Cerpen

Waribashi Ketujuh

Cerpen Diana Rustam

Shigeru memasukkan sebuah waribashi kayu ke dalam kantong jaketnya. Kantong jaket itu terlalu dangkal sehingga ujung waribashi mencuat keluar. Tetapi Shigeru tidak khawatir, ia justru senang jika waribashi itu tidak sepenuhnya tersembunyi. Ketika berjalan, Shigeru menggerakkan bagian pinggangnya lebih kasar, dengan demikian kantong jaketnya juga ikut bergerak, sehingga waribashi seperti hendak melompat dari kantong jaket itu.

Mata Shigeru berkeliling, kepalanya mendongak ke sudut-sudut ruangan. Ia melihat lensa kamera pengawas tepat menghadap kepadanya. Shigeru berdiri lebih lama di tempat itu dan memutar badannya sedemikian rupa.

Seorang perempuan paruh baya melintas, kemudian berdiri di samping Shigeru yang masih sibuk menggerak-gerakkan tubuh tuanya. Tanpa sengaja lengan Shigeru menyenggol perempuan itu, yang sedang bersungguh-sungguh memilih detergen di rak konbini.

Detergen yang sedang dipegang perempuan itu terlepas. Menyadari kesalahannya, Shigeru langsung meminta maaf, memungut detergen itu kemudian menyerahkan kembali kepada perempuan paruh baya. Shigeru membungkuk berkali-kali. Setiap kali kepalanya tegak, ia membungkuk lagi, seperti ayam yang mematuk makanan.

“Sungguh tak apa-apa.” Perempuan paruh baya meyakinkan Shigeru.

Namun Shigeru merasa tidak cukup. Setelah berjalan beberapa langkah, ia membalikkan badan secara tiba-tiba kemudian membungkuk dalam-dalam. Ia baru berhenti ketika perempuan itu memunggunginya.

Sembari berjalan di antara rak-rak konbini, Shigeru memastikan waribashi bersuara. Gesekan waribashi dan kain pelapis kantong jaket semakin terdengar apabila ia menggoyang-goyangkan badannya. Jika diperhatikan, sekilas Shigeru terlihat seperti orang yang sedang berolahraga.

Shigeru melewati meja kasir begitu saja tanpa membayar. Ia berjalan lambat-lambat. Seolah-olah kedua kakinya sedang kesemutan. Shigeru memang sudah tua, tetapi ia tidak pernah bermasalah dengan sepasang kakinya.

Setelah keluar dari konbini, Shigeru tidak langsung menjauh dari tempat itu. Ia berdiri di depan konbini seperti sebuah lampu jalan atau mesin gacha. Matanya memperhatikan pejalan kaki yang lalu lalang di jalur penyeberangan.

Seorang pemuda, pejalan kaki yang lewat, tidak sengaja menjatuhkan telepon genggamnya tepat di depan Shigeru. Shigeru buru-buru menunduk untuk mengambil telepon genggam itu. Saat menunduk, waribashi yang ada di dalam sakunya ikut meluncur jatuh.

Shigeru mengembalikan telepon genggam pemuda itu dan menunjukkan waribashi yang ada dalam genggamannya. Waribashi diangkat tinggi-tinggi melewati kepalanya sendiri, seolah-olah ia sedang mengibarkan bendera, sembari memberi tahu kepada pemuda itu dengan suara yang bergairah, “Yang ini milik saya, ya.”

Senyum pemuda itu melengkung kaku menanggapi semangat Shigeru. Ia membungkuk dangkal, kemudian melanjutkan perjalanan.

Setelah merasa sudah cukup lama berdiri di depan konbini, Shigeru akhirnya pergi dari tempat itu.

Jarak konbini dan rumah Shigeru tidak terlalu jauh. Melewati sebuah taman yang dipagari bunga ajisai, lalu masuk di sebuah gang sunyi, rumah tua Shigeru terjepit di antara rumah-rumah lain yang sudah terlihat modern. 

Menggeser pintu, lalu melepas sepasang sandal di genkan, Shigeru menyapa, “Aku pulang.” Tetapi tidak ada sahutan dari dalam.  Deru jalanan dan suara serangga musim panas seperti terpotong pedang. Shigeru bisa mendengar detak jam dinding dari arah dapur.

Sebelum melepaskan jaket, Shigeru mengeluarkan waribashi yang diambilnya dari konbini, dan menyimpan benda itu di sebuah kotak kayu. Sekarang sudah ada lima pasang waribashi yang masih terbungkus kertas di dalam kotak.

Shigeru menatap waribashi itu, lantas menggaruk-garuk kepalanya yang beruban dan hampir botak. Kedua alisnya yang panjang terangkat ke atas sehingga matanya tampak luas.

Di balik jendela matahari yang akan tenggelam mengintip Shigeru tua yang duduk sendirian. Dari kacamatanya yang tebal, Shigeru membaca berita koran. Koran itu sudah terbit sejak tiga bulan lalu, tetapi Shigeru masih terus membacanya pada halaman yang sama setiap kali ia merasa perlu. Sebenarnya Shigeru tidak sepenuhnya mengerti, apa perlunya ia membaca berita itu terus menerus. Satu-satunya alasan yang masuk akal untuk Shigeru adalah karena ia mengenal orang yang ada dalam berita.

Hideo, sahabat lamanya, meninggal dunia sebelas bulan yang lalu, tetapi kematian Hideo baru diketahui setelah delapan bulan kematiannya. Shigeru tidak sanggup membayangkan apa yang dirasakan Hideo ketika kematian mendekat dan tidak seorang pun berada di sampingnya.  Ia bertanya-tanya apakah Hideo merasa takut dan kesakitan? Bayangan tubuh Hideo yang membusuk sendirian muncul setiap kali ia membaca berita itu.

***

Sepasang waribashi dari rak konbini yang masih terbungkus kertas sudah berada di dalam kantong jaket Shigeru. Ia juga mengambil satu kotak bento siap santap untuk makan siang. Shigeru memang jarang sekali memasak makan siangnya sejak Mifuyu istrinya wafat tiga tahun lalu. Shigeru tidak bisa menemukan arti makanan, jika ia makan sendirian setelah sibuk memasak.

Di meja kasir, Shigeru mengantre untuk membayar belanjaannya. Ia mengangkat lengan kanan tinggi-tinggi tanpa keperluan apa pun. Karena itu, dasar kantong naik dan ujung waribashi muncul seperti antena serangga. Mata kasir sempat menangkap ujung waribashi itu, lalu kembali pada kesibukannya.

Shigeru meletakkan kotak bento di meja kasir, membayar sesuai harga. Shigeru berbicara banyak, tersenyum sembari memainkan gagang kacamatanya.

“Hari yang cerah, ya,” kata Shigeru.

Kasir itu seorang gadis yang berwajah serius. Ia selalu terlihat seperti sedang mengurusi hal darurat.

“Musim panas yang indah.” Shigeru melanjutkan.

Hanya mengangguk kaku, kasir itu sama sekali tidak mengalihkan mata dari mengemas bento. Ia mengucapkan terima kasih dan menyodorkan struk belanja dengan nada yang naik pada bagian ujung suaranya. Situasi itu berjalan selayaknya, seperti kereta yang berjalan di atas rel.

Shigeru keluar dari konbini. Memasukkan tangan ke dalam kantong jaket untuk menggenggam waribashi yang diambilnya, ia berjalan pulang mengikuti garis kuning di trotoar. Shigeru menjaga langkahnya agar tidak keluar dari garis kuning itu. Berjalan mengikuti garis kuning membuatnya tidak memikirkan apa-apa, termasuk kematian Hideo atau ketidakberadaan Mifuyu.

Suara bel sepeda memecah keasyikan Shigeru. Seorang petugas polisi muda memintanya menepi. Petugas itu menatap Shigeru dengan menyipitkan mata. Tetapi, wajahnya yang bulat, pipinya yang kemerahan, dan alisnya yang melengkung seperti bulan sabit, tidak memberi kesan mengancam sekalipun ia memandang penuh selidik.

Petugas itu memeriksa kartu identitas Shigeru dengan cepat. Ia membetulkan letak topinya, menarik napas, mengusap hidung, lalu melihat sekeliling sebelum kembali menatap Shigeru.

“Ando-san, apa yang membuat Anda mencuri waribashi?” ia menekan suaranya.

Shigeru melirik kantong jaketnya. Ia tertawa renyah. “Eh? maafkan saya. Saya tidak tahu dia menyelinap di sini.”

“Anda sedang tidak sehat?”

Memegangi jidatnya dengan punggung tangan kanan secara dramatis, Shigeru balik bertanya, “Apakah saya terlihat sakit?”

Petugas melirik arloji di pergelangan tangannya kemudian berkata, “Lain kali jangan lakukan lagi. Benar-benar jangan diulangi.”

“Omawari-san akan membawa saya ke kantor polisi?” Shigeru mendekatkan wajahnya saat bertanya. Ia tersenyum, sehingga giginya yang renggang terlihat.

Sebelum menjawab, petugas melonggarkan kancing paling atas seragamnya, dan menyandarkan sepeda secara sembarangan, “Sekarang tidak perlu.”

