
Satu Warna
/Nona/
Pada tungku yang menyayang yin dan yang
aku duduk di sudut sambil mengaduk warna hitam saja.
Aku memangku kisah cinta kita seperti
dua telapak tangan melindungi lilin perawan.
Aku menatap diriku pada rumah ibadah
dan membiarkannya terbakar sepenuhnya.
Aku bilang, kita tak mungkin bercinta di sana.
Di sana keluargaku bercampur pada tungku yin dan yang.
Langkah gontai di tengah buruan kecewa dan malu
membawaku kembali pada lembut suara dan harum rambutmu.
Lidah kelu yang tadi tak bisa bertingkah dan menyangkal kini
cekatan mengkaji setiap bagian tubuhmu dengan napas memburu
dengan bantuan jari jemari karena itu saja yang aku punya.
Mengaduk rasa yang sama: saliva kita
membuka kelopak bunga yang sama—tak kautemukan
muntahan busuk itu, kita hanya menangis.
/Dara/
Tak perlu kautanggalkan mahkotamu itu
sebab kau harus tetap menjadi ratu.
Jangan kau pergi meninggalkan ibu kota dan
menjelajah dunia untuk menjadi bapak-bapak pendiri.
Lalu akan melanglang buana diriku dalam lika-liku indramu:
akan kusamarkan cita rasa kaki Adam
yang selama ini menjejaki Puncak Sri Pada hatimu;
akan lekat hatimu bermandikan pasir rusuh
dalam kecemburuan Hawa di daratan Arab.
Bersatu padu dalam jalinan kasih yang samar,
selama bulan masih bersinar, kita harus
sembunyi dengan benar, dan jangan sampai
matahari mengolok kita penuh sinar.
Rambut kita berkelindan dengan kerlingan bara api
dan dari tangis serta elegi kita akan kembali
kepada tungku yang memanggang yin dan yang
dan mencelupkan jiwa kita ke sana: jurang hitam legam.
Sampai lilin kita yang perawan padam,
janganlah engkau berhenti mengaduk, Sayang.
Diskursus Emosi
Sangkakala berbunyi di ujung malam
mengguncang orang-orang yang beriman.
Mereka yang teguh kembali runtuh
meski telah matang dalam persiapan.
Di tengah dimensi emosi yang gagap
mimpi buruk hinggap di antarmasa gelap.
Dan pagi tiba. Ia membuka mata.
Mimpi indahnya lenyap begitu saja.
Ia tak ingin kembali pada hari lalu yang gelap,
tetapi pagi memaksanya melanjutkan pemaknaan.
Ia menjawab pertanyaan dengan asal-asalan
lalu pulang dengan tegap menawan.
Ia melihat kanan dan kiri,
ladang bunga berwarna-warni.
Sementara dirinya adalah gurun pasir,
tersesat mencari sumber mata air.
Di matanya ia temukan oasis,
ia mandi di sana sepuasnya.
Menyetubuhi Kata
Aku memetik helai rambutmu,
merajutnya menjadi metafora.
Aku memangkas mimpi-mimpimu,
lelap mereka bermakna ganda.
Aku menambang lubang hidungmu,
konjungsi melenggang bebas
bersama tanda baca mewujud kalimat.
Aku memoles bola matamu,
memastikan setiap pembaca berkaca-kaca.
Aku menjadikan pangkuanmu perpustakaanku,
pahamu tempatku mengeja rindu.
Aku menggigit daun telingamu,
mengimitasi suara agar lidahku serbaguna.
Aku meludah di telapak tanganmu,
mencongkel air yang berkerak di garis-garis idenya.
Aku mencabik buah dadamu,
merasakan haru merasuk, lalu nafsu
memburu pena agar berdansa leluasa.
Aku melamun di tepi pipimu,
mengunyah diksi sambil disapu ombak.
Aku menusuk punggungmu,
menanam cinta pada setiap ruas
yang bermekar lindu konsonannya.
Aku mengecup bibirmu dengan syahdu,
mengalirkan rima di tiap merahnya.
Kini puisi telah lahir.
Ia telanjang bulat.
Mari tanggalkan baju kita
agar puisi ini punya busana.
Kita lanjut lagi bercinta
agar puisi-puisi lain bisa terbaca.
Telanjang
Mari kita bergandeng tangan
dan berjalan bersama-sama
dengan kondisi telanjang
menuju toko pakaian di sudut jalan
lalu membeli dosa sampai banyak sekali
untuk mengenyahkan malu di wajah kita.
Telanjur Tenggelam
Pertolongan pertama untuk orang yang tenggelam
adalah menangis di hadapan mereka karena mereka tenggelam
kemudian pergi dan membiarkan mereka mati karena tenggelam.
Belasungkawa pertama untuk orang yang mati karena tenggelam
adalah menangis di hadapan jasad mereka karena mereka tenggelam
dan menyesali kenapa tidak menarik mereka ketika mereka tenggelam.
Muhammad Gibrant Aryoseno, lahir di Kulon Progo, DIY. Biasa menulis novel, cerpen, dan puisi. Karya-karyanya dapat dijumpai di beberapa media daring, termasuk di laman Instagram-nya (@gibrantha). Novelnya “Machine with a Heart” adalah pemenang Wattys Indonesia 2022 kategori fiksi ilmiah.
