Film, Resensi

Antara Luka, Algoritma, dan Kebencian

Oleh: T.H. Hari Sucahyo

Judul               : Inside the Manosphere 

Produser          : Louis Theroux

Tema utama     : Dinamika komunitas “manosphere”, maskulinitas modern, relasi gender, dan pengaruh media digital

Tahun rilis       : 2024

Tahun tayang  : 2026

Pemeran          : Anggota komunitas manosphere, akademisi, jurnalis, dan pengamat sosial

Film dokumenter Inside the Manosphere menghadirkan potret yang tajam sekaligus menggelisahkan tentang sebuah ekosistem digital yang selama ini sering luput dari perhatian publik luas, tetapi memiliki dampak sosial yang nyata. Disutradarai dengan pendekatan observasional yang kuat, film ini membawa penonton menyelami dunia “manosphere”; sebuah istilah yang merujuk pada komunitas online yang berisi berbagai kelompok pria dengan pandangan tertentu tentang maskulinitas, hubungan, dan posisi laki-laki dalam masyarakat modern.

Alih-alih sekadar menjadi tontonan sensasional, film ini berusaha memahami, mengurai, dan sekaligus mengkritisi dinamika yang berkembang di dalamnya. Sejak awal, film dokumenter ini tidak langsung menghakimi. Narasinya dibangun perlahan, dimulai dari pengenalan tentang bagaimana komunitas ini terbentuk dan berkembang di ruang digital. Penonton diperlihatkan forum-forum, kanal video, hingga ruang diskusi anonim yang menjadi tempat berkumpulnya individu dengan keresahan yang beragam.

Ada yang merasa terpinggirkan secara sosial, ada yang kecewa dalam relasi personal, dan ada pula yang mencari identitas diri di tengah perubahan norma gender yang semakin kompleks. Film ini dengan cermat menunjukkan bahwa di balik label kontroversial tersebut, terdapat manusia dengan latar belakang yang tidak seragam. Kekuatan utama film ini terletak pada cara ia memberi ruang bagi berbagai suara.

Beberapa tokoh yang diwawancarai diberi kesempatan untuk menjelaskan pandangan mereka tanpa interupsi yang berlebihan. Mereka berbicara tentang pengalaman pribadi, kegagalan, hingga rasa frustrasi yang kemudian membentuk cara pandang mereka terhadap dunia. Pendekatan ini membuat film terasa lebih jujur, meskipun di saat yang sama juga memunculkan ketegangan bagi penonton yang mungkin tidak sepakat dengan pandangan yang disampaikan.

Di sinilah letak keberanian film ini: ia tidak menyederhanakan persoalan menjadi hitam-putih. Namun, Inside the Manosphere tidak berhenti pada tahap eksplorasi. Secara perlahan, film ini mulai mengungkap sisi gelap dari komunitas tersebut. Beberapa bagian menyoroti bagaimana narasi tertentu dapat berkembang menjadi bentuk kebencian, terutama terhadap perempuan. Retorika yang awalnya berangkat dari pengalaman pribadi kemudian berkembang menjadi generalisasi yang berbahaya.

Film ini memperlihatkan bagaimana algoritma media sosial turut berperan dalam memperkuat echo chamber, sehingga pandangan ekstrem menjadi semakin sulit untuk ditantang dari dalam. Salah satu momen paling kuat dalam film ini adalah ketika narasi personal bertabrakan dengan realitas sosial yang lebih luas.

Ada adegan di mana seorang narasumber menceritakan perasaannya yang terisolasi, lalu dipotong dengan analisis dari ahli yang menjelaskan bagaimana perasaan tersebut dapat dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk menyebarkan ideologi yang lebih radikal. Kontras ini menciptakan efek yang menggugah: penonton diajak untuk melihat bahwa persoalan ini bukan hanya tentang individu, tetapi juga tentang sistem yang memungkinkan ide-ide tersebut berkembang.

Dari segi sinematografi, film ini menggunakan gaya yang sederhana namun efektif. Banyak adegan diambil dari layar komputer, rekaman percakapan online, dan dokumentasi kehidupan sehari-hari para narasumber. Pendekatan ini memberikan kesan autentik, seolah penonton benar-benar masuk ke dalam ruang privat yang selama ini tersembunyi.

Tidak ada dramatisasi berlebihan; justru kesederhanaan visual inilah yang membuat pesan film terasa lebih kuat. Musik latar yang digunakan juga minimalis, berfungsi sebagai penguat suasana tanpa mendominasi emosi penonton. Selain itu, struktur naratif film ini patut diapresiasi. Alih-alih mengikuti alur linear yang kaku, film ini bergerak secara tematik.

Setiap bagian membahas aspek berbeda dari manosphere, mulai dari asal-usul, dinamika internal, hingga dampaknya terhadap dunia nyata. Perpindahan antar segmen dilakukan dengan halus, sehingga meskipun topiknya kompleks, penonton tetap dapat mengikuti alur pemikiran yang dibangun. Penyuntingan yang rapi membantu menjaga ritme film agar tidak terasa membosankan.

Yang menarik, film ini juga menghadirkan perspektif dari pihak luar komunitas, termasuk akademisi, jurnalis, dan aktivis. Kehadiran mereka memberikan konteks yang lebih luas, sekaligus menjadi penyeimbang terhadap narasi dari dalam komunitas. Mereka membahas fenomena ini dari sudut pandang sosial, psikologis, hingga politik.

Diskusi ini memperkaya pemahaman penonton, sekaligus menegaskan bahwa fenomena manosphere tidak bisa dilepaskan dari perubahan sosial yang lebih besar, seperti pergeseran peran gender dan krisis identitas di era modern. Meski demikian, film ini tidak sepenuhnya bebas dari kekurangan.

Dalam beberapa bagian, penjelasan yang diberikan terasa terlalu padat, sehingga berpotensi membuat penonton kewalahan. Ada juga momen di mana film seolah ingin menyampaikan terlalu banyak hal sekaligus, sehingga fokusnya sedikit terpecah. Beberapa penonton mungkin juga merasa bahwa film ini kurang memberikan solusi konkret, karena lebih banyak berfungsi sebagai refleksi daripada panduan.

Kendati demikian, kekurangan tersebut tidak mengurangi nilai penting film ini secara keseluruhan. Justru, ketidaklengkapan jawaban yang ditawarkan menjadi kekuatan tersendiri, karena mendorong penonton untuk berpikir lebih jauh. Film ini tidak memaksa kesimpulan, melainkan membuka ruang diskusi. Dalam konteks isu yang kompleks seperti ini, pendekatan tersebut terasa lebih relevan dibandingkan penyederhanaan yang berlebihan.

Salah satu aspek yang patut dicatat adalah bagaimana film ini memperlakukan empati. Di satu sisi, ia berusaha memahami individu-individu di dalam komunitas tersebut tanpa menghakimi secara langsung. Di sisi lain, ia tetap tegas dalam mengkritisi ide-ide yang berpotensi merugikan orang lain. Keseimbangan ini tidak mudah dicapai, tetapi film ini berhasil melakukannya dengan cukup baik. Penonton diajak untuk melihat manusia di balik ideologi, tanpa harus menerima ideologi tersebut.

Dampak emosional film ini juga cukup kuat. Ada rasa tidak nyaman yang sengaja dibiarkan mengendap, terutama ketika penonton menyadari bahwa fenomena yang ditampilkan bukanlah sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Internet, yang selama ini dianggap sebagai ruang bebas, ternyata juga dapat menjadi tempat berkembangnya ide-ide yang problematis. Film ini mengingatkan bahwa apa yang terjadi di dunia digital memiliki konsekuensi nyata di dunia fisik.

Secara keseluruhan, Inside the Manosphere adalah dokumenter yang penting dan relevan dengan kondisi sosial saat ini. Ia berhasil mengangkat topik yang sensitif dengan pendekatan yang cermat dan seimbang. Film ini tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga mengajak penonton untuk merenung tentang hubungan antara teknologi, identitas, dan dinamika sosial. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, film ini layak menjadi bahan diskusi, baik di kalangan akademisi maupun masyarakat umum.

Kekuatan terbesar film ini terletak pada kemampuannya untuk membuka percakapan. Ia tidak menawarkan jawaban yang mudah, tetapi justru mengajak penonton untuk bertanya: bagaimana kita memahami perubahan yang terjadi di sekitar kita? Bagaimana kita merespons perasaan keterasingan yang dialami sebagian orang tanpa membiarkannya berkembang menjadi kebencian? Dan yang tidak kalah penting, bagaimana kita menciptakan ruang dialog yang lebih sehat di tengah perbedaan pandangan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak langsung terjawab setelah menonton film ini, tetapi justru di situlah nilai utamanya. Inside the Manosphere bukan sekadar film yang ditonton lalu dilupakan, melainkan pengalaman yang memicu refleksi jangka panjang. Ia menantang penonton untuk tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga bagian dari solusi.

____________________

T.H. Hari Sucahyo. Penikmat Film Layar Kaca dan Layar Lebar.  Pegiat di Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae”

Buku, Resensi

Mengintip Luka-Luka di Sekitar Kita

Oleh Yuditeha

Judul Buku : Petaka, Kenangan, dan Cerita Lain

Penulis : Kelas Menulis Intensif Klub Buku Suakata 2025

Penerbit : Penerbit Meja Tamu

Cetakan : Januari 2026

Halaman : x+106 hlm, 14×20 cm

ISBN : 978-623-854-290-1

Ada sesuatu yang menarik ketika sebelas orang menulis cerita dari ruang yang sama, kelas menulis, tetapi menghasilkan sebelas arah kegelisahan yang berbeda. Antologi Petaka, Kenangan, dan Cerita Lain (Penerbit Meja Tamu, Januari 2026) seperti kumpulan serpihan kaca, yang masing-masing kecil tetapi jika dikumpulkan ia memantulkan wajah masyarakat dengan cukup jujur, bahkan agak menyakitkan. Yang terasa sejak awal, buku ini memang berupaya untuk jujur. Dan kejujuran dalam sastra sering kali memang tidak nyaman.

Cerpen pembuka Petaka Sarung karya Melati Puspita Febriyanti memotret salah satu ritual paling lazim dalam dunia remaja lelaki, solidaritas palsu yang sering lahir dari ejekan. Evan adalah tipe anak yang mudah ditemukan di banyak sekolah, tidak cukup kuat untuk dihormati, tidak cukup berani untuk melawan, sehingga menjadi sasaran empuk humor yang sebenarnya kejam. Melati tidak menggurui pembaca tentang tawuran remaja. Ia hanya memperlihatkan bagaimana solidaritas sering muncul setelah kematian, ketika penyesalan sudah tidak punya guna. Yang terasa pahit justru sikap teman-teman Evan yang tiba-tiba berubah menjadi pahlawan setelah Devan mati. Dalam cerpen ini, tawuran bukan lagi soal keberanian, melainkan soal bagaimana rasa bersalah kolektif mencari kambing hitam baru. Evan akhirnya bukan sekadar korban polisi, tetapi korban dari kebutuhan orang lain untuk merasa berani.

Cerpen kedua, Dia Tidak Lagi Melenggok karya Angelina Regina Wawo, terasa seperti pisau yang diarahkan pada maskulinitas yang rapuh. Tokoh Wiryo ingin membuktikan dirinya laki-laki tangguh melalui anaknya, Wiro. Masalahnya sederhana sekaligus tragis: Wiro tidak tertarik menjadi lelaki versi ayahnya. Di tangan Angelina, konflik ini tidak ditulis sebagai drama keluarga biasa, tetapi sebagai warisan trauma. Ada masa lalu yang diam-diam mengendap dalam diri Wiryo, sebuah pengalaman yang membuatnya merasa harus terus membuktikan dirinya lelaki sejati. Cerpen ini seperti mengingatkan bahwa sebagian besar kekerasan terhadap identitas sebenarnya lahir dari rasa takut yang tidak pernah diakui. Wiryo bukan sekadar ayah yang keras; ia adalah lelaki yang sepanjang hidup berusaha melarikan diri dari bayangannya sendiri.

Tema benturan individu dan sistem muncul dalam Anak dari Pabrik dan Sungai karya Farah Iqlillah Arifri. Sungai Brantas dalam cerita ini bukan hanya sungai; ia adalah ingatan masa kecil yang pelan-pelan berubah menjadi limbah. Jojo pulang dengan idealisme yang masih bersih, tetapi desa sudah belajar cara lain untuk bertahan hidup: diam. Yang membuat cerpen ini menarik bukan aksi protes Jojo, melainkan kesunyian yang mengelilinginya. Orang-orang tahu sungai itu rusak, tetapi mereka juga tahu dapur harus tetap menyala. Farah menulis konflik klasik pembangunan: siapa sebenarnya yang berhak marah ketika kerusakan lingkungan juga memberi makan banyak keluarga? Di sini, keberanian Jojo terasa heroik sekaligus naif, dan justru di situlah daya pukul cerpen ini.

Rosul Jaya Raya dalam Kemarin, memilih teknik yang cukup berisiko, menggunakan sudut pandang orang kedua, kamu. Teknik ini menciptakan jarak yang aneh sekaligus intim. Pembaca seolah didorong masuk ke dalam kepala seorang lelaki yang hidupnya diatur oleh keputusan orang lain, ibunya, pekerjaannya, bahkan rasa penyesalannya sendiri. Cerpen ini menguliti satu hal yang sering tidak dibicarakan: bagaimana stabilitas hidup kadang dibayar dengan kematian mimpi. Tokoh kamu akhirnya mendapatkan hidup yang mapan, tetapi kehilangan sesuatu yang tidak pernah bisa dibeli kembali, kemungkinan. Rosul tampaknya ingin mengatakan bahwa kegilaan tidak selalu datang dari kekacauan; kadang ia tumbuh dari hidup yang terlalu mulus.

Nada satir mulai terasa kuat dalam Seperti Bermain Catur karya Satria A. Ramadhan. Cerpen ini memotret ambisi politik tingkat desa dengan cara yang hampir komikal. Hamzah percaya bahwa jabatan kepala desa bisa diraih seperti langkah catur, cukup dengan strategi dan sedikit bantuan supranatural. Satria tampaknya sedang menertawakan kebiasaan lama dalam politik lokal: keyakinan bahwa kekuasaan bisa dinegosiasikan dengan dunia gaib. Pertemuan Hamzah dengan Mbah Kholik menjadi semacam alegori tentang cara orang mencari jalan pintas menuju kekuasaan. Ironinya, ketika Hamzah kalah, ia masih menyalahkan dukun, bukan dirinya sendiri. Di sinilah cerpen ini terasa tajam: kegagalan tidak pernah benar-benar mengajarkan sesuatu kepada orang yang terlalu yakin dirinya pantas menang.

Sementara itu, Akhmad Gerrard Efrad dalam Sehari Bersama Burna, menulis cerita yang terasa sangat kontemporer: kegagalan ekonomi anak muda. Alif bukan kriminal besar; ia hanya seseorang yang salah memperhitungkan masa depan. Utang yang membesar membuatnya hidup dalam ketakutan yang hampir absurd. Gerrard berhasil membangun suasana psikologis yang membuat pembaca merasa bahwa utang bukan hanya angka, melainkan tekanan yang terus menempel di kepala seseorang. Yang menarik, tokoh Pak Burna tidak digambarkan sekadar antagonis. Ia lebih mirip simbol dari sistem yang dingin, utang harus dibayar, apa pun keadaan manusianya.

Ketika sampai pada cerpen ketujuh, nada antologi ini berubah sedikit lebih kontemplatif, bahkan agak surealis. Gerundelan Patung Gajah karya M. Alvin Sanah adalah cerita yang diam-diam menguji kesabaran pembaca. Tokoh aku dalam cerpen ini bukan manusia, melainkan sebuah patung gajah di taman kota. Pilihan perspektif ini bisa saja jatuh menjadi gimmick semata, tetapi Alvin memanfaatkannya untuk berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam, nasib benda-benda yang pernah diagungkan lalu dilupakan. Patung gajah itu pada mulanya menjadi simbol kebanggaan, lalu pelan-pelan berubah menjadi latar yang tak lagi diperhatikan. Cerita ini terasa seperti sindiran halus terhadap cara masyarakat memperlakukan simbol-simbol publik. Kita gemar meresmikan sesuatu, memotretnya, memujinya, lalu meninggalkannya ketika hal baru datang. Yang menarik, hubungan antara patung itu dan seorang gadis kecil menghadirkan dimensi lain, ingatan ternyata bisa menjadi jembatan yang lebih kuat daripada waktu. Di sini Alvin tampaknya sedang berkata bahwa sesuatu baru benar-benar mati ketika tidak ada lagi yang mengingatnya.

Dalam Ra Sa Ma, Allan Edpe menulis cerita keluarga yang diam-diam menyimpan perlawanan kecil. Nama, dalam cerpen ini, bukan sekadar penanda identitas; ia menjadi medan konflik. Tradisi keluarga yang mengharuskan awalan nama tertentu, Ra, Sa, atau Ma, pada awalnya terlihat sebagai hal remeh. Namun Allan memperlihatkan bagaimana aturan kecil dalam keluarga bisa menjadi bentuk kontrol yang sangat kuat. Ketika Ratih menamai anaknya dengan awalan yang berbeda, itu bukan sekadar pilihan nama. Itu adalah bentuk protes yang sunyi tetapi tajam terhadap sejarah hidupnya sendiri. Cerpen ini menarik karena tidak menampilkan pemberontakan yang dramatis. Ratih tidak berteriak, tidak melawan secara terbuka. Ia hanya memilih sebuah huruf. Dan huruf itu ternyata cukup untuk mengganggu tradisi yang selama ini dianggap tak tergoyahkan. Dalam kesederhanaannya, cerpen ini mengingatkan bahwa perlawanan tidak selalu harus besar; kadang ia cukup berupa keputusan kecil yang sengaja tidak mengikuti aturan lama.

Cerpen kesembilan, Perihal Dua Orang Asing karya Abu Wafa, membawa pembaca ke dunia rumor desa yang sering kali lebih kuat daripada fakta. Cerita ini bergerak dari kabar kecil tentang pembangunan jembatan layang yang kemudian berkembang menjadi kegaduhan kolektif. Yang menarik di sini bukan soal pembangunan itu sendiri, melainkan bagaimana warga memproduksi kepanikan mereka sendiri. Tokoh Pak Darkam menjadi contoh figur yang sering muncul dalam dinamika sosial: seseorang yang merasa mewakili suara rakyat, padahal sebenarnya sedang memanfaatkan kegelisahan orang lain. Abu Wafa menulis dengan cara yang cerdik; ia tidak secara langsung menghakimi siapa yang benar atau salah. Namun pada akhir cerita, pembaca disodori momen yang menggelitik sekaligus sinis: seseorang yang paling lantang bicara justru dengan mudah diarahkan menuju masalah hukum. Cerpen ini terasa seperti komentar kecil tentang politik lokal, tentang bagaimana suara rakyat sering kali hanya menjadi alat bagi ambisi individu.

Nada tragis kembali muncul dalam Ibu Muda karya Mufa Rizal. Cerpen ini menyingkap realitas yang sering disembunyikan di balik statistik: kehamilan remaja. Mufa tidak menulisnya dengan gaya sentimental; ia memilih pendekatan yang hampir dingin. Ratri digambarkan sebagai gadis yang mencoba memahami tubuhnya sendiri dalam situasi yang tidak pernah ia bayangkan. Ketika ia berusaha menggugurkan kandungan, atau memaksa tubuhnya melakukan sesuatu yang tidak diinginkan, pembaca tidak diajak untuk menghakimi. Justru di situlah kekuatan cerpen ini: ia memaksa kita melihat bagaimana kepanikan seorang remaja bisa berubah menjadi keputusan-keputusan yang sangat berbahaya. Cerpen ini terasa menohok karena tidak menyalahkan siapa pun secara eksplisit, tetapi meninggalkan pertanyaan besar tentang sistem sosial yang membuat seorang gadis harus menghadapi peristiwa sebesar itu sendirian.

Cerpen terakhir, Kenangan di Balongcangkring karya AH Baskoro, menutup antologi ini dengan nada yang paling muram sekaligus paling puitis. Tokoh Nadia adalah perempuan yang hidup di ruang yang sering dianggap gelap oleh masyarakat: lokalisasi. Namun Baskoro tidak menulisnya sebagai kisah moralitas. Ia justru menempatkan Nadia sebagai seseorang yang memiliki kenangan, harapan, dan luka yang sangat manusiawi. Balongcangkring dalam cerita ini lebih dari sekadar tempat, ia menjadi lanskap kehidupan yang penuh janji kosong. Sosok Indra, pejabat yang rajin memberi harapan tanpa pernah menepatinya, terasa seperti simbol kekuasaan yang gemar menjanjikan penyelamatan tetapi selalu menunda realisasinya. Bagian mimpi Nadia, tentang rawa tempat tubuh-tubuh perempuan muncul tanpa rasa malu, memberi sentuhan surealis yang menarik. Seolah-olah dalam mimpi itulah perempuan-perempuan itu akhirnya bebas dari penilaian dunia luar.

Jika ditarik satu langkah ke belakang, sebelas cerpen dalam buku ini sebenarnya sedang berbicara tentang hal yang sama, kekuasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Kekuasaan teman sebaya yang mendorong seseorang ikut tawuran. Kekuasaan seorang ayah terhadap identitas anaknya. Kekuasaan industri terhadap sungai. Kekuasaan tradisi terhadap nama. Kekuasaan utang terhadap kebebasan hidup. Kekuasaan rumor terhadap warga desa. Kekuasaan moral masyarakat terhadap tubuh perempuan. Yang menarik, sebagian besar kekuasaan itu tidak muncul sebagai sesuatu yang besar dan spektakuler. Ia justru hadir dalam bentuk yang sangat biasa: ejekan, tradisi keluarga, janji politik, atau bahkan diamnya orang-orang di sekitar kita.

Dalam konteks itu, judul antologi ini terasa cukup tepat, petaka dan kenangan. Petaka tidak selalu datang sebagai tragedi besar, kadang ia lahir dari keputusan kecil yang terus dibiarkan. Sedangkan kenangan, baik atau buruk, sering menjadi satu-satunya cara manusia memahami apa yang sudah terjadi.

Yang membuat buku ini menarik bukan karena semua cerpennya memikat. Justru sebaliknya. Ada bagian-bagian yang terasa masih mentah, ada ide yang bisa digali lebih dalam. Namun di situlah daya tariknya sebagai karya yang lahir dari kelas menulis. Kita bisa melihat bagaimana sebelas penulis mencoba memotret dunia dari sudut pandang mereka masing-masing. Dari sebelas sudut pandang itu muncul satu kesan yang sulit diabaikan: masyarakat kita tampaknya penuh dengan cerita yang tampak kecil, tetapi menyimpan luka yang tidak kecil sama sekali.

Buku ini, dengan cara yang sederhana, mengingatkan kita bahwa sastra kadang tidak perlu mencari tragedi jauh-jauh. Ia cukup membuka jendela rumah, mendengarkan percakapan tetangga, lalu menuliskannya dengan jujur. Karena sering kali, luka-luka memang tinggal di dekat kita.***

Yuditeha

Penulis yang tinggal di Karanganyar.

Film, Resensi

Elegi di Balik Jendela: Saat Kehilangan Menjadi Bahasa Cinta yang Baru

Oleh: T.H. Hari Sucahyo

Judul Film: Hamnet

Tahun Rilis: 2025

Sutradara: Chloé Zhao

Penulis Skenario: Chloé Zhao (adaptasi dari novel Hamnet karya Maggie O’Farrell)

Produser: Sam Mendes, Pippa Harris, Steven Spielberg, Liza Marshall, Nicolas Gonda  

Pemeran Utama: Paul Mescal sebagai William Shakespeare, Jessie Buckley sebagai Agnes Hathaway

Durasi: ± 130 menit

Rumah Produksi: Amblin Partners

Film Hamnet (2025) hadir sebagai pengalaman sinematik yang lebih dekat dengan perenungan daripada tontonan konvensional. Ia tidak bergerak cepat, tidak mengejar klimaks demi klimaks, dan tidak menawarkan jawaban yang gamblang. Sebaliknya, film ini mengajak penonton untuk berjalan perlahan menyusuri ruang-ruang batin yang dipenuhi cinta, kehilangan, dan pencarian makna melalui seni. Terinspirasi dari novel Maggie O’Farrell, Hamnet tidak sekadar mengisahkan tragedi kematian seorang anak, tetapi menjadikannya poros emosional yang menggerakkan refleksi tentang bagaimana manusia bertahan setelah kehilangan yang paling sunyi dan paling menyayat.

Sejak awal, film ini menempatkan cinta sebagai sesuatu yang rapuh namun mengakar kuat. Cinta dalam Hamnet bukanlah cinta yang meledak-ledak atau romantis dalam pengertian populer, melainkan cinta domestik yang tumbuh dari keseharian: tatapan yang saling memahami, kebiasaan-kebiasaan kecil yang tampak sepele, dan kehadiran yang sering baru terasa ketika ia lenyap. Hubungan antara suami dan istri digambarkan sebagai dua jiwa yang saling terikat namun juga terpisah oleh dunia batin masing-masing. Ada kedekatan, tetapi juga jarak; ada kehangatan, tetapi juga kesunyian yang tak terucap. Film ini dengan lembut menunjukkan bahwa cinta tidak selalu berarti kebersamaan yang utuh, melainkan kesediaan untuk hidup berdampingan dengan ketidaksempurnaan dan keterpisahan.

Kematian hadir sebagai bayang-bayang yang tak pernah benar-benar pergi. Ia tidak datang dengan teriakan dramatis atau visual yang mengejutkan, melainkan merayap perlahan, hampir tak disadari, hingga akhirnya menetap sebagai kekosongan yang permanen. Ketika kehilangan itu terjadi, film ini tidak tergesa-gesa menggambarkan ledakan emosi. Tidak ada ratapan berlebihan atau musik yang memaksa penonton untuk menangis. Yang ada justru keheningan panjang, jeda-jeda yang terasa canggung, dan ruang kosong yang membuat penonton ikut merasakan kebisuan batin para tokohnya. Dalam keheningan itulah, kematian menjadi sangat nyata: bukan sebagai peristiwa tunggal, melainkan sebagai kondisi yang terus hidup bersama mereka yang ditinggalkan.

Yang membuat Hamnet terasa istimewa adalah caranya memperlakukan duka sebagai pengalaman yang personal dan tak terstandarkan. Setiap tokoh memikul kehilangan dengan cara yang berbeda. Ada yang menutup diri, ada yang mencari pelarian, ada pula yang mencoba menamai rasa sakitnya melalui bahasa dan imajinasi. Film ini tidak menghakimi cara-cara tersebut, tidak pula memaksakan satu bentuk penyembuhan yang dianggap benar. Duka digambarkan sebagai proses yang berlapis, kadang bergerak maju, kadang kembali mundur, dan sering kali terjebak di tempat yang sama. Penonton diajak memahami bahwa kehilangan tidak pernah benar-benar selesai; ia hanya berubah bentuk.

Di titik inilah seni masuk sebagai jembatan antara cinta dan kematian. Hamnet memandang seni bukan sebagai hiburan, melainkan sebagai kebutuhan eksistensial. Seni hadir sebagai cara manusia memberi makna pada penderitaan yang tak terjelaskan. Dalam film ini, proses kreatif digambarkan sebagai pergulatan batin yang panjang dan melelahkan, bukan sebagai ledakan inspirasi yang romantis. Kata-kata lahir dari kesunyian, dari rasa bersalah, dari kerinduan yang tak menemukan alamat. Seni menjadi ruang di mana kehilangan diolah, diputar ulang, dan diberi bentuk, agar dapat ditanggung.

Film ini juga jujur menunjukkan ambiguitas seni. Di satu sisi, seni menawarkan pelipur lara dan kemungkinan keabadian. Di sisi lain, ia menuntut pengorbanan: waktu, perhatian, bahkan hubungan dengan orang-orang terdekat. Ada ketegangan halus antara dorongan untuk mencipta dan kebutuhan untuk hadir bagi keluarga yang terluka. Hamnet tidak memihak secara sederhana. Ia tidak mengagungkan seniman sebagai pahlawan, tetapi juga tidak menuduh seni sebagai bentuk pelarian egois. Ketegangan itu dibiarkan menggantung, seperti pertanyaan yang tidak memiliki jawaban tunggal.

Secara visual, film ini memilih pendekatan yang kontemplatif. Kamera sering bertahan lebih lama dari yang diharapkan, seolah memberi ruang bagi penonton untuk bernapas dan merasakan. Lanskap alam, cahaya yang masuk melalui jendela, dan detail-detail kecil kehidupan sehari-hari ditampilkan dengan perhatian yang hampir meditatif. Semua itu membangun suasana yang intim, sekaligus menegaskan hubungan antara manusia dan dunia di sekitarnya. Alam tidak digambarkan sebagai latar pasif, melainkan sebagai saksi bisu atas cinta dan kehilangan yang terjadi di dalam rumah-rumah manusia.

Ritme film yang lambat mungkin menjadi tantangan bagi sebagian penonton. Hamnet menuntut kesabaran dan keterlibatan emosional yang aktif. Ia tidak memberi pegangan naratif yang kuat dalam bentuk konflik eksternal yang jelas. Sebaliknya, konflik utama berlangsung di dalam diri para tokohnya. Namun, justru di situlah kekuatan film ini. Dengan menolak kemudahan dramatik, Hamnet memberi ruang bagi pengalaman menonton yang lebih reflektif, di mana penonton diajak untuk berdiam, merenung, dan mungkin mengaitkan kisah di layar dengan kehilangan mereka sendiri.

Narasi film ini terasa seperti aliran ingatan, tidak selalu linear, kadang meloncat dari satu momen ke momen lain dengan logika emosional, bukan kronologis. Pilihan ini memperkuat kesan bahwa duka dan cinta bekerja dengan cara yang tidak teratur. Masa lalu dan masa kini saling tumpang tindih, kenangan hadir tiba-tiba, dan waktu kehilangan batas yang jelas. Film ini seolah berkata bahwa setelah kehilangan besar, hidup tidak lagi berjalan lurus; ia berputar, berkelok, dan sering kembali ke titik-titik yang sama.

Yang menarik, Hamnet juga memberi ruang besar pada perspektif perempuan dan pengalaman domestik yang sering terpinggirkan dalam narasi besar tentang seni dan kejeniusan. Kehidupan rumah tangga, kerja-kerja perawatan, dan pengetahuan intuitif tentang alam dan tubuh tidak diposisikan sebagai latar belakang semata, melainkan sebagai pusat pengalaman manusia. Film ini dengan halus menantang anggapan bahwa seni besar lahir dari ruang yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa justru dari dapur, kebun, dan kamar tidur, lahir pemahaman paling mendalam tentang cinta dan kehilangan.

Emosi dalam Hamnet tidak pernah dipaksakan. Banyak momen penting disampaikan melalui gestur kecil: tangan yang ragu-ragu, tatapan yang menghindar, napas yang tertahan. Dialog digunakan dengan hemat, memberi kesempatan bagi bahasa tubuh dan suasana untuk berbicara. Pendekatan ini membuat emosi terasa lebih jujur dan dekat. Penonton tidak diberi tahu apa yang harus dirasakan; mereka diajak untuk merasakannya sendiri.

Sebagai resensi, sulit untuk menilai Hamnet hanya dari aspek teknis atau alur cerita. Kekuatan film ini terletak pada resonansi emosionalnya, pada kemampuannya untuk tinggal bersama penonton bahkan setelah layar menjadi gelap. Ia mungkin tidak akan diingat karena plotnya yang rumit atau twist yang mengejutkan, tetapi karena suasana dan pertanyaan-pertanyaan yang ditinggalkannya. Pertanyaan tentang bagaimana kita mencintai, bagaimana kita menghadapi kematian, dan bagaimana kita menggunakan seni untuk bertahan hidup.

Hamnet adalah film tentang ketidakhadiran: tentang anak yang hilang, tentang kata-kata yang tak terucap, tentang jarak yang tumbuh di antara orang-orang yang saling mencintai. Namun, dari ketidakhadiran itu, film ini justru menemukan bentuk kehadiran yang lain. Kehadiran ingatan, kehadiran rasa sakit, dan kehadiran seni sebagai upaya manusia untuk memberi makna pada apa yang tak dapat diubah. Ia mengingatkan kita bahwa cinta tidak berhenti ketika kematian datang, dan bahwa seni, meskipun lahir dari luka, dapat menjadi cara untuk terus berbicara dengan mereka yang telah pergi.

Dengan pendekatan yang lembut, puitis, dan penuh empati, Hamnet (2025) menempatkan dirinya sebagai film yang tidak hanya ingin ditonton, tetapi juga dirasakan. Ia bukan film yang akan memuaskan semua orang, terutama mereka yang mencari hiburan cepat dan jawaban tegas. Namun bagi penonton yang bersedia meluangkan waktu dan hati, Hamnet menawarkan pengalaman sinematik yang jarang: sebuah perenungan mendalam tentang cinta, kematian, dan seni, yang terjalin dalam keheningan, dan justru karena itu, terasa begitu manusiawi.

_______________________

T.H. Hari Sucahyo. Penikmat Film Layar Kaca dan Layar Lebar.  Pegiat di Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae”

Film, Resensi

Sunyi yang Tak Dianggap Penting

Oleh Yuditeha

“Hidup hanya menunda kekalahan”

—Chairil Anwar, Derai-Derai Cemara

Kalau film Indonesia diundang ke pesta, Siti (2014) barangkali hanya berdiri di belakang tanpa alas kaki. Tak gemerlap, tak mengenal siapa pun, dan tak diajak menari. Padahal ia membawa sesuatu yang lebih langka dari gaun malam, yaitu kejujuran.

Film Eddie Cahyono ini seperti hujan kecil di atas seng tua: pelan, sunyi, tapi bila didengar baik-baik, menyisakan gema. Seperti suara Siti sendiri, tak pernah berteriak, namun justru membekas.

Siti adalah ibu muda di pantai selatan Jawa, bukan pantai eksotis yang dipamerkan brosur wisata, melainkan pantai keras dengan angin tajam. Suaminya lumpuh, jualan keripik seret, dan hidup harus terus diraut agar bisa ditanak. Siti tak menuntut simpati. Ia bekerja, merawat, dan diam-diam bernegosiasi dengan malam.

Difilmkan hitam-putih, Siti tidak menjual gaya, tapi menegaskan sesuatu yang kini terasa asing: kejujuran. Karena itulah ia terasa seperti kesalahan di tengah dunia yang sibuk memoles segalanya jadi cantik dan gaduh.

Film ini tidak mengajak kita masuk lewat pintu drama besar. Ia mengantar kita ke ruang yang lebih akrab: rumah kecil itu, dan perempuan di dalamnya. Siti bukan pahlawan, dan memang tak perlu. Hidup tak selalu butuh pahlawan. Kadang hanya butuh seseorang yang tetap bangun pagi, mengurus anak, mengisi termos, lalu menyusuri hari dengan doa yang sudah kering. Ia perempuan biasa, dan justru di sanalah kekuatannya.

Tidak ada drama meledak-ledak atau air mata yang disorot. Yang ada justru keheningan. Dan dari sanalah suara paling keras keluar. Ketegangan dalam Siti tidak terletak pada ledakan, melainkan pada retakan. Ketika Siti berbicara pada suaminya yang diam seperti batu. Ketika ia tenang di depan anak, sementara kita tahu hatinya sedang mengiris sendiri. Ketegangan semacam ini akrab dengan kehidupan kita. Kita hidup dalam budaya resah yang enggan menyatakan. Kita memendam, berharap masalah lelah sendiri. Siti adalah potret dari kebiasaan itu.

Ia menghadapi ekonomi yang menekan, suami yang tak komunikatif, anak kecil yang tak paham, serta pekerjaan malam yang rawan digunjingkan. Tapi tak sekali pun ia meledak. Bahkan ketika seorang polisi mendekatinya, ia tidak langsung menyerah, juga tidak menolak mentah-mentah. Ia bimbang, dan itu manusiawi. Betapa jarangnya sinema kita merayakan kebimbangan sebagai bentuk keberanian, padahal hidup kita penuh ragu.

Soal ekonomi dan kehormatan menjadi ironi paling tajam. Siti bekerja malam demi membayar utang. Ia mungkin dicap murahan. Tapi siapa yang bertanya biaya sekolah anaknya? Kita suka menilai perempuan dari caranya mencari uang, bukan dari alasan mengapa ia terpaksa melakukannya. Pertanyaan sederhana pun muncul: siapa sebenarnya yang murahan?

Siti tidak menjawabnya dengan dialog. Jawabannya hadir lewat adegan sunyi yang dibiarkan panjang. Kamera statis seperti menuntut kita menatap kenyataan tanpa permen visual. Ini kehidupan yang jika ditonton tergesa, akan dianggap membosankan. Tapi jika diberi waktu, ia menyilet pelan.

Salah satu adegan paling mengiris adalah saat Siti duduk di pinggir ranjang suaminya. Ia mencoba bicara. Suaminya diam. Tak ada dialog, hanya desis angin. Di sana berkumpul kelelahan, penyesalan, cinta yang mulai basi tapi belum bisa dibuang. Adegan ini bukan sekadar personal, melainkan metafora relasi sosial kita: saling tahu ada yang retak, tapi memilih diam.

Kita hidup dalam masyarakat yang tahu banyak hal tidak beres, tapi tetap berpura-pura baik-baik saja. Kita tahu negara sering abai, tapi memilih menunduk. Kita sibuk mengurus gosip sambil membiarkan kebijakan pincang. Kita seperti Siti, tahu sedang terseret ombak, tapi duduk di pantai berharap air surut sendiri.

Namun film ini bukan semata duka. Ada harapan kecil yang muncul dari anaknya, dari dagangan yang habis, dari senyum tipis setelah menarik napas panjang. Ini bukan pasrah, melainkan adaptasi. Bertahan tanpa perayaan.

Ada juga getir ketika perempuan saling menghakimi perempuan lain. Di tengah tekanan ekonomi, solidaritas mudah goyah. Kita lebih cepat menyalahkan individu ketimbang melihat sistem yang menjebak mereka.

Kritik sosial Siti tidak hadir lewat orasi. Tidak ada tokoh berteriak tentang keadilan. Justru karena itu ia terasa nyata. Film ini seperti tetangga yang hidup susah tapi tetap menanak nasi, tanpa pernah meminta belas kasihan.

Di zaman ketika banyak orang berlomba menjadi korban paling menyedihkan di media sosial, Siti hadir sebagai potret orang kecil yang tetap berjalan tanpa meminta tepuk tangan. Ada jenaka pahit: Siti dengan segala keterbatasannya tampak lebih tegar dibanding banyak pejabat yang goyah oleh sedikit tekanan.

Film ini mengingatkan bahwa kemanusiaan bukan soal heroisme, melainkan keberanian bertahan dalam diam. Bukan membela kebenaran di panggung, tapi menemani anak sambil menyeka lelah.

Menonton Siti seperti menatap potret diam diri sendiri. Kita merasa pernah menjadi Siti, atau mengenal seseorang seperti dia: ibu, kakak, tetangga. Luka yang disentuh terlalu akrab untuk ditolak.

Film ini mungkin tak laku box office. Ia tak dijual lewat poster besar. Tapi ia menetap di hati yang masih memberi ruang pada perenungan. Di ruang kecil itu, kita belajar bahwa sunyi pun bisa bicara, asal mau mendengar.

Peran diam menjadi pusat film ini. Di banyak film, diam diisi musik dan ditutup dialog heroik. Di sini, diam dibiarkan canggung. Kamera tak buru-buru memotong. Kita dipaksa merasakan bagaimana menjadi perempuan yang harus kuat tanpa panggung bicara.

Kita hidup di negeri yang bising. Setiap hari penuh opini. Tapi kisah penting justru tenggelam. Tidak ada trending topic untuk ibu rumah tangga yang kehilangan penghasilan. Tidak ada headline untuk perempuan yang memilih antara utang dan harga diri. Ia tak masuk algoritma.

Ironinya, kita gemar mengulas moral tapi jarang mau mendengar. Padahal Siti bicara jujur sepanjang film, lewat mata, napas, cara duduk yang pegal. Kita lupa rasanya menonton film yang mempercayai penonton untuk merasa sendiri.

Relasi Siti dengan anaknya ditampilkan tanpa petuah. Hanya rutinitas melelahkan yang tak bisa ditolak. Di sanalah cinta hadir, bukan sebagai slogan, tapi sebagai kerja sunyi yang menguras tenaga.

Di luar, orang ramai mengeluh soal moral dan keluarga. Tapi jarang yang mau menyelami bagaimana keluarga bertahan di bawah tekanan sosial. Dalam Siti, kehancuran bukan datang dari niat buruk, melainkan dari ketiadaan pilihan.

Siti tak punya akses bantuan sosial. Di kampungnya, jika miskin, lebih baik diam. Ribut dianggap tak tahu diri. Film ini tak mengatakannya gamblang, tapi siapa pun yang lama hidup di republik ini akan paham.

Namun harapan tetap ada, justru karena sunyi. Harapan yang tidak diucapkan, tapi dijalani. Tetap bekerja, mengurus anak, menyuci baju. Harapan yang jarang masuk film komersial, tapi di sini diletakkan di tengah.

Film ini juga menyindir definisi sukses. Siti tak punya pencapaian versi media. Tapi film ini justru menunjukkan betapa kosongnya ukuran sukses kita. Hidupnya adalah perang harian yang tak pernah diumumkan.

Yang menarik, Siti tidak diposisikan sebagai korban yang meminta dikasihani. Ia tidak ingin dinobatkan inspiratif. Ia hanya ingin hidup. Dan betapa mulianya keinginan sederhana itu.

Relasinya dengan polisi tidak dijadikan jalan keluar ajaib. Ia menjadi ruang bimbang yang penuh rasa bersalah. Film ini jujur mengatakan: tidak semua pilihan menyelamatkan tanpa melukai.

Siti adalah tes kepekaan. Jika setelah menontonnya kita masih menyebutnya sekadar “film perempuan nelangsa”, mungkin yang perlu dikoreksi bukan filmnya, tapi empati kita. Film ini seperti kaca retak. Jika ditatap lama, kita melihat bayangan diri sendiri: sebagai suami yang tak mendengar, tetangga yang cepat menilai, negara yang membiarkan. Dan sebagai penonton yang baru peduli ketika kisah perempuan viral.

Mengapa film seperti ini jarang dibuat? Karena terlalu sepi? Atau karena kita takut menonton hidup apa adanya? Hiburan sejati bukan yang membuat lupa, tapi yang membuat ingat kembali siapa kita.

Siti mengingatkan bahwa menjadi manusia tak selalu tentang menang besar. Kadang hanya tentang tidak menyerah pada hari yang panjang. Tentang hidup seadanya, dan tetap berjalan. Perjuangan tidak selalu berupa teriakan. Kadang berbentuk duduk diam di lampu redup, menggenggam termos kosong. Film ini memotret perjuangan yang tak pernah masuk berita utama.

Sunyi, di tangan Eddie Cahyono, bukan kekosongan. Ia perlawanan pasif. Siti tidak sibuk menjelaskan penderitaannya. Ia sibuk bertahan. Dari sanalah kemanusiaan muncul tanpa perlu pengakuan.

Di era ketika semua harus terdengar, perempuan seperti Siti tenggelam. Ia tak punya waktu tampil. Ia hanya punya waktu hidup. Ironinya, sistem justru mengabaikannya. Film ini juga tidak menghukum tokohnya. Siti tidak divonis. Ia dibiarkan hidup. Dalam konteks sosial kita, itu sudah radikal.

Masyarakat kita cepat memvonis perempuan, lambat membantu. Dan Siti hadir sebagai surat terbuka yang tak pernah dikirim, tapi kita butuhkan. Film ini bukan hanya tentang Siti. Ia tentang banyak perempuan tanpa nama. Mereka bukan tokoh utama sinema, tapi tokoh utama kenyataan. Dan film ini menampilkan mereka tanpa eksotisme, tanpa glorifikasi. Hanya manusia yang lelah, bisa salah, tapi tetap berjalan.

Tentu film ini punya kekurangan. Ia sangat kontemplatif dan tak ramah bagi penonton yang ingin narasi cepat. Karakter lain terasa lebih sebagai latar. Visualnya indah, kadang terlalu sadar diri. Konteks sosialnya universal tapi mengambang. Namun di luar itu, Siti memperlihatkan martabat sehari-hari: tidak mencuri, tidak menipu, hanya berusaha. Dalam dunia yang kacau, usaha jujur adalah kehormatan paling murni.

Jika ada yang bilang film Indonesia terlalu dangkal, ajak mereka menonton Siti. Lalu ajak mereka diam. Jika setelah itu mereka masih tak merasa apa-apa, mungkin bukan filmnya yang kurang manusiawi, tapi hati kita yang sudah kebas. Barangkali kita tak butuh ulasan lagi. Kita hanya butuh keberanian untuk berkata: aku lihat kamu. Aku dengar kamu. Dan kisahmu penting. Sama seperti kisah Siti.***

____________________

Yuditeha. Penulis yang tinggal di Karanganyar.

Film, Resensi

Ketika Cinta Diberi Kesempatan Terakhir untuk Berbicara

Resensi Film T. H. Hari Sucahyo

Judul                           : Eternity
Tahun Rilis                  : 2025
Durasi                          : ± 100–110 menit
Sutradara                     : David Freyne
Penulis Skenario          : Pat Cunnane & David Freyne
Produser                      : Robbie Ryan, Jessamine Burgum
Pemeran Utama           : Elizabeth Olsen, Miles Teller, Callum Turner, Da’Vine Joy Randolph

Eternity (2025) datang dengan premis yang tampak sederhana sekaligus menggoda: bagaimana jika kehidupan setelah kematian bukanlah penghakiman yang dingin atau penantian sunyi, melainkan ruang refleksi tempat cinta, dalam seluruh kerumitannya, diberi kesempatan terakhir untuk berbicara. Film ini memilih jalur komedi romantis yang lembut, nyaris bersahaja, untuk membicarakan sesuatu yang sering terasa berat: pilihan-pilihan emosional yang membentuk hidup, dan gema pilihan itu ketika hidup telah usai. Dengan latar alam baka yang dirancang tidak menakutkan, bahkan hangat, Eternity mengundang penonton merenungkan cinta bukan sebagai kepemilikan, melainkan sebagai proses yang terus berubah.

Tokoh sentralnya adalah seorang perempuan yang, setelah kematian, dihadapkan pada dilema yang tidak pernah selesai semasa hidup: memilih antara pria yang telah menemaninya bertahun-tahun, baik dalam rutinitas, kompromi, dan kelelahan yang tenang, atau cinta pertamanya yang meninggal di usia muda, sosok yang membeku dalam ingatan sebagai janji yang tak sempat retak. Pertemuan kembali ini bukan sekadar fantasi romantik, melainkan eksperimen emosional tentang bagaimana ingatan bekerja. Film ini peka menunjukkan bahwa memori sering kali memoles masa lalu, menghapus sudut-sudut tajamnya, sementara hubungan yang bertahan lama justru menyimpan bekas luka yang nyata karena dijalani sepenuhnya.

Keputusan sutradara untuk membungkus dilema tersebut dalam komedi romantis terasa tepat. Humor dalam Eternity tidak hadir sebagai lelucon keras, melainkan observasi kecil tentang absurditas emosi manusia. Dialog-dialognya ringan, namun menyimpan kepedihan yang disampaikan tanpa melodrama. Tawa muncul bukan karena situasi dipaksakan lucu, melainkan karena penonton mengenali diri mereka sendiri dalam kebingungan tokoh-tokohnya: kecanggungan bertemu mantan, rasa bersalah mencintai lebih dari satu orang, dan ketidakmampuan memberi definisi tunggal pada kebahagiaan.

Alam baka dalam Eternity digambarkan sebagai ruang transisi yang ramah, bukan surga berkilau atau neraka yang mengancam, melainkan semacam kota kecil dengan aturan sederhana dan ritme yang melambat. Desain produksinya menekankan warna-warna lembut, cahaya yang tidak menyilaukan, serta ruang-ruang yang terasa akrab. Pilihan visual ini menyampaikan gagasan bahwa kematian bukan pemutusan, melainkan jeda untuk memahami. Di sini, waktu tidak mengejar, sehingga percakapan bisa berlarut tanpa kecemasan, dan perasaan yang dulu tertahan dapat mengalir dengan jujur.

Kekuatan utama film ini terletak pada karakterisasi. Perempuan yang menjadi pusat cerita ditulis dengan empati: ia tidak disederhanakan menjadi sosok ragu-ragu, melainkan manusia utuh dengan kontradiksi. Ada rasa syukur pada stabilitas, ada pula kerinduan pada kemungkinan. Pria yang menemaninya seumur hidup digambarkan sebagai figur yang penuh kebaikan dan kelelahan, seseorang yang mencintai dengan cara bertahan. Sementara cinta pertamanya hadir sebagai energi muda, spontan, dan tak selesai; sebuah “bagaimana jika” yang selalu menghantui. Film ini adil pada keduanya; tidak ada yang diposisikan sebagai pilihan salah. Yang ada hanyalah konsekuensi emosional dari masing-masing pilihan.

Penulisan naskahnya cerdas dalam menimbang nostalgia. Alih-alih memanjakan romantisasi masa muda secara berlebihan, Eternity secara perlahan mengupas ilusi yang sering kita bangun tentang cinta pertama. Melalui percakapan-percakapan yang jujur, film ini menunjukkan bahwa cinta yang tidak sempat diuji waktu sering tampak sempurna karena belum pernah berhadapan dengan kebosanan, tanggung jawab, atau perubahan. Namun, pada saat yang sama, film ini tidak merendahkan kekuatan kenangan. Ia mengakui bahwa kenangan memiliki nilai emosional yang sah, bahkan ketika ia tidak sepenuhnya akurat.

Aspek komedi romantisnya bekerja paling efektif ketika film menertawakan gagasan “pilihan final”. Di alam baka, pilihan itu tidak disajikan sebagai vonis, melainkan sebagai kesempatan memahami diri. Ada ironi halus ketika karakter-karakternya menyadari bahwa bahkan setelah mati, manusia masih membawa kebiasaan ragu dan takut melukai. Humor lahir dari pengakuan bahwa kematangan emosional bukan hadiah otomatis dari kematian; ia tetap membutuhkan keberanian untuk jujur.

Secara tematik, Eternity berbicara tentang waktu sebagai aktor tak terlihat dalam cinta. Hubungan jangka panjang digambarkan sebagai hasil dari keputusan-keputusan kecil yang diulang setiap hari, sementara cinta pertama dipresentasikan sebagai momen intens yang singkat. Film ini tidak menyatakan mana yang lebih “benar”, tetapi mengajak penonton bertanya: apakah kita mencintai seseorang karena siapa mereka sekarang, atau karena siapa mereka bagi versi diri kita di masa lalu? Pertanyaan ini beresonansi kuat, terutama bagi penonton dewasa yang telah melalui berbagai fase hidup.

Akting para pemerannya mendukung nuansa lembut film ini. Ekspresi ditahan, gestur kecil, dan jeda dialog digunakan untuk menyampaikan emosi yang lebih dalam daripada kata-kata. Chemistry antarpemeran terasa alami, tidak berlebihan, sehingga konflik emosional berkembang dengan halus. Bahkan dalam adegan-adegan paling romantis, film ini menahan diri dari sentimentalitas murahan, memilih kejujuran yang tenang.

Musik latarnya berperan sebagai pengikat suasana, hadir sebagai lapisan emosional yang tidak mendominasi. Melodi-melodi sederhana mengiringi momen reflektif, sementara keheningan dibiarkan berbicara pada saat-saat krusial. Keputusan ini memperkuat kesan bahwa Eternity percaya pada kekuatan cerita dan performa, bukan pada manipulasi emosional.

Meski demikian, film ini tidak sepenuhnya tanpa kelemahan. Bagi sebagian penonton, ritmenya yang tenang mungkin terasa terlalu santai, bahkan mendekati lamban. Konflik utamanya bersifat internal, sehingga mereka yang mengharapkan dinamika plot yang tajam bisa merasa kurang terpuaskan. Namun, kelembutan ini justru menjadi identitas film: Eternity tidak ingin terburu-buru mencapai resolusi, karena esensinya adalah proses memahami.

Eternity (2025) adalah film tentang keberanian menerima kompleksitas cinta. Ia menolak jawaban sederhana dan menghindari moral hitam-putih. Dalam dunia yang sering menuntut kepastian, film ini merayakan ambiguitas sebagai bagian dari kemanusiaan. Dengan memindahkan dilema cinta ke alam baka, Eternity menciptakan jarak yang memungkinkan kita melihat hidup dengan lebih jernih; bahwa cinta tidak selalu tentang memilih yang paling sempurna, melainkan tentang mengakui apa yang benar-benar berarti bagi diri kita.

Film ini meninggalkan penonton dengan perasaan hangat sekaligus reflektif. Bukan karena ia menawarkan fantasi cinta abadi yang mulus, melainkan karena ia jujur tentang ketidaksempurnaan. Eternity mengingatkan bahwa bahkan ketika waktu berakhir, pertanyaan tentang cinta tetap hidup dan mungkin, justru di situlah keindahannya.

__________________________

T. H. Hari Sucahyo. Penikmat film Layar Kaca dan Layar Lebar. Pegiat di Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae”

   

Buku, Resensi

Mengenang Saat Bocah

Oleh M. Ghaniey Al Rasyid

Kata Freud kepribadian seseorang itu dimulai sedari bocah. Meski demikian teori psikonalisa sampai Phalus Envy nya Freud tetap mengundang kritik. The Childhood is the Father of Man, kurang lebih demikian.

Masa kanak-kanak menyiratkan sebuah kisah nan mendalam. Keberadaannya seperti rekaman yang menembus waktu. Beberapa aktivitasnya acap kali teringat mewarnai insan yang sadar. Kita ada dari puing-puing silam yang berlalu. Hari ini dan esok, konon kitalah yang menentukannya.

Kita bertemu dengan kisah silam. Para esais itu merangkai kata, membeberkan pengalaman yang silam, bocah yang meninggalkan masa kanak-kanaknya itu, berujar jujur.

Buku itu aku temukan di toko buku Gladag. Sore nan basah itu, aku menyelinap mengais tumpukan buku yang dimakan jamur. Ganang pemilik toko, setengah sadar tertidur, sambil memutar tape. Lagu gubahan K3S membikinnya mengantuk sambil menekuk tengannya menjadi bantal.

Aku mengangkat buku-buku yang bertumpuk. Tumpukan buku paling bawah seakan berbisik untuk merogohnya. Debu-debu beterbaran, membikinku bersin. Aroma jamur bercampur aroma tetikus dan kecoak yang menguar, memaksaku untuk tersendat-sendat bernafas.

Sebuah buku berjudul ‘Mengenang…’ membikinku terperanjat. Buku itu terbit tahun 2012, oleh penerbit Jagat Abjad. Tersirat di pojok kanan kaver buku bertulis -Bandung Mawardi, sebagai editor.

Buku itu aku selamatkan. Ia nampak mengenaskan. Kavernya hampir lepas, namun sesampainya di tempat mengetik, aku rekatkan kembali dengan lem. Aku mengira buku itu tidak asli atau imitasi. Penerbit memilih kertas buram, seperti kertas koran. Beberapa bagian sisinya lecek seperti terendam oleh air.

Syahdan, aku menghiraukan itu. Aku fokus dalam isinya. Dua puluh empat penulis, membicarakan tentang masa kanak-kanak. Mereka begitu keranjingan. Seluruh ingatannya tentang masa ketika bocah, tepatnya duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) ditulis dengan rapi.

Para esai itu mengajakku untuk hadir dan menyigi sudut pandang satu ke lainnya. Esai Afrizal Malna terselip di situ. Adalah Rumah Kata dan Menggigit Sapu Tangan. Ia jujur, menulis kisah dirinya sewaktu bocah.

Mulanya adalah Ibu. Ia mengajarkannya untuk berkenalan dengan kata. “Kamu cukup memegang 26 huruf untuk hidupmu,” kata Ibunya. “Bersama bilangan 0 dengan 9 bilangan lainnya,” tambahnya.

Berkenalan dengan kata, membikinnya bersemangat. Setiap merapal kata yang berjejer dengan huruf-huruf lainnya, ia berteriak. Suaranya membikin telujuk ibunya mendarat persis di mulutnya, “jangan berteriak begitu.” Dia malu tetanggannya terusik oleh rasa keranjingan saat berkenalan dengan kata-kata.

Kata-kata itu kemudian terbesit dalam ingatannya. Segalanya yang nampak di mata, akan tersirat dalam rangkaian huruf membentuk sebuah kata, kalimat sampai rentetan paragraf.

Perjumpaannya dengan kata, membikinnya berkembang. Meski demikian, ia mengaku, perjumpaannya dengan bilangan tak seakrab dengan huruf. Ia pergi ke sekolah, dan pulang karena mencret, lantaran bertemu dengan bilangan dan hitung.

Hal senada namun tak serupa, ditulis oleh Rahmah Purwahida. Adalah Kepada Anak-Anak yang Sekarang Telah Dewasa. Kali ini beda dengan Afrizal Malna yang mencret saat bertemu Matematika, sedangkan Rahmah Purwahida sebaliknya. Ia sangat menyukai Matematika.

Perkenalan dengan Sekolah Dasar, lengkap dan bersahabat dengan Matematika. Beberapa kali ia mendapatkan nilai ujian yang unggul di Matematika. Ia begitu mencintai matematika, sampai-sampai lewat matematikan ia berjumpa dengan puisi-puisi.

Perkenalan dengan kata dan puisi tak lahir begitu saja. Ada sebuah perkenalan yang mengantarkannya. Perkenalan itu lewat Matematika. Perjumpaannya tak seperti Wittgenstein. Saat ujian berlangsung, ia berhasil menyelesaikan soal matematika. Teman-temannya masih bergelut dengan angka. Rahmah berhasil keluar ruangan lebih dahulu. Angka-angka itu terlalu gampang baginya.

Walakin, nasib berkata lain. Ia teledor untuk mengerjakan soal esai matematika. Ia berhasil menyelesaikan soal pilihan ganda. Soal esai tak terselip, naas hasil akhir membikinnya murung. Ia mendapatkan nilai 48. Nilai yang mampus bagi seseorang yang mencintai Matematika.

Rahmah merasakan derita. Nilai Matematikanya remuk. Ia mengurung diri di kamar, sampai-sampai kedua orang tuanya gelisah. Bahagia berganti murung, kengerian nampak seperti kisah dalam guratan Edgar Allan Poe. Ia tercabik-cabik. Mukanya jadi pucat pasi, serasa tak berarti untuk digeluti.

Kedua orang tua dan guru tak ingin Rahmah hanyut dalam derita. Sebuah kalimat meluncur, membikin Rahmah untuk menginjak segalanya yang telah terjadi. Ia ingin menghempaskan kengerian itu –nilai matematikanya remuk. Batinnya seperti bergeming, oleh kata-kata indah yang menggulung kengerian. Ia kemudian bertemu dengan chairil anwar. Sebuah sajak berjudul ‘Aku’.

Rahmah membacanya penuh semangat. Kata dan nada yang keluar dari sela-sela giginya, menggetarkan penikmatnya. Kengerian yang menggumpal ia hempaskan dengan membaca sajak-sajak. Sajak itu menggema, membikin pendengarnya bergidik.

Kepiawannya saat bertemu dan membaca sajak, mendapatk perhatian. Saat-saat penting misalnya dalam acara di kelurahan, sekolah, kecamatan, kantor gubernur Bandar Lampug, mengundang Rahmah untuk membaca sajak. Rahmah menemukan teman baru, yaitu kesusastraan.

Saat akan lulus dari SMA, ia tetap mencintai Matematika. Namun, ada satu hal yang membikin bulu kuduknya bergidik. Adalah kejelitaan. Ia tak ingin rambutnya botak seperti Einstein. Ia tak ingin ruwet. Rambutnya ingin tetap lebat, tebal dan harum. Kemudian, aku mengingat Naomi Wolf menyoal kecantikan. Ia kemudian memilih Bahasa Indonesia, ya memilih untuk menjadi guru Bahasa Indonesia.

Kisah-kisah itu tersirat dengan teliti dan jujur. Para esais itu berkisah yang silam meskipun berlalu, tetap hadir dalam hidupnya. Ia bersama dalam elan vital yang menancap dalam kalbunya. Mengais untuk renungan sepi di malam sunyi. Waktu yang berlalu tak akan pernah kembali.

____________________

M. Ghaniey Al Rasyid. Penulis Lepas, Pengkliping dan Penikmat Sastra yang Tinggal di Kota Surakarta

Buku, Resensi

Belajar Hidup dari Malaikat Maut

Oleh Erna Surya

Kadang, kematian bukanlah tentang berakhirnya hidup, melainkan tentang bagaimana seseorang akhirnya benar-benar hidup. Seo Eun-chae menulis novel Seminggu Sebelum Aku Mati (Haru, 2024) dengan kesadaran itu—bahwa manusia sering kali baru memahami arti hidup justru ketika kematian datang mengetuk.

Novel ini dibuka dengan premis sederhana: seorang perempuan bernama Jeong Hee-wan diberi waktu tujuh hari sebelum ia mati. Namun yang membuatnya tak biasa adalah sosok yang datang menjemputnya: Kim Ram-woo, cinta pertamanya yang telah lama meninggal. Ram-woo kini menjelma sebagai malaikat maut.

Malaikat maut di sini bukan sosok mengerikan bersayap hitam, melainkan kehadiran yang tenang—seolah cinta yang belum selesai. Ia datang bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menemani Hee-wan menutup hidupnya dengan damai. Ia datang bukan dengan sabit, melainkan dengan kenangan.

Hee-wan diberi waktu tujuh hari untuk “menyelesaikan urusannya di dunia”. Dalam rentang waktu itu, ia membuat daftar keinginan kecil: menonton film yang belum sempat selesai, mengunjungi tempat yang pernah ia datangi bersama Ram-woo, menulis surat kepada diri sendiri.

Namun, daftar itu perlahan berubah menjadi perjalanan batin. Setiap hari membawanya ke lapisan baru dari rasa kehilangan—dan penemuan. Ia belajar memaafkan dirinya sendiri, menerima luka masa lalu, dan memahami bahwa cinta sejati tidak selalu berarti bersama selamanya.

Seo Eun-chae menulis dengan nada lirih. Tidak ada letupan besar, tidak ada air mata yang berlebihan. Justru dari kesunyian itu muncul kekuatan emosional yang dalam. Ia membuat pembaca memahami bahwa kesedihan yang paling tajam bukanlah tangisan, melainkan keheningan yang panjang.

Banyak karya sastra Korea modern berbicara tentang kehilangan dan waktu. Namun Seminggu Sebelum Aku Mati membawa nuansa berbeda. Ia memadukan realisme psikologis dengan sentuhan spiritual yang lembut.

Ram-woo bukan hanya figur cinta lama, tetapi juga simbol tentang waktu yang tak kembali. Dalam dirinya, Hee-wan melihat apa yang ia relakan dan sekaligus apa yang tak pernah bisa ia lepaskan. Maka perjalanan tujuh hari itu menjadi semacam ritus perpisahan yang suci: sepasang jiwa yang pernah saling mencintai, kini berjalan berdampingan menuju akhir.

Novel ini menolak pandangan biner antara hidup dan mati. Seo Eun-chae tampak ingin berkata bahwa keduanya hanyalah dua sisi dari keberadaan yang sama. Hidup, seperti halnya kematian, adalah proses pulang.

Di satu bagian, Hee-wan berkata pelan, “Aku tidak takut mati. Aku hanya takut hidup tanpa alasan.”

Kalimat itu sederhana, tapi menembus jantung tema novel ini: ketakutan manusia bukan pada kematian itu sendiri, melainkan pada kemungkinan hidup yang sia-sia.

Seo Eun-chae punya gaya penulisan yang khas—lirih, sinematik, dan penuh udara. Ia tidak terburu-buru. Setiap bab seolah dibuat untuk dibaca pelan-pelan, memberi ruang bagi pembaca untuk ikut bernapas bersama tokohnya.

Dalam terjemahan Dwita Rizki, bahasa novel ini tetap terjaga kepekaannya. Diksi sederhana tapi tajam. Tidak ada kalimat yang ingin terdengar indah secara berlebihan; justru dalam kesederhanaan itu, maknanya menjadi dalam.

Struktur cerita yang dibagi dalam tujuh hari membuat novel ini terasa seperti perjalanan spiritual yang runtut. Setiap hari adalah fase kesedihan: penolakan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Seo Eun-chae tidak menuliskannya secara eksplisit, tapi emosi itu terasa jelas di bawah lapisan narasi.

Ia seperti menyusun peta jiwa dalam bentuk kisah cinta.

Ada banyak simbol bertebaran di dalamnya: laut, langit senja, rel kereta, dan jembatan. Semua itu melambangkan perlintasan—antara hidup dan mati, masa lalu dan masa kini, keberadaan dan ketiadaan.

Laut, misalnya, selalu muncul di saat-saat penting: tempat di mana Hee-wan merasa hidup sekaligus mati; tempat di mana Ram-woo mengajarinya arti melepaskan. Laut bukan sekadar pemandangan, tapi lambang tentang kedalaman diri yang harus ia selami sebelum benar-benar pulang.

Simbol-simbol itu tidak disusun dengan pretensi intelektual. Semuanya mengalir alami, seperti ingatan yang muncul di kepala seseorang yang sedang menunggu ajalnya dengan tenang.

Novel ini juga berbicara lembut tentang isu kesehatan mental. Hee-wan digambarkan sebagai sosok yang “hidup tapi tidak sungguh-sungguh hidup.” Ia berjalan di antara rutinitas kosong, kehilangan arah, dan merasa bahwa dunia tidak lagi menawarinya apa pun.

Kehadiran Ram-woo—meski dalam bentuk kematian—justru menjadi pengingat untuk hidup. Inilah ironi yang indah dari novel ini: kematian menjadi penawar bagi keputusasaan. Seo Eun-chae tidak memotret depresi secara klinis, tapi secara eksistensial: rasa kehilangan makna, rasa bersalah, dan ketidakmampuan mencintai diri sendiri.

Maka ketika Hee-wan akhirnya mampu menatap langit tanpa air mata di hari ketujuh, itu bukan kemenangan besar, tapi penerimaan kecil yang menenangkan.

Kelemahan novel ini mungkin terletak pada ritme yang sangat lambat. Bagi pembaca yang terbiasa dengan konflik cepat, kisah ini bisa terasa datar. Namun justru di sanalah kekuatannya. Ia tidak memaksa kita untuk larut dalam drama, tapi mengajak kita untuk duduk diam dan mendengarkan kesunyian.

Setiap kalimat seperti undangan untuk berhenti sejenak—menyadari bahwa hidup kita sendiri pun sebenarnya sedang berjalan menuju ujung, dan mungkin yang kita butuhkan hanya keberanian untuk menerima itu dengan damai.

Seminggu Sebelum Aku Mati bukan kisah romantis dalam arti konvensional. Ia lebih tepat disebut meditasi tentang cinta, kehilangan, dan keberanian untuk hidup. Seo Eun-chae menulis seolah ingin membisikkan pesan: bahwa mati tidak selalu berarti berakhir, kadang ia justru awal dari kehidupan yang lain.

Dalam setiap halusnya percakapan antara Hee-wan dan Ram-woo, kita diajak menyadari bahwa yang membuat hidup berharga bukanlah panjangnya waktu, melainkan kesadaran penuh di dalamnya. Tujuh hari dalam novel ini terasa seperti seumur hidup. Dan mungkin memang begitulah hidup: sebentar, tapi bisa sangat penuh.

Ketika novel berakhir, yang tersisa bukan kesedihan, melainkan kelegaan.
Hee-wan telah berdamai dengan kematiannya, dan pembaca—anehnya—ikut merasa tenang.

“Kadang, kematian hanyalah cara cinta untuk pulang,” tulis Seo Eun-chae.

Dan kita pun tahu, setelah menutup buku ini, bahwa mungkin hidup memang seharusnya dijalani seperti itu: dengan kesadaran bahwa setiap hari bisa menjadi yang terakhir, dan justru karena itu, setiap detiknya berharga.

___________________

Erna Surya. Penulis dan pembaca sastra, berprofesi sebagai seorang guru.

Buku, Resensi

Gagal yang Direncana = Keberhasilan

Oleh Yuditeha

​Apa kabar dunia sastra, di mana keberanian dan kegagalan kadang berjalan beriringan? Saya baru saja menyelesaikan buku puisi yang, entah bagaimana, berhasil membuat saya beberapa kali menelan ludah. Bukan karena keindahan baitnya, melainkan karena keanehan, atau lebih tepatnya, kenekatan Beri Hanna, sang penulis. Buku ini bukan seperti kumpulan puisi, melainkan sebuah medan pertempuran aksara yang diberi judul ironis: akhiri patah hati (dramaturgi gagal). Ada sesuatu yang tumpah-tumpah hingga menyerupai tumpukan cat di kanvas, ada yang disusun dari huruf yang tumpang tindih, saling-silang, susunan kode-kode, dan ada pula yang hanya kumpulan simbol, seolah penulisnya tengah menguji batas kesabaran pembaca.

​Uniknya, di halaman-halaman awal, penulisnya dengan jujur dan tanpa tedeng aling-aling menyebut bahwa ia gagal berpuisi. Sebuah pernyataan yang mengejutkan. Seakan ia sedang menawarkan pertunjukan kegagalan yang sangat disengaja. Judul (dramaturgi gagal) menjadi penguat dari pernyataan itu. Sementara di halaman lebih awal lagi, Afrizal, sang pengulas, pun dengan santunnya seakan menyetujui, dan membahas mengapa buku ini pantas menyandang gelar produk gagal. Sungguh, sebuah narasi yang aneh dan membuat saya merasa geli. Apakah ini semacam teater absurd di mana kita semuanya duduk bersama menyaksikan sebuah kegagalan yang dipamerkan?

​Namun, ada sesuatu yang mengganggu pikiran saya. Saya merasa ada kejanggalan di balik pengakuan ini. Apakah benar sebuah kegagalan? Atau justru sebuah keberhasilan yang disamarkan? Apakah mungkin, dengan segala ironi dan sarkasme yang menyelimuti buku ini, sang penulis sedang menertawakan kita semua, para pembaca dan pengulas, yang terperangkap dalam jebakan definisi puisi yang kuno?

​Coba kita membayangkan, ada seorang koki dengan sengaja menyajikan hidangan yang hangus dan tidak keruan bentuknya, lalu berkata, “Ini hidangan gagal.” Di sampingnya, seorang kritikus makanan pun mengangguk, “Ya, ini memang hidangan gagal. Mari kita bedah kegagalannya.” Aneh, bukan? Namun, di balik kegagalan itu, ada sebuah pesan yang sangat kuat. Bahwa ia berani tampil beda, berani menantang pakem, dan berani tidak menjadi fotokopi dari koki-koki lainnya. Ini sebuah keberhasilan, keberhasilan untuk berdiri sendiri.

​Saya melihat hal yang sama terjadi pada buku puisi ini. Beri mengaku tidak bisa seperti penyair lain—ia menyebutkan beberapa penyair. Tapi ia mengambil jalan ekstrem, jalan yang mungkin terlihat bodoh dan naif, tapi sebenarnya sebuah deklarasi kemandirian. Ini bukan kegagalan, melainkan manifesto keberanian untuk berpuisi di luar zona nyaman. Ini kegagalan yang direncana. Dan judul akhiri patah hati mungkin bukan tentang patah hati dalam arti romansa, melainkan patah hati terhadap norma-norma sastra yang kaku.

​Puisi, pada esensinya, bukan tentang apa yang ingin disampaikan penyairnya. Puisi adalah apa yang tertangkap di kepala pembaca. Artinya, sebuah puisi tidak pernah berdiri sendiri. Ia membutuhkan pembaca untuk menjadi utuh, untuk menjadi hidup. Sang penulis mungkin sengaja menyajikan puisi gagal, yang hanya sebagiannya bisa dibaca, sebagiannya lagi kode dan simbol. Namun, di situlah kejenakaannya. Ia memberikan kita ruang kosong untuk diisi, teka-teki yang harus dipecahkan, misteri yang harus ditafsirkan.

​Ada semacam ilustrasi kisah, di mana seorang seniman modern menyajikan karya yang hanya berupa kanvas putih. Kritikus bertanya, “Apa maknanya?” Dan sang seniman menjawab, “Maknanya adalah apa yang kau lihat.” Beri, menurut saya, melakukan hal yang sama. Ia membebaskan kita dari beban harus memahami maksud, dan memberi kebebasan untuk menafsirkan. Sebagian saya bisa memahami, sebagian lagi tidak. Namun, sebagian yang bisa saya pahami terasa jauh lebih kuat dan personal, karena saya yang mencipta maknanya.

Hal pertama yang saya bisa mencipta makna dalam puisi-puisi Beri adalah banyaknya kata vodka. Dalam hal tertentu, disadari atau tidak, penulis memakai bahan yang sama di banyak puisi, dan Beri melakukannya di buku ini dengan kata itu. Kata Vodka kerap hadir. Hal ini semacam petunjuk bahwa secara kritis, kata ini bukan hanya merujuk pada minuman beralkohol, melainkan metafora untuk beberapa hal sekaligus. Vodka dapat melambangkan pelarian atau penghilang rasa sakit; untuk meredam kepedihan emosional, kegelisahan, atau trauma. Selain itu, vodka yang dikenal karena sifatnya bersih dan tawar, bisa mewakili kekosongan atau kenihilan—suatu upaya sia-sia untuk mengisi kehampaan. Di sisi lain, vodka sering diasosiasikan dengan kehangatan dan suasana sosial tertentu, penyair mungkin ingin menyoroti keintiman yang semu atau koneksi rapuh yang dibangun di atas zat alih-alih emosi sejati. Maka, vodka dalam puisi Beri, bukan sekadar detail, melainkan isyarat untuk menyampaikan perihal isolasi, kehampaan, dan pencarian makna yang gagal di tengah realitas yang menyakitkan.

Selain itu, hal lain yang saya merasa dapat mencipta makna tentu saja dari kejelasan tampilan diksinya. Dan salah satu puisi yang masuk dalam kategori tersebut ada di halaman 22. Dalam puisi ini Beri memberi pernyataan radikal yang melampaui batas-batas konvensional. Melalui fragmen-frahmen, puisi ini menyingkap paradoks mengerikan tentang buku prosa yang menulis dan membakar dirinya sendiri secara bersamaan. Penggunaan kata “bangsat” sengaja dipilih untuk menolak estetika keindahan dan menegaskan bahwa kehancuran yang terjadi adalah sesuatu yang keji dan brutal. Puncaknya, ia memberi deklarasi nihilistik yang menyatakan bahwa proses kreatif yang paling jujur dan menyakitkan tidak dapat dicerna atau dipahami secara rasional, melainkan sebuah misteri yang melampaui logika manusia.

Puisi di halaman 23 pun, diksinya cukup jelas. Sebuah puisi yang menggambarkan proses pemulihan trauma masa lalu. Cara mengantarkan kepada inti derita sangat halus. Luka emosional yang tak terucap selama bertahun-tahun diungkap melalui metafora brutal di bagian akhir yang melambangkan bekas luka psikologis yang dalam. Sebuah ironi menyakitkan dan pengakuan akan ketidakmampuan untuk memperbaiki kerusakan (yang mungkin ia penyebabnya). Namun sepertinya jauh di dasar pengertian ada sebuah penerimaan atas kepahitan itu.

Lalu kembali kepada masalah pengakuan gagal, di sinilah ironi terbesarnya. Dengan mengaku gagal, sang penulis justru berhasil menciptakan karya yang membuat saya berpikir lebih keras, lebih jauh, dan lebih dalam. Dengan mengaku gagal, ia justru berhasil membebaskan saya dari tuntutan harus mengagumi dan memahami. Ia memberikan kebebasan untuk merasakan, untuk menafsirkan, dan bahkan untuk tidak suka. Itu adalah kesuksesan yang sangat langka.

​Mungkin ini adalah sebuah sindiran tajam untuk kita yang terlalu bergantung pada ulasan dan interpretasi orang lain. Kita seringkali terbuai narasi-narasi baku tentang keindahan puisi, tentang makna yang harus dicari. Padahal, makna yang sejati adalah makna yang kita temukan sendiri, yang lahir dari interaksi kita dengan karya itu.  Buku puisi berjudul akhiri patah hati (dramaturgi gagal) yang diterbitkan dengan kendaraan Mesin Rekam (2025) ini bisa jadi adalah seruan untuk mengakhiri cara pandang kita terhadap sastra yang itu-itu saja.

​Ini adalah sebuah protes terhadap kesepakatan atas dasar kebiasaan, sebuah pernyataan bahwa menulis bukan lagi soal keindahan kata-kata yang muluk-muluk. Menulis di era digital, di era banjir informasi, adalah soal bagaimana kita berani tampil beda, bagaimana kita berani menantang pakem, dan bagaimana kita bisa memantik percikan-percikan pemikiran.

​Buku ini mungkin memang kegagalan dalam arti konvensional, tapi ia sebuah keberhasilan dalam arti revolusioner. Sang penulis berhasil membuat kita bertanya, apa itu puisi? Apa itu keberhasilan? Dan yang terpenting, ia berhasil membuat kita tersenyum kecil, karena di balik kegagalan yang dipamerkan, ada sebuah kejenakaan yang sangat cerdas. Di balik keseriusan pengakuan gagal, ada senyum kecil yang tersembunyi, seakan sang penulis tengah berkata, “Tersesatlah dalam karyaku. Aku sengaja membuatnya demikian.”

​Dan itu esensi yang relevan dengan zaman: Menulis bukan lagi soal keindahan, tetapi soal keberanian. Keberanian untuk menjadi diri sendiri, keberanian untuk menertawakan diri sendiri, dan keberanian untuk tidak menjadi seperti yang diharapkan. Buku ini adalah pengingat bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan sebuah jalan baru. Di balik kegagalan, ada sebuah keberhasilan yang lebih besar. Gagal yang direncana sama dengan keberhasilan.

Karena saya baik hati, di akhir tulisan ini saya akan membocorkan salah satu puisi yang saya suka (semoga punulisnya tidak marah). Puisi ini berada di halaman 25, ditulis dengan format vertikal agak miring. Sementara tampilan puisinya ditulis dua kali, dengan susunan hampir bertupukan.

Menurut saya, ini eksperimen visual dan naratif yang sengaja dibangun di atas ketegangan. Penulis sedang berbicara tentang ketidakmampuan untuk melepaskan atau melupakan suatu peristiwa, seakan ingatan itu terus kembali, berbayang, dan mengganggu. Ada kenyataan tentang posisi yang tidak setara. Perihal trauma masa lalu yang tampaknya konyol tapi justru memiliki daya hancur yang nyata, dan tidak terduga. Ada rasa malu, amarah, atas luka yang disaksikan. Hal ini lebih dari sekadar penderitaan. Adalah sebuah trauma yang tumpang tindih, kebenaran yang absurd, dan keheningan yang tidak pernah benar-benar damai.***

_______________________________________

Yuditeha. Penulis dan penyanyi puisi.

Cerpen

Puisi Anggi Putri

Lakuna

sepotong cerita yang terpaksa dipangkas

dan dituntaskan oleh waktu

gerimis di ujung telunjuk bagai air mata

yang menganak sungai hingga ke pangkal dada

menggumpal dan jadi ruang

: hampa

Luka,

bukan sayatan ataupun dera

yang sesekali bisa sembuh oleh masa

wicara hanya sampai kata A

kelasah tumpah ruah

episode yang tertikam dan hanyut di ujung pusara

: entah

Lalu,

kau hanya tersenyum hambar

mengujiku agar terus mengatasnamakan sabar

bukan lara, bukan ketidakrelaan yang berkelakar

hanya saja–kau

lebur bersama doa yang kupanjatkan

entah sepekan

Jombang, 26 Februari 2024


Stasiun Kata

angin bergelut dengan decitan peron-peron

menggertak semesta dengan nanar

ruang tunggu yang kosong,

berisi kesepian

sejak pukul enam langit berkelakar

memintaku merenung dari tiap bait puisi

yang kusimpan hingga tak berbentuk lagi

akhirnya meledak dalam sunyi

kursi penumpang belum terisi

seperti hati manusia yang bergelut dengan ilusi

tak ada yang menjembatani

ego dan insecurity

tak ada jawab, tak ada tanya

hanya stasiun kata

yang melebar dari mulut-mulut manusia

penuh kelasah di dada

Jombang, 17 Maret 2024


Pintu Masuk

langkah yang melaju tak bisa berhenti

langkah yang terhenti kian menjadi

buta, penuh ragu berkelindan dalam hati

: puisi

tak ada hal yang bisa masuk dengan mudah

tak ada hal yang terhenti dengan sendirinya

Sesak di dada hanya ulah kata-kata

Menari di kepala sampai akhirnya terjerembab

dalam lantunan doa

barangkali tak ada muasal gulana

hingga arus air mata jadi saksi dan lakuna

terus mengetuk ingin masuk ke dalam sana

meski resah tiada akhir dan hampa semakin

mengikatmu dalam kelana entah

Jombang, 17 Maret 2024


Sepekan Lalu

: Emak

sepekan lalu,

belum siap ku menunggu napas terakhirmu

wicara dan secangkir kopi hitam di beranda kabur

menyeletuk namamu yang kini tak sanggup

kuucap meski kini berubah sepatah frasa

:ambigu

sepekan lalu,

saat jiwa berkisah dan duduk di antara kata-kata

kau masih menuturkan nasihat lama,

tentang pepatah yang harus diterima

tentang doa-doa yang harus kuantarkan

meski belum tahu untuk siapa

sepekan lalu,

kau ajarkan mengeja waktu, pendeknya jeda

ba’da maghrib hingga ayam mematuk subuh

di kepala, tak ada kelasah

hingga kau pejamkan mata

sebentar yang berarti selamanya

Jombang, 7 Mei 2024


Jejak Kota Ini

kota ini membaca jejak kita

dunia teduh yang menunggu

tak ada yang menjadi tanda

isyarat itu dalam rinai suara-suara

hari pun usai, waktu terguncang

seperti sejumlah kata

yang menggelepar keluar

dan sepotong sajak dari bait terlepas

kota ini amsal repetisi

hari terus melata menyingkap wajahmu

tanpa jawaban pasti,

menyekap debar dingin;

dalam puncak malam yang gigil

sendiri

Surabaya, 30 Maret 2021


Anggi Putri, pencinta sajak, kopi, dan hujan. Komite Sastra Dewan Kesenian Jombang 2019-2022. Buku puisinya Angin Kembara (2015) dan Laku(na) (2016). Peserta IIBF 2019 Solo dengan karya Kala Ratih (2019). Karya-karyanya dimuat media online maupun cetak. Aktif menulis di blog pribadi www.anggiputri.com.

Buku, Resensi

Ekonomi Feminin

Oleh Royyan Julian

Melihat dunia yang kian rigid barangkali menjadi titik balik yang membuat orang menyoal ulang keyakinan tentang yang ideal. Dunia manusia dibangun di atas kebudayaan yang bercorak maskulin. Budaya adalah laki-laki, alam ialah perempuan. Budaya, dengan individualitasnya yang egois, telah menyisihkan alam ke sudut tersembunyi. Alam/perempuan punya peran penting sebagai bahan bakar kebudayaan/laki-laki, tetapi tak kasat. Seperti bensin di tangki motor.

Tanggal 21 April lalu, novelis cum feminis Indonesia, Ayu Utami membuat catatan reflektif di halaman Instagram-nya: “… Pekerjaan domestik ini tidak menabung apa-apa selain kehidupan anak atau orang lain. Karir selalu mengandung akumulasi (entah reputasi, uang, dll), tapi pekerjaan rumah tangga ini tidak. Padahal betapa pentingnya…. Di Hari Kartini ini ada baiknya kita melihat emansipasi dengan cara terbalik. Bukan cuma perempuan perlu emansipasi agar bisa masuk ke dunia publik (yang kini identik dengan karir, status, dll), tapi agar kita semua menghargai dunia domestik, dunia yang menumbuhkan dan memelihara hidup, yang umum dianggap sebagai dunia perempuan dan tidak dihargai….”

Persis seperti itulah yang ditulis Katrine Marçal dalam buku Siapa yang Memasak Makan Malam Adam Smith? Kritik atas ilmu ekonomi liberal dibongkar dengan menghadirkan sosok ibu Adam Smith yang berperan krusial sepanjang hidupnya, tetapi paradoks dengan teori yang dibangunnya bahwa “bukan karena kebaikan hati tukang daging, tukang minuman, atau tukang roti kita bisa mendapatkan makan malam kita, melainkan karena mereka memikirkan kepentingan diri mereka sendiri.” Dengan perspektif feminisme, Marçal meneropong cacat dan ironi Homo economicus sebagai agen dalam ilmu ekonomi Adam Smith.

Mereplikasi teori fisika mekanistik Newtonian, ilmu ekonomi Adam Smith menggantungkan kesejahteraan masyarakat kepada kepentingan individu. Jika individu berpegang teguh pada prinsip kepentingan diri, kemakmuran komunal dapat dicapai. Adam Smith menggunakan metafora ‘tangan tak terlihat’ (invisible hand) yang bekerja secara tersembunyi—dalam tata ekonomi—dan bermanfaat secara sosial berkat tindakan individu.

Individu egois tersebut bernama ‘manusia ekonomi’. Manusia ekonomi diandaikan sebagai pribadi rasional, dingin, egois, terisolasi, independen, aktif, objektif, kompetitif. Karakter tersebut secara natural dianggap melekat pada sosok laki-laki yang beroposisi dengan sifat perempuan (emosional, hangat, altruis, komunal, dependen, pasif, subjektif, kooperatif). Dengan logika tersebut secara otomatis apa yang disebut sebagai manusia ekonomi adalah figur yang memiliki tabiat maskulin. Laki-laki adalah norma universal dan kemanusiaan bersinonim dengan maskulinitas. Di luar itu adalah liyan—adalah jenis kelamin kedua.

Maka, ketika meruyup ke dunia ekonomi, perempuan akan dipaksa bernapas dalam atmosfer yang berputar dengan mekanisme logika laki-laki. Walhasil, dengan keruwetan urusan domestik—yang sebagian besar masih dibopong perempuan karir—ditambah kompleksitas biologisnya, perempuan menjadi inferior di dunia yang sepenuhnya dipahat laki-laki. Upah rendah perempuan, misalnya, Marçal jelaskan secara dialektis dengan mengajukan argumen Mazhab Chicago yang membingungkan. Oleh karena itu, klaim bahwa manusia ekonomi tidak berjenis kelamin atau netral patah ketika dihadapkan pada kondisi diskriminatif yang dialami perempuan di dunia profesional.

Individualitas dalam imajinasi kolektif ilmu ekonomi secara alamiah dianggap memang watak manusia dari sononya. Potret janin karya Lennart Nilsson dicomot sebagai analogi manusia ekonomi; individu swasembada. Fetus dikesankan sebagai individu yang mengapung sendirian. Rahim direduksi hanya sebuah ruang. Tubuh dan peran ibu dimutilasi. Realitas zoom in foto-foto Nilsson jauh panggang dari api. Kenyataannya, selama mengambang dalam peranakan, jabang bayi terus-menerus melakukan kontak dan bergantung kepada raga ibu.

Homo economicus sebagai citra ideal yang dianggap natural menyangkal sifat manusia yang selalu bergantung kepada liyan. Bahkan, identitas manusia ekonomi yang individualistik harus kontradiktif dengan dirinya sendiri yang membutuhkan orang lain sebagai kompetitor. Yang nyaris tidak bisa ditampik, sejarah keberhasilan laki-laki sebagai manusia ekonomi membutuhkan perempuan yang menyiapkan makan malam, membersihkan tempat tidur, merawat, mencucikan pakaian; untuk lari dari kerasnya dunia, melabuhkan luka, menyeimbangkan jiwa.  

Sumber daya yang berasal dari moralitas primordial perempuan merupakan konsekuensi dari perbedaan dikotomis antara laki-laki dan perempuan. Dalam dunia ekonomi yang bertumpu pada akumulasi kapital, kerja perasaan dan altruisme bukan bagian dari mata pencaharian.  Ekonomi dan perawatan adalah dua hal yang terpisah. Hasil kerja domestik perempuan tidak dapat dicandra, tidak memengaruhi kemakmuran, sukar dikuantifikasi, sebab ia adalah siklus: “Debu yang disapu menumpuk lagi. Mulut yang sudah diberi makan kembali lapar. Anak-anak yang tidur kembali bangun. Selesai makan siang, waktunya mencuci piring. Setelah mencuci piring datanglah makan malam. Dan piring kotor kembali perlu dicuci.” Sirkulasi kerja yang tak kekal tersebut berakar dari ontologi perempuan yang karnal dan irasional, mata air cinta. “Para ekonom kadang bercanda,” catat Marçal, “jika seorang laki-laki menikahi pembantu rumah tangganya, PDB (produk domestik bruto) negaranya turun. Jika, sebaliknya, ia mengirimkan ibunya ke panti jompo, PDB negaranya naik lagi.”

Feminisme gelombang kedua menggiring perempuan memasuki dunia kerja. Bagi Marçal itu tidak benar. Yang tepat, perempuan bermigrasi dari pekerjaan tak berbayar ke profesi bergaji; dari ranah domestik gratisan ke aras publik berupah. Itu pun perempuan harus bergelut melawan ketidakadilan yang lahir dari regulasi seksis kebijakan ketenagakerjaan. Ketika kerja keperawatan menjadi profesional—di rumah sakit atau semacamnya—ia diupah murah. Sebab cinta tidak boleh diperdagangkan. Akhirnya kerja perempuan tetap menjadi perekonomian kedua—meminjam istilah Second Sex Simone Beauvoir.

Kapitalisme yang eksploitatif sebagai anak kandung ekonomi liberal perlu dipulihkan dengan melibatkan perempuan secara adil. Ilmu ekonomi seharusnya tidak mencerabut manusia dari kodratnya sebagai makhluk yang memiliki ikatan dengan yang lain. Teori ekonomi yang menyertakan perempuan dengan spirit kesetaraan akan menjadi penyeimbang individu egois yang digerakkan oleh kepentingan diri, setan loba, dan rasa takut. Namun, visi ilmu ekonomi belum beranjak sejauh itu. Harus ada yang memasak steik agar Adam Smith  bisa berkata bahwa menyiapkan makan malam itu tidak penting.


Royyan Julian adalah penulis yang tinggal di Pamekasan. Buku mutakhirnya berjudul Ludah Nabi di Lidah Sykeh Raba (2019). Ia bergiat di Sivitas Kotheka dan Universitas Madura.