Puisi

Puisi Agus Widiey

Pengakuan Tangan

maafkan tanganku jika suka

mengelus halus pipimu

meski tak harus menunggu

air matamu jatuh terlebih dahulu.

tanganku selalu kaku

untuk melakukan sesuatu

yang pada akhirnya

hanya menjadi sia-sia.

begitu berat bagi tanganku

menamparmu 

& begitu ringan bagi tanganku

memelukmu.

mungkin itu salah satu alasan;

tanganku diciptakan.

Yogyakarta, 2024


Seperti Apologi

ada yang bergetar dalam diri

tapi tak mampu diucapkan lidah.

ingin kunyatakan sesuatu

tapi kenyataan lebih dulu menyadariku.

dunia begitu ambigu,

& aku tiba-tiba setuju.

bahwa yang jauh

bisa jadi lebih menyentuh.

Yogyakarta, 2024


Iklan Kesedihan

telah kupromosikan kesedihan ini,

tapi nyaris tak ada yang tertarik

& tak ada yang mau menarikku

dari terjalnya jurang kemiskinan.

kemudian kesepian menggugat;

tentang kesehatan cinta, keadilan rindu

& kesejahteraan nasib masa depan yang belum tentu

karena engkau masih tak mau memikirkan kesedihanku.

sebenarnya, ingin rasanya aku berbagi kesedihan ini,

kesedihan yang seharusnya menjadi milik kita bersama

tapi nyaris hanya koran yang mau menerima dan menghantarkannya;

ke berbagai penjuru mata,

mungkin juga termasuk matamu yang tak suka membaca air mataku.

Yogyakarta, 2024


Pencerahan

pembunuhan terhadap tuhan

sudah lama direncanakan,

& kematiannya kita rayakan

dengan tidak sederhana.

& kini saatnya kita ciptakan kembali

sebagai proyeksi ketenangan;

karena iman di hati

masih merasa kehilangan.

sebagaimana lilin menyala

ketika ditiup, kemana perginya?

tapi kita lupa bertanya,

kecuali setelah kehilangan

makna dari keberadaanya.

sedang tuhan telah mati,

sejak kebebasannya kerap dibatasi

dengan dasar kebenaran pemikiran kita sendiri.

lalu apalagi yang berharga

selain kejadian yang tak terduga?

maka yang ada di luar sana,

menciptakan kita

juga untuk bertanya, misalnya;

sudah berapa tuhan

kita ciptakan di dunia?

Yogyakarta, 2024


Memorabilia yang Lain

aku akan mengenangmu, alena

sebelum senja ini selesai

mewarnai pelupuk mata.

di antara terumbu karang

kesunyian telah kubentang

lewat ketam bayang-bayang.

di sini, alena

kukenang kembali pulau dan nelayan

yang asin dan yang mulai asing.

karena segalanya mesti berakhir,

termasuk matamu dari mata penyair,

maka, kusimpan rindu yang amis itu

pada bait sajakku; dari waktu ke waktu.

Yogyakarta, 2024


Agus Widiey, Lahir di Sumenep, 17 Mei. Menulis Puisi, Cerpen, Cernak, Cermis, dan Resensi. Tulisannya tersebar diberbagai media baik lokal maupun nasional. Sekarang tercatat sebagai mahasiswa Prodi Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pernah memenangkan lomba cipta puisi yang diselenggarakan Majelis Sastra Bandung (2021). Anggota di komunitas Damar Korong(Sumenep).

Puisi

Puisi Agus Widiey

Surat yang Kehilangan Alamatnya

Maafkan kerinduanku, dik.

Bila kau harus kuberi tahu

Kota ini menyimpan kesunyianku,

Dan entah kesunyianmu jugakah?

Kini tinggal sisa-sisa kenangan.

Setelah jarak yang katanya hanya dapat diraba angan

Pelan-pelan menebas harapan demi harapan.

Atau barangkali masih ada,

Hal-hal lain yang berharga untuk kita jadikan alamat,

Agar kita bisa kembali pada keselamatan takdir

Meski masa lalu akan melahirkan banjir kerinduan

Dan masa depan menyimpan beragam kegelisahan.

Yogyakarta, 2023


Sebuah Bencana di Masa Lalu

     –Nabi Nuh AS

Telah ia tumpahkan banjir melebihi air mata perempuan

Yang bertahun-tahun menyimpan kesunyian juga kerinduan.

Bagi mereka yang bertuhan pada sosok berhala

Yang mereka cipta dan menganggapnya maha atas segala.

Tiba-tiba Nuh datang

Berbekal sebuah kapal

Dengan niat membawa

Mereka dari duka peristiwa.

“Bismillahi Majreha Wa Mursaha”

Tapi mereka yang mencari Tuhannya sendiri

Tanpa mengikuti catatan nabi,

Bahkan putranya yang bernama Kan’an

Hanyut diantara kesesatan

Karena menolak suatu ajaran

Yang telah dititahkan tuhan

Hingga akhirnya tenggelam

Dalam maut kesedihan.

Tuhan, apakah iman yang ilmiah

Masih kalah ketimbang yang alamiah?

Yogyakarta, 2023


Falsafah Waktu

Demi waktu yang tak pernah tertata dengan rapi

Aku menolak, bila ia hanya diukur dengan angka-angka

Sebab kerangka jam yang kita pandang

Dalam hidup nyaris tak akan pernah sama.

Misal kita berjalan di atas bumi Malioboro

Berbekal cinta dan rindu yang meluap di dada

Sungguh pertemuan adalah kebahagiaan tak terhingga

Bahkan mengutuk waktu yang terasa cepat berlalu

Apabila waktu harus menuntut kita jadi masalalu.

Sebaliknya, misal kita tak sengaja bertemu lagi di Vredeburg

Sebagai mantan kekasih yang saling memendam rasa dendam

Sungguh satu jam akan terasa seperti satu abad lamanya.

Maka, tak ada waktu yang menyimpan kebahagiaan

Kecuali napas kita sedang menghirup peristiwa istimewa

Juga tak ada waktu yang menyimpan malapetaka

Kecuali napas kita sedang menghembuskan peristiwa duka.

Yogyakarta, Desember, 2023


Selamat Membaca, Ibu

; Minatun

Minggu lalu puisiku dimuat

Orang-orang mengucapkan selamat

Tapi aku akan merasa lebih bahagia

Jika ibu jadi pembaca pertama.

Sering kali aku teringat

Pada kecerobohanku sendiri

Dan ibulah yang kerap mengajari

Agar memilih sesuatu dengan cermat.

–Sebagaimana ketika ibu membelikan baju

Dengan ukuran pas, dan sesuai warna kesukaanku–

Maka dari itu,

Aku belajar memilih kata

Dengan hemat dan cermat

Agar pengamat ikut merasa nikmat.

Selamat membaca, ibu

Kutulis puisi ini untukmu.

Yogyakarta, 2023


Falsafah Tuhan

Sebab mata  

Yang terlihat di hadapan kaca

Hanya mampu

Menatap yang ada di hadapanku.

Sedang hati

Yang nyaris tak kuketahui

Mampu menatap dan merasakan

Yang ada di luar nalar pikiran.

Mata yang di luar

Dekat cara ia menatap

Hati yang di dalam

Jauh cara ia menatap.

;begitulah cara kerja mata dan hati, kekasih.

Yogyakarta, 2024


Agus Widiey, Lahir di Sumenep, 17 Mei. Menulis Puisi, Cerpen, Cernak, Cermis, dan Resensi. Tulisannya tersebar di pelbagai media baik lokal maupun nasional. Sekarang tercatat sebagai mahasiswa Prodi Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pernah memenangkan lomba cipta puisi yang diselenggarakan Majelis Sastra Bandung (2021). Anggota di komunitas Damar Korong(Sumenep).