
Sandal
Dulu, ibuku berkata
Anak kecil tidak boleh membawa sandal
Jika hendak bermain keluar
Takut hilang dan tertinggal
Kecuali ke madrasah dan langgar.
“Sandal hanya untuk perjalanan jauh
Melewati aspal dan terjal
Supaya kakimu bisa tahan
Menginjak rindu di tanah orang.
Sekarang aku paham
Juga lebih butuh banyak sandal
Ketika hidup mulai licin dan berliku
Pada takdir yang berbatu.
Aku tahu mengapa kakak dulu
Banyak mengoleksi sandal:
Ia harus menyesuaikan kenyataan
Dengan kaki yang mulai enggan berjalan.
Dan aku lebih suka sandal tebal
Ketika tak ada lagi tangan ibu ‘tuk dipegang.
Sandal adalah sepasang alas
Bagi kaki yang tak pernah tidur pulas.
Annuqayah, 2023
Kayu Bakar
Karena merindukan abu
Dapur menjadi ibu
Dengan tangan iba
Memungut kayu-kayu.
Sejak rintik pertama,
Mata wadung dibasuh
Di tubuh kayu yang mulai basah
Dan aku mulai membaca urat kayu
Sebagai surat yang ditulis hujan kepada akar.
Sebab ranting tak pernah mampu
Mematangkan lapar dan senyum ibu
Dalam tungku tak ada yang abadi
Kayu hanya akan menjadi abu
Dan kembali ke rahim waktu.
Sedang aku adalah iba di mata ibu
Yang tiba-tiba tabu untuk menjadi kayu
:hangus terbakar, arang padam dikubur kabar.
Annuqayah, 2023
Nirsampah
Aku tak pernah tahu
Seorang teman yang berangkat
Di awal sya’ban
Akan pulang dengan tangan
Tak berdebu
Yang aku tahu,
Ia selalu
Menyapu masa lalu
Halaman yang menyimpan
Kesedihan daun-daun
Dan mengekalkan bau dapur
Di Panggung Harjo
Kaki ramadhan mengantarku
Menjemput mimpi kiai
Menyambut senyum bumi
Di sinilah, hidungku
Hidung seorang santri
Tak mencium bau
Mulut dan perut
Manusia
Di laboratorium itu
Mesin-mesin menjerit
Menguliti nasib
Mencacah dan dipilah
Dengan doa-doa Khalifah
Matahari jatuh di mesin pemusnah
“akankah kita mereplika mereka?”
Tetapi, sampah adalah santri
Dipasrahkan sepenuhnya oleh wali
Dan tak maujud satu pun alat
Untuk mengasuh dan merawat
Kemudian,
Di Kemisan
Tong rongsok
Mengelas karat
Tang karet
Lehernya diikat
Dengan teriak panjang
Kelamin tumbuh
Dan kran kencing
Ke dalam botol
Muasal musim lebat
Meski di bawah ketiak
Kemarau
Aku tak pernah tahu
Sebuah kampung yang diapit Panggung
Krapyak dan Arca Yoni
Menetaskan darah nifasnya
Di ujung sebuah pulau
Bertabur garam
Yang aku tahu
Seorang lurah datang
Pada malam tanpa
Kur badar
Nyanyi-nyanyian
Dan penyambutan
Ia hanya menanam himmah
Nirsampah
Dan menitipkan qaul
“teknologi mesin adalah jalan terakhir”
Annuqayah, 2023
Polisi yang Lain
Di jalan Panti Rapih, pukul delapan lewat delapan
Seorang pemuda menyetop motor
Berplat nomor mati:
Remaja solo
Mahasiswi gajah Mada
Berhenti dengan degup kesal aneh
Di jalan Sabirin, jam mogok
Mata macet
Bunga Flamboyan
Kuntum Delonix regia
Memekarkan netra
Di sepanjang jalan kota
Di jalan itu
Polisi tak ada
Hanya sepasang manusia
Saling memenjara tatapan
Dan memborgol masa depan
Sebuah jalan tanpa waktu
Tanpa rambu
Mengantarku kepadamu.
Annuqayah, 2023
Borgol
Cincin ini adalah borgol
Yang dipasangkan Tuhan
Di jemariku-jemarimu
Saat kita tertangkap basah memanjat doa
Dan saling bertukar fatihah
Masih lekat dalam ingatan,
Malam-malam aku memasuki rumah-Nya
Seraya diam-diam mencuri rida.
Sementara, kau mencari kunci
Di bawah rak mimpi ibu
Untuk membuka kepala bapak.
Adakah ia akan menggandengkan tangan kita
Hingga Tuhan kehilangan cara melepaskannya
Atau ia hanya seutas tali pengikat kayu
Yang dikumpulkan hanya untuk menjadi abu.
Siapa pun –termasuk kita—ingin
Memasuki liang itu
Mengerami janji yang tertulis
Di langit-langit azali.
Annuqayah, 2024
Sebatang Kayu
; sapardi djoko damono
Aku ingin hidup sebagai sebatang kayu
Setia mengabdi pada tungku
Meski ia tahu
Pada akhirnya akan menjadi abu.
Aku ingin mati sebagai sebatang kayu
Sabar ditebang menjadi lembar buku
Meski ia tahu
Pada akhirnya tak pernah subur ditulis waktu.
Aku ingin tetap sebagai sebatang kayu
Meski hidup menjadi payung
Dan mati tak ada berkabung.
Annuqayah, 2023
Khairuz Zaman NT, kelahiran Sumenep, 24 Pebruari. Santri PP. Annuqayah daerah lubangsa, aktif di Sanggar Andalas dan Padepokan Salak.
