Cerpen

Puisi Anggi Putri

Lakuna

sepotong cerita yang terpaksa dipangkas

dan dituntaskan oleh waktu

gerimis di ujung telunjuk bagai air mata

yang menganak sungai hingga ke pangkal dada

menggumpal dan jadi ruang

: hampa

Luka,

bukan sayatan ataupun dera

yang sesekali bisa sembuh oleh masa

wicara hanya sampai kata A

kelasah tumpah ruah

episode yang tertikam dan hanyut di ujung pusara

: entah

Lalu,

kau hanya tersenyum hambar

mengujiku agar terus mengatasnamakan sabar

bukan lara, bukan ketidakrelaan yang berkelakar

hanya saja–kau

lebur bersama doa yang kupanjatkan

entah sepekan

Jombang, 26 Februari 2024


Stasiun Kata

angin bergelut dengan decitan peron-peron

menggertak semesta dengan nanar

ruang tunggu yang kosong,

berisi kesepian

sejak pukul enam langit berkelakar

memintaku merenung dari tiap bait puisi

yang kusimpan hingga tak berbentuk lagi

akhirnya meledak dalam sunyi

kursi penumpang belum terisi

seperti hati manusia yang bergelut dengan ilusi

tak ada yang menjembatani

ego dan insecurity

tak ada jawab, tak ada tanya

hanya stasiun kata

yang melebar dari mulut-mulut manusia

penuh kelasah di dada

Jombang, 17 Maret 2024


Pintu Masuk

langkah yang melaju tak bisa berhenti

langkah yang terhenti kian menjadi

buta, penuh ragu berkelindan dalam hati

: puisi

tak ada hal yang bisa masuk dengan mudah

tak ada hal yang terhenti dengan sendirinya

Sesak di dada hanya ulah kata-kata

Menari di kepala sampai akhirnya terjerembab

dalam lantunan doa

barangkali tak ada muasal gulana

hingga arus air mata jadi saksi dan lakuna

terus mengetuk ingin masuk ke dalam sana

meski resah tiada akhir dan hampa semakin

mengikatmu dalam kelana entah

Jombang, 17 Maret 2024


Sepekan Lalu

: Emak

sepekan lalu,

belum siap ku menunggu napas terakhirmu

wicara dan secangkir kopi hitam di beranda kabur

menyeletuk namamu yang kini tak sanggup

kuucap meski kini berubah sepatah frasa

:ambigu

sepekan lalu,

saat jiwa berkisah dan duduk di antara kata-kata

kau masih menuturkan nasihat lama,

tentang pepatah yang harus diterima

tentang doa-doa yang harus kuantarkan

meski belum tahu untuk siapa

sepekan lalu,

kau ajarkan mengeja waktu, pendeknya jeda

ba’da maghrib hingga ayam mematuk subuh

di kepala, tak ada kelasah

hingga kau pejamkan mata

sebentar yang berarti selamanya

Jombang, 7 Mei 2024


Jejak Kota Ini

kota ini membaca jejak kita

dunia teduh yang menunggu

tak ada yang menjadi tanda

isyarat itu dalam rinai suara-suara

hari pun usai, waktu terguncang

seperti sejumlah kata

yang menggelepar keluar

dan sepotong sajak dari bait terlepas

kota ini amsal repetisi

hari terus melata menyingkap wajahmu

tanpa jawaban pasti,

menyekap debar dingin;

dalam puncak malam yang gigil

sendiri

Surabaya, 30 Maret 2021


Anggi Putri, pencinta sajak, kopi, dan hujan. Komite Sastra Dewan Kesenian Jombang 2019-2022. Buku puisinya Angin Kembara (2015) dan Laku(na) (2016). Peserta IIBF 2019 Solo dengan karya Kala Ratih (2019). Karya-karyanya dimuat media online maupun cetak. Aktif menulis di blog pribadi www.anggiputri.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *