
RHAPSODY OF LONGING
Kekasih,
tak pernah alpa dalam kepala
kala debar pertama
melebur bersama debur-debur
ombak di karang dan pantai
dan rayleigh biru menghambur memburai
angkasa berwarna jingga
seketika rindu tak terhingga
Lalu setelah itu
tiap kedatanganmu
adalah tantangan bagi nyaliku
mampukah aku nyalakan
rasa di kedalaman relungmu yang misteri
mimpikan cinta mengaliri vena-arteri
karena kau begitu indah
sebab kau begitu rapuh
Bila tiba waktu untuk berpisah
aku ingin berkesah
namun tak ingin buatmu resah
sungguh, pergimu
adalah perigi setiap sunyi
terasingku di sunyaruri
sepi bersepai-sepai
di antara dersik angin sepoi-sepoi
Kekasih,
seumpama kaudedah dada
geledahlah dengan seksama
kau akan menemu gundah gelebah tiada sudah
berkelindan pada asa
pada rasa
pada karsa
Kekasih,
bilamana aku bangun setiap pagi
itu untuk mencintamu sekali lagi
Jogja, 2023
REPENTANCE
Aku telah sampai di sini
di mana apa yang layak kuingat hanya sebatas senyummu yang terkembang
membawamu berlayar jauh dariku.
Tiap pagi aku bangun untuk memungut hari-hari kemarin
yang tercecer ketika kita melewati jalanan dengan riang pun amarah
lalu pulang dengan sebuket kenangan dalam genggaman
hadiah dari semesta untukku merayakan malam dalam diam
(Empedu malam pecah, kuarkan pahit di ujung-ujung lidah)
Bunyi-bunyi sunyi mulai berani keluar dari tempat sembunyi
Ah, berisik sekali keheningan ini
Dulu bersama kita pernah mengunjungi dunia mimpi-mimpi
sengaja lupa cara bangun
menutup mata pada realita
Dulu bersama kita pernah berdiri di puncak dunia
dengan angkuh hendak melampaui yang namanya selamanya
Ketika kita tak lagi saling paham
tersesatku dalam angan sangat dalam,
ingin yang dingin aku menggigil di ujung asa
Ketika kita saling mendiamkan
diam-diam memendam dendam
Kekosongan berdesak-desak memenuhi jemala
Sungguh sesak, aku nyaris meledak
Adakah punggungmu masih menanggung
reruntuhan tahun-tahun yang kita bangun dengan tangan kita?
Karena di tiap tapak langkah kakimu menjejak jarak
menjelma jenggala kelam
kediaman bagi sesal yang terkutuk
Aku lelah sampai di sini
di mana aku telah berhenti menghitung usia
hanya demi mendapati waktu tersia-sia
dalam penantian yang tak kenal kata usai
Katanya, kita tidak akan ada tanpa waktu
sementara definisinya masih saja menyusahkanku.
Jogja, 2023
DALAM
dalam matamu
badai abadi
dalam hatimu
luka tiada terperi
dalam ingatmu
aku mati
dalam hidupmu
aku tak lagi berarti
dalam kamusmu
tak ada kata
kembali
dalam sesalku
kamu
Jogja, 2023
LUAR ANGKASA
hampa udara
diam
melayang dalam arus abadi yang diam
sedetik adalah selamanya
selamanya yang tak berarti apa-apa
Jogja, 2023
HINGGA PENANTIAN USAI
Hingga penantian usai
Yang aku sendiri tak tahu kapan akan terjadi
Barangkali nanti kala kita telah berhenti menghitung usia
Dan mendapati waktu tersia-sia
Kau tahu aku masih akan di sini
Hingga penantian usai
Dan musim-musim kesedihan berhasil dilerai
Ketika benih-benih rindu yang ditabur
Berbuah manis nan menggiur
Kubayangkan kamu dalam dekap
Mengisi setiap gelap dengan harap
Hingga penantian usai
Dan kelopak bunga jiwa terakhir jatuh
Kau masih akan menemukanku di situ
Berlutut di sebuah batu berlumut menunggu
Hingga penantian usai
Di mana aku tak lagi mengumpat jarak yang tak sudi dilipat
Ataupun mengutuk penantian yang tak punya usai
Sehingga aku selesai.
Jogja, 2022
SOLAR PLEXUS
Pada suatu ketika
: Ganglion terinfeksi kecupan mesra
: Impulse teraktivasi kerlingan mata
Kemudian
Di kedalaman rongga gulita ini,
rahim cinta sekaligus makamnya
Antagonisme dada dan kepala tak berkesudahan
Bergumul kalut kalang kabut saling serang jatuh menjatuhkan
Ada kalanya pencipta rasa berdiri tegak di tengah hamparan
: biarkan mawar mekar di atas akar-akar
: biarkan burung-burung bercinta di luar sangkar
Seketika produsen logika datang membadik, harapan
tumbang tepat di ujung lantunan
tembang
: cinta, bentangan sepi berduri
tak mungkin mampu kauseberangi.
Dan demikianlah mereka terus bertarung
Hingga deras darah yang naik terjun mencipta halimun
Di kedalaman liang abdomen ini
Sang pencinta yang sekarat, penguasa kelam masa silam
Lunglai luruh di tubir nestapa, menatap, meratap sesaat
Perasaan dan penalaran laksana makan buah simalakama
Mana kalah mana menang
Dia tetap binasa.
Jogja, 2022
Ludira Lazuardi, perempuan yang memendam bara di hatinya.
