Buku, Resensi

Alangkah Sukarnya Menjadi Presiden Indonesia!

Oleh: Moch. Ferdi Al Qadri

Judul Buku: Mencari Autentisitas dalam Dinamika Zaman

Penulis: Ahmad Syafii Ma’arif

Penerbit: IRCiSoD

Tahun: 2019

Isi: 432 hlm.

Judul di atas merupakan kalimat pamungkas Ahmad Syafii Ma’arif dalam tulisannya berjudul: Soekarno: Antara Kebesaran dan Kekurangannya. Soekarno adalah salah satu referensi utama yang dibahas, yang kemudian menjadi bangunan pemikiran dalam buku ini, yang di antaranya menyangkut bahasan berikut:

Soekarno adalah pemimpin yang bukan sembarang pemimpin. Kemerdekaan republik ini adalah bukti keampuhannya sebagai “penyambung lidah rakyat”. Ia tegap berdiri dan tidak ciut mental di hadapan para perampok yang datang jauh dari Belanda, juga Jepang. Keberaniannya itu juga membuatnya tidak berhenti bersuara, baik di atas podium maupun lewat tulisan-tulisan yang tercetak.

Namun, sebagai manusia biasa, Soekarno tak bisa luput dari kesalahan. Setelah bersusah payah melawan penjajahan hingga sampailah kepada “saat yang berbahagia”, ia seperti menjelma sosok yang lain sama sekali. Menjadi presiden baginya adalah menjadi penguasa, dan sikap mental semacam itu justru berbalik merugikan rakyat.

Bertahun-tahun lamanya Soekarno berjalan bersisian dengan Hatta. Mereka dijuluki dwitunggal. Soekarno-Hatta yang bersatu adalah kunci kemerdekaan bangsa Indonesia. Sebaliknya, Soekarno-Hatta yang tercerai, yang berubah jadi dwitanggal, adalah titik mula kediktatoran “ugal-ugalan” sang pemimpin besar revolusi itu.

Negara berlandaskan prinsip demokrasi kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan demi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang selama ini dicita-citakan, akhirnya tinggal bahan kliping di koran-koran. Pada akhirnya, Soekarno “menguburkan demokrasi itu atas nama Demokrasi Terpimpin yang dikritik Hatta melalui ungkapan-ungkapan yang tidak kurang pedasnya” (h. 407). Soekarno melacurkan dirinya kepada otoritarianisme, lalu jatuh tersungkur di hadapan penderitaan rakyat.

Bermula pemberontakan PKI, krisis politik dan ekonomi melanda Indonesia. Puncaknya adalah inflasi 650% pada 1966/1967. Bukan lagi cita-cita yang digantung setinggi langit, melainkan harga pangan yang terbang sampai ke bulan. Derita mana lagi yang mampu mereka elakan?

Belajar dari Sejarah

Soekarno adalah nama yang paling banyak disebut dalam buku ini, yakni 37 kali. Setelahnya adalah Moh. Hatta yang selisihnya hanya lebih sedikit tiga kali. Buya Syafii mengajak kita semakin dekat dengan keduanya dengan satu cara: belajar dari sejarah.

Soekarno dan Hatta punya wakat yang berbeda. Buya Syafii mengibaratkan keduanya sebagai gas dan rem seperti yang terdapat dalam kendaraan bermotor.

Soekarno secara terang-terangan menunjukkan ketidaksudiannya bila Israel, yang saat itu sudah menjajah Palestina, menginjakkan kaki di Indonesia pada Asian Games IV (1962). Kecaman yang diberikan International Olympic Committee (IOC) tidak membuatnya gentar. Ia justru menginisiasi olimpiade olahraga internasional tandingan bernama Ganefo (Games of the New Emerging Forces).

Itu Soekarno yang sukanya ngegas. Di seberangnya, Hatta, adalah sosok yang bersedia mendengarkan keluhan dari pemuka-pemuka masyarakat Indonesia bagian Timur mengenai teks Piagam Jakarta yang “menganaktirikan” mereka. Maka, demi menjaga keutuhan bangsa yang lebih dari 25 tahun lamanya ia perjuangkan “melalui bui dan pembuangan”, Hatta lalu mengajukan masalah ini pada sidang PPKI, hingga akhirnya dicoretlah tujuh kata yang “legendaris” itu. Buya Syafii memberikan kesan terhadap sosok yang satu ini sebagai “pejuang besar bangsa, penghuni bui pada masa kolonial, demokrat sejati dalam teori dan praktik” (h. 195).

Sejarah sudah membentangkan kisahnya di depan mata. Pertanyaannya adalah mampukah para pemimpin kita menggunakan akalnya secara optimal, sehingga kepingan-kepingan itu dapat mereka susun dan menjadikannya pelajaran yang berharga untuk membangun Indonesia yang merdeka? Adakah mereka bersih dari segala godaan kekayaan dan kekuasaan, sehingga keduanya hanya ada dalam genggaman saja, bukan merajai hati mereka?

Kenyataannya, 80 tahun setelah Indonesia merebut kedaulatannya, masih banyak elite politik kita yang buta dan tuli sejarah. Pun seandainya mereka dapat melihat dan mendengar dengan jernih, akal dan hati mereka sudah telanjur gelap gulita.

Dinasti politik ada di mana-mana, sehingga dianggap rakyat sebagai wajar belaka. Korupsi merajalela, dari tingkat pusat sampai ke daerah-daerah. Betapa mark up harga makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah merugikan banyak orang. Korupsi sudah menjalar ke lapisan masyarakat paling bawah sekalipun!

Politik bukan lagi jalan mewujudkan idealisme, membenturkannya dengan realitas kehidupan yang jauh dari kata ideal. Hukum dan keadilan dipermainkan. Semuanya untuk memperkaya diri mereka sendiri. Kenyataannya, kebanyakan elite politik kita hari ini tidak lagi punya ideologi selain pragmatisme belaka.

Pertanyaan berikutnya, bisakah kita berharap bahwa presiden kita hari ini mampu mewujudkan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”?

Bila kita mengacu pada obrolan terakhirnya dengan para jurnalis hingga pengamat di Hambalang beberapa waktu lalu, maka bisa kita simpulkan kalau harapan masih ada, tetapi masih sangat kecil kemungkinannya untuk terwujud.

Sebabnya ialah presiden kita, bahkan setelah menjabat, masih saja melontarkan slogan-slogan mirip janji-janji kampanye. Ia meminta rakyat percaya sepenuhnya kepadanya. Ia mengatakan bahwa semua yang dilakukannya adalah demi kepentingan bangsa, demi kepentingan rakyat seluruhnya. Percayakah kita?

Sembari mengatakan itu, di tengah-tengah kita masih saja terjadi keracunan karena MBG di sekolah-sekolah. Sembari mengatakan itu, tiba-tiba saja kita sudah punya ribuan unit motor dan mobil yang dibeli menggunakan uang rakyat, dan kita masih meragukan apa manfaatnya buat rakyat. Sembari mengatakan itu, penanganan kasus kriminalisasi terhadap para aktivis dan pembela HAM masih simpang siur tak jelas bagaimana ujungnya.

Setelah mengatakan itu, presiden sendiri tidak berhenti melawat ke luar negeri, sembari mencekik rakyat di bawah dengan mantra efisiensi.

Presiden adalah orang yang paling wajib untuk belajar dari sejarah. Di samping juga yang mesti paling berani untuk mengungkapkan kebenaran dan membereskan “kesalahan” sejarahnya sendiri. Adalah sudah pasti tugas ini sangat berat untuk dilakukan. Tetapi sekali lagi, dia harus melakukannya!

Paling tidak, presiden harus berani ngegas ke para penguasa asing yang berniat menggerogoti kekayaan bangsa kita, dan mampu ngerem agar para pengkritiknya dapat mengatakan kebenaran tanpa takut pada penindasan dalam segala bentuknya.

Memang benar kata Buya Syafii: alangkah sukarnya menjadi presiden Indonesia![]

____________________

Moch. Ferdi Al Qadri. Penjaga Perpus Sekolah, tinggal di Mamuju

Buku, Resensi

Mengintip Luka-Luka di Sekitar Kita

Oleh Yuditeha

Judul Buku : Petaka, Kenangan, dan Cerita Lain

Penulis : Kelas Menulis Intensif Klub Buku Suakata 2025

Penerbit : Penerbit Meja Tamu

Cetakan : Januari 2026

Halaman : x+106 hlm, 14×20 cm

ISBN : 978-623-854-290-1

Ada sesuatu yang menarik ketika sebelas orang menulis cerita dari ruang yang sama, kelas menulis, tetapi menghasilkan sebelas arah kegelisahan yang berbeda. Antologi Petaka, Kenangan, dan Cerita Lain (Penerbit Meja Tamu, Januari 2026) seperti kumpulan serpihan kaca, yang masing-masing kecil tetapi jika dikumpulkan ia memantulkan wajah masyarakat dengan cukup jujur, bahkan agak menyakitkan. Yang terasa sejak awal, buku ini memang berupaya untuk jujur. Dan kejujuran dalam sastra sering kali memang tidak nyaman.

Cerpen pembuka Petaka Sarung karya Melati Puspita Febriyanti memotret salah satu ritual paling lazim dalam dunia remaja lelaki, solidaritas palsu yang sering lahir dari ejekan. Evan adalah tipe anak yang mudah ditemukan di banyak sekolah, tidak cukup kuat untuk dihormati, tidak cukup berani untuk melawan, sehingga menjadi sasaran empuk humor yang sebenarnya kejam. Melati tidak menggurui pembaca tentang tawuran remaja. Ia hanya memperlihatkan bagaimana solidaritas sering muncul setelah kematian, ketika penyesalan sudah tidak punya guna. Yang terasa pahit justru sikap teman-teman Evan yang tiba-tiba berubah menjadi pahlawan setelah Devan mati. Dalam cerpen ini, tawuran bukan lagi soal keberanian, melainkan soal bagaimana rasa bersalah kolektif mencari kambing hitam baru. Evan akhirnya bukan sekadar korban polisi, tetapi korban dari kebutuhan orang lain untuk merasa berani.

Cerpen kedua, Dia Tidak Lagi Melenggok karya Angelina Regina Wawo, terasa seperti pisau yang diarahkan pada maskulinitas yang rapuh. Tokoh Wiryo ingin membuktikan dirinya laki-laki tangguh melalui anaknya, Wiro. Masalahnya sederhana sekaligus tragis: Wiro tidak tertarik menjadi lelaki versi ayahnya. Di tangan Angelina, konflik ini tidak ditulis sebagai drama keluarga biasa, tetapi sebagai warisan trauma. Ada masa lalu yang diam-diam mengendap dalam diri Wiryo, sebuah pengalaman yang membuatnya merasa harus terus membuktikan dirinya lelaki sejati. Cerpen ini seperti mengingatkan bahwa sebagian besar kekerasan terhadap identitas sebenarnya lahir dari rasa takut yang tidak pernah diakui. Wiryo bukan sekadar ayah yang keras; ia adalah lelaki yang sepanjang hidup berusaha melarikan diri dari bayangannya sendiri.

Tema benturan individu dan sistem muncul dalam Anak dari Pabrik dan Sungai karya Farah Iqlillah Arifri. Sungai Brantas dalam cerita ini bukan hanya sungai; ia adalah ingatan masa kecil yang pelan-pelan berubah menjadi limbah. Jojo pulang dengan idealisme yang masih bersih, tetapi desa sudah belajar cara lain untuk bertahan hidup: diam. Yang membuat cerpen ini menarik bukan aksi protes Jojo, melainkan kesunyian yang mengelilinginya. Orang-orang tahu sungai itu rusak, tetapi mereka juga tahu dapur harus tetap menyala. Farah menulis konflik klasik pembangunan: siapa sebenarnya yang berhak marah ketika kerusakan lingkungan juga memberi makan banyak keluarga? Di sini, keberanian Jojo terasa heroik sekaligus naif, dan justru di situlah daya pukul cerpen ini.

Rosul Jaya Raya dalam Kemarin, memilih teknik yang cukup berisiko, menggunakan sudut pandang orang kedua, kamu. Teknik ini menciptakan jarak yang aneh sekaligus intim. Pembaca seolah didorong masuk ke dalam kepala seorang lelaki yang hidupnya diatur oleh keputusan orang lain, ibunya, pekerjaannya, bahkan rasa penyesalannya sendiri. Cerpen ini menguliti satu hal yang sering tidak dibicarakan: bagaimana stabilitas hidup kadang dibayar dengan kematian mimpi. Tokoh kamu akhirnya mendapatkan hidup yang mapan, tetapi kehilangan sesuatu yang tidak pernah bisa dibeli kembali, kemungkinan. Rosul tampaknya ingin mengatakan bahwa kegilaan tidak selalu datang dari kekacauan; kadang ia tumbuh dari hidup yang terlalu mulus.

Nada satir mulai terasa kuat dalam Seperti Bermain Catur karya Satria A. Ramadhan. Cerpen ini memotret ambisi politik tingkat desa dengan cara yang hampir komikal. Hamzah percaya bahwa jabatan kepala desa bisa diraih seperti langkah catur, cukup dengan strategi dan sedikit bantuan supranatural. Satria tampaknya sedang menertawakan kebiasaan lama dalam politik lokal: keyakinan bahwa kekuasaan bisa dinegosiasikan dengan dunia gaib. Pertemuan Hamzah dengan Mbah Kholik menjadi semacam alegori tentang cara orang mencari jalan pintas menuju kekuasaan. Ironinya, ketika Hamzah kalah, ia masih menyalahkan dukun, bukan dirinya sendiri. Di sinilah cerpen ini terasa tajam: kegagalan tidak pernah benar-benar mengajarkan sesuatu kepada orang yang terlalu yakin dirinya pantas menang.

Sementara itu, Akhmad Gerrard Efrad dalam Sehari Bersama Burna, menulis cerita yang terasa sangat kontemporer: kegagalan ekonomi anak muda. Alif bukan kriminal besar; ia hanya seseorang yang salah memperhitungkan masa depan. Utang yang membesar membuatnya hidup dalam ketakutan yang hampir absurd. Gerrard berhasil membangun suasana psikologis yang membuat pembaca merasa bahwa utang bukan hanya angka, melainkan tekanan yang terus menempel di kepala seseorang. Yang menarik, tokoh Pak Burna tidak digambarkan sekadar antagonis. Ia lebih mirip simbol dari sistem yang dingin, utang harus dibayar, apa pun keadaan manusianya.

Ketika sampai pada cerpen ketujuh, nada antologi ini berubah sedikit lebih kontemplatif, bahkan agak surealis. Gerundelan Patung Gajah karya M. Alvin Sanah adalah cerita yang diam-diam menguji kesabaran pembaca. Tokoh aku dalam cerpen ini bukan manusia, melainkan sebuah patung gajah di taman kota. Pilihan perspektif ini bisa saja jatuh menjadi gimmick semata, tetapi Alvin memanfaatkannya untuk berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam, nasib benda-benda yang pernah diagungkan lalu dilupakan. Patung gajah itu pada mulanya menjadi simbol kebanggaan, lalu pelan-pelan berubah menjadi latar yang tak lagi diperhatikan. Cerita ini terasa seperti sindiran halus terhadap cara masyarakat memperlakukan simbol-simbol publik. Kita gemar meresmikan sesuatu, memotretnya, memujinya, lalu meninggalkannya ketika hal baru datang. Yang menarik, hubungan antara patung itu dan seorang gadis kecil menghadirkan dimensi lain, ingatan ternyata bisa menjadi jembatan yang lebih kuat daripada waktu. Di sini Alvin tampaknya sedang berkata bahwa sesuatu baru benar-benar mati ketika tidak ada lagi yang mengingatnya.

Dalam Ra Sa Ma, Allan Edpe menulis cerita keluarga yang diam-diam menyimpan perlawanan kecil. Nama, dalam cerpen ini, bukan sekadar penanda identitas; ia menjadi medan konflik. Tradisi keluarga yang mengharuskan awalan nama tertentu, Ra, Sa, atau Ma, pada awalnya terlihat sebagai hal remeh. Namun Allan memperlihatkan bagaimana aturan kecil dalam keluarga bisa menjadi bentuk kontrol yang sangat kuat. Ketika Ratih menamai anaknya dengan awalan yang berbeda, itu bukan sekadar pilihan nama. Itu adalah bentuk protes yang sunyi tetapi tajam terhadap sejarah hidupnya sendiri. Cerpen ini menarik karena tidak menampilkan pemberontakan yang dramatis. Ratih tidak berteriak, tidak melawan secara terbuka. Ia hanya memilih sebuah huruf. Dan huruf itu ternyata cukup untuk mengganggu tradisi yang selama ini dianggap tak tergoyahkan. Dalam kesederhanaannya, cerpen ini mengingatkan bahwa perlawanan tidak selalu harus besar; kadang ia cukup berupa keputusan kecil yang sengaja tidak mengikuti aturan lama.

Cerpen kesembilan, Perihal Dua Orang Asing karya Abu Wafa, membawa pembaca ke dunia rumor desa yang sering kali lebih kuat daripada fakta. Cerita ini bergerak dari kabar kecil tentang pembangunan jembatan layang yang kemudian berkembang menjadi kegaduhan kolektif. Yang menarik di sini bukan soal pembangunan itu sendiri, melainkan bagaimana warga memproduksi kepanikan mereka sendiri. Tokoh Pak Darkam menjadi contoh figur yang sering muncul dalam dinamika sosial: seseorang yang merasa mewakili suara rakyat, padahal sebenarnya sedang memanfaatkan kegelisahan orang lain. Abu Wafa menulis dengan cara yang cerdik; ia tidak secara langsung menghakimi siapa yang benar atau salah. Namun pada akhir cerita, pembaca disodori momen yang menggelitik sekaligus sinis: seseorang yang paling lantang bicara justru dengan mudah diarahkan menuju masalah hukum. Cerpen ini terasa seperti komentar kecil tentang politik lokal, tentang bagaimana suara rakyat sering kali hanya menjadi alat bagi ambisi individu.

Nada tragis kembali muncul dalam Ibu Muda karya Mufa Rizal. Cerpen ini menyingkap realitas yang sering disembunyikan di balik statistik: kehamilan remaja. Mufa tidak menulisnya dengan gaya sentimental; ia memilih pendekatan yang hampir dingin. Ratri digambarkan sebagai gadis yang mencoba memahami tubuhnya sendiri dalam situasi yang tidak pernah ia bayangkan. Ketika ia berusaha menggugurkan kandungan, atau memaksa tubuhnya melakukan sesuatu yang tidak diinginkan, pembaca tidak diajak untuk menghakimi. Justru di situlah kekuatan cerpen ini: ia memaksa kita melihat bagaimana kepanikan seorang remaja bisa berubah menjadi keputusan-keputusan yang sangat berbahaya. Cerpen ini terasa menohok karena tidak menyalahkan siapa pun secara eksplisit, tetapi meninggalkan pertanyaan besar tentang sistem sosial yang membuat seorang gadis harus menghadapi peristiwa sebesar itu sendirian.

Cerpen terakhir, Kenangan di Balongcangkring karya AH Baskoro, menutup antologi ini dengan nada yang paling muram sekaligus paling puitis. Tokoh Nadia adalah perempuan yang hidup di ruang yang sering dianggap gelap oleh masyarakat: lokalisasi. Namun Baskoro tidak menulisnya sebagai kisah moralitas. Ia justru menempatkan Nadia sebagai seseorang yang memiliki kenangan, harapan, dan luka yang sangat manusiawi. Balongcangkring dalam cerita ini lebih dari sekadar tempat, ia menjadi lanskap kehidupan yang penuh janji kosong. Sosok Indra, pejabat yang rajin memberi harapan tanpa pernah menepatinya, terasa seperti simbol kekuasaan yang gemar menjanjikan penyelamatan tetapi selalu menunda realisasinya. Bagian mimpi Nadia, tentang rawa tempat tubuh-tubuh perempuan muncul tanpa rasa malu, memberi sentuhan surealis yang menarik. Seolah-olah dalam mimpi itulah perempuan-perempuan itu akhirnya bebas dari penilaian dunia luar.

Jika ditarik satu langkah ke belakang, sebelas cerpen dalam buku ini sebenarnya sedang berbicara tentang hal yang sama, kekuasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Kekuasaan teman sebaya yang mendorong seseorang ikut tawuran. Kekuasaan seorang ayah terhadap identitas anaknya. Kekuasaan industri terhadap sungai. Kekuasaan tradisi terhadap nama. Kekuasaan utang terhadap kebebasan hidup. Kekuasaan rumor terhadap warga desa. Kekuasaan moral masyarakat terhadap tubuh perempuan. Yang menarik, sebagian besar kekuasaan itu tidak muncul sebagai sesuatu yang besar dan spektakuler. Ia justru hadir dalam bentuk yang sangat biasa: ejekan, tradisi keluarga, janji politik, atau bahkan diamnya orang-orang di sekitar kita.

Dalam konteks itu, judul antologi ini terasa cukup tepat, petaka dan kenangan. Petaka tidak selalu datang sebagai tragedi besar, kadang ia lahir dari keputusan kecil yang terus dibiarkan. Sedangkan kenangan, baik atau buruk, sering menjadi satu-satunya cara manusia memahami apa yang sudah terjadi.

Yang membuat buku ini menarik bukan karena semua cerpennya memikat. Justru sebaliknya. Ada bagian-bagian yang terasa masih mentah, ada ide yang bisa digali lebih dalam. Namun di situlah daya tariknya sebagai karya yang lahir dari kelas menulis. Kita bisa melihat bagaimana sebelas penulis mencoba memotret dunia dari sudut pandang mereka masing-masing. Dari sebelas sudut pandang itu muncul satu kesan yang sulit diabaikan: masyarakat kita tampaknya penuh dengan cerita yang tampak kecil, tetapi menyimpan luka yang tidak kecil sama sekali.

Buku ini, dengan cara yang sederhana, mengingatkan kita bahwa sastra kadang tidak perlu mencari tragedi jauh-jauh. Ia cukup membuka jendela rumah, mendengarkan percakapan tetangga, lalu menuliskannya dengan jujur. Karena sering kali, luka-luka memang tinggal di dekat kita.***

Yuditeha

Penulis yang tinggal di Karanganyar.

Buku, Resensi

Gagal yang Direncana = Keberhasilan

Oleh Yuditeha

​Apa kabar dunia sastra, di mana keberanian dan kegagalan kadang berjalan beriringan? Saya baru saja menyelesaikan buku puisi yang, entah bagaimana, berhasil membuat saya beberapa kali menelan ludah. Bukan karena keindahan baitnya, melainkan karena keanehan, atau lebih tepatnya, kenekatan Beri Hanna, sang penulis. Buku ini bukan seperti kumpulan puisi, melainkan sebuah medan pertempuran aksara yang diberi judul ironis: akhiri patah hati (dramaturgi gagal). Ada sesuatu yang tumpah-tumpah hingga menyerupai tumpukan cat di kanvas, ada yang disusun dari huruf yang tumpang tindih, saling-silang, susunan kode-kode, dan ada pula yang hanya kumpulan simbol, seolah penulisnya tengah menguji batas kesabaran pembaca.

​Uniknya, di halaman-halaman awal, penulisnya dengan jujur dan tanpa tedeng aling-aling menyebut bahwa ia gagal berpuisi. Sebuah pernyataan yang mengejutkan. Seakan ia sedang menawarkan pertunjukan kegagalan yang sangat disengaja. Judul (dramaturgi gagal) menjadi penguat dari pernyataan itu. Sementara di halaman lebih awal lagi, Afrizal, sang pengulas, pun dengan santunnya seakan menyetujui, dan membahas mengapa buku ini pantas menyandang gelar produk gagal. Sungguh, sebuah narasi yang aneh dan membuat saya merasa geli. Apakah ini semacam teater absurd di mana kita semuanya duduk bersama menyaksikan sebuah kegagalan yang dipamerkan?

​Namun, ada sesuatu yang mengganggu pikiran saya. Saya merasa ada kejanggalan di balik pengakuan ini. Apakah benar sebuah kegagalan? Atau justru sebuah keberhasilan yang disamarkan? Apakah mungkin, dengan segala ironi dan sarkasme yang menyelimuti buku ini, sang penulis sedang menertawakan kita semua, para pembaca dan pengulas, yang terperangkap dalam jebakan definisi puisi yang kuno?

​Coba kita membayangkan, ada seorang koki dengan sengaja menyajikan hidangan yang hangus dan tidak keruan bentuknya, lalu berkata, “Ini hidangan gagal.” Di sampingnya, seorang kritikus makanan pun mengangguk, “Ya, ini memang hidangan gagal. Mari kita bedah kegagalannya.” Aneh, bukan? Namun, di balik kegagalan itu, ada sebuah pesan yang sangat kuat. Bahwa ia berani tampil beda, berani menantang pakem, dan berani tidak menjadi fotokopi dari koki-koki lainnya. Ini sebuah keberhasilan, keberhasilan untuk berdiri sendiri.

​Saya melihat hal yang sama terjadi pada buku puisi ini. Beri mengaku tidak bisa seperti penyair lain—ia menyebutkan beberapa penyair. Tapi ia mengambil jalan ekstrem, jalan yang mungkin terlihat bodoh dan naif, tapi sebenarnya sebuah deklarasi kemandirian. Ini bukan kegagalan, melainkan manifesto keberanian untuk berpuisi di luar zona nyaman. Ini kegagalan yang direncana. Dan judul akhiri patah hati mungkin bukan tentang patah hati dalam arti romansa, melainkan patah hati terhadap norma-norma sastra yang kaku.

​Puisi, pada esensinya, bukan tentang apa yang ingin disampaikan penyairnya. Puisi adalah apa yang tertangkap di kepala pembaca. Artinya, sebuah puisi tidak pernah berdiri sendiri. Ia membutuhkan pembaca untuk menjadi utuh, untuk menjadi hidup. Sang penulis mungkin sengaja menyajikan puisi gagal, yang hanya sebagiannya bisa dibaca, sebagiannya lagi kode dan simbol. Namun, di situlah kejenakaannya. Ia memberikan kita ruang kosong untuk diisi, teka-teki yang harus dipecahkan, misteri yang harus ditafsirkan.

​Ada semacam ilustrasi kisah, di mana seorang seniman modern menyajikan karya yang hanya berupa kanvas putih. Kritikus bertanya, “Apa maknanya?” Dan sang seniman menjawab, “Maknanya adalah apa yang kau lihat.” Beri, menurut saya, melakukan hal yang sama. Ia membebaskan kita dari beban harus memahami maksud, dan memberi kebebasan untuk menafsirkan. Sebagian saya bisa memahami, sebagian lagi tidak. Namun, sebagian yang bisa saya pahami terasa jauh lebih kuat dan personal, karena saya yang mencipta maknanya.

Hal pertama yang saya bisa mencipta makna dalam puisi-puisi Beri adalah banyaknya kata vodka. Dalam hal tertentu, disadari atau tidak, penulis memakai bahan yang sama di banyak puisi, dan Beri melakukannya di buku ini dengan kata itu. Kata Vodka kerap hadir. Hal ini semacam petunjuk bahwa secara kritis, kata ini bukan hanya merujuk pada minuman beralkohol, melainkan metafora untuk beberapa hal sekaligus. Vodka dapat melambangkan pelarian atau penghilang rasa sakit; untuk meredam kepedihan emosional, kegelisahan, atau trauma. Selain itu, vodka yang dikenal karena sifatnya bersih dan tawar, bisa mewakili kekosongan atau kenihilan—suatu upaya sia-sia untuk mengisi kehampaan. Di sisi lain, vodka sering diasosiasikan dengan kehangatan dan suasana sosial tertentu, penyair mungkin ingin menyoroti keintiman yang semu atau koneksi rapuh yang dibangun di atas zat alih-alih emosi sejati. Maka, vodka dalam puisi Beri, bukan sekadar detail, melainkan isyarat untuk menyampaikan perihal isolasi, kehampaan, dan pencarian makna yang gagal di tengah realitas yang menyakitkan.

Selain itu, hal lain yang saya merasa dapat mencipta makna tentu saja dari kejelasan tampilan diksinya. Dan salah satu puisi yang masuk dalam kategori tersebut ada di halaman 22. Dalam puisi ini Beri memberi pernyataan radikal yang melampaui batas-batas konvensional. Melalui fragmen-frahmen, puisi ini menyingkap paradoks mengerikan tentang buku prosa yang menulis dan membakar dirinya sendiri secara bersamaan. Penggunaan kata “bangsat” sengaja dipilih untuk menolak estetika keindahan dan menegaskan bahwa kehancuran yang terjadi adalah sesuatu yang keji dan brutal. Puncaknya, ia memberi deklarasi nihilistik yang menyatakan bahwa proses kreatif yang paling jujur dan menyakitkan tidak dapat dicerna atau dipahami secara rasional, melainkan sebuah misteri yang melampaui logika manusia.

Puisi di halaman 23 pun, diksinya cukup jelas. Sebuah puisi yang menggambarkan proses pemulihan trauma masa lalu. Cara mengantarkan kepada inti derita sangat halus. Luka emosional yang tak terucap selama bertahun-tahun diungkap melalui metafora brutal di bagian akhir yang melambangkan bekas luka psikologis yang dalam. Sebuah ironi menyakitkan dan pengakuan akan ketidakmampuan untuk memperbaiki kerusakan (yang mungkin ia penyebabnya). Namun sepertinya jauh di dasar pengertian ada sebuah penerimaan atas kepahitan itu.

Lalu kembali kepada masalah pengakuan gagal, di sinilah ironi terbesarnya. Dengan mengaku gagal, sang penulis justru berhasil menciptakan karya yang membuat saya berpikir lebih keras, lebih jauh, dan lebih dalam. Dengan mengaku gagal, ia justru berhasil membebaskan saya dari tuntutan harus mengagumi dan memahami. Ia memberikan kebebasan untuk merasakan, untuk menafsirkan, dan bahkan untuk tidak suka. Itu adalah kesuksesan yang sangat langka.

​Mungkin ini adalah sebuah sindiran tajam untuk kita yang terlalu bergantung pada ulasan dan interpretasi orang lain. Kita seringkali terbuai narasi-narasi baku tentang keindahan puisi, tentang makna yang harus dicari. Padahal, makna yang sejati adalah makna yang kita temukan sendiri, yang lahir dari interaksi kita dengan karya itu.  Buku puisi berjudul akhiri patah hati (dramaturgi gagal) yang diterbitkan dengan kendaraan Mesin Rekam (2025) ini bisa jadi adalah seruan untuk mengakhiri cara pandang kita terhadap sastra yang itu-itu saja.

​Ini adalah sebuah protes terhadap kesepakatan atas dasar kebiasaan, sebuah pernyataan bahwa menulis bukan lagi soal keindahan kata-kata yang muluk-muluk. Menulis di era digital, di era banjir informasi, adalah soal bagaimana kita berani tampil beda, bagaimana kita berani menantang pakem, dan bagaimana kita bisa memantik percikan-percikan pemikiran.

​Buku ini mungkin memang kegagalan dalam arti konvensional, tapi ia sebuah keberhasilan dalam arti revolusioner. Sang penulis berhasil membuat kita bertanya, apa itu puisi? Apa itu keberhasilan? Dan yang terpenting, ia berhasil membuat kita tersenyum kecil, karena di balik kegagalan yang dipamerkan, ada sebuah kejenakaan yang sangat cerdas. Di balik keseriusan pengakuan gagal, ada senyum kecil yang tersembunyi, seakan sang penulis tengah berkata, “Tersesatlah dalam karyaku. Aku sengaja membuatnya demikian.”

​Dan itu esensi yang relevan dengan zaman: Menulis bukan lagi soal keindahan, tetapi soal keberanian. Keberanian untuk menjadi diri sendiri, keberanian untuk menertawakan diri sendiri, dan keberanian untuk tidak menjadi seperti yang diharapkan. Buku ini adalah pengingat bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan sebuah jalan baru. Di balik kegagalan, ada sebuah keberhasilan yang lebih besar. Gagal yang direncana sama dengan keberhasilan.

Karena saya baik hati, di akhir tulisan ini saya akan membocorkan salah satu puisi yang saya suka (semoga punulisnya tidak marah). Puisi ini berada di halaman 25, ditulis dengan format vertikal agak miring. Sementara tampilan puisinya ditulis dua kali, dengan susunan hampir bertupukan.

Menurut saya, ini eksperimen visual dan naratif yang sengaja dibangun di atas ketegangan. Penulis sedang berbicara tentang ketidakmampuan untuk melepaskan atau melupakan suatu peristiwa, seakan ingatan itu terus kembali, berbayang, dan mengganggu. Ada kenyataan tentang posisi yang tidak setara. Perihal trauma masa lalu yang tampaknya konyol tapi justru memiliki daya hancur yang nyata, dan tidak terduga. Ada rasa malu, amarah, atas luka yang disaksikan. Hal ini lebih dari sekadar penderitaan. Adalah sebuah trauma yang tumpang tindih, kebenaran yang absurd, dan keheningan yang tidak pernah benar-benar damai.***

_______________________________________

Yuditeha. Penulis dan penyanyi puisi.

Cerpen

Puisi Anggi Putri

Lakuna

sepotong cerita yang terpaksa dipangkas

dan dituntaskan oleh waktu

gerimis di ujung telunjuk bagai air mata

yang menganak sungai hingga ke pangkal dada

menggumpal dan jadi ruang

: hampa

Luka,

bukan sayatan ataupun dera

yang sesekali bisa sembuh oleh masa

wicara hanya sampai kata A

kelasah tumpah ruah

episode yang tertikam dan hanyut di ujung pusara

: entah

Lalu,

kau hanya tersenyum hambar

mengujiku agar terus mengatasnamakan sabar

bukan lara, bukan ketidakrelaan yang berkelakar

hanya saja–kau

lebur bersama doa yang kupanjatkan

entah sepekan

Jombang, 26 Februari 2024


Stasiun Kata

angin bergelut dengan decitan peron-peron

menggertak semesta dengan nanar

ruang tunggu yang kosong,

berisi kesepian

sejak pukul enam langit berkelakar

memintaku merenung dari tiap bait puisi

yang kusimpan hingga tak berbentuk lagi

akhirnya meledak dalam sunyi

kursi penumpang belum terisi

seperti hati manusia yang bergelut dengan ilusi

tak ada yang menjembatani

ego dan insecurity

tak ada jawab, tak ada tanya

hanya stasiun kata

yang melebar dari mulut-mulut manusia

penuh kelasah di dada

Jombang, 17 Maret 2024


Pintu Masuk

langkah yang melaju tak bisa berhenti

langkah yang terhenti kian menjadi

buta, penuh ragu berkelindan dalam hati

: puisi

tak ada hal yang bisa masuk dengan mudah

tak ada hal yang terhenti dengan sendirinya

Sesak di dada hanya ulah kata-kata

Menari di kepala sampai akhirnya terjerembab

dalam lantunan doa

barangkali tak ada muasal gulana

hingga arus air mata jadi saksi dan lakuna

terus mengetuk ingin masuk ke dalam sana

meski resah tiada akhir dan hampa semakin

mengikatmu dalam kelana entah

Jombang, 17 Maret 2024


Sepekan Lalu

: Emak

sepekan lalu,

belum siap ku menunggu napas terakhirmu

wicara dan secangkir kopi hitam di beranda kabur

menyeletuk namamu yang kini tak sanggup

kuucap meski kini berubah sepatah frasa

:ambigu

sepekan lalu,

saat jiwa berkisah dan duduk di antara kata-kata

kau masih menuturkan nasihat lama,

tentang pepatah yang harus diterima

tentang doa-doa yang harus kuantarkan

meski belum tahu untuk siapa

sepekan lalu,

kau ajarkan mengeja waktu, pendeknya jeda

ba’da maghrib hingga ayam mematuk subuh

di kepala, tak ada kelasah

hingga kau pejamkan mata

sebentar yang berarti selamanya

Jombang, 7 Mei 2024


Jejak Kota Ini

kota ini membaca jejak kita

dunia teduh yang menunggu

tak ada yang menjadi tanda

isyarat itu dalam rinai suara-suara

hari pun usai, waktu terguncang

seperti sejumlah kata

yang menggelepar keluar

dan sepotong sajak dari bait terlepas

kota ini amsal repetisi

hari terus melata menyingkap wajahmu

tanpa jawaban pasti,

menyekap debar dingin;

dalam puncak malam yang gigil

sendiri

Surabaya, 30 Maret 2021


Anggi Putri, pencinta sajak, kopi, dan hujan. Komite Sastra Dewan Kesenian Jombang 2019-2022. Buku puisinya Angin Kembara (2015) dan Laku(na) (2016). Peserta IIBF 2019 Solo dengan karya Kala Ratih (2019). Karya-karyanya dimuat media online maupun cetak. Aktif menulis di blog pribadi www.anggiputri.com.

Buku, Resensi

Punk dan Kisah Lainnya

Oleh Nu’man Nafis Ridho

Ketika kita bergeliat dalam obrolan musik. Para pelaku musik seperti personil band, para pengulas musik, dan manajer tak mungkin dihilangkan dari percakapan. Begitu pula yang coba disuguhkan dari buku History of Punk: Budaya Tanding yang Tak Pernah Padam (2020). Atolah R. Yafi sebagai penulis menghadirkan perbincangan mengenai band-band punk, bagaimana mereka terbentuk dan hidup, para pengulas musik yang mempopulerkan terma punk, juga orang-orang di balik panggung seperti manajer band.

Saat membicarakan band-band punk, pikiran kita akan langsung tertuju pada Sex Pistols, Ramones, The Clash, The Stooges, New York Dolls, juga MC5. Band-band yang menandai semangat awal musik punk. Namun, Atolah mencoba menghadirkan nama-nama lain. Death, Pure Hell, Television, Buzzcock, Warsaw, Blondie ialah segelintir nama lain yang sedikit banyak juga membentuk subkultur punk di awal kelahirannya.

Atolah membagi bukunya menjadi empat bab: Detroit, New York, London, dan Manchester. Empat kota yang menjadi titik awal kemunculan punk di dua negara: Amerika Serikat dan Inggris. Skena punk diringkas Atolah ke dalam empat kota tersebut. Ia coba memisahkan bagaimana punk muncul di keempat kota tanpa menghilangkan keterkaitannya dalam tumbuh bersama.

Para Pengulas dan Orang di Balik Panggung

Ekosistem musik tak mungkin hanya diisi para penyanyi dan personil band lainnya. Kita pernah membaca di buku Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya (2018) yang ditulis Idhar Rhesmadi. Ia menuliskan mengenai aktor-aktor yang memenuhi ruang ekosistem selain musisi. Para pengulas lagu, album, dan band mengisi ruang dengan tulisan yang dicetak menjadi majalah. Beberapa majalah seperti Musika, Diskorina, Hai, Ripple, MTV Trax, Rolling Stone Indonesia, juga Aktuil sempat mengisi ekosistem musik Indonesia melalui ulasan mereka. Dany Sabri jadi salah satu pengulas penting dalam perkembangan musik di majalah Aktuil. Di buku, Idhar menuturkan, “selama tiga belas tahun Aktuil menulis beragam peristiwa dan perkembangan musik, serta berupaya membentuk opini masyarakat pecinta musik Tanah Air.”

Para pengulas tak hanya membeberkan mengenai musik bagus dan jelek menurut versinya. Mereka juga turut serta dalam perkembangan kultur music yang terbentuk. Meski tak langsung terjun dalam pembuatan karya. Tetapi mereka justru yang menghidupkan musik melalui ulasan-ulasannya di majalah. Seperti Aktuil yang terus hidup selama tiga belas tahun untuk mengulas musik.

Begitu juga yang diterangkan Atolah di buku History of  Punk. Lester Bangs dan Dave Marsh tertuturkan sebagai penulis awal yang mengusung terma punk dalam ulasannya di majalah seperti Rolling Stone dan Crema. Mereka memunculkan terma punk melalui ulasan di majalah. Punk tidak hadir karena para musisi mengakui diri mereka sebagai punk. Namun itu dilekatkan kepada mereka oleh para pengulas musik di majalah.

Misalnya seperti Lester Bangs yang dituturkan Atolah di halaman 28, begini, “ia membeli album MC5 dan membuat ulasan secepat mungkin.” Ulasan yang dibuat Bangs justru melekatkan terma punk pada MC5. Terma punk tidak muncul dari ungkapan para personil MC5. Justru dari para pengulas seperti Lester Bangs, Dave Marsh di Amerika Serikat. Atau Denis Sabri di Indonesia.

Bahkan Death, band yang digadang-gadang sebagai musisi awal yang memainkan musik punk di Detroit tidak pernah menyatakan bahwa diri mereka sebagai punk. Malah mengungkapkannya sebagai rock n roll. Begini kata vokalis sekaligus basisnya Bobby Hackney, “kami tak tahu apa-apa tentang punk, bro. Kami hanya menyebutnya hard-driving Detroit rock n roll. Itulah yang kami mainkan. Mungkin memang sedikit lebih cepat, lebih agresif, karena semua orang berkata bahwa kita harus memainkan musik lainnya seperti soul ataupun funk.”

Kita juga mendapati di buku bahwa selain para pengulas lagu, album atau band. Para manajer seperti Malcom McLaren amat begitu penting dalam pertumbuhan subkultur punk. Ia menjadi orang yang menyatukan para personil Sex Pistols dan memulai skena punk di London. Atau John Sinclair yang membentuk ruh dalam band MC5 di Detroit. Juga ada Rob Gretton yang memanajeri Joy Division dan New Order di Manchester.

Orang-orang di balik panggung inilah yang juga membentuk subkultur punk. Mereka tak hanya duduk dan singgah di kapal bernama punk, namun ingin diingat sebagai yang paling berjasa dalam perjalanan punk di lautan musik. Merekalah justru yang juga punya andil, namun dipinggirkan dari ingatan. Memang nama-nama itu hanya tercatat sedikit oleh Atolah di bukunya. Ia lebih banyak memfokuskan perihal band-band yang membentuk skena punk di empat kota tersebut.

Namun, fokus itu tidak membawa Atolah untuk menyajikan biografi singkat dan peristiwa musisi yang hidup lebih baik secara spasial dan financial setelah sukses. Kita juga dapat mengetahui bahwa sejarah musik punk ternyata tidak hanya perkara kejayaan para musisi yang nama bandnya bias terus tercetak di kaos-kaos sampai saat ini. Atau musiknya terus didengarkan secara digital. Kisah-kisah band seperti Death, Pure Hell, Buzzcock, dan Television juga ingin hadir dan teringat. Buku History of Punk ini menjadi media yang bias tetap mengisahkan bahwa punk tak melulu soal band seperti Ramones, The Clash, MC5, The Stooges, dan New York Dolls. Atau perihal rockstar yang keranjingan heroin dan narkotika lainnya ketika menjadi mapan.

Kisah-kisah yang terpinggirkan dan ganjil juga terus terkisahkan melalui buku ini. Walau agak sayang, kisah-kisah itu tercetak dengan beberapa kekeliruan secara bahasa. Kesalahan ketik yang akan membuat pembaca sedikit bingung dalam menjelajahi sejarah singkat punk di buku.


Nu’man Nafis Ridho, mahasiswa Universitas Negeri Jakarta dan sesekali menulis.

Buku, Resensi

Pendidikan dalam Catatan Soca Sobhita

Oleh Fauzi Sukri

Namanya Soca Sobhita. Waktu bocah, dia gemar membaca, menulis, melamun, ngupil, lalu mulai suka main game, juga gergaji-gergaji bareng Beps (nama panggilan bapaknya), bantu masak Bi Yo, dan lain-lain. Dia termasuk salah satu—bahkan mungkin satu-satunya—bocah yang punya rumah pohon di Rawamangun, Jakarta Timur: tempat favorit yang dibuatkan Beps. Makanan favorit nomor satu terlezat: KKK alias kue kering keju. Cita-cita: jadi ninja, biar bisa jalan-jalan ke sana kemari, nguber-nguber maling, juga penjahat. Tapi, dia pernah bersemangat untuk menjadi menteri pendidikan. Biar bisa membuat kebijakan pendidikan yang membahagiakan siswa-siswa Indonesia.

Yang menarik tapi tak unik, seperti semua murid/siswa sekolah di Indonesia, dalam catatan autobiografisnya yang diterbitkan jadi buku ini, dia punya pendapat sendiri tentang sekolah dan pendidikan di Indonesia. Ini juga sangat terkait dengan pola pengasuhannya di rumah.

Perhatikan catatan autobiografis Soca ini: “Aku tidak suka sekolah, sebetulnya. Aku suka tinggal di rumah bersama Opa dan Beps. Baca-baca cerita, main game, main di rumah pohon bersama Cathy Miauw, mencium kain dua…atau membantu Bi Yo dan Mak David memasak, atau membersihkan rumah.”

Jika kita perhatikan apa yang ditulis Soca ini, kita tahu masalahnya bukan perihal sekolah. Tapi sangat terkait lingkup “pendidikan” itu sendiri dan pola proses pendidikan-pengajaran. Di rumah, Soca sebenarnya terus dalam proses “pendidikan-pengajaran” secara tidak formal. Dari Opa yang mahir banyak bahasa asing, Soca belajar bahasa Jepang, lalu kuliah jurusan Sastra Jepang, bahkan membuat Soca akhirnya tinggal dan bekerja di Jepang. Dari Beps dan orang-orang di keluarga itu, Soca “belajar” perihal keterampilan buat bertahan hidup: memasak, membuat perabot, menjaga rumah. Tentu, juga menikmati hidup, atau “me time”.

Kita bisa merasakan bahwa Soca merasakan lebih senang ‘beraktivitas pendidikan’ di rumah daripada di sekolah. Kuncinya adalah bahagia. Di rumah, jelas Soca bukan hanya mendapatkan ilmu pengetahuan, tapi proses pendidikan-pengajaran yang dilandasi kasih sayang: kesejahteraan batin psikologis anak didik. Inilah memang tantangan terbesar paradigma pendidikan di Indonesia bahkan di dunia. Masalah ini sudah diperhatikan dengan sangat serius sejak pertama kali Taman Siswa didirikan pada 1922: jadi salah satu asas dasar pedagogi Ki Hadjar Dewantara.

“Kenapa sih anak sekolah harus dikasih PR? Kan pulang sekolah aku sudah capek. Aku mau tidur siang. Mau main dengan Cathy Miaw, mau duduk-duduk santai di rumah pohon, mau baca buku, mau main game sama Om Eri, gergaji-gergaji sama Beps, bantu Bi Yo cuci-cuci, siram tanaman…” kata Soca Sobhita sekali lagi mengeluh tentang pendidikan-pengajarannya.

Yang juga dikritik Soca adalah ulangan.“Aku juga tidak suka ulangan. Karena aku jadi deg-degan waktu menjawab soal-soalnya. Meps bilang, santai aja, kan sudah belajar. Ya sih, tapi deg-deganku tuh nggak bisa ditahan lho, Meps.” Soca punya solusi cesples atas saran dari ibunya: “Meps bilang, kalau aku jadi menteri pendidikan, aku bisa bikin peraturan supaya sekolah tidak usah sering-sering bikin ulangan. Sedikit-sedikit saja, cukup.”

Masalah Soca adalah keluhan umum siswa Indonesia. Barangkali menarik untuk dicatat bahwa pola pendidikan-pengajaran dengan model PR yang terkesan ‘intimidatif’ sudah banyak dipertanyakan bahkan ditinggalkan. Finlandia termasuk negara yang cukup menghindari PR ini.

Tentu saja, Soca akhirnya mendapatkan sekolah SMP yang disukainya setelah dua kali tes masuk tidak diterima. Di sekolah SMP ini, dia ketemu dengan Pak Gondo (kepala sekolah) yang mengetesnya dan menerimanya meski tes belum selesai semua. Soca takjub pada kepala sekolah yang supel ini: akrab dengan siswanya, suka berkumpul dengan siswa dan bercerita. Dia bisa menjadi dalang. Plus, sekolah SMP itu, Soca mendapati seorang guru bahasa Indonesia yang pola pengajaran-pendidikannya menggugah rasa ingin tahunya.

Catatan-catatan autobiografis Soca ini mengingatkan kita pada masalah penting dalam pola pengasuhan dan pendidikan: kebebasan dengan penekanan pada kebahagiaan batin dan inisiatif atau disiplin ragawi yang keras dengan fokus pada kuasa pendidik-pengajar. Negara-negara Eropa atau Amerika Serikat, secara umum, sering dianggap sebagai kawasan yang lebih menerapkan kebebasan, meski sebenarnya tidak pernah cukup bebas. Sedangkan negara dengan pengaruh Konfusianisme seperti Korea Selatan, Jepang, China lebih menekankan pada disiplin ketat. Dua pola ini punya kelemahan dan kelebihannya masing-masing.

Barangkali karena hal punya sisi positif dan negatif itu, Indonesia termasuk yang tidak pernah cukup tegas menerapkan pola.Tentu saja, paradigma pendidikan-pengajaran sekolah Indonesia secara umum lebih dekat pada kebebasan. Bahkan, sekarang sedang dipropagandakan “Merdeka Belajar”. Indonesia memang cukup gemar bikin slogan, tapi tidak pernah memikirkan ‘tradisi’ pendidikan-pengajaran dalam jangka panjang. Agar bisa dievaluasi secara mendasar, sebagaimana China yang selama berabad-abad menerapkan tradisi disiplin keras dalam pembelajaran sekarang sudah mulai beralih pada pola pendidikan-pengajaran kebebasan.

Pola pengasuhan Soca khususnya di rumah jelas sekali lebih mengedepankan kebebasan. Sejak mulai dari pola komunikasi keluarga seperti sebutan Meps dan Beps, keakraban anak ayah ibu, termasuk penentuan cita-cita, karier keilmuan/profesi, Soca diberikan hak (kebebasan) untuk menentukan. Salah satu keunggulan dari paradigma kebebasan dalam pengasuhan/pendidikan adalah anak (didik) punya rasa harga diri (self-esteem) dan rasa percaya diri (self-confidence) yang tinggi. Dua hal ini adalah fondasi penting pendidikan karakter manusia.

Ngomong-ngomong, ulasan ini sudah terlalu kaku dan analitis, tidak serenyah dan menggelitik catatan-catatan autobiografis Soca. Duh!


M. Fauzi Sukri, penulis Guru dan Berguru (2015)

Buku, Resensi

Musik dan Kegilaan

Oleh Gregorius TH Manurung

Dalam penggunaannya, kata gila (selayaknya kata sifat lain) memiliki beragam makna. Pernyataan “Gila ni orang!” bisa berarti orang itu adalah orang dengan sudut pandang, pemikiran, atau praktik hidup yang keluar dari keumuman, atau memang tidak waras.

“Gila” juga bisa menjadi pemakluman. Pemakluman atas tindakan absurd yang dilakukan seseorang karena dia adalah “orang gila”. Namun, seringkali gila mendahului maklum. Kita dibuat merinding terlebih dahulu saat melihat tindakan meminum air seni sendiri atau membakar patung raksasa di tengah galeri seni mewah, sebelum menyatakan “Gila ni orang”.

Kegilaan seperti itulah yang dihadirkan dalam buku Madness Belong to All: Catatan Ganjil Musik Abad 20 karya Aliyuna Pratisti.

Ketika mahasiswa, Aliyuna keranjingan musik dan sering merasa mengetahui lebih dari teman sebaya. Namun, semua berubah ketika ia mengunjungi Perpustakaan Batoe Api di Jatinangor.

Adalah album Raw Power milik band punk pionir The Stooges yang mengubah Aliyuna. Dari mendengar album itu di Perpustakaan Batoe Api, Aliyuna menyadari bahwa ia jauh dari “mengetahui lebih” soal musik. Perjalanan selanjutnya adalah keranjingan musik era 1960-1970 dengan dosis berlebih. Ia jadi lebih menyeriusi musik: mendengar, menyimak, lalu menuliskan catatan atas musik, yang nantinya menjadi buku ini.

Keseriusan Aliyuna terlihat sejak tulisan pertama dalam buku ini, “Legiun Blues Inggris: Dari Idealis hingga Post-Impresionist” (hlm.3-6). Aliyuna menulis interpretasinya atas British Blues,gerakan para musisi blues kulit putih Inggris, utamanya musisi dan penyiar radio BBC, Alexis Korner.

Korner sebenarnya memainkan blues standar. Namun, ia menjadi penting bagi British Blues melalui karya musik, gig di kelab-kelab di London, juga program wawancara para musisi British Blues di radionya. Usaha Korner ini melahirkan banyak musisi yang dari mendengar beberapa nama mereka saja, kita bisa menyadari kehebatan mereka, seperti Eric Clapton, Keith Richard (Rolling Stone), dan Jimmy Page (Led Zeppelin). Yang menarik, Aliyuna membubuhkan aliran Post-Impresionist dari seni rupa untuk menjelaskan interpretasinya atas praktik bunyi Led Zeppelin yang “menggabungkan tradisi blues dengan distrorsi emosional,” – praktik bunyi yang melahirkan heavy metal.

Musik, selayaknya karya seni lain, memang selalu ditafsirkan beragam oleh publik. Interpretasi subjektif atas karya seni adalah keniscayaan. Lalu, muncul pertanyaan: untuk apa ada ulasan musik? Jika memang semua orang memiliki interpretasi, mengapa harus ada seseorang yang ditasbihkan menjadi “jurnalis musik” dan memiliki hak khusus untuk menyampaikan selera dan interpretasinya pada publik?

Aliyuna secara tidak langsung menjawab pertanyaan ini lewat bukunya. Yang dinikmati dari karya jurnalisme musik adalah pendekatan yang digunakan oleh sang jurnalis. Musik, disadari atau tidak, memiliki banyak lapisan yang bisa dikupas dengan beragam pendekatan. Dengan melihat dua unsur musik paling jamak (lirik dan bunyi), kita bisa mengetahui bahwa musik bisa dibahas dari beragam sisi, dan jurnalis musik bekerja untuk mengupas lapisan yang dihadirkan dalam musik yang mereka ulas.

Dari buku ini, kita dapat melihat beragam pendekatan yang dilakukan Aliyuna dalam mengulas musik. Salah satunya dalam esai berjudul “Professor Fripp dan Jukstaposisi Pemikiran (Musik) King Crimson” (hlm.39-47). Di esai ini Aliyuna membahas band mega bintang progressive rock, King Crimson, melalui eksistensi dan kontribusi sang gitaris, Robert Fripp.

King Crimson selama tiga dekade durasi napasnya terus mengalami bongkar-pasang muatan. Keluar-masuk para personel ini terjadi karena perbedaan visi musikal dari masing-masing yang ada di King Crimson. Namun, Robert Fripp, adalah sosok yang selalu hadir di King Crimson. Aliyuna sadar bahwa Fripp adalah arsitek dari band progresif ini.

Robert Fripp adalah sebuah anomali dari stereotipe rock-star yang kita pahami. Ia tidak diberikan anugerah bakat musik (perlu tujuh tahun agar guru gitarnya menyatakan kemampuan Fripp “berkembang”, yang membuatnya menekuni teori musik dari hulu ke hilir). Fripp tidak ketagihan alkohol, narkoba, ataupun seks bebas. Pernyataan Fripp, yang dikutip Aliyuna, bahkan terdengar seperti kutu buku gila: “I have a very modest lifestyle, I don’t have a string of fast cars or fast women, and I don’t take any drugs at all, not even aspirin. My party is: me and books. Me and books and a cup of coffee is an orgy.” (hlm.42). Bagi Fripp, kesadaran yang utuh dapat menghasilkan karya yang sama hebatnya dengan pikiran yang dipengaruhi efek “kapal terbang” zat-zat halusinogen. Dari kesadaran utuh itu, Fripp mengubah perbedaan visi para personel King Crimson menjadi kehebatan band ini. Hasilnya adalah karya yang mengubah lanskap musik rock sejak album debut mereka, In the Court of the Crimson King (1969).

Dalam “Georgia in My Mind: Alih Warna/Alih Media” (hal.119-123). Aliyuna mencatat dan membahas gubahan-gubahan atas lagu “Georgia on My Mind”, musik buatan komponis Hoagy Charmichael dan lirikus Stuartt Gorell, oleh para musisi seperti Spencer Davis, Ray Charles, dan Billie Holiday. Bahkan, diinterpretasikan lebih jauh oleh Rendra dalam puisi Blues untuk Bonnie. Aliyuna menulis bahwa niat awal Charmichael dan Gorell adalah membuat musik manis soal adik Charmichael yang bernama Georgia. Lagu ini lalu diinterpretasikan lebih jauh dan berbeda oleh banyak musisi, juga Rendra yang mengubahnya menjadi puisi lirih soal rasisme atas orang kulit hitam. “Dengan demikian,” tulis Aliyuna, “pengakuan terhadap kehebatan sebuah karya dapat hadir melalui pandangan lain, yaitu ketika ia dapat muncul secara berulang-ulang dalam berbagai bentuk dan ruang-waktu.” (hal.122)

Kegilaan King Crimson, British Blues, juga musisi lain seperti Nick Drake, NEU!, Nirvana, dan The Stooges dicatat oleh Aliyuna dalam 53 esai di buku ini: sebuah kumpulan catatan pendek (kebanyakan tidak lebih dari 6 halaman) atas eksperimentasi gagasan musik selama abad ke-20. Mereka adalah para musisi yang memiliki pengaruh pada perkembangan musik, dan beberapa kurang diterima pada zamannya—bahkan beberapa sampai saat ini kurang terdengar namanya. Mereka adalah orang-orang yang bisa kita kategorikan sebagai “orang gila”.

Dalam lagu All the Madman milik David Bowie (nampaknya lagu ini adalah sumber judul buku), tertulis lirik “They’re all as sane as me” dan “It’s organic minds”. Dalam interpretasi Aliyuna atas lirik lagu ini, kegilaan adalah pemikiran organik yang sebenarnya ada di kepala setiap orang. Yang membedakan adalah seberapa mampu kita menerima dan menikmatinya sebagai anugerah.

Kegilaan itu juga muncul dari Aliyuna. Ia mau dan mampu untuk mendengarkan musik-musik lawas secara serius sambil menggali setiap cerita dan lapisan yang ada di dalamnya – banyak esai di buku ini disertai rujukan pada buku, esai, dan penelitian. Hal yang disayangkan adalah adanya salah ketik pada beberapa esai di buku ini. Ini agak mengganggu pembaca.

Selain itu, mungkin kita akan bertanya: apa pentingnya menuliskan musik atau musisi yang sudah diakui kehebatannya? Saya juga sempat mempertanyakan. Jawaban atas pertanyaan itu terdapat pada sajian tulisan-tulisan di buku ini, yang dengan sangat ambisius mengupas kegilaan dari setiap musik dan musisi yang ada. Sungguh, Aliyuna, kegilaan milik semua orang, terkhusus Anda!


Gregorius TH Manurung, sedang belajar di Sastra Indonesia Universitas Diponegoro. Sehari-hari bergiat di Kelompok Coba-Coba dan menulis musik untuk Highvoltamedia.com.

Buku, Resensi

Kopi: Sengsara dan Nikmat

Oleh Bandung Mawardi

Pada 2020, kita ke toko buku bisa membeli novel berjudul Babad Kopi Parahyangan. Novel bergelimang tangisan. Tawa dan girang ada tapi ditaruh di halaman-halaman terbatas. Kita “minum” sejarah “pahit”. Kita memikirkan nasib orang-orang di masa lalu menanggungkan sengsara gara-gara kopi. Kita membeli dan membaca novel itu tak salah pilih. Urusan asmara terbaca meski pembaca diarahkan ke bentangan sejarah. Novel seperti meledek kita mulai tergoda melakukan pelesiran demi menikmati kopi: meraih sensasi dan mengumumkan ke media sosial tanpa berpikiran sejarah terlalu “pahit”.

Kita bisa membaca novel tanpa ada kopi di meja. Pembaca mendingan menaruh sekian buku bertema kopi atau sejarah: “menemani” pengembaraan imajinasi ke abad XIX. Kita mulai mengutip percakapan si Pelaut dan Karim. Pengalaman dan pengetahuan si Pelaut merangsang Karim merantau ke Parahyangan. Sesumbar si Pelaut: “Parahyangan itu sarangnya mutiara hitam.” Sebutan untuk kopi. Di novel, si Pelaut bertugas sebagai juru penerangan tentang kopi di pelbagai negeri. Ia “terpelajar” dan mahir bercerita. Karim mengingat dan mencatat ocehan-ocehan si Pelaut, bekal meninggalkan kampung halaman menuju Parahyangan. Pembaca maklum saja dengan siasat pengarang menaruh juru penerangan. Evi Sri Rezeki ingin pembaca mengerti khazanah sejarah Nusantara dan dunia, sebelum memberi perhatian melulu ke Parahyangan.

Pembaca sudah menumpuk buku-buku di samping novel bisa membuka buku berjudul The Road to Java Coffe (2013) susunan Prawoto Indarto. Buku mewah sajikan foto-foto “tempo doeloe” dan keterangan-keterangan dari pelbagai referensi. Episode pedih dimulai pada 1711 saat kiriman kopi dari Jawa memecahkan harga lelang tertinggi di Amsterdam. Sejarah mulai bernafsu laba. Pada 1726, kopi asal Jawa menguasai pasar kopi di Eropa. Segala capaian itu mengesahkan penciptaan sengsara di Parahyangan melalui perjanjian VOC dengan bupati dalam misi penanaman kopi. Di halaman sejarah, orang bisa mengingat itu Koffie-stetsel atau Preanger-stetsel. Ribuan ton kopi berhasil dikirimkan ke Eropa, merangsang selera para peminum di Eropa untuk memuja kopi asal Jawa. Sejarah memanjang dengan kehadiran Daendels dan Van den Bosch. Kopi “memahitkan” nasib bumiputra dan mengingatkan Cultuur-Stetsel (1830-1870).

Si Pelaut, tokoh pengantar sejarah dalam novel menjelaskan di balik Cultuur-stetsel pada Karim. Kita mengutip pendapat si Pelaut atas kebijakan Van den Bosch: “Barangkali ia terilhami sistem yang mengungkung Parahyangan sejak tanahnya mengecap wajib tanam kopi: Preanger-stetsel. Gagasan adopsi ini bernama Cultuur-stetsel. Sistem ini diberlakukan di seluruh Nusantara. Dan lebih berat lagi bagi Parahyangan sebab beberapa tanaman baru hendak di-kopi-kan. Tubuh Parahyangan tersayat-sayat nila dan kina.” Pembaca mendingan mengikuti petunjuk-petunjuk si Pelaut untuk mengerti sejarah kopi, sebelum serius memikirkan keberanian Karim dan Euis melakukan perlawanan di perkebunan kopi.

Pada abad XIX, kopi menjadi dalih bagi orang-orang serakah berakibat memberi sengsara untuk bumiputra selalu di bawah perintah Belanda dan pejabat lokal. Karim berhasil sampai Parahyangan, bekerja di perkebunan kopi. Di situ, ia marah dan menggugat. Impian dari kampung halaman menjadi marah tanpa ujung. Pertemuan dengan Euis dan para petani membuktikan lakon penindasan. Kopi memberi duka, setiap hari. Nasib bumiputra jatuh di kemiskinan dan menerima hukuman. Mereka seperti mendapat kutukan. Di tanah-tanah menghasilkan kopi, mereka kelaparan, berdarah, dan mati. Di negeri-negeri sana, kopi itu perdagangan dan minuman nikmat. 

Karim mengajak Euis dan Asep menggerakkan perlawanan bersama para petani memiliki keberanian mengubah nasib. Ikhtiar sampai ke perlawanan mendapat bekal berpengaruh. Karim itu bisa membaca-menulis. Pada suatu hari, ia melihat, memegang, dan membaca Max Havelaar gubahan Multatuli. Ia semakin tersadarkan bahwa kopi menjadikan orang-orang di Parahyangan mendapat “neraka”. Para pejabat dan pengusaha berlaku kejam justru mendapat “surga” alias duit berlimpahan dari kopi. Pembaca mungkin kaget mengamati  tokoh dalam novel mengalami perjumpaan dengan novel “menghancurkan” Cultuur-Steesel dan merangsang perubahan di tanah jajahan pada awal abad XX.

Renungan Karim setelah bekerja di perkebunan kopi dan mendapatkan kesengsaraan: “Sarang mutiara yang semula adalah impian berubah mimpi buruk. Ia dapat paham kebencian para petani pada emas hitam. Ia pun mafhum kecintaan para pengreh praja dan Kompeni pada buah kopi. Kopi adalah batu-batu penyusun istana, kain gemerlap yang membalut tubuh, makan lezat terhidang di meja…” Semua itu mengakibatkan petani lapar, miskin, dan mati. Karim semakin marah dan membesarkan keberanian melawan tumpukan sengsara ditanggung para petani kopi. Di akhir novel, perlawanan itu (secuil) berhasil.

Sengsara belum usai. Evi Sri Rezeki menjelaskan ke pembaca tentang nasib Karim dan para petani di Parahyangan setelah pemberlakuan undang-undang baru, 1870: “Undang-undang yang semula digadang-gadang sebagai pembawa takdir baik bagi hanyalah ilusi sebab kebebasan itu tak pernah sampai ke Parahyangan. Pejabat-pejabat kulit putih tak rela melepas sarang mutiara hitam.” Pembaca mungkin tergoda membuka halaman-halaman buku berjudul Sistem Tanam Paksa (2003) susunan Robert van Niel. “Akhirnya, masalah kopi yang menimbulkan persoalan khusus karena jenis tanaman ini sudah masuk ke dalam penanaman paksa sebelum tahun 1832,” tulis Robert van Niel mengenai Parahyangan berkaitan Cultuur-stetsel. Novel rampung terbaca, sejarah pun teringat. Kita boleh minum kopi dengan pilihan pahit atau manis asal tak melupa Parahyangan. Begitu.


Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi.

Buku, Resensi

Tawaran Eksplorasi Bentuk Bercerita dan Catatan Lain

Oleh Doni Ahmadi

Setelah diumumkan pada Desember tahun lalu, Aib dan Nasib, pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2019 karangan Minanto akhirnya terbit pada Juli lalu. Sebagaimana karya-karya para pemenang sayembara novel DKJ sebelumnya, buku ini tentu saja ditunggu banyak pembaca. Hal lain yang membuat novel ini begitu dinantikan kemunculannya, tak lain karena catatan pertanggungjawaban dewan juri yang menyebut bahwa novel ini bercerita dengan fragmen-fragmen episodik dan sarat dengan eksperimen bentuk—sesuatu yang jarang mendapat tempat pertama.

Tengok saja beberapa catatan penjurian terhadap naskah para pemenang sayembara novel DKJ sedekade sebelumnya: Orang-orang Oetimu (2018) karya Felix K. Nesi; Semua Ikan di Langit (2016) karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie; Kambing dan Hujan (2014) karya Mahfud Ikhwan; dan Semusim dan Semusim Lagi (2012) karya Andina Dwifatma—tahun 2010 hanya menghasilkan empat unggulan tanpa pemenang utama. Di antara empat pemenang ini, barangkali hanya naskah Ziggy yang memiliki kecenderungan tersebut, para juri mencatatnya sebagai “serangkaian eksperimentasi yang tetap menyesuaikan diri pada bentuk-bentuk yang sudah ada.”

Sisanya, tema cerita dan kecakapan para pengarang dalam mengolah narasi, tokoh dan peristiwa masih menjadi penentu utama yang membuat karya-karya tersebut berhasil meraih pemenang pertama. Sedangkan novel lain yang dianggap sebagai karya eksperimen biasanya berakhir sebagai pemenang unggulan. Misal, Curriculum Vitae (2016) karya Benny Arnas yang menawarkan bentuk cerita dengan bab-bab yang pendek atau 24 Jam Bersama Gaspar (2016) karya SabdaArmandio yang dianggap menawarkan kebaruan dalam kerangka cerita detektif.

Kehadiran Aib dan Nasib karya Minanto ini bisa dibilang cukup memberi angin segar bagi para penulis dengan kecenderungan avant-garde di Indonesia untuk terus mengeksplorasi bentuk bercerita—alih-alih menyebutnya sebagai bentuk baru, paling tidak—yang sebelumnya belum pernah digunakan para penulis prosa di Indonesia. Hal ini pun sejalan dengan apa yang ditulis Budi Darma pada kumpulan esainya, Solilokui (1983), “Jumlah dan horizon karya sastra Indonesia terbatas, karena itu, hanya dengan menyandarkan diri pada sastra Indonesia kurang menjamin tumbuhnya wawasan sastra. Bukan hanya makin banyak karya sastra yang kita baca makin baik, akan tetapi juga, dan inilah yang perlu, makin banyak karya sastra yang baik mutunya yang kita baca, makin baik juga wawasan sastra kita. Dan karya sastra dunia yang baik bukan main banyaknya.”

Novel Aib dan Nasib nyatanya memang memberikan kita pengalaman pembacaan naratif yang berbeda, novel ini berjalan dari paragraf-paragraf pendek dalam empat rangkaian cerita dengan masing-masing tokoh utama yang berbeda pula dan baru diketahui saling bertaut satu sama lain setelah melewati beberapa bab. Gaya bercerita yang mirip dengan yang dilakukan pengarang Peru, Mario Vargas Llosa, dalam novel The Time of The Hero. Atau dalam konteks sastra Indonesia pernah dilakukan oleh A. Mustafa dalam novel Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman maupun Nukila Amal dalam novel Cala Ibi.

Pilihan alur maju-mundur, tidak linear, bentuk sirkular, cerita yang tumpang-tindih dalam novel Aib dan Nasib memang membuat novel ini cukup menawarkan gaya pengisahan yang berbeda, dan sekaligus memiliki kesan begitu rumit. Dan memang demikian, pembaca, akan sangat mungkin membalik mundur ke halaman sebelumnya karena hal ini—bab yang kelewat pendek dan tokoh-tokoh utama tiap rangkaian cerita yang berbeda.

Menariknya, cerita yang diangkat dalam Aib dan Nasib ini bisa dibilang cukup karib dengan keseharian orang-orang di Indonesia—terlebih bagi kita yang dekat dengan kabar kriminal di TV—meski berlatar di dua desa kecil di Jawa Barat. Kita akan diajak Minanto menelusuri mulai dari masalah rumah tangga, video skandal seks, hamil di luar nikah, perisakan, kemiskinan, masuknya teknologi, orang yang mendadak gila karena gagal jadi wakil rakyat, hingga gosip di warung makan. Semua hal ini berhasil diramu Minanto dengan cukup baik. Setiap peristiwa terjadi dalam rangkaian kausalitas yang ajek dan masuk akal—jauh dari adegan sinetronik yang serba sekonyong-konyong.

Keberhasilan Minanto membawa sesuatu yang dekat ini pada akhirnya membuat cerita dalam bingkai pengisahan yang rumit menjadi tidak begitu terasa mengganggu. Contohnya adalah dialog dari tokoh Marlina dan Ayahnya berikut ini:

“Kau lupa perkataanku barusan.Sesama saudara itu harus saling membantu.”
“Ini gara-gara sampean tidak bisa bekerja lagi.”
“Lancang! Tidak pantas kamu bicara begitu.”
“Lah, memang aku harus bicara bagaimana lagi? Memang benar begitu…” (hlm. 25)

Dialog macam ini tentunya sudah sering muncul, industri hiburan sudah tak terhitung menghadirkan konflik semacam ini. Hal-hal yang mengacu pada ingatan kolektif dan sesuatu yang familiar memang diracik Minanto sedemikian rupa dan membuat novelnya sama sekali tidak berjarak. Bahkan menjelang akhir kisah, kita, mau tak mau akan sepakat dengan dialog lain dalam novel ini dan dibuat mafhum mengapa antara kita dan novel ini seolah memiliki kedekatan.

“Malah aku heran, kenapa TV-TV tidak datang ke Tegalurung buat siaran berita. […] Padahal kukira setiap hari pastilah ada berita kriminal, apalagi di Tegalurung. Tidak pagi tidak siang tidak sore tidak malam.” (hlm. 262).

Keberanian Minanto memilih gaya penceritaan penuh fragmen dan sirkuler, serta pemilihan tema yang diangkat dalam novelnya sama sekali tidak keliru dan benar-benar menghadirkan kesegaran. Namun, bukan berarti novel ini tidak punya masalah.

Beberapa pembaca barangkali akan sedikit terganggu dengan tokoh-tokoh misoginis dalam novel ini—Bagong Badrudin, Susanto, Kartono, hingga Pak Sobirin—meski bisa dimaklumi dan para tokohnya pada akhirnya harus berhadapan dengan ironi yang bikin maskulinitasnya dipertanyakan. Belum lagi nasib yang menimpa tokoh-tokoh perempuan tanpa kehendak—Gulabia dan Uripah. (Dalam konteks novel ini, hal ini sebetulnya bisa kita terima dan juga sebagai penguat logika cerita). Selain itu, ada juga salah ketik nama tokoh di beberapa bagian yang sangat bisa direvisi untuk cetakan selanjutnya.

Secara keseluruhan, rasanya Minanto memang berhasil membawa angin segar serta memantik gairah dan tawaran eksplorasi bagi para pengarang setelahnya untuk mencari bentuk narasi maupun penceritaan berbeda di luar konvensional novel-novel Indonesia. Hal yang sekaligus meneruskan harapan Budi Darma, memperkaya wawasan Sastra Indonesia.


Doni Ahmadi, menulis cerita pendek. Bukunya, kumpulan cerita Pengarang Dodit (2019).

Buku, Resensi

Cinta Melulu

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa

Seperti moral dan agama, cinta juga dapat dikatakan sebagai realitas abstrak. Bukannya tidak mungkin ditelaah dengan metode ilmiah yang memadahi, tapi sebagaimana dua hal yang tersebut di atas, seberapa pun ilmiah metode yang digunakan untuk menyingkap segala perkara soal cinta, ia tetap membutuhkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak mudah diterima logika berpikir manusia modern, tapi sekaligus juga tidak bisa lepas dari diri manusia itu sendiri.

Pola pikir manusia yang mengandalkan akal-rasio selama berabad-abad lamanya, serta peradaban manusia yang diwarnai oleh perilaku praktis-pragmatis, membuat sebagian manusia hanya mau tunduk pada hal-hal yang memiliki nilai guna dan tampak oleh mata (hlm. 3). Manusia modern berlomba-lomba menjadi manusia logis dalam menyikapi segala hal di kehidupan. Pergulatannya dengan logika membuat manusia perlu mengalami perubahan-perubahan sikap memandang-mengkritisi-mendobrak keyakinannya.

Cinta termasuk juga moral dan agama yang sejatinya terbenam di relung keyakinan acap kali menjadi objek yang dikritisi dan didobrak manusia. Manusia modern sangat mudah mematahkan tatanan moral dengan argumen-argumen logisnya. Ia juga berhak dan bahkan cenderung bebas menentukan sendiri pandangannya soal agama. Misalnya seorang theis yang rajin beribadah bisa saja di kemudian hari meninggalkan ibadah-ibadah wajib karena pelbagai alasan. Barangkali karena hal semacam itu tak logis menurut akal-rasionya atau karena alasan lainnya. Termasuk juga cinta, perkara ini kiranya mudah dipandang terbelakang di dunia modern saat ini.

Kendati demikian, seberapa pun manusia mencoba kabur dari hakikat cinta, moral, dan agama, ia tak akan bisa benar-benar berhasil melakukannya. Apakah manusia bisa hidup tanpa memercayai sesuatu, tidak mengikuti nilai tertentu, bebas dari perasaan suka dan tidak suka. Padahal semua itu sejatinya lebih dekat dengan apa yang dianggap terbelakang menurut akal-rasio manusia modern.

Mendefinisikan Cinta

Hari-hari kita tak absen dari seruan kata-kata yang terdengar sangar: humanisme, perubahan iklim, keberagamaan, feminisme, keberagaman, perdamaian, perang dagang, puritanisme, radikalisme, liberalisme, dan masih banyak lagi. Kata-kata itu penanda kehidupan yang sedang berlangsung. Dunia global mengalami masalah-masalah bertaut kemanusiaan misalnya kemelut perang saudara di Suriah, kamp muslim Uighur di Tiongkok yang diduga sebagai kamp pencucian otak, sekian penggusuran yang terjadi di Indonesia, ketidakadilan hukum, sikap represif pemerintah, dan lain-lain sebagainya.

Masalah-masalah pelik itu memang membutuhkan solusi rasional. Ratusan WNI terduga simpatisan ISIS di Suriah menyatakan keinginannya pulang ke Indonesia karena situasi di medan perang makin mencekam, media-media internasional gencar menyoroti kamp muslim Uighur untuk membuka mata publik internasional akan tipu daya Tiongkok, aktivis-akademisi mendampingi masyarakat terdampak penggusuran untuk memperoleh hak-haknya. Hal-hal yang demikian tampak sangat rasional, namun apakah upaya baik manusia untuk membantu manusia lain yang sedang dalam masalah semata-mata digerakkan oleh akal-rasio? Mudah bagi kita dengan menjawabannya tidak.

Manusia yang berani melawan ketidakadilan, bersikap jujur antar sesama, hormat terhadap alam semesta, tidak bisa dikatakan sebatas sebagai manusia yang rasional, tetapi juga penuh cinta. Pendapat ini rasanya perlu meminjam konsep cinta Erich Fromm. Menurutnya, cinta terdiri dari unsur care, responsibility, respect, dan knowledge (hlm, 20). Manusia-manusia yang demikian selain memiliki rasionalitas yang sehat, juga memiliki ketajaman perasaan sehingga mampu menangkap realitas secara jernih dan tepat dalam merefleksikannya.

Gibran melalui bukunya The Prophet mendefinisikan cinta dengan indah sekaligus rasional. Akal pertimbangan dan perasaan hati laksana kemudi dan layar dalam mengarungi bahtera jiwa. Jika satu layar atau kemudi itu patah, kau hanya bisa mengambang, terombang-ambing gelombang. Atau lumpuh tanpa daya, di tengah samudera. Sebab akal yang sendiri mengemudi, laksana tenaga yang menjebak diri. Sedang perasaan yang tidak terkendali, bagai api yang menghanguskan diri (1926, hlm. 59). Rasionalitas dan cinta itu sama-sama penting bagi keberlangsungan hidup kita baik sebagai personal, makhluk sosial, makhluk ciptaan Tuhan, penghuni dan penjaga bumi, warga negara dan dunia, dan peran-peran lainnya.

Karakter Cinta

Dalam buku yang bermuasal dari kekagumannya akan sosok dan karya-karya Kahlil Gibran, Fahruddin Faiz menyebut empat karakter utama cinta: kebebasan, keindahan, ketulusan, dan penyucian. Cinta tidak mungkin dikendalikan. Faiz bahkan menelaah karya-karya Gibran sangat anti terhadap segala hal yang membatasi atau malah mengendalikan cinta, entah itu budaya, aturan atau bahkan ajaran agama. Kita cerap sajak Gibran berikut ini. Saling bercintalah, namun jangan membuat belenggu dari cinta. Biarkan cinta seperti air yang lincah menjelajah di antara pantai dua jiwa.

Pribadi-pribadi yang saling mencintai bebas untuk mengekspresikan diri sebagaimana adanya, tanpa harus dituntut untuk merombak individualitas maupun eksistensi kediriannya. Cinta tidak menganjurkan pribadi-pribadi saling melebur, tetapi lebih kepada saling memahami dan mendukung. Perbedaan dalam menjalani laku cinta merupa kesempatan untuk saling memperkaya diri, saling mengisi, dan saling menghormati. Dari situ akan bisa dibuktikan, apakah seseorang sedang mencintai, memengaruhi, mendominasi, atau menggantungkan diri (hlm. 69-70).

Adalah juga sifat dasar alamiah manusia yang menyukai keindahan. Saat berjalan-jalan di taman, mata kita mudah tersirap oleh bunga-bunga bermekaran, tapi misalnya juga terganggu dengan sampah yang berceceran di taman itu. Di deretan toilet umum, ada kerelaan yang muncul begitu saja untuk menyisir toilet mana yang paling bersih di antara yang lain. Manusia tampak wajar ketika mendambakan segala sesuatu yang baik. Kalau kata Jonn Kets,  a thing of beauty is a joy forever. Keindahan dalam cinta agak berlainan. Betapa juga pahit dan sakit yang dialami seseorang dalam mencinta, cinta tetap meninggalkan keindahan kenangan bagi dirinya.

Di antara empat karakter cinta menurut Faiz, kiranya ketulusan yang agak berat bersinggungan dengan akal-rasio kita. Ketulusan dalam mencinta didefinisikan sebagai wujud cinta yang sempurna, yang memberi tetapi tidak mengharap imbalan sama sekali. Ketulusan dalam cinta dibuktikan dengan keteguhan sikap untuk tidak mundur atau melarikan diri saat dalam cinta yang diterima atau diberikannya ditemui kesulitan, kepahitan, dan lain sejenisnya (hlm, 77).


Rizka Nur Laily Muallifa, Pembaca tak tahan godaan. Menghidupi Kematian (2018) ialah kumpulan puisi yang ditulis bersama tiga kawannya. Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Suara Merdeka, detik.com, alif.id, basabasi.co, dan beberapa lainnya.