
Cerpen Jeli Manalu
Begitu lonceng bunyi, anak-anak menghambur ke luar. Para mama-papa yang datang menjemput, hari ini atau kapan saja, tak satu pun pernah terlihat berjalan kaki. Papa Riz menggunakan motor trail. Mama Moan pakai motor matic. Tuk yang sambil makan keripik sukun menunggu mobil warna jus buah naga. Seandainya Mama Nef mengantar-jemput Lesuika dengan kendaraan.
Apa di luar pagar gerimis lagi?—gerimis datang sejak pagi buta, saat adik bayi menangis sebab ingin menyusu namun Mama Nef belum mendengarkannya. Lesuika berdiri dekat kaktus sebelah kantor guru. Tangan dijulurkan ke depan, gerimis ternyata tidak ada. Gerimis reda sepuluh menit lalu. Dan Mama Nef, mungkin akan muncul sebentar lagi. Dengan payung ungu, dan sandal jepit yang mempermudah langkah kaki. Langkah kaki Mama Nef cepat-cepat dan berkesan tergesa tetapi Mama Nef bilang itu termasuk santai karena ke banyak tempat ia sudah sangat terbiasa berjalan kaki.
Hei, Lesuika. Cepat ke sini. Nanti adik bayi nangis.
Mama Nef sering berbicara begitu. Sepasang kaki Lesuika bergerak cepat menuju Mama Nef. Mereka harus buru-buru pulang demi adik bayi yang tidak Mama Nef bawa bila kebetulan sedang tidur.
Sekolah sepi. Guru-guru sudah tak ada. Bunyi sandal jepit Mama Nef beradu dengan jalanan tak kunjung muncul di luar pagar. Jerit suaranya juga belum. Apa adik bayi sedang sangat rewel sehingga Mama Nef perlu lebih banyak waktu untuk menidurkannya? Kadang Mama Nef berjalan keliling kompleks agar adik bayi bisa tertidur. Pernah Mama Nef menggendong adik bayi sambil berjalan-jalan setengah hari hanya karena adik bayi tidak mau dilepas.
Saat ini Lesuika semakin mengantuk dan lapar. Waktu istirahat ia memang ke kantin makan mi sop pedas campur bakwan bersama Riz dan Moan. Ia juga dapat lima lembar keripik sukun dari Tuk. Lalu permen dari temannya yang lain. Hanya saja perut Lesuika lekas-lekas sekali minta diisi makanan sebab ke sekolah berjalan kaki membuat pencernaannya ikut gesit bekerja. Ia pernah cerita kepada Mama Nef tentang perkataan gurunya, orang yang banyak bergerak metabolisme tubuhnya juga berjalan cepat, itulah mengapa ia berharap sekali bisa diantar-jemput dengan kendaraan seperti teman-temannya agar cepat tiba di rumah dan langsung duduk di meja makan, menghabiskan sepiring-dua piring nasi dengan tiga ekor ikan puyuh tanpa kepala, lalu minum teh manis dingin, lalu pisang, atau biskuit yang mungkin masih tersedia dalam kaleng Khong Guan di atas lemari.
Lesuika meninggalkan kaktus lalu bersandar di tembok kantor guru yang persis menghadap pagar sekolah. Di tembok itu ia menahan kantuk, ia tak boleh tertidur karena ditakutkan Mama Nef memanggilnya dari luar pagar sementara ia tak bisa mendengarnya. Agar tidak tertidur, ia mengambar-gambar di buku. Ia buat dirinya berada dalam boncengan Mama Nef—bagaimana postur tubuh Mama Nef saat berkendara di tengah keramaian: Tegang, menciut seperti orang kedinginan—Lesuika belum pernah lihat Mama Nef berkendara. Mama Nef pakai helm, Lesuika pakai helm. Ia suka helm warna jus buah naga seperti mobil keluarga Tuk. Tuk pernah memberikan Lesuika jus buah naga yang dibawanya dari rumah. Warnanya cantik. Rasanya enak. Seandainya ia diantar-jemput Mama Nef pakai kendaraan, pastilah ada yang Lesuika banggakan kepada teman sekolahnya. Mereka punya satu sepeda dan satu motor yang selalu terpakir di garasi. Dua benda itu bisa membawanya jalan-jalan hanya ketika papa pulang.
“Kenapa kamu tidak diantar Mama Nef pakai kendaraan?” tanya Tuk suatu hari.
Lesuika ingin bilang, namun lekas-lekas menutup mulut. Ia tak mau Mama Nef jadi olok-olokan di sekolah. Teman-temannya selalu cerita membanggakan mengenai orangtua mereka yang jago berkendara. Papa Riz muda seorang pembalap—Riz pernah memamerkan foto-foto papanya ketika berada di sirkuit. Selain antar-jemput sekolah, Moan bilang mamanya selalu memboncengnya pakai motor matic. Keliling kota. Ke dokter gigi. Ke tukang pangkas rambut. Sedangkan Tuk tak diragukan lagi. Ia anak beruntung yang hanya tinggal duduk dalam mobil ber-AC sambil makan keripik sukun lalu tanpa sadar sudah tiba depan pintu rumah.
“Bila diantar-jemput pakai motor, perutmu pasti tidak cepat-cepat lapar,” sahut Riz.
“Bajumu juga tidak cepat-cepat bau keringat,” sambung Moan.
Di pekarangan sekolah angin menerpa dahan-dahan kaktus. Di rumah Mama Nef menepuk-nepuk bokong adik bayi. Gerimis halus-halus muncul dan melayang ke tembok kantor guru. Lesuika belum tertidur. Ia berharap Mama Nef segera muncul dengan payung ungu, sandal jepit yang mempermudah langkah kaki lalu dari luar pagar Mama Nef menjeritkan nama Lesuika.
“Kalau Mama Nef tidak bisa berkendara, kenapa tidak sewa orang antar-jemput kamu?”
Tahun lalu, ada orang yang bersedia antar-jemput Lesuika. Orang itu berhenti karena hamil dan sekarang sibuk mengurus bayi. Bila diantar tukang ojek, Mama Nef tak percaya. Ia cemas barangkali saja si tukang ojek mengiming-imingi Lesuika makanan padahal ada maksud lain di belakangnya
Lagi pula, jarak rumah ke sekolah tidak jauh. Hanya 15 menit berjalan kaki, Mama Nef mencoba membela diri dari ketidakmampuannya berkendara. Masalah Lesuika, ia malu dilihat teman-temannya selalu berjalan cepat dan tergesa. Dan hal paling tidak ia suka bajunya jadi anyir keringat padahal hari masih pagi. Tetapi kata Mama Nef lagi Lesuika tak perlu merasa minder. Berjalan kaki bagus juga untuk tubuh Lesuika yang gampang sekali bertambah gemuk.
“Lesuika!”
Payung ungu dan sepasang sandal jepit Mama Nef menyeberang ke arah sekolah. Saat itu adik bayi tidak terlihat bersama Mama Nef.
“Lesuika,” panggilnya.
Gerimis makin menggila.
“Lesuika, kamu di mana?”
“Cepatlah berlari, Lesuika!” ***
Riau, Mei 2023

Jeli Manalu senang menulis dan berkebun. Ia lahir di Padangsidimpuan pada 2 Oktober, dan saat ini tinggal di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu” tahun 2018 dan “Kucing Penunggu Susteran dan Cerita-cerita Lainnya” tahun 2022.
















