Mula dari nol hitung berulang setelah sembilan sepuluh jari-jemari meletakkan zaman berbuku-buku berbilang negara atau res publica diukur tonggak satu, dua, tiga.
Sembilan, sepuluh depa dan usia diejanya jiwa-jiwa dijatah, disiapkan; ditentukan.
Karanganyar, 2022
Jenaka
Kembang hijau begitu bungah nalarnya menjalar beriring angin bersetelan mahkota, kasut, topeng, dan galah berseru, “wahai berdiang di angan dan ingin!”
Karanganyar, 2022
Sibak
Mulanya hela nafas begitu jernih. Kristal-kristal es berhembus Angin Utara dan Udara Dingin lembah di sela-sela lereng. Dibawanya tarikan nafas masa, waktu, dan musim bersampir biji-biji disemai oleh ratu di bawah pertiwi dan tanahnya. Harusnya desah nafas dihela kusir-kusir berkumis salju mengantar gugur dan semi anak-anak tahun. Diseretnya dua hingga empat perumpamaan musim dengan mata panah pada belikat bernafas setengah terengah,
“Angin adalah bedebah kembar dari waktu.”
Karanganyar, 2022
Kelelahan
Pukul delapan pagi, dia bawa sebuntal mimpi ke kamar mandi, mimpi-mimpi itu menyisakan kantung matanya, dunia begitu mudah dihadapi oleh sabun, sampo, pasta gigi, dan conditioner. Begitu dibilas, luruhlah mimpi-mimpi dan tirai dahinya dibuka oleh air dingin menjerang harap-harap kucing tersisa dari kantuknya semalam.
Saking marahnya dia, hilangnya satu buntal itu menukar limpitan bibir terkulum berhias jigong berengut tajam berseling umpat-umpatan, bahwa: dia harus memanaskan motornya, matahari belum tinggi benar orang dan mesin yang berkejaran, serta alasan agar nyawa bulan itu tetap utuh.
Dihadapinya layar, mesin, layar, mesin, layar dengan mesin ia berlayar mengubah nasibnya agar tidak dijera angan-angan, katanya. Pukul lima sore, badannya bergetah. Di tengah mesin dan manusia, dia melihat mataharinya terbenam.
Karanganyar, 2022
Lob
Empat sudut bingkai kamera, kehidupan ada dalam kolong lapar tempat-tempat tercerabut oleh perasaan lupa. Dinas adalah wilayahnya luput, luas di mana lepra meratu lela.
Karanganyar, 2022
Hamzah lebih suka menyebut dirinya bermatra jamak seperti larik Walt Whitman. Poliglot yang beraspirasi menjadi polimatis ini dapat ditemui di https://hamzah.id/
perlahan kepalaku mulai melupakan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama bercokol menghantuiku sepanjang malam dalam beberapa tahun belakangan ini.
aku tidak tahu ini gejala apa.
kata sebagian orang, ini pertanda baik, sekaligus dalam waktu bersamaan bisa jadi adalah pertanda buruk.
itu kata mereka, atau lebih tepatnya, konon.
namun satu hal, aku, tetap seperti biasa.
tidak merasa baik atau sebaliknya.
yang terjadi justru sikap apatisku atas sekelilingku, bahkan untuk diri sendiri semakin menjadi-jadi.
kupikir orang-orang akan melihat dengan kacamata tersebut.
tapi setelah kupikir-pikir lagi ini sama saja menyimpulkan secara konyol akan hal remeh-temeh.
maksudku, aku tidak perlu lagi menggubris anggapan mereka akan ini.
termasuk apa yang mereka sematkan padaku.
bisa dibilang, dalam derajat tertentu aku cenderung sepakat pada yang terakhir.
lucu, bukan?
dan menurutku ini sangat lucu.
aku lebih suka disebut seseorang yang lucu, atau orang yang suka melucu.
hanya saja tidak untuk orang lain.
2023
3.
terkadang aku merasa seperti seorang yang gemar menulis puisi panjang-panjang kepada kekasihnya.
namun ujung-ujungnya kalimat yang tertulis tidak bisa dibaca sama sekali.
aku tidak mengerti kenapa aku menuliskannya.
sementara pilihan untuk menekan tombol “berhenti” sangat terbuka lebar di depan mata.
bahkan kadangkala aku seperti seorang yang gemar mencipta sajak-sajak pendek yang ujung-ujungnya hanya didengar sekilas untuk akhirnya lesap pada ruang kealpaan.
aku tidak tahu kenapa kalimat-kalimat pendek itu tercetus di kepalaku berulang-kali.
seakan hanya bisa berhenti setelah mataku terpejam dalam pelukan mimpi.
sedangkan bisa saja aku menekan tombol “cukup” yang sebetulnya hanya berjarak hitungan senti.
tapi entah kenapa aku merasa itu tidak perlu.
paling tidak untuk sementara waktu.
2023
4.
setelah percakapan terakhir itu
kau hanya berbicara pada dirimu sendiri
angin berembus dingin
bayangan tubuh yang pergi
ruangan yang gelap
menyelimutimu dari kekalahan
setiap orang pernah kehilangan, paling tidak
sekali dalam hidup mereka.
dan bagian terburuk dari episode itu
adalah mencari cermin yang sama
melalui cermin yang lain
meskipun telah retak.
2024
5.
tak ada apa-apa di sini
tak ada tawa renyah
tak ada wajah polos
tak ada cerita-cerita yang patut dibanggakan
tak ada apa-apa
bahkan jika mungkin ada
tak lebih dari selubung
itu pun makin memudar
sisa rahasia dirimu
jadi apalagi? pergilah!
aku telah habis gairah
kepalaku dipenuhi sejarah
berisi suara-suara darimu
yang menjelma asing di telingaku.
2024
6.
hargailah setiap momentum.
sebab ia hanya datang sekali seumur hidupmu:
perjalanan, peristiwa, pelajaran,
orang-orang baru, orang-orang lama,
yang asing dan yang dikenal.
dalam satu kilasan di sebuah tikungan jalan,
atau di emperan pertokoan karena terjebak hujan,
atau di sebuah antrian ruang tunggu yang terkadang membuat kita gusar.
meskipun sekejap, hargailah.
sebab itu semua akan menjelma kenangan di arsip laci ingatan kita.
2023
7.
kenangan tak pernah bergerak maju.
ia selalu berhenti di belakang sana.
hidup tidak menuntutmu membawa seluruh kenangan itu di sini.
ia hanya menyediakan setangkup ruang kecil yang sesekali bisa dijenguk sebentar
untuk kemudian sebagai penanda bahwa peristiwa itu telah berlalu.
2023
Gandhang Kandhiridho, lahir dan berdomisili di Surakarta. Senang menuangkan kata-kata melalui medium puisi. Buku puisi yang sudah terbit; Rahim Waktu (2021) & Separuh Wajahku Bulan (2023).
membayangkan wali-wali suci sembunyi di perut paus hitam
2023
Siapa yang Dimuliakan, Siapa yang Dilupa
siapa yang dilupa?
Saat waktu berkelok begitu lembut dan syahdu melaju
dengan meneteskan peluh seperti tetes air mata duyung
keramat menyesali usia
menuju entah perbatasan mana
: disitulah mereka berbaring, mendelik dalam gelap
menangisi puisi-puisi meratapi bunyi.
tinggal doa samar yang gemetar
tersesat di wilayah senja kala.
siapa yang dimuliakan?
segala sunyi, segala yang luruh atau segala yang kembali ke subuh?
matahari sepanjang hari, bulan sepanjang awan
di jalanan masih terdengar raung klakson bersahutan
daun-daun rontok, ranting-ranting berpatahan, segala angin mendesing
: tak ada bilik lain, cuma sepetak ruang membeku dan keraskan
seluruh frase, bunyi dan kilat matamu.
menyerpih tanpa suara hanya desah
mendesiskan kenangan yang segera melapuk
dan putus di tengah-tengah bait sebelum sempat ditulis!
ini bukan akhir puisi sebab segala kata telah dipingit dan disingitkan
tak hanya di kitab-kitab wasiat nan keramat tapi juga disematkan di pusara-pusara
bahkan daun-daun di cecabang sudah menuliskannya sebagai penanda musim
puisi telah menjadi bayang-bayang raksasa menguntit siapa saja
yang melenggang atau bergegas
pun pada sumuk yang mengambang di udara
puisi tak lahir untuk mati namun berpikir untuk jalan kekal yang abai pada waktu
boleh saja semua tak peduli atau menumbuhkannya seperti pohon hayat
yang berbenih dan akarnya berurat ke pusar semesta dan runcing rantingnya
tempat hinggap burung-burung keagungan menyanyikan misteri zaman.
Ngawi, maret 2023
Memoria Desa
/1/
ingin kulihat kembali kisah-kisah lama berikut peta-petanya
tempat para brahmana dan petapa-petapa sakti menuliskan
coretan-coretan usang serupa relief pada dinding ingatan
di sinilah muasal sejarah ditafsir, dicatat, dan dirajut waktu dengan gemericik air sungai mengarus jauh menuju muara hati menjalar ke akar-akar pohon jati, berdenyut ke batang, dahan, ranting, hingga putik daun-daun melangitkan harapan lewat cericit emprit dan bekur dekukur merentang lantangkan doa-doa mumbul ke langit
/2/
: ah, peta-peta itu tak lagi bisa kubaca
seperti arus tak mungkin bakal kembali ke hilir
cuma sisa bekas ingatan, seperti lagu-lagu cengeng tempo dulu
memuja-muja rindu yang bergegas berlalu
kali-kali jernih tak lagi jadi rumah meditasi
tak akan ada lagi wali menjagai gemericiknya
batang ranting pohon kaku sendiri menatap langit asing dengan matahari lain.
tembang-tembang kinanti dan asmaradana dikubur bersama dalang-dalang silih berganti mati
kidung-kidung selawat dan barjanji telah dilipat lampu
: semua bagai tamu mencakapkan masa lalu
lantas berdiri satu-satu beranjak pergi tanpa melambai
apalagi bertukar cinderamata
/3/
kebekuan asing merongga di pelupuk mata dan ingatan
rembulan tak lagi menyimpan kemurnian
hutan-hutan tak lagi jadi pohon hayat
semua hanya milik masa silam
seperti aksara-aksara purba di primbon kuno.
Ngawi, 2023
Hujan dengan Garis Putus-Putus
langkah tersaruk-saruk
kita tetap enggan menepi
dari hujan dengan garis putus-putus
sore terperangkap sabda-sabda gaib
milik para penyair penuh rindu kemarau
menghirup aroma apu di jalan-jalan mengabu
hujan tak reda-reda
kita tetap enggan menepi
dari hujan sore hari
terperangkap sabda-sabda
gaib para penyair mengerang pada kemarau
di sana kepedihan terus berulang
tercipta dari reruntuhan kota
seperti piatu tanpa
cinta
2023
Sepanjang Malam Pintu Diketuk
sepanjang malam pintu diketuk
tamu-tamu asing membawa oleh-oleh
sekeranjang air mata
: inilah ranum untuk penanda mereka yang diabai waktu!
hujan tak lagi tumbuhkan benih yang disemai
di jarum arloji bau peluhmu bertik tok
meratap-ratap pada doa yang sia-sia
seperti perempuan renta tak berdaya
di depan jendela termangu memintal kalender
seperti menjahit luka menyambut dengus si maut
Nov, 2023
Tjahjono Widarmanto, lahir di Ngawi, 18 April. Tulisannya berupa puisi, esai, artikel dan cerpen dipublikan berbagai media. Beberapa kali menerima penghargaan di bidang kesastraan, antara lain: Penghargaan Seniman dan Budayawan Berprestasi Jatim dari Pemprov. Jatim (2002), Sayembara Penulisan Buku pengayaan Tingkat Nasional dari perpusbuk (2003, 2007, 2010, 2016, 2017), Penghargaan Sutasoma, Kategori Guru Sastra Berdedikasi dari Balai bahasa Jatim (2013), Penghargaan Sastrawan Pendidik Tingkat Nasional dari Pusat Pembinaan bahasa (2013), Sayembara Buku Puisi Terbaik Nasional versi HPI 2016, dll. Buku puisi terbarunya SULUK PANGRACUTAN dari KAMPUNG PARA ARWAH (2023), QASIDAH LANGIT, QASIDAH BUMI (2023) dan buku tunggal lainnya. Selain menulis juga pernah bekerja sebagai Pembantu Ketua I dan Dosen di STKIP PGRI Ngawi, serta menjadi guru di SMA 2 Ngawi.
Setelah jarak yang katanya hanya dapat diraba angan
Pelan-pelan menebas harapan demi harapan.
Atau barangkali masih ada,
Hal-hal lain yang berharga untuk kita jadikan alamat,
Agar kita bisa kembali pada keselamatan takdir
Meski masa lalu akan melahirkan banjir kerinduan
Dan masa depan menyimpan beragam kegelisahan.
Yogyakarta, 2023
Sebuah Bencana di Masa Lalu
–Nabi Nuh AS
Telah ia tumpahkan banjir melebihi air mata perempuan
Yang bertahun-tahun menyimpan kesunyian juga kerinduan.
Bagi mereka yang bertuhan pada sosok berhala
Yang mereka cipta dan menganggapnya maha atas segala.
Tiba-tiba Nuh datang
Berbekal sebuah kapal
Dengan niat membawa
Mereka dari duka peristiwa.
“Bismillahi Majreha Wa Mursaha”
Tapi mereka yang mencari Tuhannya sendiri
Tanpa mengikuti catatan nabi,
Bahkan putranya yang bernama Kan’an
Hanyut diantara kesesatan
Karena menolak suatu ajaran
Yang telah dititahkan tuhan
Hingga akhirnya tenggelam
Dalam maut kesedihan.
Tuhan, apakah iman yang ilmiah
Masih kalah ketimbang yang alamiah?
Yogyakarta, 2023
Falsafah Waktu
Demi waktu yang tak pernah tertata dengan rapi
Aku menolak, bila ia hanya diukur dengan angka-angka
Sebab kerangka jam yang kita pandang
Dalam hidup nyaris tak akan pernah sama.
Misal kita berjalan di atas bumi Malioboro
Berbekal cinta dan rindu yang meluap di dada
Sungguh pertemuan adalah kebahagiaan tak terhingga
Bahkan mengutuk waktu yang terasa cepat berlalu
Apabila waktu harus menuntut kita jadi masalalu.
Sebaliknya, misal kita tak sengaja bertemu lagi di Vredeburg
Sebagai mantan kekasih yang saling memendam rasa dendam
Sungguh satu jam akan terasa seperti satu abad lamanya.
Maka, tak ada waktu yang menyimpan kebahagiaan
Kecuali napas kita sedang menghirup peristiwa istimewa
Juga tak ada waktu yang menyimpan malapetaka
Kecuali napas kita sedang menghembuskan peristiwa duka.
Yogyakarta, Desember, 2023
Selamat Membaca, Ibu
; Minatun
Minggu lalu puisiku dimuat
Orang-orang mengucapkan selamat
Tapi aku akan merasa lebih bahagia
Jika ibu jadi pembaca pertama.
Sering kali aku teringat
Pada kecerobohanku sendiri
Dan ibulah yang kerap mengajari
Agar memilih sesuatu dengan cermat.
–Sebagaimana ketika ibu membelikan baju
Dengan ukuran pas, dan sesuai warna kesukaanku–
Maka dari itu,
Aku belajar memilih kata
Dengan hemat dan cermat
Agar pengamat ikut merasa nikmat.
Selamat membaca, ibu
Kutulis puisi ini untukmu.
Yogyakarta, 2023
Falsafah Tuhan
Sebab mata
Yang terlihat di hadapan kaca
Hanya mampu
Menatap yang ada di hadapanku.
Sedang hati
Yang nyaris tak kuketahui
Mampu menatap dan merasakan
Yang ada di luar nalar pikiran.
Mata yang di luar
Dekat cara ia menatap
Hati yang di dalam
Jauh cara ia menatap.
;begitulah cara kerja mata dan hati, kekasih.
Yogyakarta, 2024
Agus Widiey, Lahir di Sumenep, 17 Mei. Menulis Puisi, Cerpen, Cernak, Cermis, dan Resensi. Tulisannya tersebar di pelbagai media baik lokal maupun nasional. Sekarang tercatat sebagai mahasiswa Prodi Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pernah memenangkan lomba cipta puisi yang diselenggarakan Majelis Sastra Bandung (2021). Anggota di komunitas Damar Korong(Sumenep).
Febriana Widyat Sari, kelahiran Surakarta, Jawa Tengah tahun 1983. Menamatkan pendidikan di Fakultas Sastra dan Seni Rupa (UNS) dan Ilmu Hukum (Unisri). Seorang ibu satu anak. Sedang aktif menulis ‘gig report’ musik-musik arus pinggir untuk feedbackzine.blogspot.com.
hasrat, giat, cermat, gerak, cipta, karya, dan iman,
serta pada seduhan terakhir
—setetes nyali kutambahkan
sebelum kiamat benar-benar menjemput
di hari keberangkatan kata sekarat
aku tetap berkhidmat pada kesembuhan
dan berharap kekuatan seorang diri
mendapati sekawanan burung kenari
menumpahkan rindu yang menghijau,
menyiramkan kasih yang membiru
melukis harmoni serupa pelangi
dan kasih manusia terajut sebagai helai kapas
selembut udara memenuhi rongga dada
—setiap makhluk ciptaan-Nya
karena tuhan mengangkat khalifah
bukan sebagai izin untuk menjarah
menghancurkan atau sekadar mengambil
tanpa memberi imbal balik yang adil
Karanganyar, 2023
Kado Pengantin
: Rasih M. Hilmy
andai putaran waktu terhenti di awal lembaran baru
nyatanya ia masih bergerak di luar sana melawan beku
air sungai mengalir ke hilir, dedaunan menua lalu gugur
awan-awan pun sedia bergilir, butiran hujan setia bertabur
sebab kini kau bukan lagi seorang diri, tapi berdua
merayakan takdir demi segenggam bahagia
seiring sejalan kalian saling menerima
semua kenyataan apa pun adanya
“denganmu, kesialan macam apa
yang membuat derita?”
tandasmu padanya
jika tahun ini kita ibaratkan jam di dinding kamar
pada angka dua belas, sepasang jarum terhenti sebentar
setelah melewati satu episode petualangan gamang
detik ini adalah kenyataan yang berumur panjang
dan semoga inilah pengadilan suci, ganjaran
atas kebebalan yang direstui semesta raya
puisi yang kalian terima tanpa pilihan
hanya kasih sayang, tiada penyesalan
“tanpamu, keindahan macam apa
yang bisa kunikmati?”
tegasmu padanya
aku menyaksikan langit tergelar di dadamu
dengan putik dan tunas yang segera saja bersemi
pada satu pagi yang terbit dari sepasang mata istrimu
mutiara berwarna biru, perak, kelabu, jingga, dan ungu
adalah jenis-jenis musim yang kini kau himpun
setulus mungkin tanpa kehendak melawan kepastian
dan seketika itu pula kutahu, kau telah menyerah
untuk hidup merawat puisi yang kau sebut rumahmu
Karanganyar, 2023
Menjala Angin
kita telah lama belajar terbang
membuntuti angin dari negeri tanpa musim
lesap tanah dan air diserobot maling
dan kota-kota di permulaan pagi,
melahirkan anak-anak yang tumbuh dari tumpukan sampah
masa depan berpinak dari rahim hologram ladah
arus tinggi informasi
laju kemajuan teknologi
pesat kembangnya industri
dan waktu adalah panggung perayaan
senjakala kemenangan
mimpi-mimpi di meja makan,
tak peduli gizi dihidangkan setengah matang
menimbun racun yang bersekutu dengan penawarnya
layanan medis ahli
kemujaraban farmasi
kepastian polis asuransi
dan rumahsakit-rumahsakit makin subur
ragam penyakit menjamur
kita agaknya terbiasa patuh dan tabah
menirukan kegilaan dinding-dinding sekolah
kalut menghafal larik mantra dan rajah
kita pun sejatinya kerap lalai menghitung
jala angin yang ditinggalkan sayap burung-burung
dan langit lebih murung ketimbang resah gunung
Karanganyar, 2023
Ian Hasan, lahir di Ponorogo, saat ini tinggal dan bergiat di Sanggar Pamongan Karanganyar, selain juga terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata. Buku Kumpulan Cerpen perdananya berjudul Lelaki yang Mendapatkan Jawaban Atas Kisahnya Sendiri, terpilih sebagai finalis Hadiah Sastra Ayu Utami untuk Pemula “Rasa” 2022. Penulis dapat disapa memalui akun instagram @ian_hasan
ikan-ikan yang kerap bersengkela di jala para nelayan
berjatuhan dari langit berlumpur
memenuhi ladang yang kami garap
bumi yang kami huni
sebagai neraka kecil.
Bekasi, 29 Januari 2024.
Tamsil Peradaban
usai Hawa memetik hukum Tuhan
bumi menjadi tempat bagi Adam
menebus dosa-dosa
dan menggumbuk roda nasib.
tapi kini,
bumi hanya lautan merah tak bertepi
dan anak-anak Adam
menjala perkara haram di atas perahu emas
mengantarkan tanah leluhur
rumah para dulur
ke dermaga penuh abu.
nanti, setelah tanggal-tanggal terpenggal
rahim bumi akan mengandung seribu catatan
dan kita akan berlomba
mengarungi pulau-pulau sastra
menerjang ombak-ombak lini masa
menganju ajang pamer
pada sesuatu yang ciri
dengan beberapa cara.
Bekasi, 29 Januari 2024.
Mengadu Nasib
: 19 tahun berlalu
dan ratusan ribu jisim
adalah bangkai tak bernisan
ladang yang dipersilakan untuk kami menanam doa
memanen perpisahan
menanak rasa sakit.
sedang di hari yang bukan Ramadan
kami berpuasa atas kerinduan
memeluk orang-orang yang hingga sekarang
tak pernah lunas kami temui
melainkan sekubit tulang
kulit dan daging hitam
berkelindan syair-syair gamang.
seraya mengadu nasib
kami menabur doa-doa paling ranum
di atas pusara yang tak lagi wangi
alangkah rasa sakit yang banglas di dada kami
adalah air mata—yang selalu tumpah
namun entah ke jasad siapa!
Bekasi, 29 Januari 2024.
Dermaga Masa Depan
atas nama leluhur
kami menanam kebaikan di ladang syukur
menanak seribu doa di dapur
yang tak pernah merugi.
pun memantik nyala api—membakar nyali pada sumbu yang enggan padam
hingga pemikiran kami berkobar matang
tanpa tungku arang.
di tanah yang kami cintai ini
secangkir literasi terhidang sepanjang malam
dan kami bersumpah di dalam rumah yang sama
bahwa semangat kami enggan berbeda
meramu darah yang satu, bangsa yang satu, bahasa yang satu
menggisil perkara haram
yang sekali waktu
menjelma perkara hasai.
demi menulis peradaban
mendaras kehidupan
kami menatah perahu
mengantarkan generasi
ke dermaga masa depan
dan mengarungi
luasnya kebijaksanaan Tuhan.
Bekasi, 29 Januari 2024.
Dua Kubu
sekali waktu
aku lihat geliat ibu
bersujud runcing kepada Tuhan
dan ibu bersaksi;
bahwa dirinya kerap buta
menyayangi darah daging
melebihi yang Mencipta.
di lain waktu
ayah menyergah ingatanku:
puisi tetang ibu selalu bermula dari tunggul pohon di hutan rimbun, Nak
kala desir angin menampar-nampar tubuhnya
ia berdansa penuh birahi
menyetubuhi jari-jemari di atas secarik kertas
sampai terkulai lemas, menggelinjang
mengandung benih-benih sastra
pecah sebagai bahasa
menjelma satu puisi.
Bekasi, 29 Januari 2024.
Falsasah Seorang Ibu
ibu adalah cinta yang setiap kali hampir mati
direinkarnasi dengan doa-doa
sedang di dada anak piatu
merindukan ibu
adalah doa paling sakit.
kendati demikian
kebohongan ibu hanyalah jujur
yang dibungkam dalam waktu sementara
ibu berkata “silahkan berkelana”
meski aku tahu
bahwa kepulangan
adalah inginnya yang paling rahasia.
di tempat berbeda
aku menghitung hari-hari yang terkelupas
sembari mengingat masa kecil
yang dahulu:
ibu mencariku di antara adzan magrib
menyapih mataku di waktu subuh
menyulam nasibku yang masih setengah jadi.
Bekasi, 29 Januari 2024.
Anasir Kehidupan
mengislah mawar
sebab suamimu yang bernama langit
takkan pulang membawa hujan
dan tubuhmu itu
begitu hasai
haus keadilan.
pun tanah di sekelilingmu
kian merengek
ingin memeluk basah paling berkelas
dari ceruk matamu yang gegas
untuk merekah
rindu bersudah.
kau pun tahu, mawar
bahwa hidup bukan tembikar
yang semakin dibakar
meraup tawar-menawar
dari tangan seorang pembeli.
hidup; hanya bangku sekolah kedua
yang di atasnya
kita duduk mengernyitkan dahi
mampus berpikir
kapan ujian ini berakhir?
Bekasi, 29 Januari 2024.
Ilham Nuryadi Akbar lahir di Banda Aceh dan saat ini sedang merantau di Kota Bekasi. Buku pertamanya diterbitkan oleh Alinea Medika Pustaka berjudul Kemarau Di Matamu Hujan Di Mataku. Puisi dan cerpen dimuat pada beberapa media lokal dan nasional.
Imam Khoironi, lahir di desa Cintamulya 18 Februari. Masih mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris di UIN Raden Intan Lampung. Tidak terlalu suka seafood dan durian. Penggemar mi ayam dan bakso garis keras ini suka nulis puisi, cerpen kadang-kadang juga esai. Buku puisinya berjudul Denting Jam Dinding (ada di tokopedia). Karya-karyanya pernah dimuat di berbagai online dan cetak. Puisinya masuk dalam buku Negeri Rantau; Dari Negeri Poci 10 dan banyak antologi puisi lainnya. Ia bisa di-stalking di Facebook : Imam Imron Khoironi, Youtube channel: Imron Aksa, IG : @ronny.imam07 atau di www.duniakataimronaka.blogspot.com.
jadilah penerang di batas usia, luruh jadi suluh sederahana,
meski maktu memaksamu terus berpura-pura
maka sudahilah kemarau di kepala, kejahatan dunia maya,
lipatan dalam perkawanan masa, nyanyi bising di telinga,
keruh hati harta dunia, dan cintailah semua dengan
angan yang mengambang dalam perenungan
dari lautan taksa kita bermula
lalu hempas di ombak masa
tanpa sempat melepas kata-kata
lalu hilang dalam hitungan angka
Yogyakarta, 2023
Kasih Tak Santai
Dalam syair masa lalu
yang terkubur dalam madah sembilu
ayat peraduan telah mencipta
ritus khayali tentang requiem
yang dinyanyikan tanpa kata
Nada-nada dilantunkan
koda-koda didendangkan
doa nyaris hilang dari persembahan
cinta seakan menunggu ajal ditetapkan
Kuingat engkau, serupa kuingat syair
yang menyisakan titik nadir dalam
seonggok pasir, pongah, lalu mangkir
saat akan disisir, menyisakan tangis tanpa
mata berair, dan kenang yang terus
melekat hingga akhir
Di ujung hari
geram gusarmu mulai
keluar masuk kepala
tanpa kalimat sapa
Mencintaimu bukan soal
bagaimana cara bertahan
mencintaimu adalah seberapa
kuat merawat kehilangan
Yogyakarta, 2021-2023
Malam Tahun Baru
jika ada yang mencariku
aku tidak kemana-mana
aku di rumah
menumpahkan resah yang ruah
maaf.
sebab aku tak bisa menemanimu
merayakan pergantian tahun
ada yang lebih butuh ditemani
dalam riuh ramai kembang api
tubuh sunyi
diri sendiri
/2/
setelah sehari penuh
tubuh penuh peluh.
isi tenagamu dengan tidur
sebab nanti malam perayaan syukur
sorak ramai retak-retak
nyanyi sunyi larik sajak
terdengar sampai ruang-ruang
kamar belakang
seperti biasanya
aku setia mendengar letus kembang api
hanya dalam kamar
sunyi geletar
Yogyakarta, 2022-2023
Merakit Cuaca
langit kota masih basah
oleh hujan air mata
yang dirakit dari luka-luka
menganga dan terbuka
lebih dari seharusnya
ikatan adalah musim dendam
yang kupendam dalam sekam
Yogyakarta, 2022
Lintasan Manusia Indonesia
dari ingatan yang pecah berserak
kaususun getas dasar yang retak:
cermin negara
dengan kota dan kata
dengan revolusi yang ledak berkali-kali
serak suara menebal dalam sejarah:
hari kita berserah
biar kita sokong di atas meja
kemana tubuh bangsa menuju berada
menginci tanah, merawat air
membeli percaya:
sila yang lima
Yogyakarta, 2023
Pancaroba Pekerja
di kering keringat menjelang jam istirahat
geletar cecar mengerak di kerah-kerah biru
menebal di kubang lara
bersanding dengan jajaran
gagasan berbalas culas
setiap lintasan waktu adalah
musim gugur untuk tubuh-tubuh suluh
“larilah ke kamar gelap”
melipat waktu yang lengang
macam harap yang kami tanggung
pada utopia menggunung
Yogyakarta, 2023
Ode Amuk Malam
sebelum ksatria mengasah dendam
biarkanlah tuba memeram ode untuk amuk malam
sedang lengking nyanyimu sendu melulu
meniup gebalau ringkik parau
di televisi kata-kata berubah menjadi senjata
saling menerkam tanpa aba-aba
menyusun sajak-sajak tanpa peduli rima
dan kebenaran telah mati dalam hitungan lima
Yogyakarta, 2023
‘65 Setelah Jakarta
Kami dibariskan di tengah jalan
Lalu disuruh jongkok dengan popor di pelipis kanan
aroma anyir menguar dari darah yang memancar
dari dada yang terkoyak lebar
setiap pagi tubuh-tubuh kaku rubuh
mengalir sepanjang Sungai Brantas
tanpa identitas
Blitar, 2022
Fatamorgana
Kita membenci dosa khalayak
Tapi berbuat dosa
lebih banyak
Yogyakarta, 2022
Ahmad Radhitya Alam, lahir di Blitar dan sedang bergiat di Yogyakarta. Menulis puisi, fiksi, dan esai yang termuat di beberapa media. Bergiat di Bunker Collective Space dan Teater Terjal. Dapat dijumpai via Instagram: radhityaalam_