Puisi

Puisi Ludira Lazuardi

RHAPSODY OF LONGING

Kekasih,

tak pernah alpa dalam kepala

kala debar pertama

melebur bersama debur-debur

ombak di karang dan pantai

dan rayleigh biru menghambur memburai

angkasa berwarna jingga

seketika rindu tak terhingga

Lalu setelah itu

tiap kedatanganmu

adalah tantangan bagi nyaliku

mampukah aku nyalakan

rasa di kedalaman relungmu yang misteri

mimpikan cinta mengaliri vena-arteri

karena kau begitu indah

sebab kau begitu rapuh

Bila tiba waktu untuk berpisah

aku ingin berkesah

namun tak ingin buatmu resah

sungguh, pergimu

adalah perigi setiap sunyi

terasingku di sunyaruri

sepi bersepai-sepai

di antara dersik angin sepoi-sepoi

Kekasih,

seumpama kaudedah dada

geledahlah dengan seksama

kau akan menemu gundah gelebah tiada sudah

berkelindan pada asa

pada rasa

pada karsa

Kekasih,

bilamana aku bangun setiap pagi

itu untuk mencintamu sekali lagi

Jogja, 2023


REPENTANCE

Aku telah sampai di sini

di mana apa yang layak kuingat hanya sebatas senyummu yang terkembang

membawamu berlayar jauh dariku.

Tiap pagi aku bangun untuk memungut hari-hari kemarin

yang tercecer ketika kita melewati jalanan dengan riang pun amarah

lalu pulang dengan sebuket kenangan dalam genggaman

 hadiah dari semesta untukku merayakan malam dalam diam

(Empedu malam pecah, kuarkan pahit di ujung-ujung lidah)

Bunyi-bunyi sunyi mulai berani keluar dari tempat sembunyi

Ah, berisik sekali keheningan ini

Dulu bersama kita pernah mengunjungi dunia mimpi-mimpi

sengaja lupa cara bangun

menutup mata pada realita

Dulu bersama kita pernah berdiri di puncak dunia

dengan angkuh hendak melampaui yang namanya selamanya

Ketika kita tak lagi saling paham

tersesatku dalam angan sangat dalam,

ingin yang dingin aku menggigil di ujung asa

Ketika kita saling mendiamkan

diam-diam memendam dendam

Kekosongan berdesak-desak memenuhi jemala

Sungguh sesak, aku nyaris meledak

Adakah punggungmu masih menanggung

reruntuhan tahun-tahun yang kita bangun dengan tangan kita?

Karena di tiap tapak langkah kakimu menjejak jarak

 menjelma jenggala kelam

kediaman bagi sesal yang terkutuk

Aku lelah sampai di sini

di mana aku telah berhenti menghitung usia

hanya demi mendapati waktu tersia-sia

dalam penantian yang tak kenal kata usai

Katanya, kita tidak akan ada tanpa waktu

sementara definisinya masih saja menyusahkanku.

Jogja, 2023


DALAM

dalam matamu

badai abadi

dalam hatimu

luka tiada terperi

dalam ingatmu

aku mati

dalam hidupmu

aku tak lagi berarti

dalam kamusmu

tak ada kata

kembali

dalam sesalku

kamu

Jogja, 2023


LUAR ANGKASA

hampa udara

diam

melayang dalam arus abadi yang diam

sedetik adalah selamanya

selamanya yang tak berarti apa-apa

Jogja, 2023


HINGGA PENANTIAN USAI

Hingga penantian usai

Yang aku sendiri tak tahu kapan akan terjadi

Barangkali nanti kala kita telah berhenti menghitung usia

Dan mendapati waktu tersia-sia

Kau tahu aku masih akan di sini

Hingga penantian usai

Dan musim-musim kesedihan berhasil dilerai

Ketika benih-benih rindu yang ditabur

Berbuah manis nan menggiur

Kubayangkan kamu dalam dekap

Mengisi setiap gelap dengan harap

Hingga penantian usai

Dan kelopak bunga jiwa terakhir jatuh

Kau masih akan menemukanku di situ

Berlutut di sebuah batu berlumut menunggu

Hingga penantian usai

Di mana aku tak lagi mengumpat jarak yang tak sudi dilipat

Ataupun mengutuk penantian yang tak punya usai

Sehingga aku selesai.

Jogja, 2022


SOLAR PLEXUS

Pada suatu ketika

: Ganglion terinfeksi kecupan mesra

: Impulse teraktivasi kerlingan mata

Kemudian

Di kedalaman rongga gulita ini,

rahim cinta sekaligus makamnya

Antagonisme dada dan kepala tak berkesudahan

Bergumul kalut kalang kabut saling serang jatuh menjatuhkan

Ada kalanya pencipta rasa berdiri tegak di tengah hamparan

            : biarkan mawar mekar di atas akar-akar

            : biarkan burung-burung bercinta di luar sangkar

Seketika produsen logika datang membadik, harapan

tumbang tepat di ujung lantunan

tembang

            : cinta, bentangan sepi berduri

              tak mungkin mampu kauseberangi.

Dan demikianlah mereka terus bertarung

Hingga deras darah yang naik terjun mencipta halimun

Di kedalaman liang abdomen ini

Sang pencinta yang sekarat, penguasa kelam masa silam

Lunglai luruh di tubir nestapa, menatap, meratap sesaat

Perasaan dan penalaran laksana makan buah simalakama

Mana kalah mana menang

Dia tetap binasa.

Jogja, 2022


Ludira Lazuardi, perempuan yang memendam bara di hatinya.