Oleh: Yuditeha

Judul Buku : Seperti Lidah Api yang Menjilati Bulan di Langit
Penulis : Y. Agusta Akhir
Penerbit : Penerbit Lakeisha
Cetakan : Agustus 2022
Ukuran/Halaman : 14,8 cm x 21 cm, 232 Hal
ISBN : 978-623-420-295-3
Novel Seperti Lidah Api yang Menjilati Bulan di Langit karya Y. Agusta Akhir bukan novel berkisah secara lurus, tidak pula sibuk menjelaskan mana benar dan mana salah. Novel ini bergerak pelan di wilayah rumit, tentang bagaimana manusia menghadapi masa lalunya, bagaimana kesalahan membentuk kehidupan, dan bagaimana pengampunan sering kali jauh lebih sulit daripada hukuman.
Novel ini dibangun melalui delapan belas bab di mana judul-judulnya memakai kutipan kalimat dari bab terkait. Pilihan tersebut membuat setiap bab terasa seperti penegasan gagasan. Judul-judul itu tidak sekadar penanda peristiwa, melainkan pintu masuk menuju persoalan batin tokohnya.
Dua tokoh utama, Syalala dan Khadafi, bergerak dalam jalur cerita terpisah. Namun seiring perkembangan novel, pembaca akan melihat bahwa keduanya sedang menempuh perjalanan serupa, perjalanan menuju pengenalan diri. Mereka sama-sama dikejar sesuatu dari masa lalu. Bedanya, Syalala berlari secara harfiah, sedangkan Khadafi berlari melalui perubahan hidup yang tidak sepenuhnya ia pahami.
Salah satu kekuatan novel ini, keberanian penulis menghadirkan tokoh-tokoh yang tidak mudah disukai, tetapi juga tidak mudah dibenci. Syalala adalah perempuan yang hidup dalam lingkungan keras. Ia menyandang identitas yang bisa membuat banyak orang mudah menghakiminya. Namun novel ini tidak pernah meminta pembaca merasa kasihan kepadanya. Pembaca diajak melihat bagaimana seseorang yang dianggap rendah oleh masyarakat tetap memiliki kemampuan memilih, menolak, menyesal, marah, dan mencintai.
Khadafi pun demikian. Ia bukan sosok suci yang membawa solusi. Masa lalunya penuh tindakan buruk. Namun novel ini memperlihatkan bahwa perubahan manusia tidak pernah berlangsung mulus. Seseorang dapat berubah tanpa sepenuhnya memahami mengapa dirinya berubah. Dalam kehidupan nyata, keadaan seperti ini sering terjadi. Tidak semua pertobatan lahir dari kesadaran utuh. Ada yang datang melalui kebingungan, kehilangan arah, bahkan melalui serangkaian peristiwa yang sulit dijelaskan secara logis.
Di tengah kisah tersebut hadir sosok yang mungkin paling menarik, yaitu kehadiran Kitmir. Anjing yang dapat bicara. Ia bukan sekadar fantasi. Kehadirannya justru menjadi pusat pemikiran novel. Kitmir tidak tampil sebagai makhluk penyelesai masalah. Ia lebih menyerupai suara kebijaksanaan dari tempat tidak terduga.
Pilihan menjadikan seekor anjing sebagai pembawa banyak gagasan moral terasa penting. Dalam banyak pandangan sosial dan keagamaan, anjing sering ditempatkan pada posisi problematis. Namun novel ini membalikkan keadaan. Melalui Kitmir, dipertanyakan kembali mengenai ukuran kemuliaan. Apakah kemuliaan ditentukan oleh status, masa lalu, profesi, atau kemampuan seseorang memperlakukan sesama makhluk dengan baik?
Pertanyaan semacam itu muncul berulang kali sepanjang novel. Bahkan salah satu gagasan paling kuat adalah bahwa manusia sering kali mudah menilai dirinya lebih tinggi daripada yang lain. Padahal, dalam kenyataan, banyak tindakan manusia justru lebih buruk daripada yang dilakukan binatang.
Novel ini juga menggabungkan unsur-unsur dari berbagai sumber cerita dan tradisi. Kisah tujuh pemuda penghuni gua, tokoh-tokoh religius, mimpi, surat, orang hilang, hingga percakapan tentang Tuhan hadir dalam satu ruang. Namun semuanya tidak digunakan sebagai hiasan. Unsur-unsur tersebut dipakai untuk membangun perenungan mengenai hubungan manusia dengan takdir.
Di sini takdir tidak digambarkan sebagai sesuatu yang sepenuhnya mengikat. Tokoh-tokohnya tetap memiliki pilihan. Mereka tetap dapat memutuskan untuk membenci atau memaafkan, membunuh atau mengurungkan niat, lari atau menghadapi kenyataan. Karena itu, novel ini sesungguhnya lebih banyak berbicara tentang tanggung jawab daripada nasib.
Hal lain yang cukup menonjol adalah cara novel memandang kejahatan. Banyak karya fiksi membagi dunia menjadi dua kubu yang jelas. Orang baik berada di satu sisi, orang jahat berada di sisi lain. Novel ini menolak pembagian semudah itu. Tokoh-tokohnya menyimpan luka, dendam, kesalahan, dan penyesalan dalam kadar berbeda-beda.
Dari situ lahir gagasan cukup tajam, bahwa kejahatan sering kali tidak hadir dalam bentuk monster. Ia bisa muncul dari manusia biasa. Seseorang dapat melakukan tindakan buruk sambil tetap meyakini dirinya benar. Sebaliknya, seseorang yang dianggap buruk oleh masyarakat belum tentu kehilangan seluruh sisi kemanusiaannya.
Karena itu tema pengampunan menjadi sangat penting dalam novel ini. Namun pengampunan itu bukan pengampunan sentimental. Novel ini tidak menganggap semua kesalahan dapat dihapus begitu saja. Yang ditawarkan adalah kesadaran bahwa dendam tidak selalu mampu menyelesaikan derita.
Menarik pula melihat bagaimana api digunakan sebagai simbol dalam judul novel. Api biasanya identik dengan hukuman, kemarahan, atau penghancuran. Namun dalam novel ini, api menjadi lambang pergulatan batin. Api tidak hanya membakar sesuatu di luar diri manusia, tetapi juga membakar pikiran, kenangan, rasa bersalah, dan keinginan untuk membalas.
Seperti Lidah Api yang Menjilati Bulan di Langit bukan novel tentang pelarian, pembunuhan, atau misteri identitas. Semua itu hanya permukaan. Di bawahnya terdapat pertanyaan besar, apakah manusia dapat benar-benar berubah, dan jika bisa, apa yang harus dilakukan terhadap dosa-dosa yang telah terlanjur terjadi?
Novel ini tidak memberikan jawaban tunggal. Ia memilih membiarkan pertanyaan itu tetap hidup sampai halaman terakhir, dan itu menjadi kekuatannya. Pembaca tidak selesai hanya dengan mengetahui apa yang terjadi kepada para tokohnya. Pembaca didorong untuk memikirkan kembali bagaimana dirinya sendiri memandang kesalahan, hukuman, belas kasih, dan kesempatan kedua. Dalam dunia yang semakin gemar menghakimi dengan cepat, barangkali itulah nyala api yang paling lama bertahan dari novel ini.***
____________________
Yuditeha. Menjadi lebih mudah membaca ketika hati sedang berantakan.
