Puisi

Puis M.Z. Billal

PAGI

Aku berbisik kepada arthur rimbaud ketika

melihat keluarga kecil – tetanggaku – bertengkar lagi

pukul setengah tujuh pagi di beranda. gadis kembar mereka yang baru

belajar berjalan masih sebagai saksi. takut, sendu, dan tidak tahu.

pasangan itu saling menuding; ingin bercerai tepat ketika

angin menggugurkan daun angsana dan mengecup

kuntum-kuntum marigold yang hendak mekar.

mereka baru berhenti saling memaki dan ambil langkah menjauh

ketika aku pura-pura tidak melihat peperangan itu.

terakhir si wanita meneriaki suaminya: aku tidak butuh cintamu lagi!

“cinta adalah kebiasaan, arthur. dan kebiasaan itu tampaknya sudah berakhir di sana.”

2023


JELANG TENGAH HARI; 10.40

Dari jendela lantai 3 perpustakaan ini, aku melihatnya

lagi. jalan sudirman selalu sejuk dipandang. pepohonan seperti

raksasa penjaga. dan langkah kakinya mengirimkan getaran

lembut sampai ke dalam dadaku. empat jam perjalanan sampai ke sini.

aku memasuki semusim di neraka. lalu ia duduk, tersenyum dan membacakan

sepotong puisi asing tiba-tiba di hadapanku.

You  who have suffered, find where love hides.

Give. Share. Lose. Lest we all die unbloomed.

aku tahu ia mencuri Ginsberg. langsung tertawa cekikikan, seperti biasa.

“otakmu adalah perpustakaan. aku penasaran buku apa yang belum selesai kau baca?”

aku tak bisa mengatakannya; bahwa kau adalah buku favoritku yang belum tuntas.

kau halaman-halaman yang tidak bisa kutinggal begitu saja. aku ingin

sukarela terperangkap di dalam ceritamu, selagi ada waktu.

dan saat kau beranjak mengambil buku di rak, aku berbisik lagi

kepada arthur rimbaud.

“cinta adalah deretan buku di rak perpustakaan umum, arthur. dan di sini dua penulis sedang kasmaran.”

2023


MATAHARI PERLAHAN CONDONG KE BARAT

Aku berbisik lagi kepada arthur rimbaud. kali ini sangat serius.

tiga hal penting telah terjadi di sini. dalam waktu berurutan.

pertama, aku melihat bocah pemulung memberikan sebungkus nasi

kepada sepasang manula difabel yang saling setia; si wanita

bisu dan tuli sementara si pria hanya memiliki kaki kiri.

itu terjadi tepat di depan sebuah resto yang menjual makanan asing

lalu seorang pelayan bertampang sinis menyuruh mereka pergi.

kedua, aku melihat jalan kota berubah jadi buntu.

ratusan mahasiswa berarak seperti semut marah

menuju gedung pemerintah daerah sambil berteriak.

api yang membakar ban adalah amuk bisu yang melahap

segalanya. lalu kudengar salah seorang anak muda membaca

sebuah puisi milik Zawawi dengan lantang,

Dubur ayam yang mengeluarkan telur,

lebih mulia dari mulut intelektual yang menjanjikan telur.

ketiga, aku melihat warga pinggiran kota sedang mengamuk

pada sepasang muda mudi  usai tertangkap basah

bercinta di dalam semak dekat rumah ibadah. mereka

tak berkutik. nafsunya tak tersulut lagi seperti sebelumnya.

dan seorang dari mereka berkata keras sambil meludah:

kalau saling cinta jangan membakar diri di sini!

aku paham maksudnya

“cinta mengajarkan kebajikan dan rasa malu, arthur. ia kuat sekali menanggung segala jenis rasa sakit.”

2023


THE BEATLES, WAKTU PETANG

kudengar ia bersenandung; don’t need to be alone

no need to be alone. it’s real love, it’s real… yes, it’s real love, it’s real…

tapi tidak menatapku. lampu-lampu di sepanjang jalan

senja mencumbu matanya yang sipit. aku suka terbenam

di sana. kota ini akan jadi suvenir. tapi ketahuilah, arthur.

ini tidak baik. ini benar-benar tidak baik.

aku akan mengatakan untuk terakhir kali padanya.

“aku sudah sampai pada bagian akhir puisi. ia adalah bagian akhir puisi.”

barangkali kota ini akan gelap. hatiku akan gelap. jiwanya akan gelap.

2023


TOMBOL OFF – DI JALAN PULANG

aku berbisik lagi;

“cinta tidak konservatif, arthur. hidupku yang terikat adat. etnis ini mengalir di tubuhku.”

lalu kutekan tombol off di tubuh arthur rimbaud; alat perekam suaraku yang puitis dan setia.

mungkin tak akan pernah kunyalakan lagi.

2023


M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Bukubukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital serta sejumlah antologi nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *