
Seblak Sublimasi
pada tepian jalan dekat toko swalayan
kerumunan adalah antidot kesepian urban
teramat dingin diabaikan oleh kenyataan
percakapan sengit dilakukan dalam genggaman
lalu dicarilah sekelumit letup kehangatan
alibi lepas dari kejaran segepok persoalan
bertemulah pada sebuah warung seblak
barangkali jadi awalan bekal buat tergelak
dalam panas minyak goreng curah
segala yang keras akan luluh pasrah
bawang merah bawang putih pun akur
berjumpa dan sepakat untuk melebur
kemiri daun bawang dan cabai rawit
aduk pelan pelan melupakan rasa sakit
ditambah gelegak didih air meletuk
kerupuk pun lunglai kehilangan keriuk
sawi mi makaroni baso dan sosis
tipis celoteh kadang sanggup mengiris
bisa juga tambahkan sepasang ceker
mesti cermat agar cinta tak mudah tercecer
paduan aroma kencur dan kenyal telur
jadi bagian dari resep memanjangkan umur
Tangerang Selatan, 13 Mei 2024
Apologia Jelaga
saat terjaga dari himpitan malam
ingin dia tulis sajak tentang tuhan
tetapi kata-kata berjalan pada hampar
basah dan telanjang
lalu pertanyaan tentang cinta
menjelma antologi nonsens
yang sasar pada geletar
entah di mana kalam
yang ada kenyal kelam di semak liar
pengakuannya hari ini seonggok hambar
Bekasi, 30 Maret 2024
Sajak Dinding Kamar
ia begitu keras dan dingin
dengan ketebalan disepuh waktu
dan tafsir yang kirimkan lembap
menampung nyanyian mimpi
ia pun rajin merekam kejadian
pertempuran di atas ranjang
geliat pemikiran dan ideologi
pergulatan tindih dan silang
pertukaran rintih dan riang
kata kata berpilin dalam kepalan
setiap pergerakan disulut saat remang
lalu ia membaca percikan memanjang
menderetkan kumpulan teriakan
suara suara yang kemarin tertahan
di pedalaman dinding kamar
menjelma ledakan ledakan di halaman koran
Bekasi, 30 Maret 2024
Laki Laki dan Perempuan
seorang laki laki terburu buru
nyalakan cinta dari matanya yang gelap
untuk dunia yang tak dipahaminya
seorang perempuan diam diam
sembunyi di balik mulutnya yang amat sepi
telah siapkan liang jebakan begitu rapi
Tangerang Selatan, 13 Mei 2024
Alarm Jam 3 Dini Hari
kau matikan bunyi alarm itu
yang sebenarnya tadi kau tunggu
kau pun menggerutu: ah itu lagu
mengganggu komposisi mimpiku
kau ingin sembahyang dan berdoa
tapi kau urungkan karena belum mandi besar
sehabis berjam jam bersenggama
dengan sajak sajak yang sintal dan liar
kau pijat sendiri kepalamu di atas telinga
masih ada sisa cenut cenut dari lenguh kata
lah, buat apa aku bengong terjaga jam segini
kalau hanya bisa mengencani sepi
Tangsel, 21 Mei 2024

Budhi Setyawan, atau Buset, seorang dosen yang menyukai musik dan puisi. Mengelola Kelas Puisi Bekasi (KPB) & tinggal di Bekasi. Buku puisi terbarunya Elegi Elegi Yogya (2024). Instagram: busetpurworejo
