
UBAN
kuucapkan terima kasih kepada uban
yang memperingatkanku kepada layu setelah mekar
kepada padam setelah menyala
kuucapkan terima kasih kepada uban
yang mengajariku menghitung sebuah penghabisan
bahwa fajar akan menjadi senja
kulihat diriku kepada uban
aku ada, dan akan menjadi tiada
LIDAH
suatu ketika aku tiada lagi mengenal dirinya
bagai kuda yang lepas dari kekang di padang pasir gersang
yang telah merasuk ke dalam rongga-rongga tubuhnya nafsu buta
tiada timur kepada barat kepada utara kepada selatan
penjuru-penjuru tertabir badai
kemana kata-kata yang bersilaju ditambat
aku tiada lagi mengenal dirinya
lidahku yang suatu ketika memagut berbongkah-bongkah hati
dan menjadikan mereka berdarah dan mati.
MATA
maafkan aku
telah kunodai beningmu, asal mula yang sejati itu
yang ditetesi kasih ibu dan peluh di dahi ayah
hari-hariku adalah memupuk noktah hitam
dan membiarkanmu tumbuh menjadi buta kepada cahaya
TELINGA
dapatkah aku mengulang, duhai?
akan kuletakkan engkau dimana kicau burung mendendangkan kidung pagi
dimana angin berkesiur menimpali ombak yang membelai karang ketika senja menjinggakan langit
dimana gemericik air sungai yang pecah menabrak bebatuan
dan serangga-serangga menimang malam di perut-perut dedaunan
dan bersemayamlah engkau dalam ketenangan
dapatkah aku mengulang, duhai?
akan kuletakkan dirimu di mana seruan Tuhan digaungkan
dan teguhlah engkau di atas kebenaran
KAKI
sepasang kaki yang diam
gentar kepada onak
gamang memandang jalan-jalan bercabang
Menimbang- nimbang pada neraca hati yang bimbang
sepasang kaki yang diam
menunggu sampai waktu menjadi usang
lapuk kemudian roboh sebelum berjuang
alangkah menyedihkan dan pengecutnya
Diana Rustam. menulis puisi dan cerpen di media sosial. Beberapa karyanya telah dimuat di media sastra online dan koran lokal.
