Puisi

Puisi Alexander R. Nainggolan

Sajak Tentang Stasiun

orang-orang, bukan aku

rel dingin

kereta

keberangkatan yang janggal

lalu pada siapa akan tertuju

batas jalan

orang-orang, bukan kau

duduk melipat waktu

tenggelam dalam lamunan

aku bertabrakan dengan mereka

bukan kereta

kalender berganti

pagi, siang, sore

jam bergegas

detik-detik

terhambat

aku dan kau berjalan

entah memikirkan apa

atau hampa

kosong

melayang dalam kembara

tak jelas letak akal

tak ada tanda

peta-peta lama

yang mampu mencatat langkah

orang-orang mulai berteriak;

kapan kereta berangkat?

2019


Sajak Tentang Istri

                        – rina

“aku merindukan harum ketiakmu, di pagi yang masih putih,”

lalu bergegas mandi. menyiapkan matahari serupa mata sapi

luruh masuk dalam tangismu semalam

masih ada bau tubuhmu, menyatu dengan napasku

di gigir kulit coklat, merendam mimpi semalam

tak perlu kita bercakap tentang rumah, kota, atau manusia

sebab sentuhanmu sudah berkisah banyak

menumbuhkan benih bunga yang ada di lenganmu

setiap kali kukoyak sedihmu, air matamu tingkap

merupa gerimis masai. renyah dalam duka

terlalu sering kau menangis, memanggul sebagian deritaku

“aku merindukan getah bibirmu, bukan di malam-malam yang penuh lenguh,”

semestinya, aku bersujud kembali pada pelukanmu

menghitung petaka dari seluruh ragu yang gagu

setiap kupapah peristiwa yang tak sempat terbingkai

bahkan oleh sebaris kalimat pesan pendek, dering telepon yang berisi percakapan,

atau kesunyian kita tentang sekelumit asmara yang penuh amarah

tiba-tiba aku menciut, meski kelopak mawar merekah

di halaman hatimu

“aku benar-benar tak ingin melihatmu menangis. apalah kita, jika kau hanya serupa perempuan cengeng. menunggu pintu-pintu nasib di dalam rumah?”

lantas kugegaskan saja perjalanan ini

mestinya kita sujud bersama, mencari cinta yang baru

bukan sesat dan penuh isak

2019


Sajak Tentang Hujan Malam

tak ada yang kekal

bau hujan

tanah yang bergulingan

aspal basah

cahaya lampu bersejajar

semua mengkilap

menghapus duka

hujan yang deras itu membangunkan seluruh keterjagaanku

lewat berkas kejanggalan. impian dari pernikahan yang bahagia

mungkin akan kuhapus semua malam pertama, seperti perihmu

seperti bekas darah merah di celana dalammu

tak ada yang kekal

hujan akan berhenti

hujan yang deras itu, acap mengacaukan semua igauan yang kau susun

ratusan hari di masa lalu yang terbengkalai

tinggal tiang-tiang besi karatan yang menancap

asamara yang terlunta, hidup yang begitu rutin

adakah yang kekal?

selain matahari

aku merupa ibrahim mencari tuhan. semuanya padam

gulita. kubaca zarathustra

tak ada

tak

tak ada

tak ada yang kekal

hujan akan berhenti

meski aku akan berlabuh di jantungmu lagi

2019


Ujung Percakapan

1.

percakapan ini akan ada ujungnya

kau akan mendapati sebuah pagi

yang miskin matahari di sana

tak ada bentang cakrawala

cuma pertikaian yang kerap tak sudah

2.

mestinya aku tak mengangkat telepon seluler itu

kumatikan dan kutinggal pergi untuk tidur

masih banyak hal-hal lain yang tak terucap

bukan karena kata

bukan sekadar percakapan hampa

3.

tapi sudah jauh kita melangkah

tak perlu kita kebas lintangan nasib

sebab akan kita khidmati seluruh karib

merentangkan sebilah mimpi yang resah

2019


Senin Pagi

Tak dapat kutemukan sisa parfum di telapak tanganmu. Memintal doa-doa busuk ke pusara. Tebing yang nganga, aus dalam labirin, sebuah masa silam yang redup. Seperti bahumu tegak, tempat pertama kali kecut lelaki singgah, menjadi arjuna yang selalu sepi

Tapi, senin pagi tadi, jendela kamar tak juga berkoar, memanjati cahaya matahari hingga basah

Mungkin, ada baiknya aku menghitung waktu yang tergelincir dari ketiakmu, napas sesak perempuan, lipatan badan yang kasmaran, dan tak dapat kutemukan sesuatu, bahkan ketika kusibak kitab-kitab puisi yang terus merakit sunyi demi sunyi

2019


Gerimis Tak Sampai

Tiba juga gerimis itu, bermain di depan rumah. Meski, tak sampai ke dalam kamar. Membingkai setiap dingin yang makin bukit, hingga matamu tergenang. Menyirami letih tubuh, sambil berharap mimpi buruk segera pergi

Besok, cuaca akan berubah, kuyup di tubir jejak yang lumpuh. Mengingat setiap pinak peradaban, menyilet dalam kekal. Aku tahu, kau akan terus mengenang apa-apa yang pernah pergi dari ruangan ini

Sejumlah pertikaian yang membeku di kepala, seperti membangkitkan amarah

Tapi, gerimis tak lagi sampai

Menepikan kegamangan, atau sekadar mengusik bayang-bayang

Selalu saja membungkus kita dalam udara yang dingin di pori

2019


Alexander R. Nainggolan, lahir di Jakarta, 16 Januari. Bekerja sebagai staf Unit Pengelola Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPPMPTSP) Kota Adm. Jakarta Barat. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di media cetak dan online. Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (kumpulan puisi, Penerbit basabasi, 2016), Dua Pekan Kesunyian (Penerbit JBS, 2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *