Puisi

Puisi Hamzah

Desimal

Mula dari nol
hitung berulang
setelah sembilan
sepuluh jari-jemari
meletakkan zaman
berbuku-buku
berbilang negara
atau res publica
diukur tonggak
satu, dua, tiga.

Sembilan, sepuluh depa
dan usia diejanya
jiwa-jiwa dijatah,
disiapkan; ditentukan.

Karanganyar, 2022


Jenaka

Kembang hijau begitu bungah
nalarnya menjalar beriring angin
bersetelan mahkota, kasut, topeng, dan galah
berseru, “wahai berdiang di angan dan ingin!”

Karanganyar, 2022

Sibak

Mulanya hela nafas begitu jernih.
Kristal-kristal es berhembus
Angin Utara dan Udara Dingin
lembah di sela-sela lereng.
Dibawanya tarikan nafas masa,
waktu, dan musim bersampir
biji-biji disemai oleh ratu
di bawah pertiwi dan tanahnya.
Harusnya desah nafas dihela
kusir-kusir berkumis salju
mengantar gugur dan semi
anak-anak tahun. Diseretnya
dua hingga empat perumpamaan
musim dengan mata panah pada
belikat bernafas setengah terengah,

Angin adalah bedebah
kembar dari waktu.”

Karanganyar, 2022


Kelelahan

Pukul delapan pagi, dia bawa sebuntal mimpi ke kamar mandi,
mimpi-mimpi itu menyisakan kantung matanya, dunia begitu mudah
dihadapi oleh sabun, sampo, pasta gigi, dan conditioner. Begitu dibilas,
luruhlah mimpi-mimpi dan tirai dahinya dibuka oleh air dingin
menjerang harap-harap kucing tersisa dari kantuknya semalam.

Saking marahnya dia, hilangnya satu buntal itu menukar limpitan
bibir terkulum berhias jigong berengut tajam
berseling umpat-umpatan, bahwa:
dia harus memanaskan motornya,                   matahari belum tinggi benar
orang dan mesin yang berkejaran,                   serta alasan agar nyawa bulan itu
tetap utuh.

Dihadapinya layar, mesin, layar, mesin, layar
dengan mesin ia berlayar mengubah nasibnya
agar tidak dijera angan-angan, katanya.
Pukul lima sore, badannya bergetah.
Di tengah mesin dan manusia,
dia melihat mataharinya terbenam.

Karanganyar, 2022


Lob

Empat sudut bingkai kamera,
kehidupan ada dalam kolong lapar
tempat-tempat tercerabut
oleh perasaan lupa. Dinas adalah
wilayahnya luput, luas di mana lepra
meratu lela.

Karanganyar, 2022


Hamzah lebih suka menyebut dirinya bermatra jamak seperti larik Walt Whitman. Poliglot yang beraspirasi menjadi polimatis ini dapat ditemui di https://hamzah.id/

Puisi

Puisi Gandhang Kandhiridho

Tujuh Fragmen Penghabisan

1.

pada sebuah jalan tersembunyi

akhirnya kau temukan

dirimu yang sempat hilang

jalan yang mengarah ke tempat

dengan pintu yang terbuka

untuk kau masuki

tempat yang berisi percakapan-percakapan

silam yang berdebu untuk ditelusuri

kini menemukan kepingan utuh

kepingan wajah yang merekah

muncul terangkai satu persatu

peristiwa demi peristiwa menyembul

ke permukaan

dan kepekatan mulai terurai warnanya

sementara ruang kosong

tadinya penuh tanda tanya

kini kembali terisi

sekalipun itu tak cukup kuat

kalahkanmu dari rasa sunyi.

2024

2.

perlahan kepalaku mulai melupakan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama bercokol menghantuiku sepanjang malam dalam beberapa tahun belakangan ini.

aku tidak tahu ini gejala apa.

kata sebagian orang, ini pertanda baik, sekaligus dalam waktu bersamaan bisa jadi adalah pertanda buruk.

itu kata mereka, atau lebih tepatnya, konon.

namun satu hal, aku, tetap seperti biasa.

tidak merasa baik atau sebaliknya.

yang terjadi justru sikap apatisku atas sekelilingku, bahkan untuk diri sendiri semakin menjadi-jadi.

kupikir orang-orang akan melihat dengan kacamata tersebut.

tapi setelah kupikir-pikir lagi ini sama saja menyimpulkan secara konyol akan hal remeh-temeh.

maksudku, aku tidak perlu lagi menggubris anggapan mereka akan ini.

termasuk apa yang mereka sematkan padaku.

bisa dibilang, dalam derajat tertentu aku cenderung sepakat pada yang terakhir.

lucu, bukan?

dan menurutku ini sangat lucu.

aku lebih suka disebut seseorang yang lucu, atau orang yang suka melucu.

hanya saja tidak untuk orang lain.

2023

3.

terkadang aku merasa seperti seorang yang gemar menulis puisi panjang-panjang kepada kekasihnya.

namun ujung-ujungnya kalimat yang tertulis tidak bisa dibaca sama sekali.

aku tidak mengerti kenapa aku menuliskannya.

sementara pilihan untuk menekan tombol “berhenti” sangat terbuka lebar di depan mata.

bahkan kadangkala aku seperti seorang yang gemar mencipta sajak-sajak pendek yang ujung-ujungnya hanya didengar sekilas untuk akhirnya lesap pada ruang kealpaan.

aku tidak tahu kenapa kalimat-kalimat pendek itu tercetus di kepalaku berulang-kali.

seakan hanya bisa berhenti setelah mataku terpejam dalam pelukan mimpi.

sedangkan bisa saja aku menekan tombol “cukup” yang sebetulnya hanya berjarak hitungan senti.

tapi entah kenapa aku merasa itu tidak perlu.

paling tidak untuk sementara waktu.

2023

4.

setelah percakapan terakhir itu

kau hanya berbicara pada dirimu sendiri

angin berembus dingin

bayangan tubuh yang pergi

ruangan yang gelap

menyelimutimu dari kekalahan

setiap orang pernah kehilangan, paling tidak

sekali dalam hidup mereka.

dan bagian terburuk dari episode itu

adalah mencari cermin yang sama

melalui cermin yang lain

meskipun telah retak.

2024

5.

tak ada apa-apa di sini

tak ada tawa renyah

tak ada wajah polos

tak ada cerita-cerita yang patut dibanggakan

tak ada apa-apa

bahkan jika mungkin ada

tak lebih dari selubung

itu pun makin memudar

sisa rahasia dirimu

jadi apalagi? pergilah!

aku telah habis gairah

kepalaku dipenuhi sejarah

berisi suara-suara darimu

yang menjelma asing di telingaku.

2024

6.

hargailah setiap momentum.

sebab ia hanya datang sekali seumur hidupmu:

perjalanan, peristiwa, pelajaran,

orang-orang baru, orang-orang lama,

yang asing dan yang dikenal.

dalam satu kilasan di sebuah tikungan jalan,

atau di emperan pertokoan karena terjebak hujan,

atau di sebuah antrian ruang tunggu yang terkadang membuat kita gusar.

meskipun sekejap, hargailah.

sebab itu semua akan menjelma kenangan di arsip laci ingatan kita.

2023

7.

kenangan tak pernah bergerak maju.

ia selalu berhenti di belakang sana.

hidup tidak menuntutmu membawa seluruh kenangan itu di sini.

ia hanya menyediakan setangkup ruang kecil yang sesekali bisa dijenguk sebentar

untuk kemudian sebagai penanda bahwa peristiwa itu telah berlalu.

2023


Gandhang Kandhiridho, lahir dan berdomisili di Surakarta. Senang menuangkan kata-kata melalui medium puisi. Buku puisi yang sudah terbit; Rahim Waktu (2021) & Separuh Wajahku Bulan (2023).

Puisi

Puisi Tjahjono Widarmanto

Serenada Hitam

hari itu, orang-orang lupa tanggal berapa

mereka bernyanyi memanggil arwah-arwah

ketakutan berlari tersuruk-suruk mencari ceruk

pepohonan gemetar debu-debu bertuba

siapa bisa menggambarkan maut menyentuh pundak kanak-kanak?

seperti lilin-lilin redup menyala

menyanyikan happy birthday

lantas padam begitu saja

namun serenada-serenada hitam itu tetap saja kita lagukan

sambil membayangkan perjalanan tamasya ke kubur kelam

serenada hitam dinyanyikan, ikan-ikan menangis

burung-burung gagak memekik, sajak-sajak menggelepar

membayangkan wali-wali suci sembunyi di perut paus hitam

2023


Siapa yang Dimuliakan, Siapa yang Dilupa

            siapa yang dilupa?

Saat waktu berkelok begitu lembut dan syahdu melaju

dengan meneteskan peluh seperti tetes air mata duyung

keramat menyesali usia

menuju entah perbatasan mana

: disitulah mereka berbaring, mendelik dalam gelap

menangisi puisi-puisi meratapi bunyi.

tinggal doa samar yang gemetar

tersesat di wilayah senja kala.

siapa yang dimuliakan?

segala sunyi, segala yang luruh atau segala yang kembali ke subuh?

matahari sepanjang hari, bulan sepanjang awan

di jalanan masih terdengar raung klakson bersahutan

daun-daun rontok, ranting-ranting berpatahan, segala angin mendesing

: tak ada bilik lain, cuma sepetak ruang membeku dan keraskan

seluruh frase, bunyi dan kilat matamu.

menyerpih tanpa suara hanya desah

mendesiskan kenangan yang segera melapuk

dan putus di tengah-tengah bait sebelum sempat ditulis!

ini bukan akhir puisi sebab segala kata telah dipingit dan disingitkan

tak hanya di kitab-kitab wasiat nan keramat tapi juga disematkan di pusara-pusara

bahkan daun-daun di cecabang sudah menuliskannya sebagai penanda musim

puisi telah menjadi bayang-bayang raksasa menguntit siapa saja

yang melenggang atau bergegas

pun pada sumuk yang mengambang di udara

puisi tak lahir untuk mati namun berpikir untuk jalan kekal yang abai pada waktu

boleh saja semua tak peduli atau menumbuhkannya seperti pohon hayat

yang berbenih dan akarnya berurat ke pusar semesta dan runcing rantingnya

tempat hinggap burung-burung keagungan menyanyikan misteri zaman.

                                                                        Ngawi, maret 2023


Memoria  Desa

/1/

ingin kulihat kembali kisah-kisah lama berikut peta-petanya

tempat para brahmana dan petapa-petapa sakti menuliskan

coretan-coretan usang serupa relief pada dinding ingatan

di sinilah muasal sejarah ditafsir, dicatat, dan dirajut waktu dengan gemericik air sungai mengarus jauh menuju muara hati menjalar ke akar-akar pohon jati, berdenyut ke batang, dahan, ranting, hingga putik daun-daun melangitkan harapan lewat cericit emprit dan bekur dekukur merentang lantangkan doa-doa mumbul ke langit

/2/

: ah, peta-peta itu tak lagi bisa kubaca

seperti arus tak mungkin bakal kembali ke hilir

cuma sisa bekas ingatan, seperti lagu-lagu cengeng tempo dulu

memuja-muja rindu yang bergegas berlalu

kali-kali jernih tak lagi jadi rumah meditasi

tak akan ada lagi wali  menjagai gemericiknya

batang ranting pohon kaku sendiri menatap langit asing  dengan matahari lain.

tembang-tembang kinanti dan asmaradana dikubur bersama dalang-dalang silih berganti mati

kidung-kidung selawat dan barjanji telah dilipat lampu

: semua bagai tamu mencakapkan masa lalu

lantas berdiri satu-satu beranjak pergi tanpa melambai

apalagi bertukar cinderamata

/3/

kebekuan asing merongga di pelupuk mata dan ingatan

rembulan tak lagi menyimpan kemurnian

hutan-hutan tak lagi jadi pohon hayat

semua hanya milik masa silam

seperti aksara-aksara purba di primbon kuno.

Ngawi, 2023   


Hujan dengan Garis Putus-Putus

langkah tersaruk-saruk

kita tetap enggan menepi

dari hujan dengan garis putus-putus

sore terperangkap sabda-sabda gaib

milik para penyair penuh rindu kemarau

menghirup aroma apu di jalan-jalan mengabu

hujan tak reda-reda

kita tetap enggan menepi

dari hujan sore hari

terperangkap sabda-sabda

gaib para penyair mengerang pada kemarau

di sana kepedihan terus berulang

tercipta dari reruntuhan kota

seperti piatu tanpa

cinta

                                    2023


Sepanjang Malam Pintu Diketuk

sepanjang malam pintu diketuk

tamu-tamu asing membawa oleh-oleh

sekeranjang air mata

: inilah ranum untuk penanda mereka yang diabai waktu!

hujan tak lagi tumbuhkan benih yang disemai

di jarum arloji bau peluhmu bertik tok

meratap-ratap pada doa yang sia-sia

seperti perempuan renta tak berdaya

di depan jendela termangu memintal kalender

seperti menjahit luka menyambut dengus si maut

Nov, 2023  


Tjahjono Widarmanto, lahir di Ngawi, 18 April. Tulisannya berupa puisi, esai, artikel dan cerpen dipublikan berbagai media. Beberapa kali menerima penghargaan di bidang kesastraan, antara lain: Penghargaan Seniman dan Budayawan Berprestasi Jatim dari Pemprov. Jatim (2002), Sayembara Penulisan Buku pengayaan Tingkat Nasional dari perpusbuk (2003, 2007, 2010, 2016, 2017), Penghargaan Sutasoma, Kategori Guru Sastra Berdedikasi dari Balai bahasa Jatim (2013), Penghargaan Sastrawan Pendidik Tingkat Nasional dari Pusat Pembinaan bahasa (2013), Sayembara Buku Puisi Terbaik  Nasional versi HPI 2016, dll. Buku puisi terbarunya SULUK PANGRACUTAN dari KAMPUNG PARA ARWAH (2023), QASIDAH LANGIT, QASIDAH BUMI (2023) dan buku tunggal lainnya. Selain menulis juga pernah bekerja sebagai Pembantu Ketua I dan Dosen di STKIP PGRI Ngawi, serta menjadi guru di  SMA 2 Ngawi.

Puisi

Puisi Agus Widiey

Surat yang Kehilangan Alamatnya

Maafkan kerinduanku, dik.

Bila kau harus kuberi tahu

Kota ini menyimpan kesunyianku,

Dan entah kesunyianmu jugakah?

Kini tinggal sisa-sisa kenangan.

Setelah jarak yang katanya hanya dapat diraba angan

Pelan-pelan menebas harapan demi harapan.

Atau barangkali masih ada,

Hal-hal lain yang berharga untuk kita jadikan alamat,

Agar kita bisa kembali pada keselamatan takdir

Meski masa lalu akan melahirkan banjir kerinduan

Dan masa depan menyimpan beragam kegelisahan.

Yogyakarta, 2023


Sebuah Bencana di Masa Lalu

     –Nabi Nuh AS

Telah ia tumpahkan banjir melebihi air mata perempuan

Yang bertahun-tahun menyimpan kesunyian juga kerinduan.

Bagi mereka yang bertuhan pada sosok berhala

Yang mereka cipta dan menganggapnya maha atas segala.

Tiba-tiba Nuh datang

Berbekal sebuah kapal

Dengan niat membawa

Mereka dari duka peristiwa.

“Bismillahi Majreha Wa Mursaha”

Tapi mereka yang mencari Tuhannya sendiri

Tanpa mengikuti catatan nabi,

Bahkan putranya yang bernama Kan’an

Hanyut diantara kesesatan

Karena menolak suatu ajaran

Yang telah dititahkan tuhan

Hingga akhirnya tenggelam

Dalam maut kesedihan.

Tuhan, apakah iman yang ilmiah

Masih kalah ketimbang yang alamiah?

Yogyakarta, 2023


Falsafah Waktu

Demi waktu yang tak pernah tertata dengan rapi

Aku menolak, bila ia hanya diukur dengan angka-angka

Sebab kerangka jam yang kita pandang

Dalam hidup nyaris tak akan pernah sama.

Misal kita berjalan di atas bumi Malioboro

Berbekal cinta dan rindu yang meluap di dada

Sungguh pertemuan adalah kebahagiaan tak terhingga

Bahkan mengutuk waktu yang terasa cepat berlalu

Apabila waktu harus menuntut kita jadi masalalu.

Sebaliknya, misal kita tak sengaja bertemu lagi di Vredeburg

Sebagai mantan kekasih yang saling memendam rasa dendam

Sungguh satu jam akan terasa seperti satu abad lamanya.

Maka, tak ada waktu yang menyimpan kebahagiaan

Kecuali napas kita sedang menghirup peristiwa istimewa

Juga tak ada waktu yang menyimpan malapetaka

Kecuali napas kita sedang menghembuskan peristiwa duka.

Yogyakarta, Desember, 2023


Selamat Membaca, Ibu

; Minatun

Minggu lalu puisiku dimuat

Orang-orang mengucapkan selamat

Tapi aku akan merasa lebih bahagia

Jika ibu jadi pembaca pertama.

Sering kali aku teringat

Pada kecerobohanku sendiri

Dan ibulah yang kerap mengajari

Agar memilih sesuatu dengan cermat.

–Sebagaimana ketika ibu membelikan baju

Dengan ukuran pas, dan sesuai warna kesukaanku–

Maka dari itu,

Aku belajar memilih kata

Dengan hemat dan cermat

Agar pengamat ikut merasa nikmat.

Selamat membaca, ibu

Kutulis puisi ini untukmu.

Yogyakarta, 2023


Falsafah Tuhan

Sebab mata  

Yang terlihat di hadapan kaca

Hanya mampu

Menatap yang ada di hadapanku.

Sedang hati

Yang nyaris tak kuketahui

Mampu menatap dan merasakan

Yang ada di luar nalar pikiran.

Mata yang di luar

Dekat cara ia menatap

Hati yang di dalam

Jauh cara ia menatap.

;begitulah cara kerja mata dan hati, kekasih.

Yogyakarta, 2024


Agus Widiey, Lahir di Sumenep, 17 Mei. Menulis Puisi, Cerpen, Cernak, Cermis, dan Resensi. Tulisannya tersebar di pelbagai media baik lokal maupun nasional. Sekarang tercatat sebagai mahasiswa Prodi Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pernah memenangkan lomba cipta puisi yang diselenggarakan Majelis Sastra Bandung (2021). Anggota di komunitas Damar Korong(Sumenep).

Puisi

Puisi Febriana Widyat Sari

Panggung

Babad, kiranya

percakapan yang tak kunjung usai

Babak demi babak

Berubah jadi cerita yang tak lagi kau bagi

Kita adalah tokoh utama

Panggung siap dibuka

Sorot lampu dipijarkan

Skenario dihayati

Bila saatnya tiba, tak bisa dihindari

Kisah, dirayakan

Runyam meruncingkan ingatan

Mengunci menyimpan kenangan

Simpati menjebak rasa

Kealpaan tiada dikira

Lupa, yang tak disengaja

Kesadaran,

Peredam angkara

Penawar luka

Panggung,

Arena kesadaran tiada tara

Menjalani karma, yang

tak pernah salah alamat

(Febriana – Solo, 19 Juni 2022)


Rumah

Aku adalah rumah

Tempatmu kembali

Pergilah ke manapun kau mau

Lalu pulanglah kepadaku

Aku adalah rumah

Kau boleh pergi ke mana kau mau

London, Paris, Itali

Tapi kau pulang padaku

Aku adalah rumah

Tempatmu berteduh

Dari cuaca yang mendera

Bernaunglah padaku

Aku adalah rumah

Kau boleh bersuka di manapun kau mau

Tetapi jika kau berduka

Pulanglah kepadaku

(Febriana – Solo, 25 Juni 2022)


Lebam Ruam

Lebam..ruam..

Berteman nyamuk-nyamuk

Jalan sunyi yang ditapaki

Berkelok ke sana ke mari

Terombang-ambingkan angin

Nasib adalah kepastian

Dewasa di sebuah ruang waktu

Tahun-tahun hidup dalam bahaya

Penguasa adalah Tuhan

Membiarkan hidup segelintir manusia

Berkuasa atas hilangnya banyak nyawa

Menjadikan mereka jiwa-jiwa yang berkelana

Tahukah kau, jiwa yang malang

Bintang bersinar dalam kegelapan

Masa gelap itu kau hiasi

Dengan jiwa-jiwamu yang terus hidup

Meski ragamu dibinasakan

Jiwamu ada dalam pelangi selepas hujan

Kelembutan sinar mentari

di setiap pagi yang damai dari semesta

Tanpa rekayasa perusuh kemanusiaan

Kau adalah nyanyian indah

Tak tertandingi dari burung-burung mockingbird

(Febriana – Solo, 5 Juli 2022)


Musisi Kekal

Masa depan, tak tertulis

Ucapan dari jiwamu,

Bebas bak burung terbang

Di birunya awan-awan

Bersama para dewa

pecinta suara-suara

Pemuja lema-lema

Aku pemujamu

Pun dia dan mereka

Tapi kau di mana

Menghilang seperti udara

Menguap

Aku menghirupmu

Kau hidup dalam alam pikirku

Dia dan mereka

Aku mendengar sendu teriakmu

Kau pergi berkeliling semesta

Pesanmu kau kan menciumi harum

Makhluk-makhluk jelita

Tapi aku di mana diantara kunang-kunang

Kau mau berdansa semalaman

Kau mau lihat gemerlap kota-kota

Tapi, Joe

Kau petik gitarmu

Sendu rindu menggebu

Lakukan apapun dalam keterbatasan

Lalu kau niatkan

Mohon ampun pada semesta seru sekalian alam

Mengabdi pada Nya selamanya

(Febriana – Solo, 31 Oktober 2022)


Residu Rasa

Cipta menginisiasi temu

Temu dua jiwa yang tersesat

Tersesat di tengah rimba beton

Beton menggiring raga-raga berlarian

Berlarian kian kemari menjemput asa

Asa yang terukir atas sensasi-sensasi menggelora

Karsa meminang kisah

Kisah potongan warna-warna

Warna terpulas polesan kuas

Kuas menggores garis-garis

Garis berbaris-baris dalam pucat malis

Rasa mengembang kuasa

Kuasa menari silih berganti

Berganti jiwa dan raga

Raga mengecapi ampas terhempas

Terhempas diantara buih gelombang

Gelombang menggulung residu rasa

(Febriana – Solo, 21 November 2022)


Febriana Widyat Sari, kelahiran Surakarta, Jawa Tengah tahun 1983. Menamatkan pendidikan di Fakultas Sastra dan Seni Rupa (UNS) dan Ilmu Hukum (Unisri). Seorang ibu satu anak. Sedang aktif menulis ‘gig report’ musik-musik arus pinggir untuk feedbackzine.blogspot.com.

Puisi

Puisi Ian Hasan

Menara Api

aku pernah bersumpah

atas darah jalang si Dursasana

bara api yang telanjur menyala

menanam nyeri di rahim luka

sejak kehormatanku dipertaruhkan

dan kebenaran berdiri bungkam

di mulut para ksatria

wahai Sang Guru Drona

akulah Pancali yang tercipta dari api yadnya

wahai Bhisma yang Agung

akulah Parsati, sendi kehormatan yang kau usung

wahai para ksatria luhur Dinasti Kuru

adakah hak kalian merestui pertaruhan atasku?

kebenaran hanya omong kosong

dan melaksanakannya bukan lagi darma

karena kebungkaman telah menjelma iblis

yang menelanjangi kepalsuan kalian

seraya kontan memakan korban

orang kalah sepertiku

jika perempuan selalu menjadi tumbal

dan kesuciannya gampang disingkap paksa

adakah lelaki yang bisa dipercaya?

selamanya akan kuingat

segenap penjuru Bharatawarsha adalah perebutan

dan kemenangan Arjuna melucuti kemerdekaan

agar kelima Pandawa bisa berkata,

“dia kini menjadi milik kami.”

selamanya tak pernah kulupa

Rajasuya adalah pesta muslihat para ksatria Kurawa

supaya terlindung di balik tirai darma

seraya tertawa di antara mereka,

“dia kini menjadi milik kita!”

maka izinkan kubangun menara ini

kelak berdiri di tengah padang Kurusetra

adakah sumpah ini kalian terima?

Karanganyar, 2023


Mantra Ulu-Ilir

kuikuti arah datangnya air

bening menyusuri hulu sungai

yang terjepit di antara dua tebing

kaki mendaki pundak bukit telanjang

yang ditanami kubis, wortel, sawi, dan kentang

seraya tampak berserakan di sana-sini

tumpukan botol bekas kemasan pestisida

dan jejak luka yang kerap menguap

dari wajah para petani tanpa dosa

penghujan datang

dan mata air adalah gadis perawan

yang ditinggal pergi kekasihnya

bumi telah mencatat silsilah ketamakan

yang tekun mengabadikan kabar kehilangan

cacing, humus, burung, serangga, ikan

batu logam amblas, gunung bukit dikepras

sedang sampah dan racun kian mengendap

di mimbar dan meja orang-orang beradab

kemarau datang

dan mata air adalah ingatan buram

yang menguning disengat penyesalan

rindu kali ini bermuara pagi

serupa hujan pertama disengat matahari

menguar bersama keharuman tanah basah

di halaman senja yang masih menyala

aromanya melambung di langit-langit

kepala dan sebagian darinya membatu

di ujung cangkul dan pena

Karanganyar, 2023


Selawat Bumi

riwayatmu adalah ibu

yang kini terbaring murung

dengan tangan menggenggam zikir

dan senja mengapung di bola mata

maka kesetiaan menasehatiku tentang akhir

satu bait puisi yang luluh lantak akibat kelalaian

penutur kata membubuhkan tanda baca

kelangkaan air

kekacauan musim

kerusakan genetik

kemandulan fertil

kepunahan spesies

kelanjutan hidup

aku butuh separuh lembaran langit

untuk menghapus garis ajalmu

setelah kurendam terlebih dulu dalam bejana

berisi ramuan limabelas macam bumbu:

luka, tangis, dendam, mimpi, sunyi, rasa, niat, laku,

hasrat, giat, cermat, gerak, cipta, karya, dan iman,

serta pada seduhan terakhir

—setetes nyali kutambahkan

sebelum kiamat benar-benar menjemput

di hari keberangkatan kata sekarat

aku tetap berkhidmat pada kesembuhan

dan berharap kekuatan seorang diri

mendapati sekawanan burung kenari

menumpahkan rindu yang menghijau,

menyiramkan kasih yang membiru

melukis harmoni serupa pelangi

dan kasih manusia terajut sebagai  helai kapas

selembut udara memenuhi rongga dada

—setiap makhluk ciptaan-Nya

karena tuhan mengangkat khalifah

bukan sebagai izin untuk menjarah

menghancurkan atau sekadar mengambil

tanpa memberi imbal balik yang adil

Karanganyar, 2023


Kado Pengantin

: Rasih M. Hilmy

andai putaran waktu terhenti di awal lembaran baru

nyatanya ia masih bergerak di luar sana melawan beku

air sungai mengalir ke hilir, dedaunan menua lalu gugur

awan-awan pun sedia bergilir, butiran hujan setia bertabur

sebab kini kau bukan lagi seorang diri, tapi berdua

merayakan takdir demi segenggam bahagia

seiring sejalan kalian saling menerima

semua kenyataan apa pun adanya

“denganmu, kesialan macam apa

yang membuat derita?”

tandasmu padanya

jika tahun ini kita ibaratkan jam di dinding kamar

pada angka dua belas, sepasang jarum terhenti sebentar

setelah melewati satu episode petualangan gamang

detik ini adalah kenyataan yang berumur panjang

dan semoga inilah pengadilan suci, ganjaran

atas kebebalan yang direstui semesta raya

puisi yang kalian terima tanpa pilihan

hanya kasih sayang, tiada penyesalan

“tanpamu, keindahan macam apa

yang bisa kunikmati?”

tegasmu padanya

aku menyaksikan langit tergelar di dadamu

dengan putik dan tunas yang segera saja bersemi

pada satu pagi yang terbit dari sepasang mata istrimu

mutiara berwarna biru, perak, kelabu, jingga, dan ungu

adalah jenis-jenis musim yang kini kau himpun

setulus mungkin tanpa kehendak melawan kepastian

dan seketika itu pula kutahu, kau telah menyerah

untuk hidup merawat puisi yang kau sebut rumahmu

Karanganyar, 2023


Menjala Angin

kita telah lama belajar terbang

membuntuti angin dari negeri tanpa musim

lesap tanah dan air diserobot maling

dan kota-kota di permulaan pagi,

melahirkan anak-anak yang tumbuh dari tumpukan sampah

masa depan berpinak dari rahim hologram ladah

arus tinggi informasi

laju kemajuan teknologi

pesat kembangnya industri

dan waktu adalah panggung perayaan

senjakala kemenangan

mimpi-mimpi di meja makan,

tak peduli gizi dihidangkan setengah matang

menimbun racun yang bersekutu dengan penawarnya

layanan medis ahli

kemujaraban farmasi

kepastian polis asuransi

dan rumahsakit-rumahsakit makin subur

ragam penyakit menjamur

kita agaknya terbiasa patuh dan tabah

menirukan kegilaan dinding-dinding sekolah

kalut menghafal larik mantra dan rajah

kita pun sejatinya kerap lalai menghitung

jala angin yang ditinggalkan sayap burung-burung

dan langit lebih murung ketimbang resah gunung

Karanganyar, 2023


Ian Hasan, lahir di Ponorogo, saat ini tinggal dan bergiat di Sanggar Pamongan Karanganyar, selain juga terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata. Buku Kumpulan Cerpen perdananya berjudul Lelaki yang Mendapatkan Jawaban Atas Kisahnya Sendiri, terpilih sebagai finalis Hadiah Sastra Ayu Utami untuk Pemula “Rasa” 2022. Penulis dapat disapa memalui akun instagram @ian_hasan

Puisi

Puisi Ilham Nuryadi Akbar

Merapal Getir Masa Lalu

[Aceh-26 Desember 2004]

di tanah kami

geladir palagan belum kering

dan suara rentetan api adalah memar

yang pecah dalam memori.

mata kami bersaksi, ihwal dosa-dosa

kerap menandak melewati betis kami

hingga dua pena yang dicangking Raqib-Atid

tampak patah

lantaran pundak kami bergoyang

sepanjang musim menghindari peluru.

di atas rumah-rumah nestapa

kami persilakan desir angin

membawa murka ke rahim laut

meminta peran malaikat maut;

yang memberi kematian

pada minggu paling tenang.

hari itu, Tuhan menyuguh kafan ke punggung lautan

debur ombak mengantar seribu cawan air mata

ikan-ikan yang kerap bersengkela di jala para nelayan

berjatuhan dari langit berlumpur

memenuhi ladang yang kami garap

bumi yang kami huni

sebagai neraka kecil.

Bekasi, 29 Januari 2024.


Tamsil Peradaban

usai Hawa memetik hukum Tuhan

bumi menjadi tempat bagi Adam

menebus dosa-dosa

dan menggumbuk roda nasib.

tapi kini,

bumi hanya lautan merah tak bertepi

dan anak-anak Adam

menjala perkara haram di atas perahu emas

mengantarkan tanah leluhur

rumah para dulur

ke dermaga penuh abu.

nanti, setelah tanggal-tanggal terpenggal

rahim bumi akan mengandung seribu catatan

dan kita akan berlomba

mengarungi pulau-pulau sastra

menerjang ombak-ombak lini masa

menganju ajang pamer

pada sesuatu yang ciri

dengan beberapa cara.

Bekasi, 29 Januari 2024.


Mengadu Nasib

: 19 tahun berlalu

dan ratusan ribu jisim

adalah bangkai tak bernisan

ladang yang dipersilakan untuk kami menanam doa

memanen perpisahan

menanak rasa sakit.

sedang di hari yang bukan Ramadan

kami berpuasa atas kerinduan

memeluk orang-orang yang hingga sekarang

tak pernah lunas kami temui

melainkan sekubit tulang

kulit dan daging hitam

berkelindan syair-syair gamang.

seraya mengadu nasib

kami menabur doa-doa paling ranum

di atas pusara yang tak lagi wangi

alangkah rasa sakit yang banglas di dada kami

adalah air mata—yang selalu tumpah

namun entah ke jasad siapa!

Bekasi, 29 Januari 2024.


Dermaga Masa Depan

atas nama leluhur

kami menanam kebaikan di ladang syukur

menanak seribu doa di dapur

yang tak pernah merugi.

pun memantik nyala api—membakar nyali pada sumbu yang enggan padam

hingga pemikiran kami berkobar matang

tanpa tungku arang.

di tanah yang kami cintai ini

secangkir literasi terhidang sepanjang malam

dan kami bersumpah di dalam rumah yang sama

bahwa semangat kami enggan berbeda

meramu darah yang satu, bangsa yang satu, bahasa yang satu

menggisil perkara haram

yang sekali waktu

menjelma perkara hasai.

demi menulis peradaban

mendaras kehidupan

kami menatah perahu

mengantarkan generasi

ke dermaga masa depan

dan mengarungi

luasnya kebijaksanaan Tuhan.

Bekasi, 29 Januari 2024.


Dua Kubu

sekali waktu

aku lihat geliat ibu

bersujud runcing kepada Tuhan

dan ibu bersaksi;

bahwa dirinya kerap buta

menyayangi darah daging

melebihi yang Mencipta.

di lain waktu

ayah menyergah ingatanku:

puisi tetang ibu selalu bermula dari tunggul pohon di hutan rimbun, Nak

kala desir angin menampar-nampar tubuhnya

ia berdansa penuh birahi

menyetubuhi jari-jemari di atas secarik kertas

sampai terkulai lemas, menggelinjang

mengandung benih-benih sastra

pecah sebagai bahasa

menjelma satu puisi.

Bekasi, 29 Januari 2024.


Falsasah Seorang Ibu

ibu adalah cinta yang setiap kali hampir mati

direinkarnasi dengan doa-doa

sedang di dada anak piatu

merindukan ibu

adalah doa paling sakit.

kendati demikian

kebohongan ibu hanyalah jujur

yang dibungkam dalam waktu sementara

ibu berkata “silahkan berkelana”

meski aku tahu

bahwa kepulangan

adalah inginnya yang paling rahasia.

di tempat berbeda

aku menghitung hari-hari yang terkelupas

sembari mengingat masa kecil

yang dahulu:

ibu mencariku di antara adzan magrib

menyapih mataku di waktu subuh

menyulam nasibku yang masih setengah jadi.

Bekasi, 29 Januari 2024.


Anasir Kehidupan

mengislah mawar

sebab suamimu yang bernama langit

takkan pulang membawa hujan

dan tubuhmu itu

begitu hasai

haus keadilan.

pun tanah di sekelilingmu

kian merengek

ingin memeluk basah paling berkelas

dari ceruk matamu yang gegas

untuk merekah

rindu bersudah.

kau pun tahu, mawar

bahwa hidup bukan tembikar

yang semakin dibakar

meraup tawar-menawar

dari tangan seorang pembeli.

hidup; hanya bangku sekolah kedua

yang di atasnya

kita duduk mengernyitkan dahi

mampus berpikir

kapan ujian ini berakhir?

Bekasi, 29 Januari 2024.


Ilham Nuryadi Akbar lahir di Banda Aceh dan saat ini sedang merantau di Kota Bekasi. Buku pertamanya diterbitkan oleh Alinea Medika Pustaka berjudul Kemarau Di Matamu Hujan Di Mataku. Puisi dan cerpen dimuat pada beberapa media lokal dan nasional.

Puisi

Puisi Imam Khoironi

Fragmen Subuh

Ada dua gelap yang berdiri

di dekat tempat tidurmu

Mereka menunggumu bangun

Untuk mengentaskan rindu

Yang ditabur di sekeliling rumahmu

Sebongkah gelap melaju ke arah yang riuh

Meninggalkan rindu yang rapuh

Sebelum gemericik embun menetes

Di tanah basah tempat dibangkitkannya subuh

Kau akan membaca fragmen,

menguliti doa

dari sajak-sajak yang memanggilmu pulang

tak bisa kau temui ia

dalam buku-buku

tentang hari rindu diutus

Ada dua gelap, yang tidur

di dekat tempatmu berdiri

Mereka sedang menyiapkan

Fragmen-fragmen

Untuk kau baca dengan lirih

Sehingga rindu pulang

Ke pangkal petang

Bandar Lampung, November 2022


Kembara Malam

Aku seorang musafir

Pergi ke sudut malam yang layu

Dengan tubuh lunglai menghardik sunyi

Merapihkan kegelapan

Di ruang-ruang antara kau dan aku

Aku seorang musafir

Kembali menebar benih-benih

Di bawah pijakan kakimu

Menjelang pagi yang terhunjam gerimis

Mengosongkan suara-suara gaduh

di belakang mataku

Aku seorang musafir

Mengitari rindu di lekuk-lekuk waktu

Mengirim surat rahasia

Pada jam terakhir sebelum cahaya

Ke arah laut, ke tepi langit

Aku seorang musafir

Gelap aku tempuh menuju rumahmu

Adakah pulang paling rindu

bagi ruh dan jasad

Selain pada nuraniku

Bandar Lampung, November 2022


Antara Rindu dan Pulang Tidak Mengenal Batas

Aku memeram pagi

Hingga ia beranak pinak

Menjadi tumpukan jerami

Di bawah denting jam yang lirih

Dan memutar ke arah yang dianggap baik

Bagaimana dengan nasib cinta

Yang tertinggal di meja makan malam

Pada perbincangan lusuh itu

Kutebar pilu di bola mataku

Sepahit apa rindu, setelah lepas landas

Dari tubuhmu, kucium wangi dari ribuan

Mawar, sebelum ia mekar

Di kerut keningmu itu, kudaratkan api

Sebelum semuanya padam dan hangus

Hanya saja, subuh akan datang

Menjemputmu ke dalam luka yang sulit

Untuk diurai, sebab di batas itu

Kutaruh namamu, Safira

Tak ada sesiapa dapat menjamahnya

Kecuali jalan yang telah dibuat

Oleh doa-doaku

Bandar Lampung, November 2022


Tidak Ada Maya Hari Ini

Subuh tiba terlalu cepat

Alarm di ponsel masih pulas

Sketsa di mimpi liarmu

Masih berusaha membubarkan diri

Kalender membacakan agenda

Pukul 5 di timur cakrawala

Pagi membuka notifikasi di beranda

Tugas-tugas yang sudah tertunda

Saatnya berangkat kerja

Tidak ada maya hari ini

bayang-bayangmu telah melebur

di belakang hantu resesi

kita terlalu sering sarapan

dengan fyp tiktok

atau instastory

hingga lupa, ada realita yang harus kita hidupi

Tidak ada maya hari ini

kita akan menahan lapar dan haus

dari hidangan lezat di sosial media

kita akan mencoba merindukan

ributnya suasana di lorong “comment”

kita akan menyelami arus

yang lengang dan sunyi

sambil terus memandangi worksheet

atau menyeruput latte

Tidak ada maya hari ini

kita akan menyusuri diskusi

demi menjaga progresi

Bandar Lampung, 29 Oktober 2022


Seorang Milenial kepada Ibunya

Sore pergi begitu saja

sebelum aku sempat menyeruput senja

yang hilang memasuki lorong tanpa cahaya

di beranda rumah,

ada distorsi yang menyerang

dalam bilik-bilik kosong tanpa penjaga

di kepalaku

setelah lilin membakar diri sendiri

aku berbincang dengan Ibu

tentang pendar desa yang padam

dan jalanan bersuluh temaram

tak ada temerang selain cahya api

tak ada listrik selain bau minyak

peradaban kian maju bagi kami

semakin tak beradab bagi bumi

waktu menuju hilang

dan hidup ini semakin ricuh

apakah hanya kita

yang menyingkir dari semarak hari bumi?

kita yang selalu menidurkan daun-daun

dan mengemasi botol-botol

tidakkah pantas bagimu hadiah nobel?

Ibu, konon orang-orang kota

selalu mematikan lampu

satu jam dalam siklus kalender

untuk menghemat bumi

Bagaimana dengan kita,

yang tak bisa mengurai cahaya,

apakah ada pilar setrum di luar sana?

Bandar Lampung, 30 Oktober 2022


Imam Khoironi, lahir di desa Cintamulya 18 Februari. Masih mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris di UIN Raden Intan Lampung. Tidak terlalu suka seafood dan durian. Penggemar mi ayam dan bakso garis keras ini suka nulis puisi, cerpen kadang-kadang juga esai. Buku puisinya berjudul Denting Jam Dinding (ada di tokopedia). Karya-karyanya pernah dimuat di berbagai online dan cetak. Puisinya masuk dalam buku Negeri Rantau; Dari Negeri Poci 10 dan banyak antologi puisi lainnya. Ia bisa di-stalking di Facebook : Imam Imron Khoironi, Youtube channel: Imron Aksa, IG : @ronny.imam07 atau di www.duniakataimronaka.blogspot.com.

Puisi

Puisi Ahmad Radhitya Alam

Bianglala

Benar saja,

sekumpulan warna

pulang kampung

di selasela derai cemara

Di batas cakrawala, bias menjelma

            lingkaran roulette di mata penjudi

dan target operasi di mata polisi

Bianglala hilang

dalam hitungan menit

tanpa sempat mengatakan

pesan terakhirnya

Yogyakarta, 2022


Tubuh Waktu di Kota Maya

Di tubuh waktu aku memuai bersama udara kota

menyelisik masa tanpa tanda akan bersua

serupa rumah yang tak kunjung dihuni

kosong dan tak pernah terisi

Dengan seluruh perhitungan waktumu

kembalilah ke punggung masa

sebelum semua benar-benar maya

Di waktu yang makin batu

hidup hanya memupur bahasa

memendam isi hati dalam mulut teknologi

membungkus akal budi dalam wajah Instagram tivi

Dengan segenap wirid  yang dirapal ibu tanpa jeda

jadilah penerang di batas usia, luruh jadi suluh sederahana,

meski maktu memaksamu terus berpura-pura

maka sudahilah kemarau di kepala, kejahatan dunia maya,

lipatan dalam perkawanan masa, nyanyi bising di telinga,

keruh hati harta dunia, dan cintailah semua dengan

angan yang mengambang dalam perenungan

dari lautan taksa kita bermula

lalu hempas di ombak masa

tanpa sempat melepas kata-kata

lalu hilang dalam hitungan angka

Yogyakarta, 2023


Kasih Tak Santai

Dalam syair masa lalu

yang terkubur dalam madah sembilu

ayat peraduan telah mencipta

ritus khayali tentang requiem

yang dinyanyikan tanpa kata

Nada-nada dilantunkan

koda-koda didendangkan

doa nyaris hilang dari persembahan

cinta seakan menunggu ajal ditetapkan

Kuingat engkau, serupa kuingat syair

yang menyisakan titik nadir dalam

seonggok pasir, pongah, lalu mangkir

saat akan disisir, menyisakan tangis tanpa

mata berair, dan kenang yang terus

melekat hingga akhir

Di ujung hari

geram gusarmu mulai

keluar masuk kepala

tanpa kalimat sapa

Mencintaimu bukan soal

bagaimana cara bertahan

mencintaimu adalah seberapa

kuat merawat kehilangan

Yogyakarta, 2021-2023


Malam Tahun Baru

jika ada yang mencariku

aku tidak kemana-mana

aku di rumah

menumpahkan resah yang ruah

maaf.

sebab aku tak bisa menemanimu

merayakan pergantian tahun

ada yang lebih butuh ditemani

dalam riuh ramai kembang api

            tubuh sunyi

            diri sendiri

/2/

setelah sehari penuh

tubuh penuh peluh.

isi tenagamu dengan tidur

            sebab nanti malam perayaan syukur

sorak ramai retak-retak

nyanyi sunyi larik sajak

terdengar sampai ruang-ruang

kamar belakang

seperti biasanya

aku setia mendengar letus kembang api

            hanya dalam kamar

            sunyi geletar

Yogyakarta, 2022-2023


Merakit Cuaca

langit kota masih basah

oleh hujan air mata

yang dirakit dari luka-luka

menganga dan terbuka

lebih dari seharusnya

ikatan adalah musim dendam

yang kupendam dalam sekam

Yogyakarta, 2022


Lintasan Manusia Indonesia

dari ingatan yang pecah berserak

kaususun getas dasar yang retak:

cermin negara

dengan kota dan kata

dengan revolusi yang ledak berkali-kali

serak suara menebal dalam sejarah:

hari kita berserah

biar kita sokong di atas meja

kemana tubuh bangsa menuju berada

menginci tanah, merawat air

membeli percaya:

sila yang lima

Yogyakarta, 2023


Pancaroba Pekerja

di kering keringat menjelang jam istirahat

geletar cecar mengerak di kerah-kerah biru

menebal di kubang lara

bersanding dengan jajaran

gagasan berbalas culas

setiap lintasan waktu adalah

musim gugur untuk tubuh-tubuh suluh

“larilah ke kamar gelap”

melipat waktu yang lengang

macam harap yang kami tanggung

pada utopia menggunung

Yogyakarta, 2023



Ode Amuk Malam

sebelum ksatria mengasah dendam

biarkanlah tuba memeram ode untuk amuk malam

sedang lengking nyanyimu sendu melulu

meniup gebalau ringkik parau

di televisi kata-kata berubah menjadi senjata

saling menerkam tanpa aba-aba

menyusun sajak-sajak tanpa peduli rima

dan kebenaran telah mati dalam hitungan lima

Yogyakarta, 2023


‘65 Setelah Jakarta

Kami dibariskan di tengah jalan

Lalu disuruh jongkok dengan popor di pelipis kanan

aroma anyir menguar dari darah yang memancar

dari dada yang terkoyak lebar

setiap pagi tubuh-tubuh kaku rubuh

mengalir sepanjang Sungai Brantas

tanpa identitas

Blitar, 2022


Fatamorgana

Kita membenci dosa khalayak

Tapi berbuat dosa

lebih banyak

Yogyakarta, 2022


Ahmad Radhitya Alam, lahir di Blitar dan sedang bergiat di Yogyakarta. Menulis puisi, fiksi, dan esai yang termuat di beberapa media. Bergiat di Bunker Collective Space dan Teater Terjal. Dapat dijumpai via Instagram: radhityaalam_

Puisi

Puisi Galuh Ayara

Noise Teatrikal

kau void

dan melankolik

setiap waktu aku menyaksikanmu merasakan sebuah dejavu

seakan aku berada di kursi paling depan

sebuah pertunjukan teater yang blur

lalu masa lalu dan masa depan saling membunuh

di dunia kita semua warna menyala seperti neon

sedang kau tidak

tubuhmu redup

seringkali kau tak dilihat

tapi aku selalu berusaha melihatmu dan

ingin berlama-lama menyaksikan segala keredupan itu

aku menyimpanmu

dalam sebuah memori yang kuat dan menyala

tapi

satu persatu peristiwa pergi dari kepalaku

dan kusaksikan teater itu ditutup

dengan penuh kecewa

aku tak mau beranjak dari kursi lalu–

kau kabur

tak meninggalkan pesan apapun bahkan sekelebat bayangan

2023


Buku Mewarnai

bayangkan maut memiliki warna merah muda

malaikat adalah makhluk yang buta warna

dan kau adalah buku dengan sampul kusut dan gelap

maut itu menyelinap ke lembar-lembar dirimu yang putih

kau menjadi buku yang merah muda

lalu engkau berubah menjadi sosok yang gembira luar biasa

tapi orang-orang malah berduka

kau dianggap tiada lalu

terlupa begitu saja

2023


Pengampunan

tubuhku terbelah-

belah jadi seribu

dalam warna hitam yang kental

mirip seperti gumpalan darah

lalu segalanya menjadi persis

masa lalu melintas;

suara bising merenggut segalanya

jadi rasa asing

tubuhku tabah

lenyap dalam

‘sleeping through my fingers’

lalu lahir lagi dari

sepasang tangan yang terbakar

pada sebuah pigura putih;

kosong

bagaimana bisa aku tak mengingkari realitas?

perjalanan menghadiahiku

wajah penuh lebam

tetapi di dunia ini

tidak ada perih yang terlalu sakit

bahkan jika kematian adalah pengampunan

maka bertahan hidup tetap keberuntungan

2023


Maleficent

suatu ketika ia pernah bilang,

‘ibu kamu cantik sekali. beri ia hadiah yang mekar.”

tapi ibuku tak suka bunga

ia suka nonton sirkus dan membiarkan lututnya gemetar setiap kali pertunjukan itu seakan mengingatkannya pada sebuah tragedi.

ia juga mengajarkanku bagaimana cara menikmati gelisah yang menjadi-jadi

“kapan ibu kamu ulang tahun?”

tidak pernah

2023


Setubuh Kesenangan

kepada teman saya; morgot kidder

kepulan-kepulan asap di kepalamu seumpama awan mendung abu atau hitam kelam

o betapa kau tidak perlu pedulikan bunyi-bunyi petir yang acap membuatmu duduk gemetar berpangku tangan di sudut tempat tidur

kau hitung hari ke depan dengan umur tubuhmu yang kian letih

apa yang kau butuh hari ini?

;adalah setubuh kesenangan,

aroma kopi robusta

sebatang rokok kretek, bunyi kampanye-kampanye busuk parade politik yang berputar di instagram

nikmati apa pun yang disediakan dunia

teman saya, morgot kidder

lupakan beban deritamu

kau adalah dewi bulan yang agung

yang sedang bersiap pergi ke langit

dengan seseorang yang sedang setia menunggu cerita-cerita kecilmu berikutnya.

2023


Galuh Ayara, penulis kelahiran Jawa Barat. Karyanya dimuat di berbagai media.