Cerpen

Gerbong Kematian

Cerpen Khairul A. El Maliky

Siang itu matahari berdiri tepat di atas kepala, Panas menggantung di udara desa, menyelinap ke sela-sela dinding bambu, ke punggung-punggung ibu yang membungkuk di dapur rumah Bu Sarkiyem. Hajatan akan dimulai selepas zuhur. Dandang besar mengepulkan uap, pisau beradu dengan talenan, dan tawa kecil bercampur gosip mengalir seperti kuah santan yang belum mendidih sempurna.

Tak ada yang menyangka siang itu akan mengunci desa ke dalam ingatan paling kelam.

Sulastri—bunga desa itu—seharusnya sedang bersolek. Ia dikenal cantik, kulitnya kuning matang seperti padi yang siap dipanen, tubuhnya berisi, senyumnya sering membuat pemuda lupa jalan pulang. Ia anak baik-baik, kata orang. Rajin membantu ibunya, jarang keluar malam, dan bila berjalan selalu menunduk seperti menyembunyikan cahaya. Tapi siang itu, ia tak ada di antara ibu-ibu yang mondar-mandir. Tak ada pula di beranda yang ramai. Seolah ia sudah lebih dulu pergi, menjemput takdirnya sendiri.

Jeritan pertama pecah seperti piring terjatuh.

“Ya Allah!”

Ibu-ibu berhenti. Wajan tergantung di udara. Di atas lincak bambu, tergeletak sesuatu yang tak seharusnya ada: sepotong lengan manusia, basah oleh darah, jari-jarinya bergerak seperti masih mencari tubuhnya. Detik berikutnya, sepotong kaki mencelat, terhempas, bergerak sebentar lalu diam. Dapur berubah menjadi kubangan ngeri. Di teras, kepala seorang gadis dengan mata melotot menghadap langit—mulutnya terbuka seolah hendak berteriak lagi—membuat Bu Sarkiyem menjerit panjang lalu roboh pingsan.

***

Waktu berhenti. Lalu berlari liar.

Bapak-bapak yang semula memotong daging di halaman depan berhamburan. Ada yang muntah, ada yang gemetar, ada yang terdiam seperti patung tanah liat. Barulah mereka sadar: rel kereta api itu dekat. Terlalu dekat. Di sanalah, beberapa menit lalu, Sulastri berjalan di tengah rel seperti orang linglung, meniti besi panas tanpa tujuan.

Klakson kereta dari arah selatan melengking panjang, suara yang biasanya hanya membuat anak-anak menutup telinga kini berubah jadi terompet kematian. Orang-orang berteriak memanggil namanya. “Lastri! Minggir, Lastri!” Tapi gadis itu tak menoleh.

Tatapannya kosong, seperti telah ditinggal penghuninya. Dan ketika ular besi itu melaju tanpa ampun, tubuh Sulastri disambar, dihempas, dipatahkan menjadi potongan-potongan, disebar ke dapur, teras, halaman—ke kehidupan orang-orang yang tak siap menerima kenyataan.

Warga berhamburan mengumpulkan puing-puing itu dengan tangan gemetar dan doa yang patah-patah.

Kompol Sukma datang sore itu.

Seragamnya rapi, wajahnya tenang, tetapi matanya menyimpan kehati-hatian seorang yang tahu: kematian selalu menyisakan teka-teki. Ia meminta warga berkumpul, satu per satu memberi keterangan. Pak Muklis, lelaki setengah baya yang dikenal dekat dengan Sulastri, maju lebih dulu.

“Gadis itu baik, Bu Kompol,” katanya lirih. “Tak pernah bikin malu keluarga. Pemuda kampung banyak yang naksir.”

“Apakah ada yang mendekatinya secara khusus?” tanya Kompol Sukma.

Pak Muklis ragu sejenak. “Ada… Joni.”

Nama itu seperti batu jatuh ke kolam. Joni dikenal berandalan, anak orang kaya. Sudah beristri dua. Meski begitu, kabarnya ia masih sering bersikap gatal, menggoda Sulastri dengan kata-kata yang tak pantas.

Pernah mengajak melakukan perbuatan mesum, kata orang. Sulastri menolak.

Kompol Sukma mencatat. Ia menemui Mel dan Dila, dua istri Joni. Keduanya berkata serempak: Joni sedang bekerja di Surabaya. Alibi yang rapi, terlalu rapi. Kompol Sukma mencium sesuatu yang ganjil, tetapi polisi lain mengingatkan: kecurigaan bukan bukti.

***

Pemakaman berlangsung sunyi. Tanah merah menutup potongan tubuh yang disatukan seadanya. Di sela doa, Pak Muklis bertanya kepada Kiai Komar, tokoh agama yang disegani desa.

“Apakah orang yang bunuh diri bisa masuk surga, Kiai?”

Kiai Komar terdiam. Ia yang biasanya lantang di mimbar, tiba-tiba kehabisan kata. “Selama ini,” ujarnya pelan, “saya hanya membaca apa yang ditulis di buku.”

Jawaban itu bergaung lebih keras dari takbir. Sejak hari itu, warga mulai memandang Kiai Komar dengan mata berbeda. Pidato-pidato yang dulu menggetarkan kini terasa kosong. Ilmu yang dibaca tanpa bukti hidup.

Kompol Sukma tak berhenti. Ia memerintahkan pencarian Joni. Dugaan sementara: Sulastri dirudapaksa, trauma membuatnya linglung. Joni akhirnya tertangkap. Di ruang pemeriksaan, ia duduk dengan tangan terborgol, wajahnya pucat namun matanya tajam.

“Saya tidak merudapaksa Sulastri,” katanya. “Sejahat-jahatnya saya, Bu Kompol, saya masih punya nurani dan akal. Allah menganugerahi akal untuk berpikir. Saya tahu akibatnya. Penjara menanti. Dan saya tidak mau.”

Kalimat itu menancap. Kompol Sukma merasakan sesuatu yang jarang ia akui: tersentuh. Ia melihat banyak penjahat, tetapi jarang mendengar pengakuan yang dibungkus kesadaran diri. Jika bukan Joni, lalu siapa?

***

Hari-hari berikutnya, Kompol Sukma seperti berjalan di lorong gelap. Hingga suatu sore, di warung kopi, ia mendengar obrolan dua pemuda.

“Menurutmu, surga dan neraka itu ada?” tanya yang satu.

“Entahlah,” jawab lainnya. “Kiai Komar sering bilang begitu. Tapi… lihatlah.”

Nama itu lagi. Kiai Komar. Kompol Sukma menyimak. Obrolan bergeser ke cerita lama: Kiai Komar bukan hanya penceramah. Ia dikenal sebagai ahli spiritual, penyembuh penyakit gaib. Salah satu keluarga Sulastri bercerita—dengan suara ditahan—bahwa Sulastri pernah kena guna-guna. Dibawalah ia ke Kiai Komar. Ia masuk kamar untuk “pengobatan”. Keluar dari sana, Sulastri berubah. Linglung. Menangis tanpa sebab. Membenturkan kepala ke tembok. Bicara sendiri. Hingga akhirnya meniti rel, menjemput kematian.

Potongan-potongan itu menyatu.

Kompol Sukma meminta autopsi. Keluarga menolak. Jenazah sudah dimakamkan. Tapi demi kebenaran, mereka setuju. Hasil forensik dingin dan kejam: ditemukan cairan sperma. Kesimpulan klinis tanpa emosi, namun memekakkan telinga.

Kecurigaan berubah menjadi keyakinan.

Kiai Komar dipanggil. Di hadapan Kompol Sukma, ia tak lagi tampak seperti singa mimbar. Suaranya bergetar. Ia bicara tentang niat baik, tentang doa, tentang ujian iman. Tapi fakta berdiri seperti dinding. Tak bisa ditembus retorika.

Desa berguncang. Orang-orang teringat diamnya Kiai Komar di pemakaman. Terngiang kalimat: membaca tanpa bukti. Mereka merasa dikhianati—bukan hanya oleh seorang manusia, tapi oleh kepercayaan yang mereka bangun bertahun-tahun.

***

Gerbong kematian itu bukan hanya kereta yang menabrak Sulastri. Ia adalah rangkaian peristiwa yang membawa rahasia, dosa, dan kemunafikan, melaju tanpa rem, menghantam siapa saja yang berdiri di jalurnya.

Kompol Sukma menatap rel yang kini sunyi. Besi itu dingin, tak bersalah. Manusia-lah yang sering memilih berjalan di atasnya, memejamkan mata, berharap takdir akan menyingkir. Tapi takdir, seperti kereta, hanya tahu satu arah.

Di ujung senja, desa kembali beraktivitas. Ibu-ibu memasak. Bapak-bapak bekerja. Hidup berjalan, seperti biasa. Namun sejak Sulastri, tak ada lagi bunga yang mekar tanpa bayangan. Dan setiap klakson kereta, selalu mengingatkan: kebenaran mungkin terlambat, tetapi ia akan tiba—dengan atau tanpa kita siap.[]

____________________

Khairul A. El Maliky. Penulis novel. Lahir dan besar di Probolinggo, 5 Oktober 1986. Bukunya yang telah terbit antara lain: Akad, Pintu Tauhid, Kalam Kalam Cinta, Sweet Girl, Beda Tapi Cinta, Gus Dur dan Tuhan pun Tertawa, Dagelan Para Koruptor, Munajat Sesayat Rindu, Risalah Cinta, dan Metamorfosa (MNC Publishing, Malang). Selain novel, penulis juga menulis cerpen.

Buku, Resensi

Bagaimana Siasat Bekerja

Oleh Yuditeha

Judul Buku : Siasat Perempuan Menjelang Malam

Penulis : Titi Setiyoningsih

Penerbit : Sirus Media

Cetakan : Maret 2025

Halaman : viii+81hlm, 14×20 cm

ISBN : 978-623-540-599-5

Siasat Perempuan Menjelang Malam karya Titi Setiyoningsih yang diterbitkan Sirus Media ini adalah buku berisi sekumpulan bisikan yang mengganggu ketenangan. Selain itu, jika siang identik kepastian, maka menjelang malam dalam buku ini seperti waktu di mana keputusan-keputusan paling jujur diambil, tapi dengan cara paling tidak jujur. Di sinilah perempuan-perempuan hidup di wilayah abu-abu antara bertahan dan menyerang.

Dalam cerpen “Raksasa Timun Mas dari Eropa”. Ini bukan sekadar cerita cinta antar saudara. Ini tentang bagaimana seseorang dipaksa menerima logika yang tak masuk akal, bahwa wajah sama bisa mengganti cinta yang sama. Ironisnya, yang paling waras dalam cerita itu justru keputusan paling gila untuk menjadi raksasa. Kadang, menjadi jahat adalah cara untuk tetap punya kendali.

Bukankah ini sangat Indonesia? Kita sering diajari ikhlas, tapi dipaksa menelan pengkhianatan yang bahkan tak diberi ruang untuk sedih. Kita diajari menerima, tapi lupa bahwa menerima tanpa marah adalah bentuk lain dari kalah.

Lalu “Percakapan Ibu Menteri”. Jika cerpen ini dibaca santai terasa seperti obrolan biasa. Tapi kalau dipikir lebih lama, menjadi pengganggu. Perempuan di sini memang bukan korban, melainkan pengatur. Dalang yang bekerja dari balik layar. Kalimat seperti “kami para istri” bukan sekadar dialog tapi pengakuan terlalu jujur. Titi seolah sedang bilang bahwa kekuasaan tidak selalu duduk di kursi, kadang ia berdiri di belakangnya, tersenyum, sambil main tunjuk. Dan yang paling menyebalkan, ini terasa realistis. Sangat dekat dengan kabar dan kejadian di sekitar kita. bahkan mungkin kita sendiri juga melakukannya.

Kita hidup di masyarakat yang suka pura-pura kaget pada skandal, padahal diam-diam menikmati drama. Kita mencibir politisi, tapi tetap klik beritanya. Kita mengutuk permainan kuasa, tapi tidak menolak sistem yang membuatnya terus hidup. Cerita ini tidak menghakimi, hanya membuka tirai. Dan rupanya yang kita lihat di belakang tidak jauh beda dari yang kita duga, hanya lebih halus dan dingin.

Berbeda lagi dengan “Pengukuhan Profesor Muda”. Cerita ini tampak intelektual di permukaan, tapi sesungguhnya sangat intern dan intim. Tentang pidato besar soal feminisme ternyata tidak mampu menyentuh hal paling sederhana, yaitu membagi kerja di rumah. Ada sinisme di sini. Seakan Titi ingin berkata, “Teori murah. Praktiklah yang mahal.” Dan memang di negeri ini, bicara soal kesetaraan sering kali lebih mudah daripada mencuci piring.

Konfliknya tidak meledak tapi justru terasa lebih menonjok. Kita tidak diberi kisah besar, hanya diberi gangguan tetapi tidak bisa diabaikan. Bahwa sering kali, ketidakadilan tidak hanya hadir sebagai kekerasan.

Lalu “Lelaki dan Mainan Favoritnya”. Secara sekilas dan harfiah cerpen ini membuat kita marah. Tapi jika direnungkan lebih khusyuk, justru membuat kita diam. Kenapa orang bertahan dalam hubungan yang jelas menyakitkan? Jawaban klise: cinta. Jawaban lebih jujur: karena luka lama lebih menakutkan daripada luka baru.

Cerpen ini seperti cubitan. Tidak menyalahkan korban, tapi tidak juga memanjakan. Ia menunjukkan bahwa kadang manusia tidak mencari bahagia, tapi mencari sesuatu yang sudah akrab, meski menyakitkan. Kita sering setia pada derita yang kita kenal, daripada bahagia yang kita belum paham.

Di sisi lain, “Pelangi Tak Berwarna” menghadirkan luka dengan cara sunyi. Ceritanya tidak berisik, tapi menusuk. Tentang pengorbanan yang tidak pernah diceritakan, tentang cinta yang baru dipahami ketika sudah terlambat. Seperti pengingat, di balik narasi kerja keras demi keluarga, ada cerita yang sengaja disembunyikan. Kita suka cerita sukses, tapi jarang mau dengar harganya. Dan ketika harga itu terungkap, kita hanya membisu karena tidak ada lagi yang bisa diselamatkan.

Kumpulan cerpen ini seperti mosaik, tiap kisahnya seperti berdiri sendiri, tapi  membentuk pola jelas. Perempuan-perempuan di sini bukan sekadar karakter. Mereka representasi dari berbagai cara bertahan dalam dunia yang tidak selalu adil. Ada yang melawan, menyesuaikan, pura-pura tidak tahu, memilih luka daripada kehilangan, dan yang menarik tidak ada hero.

Judul Siasat Perempuan Menjelang Malam terasa tepat karena tidak merujuk pada satu cerita. Ia seperti payung yang menaungi. Siasat di sini bukan licik, tapi lebih ke strategi bertahan. Cara-cara kecil, kadang absurd, kadang menyakitkan, yang dilakukan untuk tetap hidup secara emosi maupun sosial. Ini semacam gambaran bagaimana siasat bekerja.

Sementara, Menjelang Malam, memberi kesan semua itu terjadi di momen genting. Di titik di mana pilihan harus dibuat. Yang membuat buku ini menarik bukan hanya ceritanya, tapi keberaniannya untuk menyerahkan jawabannya kepada pembaca. Namun sesungguhnya hidup ini memang bukan tentang menemukan jawaban. Tapi tentang bagaimana kita berdamai dengan pertanyaan-pertanyaan. Buku ini mungkin tidak membuat kita merasa lebih baik, tapi ia membuat kita lebih sadar. Buku ini seperti cermin yang tidak bisa pecah, dengan agak licik memaksa kita berkaca. Kita bisa menolak melihat, tapi bayangan tetap ada. Jika semakin lama kita menatap, semakin sulit menyangkal bahwa wajah kita tidak jauh beda dari tokoh-tokohnya.***

Yuditeha

Penulis tinggal di Karanganyar. Menjadi lebih mudah membaca ketika hati sedang berantakan.

Katalog

Retak yang Berulang

Tidak semua telinga mau mendengar, tidak semua rasa kasih mengasihani kesedihan. Maka tulisan mampu membicarakannya, tulisan mampu mengobati sakit, membuka trauma dan menerima luka.

Penulis: Silfianey Banang

Cetakan: Pertama, Tahun 2026

Penerbit Nomina Ide Karya

45 halaman; 13 x 19 cm

ISBN:

Harga: Rp 50.000,-

Info Pemesanan: 085647226136