Cerpen

Surogentho

Cerpen Era Ari Astanto

Angin malam menyusup lewat celah-celah jendela jati yang kecokelatan. Pelita kecil di sudut ruangan meliuk seperti gadis kampung yang mabuk asmara. Demang Surogentho terbaring di atas amben. Tangannya gemetar seperti mencuri sisa kekuatan dari batang tubuh yang beberapa purnama tidak bisa berdiri. Tubuh dan wajahnya bengkak-bengkak. Perutnya membuncit ganjil, seperti menyimpan rahasianya yang siapa pun tak boleh mengetahui kecuali keluarganya.

Di sebelahnya, istrinya duduk memegangi piring tembikar. Ada segenggam nasi dingin dan dua potong tempe goreng di dalamnya. Ia tidak segera menyodorkan makanan itu. Hanya menatapnya, lantas mendesah pelan. “Aku mimpi aneh tadi sore,” ia berkata nyaris seperti gumaman. “Ada ular menyusup ke ranjang ini. Kepalanya dua. Yang satu menangis. Yang satu tertawa.”

Surogentho tidak menjawab. Alisnya bertaut, seperti teringat sesuatu. Ia menoleh perlahan ke arah istrinya, lalu muntah darah ke mangkuk tembikar bekas bubur yang ia makan tadi.

“Kalau aku mati sekarang, Genthi bisa kululusi jadi dalang,” katanya dengan suara parau, seolah sedang menyampaikan amanat di mimbar yang sepi.

“Lho, kenapa dalang?” istrinya mengernyit.

“Karena hidupnya sudah kubentuk seperti wayang. Sekarang saatnya ia menjadi dalang. Aku tinggal rebah. Dan ia tinggal menggerakkan tangannya.”

Hening. Angin berembus. Pelita bergoyang liar.

Istrinya menoleh ke arah pintu. “Rasanya, suara ayam jantan barusan itu… mirip suara Kenthus yang mati seminggu lalu.”

Surogentho berdehem, tak hendak mengomentari tentang Kenthus, ayamnya yang telah mati, “Kalau ayam bisa reinkarnasi aku harap aku jadi tikus. Tikus got yang punya kerajaan sendiri di balik lubang comberan. Bisa mengerat apa pun yang ingin aku kerat. Tentu, seperti tikus, yang paling kusuka adalah pergi ke wilayah orang-orang miskin. Mereka sangat menguntungkan dan empuk.”

Istrinya terkekeh kecil, lalu berhenti. Ketawanya seperti tertahan di kerongkongan, seolah malu keluar karena sudah terlalu sering mendengar kebodohan manusia.

“Jangan bercanda, Kang,” ia diam sebentar, menimbang, “Tapi maaf, Kang, badanmu seperti ada bau bangkai.”

Surogentho justru tersenyum lebar. “Itu tanda-tanda alami. Sudah mirip kematian, kan?” Ia menatap langit-langit rumah yang di beberapa bagian terdapat sarang laba-laba. “Tapi kenapa belum mati juga, ya? Apa mati juga harus menunggu tanda tangan Wedana?”

***

Demang Surogentho melihat dirinya hanya memiliki dua pilihan: menang di pengadilan Kawedanan atau mati secara alami. Ia mengulang kalimat itu dalam hati. Menggumamkannya bagai mantra yang justru menggelisahkannya. Pilihan pertama lebih enak didengar, lebih mulia diucapkan, dan tentu lebih menjanjikan untuk keluarganya. Tapi, itu mengandung satu syarat kecil yang rasanya setara dengan menjaring angin: membuktikan bahwa ia telah menyetorkan pajak sesuai ketentuan.

Bukti. Sebuah kata yang terdengar gagah dalam sesorah para pamong praja. Sayangnya, tak satu pun bukti yang ia miliki berbentuk hitam di atas putih. Kawedanan, selama sepuluh tahun, hanya menerima sebagian dari setoran pajak. Ia tahu sebabnya, karena ia sendiri yang mengatur cara-caranya agar tampak wajar: warga kademangan sedang gagal panen, musim kering, longsor, tikus, serangan wereng, dan alasan musiman lainnya. Semua disusun rapi, bahkan dilampiri tanda tangan pamong desa yang siap pasang badan asal diberi sedikit beras atau amplop tipis.

Tapi suatu hari, langit berubah arah. Kawedanan datang tanpa aba-aba. Dipimpin langsung sang Wedana. Mereka memeriksa. Mereka bertanya langsung ke warga. Dan warga yang polos, atau mungkin telah muak dengan demang mereka, menjawab jujur: mereka selalu bayar pajak sesuai ketentuan. Tanpa potongan. Tanpa pengurangan. Bahkan, kadang mereka menambah dari kantong sendiri sebagai bentuk maaf dan terima kasih.

Dari situ, bola menggelinding. Kawedanan mengendus perkara lain: bantuan irigasi yang tak jadi aliran, perbaikan jalan yang cuma sepanjang 100 depa dan berhenti di depan rumah kepala jagabaya, bantuan benih yang dibagi hanya pada keluarga pamong. Warga diam. Dulu. Sekarang tidak.

Kuping dan mata Kawedanan memerah. Surat tuntutan resmi dikirim. Demang Surogentho harus membayar semua pajak yang tidak disetorkan selama sepuluh tahun. Ditambah denda sebesar sepuluh tahun pajak pula. Totalnya tak terbayangkan. Bila dibayar, rumahnya akan ludes, sawahnya pindah tangan, dan anak-anaknya akan diundang sebagai contoh dalam ceramah korupsi di balai desa.

Ia duduk diam di serambi malam itu, merenung sambil mengaduk teh tanpa gula. Jika hanya mati, urusan selesai. Tapi mati bunuh diri justru membuka pintu tuntutan bagi ahli warisnya. Kawedanan cukup pintar membuat peraturan: hanya kematian alami yang menghapus segala tuntutan.

“Tapi, mati secara alami, bagaimana caranya?” gumamnya. Tak ada jawaban.

Ia pernah membicarakan ini dengan istrinya. Perempuan itu hanya menatapnya seperti menatap benih yang gabug. Lalu berkata pelan, “Kalau harus memilih, Kang, aku ingin kau tetap hidup dan anak-anak tetap sejahtera.”

Ia mengangguk, meski tubuhnya menolak harapan itu. Kata-kata istrinya bukan keputusan, hanya pengingat tentang dunia yang memang ia inginkan selama ini.

Sang istri bercerita, suara pelan seolah menguji bisik angin, “Kau ingat Demang Blengsek, Kang? Ia sakit saat menghadapi tuntutan serupa. Tapi ia tetap hadir di sidang. Ia terjatuh, pingsan, lalu mati tiga hari kemudian. Kasus pun ditutup. Anak-anaknya hidup baik sampai sekarang.”

Demang Surogentho menatap istrinya. Ia tak bertanya, tak menyanggah. Hanya sunyi.

***

Warung wedangan Randa Sainem selalu ramai. Wedang jahe gepuknya memang bikin kangen, ditambah lagi karena rasa gosip di warung itu lebih gurih daripada sate keong.

Beberapa warga duduk di tikar pandan. Sambil menyesap jahe gepuk, mereka menyesap kabar burung dan kabar angin. Lalu mengulumnya seperti gulali.

“Aku dengar dari adikku tadi sore yang berkunjung ke rumahku, Demang Surogentho pergi ke Mbah Lugut Rawe di lereng Merapi. Adikku tidak tahu untuk apa demang ke sana.” kata salah seorang dari mereka dengan suara rendah yang justru menarik perhatian.

“Mbah Lugut Rawe, dukun santet itu?”

“Iya. Tapi tidak tahu untuk apa.”

“Mungkinkah untuk menyantet Wedana?”

“Atau menyantet kita semua karena tidak membelanya?”

“Menyantet siapa pun, tetap saja konyol. Tak bisa menghapus fakta.”

“Fakta bahwa kita membayar pajak penuh, tapi tak tahu uang itu ke mana?”

“Bagaimana kita bisa mengaku tidak membayar pajak penuh selama sepuluh tahun, itu sama saja membelanya. Percuma kita selama ini rajin membayar pajak penuh.”

“Benar. jika kita mengaku, maka pajak kita akan dinaikkan dua kali lipat selama sepuluh tahun ke depan. kau mau?”

“Tentu saja tidak. pajak yang ini saja tidak jelas untuk apa kok. Tapi, untuk apa dia ke Mbah Lugut?”

“Tentu tidak. Pajak yang sekarang saja seperti menyuap nasib. Tapi… kenapa dia ke Mbah Lugut?”

Tak ada jawaban. Tapi semua sepakat: Demang harus bertanggung jawab. Mati tak cukup. Lari lebih buruk.

***

Kabar perihal tubuh Demang Surogentho yang mulai berubah bentuk seperti gabus direndam air dengan cepat menyebar. Dan benar, semua yang datang menyaksikan tubuh demang mereka bengkak. Kulit di beberapa bagian tubuhnya mengelupas. Sesekali muntah darah.

Berbagai tangapan bermunculan. Ada warga menanggapi itu sebagai karma. Ada yang menduga itu hanya rekayasa agar bebas dari tuntutan kasusnya. Ada yang merasa kasihan tapi menyayangkan, “Demi anak tidak kehilangan harta yang telah ia tilep, ia rela membuat dirinya sakit dan perlahan mati agar tampak secara alami.”

Namun, ada juga yang berdoa. “Semoga ia sembuh.”

“Sembuh? Kau mulia atau gila? Jangan-jangan kau ikut mencicipi harta itu?”

“Pikirkan baik-baik. Jika dia mati saat sakit begitu, kekurangan pajak kita selama sepuluh tahun terakhir menjadi tanggungan kita. Bahkan, kita harus menanggung pajak dua kali lipat besarnya selama sepuluh tahun ke depan.”

Yang lain manggut-manggut. “Kau benar. Jika dia sehat dan membayar Kawedanan, kita aman.”

Senyum aneh menggantung di bibir mereka.

***

Setahun lewat. Sakitnya tak bertambah, tak juga sembuh. Seperti wayang rusak yang dibiarkan tergantung di sudut pendapa. Tak dibuang, tapi tak dipakai.

Kawedanan tak bisa bergerak. Hukum menganga, menunggu kematian atau kesembuhan.

Di dalam rumah, keheningan terasa seperti jaring laba-laba. Lengket dan mengurung.

Surogenthi, anak sulungnya, memasuki rumah dengan wajah lesu seperti tanah merah yang kerontang.

“Bagaimana, Genthi? Apa kata Mbah Lugut Rawe?” tanya ibunya.

Surogenthi menarik napas panjang, seperti menyimpan dua kabar sekaligus.

“Mbah Lugut sudah meninggal. Dua pekan lalu.”

Ibunya terdiam. Lama.

Dari atas amben, suara serak lirih meluncur.

“Artinya apa?

Genthi menatap lantai. Lalu menjawab pelan, “Kita harus mengobatkan Bapak.”

“Tidak,” sahut Demang, dengan napas yang seperti dicuri, tersengal, “Itu artinya keluar banyak biaya. Aku ingin segera mati… tapi yang seperti alami. Hanya dengan begitu harta kalian akan aman.”

Surogenthi dan ibunya saling pandang, terseret ke dalam hening yang mencekat.

____________________

Era Ari Astanto. Penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di MYF Randhu Jembagar Boyolali.

Cerpen

Pelajaran dari Kegelapan

Cerpen Era Ari Astanto

Dalam sunyi yang pekat, aku berdiri di hadapan kegelapan, bertanya pada diri sendiri apa makna dari hidup ini. Selama ini, aku percaya bahwa segala sesuatu memiliki dualitas: terang dan gelap, baik dan jahat, benar dan salah. Namun, di tengah kekacauan dunia yang terus menerus berderu, aku mulai ragu. Mungkinkah dunia tidak se-hitam-putih yang selama ini kupercaya? Mungkinkah ada kebenaran dalam kebohongan, atau kebaikan dalam keburukan?

Pemikiran ini muncul tiba-tiba, saat aku lelah mencari jawaban pada segala hal umum yang dipuja manusia. Terlebih, semua yang kuketahui tentang Iblis—entitas yang selalu digambarkan sebagai sumber segala kejahatan—seolah terbentang di hadapanku sebagai jalan yang harus kujelajahi. Bukankah untuk memahami cahaya, kita juga harus memahami kegelapan? Bukankah untuk mengantisipasi maling, kita harus tahu cara maling? Dengan pikiran itu, aku melangkah menuju perjalanan yang tak seorang pun sebelumnya berani tempuh.

Di sebuah bukit terpencil, tersembunyi di pedalaman, di antara pohon-pohon kurus yang tak nyaris berdaun, aku mendirikan altar sederhana. Ala kadarnya, karena aku tak pernah tahu cara memanggil Iblis. Aku hanya fokus pada keinginanku: merasakan kehadiran kegelapan. Dengan kehangatan api unggun yang mengelilingiku, aku mencoba memanggil makhluk yang dalam cerita-cerita selalu digambarkan dengan tanduk, ekor, dan tatapan penuh kebencian. Aku tak tahu ritual apa yang tepat; hanya mengikuti apa yang intuisi bisikkan. Malam itu, bulan tersembunyi di balik awan, dan hanya suara angin yang berbisik pelan. Alam seakan mendukung kesunyian, suasana menjadi lebih dingin, seolah kehadiranku di tempat itu memang direstui.

Tidak ada mantra atau jampi-jampi. Aku hanya mengulurkan tanganku ke arah api unggun yang kubuat sambil berkata: wahai makhluk kegelapan, datanglah. Dan tiba-tiba angin kencang datang, menyapu api itu dan mengirimkan kepulan asap ke arahku. Aku terbatuk-batuk dan hampir ngglimpang, sementara di kejauhan, aku melihat sesuatu bergerak dalam kegelapan. Jantungku berdegup kencang. Apakah ini awal dari sesuatu yang buruk? Apakah Iblis akan memakanku atau mencabik-cabikku?

Dalam keheningan itulah dia muncul. Tidak seperti yang kucoba bayangkan. Sosok yang berdiri di hadapanku tidak bertanduk, tidak juga berwajah menakutkan. Ia hanya serupa seorang pria dengan mata tajam dan senyum tipis, seakan tahu lebih banyak dari yang siap ia katakan. Pakaian yang dikenakannya sederhana, tetapi aura yang terpancar darinya membuatku sadar bahwa ia bukanlah makhluk biasa.

“Apa yang kau cari?” suaranya dalam, tetapi terdengar seperti bisikan yang langsung menembus pikiranku.

“Aku mencari kebenaran,” jawabku, mencoba menahan getaran dalam suaraku. “Aku ingin mengetahui sisi lain dari yang selama ini disebut sebagai kegelapan.”

Ia mengamati wajahku dengan saksama, seolah menimbang-nimbang apakah aku layak mendapatkan apa yang kucari. Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, ia membalikkan badan dan melangkah pergi sambil memberi isyarat agar aku mengikutinya. Aku beranjak, melangkah di belakangnya, mengikuti ke mana pun ia akan membawaku. Meski aku sedikit ragu.

Perjalanan kami berlangsung dalam keheningan, tetapi tiba-tiba, suasana berubah menjadi menegangkan. Kami melewati sebuah jembatan yang goyang-goyang, tampaknya hampir ambruk. Aku hampir terpeleset ketika satu papan jembatan patah di bawah kakiku, dan Iblis dengan tenang menangkapku dengan satu tangan, seakan kejadian itu sudah diprediksi. Ketika kami menyeberangi jembatan, perasaanku campur aduk—antara ketakutan dan rasa ingin tahu yang mendesak-desak.

Di sebuah tempat, dia memggeser sebuah batu, lalu tampak lorong kegelapan yang benar-benar gelap. Kami memasukinya. Sangat gelap, bahkan aku tak bisa melihat apa pun selain gelap. Aku terus berpegangan pada jubahnya. Hingga perlahan kulihat samar cahaya.

Kami tiba di sebuah tempat yang menyerupai desa kecil, dengan rumah-rumah tampak kosong, seperti telah lama ditinggalkan. Namun, tidak ada kesan suram di sana, hanya keheningan yang sedikit mencekam. Ia menuju ke sebuah bangunan sederhana, lalu masuk ke dalam. Di dalamnya, hanya ada satu ruangan besar, dengan pelita kecil yang menyala di tengah, memancarkan kehangatan yang menenangkan. Ia duduk di hadapan pelita itu, dan mengisyaratkan agar aku duduk di seberangnya.

“Kenapa kau ingin mengetahui kebenaran dari kegelapan?” tanyanya tanpa basa-basi.

“Aku lelah dengan semua kebohongan yang ada di dunia ini,” jawabku, mencoba menahan emosi yang tiba-tiba muncul. “Aku ingin tahu apakah ada sesuatu yang bisa dipelajari dari sisi yang selama ini dianggap jahat.”

Ia tersenyum, kali ini lebih jelas, dan untuk pertama kalinya aku melihat kilatan humor dalam matanya. “Manusia selalu takut pada kegelapan, tetapi mereka tidak menyadari bahwa dalam kegelapan, ada banyak hal yang tersembunyi. Aku bukan sekadar wujud kejahatan, seperti yang kalian yakini. Aku adalah cerminan dari keinginan terdalam kalian, sisi yang kalian tolak tetapi tidak mungkin bisa dimusnahkan.”

Mendengar perkataannya, aku merasa seolah terperangkap dalam labirin pemikiran yang rumit. Semua hal yang kukira benar mulai goyah. “Tapi, tidakkah itu berbahaya?” tanyaku. “Menghadapi sisi kelam bisa membuat seseorang terjatuh ke dalam jurang yang dalam.”

Iblis tersenyum sinis, seolah tahu jawaban yang ingin ia berikan. “Kehidupan itu sendiri adalah risiko. Kegelapan tidak selalu berarti kejahatan; ia bisa jadi cermin bagi kebenaran yang kau cari. Yang kau anggap sebagai dosa sering kali adalah cara untuk mencari kebebasan, untuk mencari arti dalam hidup yang terperangkap dalam rutinitas yang membosankan.”

Saat kami sedang berbicara, tiba-tiba pintu ruangan bergetar dan sebuah balok besar jatuh dari langit-langit, hampir menimpa kami. Kami melompat ke samping, dan aku tak bisa menahan tawa ketika melihat Iblis berusaha dengan canggung mengangkat puing-puing itu. Dalam kekacauan kecil itu, Iblis tersenyum, tampaknya merasakan absurditas situasi ini. Dalam sekejap, suasana yang mencekam berubah menjadi komedi hitam yang menggugah.

“Lihatlah,” katanya sambil mengangkat puing-puing dengan susah payah, “bahkan dalam kegelapan, kita bisa menemukan momen-momen lucu yang mengingatkan kita akan kemakhlukan kita.”

Aku terdiam, terpesona oleh cara pandangnya. Iblis itu menyadarkanku bahwa meskipun kehidupan bisa menyakitkan dan tidak terduga, ada keindahan dalam kesedihan itu.

Ia kemudian melanjutkan ceritanya, tentang bagaimana ia dahulu adalah malaikat yang jatuh, bukan karena kejahatan, tetapi karena ia mempertanyakan aturan yang menurutnya tidak adil. “Kebebasan adalah anugerah yang paling berharga,” katanya. “Namun, untuk memiliki kebebasan, kau harus siap menanggung konsekuensinya. Aku memilih kebebasan, dan karenanya aku menjadi apa yang kalian sebut Iblis.”

Aku mendengarkan dengan penuh perhatian, setiap kata yang diucapkannya menggugah sesuatu dalam diriku yang selama ini terpendam. “Manusia,” ia melanjutkan, “sering kali menganggap keburukan sebagai sesuatu yang harus dihindari, tetapi tidak pernah belajar darinya. Padahal, ada pelajaran penting yang bisa diambil dari hal-hal yang kalian sebut sebagai dosa.”

“Apa yang bisa manusia pelajari dari dosa?” tanyaku, merasa semakin tertarik dengan arah pembicaraan ini.

“Kemandirian,” jawabnya tanpa ragu. “Aku mewakili keinginan untuk mandiri, untuk tidak tergantung pada apa pun kecuali pada diri sendiri. Dalam setiap dosa, ada keinginan untuk bebas dari aturan, dari batasan, dari segala yang membatasi manusia menjadi apa yang mereka inginkan. Tapi tentu saja, seperti yang kau tahu, kebebasan tanpa tanggung jawab hanya akan membawa kehancuran.”

Seolah terhipnotis, aku membayangkan bagaimana dunia ini jika dilihat dari perspektif yang berbeda. Seberapa sering kita menjauhi kegelapan, apalagi memikirkannya, padahal sebenarnya ia menyimpan pelajaran berharga. Aku mulai menyadari bahwa hidupku sendiri penuh dengan batasan yang diciptakan oleh ekspektasi sosial. Aku merasa terjebak dalam persepsi yang dibentuk oleh orang lain, hingga kehilangan jejak diri.

Saat fajar tiba, dan aku harus kembali ke dunia nyata, Iblis itu memberiku pesan terakhir. “Jangan pernah takut untuk melihat ke dalam kegelapan,” katanya. “Mendekati bukan berarti melakukan, kau tentu tahu itu. Karena dalam kegelapan, kau akan menemukan bagian dirimu yang selama ini kau abaikan, kau kutuk-kutuk sebagai musuh yang menyesatkan. Tapi ingat, jangan pernah membiarkan kegelapan itu menguasaimu. Mempelajari dosa tidak berarti harus melakukannya. Melakukan kebebasan bukan berarti menindas karena orang lain juga memiliki hak untuk bebas.”

Aku meninggalkan tempat itu dengan pikiran yang penuh, tetapi juga dengan hati yang lebih ringan. Perjalananku untuk mencari kebenaran mungkin belum selesai, tetapi aku merasa telah menemukan arah baru. Iblis bukanlah musuh—yang menjadi musuh nyata adalah godaannya—, melainkan guru yang membimbingku melalui lorong gelap yang selama ini kutakuti. Cara mengalahkan godaannya adalah mempelajarinya. Aku belajar bahwa kebaikan dan keburukan tidak selalu seperti yang terlihat, dan bahwa untuk memahami dunia ini dan diri sendiri, haruslah berani menghadapi setiap sisi gelap-terang dari diri kita sendiri.

Kembali ke kehidupan sehari-hari, aku membawa pelajaran dari Iblis itu. Aku mencoba untuk lebih mandiri, lebih bertanggung jawab atas pilihan-pilihanku, dan yang paling penting, aku berusaha untuk tidak takut pada kegelapan dalam diriku. Karena di sana, tersembunyi kekuatan yang bisa membantuku menjadi manusia yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih bijaksana.

Tapi perjalanan ini tidaklah tanpa rintangan. Setiap kali aku berhadapan dengan kegelapan, bayangan Iblis itu terlintas dalam pikiranku. Ia adalah pengingat bahwa kegelapan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, tetapi diterima dan dikelola. Di dalam setiap pengalaman pahit, ada pelajaran berharga.

Dengan pemahaman yang baru, aku mulai berani mempertanyakan norma-norma yang selama ini membatasi diriku. Aku bertanya pada diriku sendiri—apa yang sebenarnya aku inginkan? Dan ketika aku menjawab, suara Iblis kembali terbayang, menegaskan bahwa kebebasan dan segala perbuatan harus dibayar dengan tanggung jawab.

Di setiap langkahku, aku mulai merasakan kekuatan dari sisi gelap yang selama ini kutakuti. Dalam ketidakpastian, aku menemukan ketegasan. Dalam kegelapan, aku menemukan cahaya. Dalam setiap langkahku, aku selalu ingat: bahwa dalam setiap kegelapan, ada cahaya yang menunggu untuk ditemukan. Dan mungkin, itulah rahasia terbesar dari kehidupan ini. Dalam pengembaraanku untuk memahami diri sendiri, aku belajar bahwa tidak ada yang benar-benar jahat, dan bahwa di balik setiap kegelapan, terdapat kesempatan untuk menemukan kebenaran yang lebih dalam.

Dan aku tak akan melupakan pengakuan iblis: Aku dibuang bukan karena ingin kekebasan, tapi kebodohanku yang kucoba tutupi dengan berlagak sok paling unggul dengan mengatakan “aku dari api, sedangkan dia hanya dari tanah”, sehingga tak sudi jika harus membungkuk apalagi menyungkur di hadapan moyangmu dan seluruh keturunannya.


Era Ari Astanto penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di MYF Randhu Jembagar Boyolali.

Cerpen

Monolog Guru Rahwana

Cerpen Era Ari Astanto

Jika di luar sana kau mendengar kabar tentang Shinta yang tidak terbakar api suci, itu atas peranku meski tidak ada yang tahu tentang ini. Aku tidak berminat orang mengetahuinya, itu semata-mata untuk menyelamatkan Rahwana dari syak wasangka yang terlalu buruk dari orang-orang yang tidak tahu kejadian sebenarnya. Dan tentu saja karena tidak bisa menyelamatkan hidupnya dan kerajaannya dari amukan Rama dan bala tentaranya.

Rahwana itu satu-satunya muridku. Dan aku tahu, aku bukanlah gurunya satu-satunya. Jadi, wajar jika dia memiliki kemampuan kanuragan dan kadigdayaan yang luar biasa. Pengetahuannya tentang tata negara pun luar biasa. Meskipun dia bengal dan kejam, perjuangannya untuk menyejahterakan rakyat Praja Alengka tak terbantahkan. Rakyat Alengka mengelu-elukannya sebagai raja yang agung dan sangat peduli dengan rakyat. Bukankah dulu kau pernah menjelajah seluruh wilayah Alengka, apakah kau melihat ada jalan-jalan kecil di desa-desa pelosok yang berlubang atau bergelombang yang jika dilalui kereta akan membuat gujlak-gujlak? Apakah kau melihat ada rakyat yang memulung sampah untuk bertahan hidup? Apakah kau mendengar ada rakyat yang mengeluh soal harga sembako atau kesulitan soal biaya sehari-hari? Bukankah setiap kali kau mampir di warung yang kau dengar dari pengunjung adalah kebanggaan mereka terhadap Rahwana? Kau tidak perlu menjawab, aku sudah tahu apa yang akan kau katakan.

Sekali lagi, Rahwana itu memang kejam dan bengal, tapi bukan kepada rakyatnya. Dia hanya akan kejam terhadap orang yang melanggar perintah dan peraturan kerajaan. Atau terhadap kerajaan lain yang menjadi rekan bisnisnya: jika terendus melanggar perjanjian atau berusaha mengusik ekonomi rakyatnya maka dia tidak akan segan mencaplok kerajaan itu menjadi wilayahnya atau menjadi ladang permainannya.

Tetapi, Rahwana itu manusia biasa dan lelaki yang memiliki hasrat yang tinggi terhadap perempuan. Meski begitu, dia selalu menikahi perempuan-perempuan itu dan memenuhi semua kebutuhan mereka. Dari sekian banyak wanita yang dijadikannya sebagai istri, tidak ada satupun dari mereka yang telantar. Karena itulah aku membiarkannya mencari wanita sebanyak apa pun yang dia mau. Namun aku tahu, hanya ada satu wanita di hatinya: Dewi Mandodari.

Sayangnya Dewi Mandodari telah mati, sejak itulah dia berburu perempuan untuk menggantikan Dewi Mandodari di hatinya. Perempuan mana pun yang memiliki kemiripan dengan istri tercintanya itu akan dia dekati dan nikahi dengan cara apa pun. Jika perempuan itu adalah rakyatnya sendiri dan sudah bersuami, dia akan memintanya dari suaminya. Sejauh ini tidak ada suami yang menolak permintaan Rahwana, pun perempuan tersebut. Karena memang Rahwana memberinya ganti yang layak: kepada suami tersebut akan dibiarkan memilih salah satu istri Rahwana dan masih diberi harta, kepada keluarga wanita akan diberi harta. Namun, jika perempuan itu dari kerajaan lain, dia tidak segan merampasnya–inilah sifat Rahwana yang aku sedihkan karena menjadi malapetaka baginya dan Alengka.

Ya, seperti yang telah kalian dengar, Rahwana memang menculik Dewi Shinta ketika Rama dan Laksmana pergi mengejar kijang jelmaan Marica, anak buah Rahwana. Bukan takut menghadapi Rama dan Laksamana, tapi inilah kecerdikan Rahwana. Bahkan dia tidak mau atau tidak bisa menjebol pagar gaib yang dibuat Laksamana ketika hendak menyusul Rama atas permintaan Shinta. Ini pun bentuk kecerdikannya lagi. Dan dengan kecerdikannya memanfaatkan sifat dasar perempuan, dia berhasil membawa Shinta ke Alengka setelah sempat bertarung dan mengalahkan Jatayu.

Biar bagaimana pun, perampasan tetaplah perampasan dan aku tidak menyukai yang telah dilakukan Rahwana terhadap Shinta. Namun, aku masih menaruh bangga terhadapnya. Meskipun dia bisa melakukan apa pun kepada Shinta, tapi dia tidak berbuat terlalu jauh terhadapanya. Kurasa wajar jika Rahwana sampai menyentuh sebagian tubuh Shinta yang memang mirip dengan Dewi Mandodari. Wajar pula jika dia tergila-gila sehingga mengaku dan meyakini bahwa Shinta merupakan titisan mendiang istrinya itu. Namun, aku tidak mau merestuinya menikahi Shinta karena aku melihat badai akan menghancurkan Alengka jika sampai dia menikahi Shinta atau membiarkannya tinggal di Alengka.

Aku mengenal Rama dan Laksamana, meskipun dia hanyalah pangeran yang terusir, tapi cepat atau lambat dia pasti bisa menggalang kekuatan yang mampu menghancurkan Alengka. Sederhana, terusirnya Rama dari Ayodya adalah hinaan baginya dan dia tidak ingin terhina lebih jauh lagi dengan membiarkan istrinya diculik. Pun dia akan sangat malu kepada mertuanya, Prabu Janaka, karena tidak bisa menjaga seorang wanita yang bahkan sudah diseretnya ke dalam penderitaan di hutan belantara. Rama itu memiliki kemampuan sebagai koordinator dan orator yang teramat baik. Jadi bukan tidak mungkin dia mampu meyakinkan banyak pihak untuk mendukungnya merebut kembali Shinta.

“Itu tidak akan terjadi, Bapa Guru. Alengka tak terkalahkan. Sepuluh Ayodya pun tak akan mampu menandingi Alengka.”

“Ya. Aku percaya itu. Tapi, Ngger, Rahwana, meski kau keturunan resi sakti keturunan dewa kau masih manusia yang dilekati rasa sakit, lupa, dan nasib apes. Kecerdasanmu ada kalanya lenyap begitu saja karena sifat lupa yang datang tiba-tiba. Kesaktianmu akan ada kalanya tak berguna karena nasib apes yang sudah waktunya menghampirimu.”

“Tapi, tak ada yang tahu kelemahanku, Guru. Aku tak akan tersentuh kematian. Hanya manusia berwujud binatang yang bisa mengalahkanku. Kurasa tidak ada makhluk seperti itu di jagad wayang ini.”

Aku hanya mengangguk-angguk. Bukan sependapat dengan Rahwana, tapi berpantang mengatakan hal yang lebih jauh, yang bukan wilayah manusia. Aku berpikir keras menemukan cara agar dia tidak lupa daratan.

“Kau mungkin tidak akan mati, Ngger. Tapi berapa banyak pasukanmu yang akan kau korbankan? Berapa banyak rakyatmu yang akan ikut menanggung kejamnya perang? Biar bagaimanapun perang mempertahankan seorang wanita itu bukan perang suci.”

“Itu akan menjadi perang suci jika Guru berkenan merestuiku menikahi Shinta. Seperti yang Guru katakan bahwa istri adalah kesucian suami, adalah harga diri suami. Jika dia seorang istri raja maka dia adalah harga diri dan kesucian kerajaan.”

“Ya. Aku masih ingat perkataanku itu. Tapi, Ngger, Shinta itu tidak sepantasnya kamu nikahi. Dia adalah darah dagingmu sendiri dengan selirmu yang telah kau tukar dengan istri seorang pemuda desa. Saat itu dia telah mengandung anakmu. Tidakkah kau mengetahuinya?”

Rahwana menatapku tajam. Aku tahu itu bukan tatapan benci. Dia hanya meminta ketegasan. Karena itu aku mengangguk mantap.

“Tapi, dia adalah anak Prabu Janaka?”

“Lelaki yang tidak bisa berpikir itu tidak ingin memelihara anak orang lain, meski anak itu adalah anak raja, kemudian membuangnya di ladang. Prabu Janaka yang sedang berkeliling menemukan bayi itu. Karena tidak punya anak, dia mengambil anak itu sebagai anaknya. Begitu cerita singkatnya, Ngger.”

“Akan aku bunuh lelaki kurang ajar itu.” Rahwana berkata sambil memukulkan tangannya yang terkepal.

“Tidak perlu, Ngger. Kau semestinya senang karena anakmu tumbuh dan besar di tangan seorang raja, meski raja kecil.”

Rahwana mengangguk, “Tapi, aku sangat sulit menerima kenyataan ini, Guru. Aku sangat mencintainya dan ingin menikahinya.”

Aku menangkap gurat sedih di wajah angker Rahwana yang kemudian menunduk. Tapi, apa boleh buat, aku terpaksa melakukannya demi menyelamatkan dia dan Alengka. Aku bisa saja menyarankan kepadanya untuk membunuh Rama dan Laksamana saat itu juga. Namun, itu akan mencoreng keperkasaan dan harga diri muridku satu-satunya ini. “Sebaiknya, kau kembalikan Shinta ke hutan itu lagi, Ngger. Atau kepada Prabu Janaka. Itu akan lebih baik bagimu dan Alengka.”

“Maafkan aku, Guru. Dia anakku, dan akan kupelihara dia di Alengka. Tak akan kubiarkan dia hidup di hutan rimba itu. Aku bersumpah tak akan menjamahnya lagi, Guru.”

“Aku percaya kepadaku, Ngger. Tapi, bagaimana dengan Rama dan Laksamana?”

“Aku akan mengundangnya. Dan akan kuresmikan dia sebagai menantuku.”

Aku senang dengan keputusan Rahwana. Dia mengutus prajuritnya untuk memberikan surat undangan itu kepada Rama. Namun, bertahun-tahun Rama tak pernah datang. Malahan dia mengutus monyet untuk menjemput Shinta secara diam-diam, seperti maling. Hingga timbul keributan dan sebagian kecil istana terbakar oleh ulah monyet itu.

Tentu saja Rahwana menganggap itu sebagai tantangan perang. Apa yang menjadi kehendak langit tak bisa dihindari. Perang tak terelakkan. Seluruh saudara Rahwana gugur. Alengka porak-poranda. Nyaris habis seluruh prajurit Alengka. Seluruh rakyat kotaraja pun menjadi korban.

Aku hanya bisa mematung dengan dada sesak, berlinang menatap kobaran api dan kemegahan kotaraja Alengka berubah menjadi reruntuhan yang rata dengan tanah.

Aku masih bisa berpikir, aku tidak bisa terima jika kelak Rahwana akan dianggap sebagai maling istri orang. Aku harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan namanya dari kehinaan total. Satu-satunya cara hanyalah dengan menyelamatkan Shinta dari kematian di api suci. Biar bagaimanapun Rahwana mengaku kepadaku sudah terlanjur menjamah sebagian tubuh Shinta meskipun tidak sampai menyentuh pagar kehormatan Shinta.

Ya. Dengan kesaktianku diam-diam aku bisa menyelamatkan Shinta.***


Era Ari Astanto, penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di komunitas Sastra Alit. Karya tunggal yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (Najah, 2013), The Artcult of Love (Locita, 2014), Novel Bertutur Sang Gatholoco (Basabasi, 2018), Novel Riwayat Bangsat (Basabasi, 2019). Karya antologi: Memoar Bermasjid (Diomedia, 2017), kumcer Masa Depan Negara Masa Depan (Surya Pustaka Ilmu, 2019), Memoar Ramadhan dan Merantau (Diomedia, 2019), kumcer Hanya Cinta yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya (Divapress, 2020). Cerpen-cerpennya juga tayang di beberapa media online. Buku terbarunya yang terbit: Novel dwilogi Nama yang Menggetarkan (Diomedia, 2020).

Cerpen

Kisah Paman yang Disembunyikan

Cerpen Era Ari Astanto

Jika engkau ingin seperti Paman, itu wajar. Aku tahu engkau diam-diam membayangkan punya harta yang melimpah. Punya istri cantik dan baik. Apalagi dia memintamu mencari istri lagi setelah beberapa tahun belum juga dapat menumbuhkan keturunanmu di rahimnya. Lebih luar biasa lagi istrimu sendiri yang mencarikan istri kedua untukmu. Sangat langka terjadi, bukan? Jika demikian, engkau boleh merasa bahagia dan merasa menjadi lelaki paling beruntung. Apa yang engkau rasakan itu wajar belaka. Tapi aku tidak yakin kau merasa demikian, jika kau tahu kisah Paman yang dia sembunyikan.

Karir Paman di ibu kota memang gemilang, tapi tidak perihal jodoh. Begitu banyak wanita yang menolaknya. Entah karena apa tidak ada yang tahu persisnya. Padahal, wajah Paman tidak bisa disebut jelek walau juga tidak termasuk rupawan. Dia sering diolok-olok kawan-kawannya sebagai bujang lapuk lantaran usianya sudah berkepala empat.

“Mungkin karena kau hanya mencari wanita yang berparas biasa-biasa saja.” Kata seorang temannya suatu kali.

“Mungkin kau perlu mencari yang sangat cantik sekalian. Siapa tahu jodohmu malah yang cantik.” Kata teman yang lain sambil terkekeh, diikuti semua temannya.

Paman hanya nyengir, lalu ikut tertawa. Dia berpikir tidak perlu menanggapi serius olok-olok semacam itu.

“Lho, siapa tahu kan?” Tegas salah seorang temannya lagi.

“Sebaiknya dicoba. Masak takut. Kan sudah terlatih ditolak.”

Tawa teman-temannya meledak. Lagi-lagi Paman ikut tertawa.

“Aku ada saran. Mungkin Niki, yang karyawan baru itu, bisa kau dekati. Agak tomboi sih, tapi kupikir itu bukan soal.”

“Benar itu. Dia sangat cantik dan lumayan kalem lho, meski tomboi. Andai aku belum punya tiga anak, sudah kudekati dia.”

“Terlalu cantik dan muda buatku,” jawab Paman sambil tertawa. Dia tahu usia Niki belum menyentuh angka dua tujuh.

“Didekati saja dulu.”

“Atau harus kami comblangin?”

“Tidak perlu. Biar aku dekati sendiri.” Kata Paman dengan sok jantan.

“Oke. Kami tunggu kabar apa pun darimu.” Nadanya terkesan meragukan kesungguhan Paman.

Kali ini Paman tidak ingin diremehkan. Dia menunjukkan keberaniannya kepada teman-temannya dengan mendekati Niki, meski tidak berharap akan diterima. Justru dengan begitu dia bisa berbincang dan bercanda dengan sangat santai. Di mata teman-temannya sikap Paman sungguh tidak seperti saat mendekati wanita-wanita sebelumnya. Tapi, mereka bersikap biasa-biasa saja saat memergoki Paman berbincang dengan Niki.

Seiiring waktu, Paman dan Niki tampak semakin akrab dan lekat. Paman bisa merasakan kedekatan itu, meski tidak yakin diterima. Walau begitu, dia tetap mengatakan keinginannya memperistri Niki, saat makan malam bersamanya. Paman yang sudah bersiap mendengar kata-kata penolakan menjadi terkejut saat Niki mengatakan bersedia, meski dengan syarat.

“Apa itu?”

“Aku harus minta pendapat temanku dulu. Apa jawabannya, itulah keputusanku.”

“Boleh. Tapi, kenapa bukan meminta pendapat orang tuamu saja?”

“Tidak. Aku merasa temanku itu lebih memahami siapa aku.”

“Baiklah. Berapa lama aku harus menunggu?”

“Dua atau tiga hari. Bagaimana?”

“Aku akan menunggu dengan tenang. Cepat waktu segitu.”

Niki tersenyum. Sesungging senyum yang teramat manis di mata Paman.

***

“Aku berhasil, Kawan.” Paman berkata dengan wajah berseri kepada kawan-kawannya, saat mereka berkumpul di sebuah kafe.

“Kau yakin?” Nada kawan di samping kirinya seolah tak percaya.

“Tentu saja. Kami akan menikah satu bulan lagi.”

Tak bisa dipungkiri, kawan-kawannya kini memandang tak percaya.

“Aku sungguh-sungguh,” Paman berusaha meyakinkan mereka.

Sesaat kemudian mereka memberi ucapan selamat dan menyalami Paman, seperti baru saja memenangkan kuis berhadiah mobil mewah. Tapi, wajah mereka tak bisa menyembunyikan rasa masih tidak percaya. “Kami tunggu undangan resminya.” Kata salah satu dari mereka. “Tentu. Pasti itu.” Kata Paman dengan wajah tetatp berseri dan nada suara bersemangat.

***

Paman akhirnya berhasil menanggalkan predikat bujang lapuk. Teman-temannya pun ikut berbahagia dengan keberhasilan itu. Mereka memeluk erat Paman di acara pesta pernikahannya. Wajah mereka berhias senyum ceria saat memberikan ucapan selamat kepada Paman. Senyum Paman pun seperti tak pernah terjeda barang sejenak di hari bersejarah itu. Ini memang peristiwa indah yang tak akan mungkin dia lupakan. Aku sudah tidak akan lagi disebut sebagai perjaka tua, pikirnya.

Hari-hari selanjutnya menjadi saat-saat indah bagi Paman.

Kenapa dulu aku ketakutan mendekati wanita cantik, jika jodohku ternyata memang yang cantik? Walau dia tidak bisa memasak, tapi itu bukan masalah bagiku. Yang penting dia sangat menyenangkan saat di kamar. Dan lebih penting lagi, dia penyabar dan pengertian.

Begitulah pikir Paman saat merenungkan dirinya dan Niki.

Sampai suatu hari, Paman mengerutkan dahi, bertanya-tanya dalam hati saat melihat Niki tampak gelisah. “Ada masalah apa, Sayang? Wajahmu tampak gelisah.”

“Aku takut mengatakannya. Takut Mas marah.”

“Asal tidak mengatakan telah menyesal menikah denganku, aku tidak akan marah. Katakan saja.”

“Tentu aku tidak menyesal menjadi istrimu, Mas. Hanya saja aku merasa berhutang budi kepada Cici.”

“Hutang budi soal apa memangnya? Selekasnya kita balas kebaikannya.”

“Mas ingat soal aku harus minta pendapat temanku waktu kamu bilang ingin menikahiku?”

“Iya. Masih. Lalu?”

“Aku ingin membalas pemikirannya itu dengan memberikan sesuatu kepadanya. Apakah Mas setuju?”

Paman berpikir sejenak. “Boleh. Tanpa dia mungkin kita tidak jadi menikah. Kamu ingin memberikan apa kepadanya?”

“Mungkin sepeda motor. Atau Ponsel yang bagus. Atau apalah. Yang penting pantas.”

Paman tertawa mendengar perkataan Niki. “Boleh. Itu gampang. Besok kita belikan sepeda motor.”

“Sungguh?” Niki nyaris tak percaya dengan jawaban Paman.

“He-em,” jawab Paman tegas. Anggukan kepalanya pun terlihat mantap.

Niki tersenyum ceria dan segera memeluk serta mencium Paman berulang kali.

***

Tiga tahun berlalu terhitung sejak acara pesta pernikahan itu. Niki belum juga bisa hamil. Sebagai lelaki yang sudah berumur sangat matang, tentu dia memikirkan tentang keturunan. Dia berpikir, jangan sampai saat lanjut usia dia baru punya bayi. Itu sangat merepotkan. Gelagat kegelisahan itu tertangkap Niki. Berkali-kali dia minta maaf karena hal itu, walaupun kata dokter mereka berdua tidak punya masalah pada kesuburan.

“Kamu tidak salah, Sayang. Mungkin akulah yang sudah terlalu berumur.”

“Tidak, Mas. Umur lelaki tidak menjadi penghalang untuk membuahi. Apalagi punyamu sangat bagus. Aku jadi merasa bersalah padamu, Mas.”

Paman membelai Niki dengan lembut, lalu perlahan menarik kepala Niki bersandar di dadanya. “Kamu tidak salah, Sayang. Mungkin belum waktunya saja.”

“Bagaimana kalau Mas menikah lagi saja? Tapi, aku yang mencarikan.” Niki berkata dengan hati-hati. “Aku rela kamu menikah lagi, Mas.”

Paman terkejut dengan perkataan istrinya. Tepatnya karena tidak percaya. Sudah mengizinkan untuk menikah lagi, dan masih mau mencarikan pula. Nalurinya ingin segera punya keturunan tertarik dengan tawaran istrinya itu. Tapi, dia menahan diri dengan mengatakan “tidak”. Namun, Niki bersikeras akan mencarikan Paman istri lagi. Melihat keteguhan istrinya itu, Paman menyerah. “Baiklah jika kamu benar-benar rela dan mau mencarikan untukku, Sayang.”

Niki tersenyum. Wajahnya kembali cerah. “Terima kasih, Mas. Akan aku ingat-ingat siapa di antara teman-temanku yang belum menikah dan sekiranya cocok untukmu, untuk kita. Dan yang penting mau satu atap denganku.”

“Terima kasih, Sayang. Kamu baik sekali. Beruntungnya aku punya istri sepertimu.”

Beberapa pekan kemudian Niki mengajukan sebuah nama kepada Paman. “Aku sudah mengatakan semua duduk perkaranya kepada Cici, Mas. Dia dengan senang hati mau menikah denganmu.”

“Jika kamu yakin dia akan baik kepadamu, aku setuju saja.”

***

Pada tahun baru sebelum pandemi covid-19 menyerang, Paman pulang beserta kedua istrinya. Memperkenalkan Cici kepada saudara-saudara di kampung. Semua saudaranya tentu terkejut dan takjub mendengar cerita tentang kebaikan Niki. Di antara saudara-sudaranya tentu ada yang iri dengan keberuntungan Paman. Aku tahu irinya mereka itu hanya karena Paman punya dua istri yang rukun. Tapi, apakah mereka merasakan apa yang kurasa? Mereka berdua terlalu rukun bagiku. Itu ganjil menurutku. Ah, mungkin itu hanya karena aku belum pernah melihat ada yang lebih rukun atau setidaknya sama rukunnya seperti Niki dan Cici. Aku segera menepis prasangkaku.

Keganjilan yang kurasakan saat tahun baru sebelum pandemi terjawab setelah pandemi mereda dan Paman bisa pulang lagi ke kampung halaman, tapi sendirian. Paman bercerita kepadaku, dan mengakunya hanya kepadaku. Suatu hari dia merasa tidak enak badan sehingga memutuskan pulang lebih awal dari kantor tempatnya bekerja. Dia mendapati rumah sangat lengang, sementara pintu depan tidak dikunci. Dia langsung masuk tanpa menaruh curiga apa pun, mengira kedua istrinya sedang tidur. Agar tidak mengganggu, dia berusaha melangkah tanpa menimbulkan berisik, menuju kamar Niki. Pintu kamar itu tampak terbuka beberapa inci. Perlahan dia mendorongnya tanpa menimbulkan suara. Matanya seketika terbelalak saat melihat dua wanita bergumul di atas ranjang tanpa penutup tubuh apa pun.

Paman ingin berteriak, tapi yang terjadi justru mulutnya tertutup rapat. Dengan tubuh gemetar dia merogoh ponsel di sakunya. Mengambil video secukupnya. Lantas, perlahan berbalik dan melangkah ke ruang depan. Menjatuhkan diri di atas sofa dengan tubuh masih gemetar menahan kekecewaan yang menjelma amarah.***


Era Ari Astanto penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di komunitas Sastra Alit. Karya tunggal yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (Najah, 2013), The Artcult of Love (Locita, 2014), Novel Bertutur Sang Gatholoco (Basabasi, 2018), Novel Riwayat Bangsat (Basabasi, 2019). Karya antologi: Memoar Bermasjid (Diomedia, 2017), kumcer Masa Depan Negara Masa Depan (Surya Pustaka Ilmu, 2019), Memoar Ramadhan dan Merantau (Diomedia, 2019), kumcer Hanya Cinta yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya (Divapress, 2020). Cerpen-cerpennya juga tayang di beberapa media online. Buku terbarunya yang terbit: Novel dwilogi Nama yang Menggetarkan (Diomedia, 2020).

Cerpen

Di Hadapan Anggrek

Cerpen Era Ari Astanto

Cukup sering orang-orang itu mengatai aku gila. Atau memandangku kasihan, tapi tetap dengan menambah kata ‘gila’ di ujung kalimat: “Kasihan dia, sejak ditinggal istrinya dia menjadi gila,” —atau senada dengan itu.

Sungguhkah aku telah gila? Ataukah mereka yang tidak mampu berpikir waras?

Aku hanya ingin sendiri, berbicara dengan dinding kamar, berbicara dengan anggrek atau lukisan wajah kekasihku tanpa ada yang mengganggu. Ya. Istriku sudah pergi memenuhi panggilan Ilahi bertahun lalu. Aku sadar itu, aku ingat hal itu. Tapi bagi mereka, aku telah gila. Mereka hanya tidak tahu, berbicara dengan benda-benda itu lebih menyenangkan, lebih menenangkan. Saat berbicara dengan dinding kamar, saat bicara dengan bunga anggrek itu, saat bicara dengan lukisan itulah aku merasakan kenyamanan — seolah istriku menemaniku berbincang. Mereka adalah pendengar yang baik, tidak akan menyanggah atau sok bijak menasihati seperti orang-orang itu.

Istriku meninggal ketika usia pernikahan kami belum genap dua bulan. Tidak pernah terlintas dalam benakku jika dia akan secepat itu meninggal. Dia memang keberatan saat aku pamit untuk menghadiri undangan bincang literasi dan bedah buku di luar kota dan harus menginap beberapa hari. Dia bukan melarang aku pergi, tapi dia mengeluh merasa sedikit pusing dan tidak enak badan. Aku pikir itu sekadar sakit yang sangat ringan dan akan sembuh dengan minum obat warung. Dan aku tetap pergi karena di sana aku akan bertemu dengan penulis-penulis besar dan hebat yang bisa kumintai tips-tips penting dalam menulis, dan pikirku itu adalah acara penting bagiku.

Setelah satu hari satu malam mengikuti acara itu, aku mendapat telepon dari tetanggaku bahwa istriku sakit keras dan aku harus pulang. Aku hampir tidak percaya dengan kabar itu. Pikirku, tidak mungkin hanya sedikit pusing dan tidak enak badan berubah menjadi sakit keras dalam sehari semalam. Aku sempat bersilat lidah dengan tetanggaku itu, tapi akhirnya aku memutuskan pulang setelah dia berkata: terserah kamu, Mas, jika kamu ingin menyesal seumur hidupmu.

Aku tiba di rumah dan mendapati banyak orang sedang mengurus istriku yang tinggal jasad.

Aku tak pernah mengira jika pamitku itu akan menjadi kali terakhir aku bicara dengannya. Kematian memang keniscayaan, tapi penyesalan dalam hatiku tak bisa kupungkiri. Seandainya aku mendengar keberatannya mungkin akan lain perkara. Mungkin aku tak akan semenyesal ini.

Hari-hari selanjutnya kurasakan menjadi begitu berat, begitu gelap, begitu sesak dengan sesal. Seandainya … seandainya … dan hanya ‘seandainya …’ yang terasa menyesaki dada. Sampai akhirnya kurasakan ketenangan saat bicara dengan lukisan wajah istriku. Lalu dengan dinding-dinding kamar. Lalu dengan anggrek, lalu dengan tas istriku, lalu dengan meja rias istriku. Aku memang merasakan ketenangan saat bicara dengan benda-benda itu, tapi belum kurasakan istriku mengampuniku walau aku merasa seolah dia ada di sampingku saat aku melakukannya.

Dan entah bagaimana mulanya orang-orang mengatakan aku telah gila. Mungkin salah seorang memergokiku saat aku bicara dan tertawa di hadapan anggrek. Atau ketika aku bicara dengan lukisan wajah istriku yang kubawa ke serambi. Satu atau dua dari mereka pernah mendatangiku dan menasihatiku agar bersabar bahwa kematian adalah keniscayaan. Aku tahu itu dan aku menerimanya, jawabku. Aku hanya ingin bicara dengan istriku, memohon maaf atas segala salahku, lanjutku.

“Tapi, Mas. Jika begitu terus, sampean akan dianggap gila,” kata orang itu.

“Apa peduliku. Sebaiknya Anda tidak mengganggu ketenangan saya,” kataku dengan ketus.

“Tapi, Mas …,” sahutnya.

Kulebarkan mataku sebagai jawaban sampai akhirnya dia pergi dan tak pernah kembali. Hanya kasak-kusuk yang sesekali kudengar ketika aku berada di hadapan anggrek di halaman.

Memang ada satu orang yang datang ke rumah dan memberiku makanan lantas pergi setelah aku tak bicara sepatah kata pun, kecuali terima kasih. Begitu seterusnya hingga hampir tujuh tahun berlalu. Sebenarnya aku masih bisa mengurus kebutuhan sehari-hariku, walaupun sebatas seadanya dari fee menulis. Jika sedang tidak ingin bicara dengan benda-benda itu, selain lukisan, aku menulis. Cerita fiksi yang aku pilih karena aku bermaksud untuk bercerita kepada istriku ditemani lukisan wajahnya.

Beberapa kali aku mencoba meninggalkan cara anehku itu, tapi tidak bisa. Aku akan kembali gelisah dan rasa bersalah kembali menyergap. Dan aku pun memutuskan untuk tetap menjalani cara aneh itu terus, tak peduli dianggap gila atau apa pun, hingga di sebuah pagi satu orang yang selalu datang ke rumah dan memberiku makanan itu mengajakku bicara yang mau tak mau harus kujawab.

“Apakah itu anggrek kesayangan istrimu?”

Aku mengangguk tanpa menoleh ke arahnya.

“Aku punya tiga anggrek di rumah. Aku dengan senang hati akan membawanya ke sini jika sampean mau.”

Aku tak menoleh ataupun menjawab perkataannya. Tapi aku memikirkan kata-katanya. Mungkin anggrek istriku tidak akan kesepian dengan adanya anggrek lain di sebelahnya. Apalagi jika dia kutinggal untuk tidur di malam hari atau ketika aku harus meninggalkannya sendiri. Namun, aku merasa perlu meminta pendapatnya. “Apakah itu perlu? Terutama bisa membuat istriku senang?”

“Setidaknya begitulah yang kurasa saat melihat anggrek istrimu sendirian.”

“Tapi, aku tak punya apa pun sebagai gantinya.”

“Meskipun sekadar berbincang seperti ini setiap aku datang?”

Aku tak segera menjawab. Kutimbang perasaanku. Bukan hal mudah bagiku saat ini untuk menemani berbincang orang lain.

“Aku tidak bisa berjanji. Tapi aku akan berusaha,” kataku kemudian.

“Mendengar sampean akan mengusahakannya pun aku sudah senang. Baiklah, besok akan aku bawa anggrek itu.”

Pagi berikutnya dia datang membawa sarapan untukku dan anggrek yang dia janjikan. Dia meminta ingin mengurusnya, meletakkannya dengan sangat tepat di sebelah anggrek istriku. Aku perhatikan dengan saksama dan merasa apa yang dia katakan kemarin benar. Anggrek istriku tampak lebih indah dan berseri. Barangkali hanya perasaanku, tapi begitulah bagi mataku.

Hari-hari berikutnya, aku merasa lebih senang berada di depan anggrek sambil berbincang dengan orang itu. Sebenarnya, dia hanyalah lelaki setengah baya yang juga ditinggal mati istrinya sejak belasan tahun lalu. Dia bercerita bahwa dia juga pernah merasakan jiwanya terguncang hingga hampir bunuh diri. Tapi, kemudian dia sadar bahwa hidupnya harus dilanjutkan dan mengisinya dengan menemani orang-orang yang jiwanya kesepian.

“Tapi, aku tidak begitu merasa kesepian. Aku hanya merasa menyesal tidak menemani istriku di saat-saat terakhirnya. Aku juga merasa istriku belum memaafkanku karena nekat meninggalkannya walau dia telah mengatakan kondisinya waktu itu.”

“Aku yakin istri sampean akan bahagia jika melihat sampean mau menemani orang-orang yang jiwanya gelisah karena kesendirian.”

“Tapi, aku telah dianggap gila. Hanya sampean sajalah yang tidak menganggapku begitu.”

“Mereka yang menganggap begitu karena mereka tidak mau merasa bagaimana kondisi jiwa orang-orang seperti kita. Bukankah sampean sudah merasakan betapa bukan nasihat yang kita butuhkan, tapi teman; teman yang mampu menemani dan memahami meski dalam diam.”

Aku diam memikirkan kata-katanya. Menghidupkan istriku dalam diriku rasanya lebih baik daripada terus-menerus merasa istriku tak mengampuniku. Aku rasa kehadiranku untuk orang-orang yang membutuhkan bisa menjadi penebus segala sesalku karena telah meninggalkan istriku. Kurasa begitulah seharusnya aku, seperti anggrek yang meskipun dalam diam keindahannya mampu menentramkan siapa pun yang melihatnya.***


Era Ari Astanto penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di komunitas Sastra Alit. Karya tunggal yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (Najah, 2013), The Artcult of Love (Locita, 2014), Novel Bertutur Sang Gatholoco (Basabasi, 2018), Novel Riwayat Bangsat (Basabasi, 2019). Karya antologi: Memoar Bermasjid (Diomedia, 2017), kumcer Masa Depan Negara Masa Depan (Surya Pustaka Ilmu, 2019), Memoar Ramadhan dan Merantau (Diomedia, 2019), kumcer Hanya Cinta yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya (Divapress, 2020). Cerpen-cerpennya juga tayang di beberapa media online. Buku terbarunya yang terbit: Novel dwilogi Nama yang Menggetarkan (Diomedia, 2020).