Puisi

Puisi Muhammad Gibrant Aryoseno

Satu Warna

 

/Nona/

 

Pada tungku yang menyayang yin dan yang

aku duduk di sudut sambil mengaduk warna hitam saja.

Aku memangku kisah cinta kita seperti

dua telapak tangan melindungi lilin perawan.

 

Aku menatap diriku pada rumah ibadah

dan membiarkannya terbakar sepenuhnya.

Aku bilang, kita tak mungkin bercinta di sana.

Di sana keluargaku bercampur pada tungku yin dan yang.

 

Langkah gontai di tengah buruan kecewa dan malu

membawaku kembali pada lembut suara dan harum rambutmu.

Lidah kelu yang tadi tak bisa bertingkah dan menyangkal kini

cekatan mengkaji setiap bagian tubuhmu dengan napas memburu

dengan bantuan jari jemari karena itu saja yang aku punya.

 

Mengaduk rasa yang sama: saliva kita

membuka kelopak bunga yang sama—tak kautemukan

muntahan busuk itu, kita hanya menangis.

 

/Dara/

 

Tak perlu kautanggalkan mahkotamu itu

sebab kau harus tetap menjadi ratu.

Jangan kau pergi meninggalkan ibu kota dan

menjelajah dunia untuk menjadi bapak-bapak pendiri.

 

Lalu akan melanglang buana diriku dalam lika-liku indramu:

akan kusamarkan cita rasa kaki Adam

yang selama ini menjejaki Puncak Sri Pada hatimu;

akan lekat hatimu bermandikan pasir rusuh

dalam kecemburuan Hawa di daratan Arab.

 

Bersatu padu dalam jalinan kasih yang samar,

selama bulan masih bersinar, kita harus

sembunyi dengan benar, dan jangan sampai

matahari mengolok kita penuh sinar.

 

Rambut kita berkelindan dengan kerlingan bara api

dan dari tangis serta elegi kita akan kembali

kepada tungku yang memanggang yin dan yang

dan mencelupkan jiwa kita ke sana: jurang hitam legam.

 

Sampai lilin kita yang perawan padam,

janganlah engkau berhenti mengaduk, Sayang.

 


Diskursus Emosi

 

Sangkakala berbunyi di ujung malam

mengguncang orang-orang yang beriman.

Mereka yang teguh kembali runtuh

meski telah matang dalam persiapan.

 

Di tengah dimensi emosi yang gagap

mimpi buruk hinggap di antarmasa gelap.

Dan pagi tiba. Ia membuka mata.

Mimpi indahnya lenyap begitu saja.

 

Ia tak ingin kembali pada hari lalu yang gelap,

tetapi pagi memaksanya melanjutkan pemaknaan.

Ia menjawab pertanyaan dengan asal-asalan

lalu pulang dengan tegap menawan.

 

Ia melihat kanan dan kiri,

ladang bunga berwarna-warni.

Sementara dirinya adalah gurun pasir,

tersesat mencari sumber mata air.

 

Di matanya ia temukan oasis,

ia mandi di sana sepuasnya.

 


Menyetubuhi Kata

 

Aku memetik helai rambutmu,

merajutnya menjadi metafora.

 

Aku memangkas mimpi-mimpimu,

lelap mereka bermakna ganda.

 

Aku menambang lubang hidungmu,

konjungsi melenggang bebas

bersama tanda baca mewujud kalimat.

 

Aku memoles bola matamu,

memastikan setiap pembaca berkaca-kaca.

 

Aku menjadikan pangkuanmu perpustakaanku,

pahamu tempatku mengeja rindu.

 

Aku menggigit daun telingamu,

mengimitasi suara agar lidahku serbaguna.

 

Aku meludah di telapak tanganmu,

mencongkel air yang berkerak di garis-garis idenya.

 

Aku mencabik buah dadamu,

merasakan haru merasuk, lalu nafsu

memburu pena agar berdansa leluasa.

 

Aku melamun di tepi pipimu,

mengunyah diksi sambil disapu ombak.

 

Aku menusuk punggungmu,

menanam cinta pada setiap ruas

yang bermekar lindu konsonannya.

 

Aku mengecup bibirmu dengan syahdu,

mengalirkan rima di tiap merahnya.

 

Kini puisi telah lahir.

Ia telanjang bulat.

Mari tanggalkan baju kita

agar puisi ini punya busana.

Kita lanjut lagi bercinta

agar puisi-puisi lain bisa terbaca.

 


Telanjang

 

Mari kita bergandeng tangan

dan berjalan bersama-sama

dengan kondisi telanjang

menuju toko pakaian di sudut jalan

lalu membeli dosa sampai banyak sekali

untuk mengenyahkan malu di wajah kita.

 


Telanjur Tenggelam

 

Pertolongan pertama untuk orang yang tenggelam

adalah menangis di hadapan mereka karena mereka tenggelam

kemudian pergi dan membiarkan mereka mati karena tenggelam.

 

Belasungkawa pertama untuk orang yang mati karena tenggelam

adalah menangis di hadapan jasad mereka karena mereka tenggelam

dan menyesali kenapa tidak menarik mereka ketika mereka tenggelam.

 


Muhammad Gibrant Aryoseno, lahir di Kulon Progo, DIY. Biasa menulis novel, cerpen, dan puisi. Karya-karyanya dapat dijumpai di beberapa media daring, termasuk di laman Instagram-nya (@gibrantha). Novelnya “Machine with a Heart” adalah pemenang Wattys Indonesia 2022 kategori fiksi ilmiah.

Puisi

Puisi Yeni Kartikasari

kobar

; ummu jamil

kawanku ini muskil menguntitmu. cerita yang kaudengar bukanlah karangannya. kau sendiri yang membuat kisah itu, sejak suamimu mendustakan titah. “terputuslah dari rahmat tuhan,” kata lelaki pujaan hatimu itu kala dua genggam tahi unta ditimpukkan ke punggung kawanku. tapi kawanku yang bersahaja, lagi pemurah kalbunya, lembut lisan, dan sejuk dipandang, tersenyum sejenak, “tunggulah ash-shiddiq, kau akan melihat kuasa.” dan, aku benar menyaksikan segala tuaimu, wahai perempuan panjang lidah dan pembual. kini tubuhmu kian melorot dan kerut di antara dahimu meliuk-liuk. kau menjadi reyot di mataku, barangkali juga mata kawanku, atau mungkin di mata suamimu nanti, tatkala kau kembali ke rumah untuk mengajaknya bercinta.

ponorogo, agustus 2024


sabda

; ash-shiddiq

sungguh, ash-shiddiq, aku ini seorang penyair yang tak pantas kau lukai dengan sabda langitmu yang turun tanpa bentuk. sabda-sabda itu hanya kedustaan. sabda-sabda langitmu hanyalah kehinaan. maka, percayalah padaku, lenyapkan kawanmu, lalu ikutlah aku seperti orang-orang quraisy memegang kakiku. aku teramat benar adanya. ada tanpa kasak-kusuk ketiadaan yang kerap digaungkan kawanmu perihal tuhannya.

sungguh, ash-shiddiq, dibanding kawanmu, kata-kataku lebih segar layaknya air laut merah dan tak kering semacam ayat-ayat tuhannya yang berpasir. aku ini penyair wanita dengan segala kebenaran di atas kebenaran. maka, di mana kawamu itu? kini, untuk kesekian, ingin kuhujam mulutnya dengan batu-batu yang telah dikutuk latta dan uzza—penciptaku yang maha tinggi setinggi-tingginya, sebab ia telah meragukan syairku dan mengagungkan sabda langitnya.

sungguh, ash-shiddiq, aku ingin kau menyaksikan antara syairku dan sabda langit kalian, mana di antara keduanya yang mampu membuat orang-orang di tanah ini menundukkan kepala?  keluarlah! jangan kau sembunyikan diri dan melindungi ia. di mana penyair gersang itu? apa diam-diam ia telah tak mampu menandingi syairku?

ponorogo, agustus 2024


jalan lain

; kawanku

pulanglah

wanita itu

telah membawa

kerusakan

kau bisa lewat manapun

yang kau ingin

dari tenggara

barat daya

timur laut

atau mana saja

sebab kita telah belajar

rasi bintang

dan macam garis langit

dengar, kawanku

ini musim semi

edar pandangmu

ke berbagai penjuru,

lalu temukan biduk itu

di petang paling pekat

jika di sana kau temui

sesuatu serupa gayung dan gagang

atau layang-layang

yang terikat sehelai benang,

berjalanlah ke arah

bintang terterang

karena ia adalah petunjuk

biar kau sampai padaku

sebelum kita sama-sama menua

sebelum wanita itu

menghancurkan jalan kita

ponorogo, agustus 2024


suatu garis

; ash-shiddiq

telingaku pekak

tapi sunyi terasa

seperti punya bunyi

suara apa itu?

katakan dari sana

agar aku dapat

terus mengenali

apa itu sebuah deru,

dengung, gemuruh,

lengking, atau apa?

sebab, semuanya menyatu

hingga garis khayal

yang ku bayangkan

di langit

buyar

di sini

aku lemah

menyusun

garis-garis itu

tiada bentuk golok,

garpu, sendok,

atau peti mati

yang berhasil

aku bentuk

katakan segera

apa nama suara

yang memenuhi

pendengaranku?

sebab pelan-pelan

aku jadi kosong

suhu sudah menembus

tulangku dan aku

teramat ngilu

katakan dari sana

atau kalau kau tidak tahu

setidaknya

kaulah

yang harus

menemuiku

dan lupakan

wanita itu

ponorogo, agustus 2024


nur

; ash-shiddiq

aku adalah nur

pembawa kayu bakar1 itu tak akan bisa melihat kawanmu.

ponorogo, agustus 2024

1) pembawa sebutan al qur’an bagi ummu jamil binti harb bin umayyah.


Yeni Kartikasari, tinggal di Ponorogo.

Puisi

Puisi Agus Widiey

Pengakuan Tangan

maafkan tanganku jika suka

mengelus halus pipimu

meski tak harus menunggu

air matamu jatuh terlebih dahulu.

tanganku selalu kaku

untuk melakukan sesuatu

yang pada akhirnya

hanya menjadi sia-sia.

begitu berat bagi tanganku

menamparmu 

& begitu ringan bagi tanganku

memelukmu.

mungkin itu salah satu alasan;

tanganku diciptakan.

Yogyakarta, 2024


Seperti Apologi

ada yang bergetar dalam diri

tapi tak mampu diucapkan lidah.

ingin kunyatakan sesuatu

tapi kenyataan lebih dulu menyadariku.

dunia begitu ambigu,

& aku tiba-tiba setuju.

bahwa yang jauh

bisa jadi lebih menyentuh.

Yogyakarta, 2024


Iklan Kesedihan

telah kupromosikan kesedihan ini,

tapi nyaris tak ada yang tertarik

& tak ada yang mau menarikku

dari terjalnya jurang kemiskinan.

kemudian kesepian menggugat;

tentang kesehatan cinta, keadilan rindu

& kesejahteraan nasib masa depan yang belum tentu

karena engkau masih tak mau memikirkan kesedihanku.

sebenarnya, ingin rasanya aku berbagi kesedihan ini,

kesedihan yang seharusnya menjadi milik kita bersama

tapi nyaris hanya koran yang mau menerima dan menghantarkannya;

ke berbagai penjuru mata,

mungkin juga termasuk matamu yang tak suka membaca air mataku.

Yogyakarta, 2024


Pencerahan

pembunuhan terhadap tuhan

sudah lama direncanakan,

& kematiannya kita rayakan

dengan tidak sederhana.

& kini saatnya kita ciptakan kembali

sebagai proyeksi ketenangan;

karena iman di hati

masih merasa kehilangan.

sebagaimana lilin menyala

ketika ditiup, kemana perginya?

tapi kita lupa bertanya,

kecuali setelah kehilangan

makna dari keberadaanya.

sedang tuhan telah mati,

sejak kebebasannya kerap dibatasi

dengan dasar kebenaran pemikiran kita sendiri.

lalu apalagi yang berharga

selain kejadian yang tak terduga?

maka yang ada di luar sana,

menciptakan kita

juga untuk bertanya, misalnya;

sudah berapa tuhan

kita ciptakan di dunia?

Yogyakarta, 2024


Memorabilia yang Lain

aku akan mengenangmu, alena

sebelum senja ini selesai

mewarnai pelupuk mata.

di antara terumbu karang

kesunyian telah kubentang

lewat ketam bayang-bayang.

di sini, alena

kukenang kembali pulau dan nelayan

yang asin dan yang mulai asing.

karena segalanya mesti berakhir,

termasuk matamu dari mata penyair,

maka, kusimpan rindu yang amis itu

pada bait sajakku; dari waktu ke waktu.

Yogyakarta, 2024


Agus Widiey, Lahir di Sumenep, 17 Mei. Menulis Puisi, Cerpen, Cernak, Cermis, dan Resensi. Tulisannya tersebar diberbagai media baik lokal maupun nasional. Sekarang tercatat sebagai mahasiswa Prodi Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pernah memenangkan lomba cipta puisi yang diselenggarakan Majelis Sastra Bandung (2021). Anggota di komunitas Damar Korong(Sumenep).

Cerpen

Puisi Anggi Putri

Lakuna

sepotong cerita yang terpaksa dipangkas

dan dituntaskan oleh waktu

gerimis di ujung telunjuk bagai air mata

yang menganak sungai hingga ke pangkal dada

menggumpal dan jadi ruang

: hampa

Luka,

bukan sayatan ataupun dera

yang sesekali bisa sembuh oleh masa

wicara hanya sampai kata A

kelasah tumpah ruah

episode yang tertikam dan hanyut di ujung pusara

: entah

Lalu,

kau hanya tersenyum hambar

mengujiku agar terus mengatasnamakan sabar

bukan lara, bukan ketidakrelaan yang berkelakar

hanya saja–kau

lebur bersama doa yang kupanjatkan

entah sepekan

Jombang, 26 Februari 2024


Stasiun Kata

angin bergelut dengan decitan peron-peron

menggertak semesta dengan nanar

ruang tunggu yang kosong,

berisi kesepian

sejak pukul enam langit berkelakar

memintaku merenung dari tiap bait puisi

yang kusimpan hingga tak berbentuk lagi

akhirnya meledak dalam sunyi

kursi penumpang belum terisi

seperti hati manusia yang bergelut dengan ilusi

tak ada yang menjembatani

ego dan insecurity

tak ada jawab, tak ada tanya

hanya stasiun kata

yang melebar dari mulut-mulut manusia

penuh kelasah di dada

Jombang, 17 Maret 2024


Pintu Masuk

langkah yang melaju tak bisa berhenti

langkah yang terhenti kian menjadi

buta, penuh ragu berkelindan dalam hati

: puisi

tak ada hal yang bisa masuk dengan mudah

tak ada hal yang terhenti dengan sendirinya

Sesak di dada hanya ulah kata-kata

Menari di kepala sampai akhirnya terjerembab

dalam lantunan doa

barangkali tak ada muasal gulana

hingga arus air mata jadi saksi dan lakuna

terus mengetuk ingin masuk ke dalam sana

meski resah tiada akhir dan hampa semakin

mengikatmu dalam kelana entah

Jombang, 17 Maret 2024


Sepekan Lalu

: Emak

sepekan lalu,

belum siap ku menunggu napas terakhirmu

wicara dan secangkir kopi hitam di beranda kabur

menyeletuk namamu yang kini tak sanggup

kuucap meski kini berubah sepatah frasa

:ambigu

sepekan lalu,

saat jiwa berkisah dan duduk di antara kata-kata

kau masih menuturkan nasihat lama,

tentang pepatah yang harus diterima

tentang doa-doa yang harus kuantarkan

meski belum tahu untuk siapa

sepekan lalu,

kau ajarkan mengeja waktu, pendeknya jeda

ba’da maghrib hingga ayam mematuk subuh

di kepala, tak ada kelasah

hingga kau pejamkan mata

sebentar yang berarti selamanya

Jombang, 7 Mei 2024


Jejak Kota Ini

kota ini membaca jejak kita

dunia teduh yang menunggu

tak ada yang menjadi tanda

isyarat itu dalam rinai suara-suara

hari pun usai, waktu terguncang

seperti sejumlah kata

yang menggelepar keluar

dan sepotong sajak dari bait terlepas

kota ini amsal repetisi

hari terus melata menyingkap wajahmu

tanpa jawaban pasti,

menyekap debar dingin;

dalam puncak malam yang gigil

sendiri

Surabaya, 30 Maret 2021


Anggi Putri, pencinta sajak, kopi, dan hujan. Komite Sastra Dewan Kesenian Jombang 2019-2022. Buku puisinya Angin Kembara (2015) dan Laku(na) (2016). Peserta IIBF 2019 Solo dengan karya Kala Ratih (2019). Karya-karyanya dimuat media online maupun cetak. Aktif menulis di blog pribadi www.anggiputri.com.

Puisi

Puisi Galuh Ayara

X

kau adalah x

yang berubah menjadi suara

yang kedap di kepalaku

menjadi dengung

kau telah melintasi tujuh dimensi

mampir di setiap kelahiran

menjadi suara bayi yang menangis

menjadi jerit putus asa seorang gadis

yang diselingkuhi kekasihnya

menjadi bisik pelan sebuah rahasia yang dijaga turun temurun

hingga batas yang sudah digambar takdir

lalu hari ini,

kau berada di bawah gedung

dengan kekasihmu

kau menangis ke arahku

yang siap melompat dari ketinggian–

seratus meter lebih

tapi tak berubah

di mataku, kau hanya memburam

2024


Rum Raisin Chocolate Ice Cream

siapa yang bisa melolong seperti anjing?

kau hanya wanita yang menangis setiap kali tubuhmu patah

di braga, trotoar menunggumu

dan seorang kekasih yang baik hati sedang duduk di bawah lampu

bersama anjing dan rum raisin chocolate ice cream yang sudah meleleh menjadi sisa udara dingin di tangannya

sedalam apa masa lalu menyayat kulit tubuhmu?

di kamarmu, kau cium aroma rum dan coklat yang meleleh

kau kenali udara dingin itu lebih dari mengenali dirimu sendiri

di braga, rum raisin chocolate ice cream

tinggal berupa aroma kehilangan yang tajam

lelaki itu menuntun anjingnya pulang lebih baik dari hari sebelumnya

lalu, kau ingin melolong?

di kamarmu, kau sedang merangkak menjadi–

anjing?

2024


Bunga Sihir

you are daffodil

but i’m devil?

kelak kesedihanmu sampai ke telinga bulan

; bakung yang merintih di sajak-sajak rapuh yang menggema sepanjang sungai mengalir tanpa ampun dan tanpa maklum

melewati keras kepalanya peradaban

melewati aku

di dinding kepalamu

kau bentuk senja menjadi tubuh perempuan

kau cium keningnya sepanjang umur dan sepanjang apa pun yang tak terjangkau ujung

kau adalah bakung

tumbuh sepanjang tubuhku

bungamu mekar di dadaku seperti sihir

kau merasuki tubuhku

melampaui akal

kau bawa jiwa perempuan yang kau cintai

lalu aku jadi menderita

ingatanku jadi lorong gelap menuju matamu

aku sudah menolakmu seperti iblis

aku siapkan racun paling mematikan

apabila kuminum, tubuhmu pecah dalam tubuhku

serpihan halusmu akan mengalir melalui arteri

lalu kulihat engkau hanya berupa–

wajah yang pucat

who’s the devil?

2024


Dari Aethelflaed ke Perutku

disaksikan bulan pukul dua pagi

aku melihat ia turun dari mata aethelflaed

lalu berdiri di kaki ranjang

ke mana perginya cermin-cermin di kamarku?

lady of the mercians

di dinding, aku melihat bayangannya berwarna putih

seperti warna sayap malaikat

dan kuda-kuda berlari

lalu seluruh kecemasanku lenyap

ia memelukku sampai gelap dan

rambutku jatuh helai demi helai

menjadi hujan yang lamat-lamat hilang

di pahaku bau amis darah berganti jadi aroma bebukitan dan bau dinding tua

lihatlah, tanpa cermin aku melihat aethelflaed melalui tubuh itu

; gadis kecil yang meringkuk tanpa ibu

menahan sakit perut datang bulan

yang membuatnya kedinginan

2024


Blur

begitu jauhnya aku

hingga tak berjarak dan tak terhitung

aku kehilangan tangan dan dahimu

aku kehilangan udara hangat hingga tubuhku biru. hingga bibirku kaku.

tapi aku tidak menangis

sejak lama dadaku sudah menjadi es

meski nyeri

dan sekelilingku menjadi mendung

lalu dingin

mengapa aku sulit menemukanmu? mengapa kamu tidak menemukanku

berikan lenganmu,

aku hampir hilang

2024


Petite Fleur

dadaku baru tumbuh sebesar kiwi

kiwi paling kecil yang pernah kumakan

kau bilang aku adalah gadis kecil yang manis

kau letakkan jarimu dengan gemetar

kelak di sini akan mekar bunga, katamu

tapi aku memelihara api

kau menggendongku seperti menggendong permen kapas

aku seakan melayang di punggungmu yang seluas gardenia

dan tidur layaknya peri kecil yang pucat

seperti vampir

lelaki besar yang tingginya mirip eiffel yang sulit kujangkau, sudah sejauh apa kau tamasya?

dadaku sudah tumbuh mekar

kau akan hirup wangi bunga yang dulu kau tanam di puting susuku

pinggangku sudah kuukir menjadi lembah

kau akan betah menjatuhkan diri di sana

seberapa jauh buku-buku membawamu lari dariku?

kuciptakan jalan pulang dari helai-helai bulu mataku yang jatuh

kau tidak mungkin tersesat bahkan jika matamu terpejam

bahkan jika kau tikam rembulan 

kau akan tetap menemukan jalan kembali

apa yang kau temui di sana?

konon harga kesetiaan lebih mahal dari mimpi, kan?

2023


Sejarah Kehilangan

di tubuhmu yang malang

waktu sudah amat matang

jarumnya berdetak ke arah maut

kau duduk saja di sana

dengan letih yang kau sembunyikan di dada

matamu menatap lurus pada ia yang berdiri di seberang jalan

di kepalamu tergambar sebuah wajah

seperti tayangan di televisi tua

dan adegan seorang gadis kecil yang menuntun chihuahua yang

kehujanan di punggung jembatan

tubuhmu menggigil

arloji berdetak lemah

ia masih bertahan di seberang jalan

sekarang wujudnya mirip seorang lelaki besar yang sedang mengawasimu

tangannya yang panjang dan gelap bergerak tak karuan

lalu cepat meraih tengkukmu yang dingin dan ungu

di kaca sebuah gedung

tak kulihat lagi wajah yang pucat

dan tak kulihat juga bayang seorang gadis mungil

yang menangis sambil menuntun chihuahua

maka aku merasakan lagi

kehilangan yang tidak asing

2023


Galuh Ayara, suka menulis puisi dan cerpen yang dimuat di berbagai media. Penulis dapat ditemui di Instagram @_galuhayara

Puisi

Puisi Alexander R. Nainggolan

Sajak Tentang Stasiun

orang-orang, bukan aku

rel dingin

kereta

keberangkatan yang janggal

lalu pada siapa akan tertuju

batas jalan

orang-orang, bukan kau

duduk melipat waktu

tenggelam dalam lamunan

aku bertabrakan dengan mereka

bukan kereta

kalender berganti

pagi, siang, sore

jam bergegas

detik-detik

terhambat

aku dan kau berjalan

entah memikirkan apa

atau hampa

kosong

melayang dalam kembara

tak jelas letak akal

tak ada tanda

peta-peta lama

yang mampu mencatat langkah

orang-orang mulai berteriak;

kapan kereta berangkat?

2019


Sajak Tentang Istri

                        – rina

“aku merindukan harum ketiakmu, di pagi yang masih putih,”

lalu bergegas mandi. menyiapkan matahari serupa mata sapi

luruh masuk dalam tangismu semalam

masih ada bau tubuhmu, menyatu dengan napasku

di gigir kulit coklat, merendam mimpi semalam

tak perlu kita bercakap tentang rumah, kota, atau manusia

sebab sentuhanmu sudah berkisah banyak

menumbuhkan benih bunga yang ada di lenganmu

setiap kali kukoyak sedihmu, air matamu tingkap

merupa gerimis masai. renyah dalam duka

terlalu sering kau menangis, memanggul sebagian deritaku

“aku merindukan getah bibirmu, bukan di malam-malam yang penuh lenguh,”

semestinya, aku bersujud kembali pada pelukanmu

menghitung petaka dari seluruh ragu yang gagu

setiap kupapah peristiwa yang tak sempat terbingkai

bahkan oleh sebaris kalimat pesan pendek, dering telepon yang berisi percakapan,

atau kesunyian kita tentang sekelumit asmara yang penuh amarah

tiba-tiba aku menciut, meski kelopak mawar merekah

di halaman hatimu

“aku benar-benar tak ingin melihatmu menangis. apalah kita, jika kau hanya serupa perempuan cengeng. menunggu pintu-pintu nasib di dalam rumah?”

lantas kugegaskan saja perjalanan ini

mestinya kita sujud bersama, mencari cinta yang baru

bukan sesat dan penuh isak

2019


Sajak Tentang Hujan Malam

tak ada yang kekal

bau hujan

tanah yang bergulingan

aspal basah

cahaya lampu bersejajar

semua mengkilap

menghapus duka

hujan yang deras itu membangunkan seluruh keterjagaanku

lewat berkas kejanggalan. impian dari pernikahan yang bahagia

mungkin akan kuhapus semua malam pertama, seperti perihmu

seperti bekas darah merah di celana dalammu

tak ada yang kekal

hujan akan berhenti

hujan yang deras itu, acap mengacaukan semua igauan yang kau susun

ratusan hari di masa lalu yang terbengkalai

tinggal tiang-tiang besi karatan yang menancap

asamara yang terlunta, hidup yang begitu rutin

adakah yang kekal?

selain matahari

aku merupa ibrahim mencari tuhan. semuanya padam

gulita. kubaca zarathustra

tak ada

tak

tak ada

tak ada yang kekal

hujan akan berhenti

meski aku akan berlabuh di jantungmu lagi

2019


Ujung Percakapan

1.

percakapan ini akan ada ujungnya

kau akan mendapati sebuah pagi

yang miskin matahari di sana

tak ada bentang cakrawala

cuma pertikaian yang kerap tak sudah

2.

mestinya aku tak mengangkat telepon seluler itu

kumatikan dan kutinggal pergi untuk tidur

masih banyak hal-hal lain yang tak terucap

bukan karena kata

bukan sekadar percakapan hampa

3.

tapi sudah jauh kita melangkah

tak perlu kita kebas lintangan nasib

sebab akan kita khidmati seluruh karib

merentangkan sebilah mimpi yang resah

2019


Senin Pagi

Tak dapat kutemukan sisa parfum di telapak tanganmu. Memintal doa-doa busuk ke pusara. Tebing yang nganga, aus dalam labirin, sebuah masa silam yang redup. Seperti bahumu tegak, tempat pertama kali kecut lelaki singgah, menjadi arjuna yang selalu sepi

Tapi, senin pagi tadi, jendela kamar tak juga berkoar, memanjati cahaya matahari hingga basah

Mungkin, ada baiknya aku menghitung waktu yang tergelincir dari ketiakmu, napas sesak perempuan, lipatan badan yang kasmaran, dan tak dapat kutemukan sesuatu, bahkan ketika kusibak kitab-kitab puisi yang terus merakit sunyi demi sunyi

2019


Gerimis Tak Sampai

Tiba juga gerimis itu, bermain di depan rumah. Meski, tak sampai ke dalam kamar. Membingkai setiap dingin yang makin bukit, hingga matamu tergenang. Menyirami letih tubuh, sambil berharap mimpi buruk segera pergi

Besok, cuaca akan berubah, kuyup di tubir jejak yang lumpuh. Mengingat setiap pinak peradaban, menyilet dalam kekal. Aku tahu, kau akan terus mengenang apa-apa yang pernah pergi dari ruangan ini

Sejumlah pertikaian yang membeku di kepala, seperti membangkitkan amarah

Tapi, gerimis tak lagi sampai

Menepikan kegamangan, atau sekadar mengusik bayang-bayang

Selalu saja membungkus kita dalam udara yang dingin di pori

2019


Alexander R. Nainggolan, lahir di Jakarta, 16 Januari. Bekerja sebagai staf Unit Pengelola Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPPMPTSP) Kota Adm. Jakarta Barat. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di media cetak dan online. Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (kumpulan puisi, Penerbit basabasi, 2016), Dua Pekan Kesunyian (Penerbit JBS, 2023).

Puisi

Puisi Khairuz Zaman NT

Sandal

Dulu, ibuku berkata

Anak kecil tidak boleh membawa sandal

Jika hendak bermain keluar

Takut hilang dan tertinggal

Kecuali ke madrasah dan langgar.

“Sandal hanya untuk perjalanan jauh

Melewati aspal dan terjal

Supaya kakimu bisa tahan

Menginjak rindu di tanah orang.

Sekarang aku paham

Juga lebih butuh banyak sandal

Ketika hidup mulai licin dan berliku

Pada takdir yang berbatu.

Aku tahu mengapa kakak dulu

Banyak mengoleksi sandal:

Ia harus menyesuaikan kenyataan

Dengan kaki yang mulai enggan berjalan.

Dan aku lebih suka sandal tebal

Ketika tak ada lagi tangan ibu ‘tuk dipegang.

Sandal adalah sepasang alas

Bagi kaki yang tak pernah tidur pulas.

Annuqayah, 2023


Kayu Bakar

Karena merindukan abu

Dapur menjadi ibu

Dengan tangan iba

Memungut kayu-kayu.

Sejak rintik pertama,

Mata wadung dibasuh

Di tubuh kayu yang mulai basah

Dan aku mulai membaca urat kayu

Sebagai surat yang ditulis hujan kepada akar.

Sebab ranting tak pernah mampu

Mematangkan lapar dan senyum ibu

Dalam tungku tak ada yang abadi

Kayu hanya akan menjadi abu

Dan kembali ke rahim waktu.

Sedang aku adalah iba di mata ibu

Yang tiba-tiba tabu untuk menjadi kayu

:hangus terbakar, arang padam dikubur kabar.

Annuqayah, 2023


Nirsampah

Aku tak pernah tahu

Seorang teman yang berangkat

Di awal sya’ban

Akan pulang dengan tangan

Tak berdebu

Yang aku tahu,

Ia selalu

Menyapu masa lalu

Halaman yang menyimpan

Kesedihan daun-daun

Dan mengekalkan bau dapur

Di Panggung Harjo

Kaki ramadhan mengantarku

Menjemput mimpi kiai

Menyambut senyum bumi

Di sinilah, hidungku

Hidung seorang santri

Tak mencium bau

Mulut dan perut

Manusia

Di laboratorium itu

Mesin-mesin menjerit

Menguliti nasib

Mencacah dan dipilah

Dengan doa-doa Khalifah

Matahari jatuh di mesin pemusnah

“akankah kita mereplika mereka?”

Tetapi, sampah adalah santri

Dipasrahkan sepenuhnya oleh wali

Dan tak maujud satu pun alat

Untuk mengasuh dan merawat

Kemudian,

Di Kemisan

Tong rongsok

Mengelas karat

Tang karet

Lehernya diikat

Dengan teriak panjang

Kelamin tumbuh

Dan kran kencing

Ke dalam botol

Muasal musim lebat

Meski di bawah ketiak

Kemarau

Aku tak pernah tahu

Sebuah kampung yang diapit Panggung

Krapyak dan Arca Yoni

Menetaskan darah nifasnya

Di ujung sebuah pulau

Bertabur garam

Yang aku tahu

Seorang lurah datang

Pada malam tanpa

Kur badar

Nyanyi-nyanyian

Dan penyambutan

Ia hanya menanam himmah

Nirsampah

Dan menitipkan qaul

“teknologi mesin adalah jalan terakhir”

Annuqayah, 2023


Polisi yang Lain

Di jalan Panti Rapih, pukul delapan lewat delapan

Seorang pemuda menyetop motor

Berplat nomor mati:

Remaja solo

Mahasiswi gajah Mada

Berhenti dengan degup kesal aneh

Di jalan Sabirin, jam mogok

Mata macet

Bunga Flamboyan

Kuntum Delonix regia

Memekarkan netra

Di sepanjang jalan kota

Di jalan itu

Polisi tak ada

Hanya sepasang manusia

Saling memenjara tatapan

Dan memborgol masa depan

Sebuah jalan tanpa waktu

Tanpa rambu

Mengantarku kepadamu.

Annuqayah, 2023


Borgol

Cincin ini adalah borgol

Yang dipasangkan Tuhan

Di jemariku-jemarimu

Saat kita tertangkap basah memanjat doa

Dan saling bertukar fatihah

Masih lekat dalam ingatan,

Malam-malam aku memasuki rumah-Nya

Seraya diam-diam mencuri rida.

Sementara, kau mencari kunci

Di bawah rak mimpi ibu

Untuk membuka kepala bapak.

Adakah ia akan menggandengkan tangan kita

Hingga Tuhan kehilangan cara melepaskannya

Atau ia hanya seutas tali pengikat kayu

Yang dikumpulkan hanya untuk menjadi abu.

Siapa pun –termasuk kita—ingin

Memasuki liang itu

Mengerami janji yang tertulis

Di langit-langit azali.

Annuqayah, 2024


Sebatang Kayu

; sapardi djoko damono

Aku ingin hidup sebagai sebatang kayu

Setia mengabdi pada tungku

Meski ia tahu

Pada akhirnya akan menjadi abu.

Aku ingin mati sebagai sebatang kayu

Sabar ditebang menjadi lembar buku

Meski ia tahu

Pada akhirnya tak pernah subur ditulis waktu.

Aku ingin tetap sebagai sebatang kayu

Meski hidup menjadi payung

Dan mati tak ada berkabung.

Annuqayah, 2023


Khairuz Zaman NT, kelahiran Sumenep, 24 Pebruari. Santri PP. Annuqayah daerah lubangsa, aktif di Sanggar Andalas dan Padepokan Salak.

Puisi

Puisi Listio Wulan Nurmutaqin

Peta Yang Terhapus

                        :  Dari anak-anak Palestina

1/

Telah terhimpun berpuluh tahun

Luka belum cukup

                            Membebaskan

                             Mengikat mimpi-mimpi

                                Masa kecil kami

Debu membahasakan setiap bagian tubuh

                              Memanjangkan retaknya

Pada tulang-belulang

Berserak sepanjang jalan

                             Setelah kami diburu

                              Dirajam peluru 

Maut tertawa berloncat

                             Kegirangan

Dari satu puing runtuhan

Ke reruntuhan lain

                               Sambil terus berteriak

Pergilah dengan bara api ditangan!

Kemanakah kami harus pergi?

2/

Di sini, kami menggambar sebuah peta

                         Yang dicetak

                          Dari darah dan sejarah

Dada-dada rompal meletuskan

Serpihan tajam cahaya kata-kata

                              Menjelma rajah berisi

                            Dosa-dosa

                             Yang tak pernah kami buat

Di bawah matahari yang mekar

Rumah serta sekolah kami

                          Dibom dan dibakar

                          Langit penuh kembang api

Siang dan malam

Jam demi jam        

                      Kaki-kaki musuh

                      Menginjak leher dan jantung

                       Memotong pena dan jari-jari

Tapi kami akan terus menulis

                Dari darah dan sejarah

Menggambarkan rumah ke dalam sebuah peta

Barangkali, rumah adalah denah yang terhapus

Hancur terbawa angin sekejap embus

Mungkikah masih ada tanah yang bisa kami tinggali?

Selain dinding-dinding penuh lubang di sini?

2023


TIDAK ADA MAKAN SIANG GRATIS DI SINI

Senin datang tergesa-gesa

Lembur tak pernah alpa

Kerja, kerja, kerja

Kenyataan menampar

Beraduk di kepala, pecah berpendar

Pagi ini Jakarta biasa-biasa saja di antara segala keruwetan

Serta permohonan cuti yang diabaikan

Atau teror bos menjelang deadline kerjaan

Atau teman yang ngajak nongkrong tiap akhir pekan

Atau beli iphone terbaru meski dengan cicilan

Atau hasrat hidup dengan cara fancy di kos-kosan

Sama dengan berhemat gila-gilaan

Bawa bekal telor dadar atau lanjut mi instan

Tidak ada perayaan

Tidak ada makan siang gratis di sini

Segalanya begitu pelik dan naik

Hanya sisa remah-remah impian

Di negara yang enjoy rebahan

2024


DAFTAR BELANJA

Di pasar, mimpi adalah daftar belanja

Terselip di kantong plastik hitam

Labu,wortel dan beberapa sayur pucat

Seperti cemas menyaru sekilo cabai rawit

Yang sering cilukba tiba-tiba

Hidup terasa lebih perih dari merica

Mengingat daftar lain yang tak boleh terlewat

Beli susu formula, bayar cicilan rumah, arisan tiap bulan

Selalu alpa disubsidi

—nyeri inflasi di dada

Berbagai toko mimpi berjejer sepanjang jalan,

Para penjual membawa papan harga dengan huruf besar-besar:

Hanya untuk hari ini

Kau mengantre paling pagi untuk membeli kebahagiaan

Dan kesehatan dengan harga paling

Mahal, agar tak kadaluarsa sepanjang zaman

Setengah kilo harapan dan beberapa ikat kepastian

Sudah diskon habis-habisan, kau tahu: ada harga lain yang harus dibayar untuk sebuah kepastian

2024


MENCICIPI PUISI (1)

Setelah menyantap kesepian

Yang menyedihkan

Mencecap pedasnya hidup

Asin kangen dan gurih kenangan

Kau bepikir untuk memasak banyak puisi

Dengan banyak bahan

Majas -majas segar berwarna cerah

Diksi dan irama 

Yang diolah sepenuh hati

Dicampur bumbu-bumbu kemungkinan

Membuat puisi kadang terlalu manis dan matang

Atau masih amis serupa kecemasan

Puisi tetaplah hidangan terbaik

Yang ingin kau berikan

Dengan banyak rasa dan tafsir

Meski kau sadar

Baginya puisi seperti basi dan hambar

Cintamu telah siap saji

Bekasi, 2023


MENCICIPI PUISI (2)

Puisi adalah santapan 

Diksi-diksi kutumis

Di wajan perenungan yang lama

Dapur sedang membakar dirinya

Frasa-frasa matang dikupas kata

Bekas-bekas ingatan yang dilalui

Patah hati, mimpi-mimpi atau kecewa

-Bercampur

Menjadi santapan sedikit asin atau pedas

Kering atau berkuah

Biarkan kenangan menentukan rasanya

Bekasi, 2023


Listio Wulan Nurmutaqin. Kelahiran Brebes yang kini tinggal di Bekasi. Beberapa karyanya terbit di media cetak dan online. Buku puisi antalogi tunggalnya Tokoh Utama (sastranomina). Bergiat di Kelas puisi Bekasi ( KPB ).

Puisi

Puisi Ilham Wahyudi

Duka Lara

Sekiranya ia datang berkunjung

Segera palingkan wajah ke Magribi

Merah suram gelap lakunya itu

Tak elok memaksa kau layuh

Meski boleh jadi limpahan airnya

Obat percuma bagi luluh lantak rimba raya

Ia hakikatnya pandai menjadi petunjuk

Hadiah yang menawan guna perjalanan

Walakin tetap saja kau harus awas

Bilamana muncul serentak berduyun-duyun

Mengurung kau yang lengah rayuan Lilith

Agar semua yang telah pecah-robek

Tak sempat kau jahit lurus kembali

Akasia 11CT


Tirai

Tirai yang terbengkil-bengkil susah payah kau singkap itu senyata luas terpampang di hadapanku. Meskipun belum sepenuhnya terang kumasuki. Akan tetapi hitam putih yang terhampar di sana halus-halus mekar dalam liat merahku. Tentu saja merah yang bebal-teruk dan bukan main litak pada suluk pencariannya. Bagiku, menjadi salik (serupa kau) patut mengajuk jalan yang kau pajang melintang lepang. Karena itu janganlah cemeeh yang kau tonjolkan, sehingga esok kiranya tumbuh menjulang tiada antara kita yang perlu bertukar belas kasihan.

Akasia 11CT


Hijau

Terberkatilah ibumu telur mata sapi pagi; dan ayahmu luas langit tengah hari. Sampai bentala semata indah oleh halus-tebal budi pekerti; indra kami segar-bugar memandangi.

Dari rambutmu yang mahir menyaru, tahukah kau kami belajar mendirikan rencana (kami simpan yang patut dan kami bagi yang layak dibagi). Agar kelak apa yang belum kami maklumi, mudah percuma kami siasati.

Akan tetapi, (oh daging tak tahu diri) terlampau loba kami mencuri perangaimu tinggi agung tak berperi; namun senyata tak putus terus memberi. Sehingga semua rencana tentang akal budi, sekejap tunggang langgang angkat kaki.  

Maka baris-berbaris kami ingin menakluki; semua yang telah sempurna kau masuki. Seraya diam-diam, kami tebas pula urat leher anak-cucumu yang kokoh berdiri (menahan laju limpahan bah).

Sungguh, betapa hijau kini tubuh kami sekadar mahfum cintamu tak kunjung habis menepi. Oleh karena itu, kutuk saja kami segera! Sebelum hijau budi pekerti tandas merasai jatuh ke bumi.

Akasia 11CT  


Kuning

Belerang, bambu, gersing, India, jagung, janur, jenar, kenari, kepodang, limau, loyang, madu, malam, pepaya, pandang semua senang semata mengenakan mantel mahardikamu. Kau acap pula kupergoki berbaring di antara roti sarapan pagi; kadang dalam piring warteg makan siang kami, pun begitu juga kau terampil mahir menyelinap ke Terang Bulan kami yang legit menggigit (lihat, betapa pelit kami berbagi, sedangkan kau tekun rajin memberi).

O, betapa papa kami, sampai-sampai alpa bila namamu pernah pula duduk mesra bersanding dengan moyang bangsa Huaxia yang maju sejahtera. Begitu pula sungai yang jenjang dari pegunungan Tibet tak kuasa menerima kau sebagai nama. Kekallah; abadilah meski riwayatmu tak selalu terbaca mata. Kaukah cahaya yang menjelma terang siang, atau sebatas ilusi pantulan, belaka? 

Akasia 11CT


Merah

Umpama jantung jelita tertawan gelisah

susah payah menanggung derita rindu,

seperti gaun terang wong cilik di pemerintah

tak cukup buas menjaga amanat rakyat

ibarat selimut orok dalam kantung darah

licinlah; lancarlah jalan melewati liang,

serupa tandik lombok Jawa di lidah

amboi; keringat dingin jua nan mengalir,

(tapi bukan jerawat; bukan pula kecup puan,

walau mekar meriah kala tuan hadir bertandang) –

percayalah itu semata laksana,

misal belaka perihal jubah yang terang menyala,

memelompat bersembunyi dalam kata pun bahasa,

supaya terhalau duga sangka ke tepi jurang

tikai selisih yang tak berguna.

Akasia 11CT


Biru

kemari, datanglah segera laut

biar kucelupkan jari-jari pagi

ke alas tubuhmu yang semrawut

kesini, lekas cepatlah langit

agar kugenapkan putih sepi

menjadi corak terang menggigit

tapi, baik-baiklah memantul

supaya lapang-lempang jisimmu

mudah percuma nubuat menukilkan

selendang rambutmu molek di bait puisi

Akasia 11CT


Putih

Jika hatimu semerah apel di kebun Tuan sukacita. Maka putih hatiku laksana awan selepas hujan sore di gubuk duka lara. Kata orang, hati yang merah tampak memesona. Sehingga segenap yang kering pucat betapa kukuh-ingin tampil menyentak. Namun bila kekasih adalah tujuan, maka yang putih akan selalu rela berkorban. Serupa laron terbang menuju pijar terang; biarlah mati asal wajahnya terang terlihat.

Akasia 11CT


Ilham Wahyudi, lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia seorang juru antar makanan di DapurIBU dan seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Puisi-puisinya ada yang ditolak redaksi ada yang dimuat redaksi. Buku kumpulan puisinya “Pertanyaan yang Menyelinap” akan segera terbit.

Puisi

Puis M.Z. Billal

PAGI

Aku berbisik kepada arthur rimbaud ketika

melihat keluarga kecil – tetanggaku – bertengkar lagi

pukul setengah tujuh pagi di beranda. gadis kembar mereka yang baru

belajar berjalan masih sebagai saksi. takut, sendu, dan tidak tahu.

pasangan itu saling menuding; ingin bercerai tepat ketika

angin menggugurkan daun angsana dan mengecup

kuntum-kuntum marigold yang hendak mekar.

mereka baru berhenti saling memaki dan ambil langkah menjauh

ketika aku pura-pura tidak melihat peperangan itu.

terakhir si wanita meneriaki suaminya: aku tidak butuh cintamu lagi!

“cinta adalah kebiasaan, arthur. dan kebiasaan itu tampaknya sudah berakhir di sana.”

2023


JELANG TENGAH HARI; 10.40

Dari jendela lantai 3 perpustakaan ini, aku melihatnya

lagi. jalan sudirman selalu sejuk dipandang. pepohonan seperti

raksasa penjaga. dan langkah kakinya mengirimkan getaran

lembut sampai ke dalam dadaku. empat jam perjalanan sampai ke sini.

aku memasuki semusim di neraka. lalu ia duduk, tersenyum dan membacakan

sepotong puisi asing tiba-tiba di hadapanku.

You  who have suffered, find where love hides.

Give. Share. Lose. Lest we all die unbloomed.

aku tahu ia mencuri Ginsberg. langsung tertawa cekikikan, seperti biasa.

“otakmu adalah perpustakaan. aku penasaran buku apa yang belum selesai kau baca?”

aku tak bisa mengatakannya; bahwa kau adalah buku favoritku yang belum tuntas.

kau halaman-halaman yang tidak bisa kutinggal begitu saja. aku ingin

sukarela terperangkap di dalam ceritamu, selagi ada waktu.

dan saat kau beranjak mengambil buku di rak, aku berbisik lagi

kepada arthur rimbaud.

“cinta adalah deretan buku di rak perpustakaan umum, arthur. dan di sini dua penulis sedang kasmaran.”

2023


MATAHARI PERLAHAN CONDONG KE BARAT

Aku berbisik lagi kepada arthur rimbaud. kali ini sangat serius.

tiga hal penting telah terjadi di sini. dalam waktu berurutan.

pertama, aku melihat bocah pemulung memberikan sebungkus nasi

kepada sepasang manula difabel yang saling setia; si wanita

bisu dan tuli sementara si pria hanya memiliki kaki kiri.

itu terjadi tepat di depan sebuah resto yang menjual makanan asing

lalu seorang pelayan bertampang sinis menyuruh mereka pergi.

kedua, aku melihat jalan kota berubah jadi buntu.

ratusan mahasiswa berarak seperti semut marah

menuju gedung pemerintah daerah sambil berteriak.

api yang membakar ban adalah amuk bisu yang melahap

segalanya. lalu kudengar salah seorang anak muda membaca

sebuah puisi milik Zawawi dengan lantang,

Dubur ayam yang mengeluarkan telur,

lebih mulia dari mulut intelektual yang menjanjikan telur.

ketiga, aku melihat warga pinggiran kota sedang mengamuk

pada sepasang muda mudi  usai tertangkap basah

bercinta di dalam semak dekat rumah ibadah. mereka

tak berkutik. nafsunya tak tersulut lagi seperti sebelumnya.

dan seorang dari mereka berkata keras sambil meludah:

kalau saling cinta jangan membakar diri di sini!

aku paham maksudnya

“cinta mengajarkan kebajikan dan rasa malu, arthur. ia kuat sekali menanggung segala jenis rasa sakit.”

2023


THE BEATLES, WAKTU PETANG

kudengar ia bersenandung; don’t need to be alone

no need to be alone. it’s real love, it’s real… yes, it’s real love, it’s real…

tapi tidak menatapku. lampu-lampu di sepanjang jalan

senja mencumbu matanya yang sipit. aku suka terbenam

di sana. kota ini akan jadi suvenir. tapi ketahuilah, arthur.

ini tidak baik. ini benar-benar tidak baik.

aku akan mengatakan untuk terakhir kali padanya.

“aku sudah sampai pada bagian akhir puisi. ia adalah bagian akhir puisi.”

barangkali kota ini akan gelap. hatiku akan gelap. jiwanya akan gelap.

2023


TOMBOL OFF – DI JALAN PULANG

aku berbisik lagi;

“cinta tidak konservatif, arthur. hidupku yang terikat adat. etnis ini mengalir di tubuhku.”

lalu kutekan tombol off di tubuh arthur rimbaud; alat perekam suaraku yang puitis dan setia.

mungkin tak akan pernah kunyalakan lagi.

2023


M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Bukubukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital serta sejumlah antologi nasional.