
Panggung
Babad, kiranya
percakapan yang tak kunjung usai
Babak demi babak
Berubah jadi cerita yang tak lagi kau bagi
Kita adalah tokoh utama
Panggung siap dibuka
Sorot lampu dipijarkan
Skenario dihayati
Bila saatnya tiba, tak bisa dihindari
Kisah, dirayakan
Runyam meruncingkan ingatan
Mengunci menyimpan kenangan
Simpati menjebak rasa
Kealpaan tiada dikira
Lupa, yang tak disengaja
Kesadaran,
Peredam angkara
Penawar luka
Panggung,
Arena kesadaran tiada tara
Menjalani karma, yang
tak pernah salah alamat
(Febriana – Solo, 19 Juni 2022)
Rumah
Aku adalah rumah
Tempatmu kembali
Pergilah ke manapun kau mau
Lalu pulanglah kepadaku
Aku adalah rumah
Kau boleh pergi ke mana kau mau
London, Paris, Itali
Tapi kau pulang padaku
Aku adalah rumah
Tempatmu berteduh
Dari cuaca yang mendera
Bernaunglah padaku
Aku adalah rumah
Kau boleh bersuka di manapun kau mau
Tetapi jika kau berduka
Pulanglah kepadaku
(Febriana – Solo, 25 Juni 2022)
Lebam Ruam
Lebam..ruam..
Berteman nyamuk-nyamuk
Jalan sunyi yang ditapaki
Berkelok ke sana ke mari
Terombang-ambingkan angin
Nasib adalah kepastian
Dewasa di sebuah ruang waktu
Tahun-tahun hidup dalam bahaya
Penguasa adalah Tuhan
Membiarkan hidup segelintir manusia
Berkuasa atas hilangnya banyak nyawa
Menjadikan mereka jiwa-jiwa yang berkelana
Tahukah kau, jiwa yang malang
Bintang bersinar dalam kegelapan
Masa gelap itu kau hiasi
Dengan jiwa-jiwamu yang terus hidup
Meski ragamu dibinasakan
Jiwamu ada dalam pelangi selepas hujan
Kelembutan sinar mentari
di setiap pagi yang damai dari semesta
Tanpa rekayasa perusuh kemanusiaan
Kau adalah nyanyian indah
Tak tertandingi dari burung-burung mockingbird
(Febriana – Solo, 5 Juli 2022)
Musisi Kekal
Masa depan, tak tertulis
Ucapan dari jiwamu,
Bebas bak burung terbang
Di birunya awan-awan
Bersama para dewa
pecinta suara-suara
Pemuja lema-lema
Aku pemujamu
Pun dia dan mereka
Tapi kau di mana
Menghilang seperti udara
Menguap
Aku menghirupmu
Kau hidup dalam alam pikirku
Dia dan mereka
Aku mendengar sendu teriakmu
Kau pergi berkeliling semesta
Pesanmu kau kan menciumi harum
Makhluk-makhluk jelita
Tapi aku di mana diantara kunang-kunang
Kau mau berdansa semalaman
Kau mau lihat gemerlap kota-kota
Tapi, Joe
Kau petik gitarmu
Sendu rindu menggebu
Lakukan apapun dalam keterbatasan
Lalu kau niatkan
Mohon ampun pada semesta seru sekalian alam
Mengabdi pada Nya selamanya
(Febriana – Solo, 31 Oktober 2022)
Residu Rasa
Cipta menginisiasi temu
Temu dua jiwa yang tersesat
Tersesat di tengah rimba beton
Beton menggiring raga-raga berlarian
Berlarian kian kemari menjemput asa
Asa yang terukir atas sensasi-sensasi menggelora
Karsa meminang kisah
Kisah potongan warna-warna
Warna terpulas polesan kuas
Kuas menggores garis-garis
Garis berbaris-baris dalam pucat malis
Rasa mengembang kuasa
Kuasa menari silih berganti
Berganti jiwa dan raga
Raga mengecapi ampas terhempas
Terhempas diantara buih gelombang
Gelombang menggulung residu rasa
(Febriana – Solo, 21 November 2022)
Febriana Widyat Sari, kelahiran Surakarta, Jawa Tengah tahun 1983. Menamatkan pendidikan di Fakultas Sastra dan Seni Rupa (UNS) dan Ilmu Hukum (Unisri). Seorang ibu satu anak. Sedang aktif menulis ‘gig report’ musik-musik arus pinggir untuk feedbackzine.blogspot.com.
