Cerpen Septi Rusdiyana

Sepulang dari minimarket, tanpa sengaja aku mendengar percakapan budhe dan pakdhe di ruang tengah. Mereka merencanakan sebuah pertemuan antara aku dan seorang lelaki bernama Arham. Sekilas saat mendengar nama itu, terlintas di benakku jika lelaki itu terlalu dewasa dan brewokan.
“Setidaknya mereka berdua ketemu dulu,” kata pakdhe. Budhe hanya mengangguk sembari menikmati secangkir teh di tangan. Aku menyapa mereka sebelum akhirnya masuk ke kamar.
Aku duduk menghadap meja belajarku. Memandang dua foto yang kuletakkan di samping laptop secara bergantian. Foto pertama memperlihatkan aku yang sedang duduk diapit mama dan papa saat wisuda SMA. Mereka meninggal saat gempa memporandakan Bantul tahun dua ribu enam lalu. Sejak saat itu, aku diasuh pakdhe dan budhe yang memang tidak memiliki anak. Berkat kebaikan mereka, aku sudah terbiasa menjadi penurut, menjadi anak manis yang selalu berusaha tidak merepotkan. Hanya kepada bapak, ayah angkatku saja, aku berani mengungkapkan apa yang menjadi keinginanku.
Foto kedua ada enam orang, empat laki-laki dalam posisi berdiri dan dua perempuan sedang duduk. Keempat laki-laki itu secara berurutan dari kiri ke kanan adalah bapak, Mas Iwan si sulung, Mas Inu si bungsu, dan Mas Ito si anak tengah. Sedangkan dua perempuan yang lain adalah ibu dan aku sendiri. Di dalam foto itu bapak mengenakan topi berwarna hitam yang baru saja kubeli.
Dulu, bapak memintaku menjadi anak angkatnya setelah tahu aku yatim piatu. Bukan karena kasihan, tapi keinginan mendalam untuk memiliki seorang anak perempuan. Sejak bapak membawaku masuk ke keluarganya, aku menjadi lebih bahagia. Perlakuan mereka padaku teramat manis. Aku ingat, ketika sedang menjalankan ibadah puasa, biasanya bapak akan menunda makan siangnya untuk menemaniku saat berbuka. Ibu bahkan sudah mahir membuat kolak pisang. Ada satu hal lagi, yaitu saat Mas Iwan menikah di gereja. Aku mengenakan gaun berwarna merah jambu senada dengan milik ibu. Aku turut menyaksikan ikrar janji pernikahan Mas Iwan dan calon istrinya di baris paling depan bersama bapak, ibu, Mas Inu dan Mas Ito. Saat itu aku menangis sampai bulu mata palsu sebelah kananku copot. Mas Ito terkikik geli menertawakanku. Untung Mas Inu segera menggandengku keluar untuk memperbaiki riasan.
Bunyi ketukan pintu dan panggilan budhe menyadarkanku dari lamunan. Aku diminta menemui Arham yang sudah menunggu di ruang tamu.
Saat akun bertemu Arham, kutebak usia kami hanya terpaut dua atau tiga tahun saja. Wajahnya pun bersih tanpa brewok. Rupanya aku telah salah menebak wujudnya.
“Kita bisa mencoba saling mengenal dulu. Aku tidak akan memaksa atau menekanmu,” ucap Arham membuka obrolan yang tampak canggung.
Aku mengangguk. Cukup lama kami terjebak diam. Sampai akhirnya mataku tertuju pada tato jamur yang terukir di tangan kanan Arham. Pertemuanku dengannya membuat aku mengingat kembali akan mimpiku semalam. Dalam mimpi itu aku sedang tidur, tiba-tiba dibangunkan oleh seseorang.
***
“Hey, bangun.” Seseorang menggoyang-goyangkan bahuku.
Perlahan aku membuka mata dan menggeliat. Rupanya aku tertidur di meja belajar. Terlihat seorang laki-laki membungkuk menyejajarkan kepalanya dengan wajahku. Sangat dekat. Aku hampir melompat karena terkejut.
“Bukannya kamu yang memanggilku?”
Aku mengernyit tidak mengerti. Ia kemudian menunjuk pada layar laptop di depanku. Aku mengikuti arah telunjuknya, lalu terdiam cukup lama setelah melihat halaman judul pencarian yang terpampang: Bagaimana cara memanggil dan berkomunikasi dengan arwah.
Aku berhasil?
“Iya. Kamu berhasil,” kata laki-laki itu.
Aku bingung. Seolah ia bisa mendengar apa yang aku katakan dalam hati. Sebenarnya siapa laki-laki ini. Aku mengamatinya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia bertubuh tinggi, rambutnya cepak dan berkulit bersih. Kaus polo putih dan celana panjang jeans sobek yang ia kenakan cukup menambah kesan bad boy.
Ia menarik kursi dan mendekat ke arahku. Kini kami duduk berhadapan.
“Aku sudah datang,” katanya lagi.
“Aku memanggil arwah bapak. Tapi kenapa malah kamu yang datang? Aku bahkan tidak mengenalmu,” tanyaku penasaran.
“Aku sudah menjadi arwah, jadi aku boleh memakai avatar apapun yang aku mau untuk bertemu denganmu. Aku rasa dengan berpenampilan seperti ini, kamu akan terpesona.”
Aku tidak begitu saja mempercayai ucapannya. Aku billang padanya jika aku akan menanyakan beberapa hal terkaait bapak. Laki-laki itu mengangguk.
“Jika kamu memang bapak, di mana tempat pertama kali kita bertemu?”
“Perpustakaan,” jawab laki-laki itu cepat. Seperti tanpa harus berpikir.
Jawabannya tepat. Saat itu aku sedang kesulitan menemukan buku antologi puisi hingga seorang pria paruh baya menghampiri dan bertanya padaku buku apa yang kucari.
Aku menyebut beberapa judul buku. Dia mengangguk dan berjalan menuju rak bagian sastra, memilih-milih buku yang kemudian disodorkan padaku. Tanpa sengaja jarinya menyentuh tanganku. Meski sekilas, aku dapat merasakan debaran jantungku yang berubah menjadi tak beraturan. Kami banyak mengobrol. Dia bercerita kalau kegemarannya dengan puisi mengantarkan pada pernikahannya dengan ibu. Saat itu aku hanya tersenyum, ternyata benar ada perempuan yang mau dilamar dengan puisi.
Aku memejamkan mata dan menggeleng kuat. Tak ingin langsung percaya. Mungkin laki-laki itu menjawab asal dan kebetulan benar. Jadi aku meraih foto, memperlihatkan padanya untuk bertanya lagi. “Kapan foto ini diambil?”
“Sesaat setelah kamu mencukur habis rambutku.”
Tepat lagi. Masa iya hanya kebetulan. Maka aku mengajukan pertanyaan lagi, “Kapan dan bagaimana bapak meninggal?”
“Serangan jantung. Dua puluh tiga Oktober tahun dua ribu dua puluh tiga. Ayolah, ini tidak lucu. Kamu memanggilku hanya untuk bermain-main? Aku pikir kamu merindukanku.”
Aku terbawa suasana dan tanpa sadar bergumam, “Ya, aku sangat merindukanmu.”
Laki-laki yang mengaku arwah bapak itu tersenyum. “Aku senang kamu memanggilku. Aku juga ingin mengakui sesuatu yang selama hidup tidak pernah berani aku ungkapkan.”
Aku menatap wajahnya. Mungkinkah saat muda memang seperti itu wujud bapak? Laki-laki itu tiba-tiba mencubit pipiku. Memintaku tak melamun dan memperhatikannya. Ia memulai cerita.
“Saat kamu mau buka puasa, aku pernah mengajakmu makan nasi goreng pinggir jalan yang setelahnya kamu selalu bilang kalau itu adalah nasi goreng terenak yang pernah kamu makan.” Ia menjeda ceritanya. “Sebenarnya penjual nasi goreng itu tidak menggunakan daging kambing atau daging sapi.”
“Ya, aku tahu,” potongku.
“Kamu tahu?”
Aku mengangguk.
“Kok bisa?”
“Setelah malam itu, kita tidak pernah lagi makan di sana. Jadi aku mengajak temanku, ternyata dia bilang kalau sebaiknya kami jangan pernah makan di tempat itu.”
“Maafkan aku.”
“It’s oke. Aku ingat sehari sebelum kamu mengajakku, kamu bertanya apakah bila aku tidak tahu, artinya Tuhanku tidak akan marah. Jadi aku pikir, itu hanya caramu mengabulkan keinginanku.”
“Aku sangat menyesal. Makanya aku memohon izin kepada Tuhan untuk menemuimu saat kamu memanggilku. Aku lega kamu tidak marah.”
Aku menggeleng sambil tersenyum.
Wajah laki-laki itu berubah muram. “Aku juga minta maaf karena masih ada satu keinginanmu yang tak bisa aku penuhi.”
“Apa itu?” tanyaku.
“Tato jamur. Kamu sangat ingin memiliki tato bergambar jamur di punggung tanganmu. Aku bahkan sempat menanyakan kepada Ito di mana biasanya ia membuat tato. Sayangnya kamu bilang tidak mau. Lalu aku membelikanmu stiker temporer bergambar jamur. Tapi itu justru memicu reaksi alergi hingga kulitmu memerah dan gatal-gatal.”
Mendengar pengakuannya, aku semakin tidak menemukan kalimat yang tepat untuk membalas. Betapa ia berusaha mewujudkan apa mauku. Walaupun keinginanku itu terdengar konyol dan kekanakan.
“Bagaimana kalau kita menikah saja?” usulnya tiba-tiba. Aku terkejut. Laki-laki di depanku ini benar-benar ajaib.
“Sebelum hari ke empat puluh kepergianku, arwahku bisa tetap tinggal kalau aku menikah dengan seseorang di dunia. Kita bisa bertemu dan berkomunikasi seperti ini. Kita juga bisa melanjutkannya pada kehidupan kekal apabila kamu sudah mati nanti.”
Aku diam. Ketampanan dan ucapan laki-laki di depanku ini serasa menghipnotis. Tanpa sadar aku meraih wajahnya, mengecup bibir itu. Selama beberapa saat kami seperti hilang kendali. Seolah saling menikmati kehangatan ganjil yang mungkin sebelumnya terkubur sangat dalam. Namun, sesuatu yang aneh menjalar di hatiku. Perlahan aku menjauh dari wajahnya.
“Aku akan membiarkanmu pergi. Karena aku ingin mencintaimu lebih dari siapa pun. Dan caraku membuktikannya adalah dengan melepasmu.”
***
“Kamu kelihatannya sangat tertarik dengan tatoku?” tebak Arham membuatku gelagapan.
“Kenapa kamu memilih jamur?” tanyaku sekadar menutupi rasa malu karena telah tertangkap basah. Arham tersenyum dan menjawab sambil melihat tato di tangannya.
“Menurutku jamur adalah makhluk paling bahagia. Ia bisa tumbuh di mana pun, menyesuaikan lingkungannya.”
“Berarti mereka tidak memiliki pendirian dong? Selalu mengikuti lingkungan sekitarnya.”
Arham tersenyum makin lebar. Lesung pipit di pipi kirinya tersembul. “Terkadang menjadi penurut itu baik. Menekan ego untuk melihat kebahagiaan orang lain di atas kebahagiaan kita sendiri. Menarik, bukan?”
Mata kecokelatan milik Arham menatapku dengan sangat teduh. Selama sepersekian detik aku seperti pernah melihat. Sekuat tenaga aku berusaha untuk mengingatnya, namun gagal saat senyum dan tatapan Arham padaku semakin membuatku tak nyaman. Aku segera memalingkan pandangan ke segala arah. Jantungku tiba-tiba berdebar begitu kencang. Aku hanya berharap, Arham bukanlah arwah yang bisa mendengar isi hatiku.***
____________________
Septi Rusdiyana. Penulis tinggal di Yogyakarta. Penyuka cerpen.
