Puisi

Puisi Khairuz Zaman NT

Sandal

Dulu, ibuku berkata

Anak kecil tidak boleh membawa sandal

Jika hendak bermain keluar

Takut hilang dan tertinggal

Kecuali ke madrasah dan langgar.

“Sandal hanya untuk perjalanan jauh

Melewati aspal dan terjal

Supaya kakimu bisa tahan

Menginjak rindu di tanah orang.

Sekarang aku paham

Juga lebih butuh banyak sandal

Ketika hidup mulai licin dan berliku

Pada takdir yang berbatu.

Aku tahu mengapa kakak dulu

Banyak mengoleksi sandal:

Ia harus menyesuaikan kenyataan

Dengan kaki yang mulai enggan berjalan.

Dan aku lebih suka sandal tebal

Ketika tak ada lagi tangan ibu ‘tuk dipegang.

Sandal adalah sepasang alas

Bagi kaki yang tak pernah tidur pulas.

Annuqayah, 2023


Kayu Bakar

Karena merindukan abu

Dapur menjadi ibu

Dengan tangan iba

Memungut kayu-kayu.

Sejak rintik pertama,

Mata wadung dibasuh

Di tubuh kayu yang mulai basah

Dan aku mulai membaca urat kayu

Sebagai surat yang ditulis hujan kepada akar.

Sebab ranting tak pernah mampu

Mematangkan lapar dan senyum ibu

Dalam tungku tak ada yang abadi

Kayu hanya akan menjadi abu

Dan kembali ke rahim waktu.

Sedang aku adalah iba di mata ibu

Yang tiba-tiba tabu untuk menjadi kayu

:hangus terbakar, arang padam dikubur kabar.

Annuqayah, 2023


Nirsampah

Aku tak pernah tahu

Seorang teman yang berangkat

Di awal sya’ban

Akan pulang dengan tangan

Tak berdebu

Yang aku tahu,

Ia selalu

Menyapu masa lalu

Halaman yang menyimpan

Kesedihan daun-daun

Dan mengekalkan bau dapur

Di Panggung Harjo

Kaki ramadhan mengantarku

Menjemput mimpi kiai

Menyambut senyum bumi

Di sinilah, hidungku

Hidung seorang santri

Tak mencium bau

Mulut dan perut

Manusia

Di laboratorium itu

Mesin-mesin menjerit

Menguliti nasib

Mencacah dan dipilah

Dengan doa-doa Khalifah

Matahari jatuh di mesin pemusnah

“akankah kita mereplika mereka?”

Tetapi, sampah adalah santri

Dipasrahkan sepenuhnya oleh wali

Dan tak maujud satu pun alat

Untuk mengasuh dan merawat

Kemudian,

Di Kemisan

Tong rongsok

Mengelas karat

Tang karet

Lehernya diikat

Dengan teriak panjang

Kelamin tumbuh

Dan kran kencing

Ke dalam botol

Muasal musim lebat

Meski di bawah ketiak

Kemarau

Aku tak pernah tahu

Sebuah kampung yang diapit Panggung

Krapyak dan Arca Yoni

Menetaskan darah nifasnya

Di ujung sebuah pulau

Bertabur garam

Yang aku tahu

Seorang lurah datang

Pada malam tanpa

Kur badar

Nyanyi-nyanyian

Dan penyambutan

Ia hanya menanam himmah

Nirsampah

Dan menitipkan qaul

“teknologi mesin adalah jalan terakhir”

Annuqayah, 2023


Polisi yang Lain

Di jalan Panti Rapih, pukul delapan lewat delapan

Seorang pemuda menyetop motor

Berplat nomor mati:

Remaja solo

Mahasiswi gajah Mada

Berhenti dengan degup kesal aneh

Di jalan Sabirin, jam mogok

Mata macet

Bunga Flamboyan

Kuntum Delonix regia

Memekarkan netra

Di sepanjang jalan kota

Di jalan itu

Polisi tak ada

Hanya sepasang manusia

Saling memenjara tatapan

Dan memborgol masa depan

Sebuah jalan tanpa waktu

Tanpa rambu

Mengantarku kepadamu.

Annuqayah, 2023


Borgol

Cincin ini adalah borgol

Yang dipasangkan Tuhan

Di jemariku-jemarimu

Saat kita tertangkap basah memanjat doa

Dan saling bertukar fatihah

Masih lekat dalam ingatan,

Malam-malam aku memasuki rumah-Nya

Seraya diam-diam mencuri rida.

Sementara, kau mencari kunci

Di bawah rak mimpi ibu

Untuk membuka kepala bapak.

Adakah ia akan menggandengkan tangan kita

Hingga Tuhan kehilangan cara melepaskannya

Atau ia hanya seutas tali pengikat kayu

Yang dikumpulkan hanya untuk menjadi abu.

Siapa pun –termasuk kita—ingin

Memasuki liang itu

Mengerami janji yang tertulis

Di langit-langit azali.

Annuqayah, 2024


Sebatang Kayu

; sapardi djoko damono

Aku ingin hidup sebagai sebatang kayu

Setia mengabdi pada tungku

Meski ia tahu

Pada akhirnya akan menjadi abu.

Aku ingin mati sebagai sebatang kayu

Sabar ditebang menjadi lembar buku

Meski ia tahu

Pada akhirnya tak pernah subur ditulis waktu.

Aku ingin tetap sebagai sebatang kayu

Meski hidup menjadi payung

Dan mati tak ada berkabung.

Annuqayah, 2023


Khairuz Zaman NT, kelahiran Sumenep, 24 Pebruari. Santri PP. Annuqayah daerah lubangsa, aktif di Sanggar Andalas dan Padepokan Salak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *