
Sajak Tentang Stasiun
orang-orang, bukan aku
rel dingin
kereta
keberangkatan yang janggal
lalu pada siapa akan tertuju
batas jalan
orang-orang, bukan kau
duduk melipat waktu
tenggelam dalam lamunan
aku bertabrakan dengan mereka
bukan kereta
kalender berganti
pagi, siang, sore
jam bergegas
detik-detik
terhambat
aku dan kau berjalan
entah memikirkan apa
atau hampa
kosong
melayang dalam kembara
tak jelas letak akal
tak ada tanda
peta-peta lama
yang mampu mencatat langkah
orang-orang mulai berteriak;
kapan kereta berangkat?
2019
Sajak Tentang Istri
– rina
“aku merindukan harum ketiakmu, di pagi yang masih putih,”
lalu bergegas mandi. menyiapkan matahari serupa mata sapi
luruh masuk dalam tangismu semalam
masih ada bau tubuhmu, menyatu dengan napasku
di gigir kulit coklat, merendam mimpi semalam
tak perlu kita bercakap tentang rumah, kota, atau manusia
sebab sentuhanmu sudah berkisah banyak
menumbuhkan benih bunga yang ada di lenganmu
setiap kali kukoyak sedihmu, air matamu tingkap
merupa gerimis masai. renyah dalam duka
terlalu sering kau menangis, memanggul sebagian deritaku
“aku merindukan getah bibirmu, bukan di malam-malam yang penuh lenguh,”
semestinya, aku bersujud kembali pada pelukanmu
menghitung petaka dari seluruh ragu yang gagu
setiap kupapah peristiwa yang tak sempat terbingkai
bahkan oleh sebaris kalimat pesan pendek, dering telepon yang berisi percakapan,
atau kesunyian kita tentang sekelumit asmara yang penuh amarah
tiba-tiba aku menciut, meski kelopak mawar merekah
di halaman hatimu
“aku benar-benar tak ingin melihatmu menangis. apalah kita, jika kau hanya serupa perempuan cengeng. menunggu pintu-pintu nasib di dalam rumah?”
lantas kugegaskan saja perjalanan ini
mestinya kita sujud bersama, mencari cinta yang baru
bukan sesat dan penuh isak
2019
Sajak Tentang Hujan Malam
tak ada yang kekal
bau hujan
tanah yang bergulingan
aspal basah
cahaya lampu bersejajar
semua mengkilap
menghapus duka
hujan yang deras itu membangunkan seluruh keterjagaanku
lewat berkas kejanggalan. impian dari pernikahan yang bahagia
mungkin akan kuhapus semua malam pertama, seperti perihmu
seperti bekas darah merah di celana dalammu
tak ada yang kekal
hujan akan berhenti
hujan yang deras itu, acap mengacaukan semua igauan yang kau susun
ratusan hari di masa lalu yang terbengkalai
tinggal tiang-tiang besi karatan yang menancap
asamara yang terlunta, hidup yang begitu rutin
adakah yang kekal?
selain matahari
aku merupa ibrahim mencari tuhan. semuanya padam
gulita. kubaca zarathustra
tak ada
tak
tak ada
tak ada yang kekal
hujan akan berhenti
meski aku akan berlabuh di jantungmu lagi
2019
Ujung Percakapan
1.
percakapan ini akan ada ujungnya
kau akan mendapati sebuah pagi
yang miskin matahari di sana
tak ada bentang cakrawala
cuma pertikaian yang kerap tak sudah
2.
mestinya aku tak mengangkat telepon seluler itu
kumatikan dan kutinggal pergi untuk tidur
masih banyak hal-hal lain yang tak terucap
bukan karena kata
bukan sekadar percakapan hampa
3.
tapi sudah jauh kita melangkah
tak perlu kita kebas lintangan nasib
sebab akan kita khidmati seluruh karib
merentangkan sebilah mimpi yang resah
2019
Senin Pagi
Tak dapat kutemukan sisa parfum di telapak tanganmu. Memintal doa-doa busuk ke pusara. Tebing yang nganga, aus dalam labirin, sebuah masa silam yang redup. Seperti bahumu tegak, tempat pertama kali kecut lelaki singgah, menjadi arjuna yang selalu sepi
Tapi, senin pagi tadi, jendela kamar tak juga berkoar, memanjati cahaya matahari hingga basah
Mungkin, ada baiknya aku menghitung waktu yang tergelincir dari ketiakmu, napas sesak perempuan, lipatan badan yang kasmaran, dan tak dapat kutemukan sesuatu, bahkan ketika kusibak kitab-kitab puisi yang terus merakit sunyi demi sunyi
2019
Gerimis Tak Sampai
Tiba juga gerimis itu, bermain di depan rumah. Meski, tak sampai ke dalam kamar. Membingkai setiap dingin yang makin bukit, hingga matamu tergenang. Menyirami letih tubuh, sambil berharap mimpi buruk segera pergi
Besok, cuaca akan berubah, kuyup di tubir jejak yang lumpuh. Mengingat setiap pinak peradaban, menyilet dalam kekal. Aku tahu, kau akan terus mengenang apa-apa yang pernah pergi dari ruangan ini
Sejumlah pertikaian yang membeku di kepala, seperti membangkitkan amarah
Tapi, gerimis tak lagi sampai
Menepikan kegamangan, atau sekadar mengusik bayang-bayang
Selalu saja membungkus kita dalam udara yang dingin di pori
2019

Alexander R. Nainggolan, lahir di Jakarta, 16 Januari. Bekerja sebagai staf Unit Pengelola Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPPMPTSP) Kota Adm. Jakarta Barat. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di media cetak dan online. Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (kumpulan puisi, Penerbit basabasi, 2016), Dua Pekan Kesunyian (Penerbit JBS, 2023).
