
Tuguran*
sejam berlalu semenjak jurit waktu berpiuh bersama
keranjang dosa
yang kumuh
/1/
dari kejauhan ada yang menanti;
pada jalur utama sepeda motorku: gapura-gapura teguh
penuh paru lampu. maka mulailah kuhitung teliti
−lembar per lembar
kerabat jauh langit merah telah lengkap. semestinya hanya
satu yang termuda akan terlambat melapor.
/2/
perlahan, begitu berhati-hati dan khidmat
induk-induk angin datang berkabar tentang sepenggal kidung
baru. mengapa ada yang sebegitu lembut dan mulia seperti cara
Bunda berbisik di sisi telingaku
/3/
sebelum tiba saatnya, izinkan kami terlebih dahulu kelola hati
berarak serupa larva iman yang mentah, lapar dan kian bergerak
hingga jarak;
bisa saja segala telaten ditanami menjadi sederet kebun jiwa
yang rapat. di sana akan banyak yang bersahutan mesra
tentang lesung usia yang menyimak secara santun setiap wadah
hingga ketukan,
terdengar jelas, bukan? aku, dia, dan sejatinya tentang setiap tubuh.
tak perlu tungku dipesan untuk memasak setiap nama yang
sulit teringat pada daftar panjang kekeliruan serta kesalahan.
sudi pandanglah ketika ranting yang geram itu bisa saja melubangi
beratus pasang mata kami (menuju lantas menggempur nurani
yang terkadang kerdil).
tidak!
asalkan kami dieratkan oleh aroma dupa nan syahdu milik-Mu.
milik-Mu
yang kerap memulangkan kembara senja kepada kanak-kanaknya.
/4/
semenit lalu aku baru saja mengambil air suci, membuat
tanda salib, lalu biarkan rindu paling abadi yang kumiliki sejatinya
akan bermuara di dada. memperbarui tiap janji darah dan tulangku.
ya, persis hari itu di antara lebat temaram Kau bersabda agar kami
berbuah banyak.
Tuhan…
kami sungguh ingin menjadi cinta yang bersahaja di dalam rumah-Mu.
/5/
pada altar suci;
induk-induk angin masih bercerita akan kasih mahasempurna dan
segenap anak-anak-Mu serupa gapura-gapura teguh penuh paru lampu
/6/
tiba saat bagi lilin-lilin mungil untuk segera dipadamkan. berilah waktu
sejenak, kepada baris cahaya untuk segera terkatup,
biar hening ini tercipta untuk-Mu. biar kami berdoa kemudian berjaga-jaga
bersama Engkau.
“Berjaga-jagalah dan berdoalah,
supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan:
roh memang penurut, tetapi daging lemah.”**
5-6 April 2012-2022
* Tuguran adalah Ibadat dalam umat Katolik yang dilakukan setelah Misa
Kamis Putih Malam. Memiliki makna penting: umat akan berjaga-jaga
bersama Yesus Kristus dalam doa kepada Bapa-Nya di Taman Getsemani.
Umat berdoa bersama di hadapan Sakramen MahaKudus yang telah dipindahkan
dari Altar Utama. Untuk merenungkan wafat Kristus demi umat manusia,
keesokan harinya pada Jumat Agung.
** Injil Matius 26:41
Jantung Hati
− bagi ‘wajah Silentium’ yang dilukis oleh Adikku, Jefron (Viktorinus Dale Hikon)
#1
Maka merupalah bayanganku,
niscaya kau takkan berkhianat
kepada apa yang terjamah
dan terpangkas oleh
cahaya
sepanjang tubuhku.
#2
Terima kasih.
Telah bersedia menjadi biji mata tersendiri
yang teramat kukasihi. Tatkala aku
memutuskan menutup raga,
sepasang mata
pun hatiku
dari setiap kemungkinan
— duka maupun suka cita.
Juli 2023
Risalah Rambut, 1
tanpa sepengetahuanmu −namun sedalam ingatanku− bibir ini
selalu gagal membujuk pulang setiap jejak senyum masamku
yang tertinggal, dan berserakan pada simpanan cermin kamar
mandi. aku tahu, aku telah menghafalnya: segala peristiwa itu
seperti harus terjadi sewaktu kau berhari-hari menjadi lugu,
dan tak tersentuh oleh gemetar jari-jemari di tanganku. kau
acuh tak acuh, seolah bukan lagi bagian dari diriku yang utuh.
kepada cinta yang terasa sulit mengeratkan wewangi sampo
dengan ujung-ujung halusmu, pagi kembali datang bersama gerak
sendu hari kemarin yang dukanya mudah memecahkan vas bunga.
— vas bunga di sisi kiri hatiku. maka; kini kau yang lebih dulu
berani memutuskan berantakan mendahului segala pikiran,
membilangkan isi gumamanku, mendamparkan bagian-bagian
remeh dirimu yang belum lama tumbuh, di keningku.
September 2013-2020
Risalah Rambut, 2
(bisikanku bagi ujung rambut yang telah mencapai pinggul)
tumbuh, teruslah tumbuh memanjang. hingga cinta menjadi
sedemikian alpa akan keberpihakan malam ini; entah kepada
ujung penghabisanmu, atau kepada mabuk yang dijanjikan
oleh sentuhan bibirnya. abaikan! sebab tentu kau perlu
durhaka pada sepanjang kisah yang ditentang sebagai batas
kewajaran dan keteraturan dalam kembar cermin muram di
hadapanku ini.
Mei 2020
Anuptaphile
Ada kalanya cinta berupaya mengetuk pintu hati saya.
Dengan teramat santun, saya meminta kepadanya
Agar sabar menunggu, namun tiada sekali pun saya
Bergerak maju untuk membuka pintu dan menyambutnya.
Saya ngeri menghadapi setiap kemungkinan; bahwa saya
Akan mabuk meski tanpa anggur, hingga alpa membedakan
Warna-warna pelangi.
2019
Aksentuasi
Di belantara puisi,
tiada yang dapat menyesatkan sekaligus
menyelamatkan dirimu
selain
bisamu sendiri.
18 September 2023
(17.05)
Faustina Hanna, lahir di Jakarta, 5 April 1987. Penikmat seni budaya dan kearifan lokal. Sehari-hari bekerja sebagai karyawan perusahaan swasta di Jakarta, aktif menulis puisi, freelance Graphic Design, menekuni fotografi dan ragam kuliner Nusantara. Sajak-sajaknya telah tersiar di pelbagai media cetak dan online. Silentium (Teras Budaya Jakarta, 2023) adalah buku kumpulan puisi pertamanya. Beberapa sajaknya tergabung dalam antologi. Pernah menjuarai lomba penulisan puisi dan berencana melanjutkan studi ke Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
