Puisi

Puisi Listio Wulan Nurmutaqin

Peta Yang Terhapus

                        :  Dari anak-anak Palestina

1/

Telah terhimpun berpuluh tahun

Luka belum cukup

                            Membebaskan

                             Mengikat mimpi-mimpi

                                Masa kecil kami

Debu membahasakan setiap bagian tubuh

                              Memanjangkan retaknya

Pada tulang-belulang

Berserak sepanjang jalan

                             Setelah kami diburu

                              Dirajam peluru 

Maut tertawa berloncat

                             Kegirangan

Dari satu puing runtuhan

Ke reruntuhan lain

                               Sambil terus berteriak

Pergilah dengan bara api ditangan!

Kemanakah kami harus pergi?

2/

Di sini, kami menggambar sebuah peta

                         Yang dicetak

                          Dari darah dan sejarah

Dada-dada rompal meletuskan

Serpihan tajam cahaya kata-kata

                              Menjelma rajah berisi

                            Dosa-dosa

                             Yang tak pernah kami buat

Di bawah matahari yang mekar

Rumah serta sekolah kami

                          Dibom dan dibakar

                          Langit penuh kembang api

Siang dan malam

Jam demi jam        

                      Kaki-kaki musuh

                      Menginjak leher dan jantung

                       Memotong pena dan jari-jari

Tapi kami akan terus menulis

                Dari darah dan sejarah

Menggambarkan rumah ke dalam sebuah peta

Barangkali, rumah adalah denah yang terhapus

Hancur terbawa angin sekejap embus

Mungkikah masih ada tanah yang bisa kami tinggali?

Selain dinding-dinding penuh lubang di sini?

2023


TIDAK ADA MAKAN SIANG GRATIS DI SINI

Senin datang tergesa-gesa

Lembur tak pernah alpa

Kerja, kerja, kerja

Kenyataan menampar

Beraduk di kepala, pecah berpendar

Pagi ini Jakarta biasa-biasa saja di antara segala keruwetan

Serta permohonan cuti yang diabaikan

Atau teror bos menjelang deadline kerjaan

Atau teman yang ngajak nongkrong tiap akhir pekan

Atau beli iphone terbaru meski dengan cicilan

Atau hasrat hidup dengan cara fancy di kos-kosan

Sama dengan berhemat gila-gilaan

Bawa bekal telor dadar atau lanjut mi instan

Tidak ada perayaan

Tidak ada makan siang gratis di sini

Segalanya begitu pelik dan naik

Hanya sisa remah-remah impian

Di negara yang enjoy rebahan

2024


DAFTAR BELANJA

Di pasar, mimpi adalah daftar belanja

Terselip di kantong plastik hitam

Labu,wortel dan beberapa sayur pucat

Seperti cemas menyaru sekilo cabai rawit

Yang sering cilukba tiba-tiba

Hidup terasa lebih perih dari merica

Mengingat daftar lain yang tak boleh terlewat

Beli susu formula, bayar cicilan rumah, arisan tiap bulan

Selalu alpa disubsidi

—nyeri inflasi di dada

Berbagai toko mimpi berjejer sepanjang jalan,

Para penjual membawa papan harga dengan huruf besar-besar:

Hanya untuk hari ini

Kau mengantre paling pagi untuk membeli kebahagiaan

Dan kesehatan dengan harga paling

Mahal, agar tak kadaluarsa sepanjang zaman

Setengah kilo harapan dan beberapa ikat kepastian

Sudah diskon habis-habisan, kau tahu: ada harga lain yang harus dibayar untuk sebuah kepastian

2024


MENCICIPI PUISI (1)

Setelah menyantap kesepian

Yang menyedihkan

Mencecap pedasnya hidup

Asin kangen dan gurih kenangan

Kau bepikir untuk memasak banyak puisi

Dengan banyak bahan

Majas -majas segar berwarna cerah

Diksi dan irama 

Yang diolah sepenuh hati

Dicampur bumbu-bumbu kemungkinan

Membuat puisi kadang terlalu manis dan matang

Atau masih amis serupa kecemasan

Puisi tetaplah hidangan terbaik

Yang ingin kau berikan

Dengan banyak rasa dan tafsir

Meski kau sadar

Baginya puisi seperti basi dan hambar

Cintamu telah siap saji

Bekasi, 2023


MENCICIPI PUISI (2)

Puisi adalah santapan 

Diksi-diksi kutumis

Di wajan perenungan yang lama

Dapur sedang membakar dirinya

Frasa-frasa matang dikupas kata

Bekas-bekas ingatan yang dilalui

Patah hati, mimpi-mimpi atau kecewa

-Bercampur

Menjadi santapan sedikit asin atau pedas

Kering atau berkuah

Biarkan kenangan menentukan rasanya

Bekasi, 2023


Listio Wulan Nurmutaqin. Kelahiran Brebes yang kini tinggal di Bekasi. Beberapa karyanya terbit di media cetak dan online. Buku puisi antalogi tunggalnya Tokoh Utama (sastranomina). Bergiat di Kelas puisi Bekasi ( KPB ).