Cerpen

Seribu Ekor Tikus

Cerpen Erwin Setia

Semuanya dimulai dari kamar, ketika ia melihat seekor tikus berderap cepat di sela rak buku. Tikus itu gesit sekali, lekas lenyap dari pandangan sebelum ia benar-benar melihat keseluruhan wujud si tikus. Yang jelas tikus itu besar dan hitam. Dua keterangan itu sudah cukup untuk membuat siapa pun mengerti kejijikan sekaligus kemuakan macam apa yang ditanggungnya. Dengan mata mendelik, melangkah hati-hati menuju rak buku, ia menggebrak-gebrak rak seraya memperhatikan sekeliling kamar. Tikus itu tidak kelihatan di mana pun. Hanya dari atap kamarnya yang punya banyak celah (dari sanalah tikus-tikus keluar-masuk) ia mendengar samar-samar cericit tikus. Ia kembali ke kursi, mengempaskan bokongnya sambil tetap memendam kekesalan kepada si tikus, dan ia terlompat dari tempat duduk saat mendapati si tikus sedang melata di atas meja kerjanya, meniti lembaran kertas catatannya tanpa rasa bersalah, lalu melesat ke kolong meja, dan kembali lenyap dari pandangan. Satu-satunya yang ia syukuri adalah ia tidak mematahkan punggung kursinya.

Jika kau berpikir itu adalah satu-satunya hari Eriko mengalami nasib sial macam itu, kau keliru. Tapi jika kau berpikir pengalaman semacam itu mengubah hidupnya, kau agak benar. Sebab sejak itulah ia menjalani hidup dengan lebih hati-hati dan mawas diri. Ia tidak lagi sembarangan berjalan lurus tanpa menengok kanan-kiri-atas-bawah. Ia tidak lagi mengabaikan dunia seperti sebelumnya. Ia kini begitu peduli pada dunia, pada hal-hal di sekelilingnya. Dan karena ia terlalu peduli pada dunia ia jadi tahu hal-hal yang seharusnya tak perlu ia ketahui. Misalnya fakta bahwa di area tempatnya tinggal yang terdiri atas 300 rumah, setidaknya ada 1.000 ekor tikus! Dari mana ia tahu soal itu? Tentu saja dari pengamatannya pada dunia.

Ketika ia pergi ke luar rumah, dengan berjalan kaki ataupun mengendarai sepeda motor, matanya ia gunakan lebih maksimal daripada yang sudah-sudah. Ia melihat banyak orang asing. Ia melihat tanaman-tanaman yang tak ia ketahui namanya, tapi ia kagumi bentuknya. Ia melihat rumah-rumah berderet, rumah-rumah yang sejak bertahun-tahun lalu tetap di situ-situ saja, padahal para penghuninya berpindah-pindah. Saat melihat rumah-rumah inilah, Eriko memperhatikan dinding luar rumah dan tempat sempah beton yang biasanya terletak di tepi luar pagar. Di salah satu rumah yang dindingnya dirambati oleh tanaman keriting dengan tata letak berantakan ia melihat seekor tikus besar dan hitam merambat di dinding seperti atlet panjat tebing. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain, ke sebuah tempat sampah di rumah seberangnya. Kali ini muncul seekor tikus besar dan hitam (lagi-lagi besar dan hitam) sedang menggerogoti sesuatu di dalam tempat sampah. Segera ia memalingkan matanya ke arah lain, tapi ke mana pun matanya menuju, yang ia lihat adalah tikus-tikus! Tikus-tikus yang ia lihat memang tidak berkumpul berombongan seperti sekumpulan tentara sedang berbaris. Ia hanya melihat tikus itu satu per satu, tapi di berbagai tempat, di semua tempat yang dicapai matanya. Ia yakin tikus-tikus yang ia lihat itu—walaupun bentuk dan ukurannya mirip—adalah tikus-tikus yang berbeda. Ia menaksir dalam sebuah rumah pasti ada setidaknya 3-4 ekor tikus yang menetap. Jika dikalikan 300 (yaitu jumlah rumah di area perumahan ini), berarti ada sekurangnya 1.000 ekor tikus di area tempatnya tinggal! Pemikiran itu membuatnya bergidik. Waktu itu ia bergegas kembali ke rumah dengan kepala menunduk dan sesekali memejamkan mata. Tapi tetap saja, sebelum tiba di rumah, ia sempat melihat beberapa ekor tikus melintas di jalanan atau menclok di tembok sebuah rumah yang tak sengaja ia lihat.

Apakah ini adalah halusinasi? Apakah ini adalah mimpi? Eriko sempat menduganya demikian. Namun ia mengonfirmasi apa-apa yang dilihatnya kepada ibu, bapak, tetangga, dan anak-anak yang biasa bermain di sekitar rumahnya.

“Kau tidak salah lihat, Eriko. Ibu juga belakangan ini lihat tikus di mana-mana.”

“Betul! Bapak juga lihat tikus setiap hari, bahkan di televisi! Ini bukan majas, Eriko. Bapak sungguh-sungguh lihat ada tikus lewat di atas TV waktu bapak nonton acara debat politik!”

“Ya, Mas Eriko. Saya bahkan langsung beli perangkap tikus ketika sadar ada banyak tikus mondar-mandir di dalam rumah. Percaya nggak, Mas Eriko, di malam pertama saya pasang perangkap tikus, saya langsung dapat tiga ekor tikus! Tiga ekor, Mas Eriko. Besar-besar dan hitam-hitam.”

“Aku juga liat tikus, Kak Eriko. Aku kejar tikus itu, terus tikus itu malah kabur. Aku pukul tikus itu pake sapu, tikus itu lari ketakutan. Aku ingin habisi tikus-tikus itu, Kak Eriko. Tapi tikus-tikus itu kok nggak abis-abis ya? Malah makin banyak.”

Tanggapan ibu, bapak, tetangga, dan anak kecil itu cuma membuat hati Eriko makin dongkol. Sebab semua itu menambah terang segalanya, menambah jelas kenyataan yang terhampar di hadapan Eriko. Ini bukan halusinasi. Ini bukan mimpi. Tikus-tikus itu benar ada. Semua orang menyadarinya. Semua orang mengetahuinya. Dan tikus-tikus itu ada dalam jumlah banyak. Bahkan kini Eriko merasa seribu adalah perkiraan jumlah yang terlampau sedikit. Namun ada satu hal yang mengganjal bagi Eriko. Kenapa orang-orang di sekitarnya tampak biasa-biasa saja dengan kehadiran 1.000 ekor tikus (kemungkinan besar lebih dari itu) di area ini. Mereka tidak terlihat gelisah atau ketakutan dengan kenyataan itu. Mereka seakan-akan menganggap keberadaan tikus-tikus itu wajar belaka, sama wajarnya dengan matahari yang terbit tiap pagi. Padahal, bagi Eriko ini sama sekali bukan hal wajar. Seribu ekor tikus! Bagaimana mungkin itu bisa dianggap hal biasa?

Lantas muncullah sebuah gagasan di kepalanya. Eriko berpikir orang-orang di sekelilingnya tidak menganggap serius maraknya tikus karena mereka tidak mengetahui fakta sebenarnya. Ia yakin tak banyak di antara mereka yang sadar bahwa jumlah keseluruhan tikus yang ada di area ini mencapai 1.000 ekor, bahkan lebih. Soal jumlah, Eriko beberapa kali mendebat dirinya sendiri. Tidak mungkin sampai 1.000 ekor, sebab boleh jadi tikus yang dilihatnya di rumah-rumah yang berbeda adalah tikus yang sama. Katakanlah seekor tikus bisa menyatroni empat sampai lima rumah dalam sehari. Dengan total 300 rumah, jadi, paling banyak hanya ada 60-75 ekor tikus di area ini. Pikiran alternatif itu sempat membuat kengeriannya berkurang sampai suatu siang ia pergi ke luar rumah untuk membeli lauk pauk. Ia mengendarai sepeda motor. Ia terkejut saat mendapati tiga sampai empat ekor tikus berdiam seolah menontonnya di setiap muka rumah yang ia lewati. Meskipun untuk pergi ke warung makan ia hanya perlu melewati beberapa rumah, Eriko melewati semua rumah untuk memverifikasi pikiran buruknya. Dan di tiap muka rumah yang ia lewati, memang betul-betul ada tiga sampai empat ekor tikus! Ia memutari perumahan sampai dua kali dan menghitung ulang jumlah tikus yang ada di tiap muka rumah. Tidak salah lagi. Jumlahnya memang 1.000 ekor tikus!

Lantaran semua sudah jelas, ia melakukan gagasan itu: memberitahu orang-orang bahwa ada 1.000 ekor tikus di area ini.

Tak ada yang menganggap serius kata-kata Eriko. Bahkan saat Eriko menceritakan soal ia melihat tiga sampai empat ekor tikus berdiam di muka setiap rumah pada suatu siang, semua orang tertawa, menganggapnya sedang melontarkan lelucon. Ibu dan bapaknya juga tertawa, tawa mereka lebih keras dari orang-orang lain.

“Kau tidak perlu membawa cerita-cerita yang kautulis ke dalam kehidupan nyata, Eriko.”

“Betul! Sebaliknya, seharusnya kehidupan nyata inilah yang kaubawa ke dalam cerita-cerita yang kautulis, Eriko.”

Demikian ucapan ibu dan bapaknya kepada Eriko setelah tawa terbahak-bahak mereka berhenti.

Eriko ingin menyahuti ibu dan bapaknya, menjelaskan kepada mereka bahwa apa yang ia katakan bukanlah karangan, apalagi khayalan. Semua yang ia ceritakan adalah kenyataan, senyata dirinya dan benda-benda di sekelilingnya. Tapi tak mudah bagi Eriko untuk memberikan penjelasan semacam itu. Apalagi peristiwa tikus-tikus berdiam di depan muka setiap rumah cuma terjadi sekali dan anehnya saat itu tak ada orang yang menyadari kejadian itu selain dirinya sendiri. Seolah-olah pada siang itu semua orang disibukkan oleh perkara lain sehingga tak sempat menyaksikan keajaiban—atau tepatnya keanehan—itu.

Karena semua orang memilih untuk menertawakannya, Eriko tak mau merepotkan diri memaksa mereka untuk memercayai matematikanya, bahwa ada 1.000 ekor tikus (boleh jadi lebih, mengingat tikus-tikus itu lebih cepat beranak-pinak daripada mati) di area ini. Seandainya mereka mau setuju pada hitung-hitungan Eriko, pastilah mereka akan menjadi lebih hati-hati dan waspada. Mereka tidak akan menganggap sepele keberadaan tikus-tikus itu. Mereka tidak akan hanya sebatas memasang perangkap atau menyebar racun. Mereka akan melakukan lebih dari itu. Mungkin melakukan pemusnahan massal dengan alat penyemprot atau kerja bakti membersihkan lingkungan supaya tikus-tikus pergi ke tempat lain. Tapi kalaupun tikus-tikus itu berkurang, atau bahkan menghilang, lantas kenapa? Apa bedanya 1.000 ekor tikus dengan 100 ekor tikus atau 10 ekor tikus atau 1 ekor tikus atau tidak ada tikus?

