Seekor naga dan roti kukus menjadi bubur selalu terbayang ketika saya membaca novel karangan Nawir. Dia melihat seorang berjalan kemudian menghilang pada suatu malam. Entah apa maksudnya. Kata-kata seperti baris puisi dalam gelas wiski. Kuat seperti akan membekas tetapi cepat terlupakan ketika kau tertidur.
Saya selalu bertanya, mengapa seseorang bisa makan roti dan seseorang yang lain bisa memakan kacang? Pertanyaan saya berlanjut hingga apa pentingnya pertanyaan-pertanyaan semacam itu! Kadang saya merasa pusing, kadang kala tidak. Kadang saya diam memikirkan sesuatu yang diam dan sunyi, dalam arti tidak ada. Ketika saya sampaikan apa yang saya pikirkan ini kepada seorang teman, dia kemudian berkata, lebih baik saya menggiling biji kopi kemudian merebus air.
Masalahnya saya selalu lupa, di mana saya telah menyalakan kompor gas untuk memanaskan air. Apakah benar di dapur? Tetapi perasaan saya, tidak demikian, melainkan di sebuah lorong semacam pipa parabola. Kadang tiap kali mengerjakan sesuatu saya selalu teringat hal lain. Seperti gangguan sinyal satelit yang menyedot piksel menjadi titik semut.
Seperti seorang anak kecil pernah menyanyikan lagu Benyamin Sueb, Kompor Meleduk. Hati-hati, kata anak kecil ini kemudian mengingatkan. Dalam lirik lagu itu, ada kata Jakarta Kebanjiran. Apakah benar? Saya tidak tahu karena tiang parabola di rumah seingat saya telah menjadi dapur.
“Apa, sih yang kamu pikirin?” begitu tanya teman saya, seperti kesal. Tapi saya diam, tidak menjawabnya.
Saya selalu ingin diam dalam kata-kata sebuah cerita yang mengganggu. Karena itu akan membuat saya sibuk bertanya. Menimbang satu keadaan dengan keadaan lain. Tapi saya selalu dianggap aneh.
Tentang seekor naga dan roti kukus, kerap dianggap semacam ilusi yang diada-adakan dalam igauan. Saya berkali-kali diingatkan untuk tidak membaca novel. “Semua novel itu racun,” kata teman saya, keras melarang. Dan karena saya tidak peduli, takdir membawa semua novel-novel itu terkubur pada suatu tempat yang tidak lagi diketahui.
“Suatu hari kau pasti paham,” kata teman saya.
Saya memang akhirnya mengerti, bahwa hidup teman saya, bernasib seperti novel-novel itu.
Seorang tetangga yang selama ini tidak peduli, mengantarkan saya pada sebuah tempat, dan dia menunjuk sambil berkata meyakinkan, “Di sini temanmu tertidur.”
“Suatu hari,” katanya yang tak ingin saya dengar. Saya tahu, dia mungkin akan berkata persis seperti yang ditulis Nawir di dalam novelnya. Seseorang bisa saja berjalan pada suatu malam dan kemudian menghilang begitu saja. Tanpa diketahui, tanpa diinginkan kembali.
Saya tak berkata apa-apa saat itu. Dan tak berlama-lama di tempat itu. Saya segera pulang, kemudian menyalakan teve mencari hiburan. Mencuci baju, mengisi teka-teki silang, berjalan-jalan mencari udara dan memesan tiket bioskop tanpa teman saya.
Hari-hari berjalan seperti biasa, persis ketika saya selalu membayangkan naga dan roti kukus jadi bubur. Seorang anak kecil masih menggemari lagu Benyamin. Ia selalu bernyanyi keras sehingga saya ikut hafal bagaimana lagu itu seharusnya dinyanyikan.
karena engkau masih tak mau memikirkan kesedihanku.
sebenarnya, ingin rasanya aku berbagi kesedihan ini,
kesedihan yang seharusnya menjadi milik kita bersama
tapi nyaris hanya koran yang mau menerima dan menghantarkannya;
ke berbagai penjuru mata,
mungkin juga termasuk matamu yang tak suka membaca air mataku.
Yogyakarta, 2024
Pencerahan
pembunuhan terhadap tuhan
sudah lama direncanakan,
& kematiannya kita rayakan
dengan tidak sederhana.
& kini saatnya kita ciptakan kembali
sebagai proyeksi ketenangan;
karena iman di hati
masih merasa kehilangan.
sebagaimana lilin menyala
ketika ditiup, kemana perginya?
tapi kita lupa bertanya,
kecuali setelah kehilangan
makna dari keberadaanya.
sedang tuhan telah mati,
sejak kebebasannya kerap dibatasi
dengan dasar kebenaran pemikiran kita sendiri.
lalu apalagi yang berharga
selain kejadian yang tak terduga?
maka yang ada di luar sana,
menciptakan kita
juga untuk bertanya, misalnya;
sudah berapa tuhan
kita ciptakan di dunia?
Yogyakarta, 2024
Memorabilia yang Lain
aku akan mengenangmu, alena
sebelum senja ini selesai
mewarnai pelupuk mata.
di antara terumbu karang
kesunyian telah kubentang
lewat ketam bayang-bayang.
di sini, alena
kukenang kembali pulau dan nelayan
yang asin dan yang mulai asing.
karena segalanya mesti berakhir,
termasuk matamu dari mata penyair,
maka, kusimpan rindu yang amis itu
pada bait sajakku; dari waktu ke waktu.
Yogyakarta, 2024
Agus Widiey, Lahir di Sumenep, 17 Mei. Menulis Puisi, Cerpen, Cernak, Cermis, dan Resensi. Tulisannya tersebar diberbagai media baik lokal maupun nasional. Sekarang tercatat sebagai mahasiswa Prodi Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pernah memenangkan lomba cipta puisi yang diselenggarakan Majelis Sastra Bandung (2021). Anggota di komunitas Damar Korong(Sumenep).
Aku pulang dari menjenguk sahabatku di rumah sakit dalam keadaan melamun selagi bermotor. Di sebuah tikungan, dari arah lain, sebuah truk melaju kencang, nyaris melibasku. Aku banting setir ke kanan, tapi dengan cepat kukendalikan keseimbangan. Malam itu tidak terjadi apa-apa. Aku tiba di rumah dengan selamat, tapi tubuhku sangat lemas. Segera aku berbaring menenangkan diri. Pikiranku tersita oleh satu-satunya yang nyaris tak pernah kupikirkan: kematian.
“Bagaimana jika seseorang tiba saatnya mati? Apa ia menyadarinya? Atau, maut datang begitu saja tanpa peringatan?”
Aku tak tidur semalaman hanya karena tahu, sedikit saja motorku salah kukendali tadi, mungkin kini tubuhku sudah tak keruan lagi bentuknya; dilibas truk sebesar itu.
Memikirkan itu, aku benar-benar ketakutan.
***
Mudakir, sahabatku itu, koma dan divonis menderita penyakit tertentu. Aku tidak bisa mengingat nama aneh penyakitnya, tetapi yang jelas dia sakit berat.
Aku kenal Mudakir saat SMP. Waktu itu, kami tertangkap basah hendak kabur dari pagar belakang saat jam istirahat. Aku dan Mudakir sama-sama murid nakal. Kami akrab setelah tahu ada banyak kesamaan di antara kami.
Aku dan Mudakir sama-sama tidak memiliki bapak. Bapak kami meninggal dunia ketika ibu kami masih mengandung kami. Dan, tahu apa yang terdengar aneh dan ajaib? Ibu kami sama-sama tahu bapak kami sebenarnya sudah mempunyai istri di kota lain, tetapi pasrah dan menerima keadaan itu. Meninggalnya bapak kami mendatangkan dua orang asing ke rumah kami yang berdiri di lokasi berbeda; dua wanita yang lebih muda dari dua ibu kami. Aku percaya wajahku dan Mudakir sama terlihat kagetnya ketika para istri muda itu mengaku di depan ibu kami masing-masing bahwa mereka adalah orang yang juga berduka, meski kami berada di lokasi (dan waktu) yang berbeda.
Yang perlu diperjelas di sini, agar cerita ini tidak salah dipahami, baik aku maupun Mudakir punya cerita masing-masing. Artinya, bapak kami dua individu yang berbeda fisik, tetapi memiliki kesamaan yang nyaris seratus persen dari segi nasib.
Aku dan Mudakir heran pada kisah hidup kami yang hampir sama, sehingga sejak tahu rahasia masing-masing ini, kami pikir kami tidak mungkin berpisah. Kami pikir kami ditakdirkan untuk berteman sampai kiamat.
Segala yang Mudakir sampaikan padaku, entah soal kesedihan atau kegembiraan yang dialaminya, selalu memberi dampak yang sama padaku, dan begitu pula jika aku yang membawa kabar-kabar tertentu; Mudakir juga selalu dapat merasakan sensasi yang sama dengan yang kurasa.
Keadaan ini membuat kami kadang-kadang dianggap sebagai dua makhluk aneh di sekolah. Kami bukan saudara, tidak juga punya hubungan kekerabatan, dan baru ketemu di tahun kedua di bangku SMP. Bagaimana mungkin pada titik ini kami merasa bertemu sosok yang seakan-akan saudara kembar yang dapat merasa segala yang dialami antara satu dan lainnya?
Ibu kami sama-sama tertawa dan menganggap kami lucu waktu kami saling balas mengunjungi rumah. Suatu hari saat di rumah Mudakir, kepalaku dielus-elus ibunya dan beliau berkata, “Kamu seperti anak saya sendiri. Sering main ke sini, sering menghihur Mudakir. Sering nginap. Senang ada kamu. Anak saya jadi tidak kesepian!”
Tahu apa yang lagi-lagi terdengar aneh dan ajaib? Setelah Mudakir bertamu ke rumahku sebanyak sebelas kali (serupa dengan jumlah kunjunganku ke rumahnya), ia disambut ibuku dengan kalimat yang sama persis dengan kalimat sambutan ibu Mudakir saat terakhir kali aku bertandang ke rumah mereka!
Aku tidak tahu garis takdir macam apa yang mengatur semua ini, tetapi tentu saja di atas sana, Tuhan mengerjakan sesuatu yang seharusnya terjadi. Aku sendiri termasuk orang yang rajin beribadah, dan … ah, inilah yang membedakan kami. Antara aku dan Mudakir, yang membedakan hidup kami hanyalah soal sering atau tidak seringnya kami menjalankan perintah-Nya.
Meski nakal, aku dikenal sebagai siswa yang pandai mengaji dan hafal beberapa surah panjang dalam Alquran. Beda dengan Mudakir yang pemalas jika harus berangkat mengaji. Akibatnya, ia sering menungguku di kebun atau di sawah atau di mana pun dia bisa, sehingga kami akan bersepeda entah ke mana selepas jam mengaji kelar.
Aku sendiri kadang-kadang tidak setuju usul Mudakir tentang beberapa hal, misal ketika dia berhasrat memberikan pelajaran pada penjaga sekolah dengan membocorkan ban motornya. Kubilang pada Mudakir saat itu, “Jangan begitu. Beliau juga galak demi pekerjaannya!”
Dan, Mudakir hanya dapat menyahut, “Kalau sudah seperti ini, rasa-rasanya kamu tidak seru lagi!”
Hanya saja, meski beberapa kali berdebat soal seperti ini, kami tetaplah sepasang sahabat yang lekat karena memiliki lebih banyak kesamaan. Di tahun-tahun berikutnya, setelah kami masuk kuliah dan lulus dan mendapat pekerjaan di tempat yang kami juga inginkan, kami tahu perbedaan kecil antara kami yang kusebutkan di atas seakan tiada artinya. Aku memaklumi kebandelan Mudakir ketika dia sengaja pergi ke suatu tempat dan meninggalkan kewajiban beribadah. Saranku tidak pernah benar-benar dia hiraukan dan dia hanya berkata, “Aku ditakdirkan bukan sebagai orang alim.”
Pada suatu hari, ketika aku sedang sibuk menenangkan anakku yang sakit demam, sebuah telepon masuk ke ponselku. Dari istri Mudakir; ia bilang, suaminya sedang kritis dan dibawa ke rumah sakit.
“Tiba-tiba pingsan, Mas!” kata wanita itu di seberang telepon.
Aku pun meninggalkan anak dan istriku, lalu meluncur ke rumah sakit sore itu juga. Di sana kutemukan sosok yang nyaris seratus persen bernasib sama denganku selama ia hidup di muka bumi ini sedang terbaring lemah tak berdaya.
Dua hari berlalu. Dokter mengajakku menepi ke pojok ruangan yang dihuni oleh empat pasien, dan dengan tampang prihatin dia berkata, “Kemungkinan hidup Saudara Mudakir ini amat kecil, Pak. Maafkan kami.”
Aku tidak dapat mendengarnya dengan jelas, tetapi dokter mengulangi, bahwa apa yang saat ini dialami Mudakir termasuk kejadian langka.
“Mereka yang dalam kondisi seperti yang teman Bapak alami saat ini, biasanya tak bisa selamat. Hanya Tuhan yang tahu kenapa teman Anda masih bisa bertahan hingga sejauh ini. Kami tak bisa memberikan jaminan apa-apa,” tutur dokter sebelum akhirnya meninggalkanku.
Aku pamit pulang pada istri Mudakir, karena perutku mulai terasa mual dan kepala pusing tak keruan. Setelah beberapa kali menyambanginya ke kamar selama dua hari ini, untuk kali pertama aku merasakan firasat yang tidak enak. Aku tidak tahu apa itu. Di hari itulah, sebuah truk nyaris melibasku tanpa ampun.
***
Aku bangun untuk mengambil air minum di dapur. Malam merayap kian larut. Aku duduk terbengong-bengong di meja makan sambil memegang gelas dengan isinya yang tinggal setengah. Aku memikirkan banyak hal yang terjadi selama dua hari terakhir, sejak Mudakir masuk rumah sakit karena mendadak jatuh pingsan. Hari pertama, aku tersandung di tempat parkir rumah sakit. Tukang parkir yang ada di situ membantuku berdiri sembari berkata, “Wah, nyaris saja sampean celaka, Pak!”
Aku melihat tukang parkir itu menunjuk palang besi berkarat, persis di dekat posisi kepalaku terjatuh. Aku tidak memikirkan apa-apa selain hanya kurang hati-hati saja saat melangkah.
Kejadian berikutnya, saat pulang ke rumah esok harinya setelah semalaman duduk di dekat tempat tidur Mudakir. Kupacu motorku dengan pelan karena mataku lumayan mengantuk. Dengan berusaha menjaga agar kedua mataku tidak terpejam, aku mencoba menghitung angka-angka fibonacci, dan memikirkan hal-hal lucu yang terlintas. Kupikir itu ampuh. Karena konsentrasiku tersita pada isi kepalaku saja, tidak sengaja kutabrak mobil yang terparkir di depanku.
Aku kaget bukan main dan meminta maaf pada pemilik mobil yang emosional, tapi dia tidak sudi mendengar penjelasanku dan langsung meninju dada serta perutku sampai empat atau enam kali; aku tidak ingat. Seingatku, orang-orang berdatangan melerai dan aku mengeluarkan uang beberapa ratus ribu dari dompetku sebagai ganti rugi. Setiba di rumah, aku merasa badanku kepayahan, karena pemilik mobil tadi berbodi kekar dan tinjuannya lumayan memberikan dampak.
Sampai di situ, aku tidak sadar akan apa yang sejauh ini kami (aku dan Mudakir) yakini bersama. Ketika truk nyaris melibasku dari arah depan beberapa jam yang lalu, aku baru memikirkan ini. Mudakir pingsan dan kepalanya membentur lantai kamarnya hingga berdarah; aku tersandung dan nyaris merobek wajahku sendiri dengan palang di tempat parkir. Tubuh Mudakir kian memburuk kondisinya; tubuhku sakit tidak keruan oleh tinjuan seseorang. Sampai esok pagi aku tidak tidur dan terus memikirkan ini. Apa setelah Mudakir benar-benar mati nanti, sesuatu yang besar juga terjadi padaku?
Aku tak berani memikirkan itu. Aku merasa kematian yang diatur oleh Tuhan tiada hubungannya dengan semua itu. Tapi, aku tetap saja merasa takut. Ketika ada telepon yang mengabarkan kematian Mudakir, aku menangis. Waktu itu, di belakangku, muncul istriku. Dia kebingungan.
“Sahabat sehidup sematiku sudah mati, tetapi aku masih hidup, Mar!”
Dengan wajah sangat kesal, istriku membalas, “Ya, memang begitulah hukumnya. Kupikir kamu orang yang beriman dan percaya takdir-Nya. Kenapa malah berpikir yang tidak-tidak? Tidak ada hubungan aneh apa pun antara kalian selain bahwa kalian adalah sepasang sahabat!”
Apa benar demikian?
Aku tak tahu dan tak akan pernah tahu sampai beberapa hari ke depan berlalu tanpa ada satu pun hal buruk terjadi padaku.***
Gempol, 2017-2024
Ken Hanggara lahir di Sidoarjo, 21 Juni. Menulis puisi, cerpen, novel, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), Dosa di Hutan Terlarang (2018), Buku Panduan Mati (2022), dan Pengetahuan Baru Umat Manusia (2024).
Anggi Putri, pencinta sajak, kopi, dan hujan. Komite Sastra Dewan Kesenian Jombang 2019-2022. Buku puisinya Angin Kembara (2015) dan Laku(na) (2016). Peserta IIBF 2019 Solo dengan karya Kala Ratih (2019). Karya-karyanya dimuat media online maupun cetak. Aktif menulis di blog pribadi www.anggiputri.com.
Memasuki pelataran rumah yang terletak di Lembah Kelelawar, Salindri merasakan langkah kakinya bergetar. Tiga puluh tahun ia meninggalkan rumah ini. Dulu ia meninggalkan Samsul, anak lelakinya yang masih bayi, dan diasuh Nenek. Ia tak pernah pulang. Tak pernah bertemu Samsul, yang kini mendekam sepuluh tahun di penjara, menanti hukuman mati, karena merampok seorang nasabah bank, menembak mati tiga polisi dan membunuh sesama napi.
Di depan pintu rumah kayu Salindri berhadapan dengan Surti, perempuan muda, sintal, agak genit, dan Laila, seorang gadis kecil 9 tahun. Salindri sempat mendengar dari beberapa orang, Surti seorang penyanyi Orkes Melayu Mawar Rembulan yang diidolakan banyak orang. Begitu juga Laila, anaknya, yang mengikuti jejak ibunya sebagai penyanyi cilik.
Surti dan Laila memandang Salindri dengan tatapan aneh. Mereka curiga dengan kehadiran perempuan setengah baya itu. Bagaimana mungkin perempuan setengah baya itu mendadak mendatangi rumahnya?
Tatapan Salindri menyelidiki perempuan muda sintal yang dianggapnya sebagai istri Samsul.
“Samsul selalu cerita, Ibu meninggalkannya ketika ia masih bayi.”
“Tentu dia sangat ingin kuasuh,” kata perempuan setengah baya itu. “Boleh aku menginap di sini?”
“Oh, tentu saja. Ini rumah Ibu,” balas Surti, dengan keramahan seorang anak menantu pada ibu mertuanya. “Kebetulan sekali Ibu datang. Nanti malam Samsul dihukum mati, besok pagi dimakamkan.”
Pucat wajah Salindri. Tubuh perempuan setengah baya itu gemetar. Ia merasa bersalah. Ia meninggalkan suami dan anak yang kini menjelang dijatuhi hukuman mati. Ia menyiram bensin dan membakar suami yang tak mau berhenti berjudi. Ia melarikan diri dari rumah, mengembara di ibu kota, tak berani pulang.
Kini Salindri memasuki kamar yang dikosongkan sejak kematian Panji Rangsang, suaminya. Ia menemukan tempat tidur dan lemari baju kayu sonokeling, masih kokoh, kecoklatan, kusam berdebu. Tiga puluh tahun meninggalkan rumah papan kayu di Lembah Kelelawar, ia masih menemukan kenangan seperti semasa pengantin baru.
Di dalam kamar itu Salindri merasakan degup jantung yang kencang. Tubuhnya lemas. Ia merasa telah menjelma iblis betina yang mengorbankan anaknya sendiri.
***
Pagi berkabut, dalam sunyi tanah kuburan di lereng Gunung Wurung, Salindri berdiri goyah di bawah pohon trembesi, menanti jenazah Samsul dimakamkan. Di sisinya berdiri gelisah Surti dan Laila.
Hanya beberapa orang yang mengusung dan mengiringi jenazah Samsul. Liang lahat sudah digali kemarin sore. Salindri sangat ingin melihat wajah anak lelakinya. Tetapi komandan regu tembak, yang mengiringi jenazah Samsul, tak memperkenankannya membuka peti mati. Salindri berdiri memandangi peti mati jenazah anak lelakinya diturunkan ke dalam liang lahat, ditimbuni tanah hingga berupa gundukan yang ditaburi bunga. Seorang ulama membaca doa, seperti tergesa-gesa, dan terkesan melakukan pemakaman rahasia. Hanya beberapa orang desa yang hadir dalam pemakaman. Suro Kolong turut melayat. Lelaki setengah baya itu berdiri di sisi ulama yang membaca doa. Beberapa pelayat buru-buru meninggalkan makam.
“Kudengar Samsul kebal peluru,” kata Salindri pada anak menantunya. “Bagaimana mungkin ia bisa ditembak mati?”
Menuruni jalan setapak makam Gunung Wurung, Salindri terus menunduk, seperti ingin menyembunyikan masa lalu yang dijalaninya bersama Samsul. “Tiap tubuh yang kebal pasti memiliki kelemahan. Peluru yang digunakan menembak Samsul sudah disepuh mantra Suro Kolong yang dikenal sakti. Kekebalan Samsul tak ada artinya.”
Salindri teringat akan sosok Suro Kolong, lelaki yang selalu tirakat di Gunung Jabalkat. “Seingatku, Suro Kolong pernah berguru pada Ki Gandrung Marsudi.”
“Samsul juga berguru ke sana. Tapi Suro Kolong lebih sakti.”
***
KetikaSurti mengemasi seluruh pakaian dan barang-barang miliknya, dimasukkan dalam kopor, dan dikemas rapi, Salindri tercengang. Apakah menantunya akan meninggalkan rumah ini?
“Apa yang kaulakukan?” tanya Salindri, dengan pandangan tak mengerti.
”Kami akan meninggalkan rumah ini. Kami akan menetap di kota, agar saya bisa lebih mudah menerima tanggapan nyanyi.”
“Kau akan meninggalkanku seorang diri di rumah ini?”
“Saya tak bisa bersama Ibu. Seorang lelaki akan melamar saya. Kami segera nikah.”
“Siapa laki-laki itu?”
“Ibu akan mengenalnya.”
Siang hari komandan regu tembak datang dengan mengendarai mobil sedan. Di belakangnya sebuah truk bak terbuka diparkir di pelataran rumah dan seluruh barang-barang Surti diangkat ke dalamnya. Komandan regu tembak menjemput Surti dan Laila.
“Itukah calon suamimu?” tanya Salindri dengan sepasang mata keheranan.
“Ya.”
“Kau akan jadi istri kedua?”
Surti mengangguk, setengah terpaksa. “Aku merasa tenteram dan dilindungi.”
“Tapi kenapa dia tampak sungkan padaku? Ia seperti ingin menghindariku.”
“Dia cuma belum akrab pada Ibu. Kalau sudah akrab, ia akan menjadi lelaki yang menyenangkan.”
Salindri merasa bahwa komandan regu tembak menyembunyikan sesuatu yang belum dipahaminya. Sepasang mata komandan regu tembak memancarkan rahasia yang ingin disingkap Salindri.
***
Menjelang sore seluruh barang Surti dan Laila sudah dimasukkan ke dalam truk. Komandan regu tembak mengendarai sebuah mobil sedan memarkir mobil itu di tepi jalan Lembah Kelelawar. Salindri merasakan sepi yang menggerogoti jiwanya. Ia akan tinggal seorang diri di rumah warisan suaminya. Tak ada tetangga yang menempati rumah di lembah ini.
“Biar Laila tinggal bersamaku di rumah ini,” pinta Salindri. “Ingin kutebus kesalahanku pada Samsul dengan mengasuh cucu.”
Lama Surti memandangi Laila dan komandan regu tembak.
“Laila bukan cucumu. Ia anak gadisku,” balas komandan regu tembak.
“Bagaimana mungkin Laila bukan anak Samsu?”
Terdiam sesaat, komandan regu tembak itu menukas sopan, “Tanyakan keadaan anak lelakimu itu pada Suro Kolong. Ia pernah mencelakai Samsul.”
Salindri tertegun. Lama memandangi Laila, dan gadis kecil itu hanya terdiam. Mengikuti semua perintah komandan regu tembak, Surti dan Laila berpamitan pada Salindri. Lembah Kelelawar senyap. Pohon sonokeling, jati, dan munggur yang rimbun memendam angin pegunungan.
“Kau puas bisa menghukum mati anakku dan mengawini jandanya?” kata Salindri pada komandan regu tembak, ketika lelaki setengah baya itu berpamitan.
***
Matahari hampir tenggelam. Di ladang jagung Suro Kolong, Salindri menjumpai lelaki setengah baya itu. Ia sudah mengenal lelaki setengah baya itu semenjak masih tinggal di Lembah Kelelawar, sebelum meninggalkan desa. Perempuan setengah baya itu tampak gugup dan gelisah.
“Apa yang kaulakukan terhadap anak lelakiku?” tanya Salindri, dengan suara yang bergetar.
“Oh, dia pernah menggagahi putriku, Tari, di sendang.”
“Samsul pernah mencuri jagung di ladang pada tengah malam. Aku meminta Subro, anak lelakiku untuk memanah selangkangannya.”
“Kenapa kamu sekeji itu?”
“Anakmu akan lebih keji, kalau tak dilukai kelaminnya. Cuma aku yang bisa melukainya.”
Dada Salindri bergemuruh. Tetapi ia tak berani menumpahkan kemarahannya pada lelaki setengah baya di sisinya. Ia menunduk, meninggalkan ladang jagung. Dalam hati ia merencakan balas dendam.***
Pandana Merdeka, Juli 2024
S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari. Menyelesaikan program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”. Semenjak 1983 ia menulis cerpen, esai sastra, puisi, novel, dan artikel di beberapa media massa. Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen “Cermin Jiwa”, yang dimuat Kompas, 12 Mei 2007. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Kumpulan cerpen Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005), dibukukan setelah lebih dari dua puluh tahun masa proses kreatifnya. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” dimuat dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Penyusup Larut Malam” dimuat dalam Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009 dan diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018). Cerpen “Pengunyah Sirih” dimuat dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Novel yang terbit Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017), Percumbuan Topeng (Cipta Prima Nusantara, 2022). Kumpulan cerpen Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020), nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021. Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022) dan Anak Panah Dewa (Penerbit Nomina, 2022).
Tak ada suara alarm, tak ada suara anak-anak yang bernyanyi riang. Aku justru terkejut karena terbangun dalam kesunyian.
Lain dari biasanya.
Meski tak sama seperti hari-hari sebelumnya, namun satu benda yang selalu dan pasti akan kucari setiap bangun dari tidur pulas semalaman, satu benda yang biasa kusimpan rapat di bawah bantal, hanyalah satu: ponselku.
Satu, aku selalu terbangun karena tersentak suara alarm dari ponselku. Dua, aku harus mengecek aplikasi perpesanan, lagi-lagi dari benda yang sama.
Namun kini, di mana itu? Jelas sekali kalau alarm yang harusnya berdering dari sana, pagi ini tidak melaksanakan tugasnya seperti hari-hari lalu.
“Nina…Nin!” teriakku, gusar.
Nina itu nama istriku.
Tak ada jawaban.
Sepi, sunyi.
***
Matahari telah menggantung tinggi di seperempat langit dan cahayanya masuk melalui celah-celah tirai putih di kamar. Aku beranjak dari pembaringan.
Di mana ponselku?
Sial! Jam berapa ini? Mestinya alarm di ponsel itu berbunyi pukul tujuh, membuatku jenggirat dari tempat tidur dan buru-buru meraba ke bawah bantal, mengambil si ponsel dan mematikan alarmnya, bergegas untuk mandi, sarapan, mengantar anak-anak ke sekolah dan melesat ke kantor melawan kemacetan.
Sial! Ada meeting jam sembilan pagi ini!
***
Melangkah aku keluar kamar, namun seketika kakiku terhenti di depan pintu yang menghubungkan living room dengan ruang makan sambil kutengok dua kamar di depan living room itu, kamar kakak adik yang bersebelahan dan selalu berantakan setiap pagi karena keduanya sibuk mengaduk lemari demi mencari seragam dan atau menyiapkan buku pelajaran. Kini rapi, sepi, kosong. Rumah cluster yang selalu ramai ini terasa ada di ujung bumi.
Pandangku terlempar pada jam dinding bulat yang menempel di ruang makan. Jam sembilan kurang, kurang sepuluh atau lima belas, entah!
Kenapa Nina tidak membangunkanku? Sudah jelas aku telat, kini aku harus bolos kerja dan…
Ah, di mana Nina dan anak-anak?
Di mana ponselku?
***
Dua malam lalu, Nina bilang kalau dia tak sanggup jika harus resign, mungkin dia akan mengajukan permohonan kepada perusahaan untuk boleh bekerja di rumah.
Jawabku, “Terserah kamu saja.”
Dan tadi malam, Nina pun bilang, “Andre, kalau memang itu yang kamu mau, supaya aku fokus mengurus anak-anak di rumah dan undur dari pekerjaan, mungkin akan kupertimbangkan. Aku bisa menyibukkan diri di rumah dengan membuat konten. Aku suka memasak, aku bisa memasak apa saja lalu menjadikannya konten di Instagram.”
Jawabku, “Terserah kamu saja.”
Yang terjadi di malam-malam sebelumnya, hanyalah pertengkaran-pertengkaran panjang setelah anak-anak tertidur nyaman di pembaringan.
***
Pada akhirnya kutemukan ponselku di atas meja makan.
Aplikasi perpesanan pribadi antara aku dan seseorang, masih terbuka.
Alin : Selamat tidur sayang. Jangan lupa besok pagi meeting jam 9.
Andre : Selamat tidur juga sayang. Ok, siap.
Alin : Jangan lupa taruh hp di bawah bantal!
***
Termangu kini aku, kembali ke kamar, menatap kosong pada setiap sudut ruangan.
Jam di ponsel menunjuk pada angka sembilan kurang tiga. Sudah terlambat untuk meeting, sudah terlambat untuk mencari Nina atau anak-anak.
Sudah jelas semuanya. Keributan demi keributan yang terjadi selama enam bulan terakhir, aku yakin, hari ini kami sudah sama-sama menemukan jalan.
Dua jam yang lalu, sebelum alarm di ponsel itu membangunkanku atau mungkin justru saat alarm itu berteriak dan aku tidak menyadarinya, Nina telah lebih dulu mengambil ponselku, persis di bawah bantal tempatku melabuhkan kepala semalaman. Lalu ia membuka kuncinya dengan ujung jari telunjukku dan menemukan segala macam bukti yang menguatkannya untuk pergi.
Tak ada pertengkaran lagi, Nina pun tak ingin membangunkanku demi amarahnya.
Sebab, kuyakin, Nina juga memang ingin pergi.
Inilah yang terjadi pada akhirnya di antara segala macam perselisihan yang menguatkan alasan untuk perpisahan. Istriku sudah tak tahan, pun aku memilih perselingkuhan. Jadi pagi ini, aku hanya terduduk di ujung ranjang sambil terus menerus berpikir : “sudah, kan?“
Alarm di ponsel berbunyi, tepat pukul 9. Untuk yang satu ini pun aku tahu, tentu Nina yang menyetelnya demikian.
Sara Sujana, dari Yogyakarta. Suka kopi, kadang sehari tiga kali. Instagram: @sarasujana46.
“aku merindukan harum ketiakmu, di pagi yang masih putih,”
lalu bergegas mandi. menyiapkan matahari serupa mata sapi
luruh masuk dalam tangismu semalam
masih ada bau tubuhmu, menyatu dengan napasku
di gigir kulit coklat, merendam mimpi semalam
tak perlu kita bercakap tentang rumah, kota, atau manusia
sebab sentuhanmu sudah berkisah banyak
menumbuhkan benih bunga yang ada di lenganmu
setiap kali kukoyak sedihmu, air matamu tingkap
merupa gerimis masai. renyah dalam duka
terlalu sering kau menangis, memanggul sebagian deritaku
“aku merindukan getah bibirmu, bukan di malam-malam yang penuh lenguh,”
semestinya, aku bersujud kembali pada pelukanmu
menghitung petaka dari seluruh ragu yang gagu
setiap kupapah peristiwa yang tak sempat terbingkai
bahkan oleh sebaris kalimat pesan pendek, dering telepon yang berisi percakapan,
atau kesunyian kita tentang sekelumit asmara yang penuh amarah
tiba-tiba aku menciut, meski kelopak mawar merekah
di halaman hatimu
“aku benar-benar tak ingin melihatmu menangis. apalah kita, jika kau hanya serupa perempuan cengeng. menunggu pintu-pintu nasib di dalam rumah?”
lantas kugegaskan saja perjalanan ini
mestinya kita sujud bersama, mencari cinta yang baru
bukan sesat dan penuh isak
2019
Sajak Tentang Hujan Malam
tak ada yang kekal
bau hujan
tanah yang bergulingan
aspal basah
cahaya lampu bersejajar
semua mengkilap
menghapus duka
hujan yang deras itu membangunkan seluruh keterjagaanku
lewat berkas kejanggalan. impian dari pernikahan yang bahagia
mungkin akan kuhapus semua malam pertama, seperti perihmu
seperti bekas darah merah di celana dalammu
tak ada yang kekal
hujan akan berhenti
hujan yang deras itu, acap mengacaukan semua igauan yang kau susun
ratusan hari di masa lalu yang terbengkalai
tinggal tiang-tiang besi karatan yang menancap
asamara yang terlunta, hidup yang begitu rutin
adakah yang kekal?
selain matahari
aku merupa ibrahim mencari tuhan. semuanya padam
gulita. kubaca zarathustra
tak ada
tak
tak ada
tak ada yang kekal
hujan akan berhenti
meski aku akan berlabuh di jantungmu lagi
2019
Ujung Percakapan
1.
percakapan ini akan ada ujungnya
kau akan mendapati sebuah pagi
yang miskin matahari di sana
tak ada bentang cakrawala
cuma pertikaian yang kerap tak sudah
2.
mestinya aku tak mengangkat telepon seluler itu
kumatikan dan kutinggal pergi untuk tidur
masih banyak hal-hal lain yang tak terucap
bukan karena kata
bukan sekadar percakapan hampa
3.
tapi sudah jauh kita melangkah
tak perlu kita kebas lintangan nasib
sebab akan kita khidmati seluruh karib
merentangkan sebilah mimpi yang resah
2019
Senin Pagi
Tak dapat kutemukan sisa parfum di telapak tanganmu. Memintal doa-doa busuk ke pusara. Tebing yang nganga, aus dalam labirin, sebuah masa silam yang redup. Seperti bahumu tegak, tempat pertama kali kecut lelaki singgah, menjadi arjuna yang selalu sepi
Tapi, senin pagi tadi, jendela kamar tak juga berkoar, memanjati cahaya matahari hingga basah
Mungkin, ada baiknya aku menghitung waktu yang tergelincir dari ketiakmu, napas sesak perempuan, lipatan badan yang kasmaran, dan tak dapat kutemukan sesuatu, bahkan ketika kusibak kitab-kitab puisi yang terus merakit sunyi demi sunyi
2019
Gerimis Tak Sampai
Tiba juga gerimis itu, bermain di depan rumah. Meski, tak sampai ke dalam kamar. Membingkai setiap dingin yang makin bukit, hingga matamu tergenang. Menyirami letih tubuh, sambil berharap mimpi buruk segera pergi
Besok, cuaca akan berubah, kuyup di tubir jejak yang lumpuh. Mengingat setiap pinak peradaban, menyilet dalam kekal. Aku tahu, kau akan terus mengenang apa-apa yang pernah pergi dari ruangan ini
Sejumlah pertikaian yang membeku di kepala, seperti membangkitkan amarah
Tapi, gerimis tak lagi sampai
Menepikan kegamangan, atau sekadar mengusik bayang-bayang
Selalu saja membungkus kita dalam udara yang dingin di pori
2019
Alexander R. Nainggolan, lahir di Jakarta, 16 Januari. Bekerja sebagai staf Unit Pengelola Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPPMPTSP) Kota Adm. Jakarta Barat. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di media cetak dan online. Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (kumpulan puisi, Penerbit basabasi, 2016), Dua Pekan Kesunyian (Penerbit JBS, 2023).
Sebenarnya, di mana Jon? Urusanku belum kelar. Ada banyak perkara yang ingin kubicarakan. Sekarang, aku sudah terkapar di sini, diliputi penyesalan setebal kabut yang menghalau pandangku. Secepat mungkin, aku harus bertemu dengannya.
“Jon!”
Di sekitarku, seperti kebanyakan orang yang tampak gamang, aku berusaha mencari Jon. Kuedar pandang ke segala penjuru—barangkali ia berada tak jauh dari sini. Tak lama, kabut berangsur naik, awan-awan tersibak memunculkan sengatan matahari. Setelah mataku berhasil melihat, di padang berpasir ini, mengapa wajah semua orang begitu aneh dan asing? Di antara mereka ada yang tak punya mata, mulut, dan telinga. Adapula tangan, kaki, dan kepalanya buntung.
“Jono! Temui aku, Jon! Aku temanmu! Aku…” Aku lupa nama dan aku tak kenal siapapun di sini. Semua orang tampak cacat dan buruk rupa. Begitu pun diriku. Walaupun, ragaku utuh, tapi kulitku sehitam arang.
“Muncullah, Jon! Kau di mana?”
Ketika aku melihat tubuh manusia setengah hewan, ragu apabila kusebut salah satu dari orang-orang yang berkepala anjing, babi, atau ular itu sebagai Jon. Seingatku dulu Jon pernah bilang bahwa orang yang selalu berbuat baik, tak akan mungkin dibangkitkan pada hari akhir dengan bentuk buruk. Aku sendiri tahu, Jon orang baik. Dulu, ia sering datang ke majelis ilmu dan selawat. Kepada siapapun, aku kerap melihat Jon memberi wejangan tentang pentingnya salat dan membaca kitab bagi seorang muslim.
Setelah kupikir, mustahil jika Jon berada di dekat sini. Aku berlari menerjang orang-orang di sekitarku sambil membawa keyakinan bahwa mungkin sekarang, Jon berada di suatu tempat bersama orang-orang yang semasa hidupnya takut dosa. Mungkin di ujung sana, Jon sedang bersama orang-orang yang tubuhnya utuh bercahaya dan tak merasa udara sepanas ini. Aku sangat yakin karena Jon memang orang baik. Aku ingin bersamanya. Semoga Jon masih mengenaliku.
“Tolong, Jon! Selamatkan aku!”
Lama tak ada jawaban, aku berhenti, lalu mencoba melihat tubuhku—keringatku terus mengalir. Tapi, aku masih bisa mengendalikan diri di tengah orang-orang yang sedang berguling-guling atau berlari menabrak satu sama lain. Oh Tuhan, apakah ini yang dimaksud Jon bahwa kelak manusia akan berterbangan seperti laron? Jika benar, seharusnya aku juga kebingungan dan lari tunggang-langgang mirip mereka.
Tentu aku berpikir seperti itu karena semasa di dunia, aku jarang beribadah dan bersedekah seperti Jon. Selain tak punya waktu dan tak punya banyak uang, aku malas berurusan dengan kegiatan agama, terlebih jika itu disaksikan banyak orang. Aku tak mau disebut-sebut alim, apabila sedang melakukan hal-hal baik, sementara apabila aku sedang mabuk, aku risih mendapat omongan buruk dari masyarakat.
Namun, jika memang aku sedang ingin beribadah dan bersedekah, aku lebih memilih sembunyi-sembunyi. Kata Jon, pahala tidak ditentukan dari banyaknya orang yang melihat. Aku setuju itu. Jika sempat, diam-diam aku menggelar sajadah di kamar—bersembayang sekhusyuk mungkin, meski aku tak benar-benar percaya Tuhan. Terkadang, juga kubuka kitab—membaca satu dua huruf arab yang bergandang-gandeng, kemudian kututup kembali lantaran tak tahan terbata-bata. Kalau lewat jalan raya, kerap kujatuhkan juga uang receh—harap-harap ada yang mengambil, walau itu cuma sedikit.
Hanya itu yang mampu kulakukan. Tak bisa dibandingkan dengan Jon yang celengan pahalanya begitu besar. Jon rajin beribadah, bersedekah, dan selalu berbuat baik. Aku ingat ia begitu mulia karena mau mengajakku datang ke majelis selawat. Untuk pertama kali dalam hidupku yang tidak terlalu menyenangkan ini, mencoba mendatangi acara itu, aku terpukau mendengar suara pemimpin selawat yang kelewat merdu. Orang itu bersyair panjang sambil menengadahkan tangannya dan mengajak penonton menirukannya. Berbeda dengan acara pengajian yang ceramahnya selalu membuatku mengantuk, aku justru ingin menangis memperhatikan semua orang serempak mengucapkan syair yang tidak bisa kuikuti. Kala itu, aku menoleh ke arah Jon. Jon menatapku tersenyum.
“Kau hapal semua?” tanyaku
“Tidaklah. Cuma beberapa.”
“Aku tidak tahu lagu-lagu, kecuali Ya Rasulallah.”
“Nanti juga tahu. Yang penting suatu saat bisa dapat payung nabi.”
“Payung nabi?”
“Ya. Orang yang suka selawat akan dapat payung nabi di hari akhir.”
“Meski aku pemabuk?”
“Meski kau pemabuk.”
Akhirnya, sebulan sekali, aku sering mengikuti Jon ke acara majelis selawat di kota-kota terdekat. Terkadang kami berangkat berdua, tapi lebih sering Jon membonceng teman perempuannya. Walaupun di depan panggung, tempat laki-laki dan perempuan dipisah, Jon lebih suka berbincang dengan teman perempuannya setelah acara selesai, sementara aku dibiarkan sendiri sampai kemudian kita bertemu lagi di kos. Di perjalanan pulang, aku sering mampir di angkringan untuk makan malam, atau jika benar-benar kesepian, aku nekat mlipir ke terminal membeli bir. Sebab aku belum bisa untuk tidak meneguknya sama sekali.
Sampai suatu kali, ketika aku benar-benar ingin bertanya perihal hukum membawa perempuan ke majelis selawat, padahal keduanya belum menikah, Jon justru bermuka masam dan menyerangku dengan pertanyaan beruntun.
“Apa salahnya? Kau tak suka? Kenapa kauurus hidup orang?”
“Loh, aku cuma tanya.”
“Aku ajak dia biar sama-sama masuk surga. Sama seperti aku ajak kamu. Malah sebelum aku nawarin kamu, dia udah sering ikut majelis dulu.”
“Kenapa kau marah?”
“Siapa yang marah?”
“Kau tak sadar dengan nada bicaramu?”
“Apa?”
Sejak kejadian itu, aku tak pernah mengikuti Jon ke majelis selawat. Namun, masih sempat beberapa kali aku bertanya kepada Jon, apakah manusia bisa menentukan dirinya masuk surga atau neraka. Mengingat jawaban Jon tak pernah memihak, untuk hari-hari berikutnya, ketika kami berpapasan di kos, kami hanya bertegur sapa seperlunya.
Mata Jon selalu nyalang menatapku. Ia selalu bertanya, “Apa?” Setiap kami bertemu. Aku memilih diam karena apa yang keluar dari mulutku dapat menjadi penyebab pertengkaran. Seperti, ketika jam tiga malam Jon baru pulang ke kos dengan leher merah-merah mirip gigitan serangga, aku yang pada saat itu bertanya, “Dari mana?” langsung disahut dengan kata-kata kotornya.
“Anjing! kenapa kauurus hidup orang!”
Kalimat itu cukup kuat melukai hatiku. Esoknya, aku pindah kos. Jelas aku marah. Tapi, aku tak bisa meluapkannya. Aku tahu setiap laki-laki memerlukan perempuan untuk menemani hidupnya.
Enam bulan setelah itu, kami lulus kuliah dan tak pernah bertemu lagi. Jon pulang ke kampung halamannya, sementara itu aku sudah berencana melanjutkan hidup bersama kekasihku. Usai menikah, istriku bilang bahwa aku harus memperbanyak selawat. Hal itu bukan supaya masuk surga, melainkan untuk mendapatkan syafaat. Aku tahu apa itu syafaat. Syafaat adalah sebuah pertolongan seperti payung nabi yang pernah Jon katakan.
Seiring istriku bicara bahwa di hari kebangkitan nanti, terdapat golongan yang tidak kepanasan, meskipun matahari setinggi satu mil di atas kepala, sebab seorang nabi telah memberikan payung terhadap umatnya, sontak aku teringat segala kebaikan Jon. Jon adalah orang pertama yang mengenalkanku pada dunia majelis selawat. Aku menduga, kelak Jon pasti menjadi salah satu orang yang mendapatkan syafaat. Maka, alangkah buruk bagiku, jika aku menjauhinya dan tak pernah meminta maaf kepadanya. Aku ingin bertemu Jon.
“Azka?” suara lembut itu masuk ke telingaku. Ya, Azka adalah namaku. Siapa yang membisikkannya?” Kini ingatanku terpecah-pecah. Aku tak sadar sudah berlari sejauh mana. Kakiku keram. Aku melihat tubuhku—semuanya tetap hitam. Mulai kurasakan mulutku berbicara, tetapi aku benar-benar tak menggerakannya.
Jon! Teriakku dalam batin. Belum sempat aku menyusun ingatan tentang apa yang terjadi dalam hidupku, aku dikejutkan oleh manusia berbadan ular yang menggelepar di tanah. Manusia setengah ular itu semakin mendekatiku dan dalam sekejap ia melilit tubuhku. Aku takut. Namun, aku bisa cepat melepaskan diri, lari tunggang-langgang melewati orang-orang, seolah-olah aku dapat menembus mereka.
Beberapa saat, aku tidak tahu mengapa aku berhenti di tempat yang tak lagi berhawa panas. Keringatku hilang. Seluruh badanku sejuk. Kupandang langit, tiada lagi matahari setinggi satu mil di atas kepala.***
Tirai yang terbengkil-bengkil susah payah kau singkap itu senyata luas terpampang di hadapanku. Meskipun belum sepenuhnya terang kumasuki. Akan tetapi hitam putih yang terhampar di sana halus-halus mekar dalam liat merahku. Tentu saja merah yang bebal-teruk dan bukan main litak pada suluk pencariannya. Bagiku, menjadi salik (serupa kau) patut mengajuk jalan yang kau pajang melintang lepang. Karena itu janganlah cemeeh yang kau tonjolkan, sehingga esok kiranya tumbuh menjulang tiada antara kita yang perlu bertukar belas kasihan.
Akasia 11CT
Hijau
Terberkatilah ibumu telur mata sapi pagi; dan ayahmu luas langit tengah hari. Sampai bentala semata indah oleh halus-tebal budi pekerti; indra kami segar-bugar memandangi.
Dari rambutmu yang mahir menyaru, tahukah kau kami belajar mendirikan rencana (kami simpan yang patut dan kami bagi yang layak dibagi). Agar kelak apa yang belum kami maklumi, mudah percuma kami siasati.
Akan tetapi, (oh daging tak tahu diri) terlampau loba kami mencuri perangaimu tinggi agung tak berperi; namun senyata tak putus terus memberi. Sehingga semua rencana tentang akal budi, sekejap tunggang langgang angkat kaki.
Maka baris-berbaris kami ingin menakluki; semua yang telah sempurna kau masuki. Seraya diam-diam, kami tebas pula urat leher anak-cucumu yang kokoh berdiri (menahan laju limpahan bah).
Sungguh, betapa hijau kini tubuh kami sekadar mahfum cintamu tak kunjung habis menepi. Oleh karena itu, kutuk saja kami segera! Sebelum hijau budi pekerti tandas merasai jatuh ke bumi.
Akasia 11CT
Kuning
Belerang, bambu, gersing, India, jagung, janur, jenar, kenari, kepodang, limau, loyang, madu, malam, pepaya, pandang semua senang semata mengenakan mantel mahardikamu. Kau acap pula kupergoki berbaring di antara roti sarapan pagi; kadang dalam piring warteg makan siang kami, pun begitu juga kau terampil mahir menyelinap ke Terang Bulan kami yang legit menggigit (lihat, betapa pelit kami berbagi, sedangkan kau tekun rajin memberi).
O, betapa papa kami, sampai-sampai alpa bila namamu pernah pula duduk mesra bersanding dengan moyang bangsa Huaxia yang maju sejahtera. Begitu pula sungai yang jenjang dari pegunungan Tibet tak kuasa menerima kau sebagai nama. Kekallah; abadilah meski riwayatmu tak selalu terbaca mata. Kaukah cahaya yang menjelma terang siang, atau sebatas ilusi pantulan, belaka?
Akasia 11CT
Merah
Umpama jantung jelita tertawan gelisah
susah payah menanggung derita rindu,
seperti gaun terang wong cilik di pemerintah
tak cukup buas menjaga amanat rakyat
ibarat selimut orok dalam kantung darah
licinlah; lancarlah jalan melewati liang,
serupa tandik lombok Jawa di lidah
amboi; keringat dingin jua nan mengalir,
(tapi bukan jerawat; bukan pula kecup puan,
walau mekar meriah kala tuan hadir bertandang) –
percayalah itu semata laksana,
misal belaka perihal jubah yang terang menyala,
memelompat bersembunyi dalam kata pun bahasa,
supaya terhalau duga sangka ke tepi jurang
tikai selisih yang tak berguna.
Akasia 11CT
Biru
kemari, datanglah segera laut
biar kucelupkan jari-jari pagi
ke alas tubuhmu yang semrawut
kesini, lekas cepatlah langit
agar kugenapkan putih sepi
menjadi corak terang menggigit
tapi, baik-baiklah memantul
supaya lapang-lempang jisimmu
mudah percuma nubuat menukilkan
selendang rambutmu molek di bait puisi
Akasia 11CT
Putih
Jika hatimu semerah apel di kebun Tuan sukacita. Maka putih hatiku laksana awan selepas hujan sore di gubuk duka lara. Kata orang, hati yang merah tampak memesona. Sehingga segenap yang kering pucat betapa kukuh-ingin tampil menyentak. Namun bila kekasih adalah tujuan, maka yang putih akan selalu rela berkorban. Serupa laron terbang menuju pijar terang; biarlah mati asal wajahnya terang terlihat.
Akasia 11CT
Ilham Wahyudi, lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia seorang juru antar makanan di DapurIBU dan seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Puisi-puisinya ada yang ditolak redaksi ada yang dimuat redaksi. Buku kumpulan puisinya “Pertanyaan yang Menyelinap” akan segera terbit.