Cerpen

Sumbangan Awal Tahun

Cerpen Puput Sekar

“Baik, jika tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, berarti Bapak dan Ibu di sini menyepakati keputusan barusan, ya. Uang sebesar lima ratus ribu rupiah untuk sumbangan awal tahun ini,” pungkas Murtado, Kepala Sekolah SD Negeri Kabutsari yang menjadi pimpinan rapat awal tahun di sekolah itu.

Murtado mesam-mesem semringah. Rapat kali itu tidak terkendala apa pun. Seperti biasa uang sumbangan akan mengalir lagi untuk pembangunan sekolah itu yang rencananya akan dipakai untuk pengadaan CCTV, perbaikan pagar, pembangunan aula, perbaikan lapangan basket. Dalam waktu tiga tahun menjabat di sekolah itu, ia telah banyak melakukan pembangunan yang berhasil dilaksanakan. Tentu saja ini akan menjadi hal baik bagi sekolah, juga bagi kelangsungan kariernya.

Sejak dulu kemampuannya dalam bernegosiasi dengan wali murid selalu berdampak positif. Jarang ada sanggahan atau keberatan mengenai program sekolah yang telah ia tetapkan. Semua berjalan lancar.

Sementara di bangku wali, Ali mendengar kasak-kusuk wali murid lainnya yang membuatnya ingin bergerak.

“Aku aja belum bayar LKS, uang kas kelas, eh ini udah diminta uang sumbangan,” bisik perempuan yang duduk di depannya kepada teman duduknya.

“Iya. Sekarang apa-apa mahal. Ditambah uang sumbangan. Katanya sumbangan, tapi kok dipatok nominal dan ada tenggat waktu maksimal pembayaran,” bisik yang lainnya.

“Gaji suamiku hanya dua juta rupiah. Dibagi-bagi buat macam-macam. Kalau awal tahun begini, ruwet urusan.”

Dan bisikan-bisikan itu semakin lama semakin berdengung seperti sekumpulan tawon. Bukan hanya mengganggu gendang telinga Ali, tetapi juga mengusik hati nuraninya. Sayangnya suara-suara dengung itu terdengar berbeda di depan kelas. Terlebih bagi pendengaran Murtado. Ia sama sekali tidak mempedulikan dengungan. Ia hanya mempedulikan fakta yang sampai pada penglihatannya bahwa sampai ia selesai memberikan penjelasan tidak ada satu pun dari mereka yang berdengung tidak setuju dengan keputusannya.

Dengung keberatan itu tidak pernah sampai ke telinga Pak Murtado. Justru sikap taat dan patuh pada keputusan pria paruh baya itu. Sejurus kemudian Ali tunjuk tangan. Ia merasa perlu menjadi jembatan kasak-kusuk yang ia dengar.

Wajah semringah Murtado seketika berubah mengernyit ketika seorang lelaki yang duduk di bangku belakang tunjuk tangan. Lelaki itu lalu berdiri. Tubuhnya kurus dan ringkih. Murtado menyambutnya dengan tersenyum, meski kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan.

“Nama saya Ali, wali murid dari Adiba.” Dengan suara serak lelaki itu memperkenalkan diri.

Ternyata bukan saja tubuh ringkihnya yang kurang sedap dipandang mata, suaranya juga mengganggu pendengaran. Di tenggorokannya seperti penuh dengan dahak yang mengumpul, dan itu terdengar menjijikan bagi peserta rapat lainnya.

Murtado mulai mengerti situasi. Ya, setiap tahun pasti ada saja wali murid yang keberatan dengan uang sumbangan yang menurutnya sangat kecil, dan memang kecil jika dibandingkan sekolah sekolah negeri lainnya. Murtado merasa telah berhitung dengan cermat mengenai rencana anggaran biaya yang telah ia keluarkan. Ia mengerti dengan kondisi perekonomian mereka yang empot-empotan. Maka ia menetapkan nominal yang kecil. Barangkali jika ada orang tua seperti Ali yang mengajukan keberatan, ia cukup maklum. “Silakan, Pak Ali,” ujar Murtado ramah.

“Saya keberatan. Terus terang saya menyekolahkan anak saya di sekolah negeri karena yang saya tahu tidak ada pungutan apa pun. Sebab memang sekolah negeri dibuat minim biaya agar orang tidak mampu seperti kami tetap bisa merasakan pendidikan. Bukan begitu, Pak?”

“Benar, Pak Ali.”

“Nah jika begitu, mengapa Bapak menetapkan patokan biaya kepada kami siswa kelas satu? Bahkan Bapak mengatakan mematok hal serupa kepada setiap kelas setiap tahunnya. Berarti sama saja dengan daftar ulang. Maaf, ini sumbangan atau iuran wajib, Pak?”

“Sumbangan, Pak. Sumbangan biaya pembangunan.”

“Kok jadi rancu kedengarannya, ya, Pak. Sumbangan tetapi diwajibkan. Kenapa Bapak tidak menetapkan saja sebagai iuran wajib? Jika iuran wajib seperti itu kan enak, Pak. Saya bisa melaporkan kepada dinas terkait bahwa ada pungutan liar di sekolah ini.”

Wajah Pak Murtado memerah. Ia tidak menyangka kalimat menusuk itu keluar dari lelaki kerempeng seperti Ali. Tetapi ia harus tetap tersenyum. Senyum itu sudah puluhan tahun ia latih, terutama pada situasi genting dan memuakkan seperti ini.

“Saya bisa jelaskan, Pak Ali?”

Ali mengangguk, meski wajahnya mengeras. Sebenarnya sudah sedari tadi ia tahan pernyataan keberatannya. Sebenarnya jika dikatakan keberatan, tidak juga. Ia masih mampu membayar besaran uang lima ratus ribu rupiah itu.

“Begini, Pak,” lanjut Murtado, “Uang limaratus ribu rupiah itu barangkali berat bagi bapak, tetapi itu bukan buat saya. Itu untuk kepentingan sekolah, sebab pemerintah saat itu sudah tidak lagi menurunkan uang untuk pengembangan sekolah. Maka kami berinisiatiaf untuk melakukan swadaya antara pihak sekolah dan wali murid. Hal ini dibolehkan, Pak, selama ada kesepakatan dengan wali murid.”

“Kalau saya tidak sepakat, Pak?”

Murtado masih menjaga senyumnya, juga berusaha mengelola emosinya dengan baik, meski ia akui bahwa perasaannya teracak-acak oleh Ali.

“Silakan, Pak. Jika tidak sepakat, Bapak bisa ke ruangan saya. Kita bicarakan secara personal. Semua bisa dikomunikasikan. Nanti saya akan berikan keringanan untuk Bapak.”

“Tapi saya tidak mau ke ruangan, Bapak. Ini bukan masalah keringanan. Saya tidak mau mengemis untuk itu. Saya ingin hak saya sebagai wali murid.”

‘Asyem!’ Murtado mengumpat dalam hati. Ia mulai jengkel. “Maaf, hak yang seperti apa maksud, Pak Ali?”

“Tadi Bapak bilang pemerintah membolehkan menarik pungutan, asal berdasarkan kesepakatan dengan wali murid. Nah, saya kan bagian dari wali murid, Pak. Saya tidak sepakat!”

“Sekali lagi, Pak, Anda bisa mengajukan keringanan di ruangan saya.”

“Tapi saya tegaskan lagi, saya tidak mau mengemis seperti itu.”

Murtado menarik napas. Seketika ruangan mulai riuh. Dengungan itu terdengar lagi seperti tawon. Wali murid yang lain diberikan suguhan tontonan drama yang tidak kalah menariknya dari drama politik pemilihan kepala daerah belakangan ini.

“Pak Ali, sekali lagi saya jelaskan; uang itu bukan untuk saya, tetapi untuk pengembangan sekolah. Bapak bisa cek di beberapa sekolah negeri di dekat sini. Semua telah menjadi hal lumrah, Pak. Apa Bapak tidak ingin sekolah anak kita ini menjadi sekolah yang maju. Saya hanya berperan sebagai fasilitator.”

“Berarti ini sama saja dengan pungutan liar kan, Pak?”

“Lho kok pungutan liar? Kalau pungutan liar, Bapak dan Ibu wali murid tidak saya kumpulkan di sini. Kita berkumpul di sini untuk musyawarah.”

“Musyawarah atau mendengarkan keputusan Bapak? Musyawarah atau terpaksa menuruti keinginan pihak sekolah?”

Darah Murtado sudah sampai di ubun-ubun. Tetapi ia berusaha sekuat tenaga menjaga sikapnya. Ia sadar, zaman ini adalah zaman viral. Ponsel di mana-mana, mana tahu ada yang diam-diam merekam perselisihannya dengan wali murid.

“Sekarang begini saja, Pak. Saya kembalikan kepada Bapak Ibu wali murid di sini.” Murtado lalu beralih kepada wali murid yang lain. Wali murid yang tengah terkesima dengan peristiwa menakjubkan barusan.

“Bapak dan Ibu, mohon maaf, sekarang yang mengajukan keberatan seperti Pak Ali, silakan tunjuk tangan,” ucap Murtado dengan suara penuh penekanan.

Murtado memandangi wali murid satu per satu. Mereka semua diam. Tidak ada yang menunjuk tangan kecuali Ali. Hal itu telah cukup bagi Murtado untuk memberikan jawaban pamungkas kepada Ali.

“Pak Ali, mohon maaf. Sudah lihat, kan? Semuanya diam. Artinya Bapak dan Ibu semua setuju, ya?”

“Setuju!” jawab mereka serempak. Seperti sebuah alunan koor yang bersatu padu. Menciptakan nada harmonis pada pendengaran Murtado. Sebaliknya, bagi Ali, suara itu terdengar seperti suara para pasukan pengkhianat. Rahang Ali mengeras. Ia tahu, ia sedang dilucuti oleh orang yang sedang ia bela.

“Nah, Pak Ali. Jelas, ya. Semuanya sudah setuju. Jadi kalau Bapak tidak setuju, silakan ke ruangan saya. Kita bisa bicarakan baik-baik. Saya tidak pernah ada maksud memberikan pungutan liar. Pungutan ini murni atas kesepakatan wali murid lainnya,” terang Murtado dengan tenang. Senyumnya mengembang, senyum kemenangan.

‘Jancuk!’umpat Ali dalam hati. Matanya memandang seluruh ruangan kelas.

Lagi-lagi terdengar suara berdengung tertuju kepada Ali. Dengan gusar Ali meninggalkan ruangan. Meninggalkan sorot mata menyala kepada Murtado dan semua wali murid di ruangan itu.

Murtado masih berusaha tersenyum, meski keringat sudah membasahi punggungnya. Ia lalu menutup rapat kali itu dengan mengucapkan syukur.

“Tenang, Pak, saya punya video lengkapnya. Kalau sampai orang itu nekat membuat keributan di luar, kita bisa counter  dengan video ini. Apalagi tadi Bapak tetap tenang menghadapinya,” bisik Pak Bandri-wakilnya.

Murtado mengangguk-angguk lega. Lalu melempar senyum kepada semua peserta rapat.

Sementara dari bangku siswa, suara-suara itu terdengar lagi. Suara dari orang yang didengar Ali. Orang-orang yang itu-itu lagi.

“Hidup lagi susah, malah cari masalah. Padahal solusinya jelas, kalau keberatan tinggal minta keringanan di ruang kepala sekolah. Gitu aja kok repot!”

“Udah miskin, sok enggak mau ngemis!”

“Yah, namanya juga menuntut ilmu. Pungutan uang untuk fasilitas itu wajar. Kalau sekolah bagus, yang untung kan anak dia juga. Kok malah marah-marah enggak jelas.”

“Setiap liburan bisa jalan-jalan, kulineran, ngajak anak berenang. Giliran disuruh sumbangan alot! Pakai muter-muter omongannya!”


Puput Sekar, lulusan Pendidikan Geografi, Universitas Negeri Jakarta. Menulis novel Elang dan Bidadari, Republika 2012, Beo Zelga, Prudencia 2020, Splash Love in Seoul, Prudencia, 2021, Joko Klobot dan Nyi Kemretek, NAD Publishing, 2023. Kegiatan saat ini adalah aktif menulis di komunitas Nulis Aja Dulu, Terus Saja Tulis, dan Opinia. Penulis bisa dihubungi di Facebook: Puput Sekar, IG: @puputsekar_putse, dan email: [email protected]

Cerpen

Tidak Boleh Ada Dua Surga

Cerpen Puput Sekar

Aku berterima kasih kepada Dasim, karena berkat kepiawaiannya menghancurkan rumah tangga salah seorang pesohor, aku pun ikut mendapat keuntungan.

Dasim mendapat bonus dari bos besar, aku pun sama. Dasim mendapat pujian dari para petinggi, aku pun tidak kalah dipuji oleh mereka. Padahal pekerjaanku bisa dibilang teramat mudah. Sekadar mengarahkan mata dan telinga mereka untuk membaca serta mendengar berita kehancuran rumah tangga, maka sudah dengan sendirinya para manusia-manusia dungu itu bereaksi.

Apakah kalian juga mendengar gonjang-ganjing di wilayah yang sering dikatakan sebagai potongan surga yang tercecer ke bumi?

Kondisi alamnya yang indah seperti surga.  Ada tumbuhan menghijau, gunung tinggi, awan biru, dan mutiara kekayaan yang berserakan di daratan, tertimbun di dalam bumi, tersimpan di lautan, dan bergantungan di angkasa. Ada pula sungai-sungai mengalir di bawahnya.

Memang tempat itu seperti potongan surga. Tetapi percayalah, belakangan ini tempat yang dibilang surga itu semakin terasa panas, meski tidak bisa kukatakan seperti neraka, tetapi hawanya tidak sejuk lagi.

Namun tidak mengapa. Terpenting bagiku adalah manusia-manusianya. Di sana hidup manusia yang mudah kuperdaya. Sehingga memudahkan pekerjaanku untuk merekrut kawan-kawan yang akan mengikuti jalanku.

Oh, ya, kita kembali bicara tentang Dasim. Jadi karena keberhasilan Dasim menghancurkan rumah tangga itu sontak memberikan efek domino terhadap kemudahan tugasku.

Sebab setelah rumah tangga pesohor itu berantakan,  lantas aib mereka dapat dengan mudah diketahui oleh semua orang. Hai, tentu saja itu adalah pekerjaanku. Mengembus-embuskan kabar ke penjuru bumi, lalu membumbui dengan berbagai macam aib yang mereka buka sendiri.

Sementara aku bekerja, Dasim saat ini tengah berpesta pora. Ia bak kesatria yang pulang dengan kemenangan dari medan peperangan. Bonus yang Dasim dapatkan dari hasil pekerjaannya sungguh berlimpah. Sebab bukan hanya hancurnya rumah tangga pesohor itu, tetapi juga ada aib rumah tangga yang terbuka luas.

Aibnya bahkan dipergunjingkan oleh siapa saja.Alih-alih sebagai bahan pembelajaran bagi mereka yang mempergunjingkan. Padahal,asal tahu saja, bahwa sesungguhnya rumah tangga mereka- para penggunjing-adalah target Dasim selanjutnya, hanya tinggal kapan Dasim akan mengeksekusinya.

Bukan hanya pergunjingan, tetapi ada pula ujaran kebencian dan hujatan, dan seperti biasa setelah kami bekerja, kami ikut menonton kebodohan mereka. Bagaimana tidak bodoh, mereka menghujat dan membela orang yang tidak mereka kenal, bahkan bertemu sekali saja mereka tidak pernah.

Betapa dungunya kelakuan mereka. Akan tetapi tidak mengapa, itu tandanya kerja kerasku berhasil. Memang benar kata para junjunganku; menggoda orang-orang dungu itu legit dan empuk ketimbang menggoda mereka yang berilmu. Menggoda mereka yang berilmu membutuhkan upaya lebih keras, ketimbang menggoda orang pandir dan mudah menelan berbagai kabar burung yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya serta senang berceloteh padahal mereka hanya mengetahui sebatas kulit saja.

Kedunguan selanjutnya adalah ketika mereka saling hujat di antara sesamanya. Hujat-menghujat kepada orang yang tidak mereka kenal satu sama lain, untuk urusan remeh-temeh, untuk urusan yang tidak mempengaruhi kehidupan mereka, juga tidak menambah pundi-pundi emas, tetapi jika pun ada orang yang mendapatkan keuntungan materi dari hasil gonjang-ganjing tersebut, kukatakan bahwa itu sedikit sekali, sisanya adalah orang-orang pandir yang berceloteh dengan pemikiran-pemikiran bodoh mereka sendiri.

Namun lagi-lagi tidak mengapa. Aku senang, sangat senang. Dengan begitu- seperti yang kukatakan di awal-aku juga ikut mendapatkan pujian oleh para junjunganku.

Sejak Adam terlempar dari surga ke dunia, hingga aku hidup di dunia yang sekarang ini, berbagai perubahannya telah kulalui. Kemudahan teknologi menjadi sebuah landasan untuk memudahkan tugasku. Sesungguhnya aku ingin berterima kasih juga kepada manusia pandai pencipta media.

Bayangkan jika tanpa media, pekerjaan kami menjadi berat. Kami harus terbang dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mengembuskan kabar bohong maupun nyata yang tidak menyenangkan untuk didengar. Kami harus membisikan ke telinga manusia satu demi satu untuk membuat mereka saling berseteru.

Tetapi dengan adanya media, kami bisa dengan mudah membuat mereka saling membenci dengan mempertontonkan aib mereka. Ya, ya, ya, aku tahu, bagi mereka menonton kesalahan orang lain adalah hiburan yang mengasyikan. Melihat aib orang lain dibuka, adalah kenikmatan yang tidak mereka sadari.

Aku telah berhasil mencabut rasa malu dari hati mereka, sama halnya dengan keberhasilanku mencabut rasa empatinya. Tanpa empati mereka mudah melakukan tuduhan dari apa yang mereka lihat. Mereka hanya percaya dari pandangan mata saja. Lalu tanpa mengetahui kejadian sebenarnya, mereka dengan mudah membuat tudingan-tudingan keji.

Aku telah berhasil membalik pandangan mereka, menulikan pendengaran mereka untuk tidak mau menerima kebenaran. Aku telah berhasil mengarahkan jemari mereka untuk mengetikan ujaran-ujaran kebencian sehingga sewaktu-waktu bisa berakibat fatal bagi mereka sendiri.

Tentu saja itu bukan hanya buah dari kerja kerasku. Kebodohan dan kemalasan mereka dalam mendekat kepada Tuhan menjadi andil yang besar untuk kesuksesanku. Apakah mereka lupa, berapa banyak orang yang telah dekat kepada Tuhan saja bisa kutipu dan kuperdaya, apalagi sekumpulan orang-orang lemah yang hanya mengaku dekat dengan Tuhan, namun sejatinya hati mereka mencintai gemerlap dunia dan isinya?

Jadi sekarang aku sedang menonton hasil kerja Dasim dan hasil kerjaku. Kini mereka meributkan hal-hal remeh-temeh. Mereka saling berseteru, padahal mereka tidak saling mengenal. Mereka mengatakan puas ketika telah memberikan ujaran kebencian, ketika telah menghujat, ketika telah mengatakan bahwa yang mereka sampaikan adalah kebenaran.

Ah, kebenaran macam apa yang mengikutsertakan hawa nafsu untuk dibilang benar? Mereka mengira apa yang dilakukannya adalah sebuah amal, ha-ha-ha, sungguh mereka tertipu dengan bisikanku.

Untung saja mereka lupa, eh, atau barangkali tidak tahu, bahwa syarat sebuah amal adalah jika niat murni karena Allah, Tuhan semesta alam, dan juga dilakukan dengan cara yang sesuai dengan aturan yang telah dibuat oleh Tuhan.

Kelakuan mereka membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Begitu mudahnya mereka kutipu. Lucunya telah berulang kali kutipu, mereka tetap tidak menyadarinya. Kau tahu? Sesungguhnya kubisikan di telinga mereka, bahwa dengan menghujat, memaki, membela sesuatu yang mesti dibela merupakan amal baik pula, tidak peduli bagaimana caranya, dan tidak peduli siapa sasarannya.

Jadi, ya, aku tengah bergembira. Jangan rusak kegembiraanku dengan kabar baik lainnya. Aku menikmati pekerjaanku sebagai si penipu. Sebab semakin banyak orang yang tertipu, maka akan semakin besar kesempatanku untuk menarik para manusia itu untuk hidup kekal bersamaku.

Di mana? Ah, ya, sudah barang tentu bukan di surga. Sebab aku begitu dengki melihat mereka yang kini hidup enak di tempat yang katanya potongan surga ini. Tentu saja, tidak boleh ada dua surga untuk mereka.***

Sleman, Mei 2024


Puput Sekar, lulusan Pendidikan Geografi, Universitas Negeri Jakarta. Menulis novel Elang dan Bidadari, Republika 2012, Beo Zelga, Prudencia 2020, Splash Love in Seoul, Prudencia, 2021, Joko Klobot dan Nyi Kemretek, NAD Publishing, 2023. Kegiatan saat ini adalah aktif menulis di komunitas Nulis Aja Dulu, Terus Saja Tulis, dan Opinia. Penulis bisa dihubungi di Facebook: Puput Sekar, IG: @puputsekar_putse, dan email: [email protected]