Puisi

Puisi Ilham Wahyudi

Duka Lara

Sekiranya ia datang berkunjung

Segera palingkan wajah ke Magribi

Merah suram gelap lakunya itu

Tak elok memaksa kau layuh

Meski boleh jadi limpahan airnya

Obat percuma bagi luluh lantak rimba raya

Ia hakikatnya pandai menjadi petunjuk

Hadiah yang menawan guna perjalanan

Walakin tetap saja kau harus awas

Bilamana muncul serentak berduyun-duyun

Mengurung kau yang lengah rayuan Lilith

Agar semua yang telah pecah-robek

Tak sempat kau jahit lurus kembali

Akasia 11CT


Tirai

Tirai yang terbengkil-bengkil susah payah kau singkap itu senyata luas terpampang di hadapanku. Meskipun belum sepenuhnya terang kumasuki. Akan tetapi hitam putih yang terhampar di sana halus-halus mekar dalam liat merahku. Tentu saja merah yang bebal-teruk dan bukan main litak pada suluk pencariannya. Bagiku, menjadi salik (serupa kau) patut mengajuk jalan yang kau pajang melintang lepang. Karena itu janganlah cemeeh yang kau tonjolkan, sehingga esok kiranya tumbuh menjulang tiada antara kita yang perlu bertukar belas kasihan.

Akasia 11CT


Hijau

Terberkatilah ibumu telur mata sapi pagi; dan ayahmu luas langit tengah hari. Sampai bentala semata indah oleh halus-tebal budi pekerti; indra kami segar-bugar memandangi.

Dari rambutmu yang mahir menyaru, tahukah kau kami belajar mendirikan rencana (kami simpan yang patut dan kami bagi yang layak dibagi). Agar kelak apa yang belum kami maklumi, mudah percuma kami siasati.

Akan tetapi, (oh daging tak tahu diri) terlampau loba kami mencuri perangaimu tinggi agung tak berperi; namun senyata tak putus terus memberi. Sehingga semua rencana tentang akal budi, sekejap tunggang langgang angkat kaki.  

Maka baris-berbaris kami ingin menakluki; semua yang telah sempurna kau masuki. Seraya diam-diam, kami tebas pula urat leher anak-cucumu yang kokoh berdiri (menahan laju limpahan bah).

Sungguh, betapa hijau kini tubuh kami sekadar mahfum cintamu tak kunjung habis menepi. Oleh karena itu, kutuk saja kami segera! Sebelum hijau budi pekerti tandas merasai jatuh ke bumi.

Akasia 11CT  


Kuning

Belerang, bambu, gersing, India, jagung, janur, jenar, kenari, kepodang, limau, loyang, madu, malam, pepaya, pandang semua senang semata mengenakan mantel mahardikamu. Kau acap pula kupergoki berbaring di antara roti sarapan pagi; kadang dalam piring warteg makan siang kami, pun begitu juga kau terampil mahir menyelinap ke Terang Bulan kami yang legit menggigit (lihat, betapa pelit kami berbagi, sedangkan kau tekun rajin memberi).

O, betapa papa kami, sampai-sampai alpa bila namamu pernah pula duduk mesra bersanding dengan moyang bangsa Huaxia yang maju sejahtera. Begitu pula sungai yang jenjang dari pegunungan Tibet tak kuasa menerima kau sebagai nama. Kekallah; abadilah meski riwayatmu tak selalu terbaca mata. Kaukah cahaya yang menjelma terang siang, atau sebatas ilusi pantulan, belaka? 

Akasia 11CT


Merah

Umpama jantung jelita tertawan gelisah

susah payah menanggung derita rindu,

seperti gaun terang wong cilik di pemerintah

tak cukup buas menjaga amanat rakyat

ibarat selimut orok dalam kantung darah

licinlah; lancarlah jalan melewati liang,

serupa tandik lombok Jawa di lidah

amboi; keringat dingin jua nan mengalir,

(tapi bukan jerawat; bukan pula kecup puan,

walau mekar meriah kala tuan hadir bertandang) –

percayalah itu semata laksana,

misal belaka perihal jubah yang terang menyala,

memelompat bersembunyi dalam kata pun bahasa,

supaya terhalau duga sangka ke tepi jurang

tikai selisih yang tak berguna.

Akasia 11CT


Biru

kemari, datanglah segera laut

biar kucelupkan jari-jari pagi

ke alas tubuhmu yang semrawut

kesini, lekas cepatlah langit

agar kugenapkan putih sepi

menjadi corak terang menggigit

tapi, baik-baiklah memantul

supaya lapang-lempang jisimmu

mudah percuma nubuat menukilkan

selendang rambutmu molek di bait puisi

Akasia 11CT


Putih

Jika hatimu semerah apel di kebun Tuan sukacita. Maka putih hatiku laksana awan selepas hujan sore di gubuk duka lara. Kata orang, hati yang merah tampak memesona. Sehingga segenap yang kering pucat betapa kukuh-ingin tampil menyentak. Namun bila kekasih adalah tujuan, maka yang putih akan selalu rela berkorban. Serupa laron terbang menuju pijar terang; biarlah mati asal wajahnya terang terlihat.

Akasia 11CT


Ilham Wahyudi, lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia seorang juru antar makanan di DapurIBU dan seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Puisi-puisinya ada yang ditolak redaksi ada yang dimuat redaksi. Buku kumpulan puisinya “Pertanyaan yang Menyelinap” akan segera terbit.