Cerpen

Kamar Tanpa Jendela

Cerpen Diana Rustam

Di balik pintu dan jendela yang terkunci, segala sesuatu berbahaya. Mata seorang gadis menatap pintu dan jendela, hanya menatap saja.

***

Ketika Rosane membuka mata, di hadapannya, di atas meja rias, seekor kucing berbulu hitam sedang duduk dengan sepasang mata bulat hijau yang seolah sedang mengawasinya. Gadis itu bertanya-tanya, dari mana kucing itu datang. Mustahil  kucing itu bisa menyelinap masuk sebab pintu dan jendela kamarnya selalu terkunci rapat. Pintu kamarnya hanya dibuka oleh ibunya di waktu-waktu tertentu saja: saat mengantar sarapan pagi, makan siang, makan malam, dan setiap sore ketika pembantu kepercayaan ibunya harus membersihkan kamarnya.

Mata biru gadis itu bertemu pandang dengan mata hijau si Kucing Hitam. Kucing itu tersenyum lebar, menampakkan gigi-gigi taringnya. Seumur hidup, itulah pertama kali ia melihat seekor kucing tersenyum. Senyum itu tidak membuat si Kucing terlihat lucu atau menggemaskan, sebaliknya ia tampak menyeramkan.

Kucing itu melompat dari meja. Berjalan pelan-pelan mendekati ranjang di mana gadis itu berbaring. Ranjangnya terbuat dari kayu yang dipernis, mengilap dan ditudungi kelambu putih. Kasur tempat gadis itu berbaring dilapisi seprai sutera yang sama putih dengan kelambunya. Setelah jaraknya cukup dekat, kucing itu duduk di lantai. “Hei, Rosane, bangun dari sana.” Kucing itu bicara padanya.

Gadis itu tersentak dan terpekik kecil, “Jangan mendekat.” Ia menegakkan tubuhnya kemudian menyurutkan punggung ke sandaran ranjang.

Kucing hitam maju selangkah. “Tidak ada yang perlu ditakutkan.”

Rosane tidak langsung membalas ucapan kucing hitam, hanya memandanginya dengan pikiran yang dijalari rasa takut.

Kucing hitam menjilati kakinya sebentar, kemudian punggungnya, kemudian ekornya. Usai dari ritual itu, ia mengangkat wajah, mata hijaunya berkedip. “Panggil saja aku Tuan Kacang Polong.”

“Ta-tapi, dari mana kaudatang?”

“Aku tak tahu. Tiba-tiba saja aku ada di sini. Sepertinya kaulah yang menghendaki aku ada di sini. Kau kesepian, bukan? Setiap hari kau hanya melihat tembok dan dinding yang putih ini, hidup yang membosankan. Kukira itulah alasannya.”

Kucing hitam itu naik ke atas ranjang. Ia melepaskan sepasang sarung tangan yang membungkus tangan Rosane dan melucuti masker yang menutupi mulut gadis itu. Tetapi Rosane berusaha mempertahankan sarung tangan dan maskernya. “Jangan menyentuhku! Kau ingin membuatku celaka?”

“Ayo beranjak dari kasur itu dan keluar dari kamar ini.”

“Tidak bisa! Itu akan membuatku sakit!”

“Omong kosong! Kau tidak boleh berbaring di sini terus-menerus dan hanya mengitari kamar ini saja.”

Rosane menggeleng. “Cahaya, udara, air dan segala sesuatu yang ada di luar ruangan ini berbahaya.”

“Seperti itu yang ibumu katakan padamu. Tapi aku tidak akan membiarkanmu seperti ini selamanya.”

Kucing hitam terus bicara dan mendesak Rosane dengan tatapan yang tajam, sehingga gadis itu menutup telinga dan matanya. Ia berusaha mengabaikan ucapan-ucapan kucing hitam. Tetapi, kucing hitam itu tidak berhenti sampai suara langkah kaki seseorang terdengar dari luar kamar Rosane, dan kucing hitam itu tiba-tiba mengilang.

Kucing itu sudah duduk di meja riasnya setiap pagi, ketika ia membuka mata. Seolah-olah ia menghadapi hari yang sama setiap bangun pagi. Dan semakin ia berusaha mengabaikan keberadaannya, dari hari ke hari ucapan kucing hitam itu semakin gencar di telinganya dan menancap dalam pikirannya. Rosane merasa lelah, dan kemudian tidak bisa lagi menolak ucapan kucing hitam itu. Lantas pada sebuah pagi ketika matahari telah terbit, gadis itu menyerah dan menuruti ucapan kucing hitam. Rosane bangkit, menanggalkan kaos tangan dan masker yang menutup separuh wajahnya.

Mengikuti langkah kucing hitam, Rosane berdiri di depan jendela kamarnya yang tertutup tirai tebal berwarna gelap, sepasang jendela besar di bagian timur kamar itu. Jendela yang selama ini hanya berani dipandanginya saja dari tempat tidur.

“Kau butuh udara segar. Bukalah jendelanya lebar-lebar,” ujar kucing hitam.

Gadis itu ragu-ragu, ada raut kecemasan di wajahnya. Ia memandang kucing hitam untuk menyiratkan bahwa dirinya tidak yakin akan membuka jendela itu. Kucing hitam mendesak dengan suara tegas, “Apa yang kautunggu, Rosane!”

Setelah berdiri beberapa jenak di depan jendela, akhirnya Rosane membuka daun jendela yang bertahun-tahun terkunci. Sinar matahari langsung menabrak wajahnya, mata Rosane seketika silau, seolah sinar matahari menusuk kedua bola mata itu. Kaki Rosane langsung surut selangkah ke belakang, badannya limbung, dan sigap menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangan. Rosane gemetar karena merasa takut.

“Jangan takut, matahari tidak akan melukaimu. Lepaskan tanganmu dan pandanglah matahari itu. Ulurkanlah tanganmu padanya.”

“Itu berbahaya, Tuan Kacang Polong.”

“Bahaya hanya ada di kepalamu saja.”

Meskipun enggan karena dibebani perasaan cemas, Rosane akhirnya menjulurkan tangan ke luar jendela. Gadis itu mengembangkan telapak tangan seperti hendak menadah sinar matahari. Perlahan-lahan, Rosane merasakan hangat sinar matahari pagi menjalari kulitnya. Kulitnya yang pucat menjadi sedikit merona. Rosane membalikkan telapak tangannya, mempersilakan hangat matahari menjilati punggung tangan itu.

“Kau akan terbiasa. Sekarang julurkan kepalamu keluar jendela, hirup udara dalam-dalam, Rosane.”

“Tapi….”

“Udara dari luar tidak akan membunuhmu.”

“Tuan Kacang Polong, bagaimana kalau aku sesak?”

“Itu tidak akan terjadi. Percaya padaku.” Kucing hitam melompat naik ke bingkai jendela, kemudian duduk menghadap keluar. Kucing itu membusungkan dada, menghirup udara banyak-banyak ke paru-paru, kemudian mengembuskannya pelan-pelan sambil mengibas-ngibaskan ekornya.

“Lakukan sekarang. Bukankah matahari yang kautakuti itu tidak membakarmu?”

Mula-mula gadis itu ragu, ia berdiri bagaikan patung dalam waktu yang cukup lama. Kemudian angin yang berembus dari luar menerpa wajahnya, dan menggoyangkan anak rambutnya yang keemasan. Rautnya yang semula tegang, berangsur lembut. Perlahan ia melongok keluar, paru-parunya mengembang. Bersama udara yang masuk ke rongga hidungnya, datang pula aroma yang segar.

“Mawar,” Rosane menggumam.

“Ya, itu mawar. Lihat ke sana, mawar-mawar sedang mekar. Sudah berapa lama, Rosane?”

“Kupikir sejak usiaku sepuluh tahun, Tuan Kacang Polong.”

“Sudah enam tahun. Kebun mawar itu tidak berubah, ia dirawat dengan baik. Sedangkan kau, tumbuh di kamar ini sendiri dalam kesepian.”

“Aku tak bisa dibandingkan dengan mawar itu.”

“Ibumu sudah meracuni pikiranmu. Dia mengurungmu di kamar yang terpencil ini, di lantai tiga yang tidak berpenghuni, karena dia takut terhadap sesuatu yang ada dalam pikirannya sendiri.”

Sayup-sayup suara tapak sepatu yang mengetuk lantai terdengar dari luar kamar, seketika percakapan kucing hitam dan Rosane terhenti, mata mereka saling melempar pandang. Kucing hitam melompat turun. Rosane bersegera menutup jendela dan merapikan tirai.

Lekas-lekas Rosane mengenakan sarung tangan dan maskernya, kemudian berbaring seperti sejak sebelum ia beranjak dari ranjang. Sementara kucing hitam sudah hilang dari pandangannya, entah kemana. “Tuan Kacang Polong!” Rosane memanggil, tetapi tidak ada jawaban dari kucing hitam.

Seorang perempuan paruh baya masuk setelah mengetuk pintu. Perempuan itu, Nyonya Julia, ibu dari Rosane. Nyonya Julia mengenakan gaun hitam dan rambutnya digulung rapi. Ia datang dengan sebuah nampan di tangannya, berisi roti yang sudah diolesi selai dan segelas susu.

“Rosane, waktunya sarapan pagi.”

Nyonya Julia memiliki wajah yang kecil. Air wajahnya tampak selalu tegang, seolah-olah di kepalanya ada banyak hal yang ia pikirkan. Ia berbicara dengan cepat, seakan-seakan ia tidak punya banyak waktu untuk bicara. Dengan pembawaanya yang seperti itu, ia terlihat jauh lebih tua dari usia yang sebenarnya.

“Habiskan sarapanmu, setelah itu minum vitaminnya.”

Rosane menurunkan masker dan mulai menyantap sarapannya di tempat tidur. Sementara Nyonya Julia, menyiapkan pakaian baru, masker baru dan sarung tangan baru untuk dipakai oleh Rosane setelah mandi pagi. Perlengkapan Rosane telah dipastikan dalam keadaan steril oleh Nyonya Julia.

Setelah semua ritual yang monoton dan membosankan selama bertahun-tahun itu, Rosane kembali ditinggalkan sendirian. Sebelum pergi, Nyonya Julia berpesan, pesan yang diucapkan setiap hari, yang pesan itu diulanginya sampai lebih dari tiga kali. “Jangan pernah mendekati jendela, Rosane. Semua yang ada di luar kamar ini berbahaya.” Ketika bicara, Nyonya Julia mendekatkan wajahnya yang tegang pada Rosane. Kedua tangannya mencengkeram bahu gadis itu. Dan dengan nada yang ditekan sedemikian rupa, ia berkata, “Percayalah pada ibu, dengan penjagaan ibu, kau akan selamat dari semua bahaya.”

Kucing hitam kembali datang ketika Nyonya Julia sudah pergi. “Ibumu sudah gila. Setelah kakakmu meninggal enam tahun lalu, sikapnya semakin buruk. Tidakkah kau merasakannya, Rosane?”

“Mungkin ibuku benar. Kakakku meninggal karena terpapar virus ganas. Virus melayang di udara, kau tidak bisa melihat mereka, sementara mereka bisa masuk ke dalam tubuhmu dengan mudah. Selain itu, di luar sana banyak orang jahat yang tidak tertebak isi hatinya, bisa saja mereka memiliki niat buruk kepada kita, dan menghabisi kita sebelum kita menyadari niat buruknya.”

“Sudah kubilang itu hanya perkataan ibumu. Dia memiliki ketakutan dalam dirinya yang tidak bisa dia kendalikan.”

Mula-mula Rosane menolak semua ucapan kucing hitam, dan tetap meyakini ucapan ibunya sebab dalam dirinya sendiri telah tumbuh kekhawatiran yang sama, meskipun sebenarnya ia merasa kesepian dalam hidupnya yang terkurung. Akan tetapi, setelah beberapa lama, di sebuah pagi setelah sarapan Rosane mulai memikirkan ucapan kucing hitam. “Lalu, apa yang harus aku lakukan, Tuan Kacang Polong?”

“Keluar dari sini. Kau tidak mau hidup sampai tua di kamar yang terkunci ini, kan?”

Rosane mengangguk.

Dan pada sebuah malam, ketika Nyonya Julia datang untuk mengantarkan makan malam ke kamarnya, Rosane mengutarakan keinginannya untuk keluar dari kamar itu. Nyonya Julia terkejut dan berang ketika mendengar permintaan Rosane. Tubuh perempuan itu gemetar hebat, seolah-olah saat itu ia sedang berhadapan dengan sebuah bahaya yang mengancam nyawanya. “Susah payah ibu menjagamu bertahun-tahun, tapi kau malah ingin keluar dan menghancurkan dirimu di luar sana. Apa yang kaupikirkan, Rosane!”

Rosane tersentak dengan bentakan ibunya. Gadis itu tertunduk dengan wajah pasi.

Maka tidak ada yang bisa dilakukan Rosane untuk membebaskan dirinya kungkungan dan keterpencilan hidup, kecuali diam-diam mencuri waktu membuka jendela kamarnya setiap hari, memandangi kebun mawar yang terhampar, merasakan hangat sinar matahari pagi dan menghirup udara segar. Dan pada setiap kesempatan itu, kucing hitam selalu berbisik di telinganya, “Tidakkah kau ingin pergi lebih jauh, Rosane? Melihat lebih banyak? Melompatlah. Di luar sana kau merdeka.”

“Melompatlah, Rosane.”

“Melompatlah.”

***

Nyonya Julia menangkap gelagat Rosane yang tidak biasa. Sering kali dari luar kamar anaknya itu, ia mendengar suara Rosane seperti sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Tetapi, ketika ia masuk memeriksa ke dalam kamar, tidak ada siapa-siapa kecuali Rosane.

Ketakutan Nyonya Julia bertambah, ketika memergoki Rosane berdiri dan bercakap-cakap seorang diri di depan jendela yang terbuka, tanpa masker dan sarung tangannya. Rosane hendak melompat dari jendela. Nyonya Julia panik dan berpikir harus menutup seluruh jendela itu dengan tembok.

Dan, sejak saat itu, tinggalah Rosane di kamar yang tidak lagi memiliki jendela.

Kian hari keadaan Rosane kian memburuk. Rosane mulai membenturkan kepalanya di tembok dan memanggil-manggil seseorang dengan nama yang aneh, “Tuan Kacang Polong.” Sehingga tidak ada cara lain yang dipikirkan Nyonya Julia, kecuali memasung Rosane. Rosane sudah gila, demikian Nyonya Julia meyakini keadaan anaknya.

Makassar, 29 September 2023.


Diana Rustam, menulis puisi dan cerpen di media sosial. Beberapa karyanya telah dimuat di media sastra online dan koran lokal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *