggendong putranya
Duduk menunggu pembeli di pasar subuh
Menuju terbit matahari
Ia biarkan bocahnya menetek sampai pulas lagi
Ia bertanya dalam batin
Sudah sampai di mana kita, Le?
Aku yakin kelak kau dewasa tak sudi hidup seperti aku
Tapi jangan menghukumku
Ini pilihanku jadi mandiri sebab bapakmu tak mau ambil bagian menghidupi
Ini pilihanku sebab aku tahu masih mampu
Jika suatu hari kau temui tubuhku lebih lusuh, Le percayalah
Aku masih teguh pendirian pilihanku sebagai ibumu
Sebab hidup berkalang lelaki bukan pilihanku
Sebab menghamba harusnya bukan pada sesama manusia.
Dayang Seni, 13 Maret 2023
Ritual Menuju Akhir
Suara tokek bersahutan dari kamar 04 sampai 08
Di balik pintu-pintu yang terkunci dari dalam
Sedang sebuah ritual dijalankan
Mereka saling mendebat warna baju
Yang mencolok menarik perhatian sang ratu
Lalu tahun-tahun melesat jauh
Daun-daun beringin makin lebat disusul suhu ruangan yang naik
Membuat semua jerih payahmu koyak
Ada yang tak segan datang
Dari ujung imajimu
Menebas mencuri napas terakhir.
17 Januari 2023
Perihal Batas
matamu menatap nanar ke perempuan di sebelahmu
ia lebih keriput setengah renta
kaki kirinya sudah mulai penuh borok
kau kira separuh usianya digerogoti Diabetes
perkara ia telah sampai limit
kau menyaksi kematiannya lamat-lamat
kau bergegas lari menyeru ke toa ada yang mati – ada yang mati
lalu ia minta kau jangan kembali
– sedang kau percaya ia datang serupa bekal buat diri yang papa untuk waspada
Tapi kepada siapa kau kembali?
Tulungagung, 02 Juni 2023

Rizka Umami, perempuan kelahiran Tulungagung yang masih menyenangi sastra, isu perempuan dan lingkungan.

Kerenn puisinya