“Tapi saya sudah ketahuan mencuri.”

“Itu hanya waribashi. Tapi, tetap saja jangan ulangi lagi.”

Wajah Shigeru mengerut. “Biar bagaimanapun saya sudah mencuri.”

“Lain kali curilah yang lebih mahal, Ando-san.” Petugas membalas sembari menepuk kantong jaket Shigeru, kemudian tertawa kecil, tetapi tawanya lenyap dengan cepat.

“Kalau begitu, konbini akan rugi besar. Saya tidak tega.”

“Karena itulah Anda akan dibawa ke kantor polisi.”

Shigeru terkekeh.

“Saya harus mengantar Anda pulang.” Petugas muda itu meraih setang sepeda, menuntunnya, dan menjajari langkah Shigeru.

“Karena saya sudah mencuri waribashi?”

Petugas itu menelengkan kepalanya. “Kira-kira begitu, Ando-san.”

Angin musim panas berembus pelan, suara serangga muncul dari balik pepohonan lebat di taman yang mereka lewati. Petugas muda mendengarkan cerita-cerita tua Shigeru sepanjang jalan. Sesekali ia menimpali dengan gaya bicara mirip Shigeru, tetapi belum terbiasa, “Ah, begitu, ya.”

Shigeru tidak langsung membiarkan petugas itu meninggalkannya ketika mereka sampai. Ia segera membuat undangan mendadak siang itu. “Apakah kau suka namazake, Omawari-san?”

Petugas muda itu terkejut, ajakan Shigeru berlebihan. Tetapi Shigeru sedang berdiri di depannya dengan senyum seorang kakek.

Menyajikan sake musim panas, Shigeru menjamu petugas muda itu. Dalam suasana yang masih canggung, di salah satu sudut ruangan, petugas itu menyadari sebuah butsudan. Di punggung altar itu ada guci abu yang terbungkus kain sutera putih, dupa, semangkuk teh hijau, dan foto wanita tua dalam bingkai hitam yang tersenyum di balik kaca. Ia juga mengingat, ketika melewati genkan, hanya ada sepasang sandal dan sepatu milik lelaki dengan selera yang tua.

Petugas muda itu meneguk namazake. Ia melakukannya dengan perlahan agar terasa lebih panjang. Tidak menunggu Shigeru menawari, ia meminta tambahan beberapa cangkir lagi sambil mendengarkan lelucon kuno Shigeru. Dalam sekejap ia menjadi tua untuk bisa menertawakan lelucon-lelucon itu.

Tiba-tiba ia sadar, tidak boleh terlalu lama karena sedang bertugas. Sebelum  meninggalkan Shigeru, petugas itu membungkuk dan kembali mengingatkan, “Ando-san tidak boleh mengambil waribashi di konbini.”

“Kalau saya melakukannya?”

“Saya akan memeriksa Ando-san lagi.”

Shigeru tertawa girang. “Kalau begitu, saya juga akan menyiapkan makanan kecil untuk kita besok.”

Petugas muda itu berlalu, mengayuh sepedanya dengan wajar. Seragam birunya menghilang di balik sebuah bangunan  tinggi.

 Shigeru duduk sendirian, matahari musim panas menatapnya dari balik jendela. Lelaki tua itu meletakkan waribashi keenam dalam kotak kayu. Ia menarik napas dalam dan mengembuskannya kencang-kencang, seperti pohon yang merontokkan daun-daun kering di musim gugur. Dalam hati, Shigeru bertanya tentang besok dan waribashi ketujuh.***

Makassar, 2026.

Glosarium:

Waribashi: sumpit kayu sekali pakai

Konbini: minimarket

Butsudan: altar rumah tangga Jepang untuk menghormati leluhur, biasanya berisi foto, guci abu, dan dupa.

Namazake: jenis sake musim panas

Genkan: area masuk rumah, tempat melepas sepatu.

____________________

Diana Rustam. Tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan. Beberapa cerpen dan puisinya telah dimuat  media daring. Ig: dianarustam_

Cerpen

Sebuah Percakapan di Hari yang Hujan

Cerpen Diana Rustam

Ini adalah percakapan sunyi seperti semua percakapan sepanjang tiga tahun mereka bersama. Hujan yang tidak deras dan tidak pula ringan pada sebuah sore di hari Sabtu, membuat jarak yang semakin lebar antara L dan P.

Duduk berhadap-hadapan di sebuah kafe yang memiliki kesan antik bergaya kolonial, L dan P belum juga membuka percakapan padahal sudah menghabiskan lima belas menit bersama. Mata L sibuk dengan layar telepon genggam. Sementara P menatap hujan yang menimpa permukaan jalan dari kaca jendela. Sekali-kali ia mengalihkan pandangan pada bunga camelia yang merahnya ranum, dalam pot-pot yang berjejer di halaman kafe.

Seorang pelayan datang menawarkan menu. L hanya mengangkat wajah sebentar kemudian kembali pada layar ponselnya, dan P memberi pelayan itu senyum yang separuh hati.

“Caramel macchiato dan ….” P melirik L, berpikir sejenak dengan banyak keragu-raguan. “Es…presso?” Meninggikan sedikit suara, P berharap L memberinya sedikit perhatian.

“Latte!” L meralat tegas. Masih menunduk. Jarinya bergerak-gerak di atas layar ponsel.

P lagi-lagi melempar senyum kepada pelayan, senyum yang tidak sebenar-benarnya senyum. Sunyi kembali. Semakin dalam. Nada yang dimainkan hujan semakin lamban. Itulah hujan yang tidak disukai P, hujan yang betah berlama-lama.

P memainkan jemarinya di punggung meja. Mengetuk-ngetuk serupa derap kaki kuda. L akhirnya mengangkat wajah. “Sejak kapan kaubelajar memainkan jarimu?”

“Sejak kapan?” P mengernyitkan dahi. Memainkan jemari seperti itu adalah kebiasaannya sejak kecil, sampai ia mengenal L, sampai ia dan L menikah. Di rumah mereka, P suka mengetuk jemari di atas meja makan saat menikmati sarapan. Mengetuk jemari di kaca jendela ketika memandang taman dari ruang keluarga. Di meja kerja, mengetuk jemari adalah ritual paling candu saat ia sedang berpikir keras. Mengetuk jemari bukan sesuatu yang baru saja ia mulai di meja kafe itu.

Pelayan membawa dua cangkir kopi. Cangkir digeletakkan di meja. Kali ini senyum P terlalu kecil untuk dikenali pelayan kafe.

L  mengangkat wajah. Meraih latte, membauinya beberapa jenak dengan mata terpejam. L menggemari wangi latte sebagai sesuatu yang menenangkan. P menatap L  seolah-olah itu adalah pemandangan ganjil yang pertama kali ia jumpai.

Setelah satu tegukan kecil, L perlahan meletakkan kembali cangkir pada tatakan. Pertama kali bagi P melihat cara L menikmati lattenya yang tampak hati-hati, seolah-olah tidak ingin mengusik keindahan lukisan di permukaan latte itu.

P bergeming. Caramel macchiato dibiarkannya sendiri. Menopang dagu dengan tangan kanan, mata P beralih kepada payung-payung pejalan kaki yang mengembang di jalan.

“Minumanmu akan dingin.” L menyela keheningan P.

“Aku suka dingin.”

P mengangkat alis. “Meminumnya saat hangat lebih baik. Apalagi sedang hujan.”

“Hari sedang panas atau hujan, aku suka macchiato yang dingin.”

“Lalu, kenapa tidak pesan macchiato dengan es? “

“Bukan dingin yang seperti itu. “

Hening lagi. Lebih panjang. Cangkir kopi L hampir tandas, tetapi hujan masih betah berlama-lama.

Bertemu di kafe pada sebuah sore yang hujan bukan sesuatu yang direncanakan untuk menghabiskan waktu berdua. Tetapi sebuah keterpaksaan, di sela-sela sulitnya waktu L yang selalu sibuk dengan gambar-gambar di kameranya, yang menjelajah kota hingga ke pelosok untuk sebuah maha karya. Dan P tidak punya pilihan lain, kecuali menunjuk kafe itu sebagai titik pertemuan termudah untuk mereka karena tidak begitu jauh dari  rumah sakit tempatnya bekerja, rumah sakit yang selalu padat dan sibuk dua puluh empat jam dalam seminggu, sekaligus tempatnya selalu menghabiskan waktu hingga larut.

Sebenarnya L bisa saja menyambangi P di tempat kerja untuk percakapan yang menurut P harus dituntaskan hari itu juga, tetapi P menolak. P berkata bahwa percakapan itu akan panjang, dan mereka membutuhkan tempat yang hening untuk tetap berpikir jernih saat bertemu nanti.

L dan P tidak lagi bisa melihat rumah sebagai tempat untuk bertemu, di mana mereka bisa berbagi perasaan dan pikiran. Rumah seolah terlampau jauh untuk menjadi tempat kembali.   Apabila L pulang, P sedang berjibaku di ruang gawat darurat dan meja operasi sampai dini hari. Dan jika P pulang, L sedang berada di luar kota. Tidak ada jejak yang tertinggal di rumah untuk dikenali.

L menghela napas. “Untuk apa kita di sini?”

“Kita butuh waktu bicara,” sambut P.

Namun, lagi-lagi sunyi. Sesungguhnya sunyi adalah keriuhan di kepala L dan P. Kesunyian menyeret mereka kepada banyak ingatan dan perasaan. Semakin sunyi, mereka akan semakin peka terhadap apa yang ada pada diri masing-masing. Keriuhan itu, tidak mereka temui saat sibuk bekerja.

Pertama kali mereka bertemu di sebuah lokasi bencana. L seorang fotografer yang saat itu mengambil gambar kehancuran sebuah kota dari bencana yang mengguncang kota itu, dan P seorang dokter bedah umum yang menjadi salah satu relawan sebagai tenaga medis. Kebersamaan di tempat yang penuh kekacauan itu menumbuhkan keakraban. Keakraban itu ternyata cukup membuat L yakin bahwa P adalah calon istri yang ditakdirkan untuknya, seorang yang mandiri dan pekerja keras. Dan P membutuhkan pendamping untuk melengkapi hidupnya yang kian merangkak jauh dari usia muda.

“Sepertinya kita lebih baik tidak bersama lagi,” ucap P ringan, seringan daun kering yang diterbangkan angin. Seolah-olah ucapan itu sudah ia siapkan jauh-jauh hari.

L meletakkan ponselnya di punggung meja dan mulai menatap P yang sudah meneguk kopinya. Tetapi L belum melontarkan satu patah kata. Matanya merayapi wajah P yang bening, sepasang mata P yang bulat dan alisnya yang datar namun cukup lebat. Oh, L baru menyadari bahwa P memiliki tahi lalat kecil di bawah mata yang indah itu. Sejak kapan ada tahi lalat di sana?

Dan P menemukan aroma cedarwood dari tubuh L. P mencoba mengingat, apakah L mengganti parfumnya? Sesungguhnya P tidak yakin apakah sejak awal L menyukai cedarwood atau vetiver? Atau malah selain keduanya?

P menunduk. Tenggorokannya terasa kering dan rasa hangat mulai menjalari kedua bola matanya. Mengisak di balik rintik hujan adalah cara yang tepat menyembunyikan air mata.

L menyahut setelah diam beberapa saat, “Haruskah?”

“Apakah kau cukup mengenalku dengan baik?” P menimpali dengan segera.

“Dan kau?”

Hening lagi. Hujan masih belum reda. Dan cangkir kopi telah tandas.

“Kalau itu terjadi apakah kau akan lebih bahagia?”

P menggeleng. “Dan kau?”

“Entahlah.” L melempar pandangan keluar.

Lampu taman kafe mulai dinyalakan. Sore merangkak menjumpai ambang malam. Pelayan kafe datang menawarkan sesuatu sebagai teman percakapan L dan P. Kali ini L yang tersenyum, tetapi kecil saja senyum itu. Ia memberi isyarat bahwa mereka tidak sedang membutuhkan sesuatu.

L melirik layar ponsel, kemudian menatap P yang juga melirik arloji.

“Kita …. “ Terputus beberapa saat. “Lanjutkan ini nanti,” ucap L sembari berdiri dari kursinya. Dari sorot matanya, L tampak menyesali situasi itu.

P menghela napas yang mengembangkan dadanya. Mereka keluar dari pintu kafe, L menuju ke timur dan P menuju ke barat.

Makassar, Juni 2024.


 

Diana Rustam saat ini berdomisili di Makassar, Sulawesi Selatan. Menyukai puisi dan cerita pendek, dan belajar untuk menuliskannya.

 

Cerpen

Kamar Tanpa Jendela

Cerpen Diana Rustam

Di balik pintu dan jendela yang terkunci, segala sesuatu berbahaya. Mata seorang gadis menatap pintu dan jendela, hanya menatap saja.

***

Ketika Rosane membuka mata, di hadapannya, di atas meja rias, seekor kucing berbulu hitam sedang duduk dengan sepasang mata bulat hijau yang seolah sedang mengawasinya. Gadis itu bertanya-tanya, dari mana kucing itu datang. Mustahil  kucing itu bisa menyelinap masuk sebab pintu dan jendela kamarnya selalu terkunci rapat. Pintu kamarnya hanya dibuka oleh ibunya di waktu-waktu tertentu saja: saat mengantar sarapan pagi, makan siang, makan malam, dan setiap sore ketika pembantu kepercayaan ibunya harus membersihkan kamarnya.

Mata biru gadis itu bertemu pandang dengan mata hijau si Kucing Hitam. Kucing itu tersenyum lebar, menampakkan gigi-gigi taringnya. Seumur hidup, itulah pertama kali ia melihat seekor kucing tersenyum. Senyum itu tidak membuat si Kucing terlihat lucu atau menggemaskan, sebaliknya ia tampak menyeramkan.

Kucing itu melompat dari meja. Berjalan pelan-pelan mendekati ranjang di mana gadis itu berbaring. Ranjangnya terbuat dari kayu yang dipernis, mengilap dan ditudungi kelambu putih. Kasur tempat gadis itu berbaring dilapisi seprai sutera yang sama putih dengan kelambunya. Setelah jaraknya cukup dekat, kucing itu duduk di lantai. “Hei, Rosane, bangun dari sana.” Kucing itu bicara padanya.

Gadis itu tersentak dan terpekik kecil, “Jangan mendekat.” Ia menegakkan tubuhnya kemudian menyurutkan punggung ke sandaran ranjang.

Kucing hitam maju selangkah. “Tidak ada yang perlu ditakutkan.”

Rosane tidak langsung membalas ucapan kucing hitam, hanya memandanginya dengan pikiran yang dijalari rasa takut.

Kucing hitam menjilati kakinya sebentar, kemudian punggungnya, kemudian ekornya. Usai dari ritual itu, ia mengangkat wajah, mata hijaunya berkedip. “Panggil saja aku Tuan Kacang Polong.”

“Ta-tapi, dari mana kaudatang?”

“Aku tak tahu. Tiba-tiba saja aku ada di sini. Sepertinya kaulah yang menghendaki aku ada di sini. Kau kesepian, bukan? Setiap hari kau hanya melihat tembok dan dinding yang putih ini, hidup yang membosankan. Kukira itulah alasannya.”

Kucing hitam itu naik ke atas ranjang. Ia melepaskan sepasang sarung tangan yang membungkus tangan Rosane dan melucuti masker yang menutupi mulut gadis itu. Tetapi Rosane berusaha mempertahankan sarung tangan dan maskernya. “Jangan menyentuhku! Kau ingin membuatku celaka?”

“Ayo beranjak dari kasur itu dan keluar dari kamar ini.”

“Tidak bisa! Itu akan membuatku sakit!”

“Omong kosong! Kau tidak boleh berbaring di sini terus-menerus dan hanya mengitari kamar ini saja.”

Rosane menggeleng. “Cahaya, udara, air dan segala sesuatu yang ada di luar ruangan ini berbahaya.”

“Seperti itu yang ibumu katakan padamu. Tapi aku tidak akan membiarkanmu seperti ini selamanya.”

Kucing hitam terus bicara dan mendesak Rosane dengan tatapan yang tajam, sehingga gadis itu menutup telinga dan matanya. Ia berusaha mengabaikan ucapan-ucapan kucing hitam. Tetapi, kucing hitam itu tidak berhenti sampai suara langkah kaki seseorang terdengar dari luar kamar Rosane, dan kucing hitam itu tiba-tiba mengilang.

Kucing itu sudah duduk di meja riasnya setiap pagi, ketika ia membuka mata. Seolah-olah ia menghadapi hari yang sama setiap bangun pagi. Dan semakin ia berusaha mengabaikan keberadaannya, dari hari ke hari ucapan kucing hitam itu semakin gencar di telinganya dan menancap dalam pikirannya. Rosane merasa lelah, dan kemudian tidak bisa lagi menolak ucapan kucing hitam itu. Lantas pada sebuah pagi ketika matahari telah terbit, gadis itu menyerah dan menuruti ucapan kucing hitam. Rosane bangkit, menanggalkan kaos tangan dan masker yang menutup separuh wajahnya.

Mengikuti langkah kucing hitam, Rosane berdiri di depan jendela kamarnya yang tertutup tirai tebal berwarna gelap, sepasang jendela besar di bagian timur kamar itu. Jendela yang selama ini hanya berani dipandanginya saja dari tempat tidur.

“Kau butuh udara segar. Bukalah jendelanya lebar-lebar,” ujar kucing hitam.

Gadis itu ragu-ragu, ada raut kecemasan di wajahnya. Ia memandang kucing hitam untuk menyiratkan bahwa dirinya tidak yakin akan membuka jendela itu. Kucing hitam mendesak dengan suara tegas, “Apa yang kautunggu, Rosane!”

Setelah berdiri beberapa jenak di depan jendela, akhirnya Rosane membuka daun jendela yang bertahun-tahun terkunci. Sinar matahari langsung menabrak wajahnya, mata Rosane seketika silau, seolah sinar matahari menusuk kedua bola mata itu. Kaki Rosane langsung surut selangkah ke belakang, badannya limbung, dan sigap menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangan. Rosane gemetar karena merasa takut.

“Jangan takut, matahari tidak akan melukaimu. Lepaskan tanganmu dan pandanglah matahari itu. Ulurkanlah tanganmu padanya.”

“Itu berbahaya, Tuan Kacang Polong.”

“Bahaya hanya ada di kepalamu saja.”

Meskipun enggan karena dibebani perasaan cemas, Rosane akhirnya menjulurkan tangan ke luar jendela. Gadis itu mengembangkan telapak tangan seperti hendak menadah sinar matahari. Perlahan-lahan, Rosane merasakan hangat sinar matahari pagi menjalari kulitnya. Kulitnya yang pucat menjadi sedikit merona. Rosane membalikkan telapak tangannya, mempersilakan hangat matahari menjilati punggung tangan itu.

“Kau akan terbiasa. Sekarang julurkan kepalamu keluar jendela, hirup udara dalam-dalam, Rosane.”

“Tapi….”

“Udara dari luar tidak akan membunuhmu.”

“Tuan Kacang Polong, bagaimana kalau aku sesak?”

“Itu tidak akan terjadi. Percaya padaku.” Kucing hitam melompat naik ke bingkai jendela, kemudian duduk menghadap keluar. Kucing itu membusungkan dada, menghirup udara banyak-banyak ke paru-paru, kemudian mengembuskannya pelan-pelan sambil mengibas-ngibaskan ekornya.

“Lakukan sekarang. Bukankah matahari yang kautakuti itu tidak membakarmu?”

Mula-mula gadis itu ragu, ia berdiri bagaikan patung dalam waktu yang cukup lama. Kemudian angin yang berembus dari luar menerpa wajahnya, dan menggoyangkan anak rambutnya yang keemasan. Rautnya yang semula tegang, berangsur lembut. Perlahan ia melongok keluar, paru-parunya mengembang. Bersama udara yang masuk ke rongga hidungnya, datang pula aroma yang segar.

“Mawar,” Rosane menggumam.

“Ya, itu mawar. Lihat ke sana, mawar-mawar sedang mekar. Sudah berapa lama, Rosane?”

“Kupikir sejak usiaku sepuluh tahun, Tuan Kacang Polong.”

“Sudah enam tahun. Kebun mawar itu tidak berubah, ia dirawat dengan baik. Sedangkan kau, tumbuh di kamar ini sendiri dalam kesepian.”

“Aku tak bisa dibandingkan dengan mawar itu.”

“Ibumu sudah meracuni pikiranmu. Dia mengurungmu di kamar yang terpencil ini, di lantai tiga yang tidak berpenghuni, karena dia takut terhadap sesuatu yang ada dalam pikirannya sendiri.”

Sayup-sayup suara tapak sepatu yang mengetuk lantai terdengar dari luar kamar, seketika percakapan kucing hitam dan Rosane terhenti, mata mereka saling melempar pandang. Kucing hitam melompat turun. Rosane bersegera menutup jendela dan merapikan tirai.

Lekas-lekas Rosane mengenakan sarung tangan dan maskernya, kemudian berbaring seperti sejak sebelum ia beranjak dari ranjang. Sementara kucing hitam sudah hilang dari pandangannya, entah kemana. “Tuan Kacang Polong!” Rosane memanggil, tetapi tidak ada jawaban dari kucing hitam.

Seorang perempuan paruh baya masuk setelah mengetuk pintu. Perempuan itu, Nyonya Julia, ibu dari Rosane. Nyonya Julia mengenakan gaun hitam dan rambutnya digulung rapi. Ia datang dengan sebuah nampan di tangannya, berisi roti yang sudah diolesi selai dan segelas susu.

“Rosane, waktunya sarapan pagi.”

Nyonya Julia memiliki wajah yang kecil. Air wajahnya tampak selalu tegang, seolah-olah di kepalanya ada banyak hal yang ia pikirkan. Ia berbicara dengan cepat, seakan-seakan ia tidak punya banyak waktu untuk bicara. Dengan pembawaanya yang seperti itu, ia terlihat jauh lebih tua dari usia yang sebenarnya.

“Habiskan sarapanmu, setelah itu minum vitaminnya.”

Rosane menurunkan masker dan mulai menyantap sarapannya di tempat tidur. Sementara Nyonya Julia, menyiapkan pakaian baru, masker baru dan sarung tangan baru untuk dipakai oleh Rosane setelah mandi pagi. Perlengkapan Rosane telah dipastikan dalam keadaan steril oleh Nyonya Julia.

Setelah semua ritual yang monoton dan membosankan selama bertahun-tahun itu, Rosane kembali ditinggalkan sendirian. Sebelum pergi, Nyonya Julia berpesan, pesan yang diucapkan setiap hari, yang pesan itu diulanginya sampai lebih dari tiga kali. “Jangan pernah mendekati jendela, Rosane. Semua yang ada di luar kamar ini berbahaya.” Ketika bicara, Nyonya Julia mendekatkan wajahnya yang tegang pada Rosane. Kedua tangannya mencengkeram bahu gadis itu. Dan dengan nada yang ditekan sedemikian rupa, ia berkata, “Percayalah pada ibu, dengan penjagaan ibu, kau akan selamat dari semua bahaya.”

Kucing hitam kembali datang ketika Nyonya Julia sudah pergi. “Ibumu sudah gila. Setelah kakakmu meninggal enam tahun lalu, sikapnya semakin buruk. Tidakkah kau merasakannya, Rosane?”

“Mungkin ibuku benar. Kakakku meninggal karena terpapar virus ganas. Virus melayang di udara, kau tidak bisa melihat mereka, sementara mereka bisa masuk ke dalam tubuhmu dengan mudah. Selain itu, di luar sana banyak orang jahat yang tidak tertebak isi hatinya, bisa saja mereka memiliki niat buruk kepada kita, dan menghabisi kita sebelum kita menyadari niat buruknya.”

“Sudah kubilang itu hanya perkataan ibumu. Dia memiliki ketakutan dalam dirinya yang tidak bisa dia kendalikan.”

Mula-mula Rosane menolak semua ucapan kucing hitam, dan tetap meyakini ucapan ibunya sebab dalam dirinya sendiri telah tumbuh kekhawatiran yang sama, meskipun sebenarnya ia merasa kesepian dalam hidupnya yang terkurung. Akan tetapi, setelah beberapa lama, di sebuah pagi setelah sarapan Rosane mulai memikirkan ucapan kucing hitam. “Lalu, apa yang harus aku lakukan, Tuan Kacang Polong?”

“Keluar dari sini. Kau tidak mau hidup sampai tua di kamar yang terkunci ini, kan?”

Rosane mengangguk.

Dan pada sebuah malam, ketika Nyonya Julia datang untuk mengantarkan makan malam ke kamarnya, Rosane mengutarakan keinginannya untuk keluar dari kamar itu. Nyonya Julia terkejut dan berang ketika mendengar permintaan Rosane. Tubuh perempuan itu gemetar hebat, seolah-olah saat itu ia sedang berhadapan dengan sebuah bahaya yang mengancam nyawanya. “Susah payah ibu menjagamu bertahun-tahun, tapi kau malah ingin keluar dan menghancurkan dirimu di luar sana. Apa yang kaupikirkan, Rosane!”

Rosane tersentak dengan bentakan ibunya. Gadis itu tertunduk dengan wajah pasi.

Maka tidak ada yang bisa dilakukan Rosane untuk membebaskan dirinya kungkungan dan keterpencilan hidup, kecuali diam-diam mencuri waktu membuka jendela kamarnya setiap hari, memandangi kebun mawar yang terhampar, merasakan hangat sinar matahari pagi dan menghirup udara segar. Dan pada setiap kesempatan itu, kucing hitam selalu berbisik di telinganya, “Tidakkah kau ingin pergi lebih jauh, Rosane? Melihat lebih banyak? Melompatlah. Di luar sana kau merdeka.”

“Melompatlah, Rosane.”

“Melompatlah.”

***

Nyonya Julia menangkap gelagat Rosane yang tidak biasa. Sering kali dari luar kamar anaknya itu, ia mendengar suara Rosane seperti sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Tetapi, ketika ia masuk memeriksa ke dalam kamar, tidak ada siapa-siapa kecuali Rosane.

Ketakutan Nyonya Julia bertambah, ketika memergoki Rosane berdiri dan bercakap-cakap seorang diri di depan jendela yang terbuka, tanpa masker dan sarung tangannya. Rosane hendak melompat dari jendela. Nyonya Julia panik dan berpikir harus menutup seluruh jendela itu dengan tembok.

Dan, sejak saat itu, tinggalah Rosane di kamar yang tidak lagi memiliki jendela.

Kian hari keadaan Rosane kian memburuk. Rosane mulai membenturkan kepalanya di tembok dan memanggil-manggil seseorang dengan nama yang aneh, “Tuan Kacang Polong.” Sehingga tidak ada cara lain yang dipikirkan Nyonya Julia, kecuali memasung Rosane. Rosane sudah gila, demikian Nyonya Julia meyakini keadaan anaknya.

Makassar, 29 September 2023.


Diana Rustam, menulis puisi dan cerpen di media sosial. Beberapa karyanya telah dimuat di media sastra online dan koran lokal.