Pikiran filosofis itu menggelayuti kepala Eriko malam ini, di tempat dari mana semuanya berawal. Ia sedang duduk di atas kursinya, menatap laptop yang baru saja dimatikan, dan kini matanya melirik ke arah rak buku yang berada di samping meja kerjanya. Apa itu benda hitam-besar yang bergerak-gerak di bawah rak? Apakah seekor tikus? Ia tidak mengeceknya. Ia memalingkan mata dan membayangkan bisa jadi itu cuma halusinasinya, atau perasaannya, atau mungkin itu cuma kaleng, sebuah bola, kantong plastik, seekor kucing, meskipun tidak tertutup kemungkinan bahwa itu adalah… tiba-tiba Eriko terlonjak dari kursinya, dan kali ini punggung kursinya patah. Tentu saja Eriko telah melihat sesuatu melintas di atas meja kerjanya. Tapi sebaiknya kita tak perlu tahu itu apa.***

Tambun Selatan-Bekasi, 16 November 2023


Erwin Setia lahir pada 14 September. Penulis lepas. Aktif menulis karya fiksi dan esai. Tinggal di Bekasi. Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Puisi

Puisi Febriana Widyat Sari

Panggung

Babad, kiranya

percakapan yang tak kunjung usai

Babak demi babak

Berubah jadi cerita yang tak lagi kau bagi

Kita adalah tokoh utama

Panggung siap dibuka

Sorot lampu dipijarkan

Skenario dihayati

Bila saatnya tiba, tak bisa dihindari

Kisah, dirayakan

Runyam meruncingkan ingatan

Mengunci menyimpan kenangan

Simpati menjebak rasa

Kealpaan tiada dikira

Lupa, yang tak disengaja

Kesadaran,

Peredam angkara

Penawar luka

Panggung,

Arena kesadaran tiada tara

Menjalani karma, yang

tak pernah salah alamat

(Febriana – Solo, 19 Juni 2022)


Rumah

Aku adalah rumah

Tempatmu kembali

Pergilah ke manapun kau mau

Lalu pulanglah kepadaku

Aku adalah rumah

Kau boleh pergi ke mana kau mau

London, Paris, Itali

Tapi kau pulang padaku

Aku adalah rumah

Tempatmu berteduh

Dari cuaca yang mendera

Bernaunglah padaku

Aku adalah rumah

Kau boleh bersuka di manapun kau mau

Tetapi jika kau berduka

Pulanglah kepadaku

(Febriana – Solo, 25 Juni 2022)


Lebam Ruam

Lebam..ruam..

Berteman nyamuk-nyamuk

Jalan sunyi yang ditapaki

Berkelok ke sana ke mari

Terombang-ambingkan angin

Nasib adalah kepastian

Dewasa di sebuah ruang waktu

Tahun-tahun hidup dalam bahaya

Penguasa adalah Tuhan

Membiarkan hidup segelintir manusia

Berkuasa atas hilangnya banyak nyawa

Menjadikan mereka jiwa-jiwa yang berkelana

Tahukah kau, jiwa yang malang

Bintang bersinar dalam kegelapan

Masa gelap itu kau hiasi

Dengan jiwa-jiwamu yang terus hidup

Meski ragamu dibinasakan

Jiwamu ada dalam pelangi selepas hujan

Kelembutan sinar mentari

di setiap pagi yang damai dari semesta

Tanpa rekayasa perusuh kemanusiaan

Kau adalah nyanyian indah

Tak tertandingi dari burung-burung mockingbird

(Febriana – Solo, 5 Juli 2022)


Musisi Kekal

Masa depan, tak tertulis

Ucapan dari jiwamu,

Bebas bak burung terbang

Di birunya awan-awan

Bersama para dewa

pecinta suara-suara

Pemuja lema-lema

Aku pemujamu

Pun dia dan mereka

Tapi kau di mana

Menghilang seperti udara

Menguap

Aku menghirupmu

Kau hidup dalam alam pikirku

Dia dan mereka

Aku mendengar sendu teriakmu

Kau pergi berkeliling semesta

Pesanmu kau kan menciumi harum

Makhluk-makhluk jelita

Tapi aku di mana diantara kunang-kunang

Kau mau berdansa semalaman

Kau mau lihat gemerlap kota-kota

Tapi, Joe

Kau petik gitarmu

Sendu rindu menggebu

Lakukan apapun dalam keterbatasan

Lalu kau niatkan

Mohon ampun pada semesta seru sekalian alam

Mengabdi pada Nya selamanya

(Febriana – Solo, 31 Oktober 2022)


Residu Rasa

Cipta menginisiasi temu

Temu dua jiwa yang tersesat

Tersesat di tengah rimba beton

Beton menggiring raga-raga berlarian

Berlarian kian kemari menjemput asa

Asa yang terukir atas sensasi-sensasi menggelora

Karsa meminang kisah

Kisah potongan warna-warna

Warna terpulas polesan kuas

Kuas menggores garis-garis

Garis berbaris-baris dalam pucat malis

Rasa mengembang kuasa

Kuasa menari silih berganti

Berganti jiwa dan raga

Raga mengecapi ampas terhempas

Terhempas diantara buih gelombang

Gelombang menggulung residu rasa

(Febriana – Solo, 21 November 2022)


Febriana Widyat Sari, kelahiran Surakarta, Jawa Tengah tahun 1983. Menamatkan pendidikan di Fakultas Sastra dan Seni Rupa (UNS) dan Ilmu Hukum (Unisri). Seorang ibu satu anak. Sedang aktif menulis ‘gig report’ musik-musik arus pinggir untuk feedbackzine.blogspot.com.

Cerpen

Seperti Melihat Jurang

Cerpen Yeni Kartikasari

Dua bulan setelah kebakaran itu, aku suka pergi ke taman. Tidak ada alasan lain, kecuali aku ingin menatap gumpalan awan di langit. Sebab, gumpalan awan itu mampu membuatku tenang dan damai. Biasanya awan-awan itu turun perlahan mendekatiku, menyelimuti pandanganku dengan kabut putih sampai tubuhku terasa melayang. Namun, kali ini berbeda, awan yang turun begitu kelabu, bergulung-gulung menghampiriku—membuat mataku menerobos asap hitam yang kedalamannya melebihi jurang tak berdasar.

“Siapa kau?” tanyaku.

Dari kejauhan, sebuah bayangan bergerak-gerak ke arahku. Aku ingin berteriak, tapi tak bisa. Aku ingin beranjak, tapi tak mampu. Air wajahku dingin, jantungku berdegup kencang.

“Kang?” sapa suara itu sebelum telingaku berdenging.

Dari lembut suaranya dan aroma kasturi yang kucium, aku menyadari kehadiran istriku. Sungguh, sudah lama aku tak bertemu. Setiap hari aku menanggung sepi, sendirian saja menjalani kehidupan yang tak cepat berakhir.

“Ci?” tanyaku.

Tak ada sepatah kata yang bisa kudengar. Aku tak tahu, ia membalas sapaanku atau tidak. Seiring pendengaranku yang memekak, potongan-potongan peristiwa di hari paling nahas itu terlintas.

Kala itu, aku dan Cici belum lama menikah, belum sempat benar-benar mencurahkan cinta, menjelang surup rumah kami dihantam ledakan. Di ruang tamu, aku bersama keluargaku terkena runtuhan dinding, sementara istriku menjerit-jerit terjebak api di dapur. Aku ingin menolongnya, tapi aku sulit bergerak. Beberapa saat, aku melihat istriku disergap segerombolan lelaki dan dibopong ke tepi rumah. Aku sangat takut. Kuteriaki mereka sebagai bajingan dan kuserapahi habis-habisan. Ketika aku bisa keluar dari himpitan tembok, kucari istriku dengan tubuh penuh luka koyak dan kaki pincang.

Sungguh, aku hanya bisa berteriak sekencang-kencangnya ketika mendapati istriku terkapar tanpa sehelai pakaian. Detik itu, lekas kupeluk sekujur tubuhnya yang lebam dan pangkal pahanya yang terus mengalir darah. Aku masih berharap ia hidup, meski separuh keyakinanku benar-benar diliputi keraguan.

Tertatih-tatih, istriku kugendong keluar rumah. Kuabaikan sejenak keluargaku yang sedang bersusah payah menyelamatkan diri. Aku berjalan cepat melewati mereka dan berusaha meminta bantuan orang lain, tetapi tetangga-tetangga di sekitar rumah tampak gamang dan berusaha menjauh.

“Tolong! Tolong kami! Antar kami ke rumah sakit!” desakku kala itu, kepada warga yang menyembunyikan ketakutannya dengan kedua tangan terkatup di mulut. “Bantu orangtuaku juga. Mereka di dalam. Tolong!”

Hingga akhirnya, aku hanya bisa menyimpan dendam setelah istri dan keluargaku terkubur. Sehari setelah peristiwa itu, kudatangi kantor polisi meminta keadilan. Kepada para polisi, aku menyalahkan mereka dan orang-orang yang tak sigap memberi bantuan. Kuceritakan pula, betapa kejinya perbuatan segerombolan lelaki itu dan orang yang telah melempar ledakan. Padahal aku tidak punya salah. Keluargaku tidak pantas dijadikan sasaran kesalahan.

“Mereka buat hidup saya sengsara, Pak! Tolong!”

Namun, polisi justru memalingkan muka. Kupaksa mereka mengusut pelaku, tapi aku justru digebuk berulang kali.

“Kami tidak ikut campur,” kata salah seorang dari mereka.

Mendengar ungkapan itu, aku menyesal pernah lahir sebagai pribumi. Belum genap dua puluh tahun tanah air ini memerdekakan rakyatnya, aku merasa hak kemanusiaan keluargaku bagaikan sampah.

“Bajingan!” umpatku.

Sejak peristiwa itu, hidupku kosong. Dan, kekosongan itulah yang kini benar-benar kembali kurasakan.

Asap hitam berputar ke arahku. Membelit tubuhku. Dan, semakin lama bergerak ke atas, menciptakan udara paling dingin. Ketika mataku menjadi kabur, tetapi pendengaranku berangsur pulih, lamat-lamat sampailah gema suara itu kepadaku, “Kang, seberapa besar cintamu?”

Seberapa besar? batinku. Sampai Cici menjadi istriku, memang aku belum pernah menjawab pertanyaan itu. Bahkan kali ini, aku masih belum menemukan pengibaratan yang sepadan. Jujur saja, aku tak suka mengatakan cinta, tetapi langsung menunjukkannya. Maka, sering kuajak ia jalan-jalan, menonton di bioskop, dan membaca koran. Aku juga mengajarinya berbahasa inggris dan menceritakan kepadanya tentang kisah-kisah masa lalu. Sengaja kulakukan itu, sebab aku tahu, sebagai perempuan Cici harus punya pengalaman dan pengetahuan luas.

“Kang?” sapanya lagi.

Alih-alih ingin menjawab, tenggorokanku seperti menelan duri. Aku terbatuk-batuk, tapi tak ada suara.

Seiring dengan tubuhku yang mulai melemas, hatiku bergetar saat terbayang masa-masa aku pindah rumah dan menjalani hari-hari yang malang. Sudah dua bulan, hampir setiap waktu, tak bisa terhitung berapa kali mendiang istriku berkeliaran di benak. Aku kerap mendengarnya memanggil namaku, datang mencolek pinggangku, dan diam-diam seperti memeluk tubuhku. Sering pula aku merasa ia tersenyum, melambai-lambaikan tangannya, dan sesekali menggodaku agar aku berlari mengejarnya.

Pernah suatu masa, di dalam rumah, aku mengejarnya sampai ke pintu, namun saat aku mencoba meraih tangannya, ia lenyap dan tiba-tiba berpindah di dekat bingkai jendela. Dari sinar matahari yang terlalu silau, tubuh istriku tampak seperti siluet perempuan berambut panjang dengan gaun pendek yang teramat anggun. Ia terlihat menawan. Aku sungguh bahagia, meski setelahnya aku tetap menyadari bahwa semua itu bagaikan aku sedang berjalan-jalan di siang bolong dan melihat genangan air dari kejauhan.

Maka, aku memaklumi diriku sendiri, jika di taman ini, saat aku duduk di kursi paling ujung, di bawah deretan ketapang kencana, dan di antara warna-warni tumbuhan pacar air, aku kerap mengenang masa-masa terindah bersama istriku. Aku selalu membayangkan ketika kami duduk di dekat danau sambil makan kue keranjang yang begitu legit dan kenyal. Istriku mengatakan kue keranjang akan lebih nikmat jika dicampur parutan kelapa. Baginya, rasa kue itu akan jadi gurih dan ada asin-asinnya. Aku ingat saat itu kami tertawa karena kami teringat dengan ongol-ongol, jajanan dari tepung sagu yang mirip dengan kue keranjang, apabila kue itu benar-benar diberi parutan kelapa. Dan, tawa kami semakin lepas, ketika Cici bilang bahwa kue keranjang adalah sanak saudara dari dodol.

Pembicaraan itu selalu terngiang, sampai ketika aku memandang langit, aku merasa istriku sedang ada di atas sana. Maka, aku senang sekali saat awan-awan itu turun perlahan mendekatiku, menyelimuti pandanganku dengan kabut putih sampai tubuhku terasa melayang. Ada ketenangan dan kedamaian yang kurasakan, meski aku tak bisa melihatnya ada.

Namun kali ini, jangankan untuk merasakan ketenangan dan kedamaian, tanpa tanda-tanda ganjil sebelumnya, gumpalan awan yang biasa kutatap menjadi begitu kelabu. Aku gusar melihat sergahan asap hitam, gerak bayang-bayang, suara-suara, aroma kasturi, dan pendengaran serta penglihatanku yang mendadak tak berfungsi.

“Kau di mana, Ci?” gumamku.

Ketika aku hendak berjalan, mencari sosok yang kuyakini sebagai istriku, asap hitam semakin bergulung-gulung, sebelum pada akhirnya menyebar, dan membuatku tergelincir ke jurang.***


Yeni Kartikasari, tinggal di Ponorogo. Menyukai ice cream dan cokelat.

Puisi

Puisi Ian Hasan

Menara Api

aku pernah bersumpah

atas darah jalang si Dursasana

bara api yang telanjur menyala

menanam nyeri di rahim luka

sejak kehormatanku dipertaruhkan

dan kebenaran berdiri bungkam

di mulut para ksatria

wahai Sang Guru Drona

akulah Pancali yang tercipta dari api yadnya

wahai Bhisma yang Agung

akulah Parsati, sendi kehormatan yang kau usung

wahai para ksatria luhur Dinasti Kuru

adakah hak kalian merestui pertaruhan atasku?

kebenaran hanya omong kosong

dan melaksanakannya bukan lagi darma

karena kebungkaman telah menjelma iblis

yang menelanjangi kepalsuan kalian

seraya kontan memakan korban

orang kalah sepertiku

jika perempuan selalu menjadi tumbal

dan kesuciannya gampang disingkap paksa

adakah lelaki yang bisa dipercaya?

selamanya akan kuingat

segenap penjuru Bharatawarsha adalah perebutan

dan kemenangan Arjuna melucuti kemerdekaan

agar kelima Pandawa bisa berkata,

“dia kini menjadi milik kami.”

selamanya tak pernah kulupa

Rajasuya adalah pesta muslihat para ksatria Kurawa

supaya terlindung di balik tirai darma

seraya tertawa di antara mereka,

“dia kini menjadi milik kita!”

maka izinkan kubangun menara ini

kelak berdiri di tengah padang Kurusetra

adakah sumpah ini kalian terima?

Karanganyar, 2023


Mantra Ulu-Ilir

kuikuti arah datangnya air

bening menyusuri hulu sungai

yang terjepit di antara dua tebing

kaki mendaki pundak bukit telanjang

yang ditanami kubis, wortel, sawi, dan kentang

seraya tampak berserakan di sana-sini

tumpukan botol bekas kemasan pestisida

dan jejak luka yang kerap menguap

dari wajah para petani tanpa dosa

penghujan datang

dan mata air adalah gadis perawan

yang ditinggal pergi kekasihnya

bumi telah mencatat silsilah ketamakan

yang tekun mengabadikan kabar kehilangan

cacing, humus, burung, serangga, ikan

batu logam amblas, gunung bukit dikepras

sedang sampah dan racun kian mengendap

di mimbar dan meja orang-orang beradab

kemarau datang

dan mata air adalah ingatan buram

yang menguning disengat penyesalan

rindu kali ini bermuara pagi

serupa hujan pertama disengat matahari

menguar bersama keharuman tanah basah

di halaman senja yang masih menyala

aromanya melambung di langit-langit

kepala dan sebagian darinya membatu

di ujung cangkul dan pena

Karanganyar, 2023


Selawat Bumi

riwayatmu adalah ibu

yang kini terbaring murung

dengan tangan menggenggam zikir

dan senja mengapung di bola mata

maka kesetiaan menasehatiku tentang akhir

satu bait puisi yang luluh lantak akibat kelalaian

penutur kata membubuhkan tanda baca

kelangkaan air

kekacauan musim

kerusakan genetik

kemandulan fertil

kepunahan spesies

kelanjutan hidup

aku butuh separuh lembaran langit

untuk menghapus garis ajalmu

setelah kurendam terlebih dulu dalam bejana

berisi ramuan limabelas macam bumbu:

luka, tangis, dendam, mimpi, sunyi, rasa, niat, laku,

hasrat, giat, cermat, gerak, cipta, karya, dan iman,

serta pada seduhan terakhir

—setetes nyali kutambahkan

sebelum kiamat benar-benar menjemput

di hari keberangkatan kata sekarat

aku tetap berkhidmat pada kesembuhan

dan berharap kekuatan seorang diri

mendapati sekawanan burung kenari

menumpahkan rindu yang menghijau,

menyiramkan kasih yang membiru

melukis harmoni serupa pelangi

dan kasih manusia terajut sebagai  helai kapas

selembut udara memenuhi rongga dada

—setiap makhluk ciptaan-Nya

karena tuhan mengangkat khalifah

bukan sebagai izin untuk menjarah

menghancurkan atau sekadar mengambil

tanpa memberi imbal balik yang adil

Karanganyar, 2023


Kado Pengantin

: Rasih M. Hilmy

andai putaran waktu terhenti di awal lembaran baru

nyatanya ia masih bergerak di luar sana melawan beku

air sungai mengalir ke hilir, dedaunan menua lalu gugur

awan-awan pun sedia bergilir, butiran hujan setia bertabur

sebab kini kau bukan lagi seorang diri, tapi berdua

merayakan takdir demi segenggam bahagia

seiring sejalan kalian saling menerima

semua kenyataan apa pun adanya

“denganmu, kesialan macam apa

yang membuat derita?”

tandasmu padanya

jika tahun ini kita ibaratkan jam di dinding kamar

pada angka dua belas, sepasang jarum terhenti sebentar

setelah melewati satu episode petualangan gamang

detik ini adalah kenyataan yang berumur panjang

dan semoga inilah pengadilan suci, ganjaran

atas kebebalan yang direstui semesta raya

puisi yang kalian terima tanpa pilihan

hanya kasih sayang, tiada penyesalan

“tanpamu, keindahan macam apa

yang bisa kunikmati?”

tegasmu padanya

aku menyaksikan langit tergelar di dadamu

dengan putik dan tunas yang segera saja bersemi

pada satu pagi yang terbit dari sepasang mata istrimu

mutiara berwarna biru, perak, kelabu, jingga, dan ungu

adalah jenis-jenis musim yang kini kau himpun

setulus mungkin tanpa kehendak melawan kepastian

dan seketika itu pula kutahu, kau telah menyerah

untuk hidup merawat puisi yang kau sebut rumahmu

Karanganyar, 2023


Menjala Angin

kita telah lama belajar terbang

membuntuti angin dari negeri tanpa musim

lesap tanah dan air diserobot maling

dan kota-kota di permulaan pagi,

melahirkan anak-anak yang tumbuh dari tumpukan sampah

masa depan berpinak dari rahim hologram ladah

arus tinggi informasi

laju kemajuan teknologi

pesat kembangnya industri

dan waktu adalah panggung perayaan

senjakala kemenangan

mimpi-mimpi di meja makan,

tak peduli gizi dihidangkan setengah matang

menimbun racun yang bersekutu dengan penawarnya

layanan medis ahli

kemujaraban farmasi

kepastian polis asuransi

dan rumahsakit-rumahsakit makin subur

ragam penyakit menjamur

kita agaknya terbiasa patuh dan tabah

menirukan kegilaan dinding-dinding sekolah

kalut menghafal larik mantra dan rajah

kita pun sejatinya kerap lalai menghitung

jala angin yang ditinggalkan sayap burung-burung

dan langit lebih murung ketimbang resah gunung

Karanganyar, 2023


Ian Hasan, lahir di Ponorogo, saat ini tinggal dan bergiat di Sanggar Pamongan Karanganyar, selain juga terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata. Buku Kumpulan Cerpen perdananya berjudul Lelaki yang Mendapatkan Jawaban Atas Kisahnya Sendiri, terpilih sebagai finalis Hadiah Sastra Ayu Utami untuk Pemula “Rasa” 2022. Penulis dapat disapa memalui akun instagram @ian_hasan

Cerpen

Makan Pagi Paling Indah

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Sepiringnasi goreng iga bakar disajikan Ratih. Sepasang mata Pak Jo terbelalak. Rasa lapar dan  selera makannya bangkit. Tak terkendali seperti masa kanak-kanak. Di restoran hotel itu Ratih duduk menghadap meja kayu jati, berseberangan dengan Pak Jo. Semua orang menyapa Pak Jo. Ia  seorang guru besar, pembicara dalam forum seminar. Lelaki setengah baya itu  hanya memperhatikan Ratih, perempuan beralis tebal, dengan rambut sebahu, berkacamata minus setengah. Di hadapan Pak Jo, perempuan  itu menjaga kesopanan.   

“Kau suka masak nasi goreng?” tanya Pak Jo pada Ratih, seorang dosen muda, kandidat doktor.

Ratih memandangi Pak Jo, promotor disertasinya, dengan jenaka.

Lelaki setengah baya itu iseng bertanya tentang makan pagi kesukaan Ratih. Ia selalu memasak nasi goreng pada pagi hari, tetapi tak pernah memenuhi seleranya, Anak  gadisnya, Sekar, sebelum menikah, kadang memasak nasi goreng untuknya, tetapi terlalu banyak sayur.  

“Saya sering masak nasi goreng untuk sarapan suami,” kata Ratih.

“Apa suamimu bersyukur?” Pak Jo merasa perlu mengajukan pertanyaan ini. Ia masih ingat akan perangai  Sekar,  yang selalu menuntutnya mengucapkan rasa terimakasih ketika menyajikan sepiring nasi goreng yang penuh sayur dan cenderung hambar.   

“Ia pandai memuji masakan istri,”  kata Ratih, tenang.

“Apa dia tak pernah meminta sarapan lain, selain nasi goreng?”

“Sesekali ia minta nasi goreng pete,” kata Ratih. Ia mengingat perilaku suaminya yang jenaka saat makan nasi goreng pete. “Aroma pete membuatnya lahap makan.”

“Istriku dulu suka masak nasi goreng babat gongso. Tak seorang pun bisa menandingi kelezatannya. Nasi  goreng iga bakar yang kita makan ini, kalah lezat dengan masakan istriku.”

Berceritalah Pak Jo  pada Ratih mengenai kelezatan  nasi goreng sapi, nasi goreng kambing, nasi goreng ikan asin, nasi goreng kornet, nasi goreng sambal cumi pete, nasi goreng udang, nasi goreng magelangan, nasi goreng padang, dan nasi goreng thailand. Mereka bertukar cerita, dan tak ingin diganggu siapa pun. Orang-orang yang mengenal Pak Jo menyapa, tetapi tak pernah berani bergabung ke mejanya. Lelaki setengah baya itu menikmati makan pagi yang lezat, setelah sepuluh tahun tak pernah merasakannya, sejak istrinya meninggal.  Sepasang mata Ratih menampakkan cahaya ketakjuban selama sarapan, dan lelaki setengah baya itu merasa nikmat tiap sendok nasi goreng iga bakar. Tiap teguk kopi terasa lezat dalam cecapan ujung lidahnya.  

***

Usaimenjadi pembicara di hotel, menjelang sore Pak Jo meninggalkan ruang seminar. Berlari-lari kecil Ratih mengajak  suaminya menemui Pak Jo di pelataran hotel, dekat air mancur, kolam ikan, dan taman. Seorang lelaki kurus, rambut gondrong, berkacamata tebal, menyalami Pak Jo.

“Ini suamiku,” kata Ratih, “seorang wartawan.”

Tercium  bau keringat dan rokok yang menyengat. Pak Jo teringat akan kesukaan lelaki ini makan nasi goreng pete.  Ia menahan senyum, tak bisa berbincang lama dengan Ratih dan suaminya.  Ia bergegas ke ruang parkir mobil. “Sampai besok, kita bertemu di ruang ujian promosi doktor!”

Meninggalkan hotel di pinggir kota, lelaki setengah baya itu memasuki pelataran rumah yang senyap. Tanaman-tanamannya layu, beberapa hari tak disiram. Ia membuka pintu rumah, dan seekor kucing berlarian mengikuti langkahnya.

Malam itu Pak Jo suntuk membaca disertasi Ratih.  Sebuah  taksi berhenti di depan rumah. Anak sulung dan istrinya, Alya,  datang dari ibu kota, meramaikan suasana rumah. Anak sulung datang untuk urusan kerja, dan Alya  ikut suami untuk jalan-jalan.  Alya  membawakan banyak makanan, dan terus-menerus mengajaknya ngobrol. 

Pak Jo mulai membandingkan Alya dengan Ratih. Ia sempat berpikir, kenapa Alya tak semenarik Ratih, yang akan diuji disertainya besok? Lelaki setengah baya itu mulai melihat penampilan Alya: alis, sepasang mata, dandanan, cara berpakaian, dan cara bicaranya. Alya tampil dengan gemerlap. Ratih tampil dengan apa adanya.  

“Bagaimana kalau Alya  memasak nasi goreng besok pagi?”

“Besok akan tersaji makan pagi paling indah bagi Ayah.”

Pak Jo berharap besok pagi akan menikmati nasi goreng, telur dadar, dan secangkir kopi yang memberinya keceriaan.  Ia juga memerlukan teman ngobrol seperti Ratih.   

***         

Lepas subuh, Pak Jo berjalan kaki mengitari gang-gang, mencapai taman bougenvile dan buru-buru pulang. Ia merasakan tubuhnya segar, duduk di teras, membaca koran, mandi, berdandan, dan menghampiri meja makan. Tetapi alangkah sepi meja makan itu. Alya dan anak sulungnya tidak  berada di hadapannya. Ia seorang diri, mencecap kopi yang hambar. Anak sulung dan menantunya bergegas menyalaminya, mohon diri. Anak sulungnya akan mengunjungi tempat kerja. Menantunya menemui seorang sahabat, dan mereka berjanji akan berjalan-jalan berdua.

Pak Jo mengambil nasi goreng masakan Alya. Ia  sarapan dalam senyap seorang diri. Dalam suapan pertama, lidahnya tersengat rasa pedas. Telur dadar yang dikunyahnya terasa asin. Ia bimbang, ingin meninggalkan sarapan nasi goreng yang sudah dibayangkan semalam akan lezat.

Terdiam, merenung seorang diri di meja makan, ia teringat akan godaan seorang teman, “Tunggu apa lagi? Kau perlu seseorang istri yang membuatkanmu sarapan nasi goreng!”

Pak Jo memaksakan diri untuk menyuap beberapa sendok nasi goreng yang terlalu pedas, mengunyah telor dadar yang asin, dan mencecap kopi yang hambar. Ia memberikan nasi goreng dan telor dadar pada kucing. Nasi  goreng itu cuma diendus-endus. Telur dadar itu yang dimakannya. Nasi goreng pedas itu diabaikan kucing.

Mencuci piring dan cangkir, Pak Jo kembali duduk menghadap meja makan. Memandangi lukisan besar di dinding. Istrinya tersenyum tipis, dengan kebaya dan rambut disanggul. Sepasang matanya bening, dan selalu ia ingat godaannya tiap pagi, “Nasi goreng babat gongso sudah matang. Ayo, dimakan, mumpung hangat!”

Mereka makan bersama. Selalu  Pak Jo merasakan kelezatan dalam tiap bulir nasi goreng babat gongso yang dimasak istrinya. Ada  senyum tipis dalam celah bibir itu, terpancar cahaya bening di balik kacamata. Dan Pak Jo, akan marah sekali setiap kali seorang teman membujuknya untuk kembali menikah dengan seorang janda yang diperkenalkan padanya. “Kau kira akan mudah bagiku untuk menerima istri baru?”

Pak Jo mengusir kucingnya keluar rumah, mengunci pintu, menghampiri garasi. Ia  mengendarai mobil pelan-pelan, berangkat ke kampus. Masih terlalu pagi. Ia mencapai kampus, menuju ruang tunggu dosen penguji disertasi. Berperangai  lembut, Ratih  menyambutnya,  menyuguhkan sepiring nasi goreng babat gongso dengan acar, taburan bawang goreng, dan kerupuk. Aroma nasi goreng itu persis yang disajikan istrinya tiap pagi di meja makan. Dalam suapan pertama, ia menikmati kelezatan nasi goreng itu. Lahap sekali ia menghabiskan nasi goreng babat gongso, dan menemukan seluruh kenikmatan makan pagi sepuluh tahun silam bersama istri.   

Pandana Merdeka, Januari 2024


          S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari. Menyelesaikan  program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”. Semenjak 1983  ia menulis cerpen, esai sastra, puisi,  novel, dan artikel di beberapa media massa. Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen “Cermin Jiwa”, yang dimuat Kompas, 12 Mei 2007. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Kumpulan cerpen Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005), dibukukan setelah lebih dari dua puluh tahun masa proses kreatifnya. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” dimuat dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Penyusup Larut Malam” dimuat dalam Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009 dan diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018).  Cerpen “Pengunyah Sirih” dimuat dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Novel yang terbit  Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017), Percumbuan Topeng (Cipta Prima Nusantara, 2022). Kumpulan cerpen Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020), nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021.  Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022) dan Anak Panah Dewa (Penerbit Nomina, 2022).

Puisi

Puisi Ilham Nuryadi Akbar

Merapal Getir Masa Lalu

[Aceh-26 Desember 2004]

di tanah kami

geladir palagan belum kering

dan suara rentetan api adalah memar

yang pecah dalam memori.

mata kami bersaksi, ihwal dosa-dosa

kerap menandak melewati betis kami

hingga dua pena yang dicangking Raqib-Atid

tampak patah

lantaran pundak kami bergoyang

sepanjang musim menghindari peluru.

di atas rumah-rumah nestapa

kami persilakan desir angin

membawa murka ke rahim laut

meminta peran malaikat maut;

yang memberi kematian

pada minggu paling tenang.

hari itu, Tuhan menyuguh kafan ke punggung lautan

debur ombak mengantar seribu cawan air mata

ikan-ikan yang kerap bersengkela di jala para nelayan

berjatuhan dari langit berlumpur

memenuhi ladang yang kami garap

bumi yang kami huni

sebagai neraka kecil.

Bekasi, 29 Januari 2024.


Tamsil Peradaban

usai Hawa memetik hukum Tuhan

bumi menjadi tempat bagi Adam

menebus dosa-dosa

dan menggumbuk roda nasib.

tapi kini,

bumi hanya lautan merah tak bertepi

dan anak-anak Adam

menjala perkara haram di atas perahu emas

mengantarkan tanah leluhur

rumah para dulur

ke dermaga penuh abu.

nanti, setelah tanggal-tanggal terpenggal

rahim bumi akan mengandung seribu catatan

dan kita akan berlomba

mengarungi pulau-pulau sastra

menerjang ombak-ombak lini masa

menganju ajang pamer

pada sesuatu yang ciri

dengan beberapa cara.

Bekasi, 29 Januari 2024.


Mengadu Nasib

: 19 tahun berlalu

dan ratusan ribu jisim

adalah bangkai tak bernisan

ladang yang dipersilakan untuk kami menanam doa

memanen perpisahan

menanak rasa sakit.

sedang di hari yang bukan Ramadan

kami berpuasa atas kerinduan

memeluk orang-orang yang hingga sekarang

tak pernah lunas kami temui

melainkan sekubit tulang

kulit dan daging hitam

berkelindan syair-syair gamang.

seraya mengadu nasib

kami menabur doa-doa paling ranum

di atas pusara yang tak lagi wangi

alangkah rasa sakit yang banglas di dada kami

adalah air mata—yang selalu tumpah

namun entah ke jasad siapa!

Bekasi, 29 Januari 2024.


Dermaga Masa Depan

atas nama leluhur

kami menanam kebaikan di ladang syukur

menanak seribu doa di dapur

yang tak pernah merugi.

pun memantik nyala api—membakar nyali pada sumbu yang enggan padam

hingga pemikiran kami berkobar matang

tanpa tungku arang.

di tanah yang kami cintai ini

secangkir literasi terhidang sepanjang malam

dan kami bersumpah di dalam rumah yang sama

bahwa semangat kami enggan berbeda

meramu darah yang satu, bangsa yang satu, bahasa yang satu

menggisil perkara haram

yang sekali waktu

menjelma perkara hasai.

demi menulis peradaban

mendaras kehidupan

kami menatah perahu

mengantarkan generasi

ke dermaga masa depan

dan mengarungi

luasnya kebijaksanaan Tuhan.

Bekasi, 29 Januari 2024.


Dua Kubu

sekali waktu

aku lihat geliat ibu

bersujud runcing kepada Tuhan

dan ibu bersaksi;

bahwa dirinya kerap buta

menyayangi darah daging

melebihi yang Mencipta.

di lain waktu

ayah menyergah ingatanku:

puisi tetang ibu selalu bermula dari tunggul pohon di hutan rimbun, Nak

kala desir angin menampar-nampar tubuhnya

ia berdansa penuh birahi

menyetubuhi jari-jemari di atas secarik kertas

sampai terkulai lemas, menggelinjang

mengandung benih-benih sastra

pecah sebagai bahasa

menjelma satu puisi.

Bekasi, 29 Januari 2024.


Falsasah Seorang Ibu

ibu adalah cinta yang setiap kali hampir mati

direinkarnasi dengan doa-doa

sedang di dada anak piatu

merindukan ibu

adalah doa paling sakit.

kendati demikian

kebohongan ibu hanyalah jujur

yang dibungkam dalam waktu sementara

ibu berkata “silahkan berkelana”

meski aku tahu

bahwa kepulangan

adalah inginnya yang paling rahasia.

di tempat berbeda

aku menghitung hari-hari yang terkelupas

sembari mengingat masa kecil

yang dahulu:

ibu mencariku di antara adzan magrib

menyapih mataku di waktu subuh

menyulam nasibku yang masih setengah jadi.

Bekasi, 29 Januari 2024.


Anasir Kehidupan

mengislah mawar

sebab suamimu yang bernama langit

takkan pulang membawa hujan

dan tubuhmu itu

begitu hasai

haus keadilan.

pun tanah di sekelilingmu

kian merengek

ingin memeluk basah paling berkelas

dari ceruk matamu yang gegas

untuk merekah

rindu bersudah.

kau pun tahu, mawar

bahwa hidup bukan tembikar

yang semakin dibakar

meraup tawar-menawar

dari tangan seorang pembeli.

hidup; hanya bangku sekolah kedua

yang di atasnya

kita duduk mengernyitkan dahi

mampus berpikir

kapan ujian ini berakhir?

Bekasi, 29 Januari 2024.


Ilham Nuryadi Akbar lahir di Banda Aceh dan saat ini sedang merantau di Kota Bekasi. Buku pertamanya diterbitkan oleh Alinea Medika Pustaka berjudul Kemarau Di Matamu Hujan Di Mataku. Puisi dan cerpen dimuat pada beberapa media lokal dan nasional.

Cerpen

Ngaji Bareng Simbah

Cerpen Septi Rusdiyana

Jarum jam sudah menunjukkan pukul tiga lewat lima puluh menit. Aku sudah duduk di sofa ruang tamu kos ini sejak sepuluh menit yang lalu. Sekaleng minuman soda dingin di tanganku, bahkan sudah hampir habis, tapi mobil yang akan membawaku dan teman-teman ke Gunung Kidul belum juga sampai. Berkali-kali aku menarik napas panjang karena bosan. Hingga tanpa sengaja pandanganku jatuh pada kalender yang tergantung di dinding. Sebentar lagi hari natal. Hari yang mulai aku benci sejak tepat di tanggal yang sama, tiga tahun lalu, telah merenggut papah dari hidupku.

Tin tin

Suara klakson mengagetkanku. Aku bangkit, lalu menyeret koper di sampingku untuk segera menyusul masuk ke mobil.

***

“Mari-mari.” Mbah Diro, pria renta berusia delapan puluh satu tahun itu memersilakanku dan Indah untuk masuk ke rumah. Bangunan sederhana berdinding anyaman bambu dan berlantai tanah ini akan menjadi tempat tinggal kami selama dua minggu ke depan. Kami akan mengambil data dan melakukan survey lapangan untuk keperluan skripsi di desa Karangduwet yang terletak di kecamatan Paliyan, kabupaten Gunung Kidul.

Mbah Nik, istri Mbah Diro sedang menata minuman di meja. Kami menyalami keduanya sebelum akhirnya duduk. “Namanya siapa?” tanya Mbah Nik kepadaku.

“Nadia, Mbah.”

Mbah Nik mencondongkan kepala dan memasang wajah seolah tidak mengerti.

Mbah Diro lalu memperkenalkan kami dengan suara lantang. “Ini Mbak Nadia, kalau yang itu namanya Mbak Indah,” ucapnya sambil menunjuk kami bergantian. Mbah Nik terlihat mengangguk.

“Maaf, istri saya ini pendengarannya sudah jelek. Jadi kalau ngomong memang harus keras,” jelas Mba Diro. “Silakan diminum dulu. Setelah ini akan saya tunjukkan kamar kalian supaya Mbak berdua bisa istirahat.”

“Terima kasih, Mbah,” balasku dan Indah hampir berbarengan.

Mbah Diro memperlihatkan letak kamar mandi dan dapur sebelum mengantar kami ke ruang tidur. Luas kamar kami sekitar dua kali tiga meter. Ada satu dipan beralaskan tikar dilengkapi dua bantal kapuk dan dua lembar jarik yang masih terlipat rapi. Terdapat satu buah meja dan kursi kayu di sudut ruangan. Tidak ada lemari, jadi aku dan Indah tetap menyimpan pakaian di dalam koper.

Indah terlihat memainkan ponsel untuk mencari arah kiblat. “Dipan ini kita pindah menghadap ke sana ya, Nad? Sudah pukul sepuluh dan aku belum sempat salat Isya.” Aku hanya mengangguk lalu membantu memosisikan dipan sesuai arahannya. Tidak lama ia keluar kamar dan masuk lagi sudah dengan wajah, tangan serta kaki yang basah. Ia mengambil tas kecil dari dalam koper lalu naik ke dipan. Ia memakai mukena, menggelar sajadah dan melaksanakan salat.

Aku meletakkan tas di meja, kemudian duduk sambil memainkan ponsel untuk menunggu Indah menyelesaikan ibadahnya. Ada pesan dari Mas Indra, kakakku. “Natal tahun ini pulang ya, Nad. Mamah kangen kamu.”

Aku tidak membalas pesannya.

***

Mbah Diro sedang jongkok meniup bambu ke arah tungku sambil memainkan kayu bakar di bawahnya. Asap mengepul cukup banyak. Tidak lama api pun menyala. Ia mengangkat ceret yang hampir keseluruhannya berwarna hitam ke tungku.

“Loh, sudah bangun to? Mbak Indah juga sudah bangun?” tanya Mbah Diro padaku.

“Iya, Mbah. Indah masih mengaji di kamar,” jawabku singkat.

“Sebentar, airnya belum matang. Saya buatkan teh untuk sarapan.”

“Terima kasih, Mbah. Biar saya bantu.”

“Tidak perlu. Lebih baik Mbak Nadia siap-siap saja. Bukannya pagi ini harus ke balai desa. Nanti saya antar.”

“Baik, Mbah.” Aku mencari-cari keberadaan istrinya. “Ngomong-ngomong, Mbah Nik ke mana, Mbah?” tanyaku.

“Subuh tadi dijemput Warjo, anak saya, ke Playen. Istrinya baru saja melahirkan. Cucuku sudah tiga sekarang. Laki-laki semua.”

Aku manggut-manggut. “Wah selamat ya, Mbah. Gara-gara kami Simbah jadi tidak bisa ikut menengok cucu.”

Mbah Diro menggeleng. “Tidak apa-apa, yang penting semua sehat. Sudah sana, nanti terlambat,” perintahnya kemudian.

Aku berjalan meninggalkan dapur. Sambil menuju ke kamar, aku memperhatikan sekeliling. Rumah ini ada dua kamar, satu kamar digunakan Mbah Diro dan istrinya, satu lagi yang aku dan Indah tempati. Bagian ruang tamu ada empat bangku dan satu meja panjang berbentuk kotak, bersebelahan dengan bufet di mana ada sebuah radio berukuran kecil di situ. Tepat di sampingnya ada lemari kecil dengan pintu kaca. Aku bisa melihat dua buah keris dan satu mata tombak tersimpan di dalamnya. Semua perabot terbuat dari kayu. Pada dinding bambu yang menjadi sekat kamar Mbah Diro, tertempel poster presiden Soeharto dan Sri Sultan Hamengkubuwono ke Sembilan berukuran cukup besar. Tidak ada jam dinding maupun televisi di ruangan ini. Kamar mandi berada di luar rumah.

Ponselku berdering. Aku melihat nama Mas Indra pada layar.

“Ya, Mas,” jawabku malas.

“Semalam aku mengirimkan pesan tapi tidak terbalas, kamu sudah tidur ya?” tanya Mas Indra di seberang.

“Iya, Mas. Semalam aku lelah sekali.”

“Oke. Natal besok kamu pulang kan?”

Hening.

“Nad, cepat mandi!” teriak Indah begitu masuk. Aku yakin Mas Indra pasti bisa mendengar juga suaranya.

“Sudah dulu ya, Mas. Aku harus segera bersiap.” Aku mengakhiri telepon tanpa menunggu persetujuan.

Indah terlihat masih mengenakan handuk di kepalanya, namun pakaian yang dikenakan sudah rapi. Kuturuti Indah tanpa protes, langsung melesat mengambil handuk di kamar.

***

Hari ini hari Minggu. Sejak Sabtu sore Indah pamit untuk pulang dulu ke Yogya dan akan kembali lagi nanti malam. Aku memutuskan untuk tetap tinggal di sini sampai kegiatan kami selesai. Sekamar dengan Indah membuatku mulai terbiasa bangun subuh. Udara pagi ternyata menyegarkan.

Mbah Diro sedang memanen pisang di halaman rumah. Aku bermaksud ingin membantu tapi ditolak. Takut kotor katanya. Jadi aku berinisiatif membuat teh manis hangat untuk kami.

“Mbak Nadia mau saya antar ke gereja?” tanya Mbah Diro tiba-tiba setelah melirik ke arah liontin berbentuk salib yang menggantung di leherku.

Aku terkejut mendengarnya. Entah sudah berapa lama aku tidak pernah lagi ke gereja sejak papah meninggal. Cukup lama aku tidak menjawab.

“Ada gereja di dekat pasar, kebetulan saya mau menjual pisang, jadi bisa sekalian. Setelah tehnya habis, Mbak Nadia siap-siap ya,” kata Mbah Diro seolah memerintah. Aku hanya menjawab dengan anggukan.

***

“Mbak Nadia kenapa? Kok sejak tadi terlihat murung. Apa sedang tidak enak badan?” tanya Mbah Diro. Kami berjalan beriringan kembali ke rumah. Sinar matahari sudah cukup menyengat, tapi tersamar karena banyak pohon rindang di sepanjang jalan.

“Tidak apa-apa,” jawabku singkat. Aku melihat Mbah Diro menenteng kresek putih berisi beras. “Sini saya bantu bawakan, Mbah.” Tanpa menunggu jawaban aku langsung mengambil alih bungkusan itu.

Cukup lama kami terdiam. Kemudian aku bertanya untuk memecah keheningan, “Apakah Simbah pernah sedih?”

“Tidak,” jawabnya pendek.

“Tidak?” tanyaku menirukannya.

“Mbak Nadia lagi sedih?” Mbah Diro balik bertanya.

“Tidak, Mbah. Cuma sedang kangen papah.”

“Memangnya papahnya Mbak Nadia ke mana?”

“Sudah meninggal tiga tahun yang lalu.”

Mbah Diro terlihat sedang berpikir sejenak. “Dulu Simbok pernah menasihati saat Bapak meninggal.”

Aku menengok ke arahnya, tertarik dengan apa yang akan disampaikan.

“Jangan sampai kesedihan dan tangisanmu mempersulit bapakmu di alam kubur,” ucap Mbah Diro menirukan kalimat ibunya. “Waktu itu saya masih kecil, belum begitu mengerti, jadi patuh saja dengan apa yang simbok bilang. Sekarang baru tahu kalau rezeki, jodoh dan maut itu sudah ketetapan. Mau dihindari seperti apa kalau sudah rezeki ya harus diterima. Pun sebaliknya, mau dikejar seperti apa kalau bukan haknya juga tidak akan pernah sampai. Hidup itu tujuannya cuma satu, yaitu menjalani apa yang sudah ditetapkan Gusti Allah,” lanjutnya kemudian.

“Berarti Simbah selalu bahagia?” tanyaku lagi.

Mbah Diro mengangguk tersenyum. Sadar melihatku seperti masih tidak puas, ia menjelaskan lagi. “Saya itu orang bodoh. Membaca saja tidak bisa. Belajar salat dan mengaji tidak pandai-pandai. Jadi kalau pas bulan Ramadhan, ya ikut puasa. Saatnya tarawih, ya berangkat tarawih. Makanya saya itu kalau sudah waktunya azan langsung ke masjid, karena kalau salat sendiri tidak bisa.”

Aku tersenyum mendengar jawaban polosnya.

“Apalagi Mbak Nadia kan orang pintar, seharusnya bisa lebih bahagia.”

Deg. Jantungku serasa berhenti mendadak. Ada perasaan aneh dalam hatiku.

***

Tanpa terasa, dua minggu sudah hampir terlewati. Hari ini tugasku selesai lebih cepat. Indah masih harus bertemu dengan beberapa petani, jadi aku meninggalkannya pulang lebih dulu. sesampainya di rumah, aku melihat Mbah Diro menggendong tiga buah nangka muda berukuran sedang hasil panennya hari ini.

“Simbah mau ke pasar? Saya ikut ya?” tanyaku.

“Kok sudah pulang?”

“Iya, tugasku sudah selesai, Mbah.”

Mbah Diro tersenyum mengizinkan.

Ternyata kali ini bukan ke pasar biasanya. Kami harus naik angkot satu kali untuk menuju pasar Playen. Begitu sampai, aku melihat Mbah Diro menyerahkan satu lembar uang lima ribuan dan satu lembar lagi uang seribuan. “Dua orang ya,” ucapnya kepada kernet. Aku bermaksud mengganti uang tersebut namun ditolaknya. Kami lalu masuk ke pasar.

Tanpa mencari-cari, simbah langsung berjalan menuju lapak penjual gudeg yang berada di pojok. Setelah bernegosiasi, akhirnya Mbah Diro mengucap syukur saat menerima uang sebesar dua puluh ribu rupiah di tangannya. Aku sangat sedih melihatnya. Sampai akhirnya sebelum kami naik angkot untuk kembali pulang, Warjo yang kebetulan sedang berada di pasar, memanggil simbah dan menyerahkan dua bungkusan besar yang tidak lama kemudian aku tahu isinya ayam, telur dan juga sayuran.

“Alhamdulillah, akhirnya kita bisa makan enak sebelum Mbak Nadia dan Mbak Indah pulang,” ucap Mbah Diro. Seketika hatiku rasanya diremas-remas. Aku berusaha menahan tangis agar tidak pecah. Begitu angkot berhenti di depan pasar yang biasanya kami kunjungi, aku meminta izin pada simbah untuk turun terlebih dahulu. Secepat kilat aku berlari masuk ke gereja. Menuju bangku paling depan, lalu berdoa.

“Tuhan, aku meralat apa yang kukatakan dalam doaku kemarin. Aku tidak protes lagi mengapa papah meninggal. Karena aku tahu, papah sekarang sudah di surga bersama-Mu. Aku juga tidak akan meminta-Mu mengambil nyawaku pada malam natal nanti untuk menyusul papah.” Tangisku akhirnya pecah. Beban dan rasa sakit yang selama ini ada di dadaku seperti berdesakan ingin keluar berbarengan dengan derasnya air mataku. Usai mengakhiri doa, aku mengambil ponsel dan membalas pesan Mas Indra.”***


Septi Rusdiyana Penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga dengan dua putri cantik bernama Negar dan Nala

Cerpen

Kau adalah Anakku Sekarang

Cerpen Era Ari Astanto

Lelaki berotot besar berambut cepak dan berkumis melintang itu berhenti mencengkeramku ketika tiba di depan sebuah rumah kecil sederhana yang sudah dipenuhi orang-orang, dan semuanya tidak ada yang kukenal. Dia mengempaskanku dengan kasar di halaman dan berkata dengan gusar, “Temanmu sudah mati.”

Aku tak berkomentar. Aku merasa di antara senang dan sedih. Senang karena kematian orang itu berarti kebebasanku lagi, sedih karena aku tahu bagaimana rasanya ditinggal mati orang tercinta. Sebelum aku merasakan lebih jauh, aku mendengar riuh tangis dari dalam rumah. Lelaki besar berotot itu menarikku masuk ke dalam rumah, lantas mendorongku hingga mendesak orang-orang yang berkerumun.

Semua orang menjeda tangisnya sebentar dan memberi jalan. Lalu, menutup jalan lagi dan mengelilingiku sambil melanjutkan tangisnya. “Jangan menangis di luar kewajaran, ya,” kata beberapa di antara mereka kepadaku dengan penuh perhatian.

Aku sebenarnya ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi rasanya sekarang tidak ada gunanya mengatakan hal-hal itu. Yang mampu kulakukan akhirnya hanyalah mengangguk dan memperlihatkan raut sedih.

Lalu, kerumunan menyibak sehingga tampak seorang wanita renta terhuyung ke arahku dan meraih tanganku. Air matanya mengalir di pipinya. “Anakku sudah mati,” isaknya.

“Aku tahu,” kataku. “Aku sangat sedih, semuanya terjadi begitu tiba-tiba.”

Kata-kataku yang sesederhana itu ternyata justru membuat air matanya mengalir lebih deras. Bahkan, ratapannya sekarang begitu menyayat, membuat bulu kudukku berdiri.

“Tolong jangan terlalu bersedih seperti ini, Bibi,” kataku.

Dia mendengar kata-kataku. Tangisnya sedikit mereda. Tanganku yang masih digenggamnya ditarik ke wajahnya, dan dengan punggung tanganku dia mengelap air matanya. Dia kemudian menatapku dengan masih terisak, dan berkata, “Kamu juga harus menerimanya dengan tabah.”

Aku mengangguk mantap. “Pasti, Bi. Tapi, jangan biarkan kesedihan menyakiti Bibi.”

Dia mengangguk, “Kamu pun harus menjaga kesehatan.” Katanya sambil mengelap air matanya dengan tanganku lagi. Jika tidak dipegang dengan erat, pasti aku sudah menariknya.

“Tentu, Bi—semua yang ada di sini pun harus melakukannya,” kataku. “Kesedihan ini harus kita ubah menjadi kekuatan.”

Dia mengangguk. “Kuharap kamu tidak menyalahkan putraku karena dia telah mengembuskan napas terakhir sebelum kamu sempat menemuinya.”

“Tidak, Bibi. Aku tidak akan pernah menyalahkannya,” kataku.

“Kuminta kamu tidak terlalu bersedih,” katanya dengan masih terisak.

“Aku hanya khawatir tidak dapat menahan air mataku, Bi.”

Dia tersedu lagi dan sekali lagi mengelap air matanya dengan punggung tanganku. “Dia satu-satunya orang yang kumiliki, tetapi kini dia pergi. Kau adalah anakku sekarang.”

Aku terkejut dengan kalimat terakhirnya. Kini aku merasa air mataku menggenang. Kutarik tanganku dengan sedikit memaksa dan putus asa. Aku berhasil mendapatkan tanganku kembali setelah mengatakan bahwa aku membutuhkannya untuk menghapus air mataku sendiri. Lalu tanyaku, “Benarkah itu, Bibi?” Aku tak punya kata-kata lain, kecuali itu.

Entah apa yang dipikirkannya, tetapi setelah aku bertanya seperti itu, tangisnya kembali meledak beberapa lama. Setelah reda, dia menarik tanganku dan membawaku ke ruangan lain. Di dalam ruangan itu dia berkata, “Temanilah saudaramu sebentar.” Lalu, dia keluar.

Kukitarkan pandangan. Tidak ada siapa pun, kecuali sosok yang terbaring di atas dipan dan ditutupi dengan kain kafan putih. Ada sebuah kursi di sebelah dipan. Aku menggesernya sedikit, lalu duduk di sana.

Aku duduk diam di sana hingga beberapa lama dan hanya memandangi jasad tertutup kafan, jasad orang yang tidak pernah aku kenal. Sampai akhirnya aku merasa penasaran untuk melihat seperti apa wajah orang itu. Kuangkat kafan yang menutupinya. Sekilas kulihat wajah pucat, usianya masih muda. Aku benar-benar merasa tidak mengenalnya. Kututupkan kembali kafan itu dan berguman, “Jadi, inikah temanku?”

Pikiranku gelisah, menerka-nerka apa yang akan terjadi terhadapku setelah pemakaman orang ini. Lalu, kucoba mengingat dan merenungkan rentetan kejadian yang menyeretku hingga di sini.

Semuanya bermula pada pagi tadi, terjadi begitu saja dan sangat cepat.

Aku terbangun dan mendapati hujan yang turun sejak tengah malam tadi masih juga bertahan. Hawa dingin yang dibawanya membuatku malas bangkit dari kasur. Kuraih ponsel di meja kecil yang berimpitan dengan tempat tidur ini. Pukul 6.41. Jika bukan karena hujan itu, sinar matahari sudah menyusup melalui celah jendela dan membuatku tak betah tiduran seperti ini. Kuletakkan kembali ponsel di meja kecil, lalu kutuntun telunjuk kanan ke sudut mata kananku, menggosok gumpalan kotoran di sudutnya. Itu pasti terkumpul saat aku tidur, dan membiarkannya tetap di sana adalah tidak pantas. Aku tidak terburu-buru bangun, dan karena itu aku mencongkelnya dengan santai. Tiba-tiba sisi pahaku merasa dingin. Mungkin karena angin dingin yang menyusup melalui celah-celah jendela. Dan tangan kiriku yang menganggur menjadi berguna dengan merapatkan selimut. Aku baru menyadari bahwa kemarin sebelum tidur aku melepas baju dan celana panjangku. Udara begitu panas kemarin. Kipas angin kecil yang kubawa tidak memberi pengaruh apa-apa sehingga tidak memberiku pilihan lain kecuali melepas pakaian luar. Aku cari-cari di mana baju dan celanaku dengan memanfaatkan mata kiriku yang menganggur. Kulihat mereka ada di sebelah meja kecil, teronggok dan tampak kusut.

Terdengar suara pintu diketuk.

Aku mengabaikannya karena kukira itu ketukan di pintu rumah sebelah. Itu wajar, karena pintunya bersebelahan. Dinding pembatas rumah yang kusewa untuk beberapa bulan  ke depan ini memang serupa sekat antarkamar, satu dinding tembok dipakai untuk dua rumah. Rumah ini kecil: hanya memiliki satu kamar tidur, satu dapur kecil, dan satu kamar mandi sempit. Terletak di pinggiran kota, dekat dengan lingkungan kumuh. Aku sengaja menyewanya semata-mata agar dekat dengan masyarakat di lingkungan kumuh yang harus aku teliti sebagai prasyarat kelulusan kuliahku.

“Hei … temanmu sekarat, dan kau masih sempat tidur?” sebuah suara di sela-sela ketukan.

Aku mengernyit. Aku merasa tidak punya teman satu pun di sini. Aku di sini sendiri, tidak ada siapa pun yang aku kenal sebelumnya. Aku di sini baru tiga hari dan baru tiga orang yang aku kenal: Pak Rt, pemilik rumah ini, dan satu petugas hansip. Aku berpikir semua data diri sudah aku berikan kepada mereka secara lengkap dan uang sewa sudah aku lunasi di awal. Jadi, rasanya janggal jika di antara mereka bertiga datang sepagi ini menemuiku untuk urusan itu. Namun, ketukan itu memang untukku. Apakah kata-katanya hanya pancingan agar aku membuka pintu?

Aku berpikir, seseorang pasti telah salah mengetuk pintu. Jadi, aku tetap mengabaikannya dan melanjutkan membersihkan gumpalan di mataku. Namun, ketukan itu terus berlanjut. Ketukannya kini terdengar memaksa dan kasar. Siapa dia? Aku ingat tentang bagaimana kebiasaanku di rumah: setiap kali aku kembali setelah pergi, aku akan selalu mengetuk pintu dengan baik, dan menggunakan kunciku hanya ketika yakin tidak ada orang yang akan membukanya. Sekarang, ketukan itu menjelma gedoran. Orang di luar pasti melakukannya bukan dengan buku jari, tetapi dengan tinju tangannya atau kakinya. Gedoran itu terdengar semakin kasar dan keras. Aku ingin tetap mengabaikannya, tetapi aku berpikir, jika sampai pintu itu jebol maka aku yang harus bertanggung jawab karena memang begitu perjanjiannya dengan pemilik rumah. Sayang rasanya jika harus kugunakan uang untuk hal yang sebenarnya bisa kuhindari.

Aku segera bangkit, mengenakan celanaku dengan terburu-buru dan segera menuju pintu depan tanpa sempat mengenakan baju. Namun, sebelum aku mencapai pintu, terdengar benturan yang sangat keras. Pintu itu jebol, satu engselnya mencelat, dan terbanting sedemikian keras membentur dinding.

Aku terhenti, terkesima dengan pemandangan itu.

Kini tampak di depan pintu seorang pria besar berambut cepak dengan tubuh penuh otot besar menggelembung di sana-sini. “Kau ini keterlaluan. Temanmu sekarat dan kau malah santai-santai seperti ini?” Saat bicara, matanya melotot, kumis yang melintang membuatnya tampak makin garang.

Aku tidak paham apa yang dia katakan. Aku berpikir dia pasti salah orang. Kutenang-tenangkan diriku dan mencoba bicara. “Mungkin Anda datang ke alamat yang salah, Paman.”

“Temanmu yang sekarat kini membutuhkanmu dan kaupikir aku sedang buang-buang waktu dengan bermain-main alamat palsu?” Dia berkata keras, nyaris berteriak.

Tidak ada keraguan sedikit pun di wajahnya atau nada suaranya. Keyakinannya yang membara mampu membuatku ragu terhadap diriku sendiri. Jangan-jangan kemarin aku yang terlalu lelah sehingga salah masuk rumah. Aku melompat ke luar, memeriksa nomor rumah di atas bingkai pintu. Ini memang rumah yang kusewa. Tapi, aku tak mengenal lelaki besar dengan kumis melintang ini. Aku yakin dia salah alamat.

“Ini rumah yang kusewa tiga hari lalu. Paman mungkin salah orang.” Kataku dengan sikap sangat percaya diri.

Melihat sikap percaya diriku, dia tampak bingung. “Kamu Wage, bukan?”

“Ya. Memang. Tapi, aku tak pernah mengenal Paman.”

Mendengar jawabanku dia mendengus, amarahnya menyala. “Hei dengar! Temanmu sekarat!”

“Tapi, aku tidak punya teman di sini. Hanya Pak Rt, pemilik rumah ini, dan satu hansip yang aku kenal di sini.”

“Omong kosong, dasar pencundang kecil!” Dia memelototiku.

“Aku mahasiswa yang melakukan riset lingkungan di dekat sini,” kataku. “Paman bisa melihat bukti-buktinya. Jika Paman mencoba untuk melepaskan orang itu padaku, aku benar-benar menolak, karena aku memang tidak pernah memiliki seorang teman pun di sini. Namun …,” Aku melembutkan nada bicaraku. “Namun, Paman tidak perlu khawatir, Paman bisa menyumbangkannya ke salah satu tetangga di sini. Mereka pastinya punya banyak teman dan menurutku salah satu dari mereka tidak akan keberatan, dan bahkan mungkin Paman bisa mengajak yang lain.”

“Tapi dia temanmu, berhentilah menyangkal!” Dia perlahan mendekatiku. Matanya tampak menyala, mulutnya sedikit menganga seolah bersiap melahapku.

“Sebenarnya, siapa orang yang Paman bicarakan ini?”

Dia menyebutkan sebuah nama yang terasa asing ditelingaku.

“Aku tak kenal nama itu!” Aku berteriak.

“Dasar pecundang! Masih berani menyangkal?!” Dia mengulurkan tangan sebesar betisku dan mencoba meraih leherku.

Refleks aku mundur hingga sampai di sudut tempat tidur. Aku tahu aku akan kalah jika berkelahi dengan orang ini. Tapi, aku mencoba menggertak dengan putus asa, “Aku mahasiswa yang sedang meriset lingkungan di sini. Aku punya bukti-buktinya. Jika kamu masih memaksaku, aku terpaksa harus mengusirmu dari sini.”

Dia menanggapi dengan mengulurkan tangannya yang kuat dan menjambak rambutku hingga aku kesakitan. Aku beberapa kali mencoba memukulnya, tapi sepertinya tidak berpengaruh apa pun baginya. Dia terus menyeretku dari sudut kasur dan mencampakkanku ke lantai seperti sampah. “Jangan banyak tingkah! Pakai bajumu! Cepat!” bentaknya. “Atau aku harus menyeretmu seperti tadi, hah?!”

Aku sadar, tidak ada gunanya berdebat atau berkelahi dengan orang ini. Dia setidaknya tiga kali lebih kuat dariku. Jika aku nekat, dia bisa melemparku ke pembuangan sampah yang tak jauh dari sini dengan sedikit usaha seperti dia akan membuang sekarung sampah ke selokan. Lalu, kataku, “Jika kehadiranku menyenangkan hati orang yang sedang sekarat, aku akan pergi melakukannya.” Aku bangkit perlahan dan meraih baju di samping meja kecil.

Begitu melihatku selesai mengenakan baju, dia segera menarikku dan mendorongku keluar. Di luar, hujan semalam masih menyisakan gerimis. Aku ragu melangkah. Namun, dia terus mendorongku dari belakang, membiarkan gerimis membasahiku. Dia sendiri membawa payung. Ketika aku minta sedikit ruang di bawah payungnya, dia mencengkeram lenganku dan melemparkanku ke depan. Sungguh pagi yang buruk, berbasah-basah dalam gerimis hanya untuk mengunjungi teman yang tidak pernah aku kenal.

Begitulah yang terjadi padaku.

Aku masih duduk di sini, di kursi di samping jasad itu, hingga beberapa lama sambil memandangi jasad yang sudah aku lupa wajahnya meski baru saja aku lihat. Aku ke sini bukan atas kemauanku, tapi agar terbebas dari teman yang tak kukenal ini. Namun, kematiannya ternyata tidak membebaskanku, karena seorang janda renta telah menggantikannya, memasukkan dirinya di dalam tanggung jawabku. Aku bisa saja pergi diam-diam. Tapi, kemanusiaanku mencegah. Tak tega rasanya membiarkan janda renta dan miskin tanpa penjagaan dan perawatan. Memercayakannya kepada yang berwenang sama saja membiarkannya hidup terlunta-lunta. Biarlah nanti aku yang merawatnya, memberikan tanganku sebagai sapu tangan, dan membersihkan kubur anaknya. Setidaknya sampai dia tutup usia.

Sekarang, yang terpenting menurutku, aku harus menemukan tukang kayu untuk memperbaiki pintu yang telah ditendang oleh lelaki besar itu. Itu tanggung jawabku atas kesepakatanku dengan pemilik rumah sewaan itu, selain juga untuk keamanan barang-barangku.


Era Ari Astanto penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di komunitas Sastra Alit. Karya tunggal yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (Najah, 2013), The Artcult of Love (Locita, 2014), Novel Bertutur Sang Gatholoco (Basabasi, 2018), Novel Riwayat Bangsat (Basabasi, 2019). Karya antologi: Memoar Bermasjid (Diomedia, 2017), kumcer Masa Depan Negara Masa Depan (Surya Pustaka Ilmu, 2019), Memoar Ramadhan dan Merantau (Diomedia, 2019), kumcer Hanya Cinta yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya (Divapress, 2020). Cerpen-cerpennya juga tayang di beberapa media online. Buku terbarunya yang terbit: Novel dwilogi Nama yang Menggetarkan (Diomedia, 2020).

Cerpen

Munajat Penyesalan

Cerpen Latif Nur Janah

Malam telah sempurna jatuh. Kulihat kau masih setia dengan layar di depanmu. Beberapa teman sudah pulang sejak tadi. Gerimis mulai turun ketika aku beranjak ke pantry yang berseberangan dengan ruanganmu. Sengaja, tak kuseduhkan kopi untukmu karena pagi tadi kamu mengeluh jika perutmu mulas dan kepalamu agak pening. Tampaknya, dua serangan dalam tubuhmu itu berlanjut sampai malam ini. Ditambah, kau harus menyelesaikan banyak laporan seharian tadi.

Kantor kecil ini menjadi tempat persinggahan yang nyaman. Tentu, setelah semua penghuninya pulang. Kecuali satpam jaga yang bertugas di luar. Tapi, aku bisa katakan mereka bukan orang yang sulit. Dengan sebungkus rokok saja, semua aman. Gerimis awal Desember turun tak tentu waktu. Dari jendela di ruanganmu yang terbuka, aku melihat rambutmu teracak berantakan. Tapi, sungguh, itu justru membuatku semakin tak bisa berhenti menekuni wajahmu dari sini.

Seduhan teh pahit yang selesai kuracik, kubawa mendekat ke mejamu. Engkau mengembuskan napas panjang. Selalu begitu ketika kau selesai dengan pekerjaanmu. Aku mulai mencari kata-kata yang pas untuk menyibak kebisuan, untuk membuka malam. Kau mulai meminum teh buatanku. Kuseret kursi sejajar dengan kursimu.

“Maaf,” ucapmu pelan ketika lenganmu hampir saja menyenggol wajahku ketika kau menaruh gelas teh.

Aku tersenyum.

“Kenapa?” tanyamu kemudian.

Kusingkirkan lenganmu ketika hendak kaulingkarkan di pundakku, seperti yang selalu kaulakukan setiap kali kita menjebakkan diri pada suasana malam di kantor ini.

Dulu, kita selalu merasa malam habis begitu cepat. Angin yang kencang sekali pun tak pernah bisa mengusir keringat kita setelah lelah menyapu malam yang panas dan bergejolak. Kau akan selalu mengatakan kepada satpam jaga jika kau ketiduran di kantor karena kelelahan, meskipun nyata, ia sama sekali tak percaya dengan perkataanmu.

“Istriku ceroboh menuang minyak pagi tadi sehingga menciprat ke bajuku.” aku tak paham maksudmu pada awalnya. Namun, cepat-cepat kau melipat lengan bajumu. Sebercak noda minyak tergulung ke dalamnya.

Kaupindah ke sisiku yang lain. Sigap, tangan kirimu, kini telah mendarat di pundakku. Gegas, kuturunkan lenganmu yang entah kenapa, kali ini terasa begitu berat.

Tumpahan minyak di bajumu. Ah, aku sama sekali tak mencium bau noda jika kau tak bilang. Namun, ucapanmu membuatku mulai merasa ada yang menancap-nancap di ulu hatiku. Seperti biasa, ada sesuatu yang membuatku semakin jatuh dan merasa kecil: istrimu. Wanita yang mengingatkanku pada Ibu.

Dua minggu yang lalu, sengaja aku mampir ke rumahmu sebelum berangkat. Meskipun jam masuk kantor masih jauh, kau sudah tampak rapi dengan kemeja panjang bergaris dan sepatu tali yang kubelikan beberapa bulan yang lalu. Kau dan istrimu sedang sarapan di meja makan yang letaknya lurus dengan pintu depan. Aku lantas teringat bagaimana kaukatakan bahwa kemeja itu adalah hadiah dari atasan kita karena kinerja tim kita yang bagus. Istrimu percaya begitu saja. Ya, tentu saja, sebab ia tak hanya menyerahkan kepercayaan penuh padamu, namun juga menyerahkan seluruh hati dan hidupnya untukmu. Kau selalu mengatakan itu, meskipun membuat hatiku sedikit ngilu.

Senyum canggung yang melengkung di bibirmu, lekas terhapus oleh uluran tangan istrimu kepadaku. Kami bersalaman di depanmu. Aku mengatakan jika aku sengaja menjemputmu untuk bertemu kolega di arah yang berlawanan kantor demi menghemat waktu. Istrimu tersenyum. Murni senyuman seorang istri kepada rekan kerja suaminya. Aku bisa merasakan ketulusan di sana.

Namun, aku mendadak salah tingkah ketika tiba-tiba istrimu meraih tanganku, mengajakku ke meja makan.

“Mari, Bu, saya masak sayur asem banyak hari ini. Kebetulan, anak-anak berangkat pagi sekali dan nggak sempat sarapan.”

Aku tak mungkin menolak saat ia sudah menyeret sebuah kursi untukku.

Di meja makan itu, kau membisu. Tak pernah aku melihatmu sedemikian kaku di hadapanku. Istrimu lebih banyak bercerita ini-itu. Istrimu, yang senyumannya begitu teduh, mengambilkan sepiring nasi untukku, dua iris tempe, dan seiris ayam tepung.

Aku membisu di tempat dudukku serupa tawanan yang tak bisa melakukan apa pun selain menurut. Bahkan aku nyaris gemetar ketika tanganku meraih sendok. Denting antara piring dan sendokku terdengar melolong di pagi itu.

Suapan pertama sayur asem istrimu membawaku memasuki lorong-lorong masa kecilku. Ada senyum ibuku di sana. Ada tangan keriputnya yang beraroma bumbu dapur. Dulu, setiap Sabtu jika Bapak pulang mengajar, Ibu selalu memasak sayur asem dengan belimbing wuluh untuk kami. Bapak tak pernah mau jika belimbing wuluh itu diganti tomat atau asam jawa sekalipun.

Hidangan itu lekas kutandaskan, demi tak ingin melihatmu tercekik dalam kebersamaan yang ganjil.

***

“Kenapa?” tanyamu. Kini, kau telah sadar sepenuhnya bahwa tanganmu benar-benar kulepaskan.

“Cantikmu akan luntur jika murung begitu.” kau mulai merayu. Aku sama sekali tak bernafsu.

Pikiranku saat ini terisi penuh istrimu. Pertemuanku saat sarapan dua minggu yang lalu, membuatku harus berpikir dua kali untuk sekadar memelukmu sekalipun. Kebiasaan yang dulu selalu kulakukan sesaat setelah kantor sepi. Kelebat istrimu yang mengenakan daster di dapur ketika itu serupa magnet yang menarik sesuatu di sudut perasaanku. Apalagi ketika dengan senyum tulus, ia mengambilkan nasi untukku.

Mungkin kau tak bisa memahaminya. Namun, bahasa tubuh yang kuberikan setelah pertemuan itu, kukira lebih dari cukup dari sekadar kata-kata. Tetapi rupanya, kau terlalu buta untuk menerimanya.

Aku sempat melihat beberapa sudut rumahmu yang sederhana tetapi manis. Istrimu juga mengatakan ia menanam sendiri semua bunga di halaman belakang ketika kau mengambil tas ke kamar.

Buku-buku tertata di rak-rak kayu cokelat tua. Sebagian dilabeli nama istrimu. Ah, ya, kau pernah bilang jika istrimu gemar menulis. Sebuah foto terbingkai di atas rak buku itu, menampakkan senyum kalian yang teduh. Istrimu tengah hamil di foto itu. Rasa iri mulai menitik dalam hatiku. Hamil. Sesuatu yang tak bisa terjadi padaku, sampai kapan pun. Sebab sesuatu mengharuskanku merelakan rahimku.

Di saat itulah, tancapan di sudut perasaanku mulai ganas mengaduk-aduk. Aku berusaha merasa biasa saja. Menepisnya saat kita menghabiskan malam berdua di kantor. Tetapi, senyum istrimu hadir setiap kali aku hendak mendekatimu. Terasa semakin teduh manakala tanganku hendak melingkar di tubuhmu. Senyum istrimu itu membawa serta wajah ibuku.

Hingga malam ini datang, rupanya kau tak mampu mengartikan bahasa yang kusampaikan, sementara aku semakin tersiksa dan merasa bahwa kehadiranku dalam hidupmu benar-benar tak diperlukan.***


Latif Nur Janah, lahir 1990. Buku pertamanya, Suwung, adalah kumpulan cerita pendek berbahasa Jawa (Suryapustaka Ilmu, 2022). Menetap di Gemolong, Sragen, Jawa Tengah.

Puisi

Puisi Galuh Ayara

Noise Teatrikal

kau void

dan melankolik

setiap waktu aku menyaksikanmu merasakan sebuah dejavu

seakan aku berada di kursi paling depan

sebuah pertunjukan teater yang blur

lalu masa lalu dan masa depan saling membunuh

di dunia kita semua warna menyala seperti neon

sedang kau tidak

tubuhmu redup

seringkali kau tak dilihat

tapi aku selalu berusaha melihatmu dan

ingin berlama-lama menyaksikan segala keredupan itu

aku menyimpanmu

dalam sebuah memori yang kuat dan menyala

tapi

satu persatu peristiwa pergi dari kepalaku

dan kusaksikan teater itu ditutup

dengan penuh kecewa

aku tak mau beranjak dari kursi lalu–

kau kabur

tak meninggalkan pesan apapun bahkan sekelebat bayangan

2023


Buku Mewarnai

bayangkan maut memiliki warna merah muda

malaikat adalah makhluk yang buta warna

dan kau adalah buku dengan sampul kusut dan gelap

maut itu menyelinap ke lembar-lembar dirimu yang putih

kau menjadi buku yang merah muda

lalu engkau berubah menjadi sosok yang gembira luar biasa

tapi orang-orang malah berduka

kau dianggap tiada lalu

terlupa begitu saja

2023


Pengampunan

tubuhku terbelah-

belah jadi seribu

dalam warna hitam yang kental

mirip seperti gumpalan darah

lalu segalanya menjadi persis

masa lalu melintas;

suara bising merenggut segalanya

jadi rasa asing

tubuhku tabah

lenyap dalam

‘sleeping through my fingers’

lalu lahir lagi dari

sepasang tangan yang terbakar

pada sebuah pigura putih;

kosong

bagaimana bisa aku tak mengingkari realitas?

perjalanan menghadiahiku

wajah penuh lebam

tetapi di dunia ini

tidak ada perih yang terlalu sakit

bahkan jika kematian adalah pengampunan

maka bertahan hidup tetap keberuntungan

2023


Maleficent

suatu ketika ia pernah bilang,

‘ibu kamu cantik sekali. beri ia hadiah yang mekar.”

tapi ibuku tak suka bunga

ia suka nonton sirkus dan membiarkan lututnya gemetar setiap kali pertunjukan itu seakan mengingatkannya pada sebuah tragedi.

ia juga mengajarkanku bagaimana cara menikmati gelisah yang menjadi-jadi

“kapan ibu kamu ulang tahun?”

tidak pernah

2023


Setubuh Kesenangan

kepada teman saya; morgot kidder

kepulan-kepulan asap di kepalamu seumpama awan mendung abu atau hitam kelam

o betapa kau tidak perlu pedulikan bunyi-bunyi petir yang acap membuatmu duduk gemetar berpangku tangan di sudut tempat tidur

kau hitung hari ke depan dengan umur tubuhmu yang kian letih

apa yang kau butuh hari ini?

;adalah setubuh kesenangan,

aroma kopi robusta

sebatang rokok kretek, bunyi kampanye-kampanye busuk parade politik yang berputar di instagram

nikmati apa pun yang disediakan dunia

teman saya, morgot kidder

lupakan beban deritamu

kau adalah dewi bulan yang agung

yang sedang bersiap pergi ke langit

dengan seseorang yang sedang setia menunggu cerita-cerita kecilmu berikutnya.

2023


Galuh Ayara, penulis kelahiran Jawa Barat. Karyanya dimuat di berbagai media.