Cerpen

Cincin Perkawinan

Cerpen Yeni Kartikasari

Laki-laki adalah makhluk yang sulit dipahami. Lala mengenang kalimat itu dalam pikirannya. Ia kemudian mengatakannya pada Quin, “Lelaki itu sialan. Tinggal bicara apa susahnya?”

Quin yang hendak menikah sebulan lagi menekan tubuhnya ke belakang. Ayunan kembali bergoyang ke kanan ke kiri. Angin semilir mengenai tengkuknya. “Laki-laki cuma bicara kalau lagi mau.”

“Kalau tidak?” kata Lala.

“Seperti yang terjadi padamu. Tidak lagi mengabari kalau kakinya digigit semut.”

Lala menghentakkan salah satu kakinya. Kedua tangannya saling memeluk. Pandangan Lala yang dibuang menuju pohon mangga membuat Quin menyodorkan bolu pisang.

“Cinta membuatmu jadi kurus. Makanlah!”

“Apa kelak aku bisa menikah dengan orang yang benar-benar kucintai…” Lalu, Lala menatap wajah Quin. “Dan, orang itu bisa benar-benar mencintaiku?”

“Aku tidak tahu jawabannya.”

“Kamu harus jawab!”

Quin turun dari ayunan. Ia merasa cinta bisa dirasakan. Jika digambarkan sebagai bunga, cinta adalah kebun mawar, anyelir, dan warna-warni krisan yang di samping-sampingnya di kelilingi melati putih.

Quin berjalan cepat dan Lala mengejarnya sambil menenteng sekotak bolu pisang dan dua minuman mereka.

“Mau ke mana? Aku punya cerita terbaru.”

“Pria bersarung itu lagi?”

Mereka menghentikan langkah. Quin hendak mengambil sekotak bolu pisang dan dua minuman mereka itu, tetapi Lala menolak memberikannya. Mereka berjalan kembali.

“Aku sangat mencintainya dan aku tahu dia mencintaiku. Hanya terkadang dia terlihat tidak mencintaiku.”

Quin mengingat cara lelaki itu mengetik pesan kepada Lala teramat singkat—isinya antara iya, tidak, dan kalimat-kalimat kesibukan, seperti akan mengaji, membantu ibu, dan paling sering akan tidur. Pesan yang baginya tidak seimbang dengan ketikan Lala yang panjang dan dikirim bertubi-tubi. Quin membayangkan kembali isi obrolan mereka di WhatsApp lebih sering rata kanan.

Menuju gazebo, Quin naik terlebih dahulu. Ia menyandar sambil berselonjor, sedangkan Lala bersila membuka ponsel. Berkatalah Quin, “Tidak perlu. Kamu sudah menunjukkannya setiap kita bertemu. Sekarang dengarkan aku. Aku punya cerita tentang seekor semut. Dulu pria itu sudah mengeluh kalau digigit semutkan?” Quin berbicara cepat, nada suaranya setinggi semak belukar di sekitar mereka.

Cerita ini dari calon suamiku sebelum dia menjadikanku calon istrinya. Kamu tidak boleh memotong semacam yang sudah-sudah. Ini mungkin terakhir kita bertemu dan setelah aku menikah waktuku untukmu tak akan sama lagi.

“Cerita saja, bagaimana?” sahut Lala.

Jadi begini, saat itu kami sedang sarapan di pinggir pujasera. Ada beberapa semut melintas di pavingan depanku. Calon suamiku melemparkan suiran ayam yang diambil dari mangkuk sotonya. Semut itu meloncat menghindar. Calon suamiku pelan-pelan memberikan cuilan tempe goreng dan kamu tahu? Hanya ada satu semut yang mendekat, tetapi langsung pergi tanpa mencicipi.

“Salak busuk! Ya jelas, itu bukan makanan semut!” ucap Lala.

Apa kamu tidak pernah lihat gorengan dirubung semut? Jangan potongan ceritaku. Aku lanjutkan, lalu calon suamiku tersenyum. Ia mengambil taoge, kubis, dan seledri yang sudah tercampur sambal, lalu menaruhnya ke pavingan. “Mereka akan kembali jika mau,” kata calon suamiku.

Dia kemudian menyendok gula yang belum larut dalam segelas teh panasnya. Gula itu ia teteskan berjarak di hadapan kami. Ada sekitar enam kali, sedikit-sedikit. Dan, kamu tahu apa yang dikatakan dia berikutnya? Dia bicara seperti ini, “Jika mereka menginginkan gula itu, mereka pasti datang, pasti lebih banyak.”

Dan, benar. Beberapa menit berlalu, semut-semut itu berdatangan. Mereka seolah berlarian. Ada yang langsung menjilatnya. Ada yang membawa gula-gula itu ke entah ke mana. Bahkan, setelah kami selesai makan, semut-semut itu juga menyantap suiran ayam, tempe, taoge, kubis, dan seledri. Aku menunjuk ke arah mereka. Nah, di sinilah calon suamiku mengeluarkan kata-kata mutiaranya.

“Apa?” tanya Lala.

“Kata calon suamiku, Kalau kamu yang aku mau, aku pasti langsung mendatangimu, tentu sebagai semut dan gula, bukan semut dan lain-lainnya tadi.”

Quin memegang tangan Lala, “Di hari itulah dia malamarku, ia memakaikanku cincin ini,” Quin menyodorkan jari manisnya. “Padahal, selama ini kami hanya berteman.”

Lala memegang jemari Quin, mengelus cicin itu pada lingkar emasnya, pada deret permata yang berkilau. “Kamu tidak cerita kepadaku dulu,” ucap Lala lirih.

Quin menarik tangannya. “Tapi kamu percaya juga kalau aku membelinya sendiri. Ya, sekitar 3 gram.”

Lala mengangguk-angguk.

Quin yang merasakan hatinya berdegup memohon kepada Lala untuk menjauhi orang yang dicintainya itu—seorang lelaki lulusan pesantren yang terus mengaku betapa pentingnya mengaji dan berbakti kepada ayah ibu, yang mengatakan selalu berusaha menjaga pandangan untuk menghindari zina, yang tidak bekerja sebab hidupnya difokuskan demi mengejar keabadian akhirat.

“Pernah bertengkar sama calon suamimu?” tanya Lala.

“Jauhi kekasihmu, kamu sanggupkan?”

“Jawab dulu, pernah bertengkar?”

“Beberapa kali. Masalah kecil. Saat beda pendapat.”

“Pernah mengumpatimu?”

“Kadang kali, saat marahnya meledak-ledak dengan orang lain.”

“Kamu pernah mengumpatinya?”

“Sempat ingin karena ia malas berangkat kerja. Tapi, aku tak sanggup. Lagi, lagi, kami hanya berteman dan aku sangat menghormati laki-laki.”

Mata Lala berkaca-kaca. Ia menyekanya dengan punggung tangan. “Apa selama ini karena aku dianggap tidak menghormati laki-laki?

Quin kehilangan rangkaian kata-kata.

“Apa aku ubah dulu cara bicaraku agar halus sepertimu daripada aku harus menjauhinya?”

Quin ingin berkata bahwa upaya Lala akan sia-sia, walaupun ia mengubah penampilannya sekalipun. Pria bersarung itu dalam pengamatannya adalah tipe manusia pecundang yang tak berani memutuskan pilihan hidupnya secara terang-terangan. Quin ingat awal mula pria itu mengajak Lala berkenalan lewat Instagram dan keduanya bertemu di Kedai Lembu Peteng. Pria itu halus cara bicaranya dan terus-terusan mengisahkan masa-masa pemondokannya. Bahkan, Quin mengenang kembali isi pesan rata kiri di kala itu, nyaris setiap waktu. Namun, sekarang ini ketika Quin melihat keadaan sudah berbeda, ia berkata, “Tinggalkan saja, La.”

“Quin! Kamu tidak percaya cinta sejati itu ada?”

“Cinta laki-laki besar di awal dan mengurang seiring waktu. Cinta perempuan saja yang terus bertumbuh. Cintamu mungkin sejati. Kalau cintanya?”

“Aku sudah berkorban banyak hal, nyaris dua puluh juta buat aku membelikannya hadiah. Saat dia kesusahan aku yang pertama meminjaminya uang.”

“Apa yang pertama sudah pasti istimewa?”

Bibir Lala bergetar-getar. Quin mengerti kawannya itu akan menangis.

Lala menaikkan nada suaranya, “Dia pernah bicara padaku jika kita menolong orang apalagi menyenangkan hati orang, pahalanya besar,” Lala meraih tangan Quin, “Dia juga pernah bicara padaku kalau aku akan dinikahi kelak, pernikahan yang bisa membawa kami ke surga.”

“Di awal bertemukan?”

“Tapi dia pernah mengatakannya, Quin. Tidak mungkin laki-laki alumni pondok itu bisa mengingkari ucapannya.”

“Kenapa tidak mungkin?”

“Dosa!” gertak Lala.

“Kalau berbohong itu dosa, kenapa dia menjadikanmu kekasih dan dengan teganya pelan-pelan menjauhimu karena dia tidak menginginkanmu lagi?”

Quin merasa tangannya dingin. Lala benar-benar menangis.***

____________________

Yeni Kartikasari. Tinggal di Ponorogo. Kumpulan cerpen pertama berjudul Siapa yang Memantik Api?

Cerpen

Seperti Melihat Jurang

Cerpen Yeni Kartikasari

Dua bulan setelah kebakaran itu, aku suka pergi ke taman. Tidak ada alasan lain, kecuali aku ingin menatap gumpalan awan di langit. Sebab, gumpalan awan itu mampu membuatku tenang dan damai. Biasanya awan-awan itu turun perlahan mendekatiku, menyelimuti pandanganku dengan kabut putih sampai tubuhku terasa melayang. Namun, kali ini berbeda, awan yang turun begitu kelabu, bergulung-gulung menghampiriku—membuat mataku menerobos asap hitam yang kedalamannya melebihi jurang tak berdasar.

“Siapa kau?” tanyaku.

Dari kejauhan, sebuah bayangan bergerak-gerak ke arahku. Aku ingin berteriak, tapi tak bisa. Aku ingin beranjak, tapi tak mampu. Air wajahku dingin, jantungku berdegup kencang.

“Kang?” sapa suara itu sebelum telingaku berdenging.

Dari lembut suaranya dan aroma kasturi yang kucium, aku menyadari kehadiran istriku. Sungguh, sudah lama aku tak bertemu. Setiap hari aku menanggung sepi, sendirian saja menjalani kehidupan yang tak cepat berakhir.

“Ci?” tanyaku.

Tak ada sepatah kata yang bisa kudengar. Aku tak tahu, ia membalas sapaanku atau tidak. Seiring pendengaranku yang memekak, potongan-potongan peristiwa di hari paling nahas itu terlintas.

Kala itu, aku dan Cici belum lama menikah, belum sempat benar-benar mencurahkan cinta, menjelang surup rumah kami dihantam ledakan. Di ruang tamu, aku bersama keluargaku terkena runtuhan dinding, sementara istriku menjerit-jerit terjebak api di dapur. Aku ingin menolongnya, tapi aku sulit bergerak. Beberapa saat, aku melihat istriku disergap segerombolan lelaki dan dibopong ke tepi rumah. Aku sangat takut. Kuteriaki mereka sebagai bajingan dan kuserapahi habis-habisan. Ketika aku bisa keluar dari himpitan tembok, kucari istriku dengan tubuh penuh luka koyak dan kaki pincang.

Sungguh, aku hanya bisa berteriak sekencang-kencangnya ketika mendapati istriku terkapar tanpa sehelai pakaian. Detik itu, lekas kupeluk sekujur tubuhnya yang lebam dan pangkal pahanya yang terus mengalir darah. Aku masih berharap ia hidup, meski separuh keyakinanku benar-benar diliputi keraguan.

Tertatih-tatih, istriku kugendong keluar rumah. Kuabaikan sejenak keluargaku yang sedang bersusah payah menyelamatkan diri. Aku berjalan cepat melewati mereka dan berusaha meminta bantuan orang lain, tetapi tetangga-tetangga di sekitar rumah tampak gamang dan berusaha menjauh.

“Tolong! Tolong kami! Antar kami ke rumah sakit!” desakku kala itu, kepada warga yang menyembunyikan ketakutannya dengan kedua tangan terkatup di mulut. “Bantu orangtuaku juga. Mereka di dalam. Tolong!”

Hingga akhirnya, aku hanya bisa menyimpan dendam setelah istri dan keluargaku terkubur. Sehari setelah peristiwa itu, kudatangi kantor polisi meminta keadilan. Kepada para polisi, aku menyalahkan mereka dan orang-orang yang tak sigap memberi bantuan. Kuceritakan pula, betapa kejinya perbuatan segerombolan lelaki itu dan orang yang telah melempar ledakan. Padahal aku tidak punya salah. Keluargaku tidak pantas dijadikan sasaran kesalahan.

“Mereka buat hidup saya sengsara, Pak! Tolong!”

Namun, polisi justru memalingkan muka. Kupaksa mereka mengusut pelaku, tapi aku justru digebuk berulang kali.

“Kami tidak ikut campur,” kata salah seorang dari mereka.

Mendengar ungkapan itu, aku menyesal pernah lahir sebagai pribumi. Belum genap dua puluh tahun tanah air ini memerdekakan rakyatnya, aku merasa hak kemanusiaan keluargaku bagaikan sampah.

“Bajingan!” umpatku.

Sejak peristiwa itu, hidupku kosong. Dan, kekosongan itulah yang kini benar-benar kembali kurasakan.

Asap hitam berputar ke arahku. Membelit tubuhku. Dan, semakin lama bergerak ke atas, menciptakan udara paling dingin. Ketika mataku menjadi kabur, tetapi pendengaranku berangsur pulih, lamat-lamat sampailah gema suara itu kepadaku, “Kang, seberapa besar cintamu?”

Seberapa besar? batinku. Sampai Cici menjadi istriku, memang aku belum pernah menjawab pertanyaan itu. Bahkan kali ini, aku masih belum menemukan pengibaratan yang sepadan. Jujur saja, aku tak suka mengatakan cinta, tetapi langsung menunjukkannya. Maka, sering kuajak ia jalan-jalan, menonton di bioskop, dan membaca koran. Aku juga mengajarinya berbahasa inggris dan menceritakan kepadanya tentang kisah-kisah masa lalu. Sengaja kulakukan itu, sebab aku tahu, sebagai perempuan Cici harus punya pengalaman dan pengetahuan luas.

“Kang?” sapanya lagi.

Alih-alih ingin menjawab, tenggorokanku seperti menelan duri. Aku terbatuk-batuk, tapi tak ada suara.

Seiring dengan tubuhku yang mulai melemas, hatiku bergetar saat terbayang masa-masa aku pindah rumah dan menjalani hari-hari yang malang. Sudah dua bulan, hampir setiap waktu, tak bisa terhitung berapa kali mendiang istriku berkeliaran di benak. Aku kerap mendengarnya memanggil namaku, datang mencolek pinggangku, dan diam-diam seperti memeluk tubuhku. Sering pula aku merasa ia tersenyum, melambai-lambaikan tangannya, dan sesekali menggodaku agar aku berlari mengejarnya.

Pernah suatu masa, di dalam rumah, aku mengejarnya sampai ke pintu, namun saat aku mencoba meraih tangannya, ia lenyap dan tiba-tiba berpindah di dekat bingkai jendela. Dari sinar matahari yang terlalu silau, tubuh istriku tampak seperti siluet perempuan berambut panjang dengan gaun pendek yang teramat anggun. Ia terlihat menawan. Aku sungguh bahagia, meski setelahnya aku tetap menyadari bahwa semua itu bagaikan aku sedang berjalan-jalan di siang bolong dan melihat genangan air dari kejauhan.

Maka, aku memaklumi diriku sendiri, jika di taman ini, saat aku duduk di kursi paling ujung, di bawah deretan ketapang kencana, dan di antara warna-warni tumbuhan pacar air, aku kerap mengenang masa-masa terindah bersama istriku. Aku selalu membayangkan ketika kami duduk di dekat danau sambil makan kue keranjang yang begitu legit dan kenyal. Istriku mengatakan kue keranjang akan lebih nikmat jika dicampur parutan kelapa. Baginya, rasa kue itu akan jadi gurih dan ada asin-asinnya. Aku ingat saat itu kami tertawa karena kami teringat dengan ongol-ongol, jajanan dari tepung sagu yang mirip dengan kue keranjang, apabila kue itu benar-benar diberi parutan kelapa. Dan, tawa kami semakin lepas, ketika Cici bilang bahwa kue keranjang adalah sanak saudara dari dodol.

Pembicaraan itu selalu terngiang, sampai ketika aku memandang langit, aku merasa istriku sedang ada di atas sana. Maka, aku senang sekali saat awan-awan itu turun perlahan mendekatiku, menyelimuti pandanganku dengan kabut putih sampai tubuhku terasa melayang. Ada ketenangan dan kedamaian yang kurasakan, meski aku tak bisa melihatnya ada.

Namun kali ini, jangankan untuk merasakan ketenangan dan kedamaian, tanpa tanda-tanda ganjil sebelumnya, gumpalan awan yang biasa kutatap menjadi begitu kelabu. Aku gusar melihat sergahan asap hitam, gerak bayang-bayang, suara-suara, aroma kasturi, dan pendengaran serta penglihatanku yang mendadak tak berfungsi.

“Kau di mana, Ci?” gumamku.

Ketika aku hendak berjalan, mencari sosok yang kuyakini sebagai istriku, asap hitam semakin bergulung-gulung, sebelum pada akhirnya menyebar, dan membuatku tergelincir ke jurang.***


Yeni Kartikasari, tinggal di Ponorogo. Menyukai ice cream dan cokelat.

Cerpen

Boneka

Cerpen Yeni Kartikasari

Mustika merasakan telinganya berdenging. Saat pandanganya dibuang ke luar jendela, kebenciannya bagai bara dalam sekam. Baginya, dendam bukanlah sebuah kejahatan, jika dibalas sedikit demi sedikit. Di samping kolong amben, ia menata sesajen. Jerami dibakar, dupa dinyalakan. Ia bergerak dengan perlahan supaya tidak diketahui siapapun, sekalipun ibunya yang sakit dan bergumam tentang karma. Mustika tak tahu persis apa yang dimaksud ibunya. Hanya kesumat yang saat ini Mustika pikirkan.

“Mampus!” gumam Mustika.

Serabut kelapa ditata memajang. Ujung-ujungnya dipangkas rapi sebelum ditekuk menjadi dua bagian. Mustika mengikat lengkukan seperti membentuk kepala hingga dua cabang di bawahnya seolah menyerupai kaki. Ketika bagian lengan telah ditambahkan, ia sedikit menjauhkan tangannya—memastikan boneka telah berbentuk. Sebuah foto dikeluarkan dari kantong. Kedua matanya memandang dengan amarah. Selesai ritual nanti, ia ingin segera menusuk-nusuknya.

Namun, hati Mustika berkecamuk saat memutarkan boneka di atas anglo. Jika upayanya menjauhkan Kinanti dari Damar berujung kematian, Mustika akan menanggung dosa besar. Apalagi, ibunya pernah mengatakan perbuatan syirik dapat mendatangkan kesialan. Saat asap jerami berlenggak-lenggok di udara, Mustika terseret bayangannya.

“Kamu pasti lupa,” ucap Kinanti seraya mengulurkan sampur di pentas bulan purnama. Mustika menerimanya dengan terpaksa. Ia sempat berpikir, apakah Kinanti rela kehilangan pamor?

Kenangan itu tidak dapat diusir dari benak Mustika. Sampur itu mengembalikan kepercayaan dirinya, sehingga ia dapat melenggang ke kanan-kiri, sesekali dikalungkan ke leher bujang ganong yang menghampiri. Saat itu, Mustika sangat menginginkan Damar mendekat di tengah tariannya. Tetapi, kenyataan memang sering mencurangi harapan. Damar justru meninggalkan lapangan di saat penonton semakin bergairah. Langkah Mustika berubah lemah setelah pandangannya bertemu dengan jathil lainnya. Dari gerakan mulut mereka, ada dua kata yang terserap; Kinanti dan masuk angin. Menyadari keberadaan Kinanti nihil, anggainya mencuat, nuraninya berdebar-debar. Perlahan, Mustika menepi dan berlari memikul bimbang.

Sejak mengetahui bahwa Damar menemani Kinanti di bilik rias, Mustika menyaksikan bahwa cinta tidak bergerak atas muruwah dan petuah. Di ambang kelambu, Mustika berdiri dengan punggung terguncang dan bibir bergetar. Damar menadahi muntahan Kinanti dengan rompinya. Bau telur busuk dan amonia menguar seiring dengan keluarnya sari-sari makanan. Hal yang memerihkan perlahan terjadi, Damar mengusap air liur, mengolesi minyak kayu putih, dan mengeluarkan sebuah koin untuk mengerok tubuh Kinanti. Lagi, kerelaan itu membuat Mustika menangis.

Kebenciannya mendarah daging pada pementasan berikutnya. Pada pagelaran reyog obyok di telaga Ngebel, hatinya terasa ditusuk ribuan jarum. Di antara keriuhan penonton yang berteriak cabul, Damar berjalan sambil menenteng topeng bujang ganong ke tengah panggung. Sebelum dipakai, ia berjalan memutari Kinanti dan mencolek pinggangnya. Gong berdentang-dentang, terompet ditiup panjang. Damar melakukan gerakan magak dengan iringan senggakan. Mustika sangat geram menyaksikan Damar memajukan kepala dan mengulir tangannya seperti hendak merengkuh Kinanti. Lekas, api cemburu menyulut dengan ganas.

Mustika yang merasa muak dengan kejadian itu akhirnya mulai merencanakan pembalasan. Lewat ilmu sihir yang dipelajari dari internet, ia mengumpulkan barang-barang perlengkapan; anglo, jerami, dupa, tanah kuburan, paku, jarum, serabut kelapa, dan bunga setaman. Ia ingin menunjukan bahwa orang-orang yang tersakiti tidak dapat terkalahkan.

“Tikus tengik!” umpatnya.

Satu persatu, air mata Mustika berjatuhan. Beriring dengan gerakan memutar boneka di atas anglo, jerit tangis memekik telinganya. Samar-samar, Mustika mendengar kata ibu. Dalam beberapa saat, pintu kamarnya digedor-gedor.***


Yeni Kartikasari, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Ponorogo. Dapat disapa melalui @yeni_kartikasarii.