
Rumah Bambu
Saat membersihkan rumah
terlintas olehku
tentang sebuah ingatan
rumah bambu
berdinding kata mutiara
Di kamar tengah
aku pernah tenggelam
oleh banjir air mata
sebab sebuah kepulangan
Setelah kepulangan
bayangan lesap
kata-kata tergenggam erat
dan, ketika lepas
ia beraroma mawar
Mojokerto, 9 Agustus 2024
Meditasi
pejamkan mata
dari serpih duka
terserak
tutup telinga
dari bising lisan
menekan iman
biarkan napas turun-naik
mengempas segala selidik
menarik tali cahaya
mengikat legam prasangka
Mojokerto, 3 September 2024
Filosofi Pelukan
Pada mulanya, cinta adalah gaib.
Hingga akhirnya, berkobar pada hati yang tenang.
Pada mulanya, kita hanya sendirian.
Hingga akhirnya, tercipta pasangan.
Dari sebuah sepi,
tercipta rindu yang mengisi.
Sebuah peluk,
hadir dari lamun yang ramai
mengusik damai.
Sebab pelukan,
adalah obat manjur
menutup luka bakar.
Mojokerto, 14 September 2024
Masih Bisakah Aku Menulis
aku masih ingin menulis
namun kata-kata terasa habis
sajak-sajak terasa kikis
membuat hati seakan teriris
sajak-sajakku mungkin terbang
berkelana mencari sarang
hinggap pada sebuah kepala
yang merindukan nyala
sajak-sajakku mungkin kritis
sehingga sulit untuk ditulis
masih bisakah aku menulis?
ataukah menunggu hati kalis
Mojokerto, 14 September 2024
Hadiah Puisi
akhirnya kita memilih
untuk saling berpegangan
setelah badai mengguncang
tubuh kapal dengan kenestapaan
kita pernah memilih
untuk saling menjauh
hingga jerih mulai berlabuh
kita saling mempersembahkan puisi
untuk kembali saling mengisi
meski masih ada mulut latah memprovokasi
mulut yang bilang itu basi
Mojokerto, 15 September 2024
Saat Makan Nasi
Ia makan nasi dengan wajah pasi
lidahnya pelan menelan duka
pikirannya hanya berperang
tanpa berani keluar dari sarang
Rumitnya hidup hanyalah ranjau kecil
hanya jerit mengisi ruang dada
ia tetap menghitung almanak
hingga jerit lepas satu-satu
Ia makan nasi dengan perlahan
Sambil menyembunyikan duka tertahan
Mojokerto, 30 September 2024
Sebuah Wajah
Sebuah wajah tergeletak di meja
wajah itu tertutup rahasia
mengajak mata menyelam
memetik tabir yang karam
Wajah itu bisa berubah warna
mencairkan suasana
menyalakan cinta
melenyapkan duka
bahkan menanam petaka
Wajah itu memancarkan cahaya
di alam baka
Mojokerto, 1 Oktober 2024

Aris Rahman Yusuf, pencinta bahasa dan editor lepas. Suka menulis puisi dan nonfiksi. Tulisannya pernah terbit berupa antologi, di media massa, dan di media daring. Dua buku puisinya yang sudah terbit, yaitu Ihwal Kematian Air Mata (buku puisi solo) dan Lelaki Hujan (buku puisi duet). Facebook: Aris Rahman Yusuf dan Instagram: @aryus04.
