Cerpen

Seperti Melihat Jurang

Cerpen Yeni Kartikasari

Dua bulan setelah kebakaran itu, aku suka pergi ke taman. Tidak ada alasan lain, kecuali aku ingin menatap gumpalan awan di langit. Sebab, gumpalan awan itu mampu membuatku tenang dan damai. Biasanya awan-awan itu turun perlahan mendekatiku, menyelimuti pandanganku dengan kabut putih sampai tubuhku terasa melayang. Namun, kali ini berbeda, awan yang turun begitu kelabu, bergulung-gulung menghampiriku—membuat mataku menerobos asap hitam yang kedalamannya melebihi jurang tak berdasar.

“Siapa kau?” tanyaku.

Dari kejauhan, sebuah bayangan bergerak-gerak ke arahku. Aku ingin berteriak, tapi tak bisa. Aku ingin beranjak, tapi tak mampu. Air wajahku dingin, jantungku berdegup kencang.

“Kang?” sapa suara itu sebelum telingaku berdenging.

Dari lembut suaranya dan aroma kasturi yang kucium, aku menyadari kehadiran istriku. Sungguh, sudah lama aku tak bertemu. Setiap hari aku menanggung sepi, sendirian saja menjalani kehidupan yang tak cepat berakhir.

“Ci?” tanyaku.

Tak ada sepatah kata yang bisa kudengar. Aku tak tahu, ia membalas sapaanku atau tidak. Seiring pendengaranku yang memekak, potongan-potongan peristiwa di hari paling nahas itu terlintas.

Kala itu, aku dan Cici belum lama menikah, belum sempat benar-benar mencurahkan cinta, menjelang surup rumah kami dihantam ledakan. Di ruang tamu, aku bersama keluargaku terkena runtuhan dinding, sementara istriku menjerit-jerit terjebak api di dapur. Aku ingin menolongnya, tapi aku sulit bergerak. Beberapa saat, aku melihat istriku disergap segerombolan lelaki dan dibopong ke tepi rumah. Aku sangat takut. Kuteriaki mereka sebagai bajingan dan kuserapahi habis-habisan. Ketika aku bisa keluar dari himpitan tembok, kucari istriku dengan tubuh penuh luka koyak dan kaki pincang.

Sungguh, aku hanya bisa berteriak sekencang-kencangnya ketika mendapati istriku terkapar tanpa sehelai pakaian. Detik itu, lekas kupeluk sekujur tubuhnya yang lebam dan pangkal pahanya yang terus mengalir darah. Aku masih berharap ia hidup, meski separuh keyakinanku benar-benar diliputi keraguan.

Tertatih-tatih, istriku kugendong keluar rumah. Kuabaikan sejenak keluargaku yang sedang bersusah payah menyelamatkan diri. Aku berjalan cepat melewati mereka dan berusaha meminta bantuan orang lain, tetapi tetangga-tetangga di sekitar rumah tampak gamang dan berusaha menjauh.

“Tolong! Tolong kami! Antar kami ke rumah sakit!” desakku kala itu, kepada warga yang menyembunyikan ketakutannya dengan kedua tangan terkatup di mulut. “Bantu orangtuaku juga. Mereka di dalam. Tolong!”

Hingga akhirnya, aku hanya bisa menyimpan dendam setelah istri dan keluargaku terkubur. Sehari setelah peristiwa itu, kudatangi kantor polisi meminta keadilan. Kepada para polisi, aku menyalahkan mereka dan orang-orang yang tak sigap memberi bantuan. Kuceritakan pula, betapa kejinya perbuatan segerombolan lelaki itu dan orang yang telah melempar ledakan. Padahal aku tidak punya salah. Keluargaku tidak pantas dijadikan sasaran kesalahan.

“Mereka buat hidup saya sengsara, Pak! Tolong!”

Namun, polisi justru memalingkan muka. Kupaksa mereka mengusut pelaku, tapi aku justru digebuk berulang kali.

“Kami tidak ikut campur,” kata salah seorang dari mereka.

Mendengar ungkapan itu, aku menyesal pernah lahir sebagai pribumi. Belum genap dua puluh tahun tanah air ini memerdekakan rakyatnya, aku merasa hak kemanusiaan keluargaku bagaikan sampah.

“Bajingan!” umpatku.

Sejak peristiwa itu, hidupku kosong. Dan, kekosongan itulah yang kini benar-benar kembali kurasakan.

Asap hitam berputar ke arahku. Membelit tubuhku. Dan, semakin lama bergerak ke atas, menciptakan udara paling dingin. Ketika mataku menjadi kabur, tetapi pendengaranku berangsur pulih, lamat-lamat sampailah gema suara itu kepadaku, “Kang, seberapa besar cintamu?”

Seberapa besar? batinku. Sampai Cici menjadi istriku, memang aku belum pernah menjawab pertanyaan itu. Bahkan kali ini, aku masih belum menemukan pengibaratan yang sepadan. Jujur saja, aku tak suka mengatakan cinta, tetapi langsung menunjukkannya. Maka, sering kuajak ia jalan-jalan, menonton di bioskop, dan membaca koran. Aku juga mengajarinya berbahasa inggris dan menceritakan kepadanya tentang kisah-kisah masa lalu. Sengaja kulakukan itu, sebab aku tahu, sebagai perempuan Cici harus punya pengalaman dan pengetahuan luas.

“Kang?” sapanya lagi.

Alih-alih ingin menjawab, tenggorokanku seperti menelan duri. Aku terbatuk-batuk, tapi tak ada suara.

Seiring dengan tubuhku yang mulai melemas, hatiku bergetar saat terbayang masa-masa aku pindah rumah dan menjalani hari-hari yang malang. Sudah dua bulan, hampir setiap waktu, tak bisa terhitung berapa kali mendiang istriku berkeliaran di benak. Aku kerap mendengarnya memanggil namaku, datang mencolek pinggangku, dan diam-diam seperti memeluk tubuhku. Sering pula aku merasa ia tersenyum, melambai-lambaikan tangannya, dan sesekali menggodaku agar aku berlari mengejarnya.

Pernah suatu masa, di dalam rumah, aku mengejarnya sampai ke pintu, namun saat aku mencoba meraih tangannya, ia lenyap dan tiba-tiba berpindah di dekat bingkai jendela. Dari sinar matahari yang terlalu silau, tubuh istriku tampak seperti siluet perempuan berambut panjang dengan gaun pendek yang teramat anggun. Ia terlihat menawan. Aku sungguh bahagia, meski setelahnya aku tetap menyadari bahwa semua itu bagaikan aku sedang berjalan-jalan di siang bolong dan melihat genangan air dari kejauhan.

Maka, aku memaklumi diriku sendiri, jika di taman ini, saat aku duduk di kursi paling ujung, di bawah deretan ketapang kencana, dan di antara warna-warni tumbuhan pacar air, aku kerap mengenang masa-masa terindah bersama istriku. Aku selalu membayangkan ketika kami duduk di dekat danau sambil makan kue keranjang yang begitu legit dan kenyal. Istriku mengatakan kue keranjang akan lebih nikmat jika dicampur parutan kelapa. Baginya, rasa kue itu akan jadi gurih dan ada asin-asinnya. Aku ingat saat itu kami tertawa karena kami teringat dengan ongol-ongol, jajanan dari tepung sagu yang mirip dengan kue keranjang, apabila kue itu benar-benar diberi parutan kelapa. Dan, tawa kami semakin lepas, ketika Cici bilang bahwa kue keranjang adalah sanak saudara dari dodol.

Pembicaraan itu selalu terngiang, sampai ketika aku memandang langit, aku merasa istriku sedang ada di atas sana. Maka, aku senang sekali saat awan-awan itu turun perlahan mendekatiku, menyelimuti pandanganku dengan kabut putih sampai tubuhku terasa melayang. Ada ketenangan dan kedamaian yang kurasakan, meski aku tak bisa melihatnya ada.

Namun kali ini, jangankan untuk merasakan ketenangan dan kedamaian, tanpa tanda-tanda ganjil sebelumnya, gumpalan awan yang biasa kutatap menjadi begitu kelabu. Aku gusar melihat sergahan asap hitam, gerak bayang-bayang, suara-suara, aroma kasturi, dan pendengaran serta penglihatanku yang mendadak tak berfungsi.

“Kau di mana, Ci?” gumamku.

Ketika aku hendak berjalan, mencari sosok yang kuyakini sebagai istriku, asap hitam semakin bergulung-gulung, sebelum pada akhirnya menyebar, dan membuatku tergelincir ke jurang.***


Yeni Kartikasari, tinggal di Ponorogo. Menyukai ice cream dan cokelat.

1 thought on “Seperti Melihat Jurang”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *