Cerpen

Kekalahan yang Dimenangkan

Cerpen Septi Rusdiyana

Cerita ini bukan tentang aku, melainkan kisah kakakku, Nun. Perempuan yang mengaku telah jatuh cinta berulang kali pada suaminya. Terdengar sangat romantis, ya? Tapi percayalah, hanya dengan hati kamu baru akan benar-benar mengerti mengapa Nun bisa begitu.

Wonogiri, 28 Desember 2023. Aku turut dalam rombongan bus yang mengantar Nun dan suaminya, Satya, ke acara unduh mantu. Selesai acara, aku dan kedua orangtuaku memutuskan tinggal di rumah Satya, meski hanya semalam. Sebelum pulang, aku sempat ngobrol dengan Nun di kamarnya.

“Apa kau bahagia?” tanyaku.

Nun tersipu. Wajahnya nampak berseri-seri. Nun mengangguk semangat. Saking semangatnya, aku merasa hampir tidak lagi bisa mengenalinya. Benarkah seorang lelaki sanggup membuat wanita berubah begitu cepat? Nun memelukku. Mataku basah. Kali pertama, Nun meminta maaf dan berjanji akan menjadi kakak terbaik untukku.

Sejenak pikiranku melambung ke masa lalu. Di rumah, hubunganku dengan Nun tidak baik. Sejak kecil aku membencinya karena bapak ibu selalu membandingkanku dengannya. Nun beruntung, selain cantik, otaknya juga encer. Apa pun yang ia lakukan tidak pernah gagal. Saking pintarnya, belum juga lulus kuliah, Nun sudah menjadi asisten dosen. Satu hal yang menurutku Nun tidak lebih unggul dariku: aku memiliki jauh lebih banyak teman, baik perempuan atau laki-laki. Tapi bagi Nun, sepertinya itu bukan masalah. Karena hampir seluruh waktunya memang tersita hanya untuk belajar dan bekerja.

Aku tidak banyak berinteraksi dengan Nun. Sejak SMA aku memilih sekolah di luar kota, sekadar ingin terlepas dari beban mental di rumah. Hingga suatu malam yang gerimis, tiba-tiba Nun datang ke kost-ku. Tentu saja aku terkejut. Tidak hanya itu, aku ngomel-ngomel saat ia menerobos masuk lalu berbaring di kasurku. Matanya terpejam. Ia tidak memedulikan ocehanku. Saat aku hampir saja menarik tangannya, tubuh Nun terguncang, disusul isakan yang semakin lama semakin keras. Aku bingung harus melakukan apa, karena selama ini kami tidak dekat. Aku memilih duduk di sampingnya, membiarkannya menangis hingga selesai. Setelah Nun bisa bercerita, aku akhirnya tahu, ia menjadi seperti tadi karena rekan dosen yang ia kira menyukainya, akan menikah dengan perempuan lain. Celakanya, perempuan itu merupakan rekan sesama dosen di kampus tempat Nun bekerja.

Sejak itu, Nun memutuskan resign dan memilih menjadi relawan pengajar di pelosok-pelosok daerah. Sejak itu pula, aku tinggal di rumah. Kebetulan kuliahku sudah selesai dan tinggal mengerjakan skripsi.

Hampir setiap hari Nun menghubungiku. Aku juga mulai membuka diri. Bahkan, aku menjadi orang pertama yang tahu kalau Nun akhirnya menjatuhkan hati pada seorang lelaki bernama Satya. Sayang, saat Nun pulang dan menceritakan perihal rencananya, bapak ibu tidak setuju. Menurut mereka, Satya tidak akan sanggup menghidupi Nun, karena lelaki itu hanya seorang buruh tani. Aku bisa melihat kekecewaan di wajah Nun. Meski tidak menangis, bibirnya terus bergetar. Seolah menahan sesuatu yang hendak meledak dari dalam dirinya.

Hari-hari terlewat dengan biasa saja. Suatu pagi, saat aku masuk ke kamar Nun, kudapati tubuhnya bersandar di dekat lemari. Saat kudekati, tubuhnya tak bergerak. Wajah Nun pucat dan terdapat luka sayat di pergelangan tangannya.

“Aku sangat bahagia. Satya menjadi milikku.” Suara Nun menyadarkanku kembali.

“Terus kabari aku, ya?” sahutku. Nun mengangguk.

Sebelum aku dan kedua orangtuaku pamit, aku sempat berjabat tangan dengan Satya. Entah, aku merasa ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang kurang baik, tapi aku memutuskan mengenyahkan rasa itu.

Dua bulan setelahnya, Nun menelepon saat tengah malam. Ia bercerita kalau Satya belum pulang. Ia sangat cemas. Saat aku menanyakan ke mana suaminya, aku merasa Nun sedang menutupi sesuatu. Apa yang ia tuturkan seperti tidak menjawab apa yang kutanyakan. Namun saat ia mengakhiri panggilan karena Satya sudah pulang, aku kembali mengabaikan rasa itu.

4 April 2024. Setelah mengambil data tambahan di Solo, aku menghubungi Nun. Memberi kabar padanya kalau aku ingin mampir ke Wonogiri. Nun dan Satya menyambutku dengan senang. Aku diminta tinggal selama beberapa hari di sana. Meski rumah dan kehidupan yang mereka jalani sangat sederhana, keduanya terlihat bahagia. Apalagi saat Nun memberitahuku kalau ia sedang hamil. Aku ikut senang mendengarnya.

Pada malam ke-4, aku sulit tidur dan memutuskan duduk di ruang tamu sembari memainkan ponsel. Tidak lama, pintu terbuka. Satya masuk ke rumah. Aku menyapanya, lalu sengaja berbasa-basi agar dia mau menemaniku.

“Dari mana, Mas?” tanyaku memulai obrolan.

“Habis ronda. Kamu sendiri kenapa belum tidur?” tanya Satya balik.

“Nggak bisa tidur.”

“Mbakyumu nggak bangun, kan?”

Aku menggeleng.

“Dia itu paling tidak bisa ditinggal sendirian di rumah. Padahal aku juga nggak ke mana-mana, paling di gardu ronda depan.” Satya mulai menyalakan rokok di mulutnya.

Merasa mendapat angin, aku mulai banyak bertanya untuk memuaskan hasrat keingintahuanku. Maklum, sejak awal aku belum mengenal Satya dengan baik. Entah karena terlalu polos atau bagaimana, dia merespons semua pertanyaanku apa adanya. Aku tidak berhasil menangkap sebuah kebohongan di wajah dan suaranya. Salah satu pertanyaan yang kuajukan adalah alasan mereka memutuskan menikah. Satya kemudian bercerita panjang kalau pertemuan awalnya dengan Nun adalah ketika Nun mengajar anak-anak usia dini di balai desa.

“Saat itu aku datang untuk memperbaiki pintu kamar mandi. Tiba-tiba seseorang memeluk tubuhku dari belakang. Aku kaget. Buru-buru aku melepas pelukan itu. Takut dilihat orang lain yang nantinya bisa muncul fitnah.”

Aku mendengar ceritanya dengan khusyuk. Singkat cerita, aku akhirnya tahu, rupanya Nun yang selama ini mengejar-ngejar Satya agar mau menikahinya. Bahkan, Nun sempat beberapa kali mengancam akan menyakiti dirinya sendiri jika Satya terus menolak.

“Itu yang pada akhirnya membuat Mas luluh?” tanyaku.

Satya menggeleng. Dia mengatakan kalau hanya soal ancaman, dia bisa mencari cara untuk membebaskan diri.

“Dia bilang wajahku mirip sama lelaki yang disukainya, tapi lelaki itu memilih menikahi perempuan lain,” Satya menjeda bicaranya. “Biar orang miskin, aku tetap laki-laki yang punya harga diri. Itu sudah menjelaskan kalau mbakyumu mencintai orang lain. Bukan aku,” lanjutnya lagi.

“Lalu apa alasannya dong?” tanyaku semakin penasaran.

“Simbok,” jawab Satya. “Beberapa hari setelah kejadian itu, malamnya almarhumah simbok datang lewat mimpi. Di situ simbok bilang: Sing sabar yo, Le. Uripmu yen iso manfaat, iso nylametke uriping liyan, berkah uripmu (Yang sabar ya, Nak. Hidupmu jika bisa bermanfaat, bisa menyelamatkan hidup orang lain, maka berkahlah hidupmu),” lanjut Satya menirukan ucapan ibunya.

Aku tercekat. Dadaku berdesir. Orang yang selama ini kupikir menyimpan maksud buruk pada Nun, ternyata memiliki pemikiran seperti itu.

“Sudah dulu ya, ngobrolnya dilanjut besok lagi.” Satya berlalu menuju kamar tanpa menunggu responsku.

Aku terpaku di bangku kayu dengan banyak sekali pertanyaan lanjutan. Apakah Nun mencintai Satya? Apakah Satya mencintai Nun? Apakah mereka sedang saling menyakiti? Kehidupan macam apa yang saat ini mereka jalani? Apakah mereka bahagia? Aku benar-benar tidak mengerti. Dan sepertinya, aku tidak ingin mengerti.***


Septi Rusdiyana, penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu dari dua putri cantik bernama Negar dan Nala. Anggota komunitas menulis Kamar Kata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *