Cerpen

Seorang Laki-laki dan Mainan Favoritnya

Cerpen Titi Setiyoningsih

“Laki-laki hanya akan merusak mainan favoritnya,” katamu sekian kalinya di depan cermin. Tampak tanda kebiruan di bawah matamu, merah muda di sudut bibir, dan sayatan kecil di kening atas.

Pelan sambil meringis kesakitan kamu tepuk-tepuk concealer dengan beauty blender untuk menyamarkan warna tanda luka itu. Perih. Sakit. Tapi tak sesakit yang dirasakan hatimu. Lalu agar lebih sempurna, kamu tambahkan foundation, bedak tebal, lengkap dengan blush on dan gincu nude merah jambu.

Terdengar ketukan pintu apartemen. Wajahmu yang semula muram otomatis kau tarik seceria mungkin. “Halo, ayo masuk,” ujarmu berusaha menutupi kegelisahan. Dua perempuan itu serta merta memelukmu. Erat sekali. Sampai pundakmu yang masih lebam kembali terasa sakit. Tapi kamu tak boleh mengaduh, kamu harus meyakinkan mereka bahwa kamu baik-baik saja.

“Gimana keadaanmu?” tanya mereka. “Gila ya laki-laki itu! Sudah berapa kali dia melakukan ini sama kamu? Berita kalian sudah viral di mana-mana! Untung ada yang ambil videonya!”

Kamu persilakan mereka duduk di sofa paling nyaman di pojok ruangan. “Bisa-bisanya lima tahun kamu bertahan dengan laki-laki sekasar itu? Kamu sudah putusin dia, kan?”

Kamu menggeleng pelan. Kedua sahabatmu yang sekarang merangkap tim pengacaramu menampilkan raut tak percaya.

“Kenapa belum?”

Bendungan di matamu tak bisa lagi kau tahan. Jebol disusul tangis sesenggukan. Sahabatmu kembali memelukmu. “Please, bantu aku cabut laporanku, aku berubah pikiran,” bisikmu. “Kalau kalian sayang aku, tolong bantu cabut laporanku kemarin,” rintihmu.

“Dia mukulin kamu di depan umum lho, semua orang sudah tahu sekarang. Kamu diancam dia?” tanya salah satu dari mereka.

Kamu hanya diam dan menggeleng. Bagaimana cara menjelaskan kepada kedua perempuan ini? Mereka tidak akan percaya dengan ceritamu. Selama ini ada suara di kepala laki-laki itu. Suara-suara itu memanggil hujan lebat disertai petir yang membuat laki-laki itu mengakhiri hari-hari indah penuh kesenangan mereka.  Kamu terlalu tahu banyak tentang laki-laki itu yang mereka tidak tahu. Apalagi setiap kali dirimu teringat tatapan laki-laki itu saat pertama kali mendapatkanmu. Mereka berdua mesti melihat bagaimana tatapan mata itu berbinar kala itu.

“Dia begitu karena cinta sama aku. Kasihan dia,” katamu akhirnya.

“Kamu nggak kasihan sama Mama Papamu? Kami semua nggak mau kamu disakiti!” nada mereka kini mulai meninggi.

Kamu mulai gelisah dan menggigiti kuku. Kamu mendadak tak lagi mengenal kedua perempuan di depanmu. Mereka tak lagi memahamimu sama seperti kedua orangtuamu. Mereka masih terperangkap dalam kardus plastik di toko mainan. Sedangkan laki-laki itu telah mengeluarkanmu dari kotak kardus di pajangan. Membawamu ke dunia luar, mengambil semua rasa sakit, dan membuat hidupmu jauh lebih nyata. Dirimu dan laki-laki itu sama-sama memiliki luka di masa yang lampau. Luka yang hanya bisa dipahami kalian berdua, tidak dengan lainnya.

Sebelum kamu bertemu dengannya, hidupmu jauh lebih merana. Beberapa kali kau coba sayat tanganmu dengan pisau dapur. Tak ada yang betul-betul mengerti kamu. Juga dunia yang ditawarkan kedua orangtuamu terkesan kosong. Kaku. Seperti mesin. Juga sekeras batu. Lalu datang laki-laki itu menarikmu ke dunia baru. Dunia sesungguhnya, real, bukan imitasi. Dunia yang terasa gila sekaligus memabukkan. Dia memperlakukanmu dengan hati pun pengertian. Sejak itu tak lagi terlintas pisau dapur yang menggorok tanganmu. Dia memberimu warna. Kadang merah muda ketika kalian kasmaran. Biru saat kamu rindu. Abu-abu saat hujan, kelabu seperi sekarang. Tapi tak pernah hitam seperti yang dulu keluargamu lukiskan padamu.

“Kalau dia cinta kamu, dia nggak mungkin nyakitin kamu. Dia nggak mungkin mukul kamu sampai pingsan,” ujar sahabatmu kembali melembut.

“Kalian tak mengerti. Akulah favoritnya. Laki-laki hanya akan merusak sesuatu yang menjadi favoritnya,” katamu mulai melamun. Bukankah demikian? Bocah laki-laki hanya akan menyentuh dan seringkali tak sengaja merusak mainan favorit yang kerap dimainkannya.

Air matamu kembali mengalir. Disusul buliran keringat di kening. Kali ini membuat bedakmu luntur. Kedua temanmu terperangah dengan wajahmu yang tampak mengerikan. Kebiruan di bawah mata dan merah muda di sudut bibir. Kamu menyadari arti tatapan mereka.

“Aku akan memperbaiki diriku. Setelah aku memperbaiki diriku, dia akan merindukanku,” ujarmu setengah berbisik.

“Laki-laki itu sudah membuangmu!” kata sahabatmu jengkel.

“Setelah aku memperbaiki diriku lagi, dia akan merindukanku,” katamu ke sekian kali. “Sekarang kalian pulanglah!” ***


Titi Setiyoningsih, dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret (UNS). E-mail: [email protected]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *