Katalog

Cerpen

Kau adalah Anakku Sekarang

Cerpen Era Ari Astanto

Lelaki berotot besar berambut cepak dan berkumis melintang itu berhenti mencengkeramku ketika tiba di depan sebuah rumah kecil sederhana yang sudah dipenuhi orang-orang, dan semuanya tidak ada yang kukenal. Dia mengempaskanku dengan kasar di halaman dan berkata dengan gusar, “Temanmu sudah mati.”

Aku tak berkomentar. Aku merasa di antara senang dan sedih. Senang karena kematian orang itu berarti kebebasanku lagi, sedih karena aku tahu bagaimana rasanya ditinggal mati orang tercinta. Sebelum aku merasakan lebih jauh, aku mendengar riuh tangis dari dalam rumah. Lelaki besar berotot itu menarikku masuk ke dalam rumah, lantas mendorongku hingga mendesak orang-orang yang berkerumun.

Semua orang menjeda tangisnya sebentar dan memberi jalan. Lalu, menutup jalan lagi dan mengelilingiku sambil melanjutkan tangisnya. “Jangan menangis di luar kewajaran, ya,” kata beberapa di antara mereka kepadaku dengan penuh perhatian.

Aku sebenarnya ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi rasanya sekarang tidak ada gunanya mengatakan hal-hal itu. Yang mampu kulakukan akhirnya hanyalah mengangguk dan memperlihatkan raut sedih.

Lalu, kerumunan menyibak sehingga tampak seorang wanita renta terhuyung ke arahku dan meraih tanganku. Air matanya mengalir di pipinya. “Anakku sudah mati,” isaknya.

“Aku tahu,” kataku. “Aku sangat sedih, semuanya terjadi begitu tiba-tiba.”

Kata-kataku yang sesederhana itu ternyata justru membuat air matanya mengalir lebih deras. Bahkan, ratapannya sekarang begitu menyayat, membuat bulu kudukku berdiri.

“Tolong jangan terlalu bersedih seperti ini, Bibi,” kataku.

Dia mendengar kata-kataku. Tangisnya sedikit mereda. Tanganku yang masih digenggamnya ditarik ke wajahnya, dan dengan punggung tanganku dia mengelap air matanya. Dia kemudian menatapku dengan masih terisak, dan berkata, “Kamu juga harus menerimanya dengan tabah.”

Aku mengangguk mantap. “Pasti, Bi. Tapi, jangan biarkan kesedihan menyakiti Bibi.”

Dia mengangguk, “Kamu pun harus menjaga kesehatan.” Katanya sambil mengelap air matanya dengan tanganku lagi. Jika tidak dipegang dengan erat, pasti aku sudah menariknya.

“Tentu, Bi—semua yang ada di sini pun harus melakukannya,” kataku. “Kesedihan ini harus kita ubah menjadi kekuatan.”

Dia mengangguk. “Kuharap kamu tidak menyalahkan putraku karena dia telah mengembuskan napas terakhir sebelum kamu sempat menemuinya.”

“Tidak, Bibi. Aku tidak akan pernah menyalahkannya,” kataku.

“Kuminta kamu tidak terlalu bersedih,” katanya dengan masih terisak.

“Aku hanya khawatir tidak dapat menahan air mataku, Bi.”

Dia tersedu lagi dan sekali lagi mengelap air matanya dengan punggung tanganku. “Dia satu-satunya orang yang kumiliki, tetapi kini dia pergi. Kau adalah anakku sekarang.”

Aku terkejut dengan kalimat terakhirnya. Kini aku merasa air mataku menggenang. Kutarik tanganku dengan sedikit memaksa dan putus asa. Aku berhasil mendapatkan tanganku kembali setelah mengatakan bahwa aku membutuhkannya untuk menghapus air mataku sendiri. Lalu tanyaku, “Benarkah itu, Bibi?” Aku tak punya kata-kata lain, kecuali itu.

Entah apa yang dipikirkannya, tetapi setelah aku bertanya seperti itu, tangisnya kembali meledak beberapa lama. Setelah reda, dia menarik tanganku dan membawaku ke ruangan lain. Di dalam ruangan itu dia berkata, “Temanilah saudaramu sebentar.” Lalu, dia keluar.

Kukitarkan pandangan. Tidak ada siapa pun, kecuali sosok yang terbaring di atas dipan dan ditutupi dengan kain kafan putih. Ada sebuah kursi di sebelah dipan. Aku menggesernya sedikit, lalu duduk di sana.

Aku duduk diam di sana hingga beberapa lama dan hanya memandangi jasad tertutup kafan, jasad orang yang tidak pernah aku kenal. Sampai akhirnya aku merasa penasaran untuk melihat seperti apa wajah orang itu. Kuangkat kafan yang menutupinya. Sekilas kulihat wajah pucat, usianya masih muda. Aku benar-benar merasa tidak mengenalnya. Kututupkan kembali kafan itu dan berguman, “Jadi, inikah temanku?”

Pikiranku gelisah, menerka-nerka apa yang akan terjadi terhadapku setelah pemakaman orang ini. Lalu, kucoba mengingat dan merenungkan rentetan kejadian yang menyeretku hingga di sini.

Semuanya bermula pada pagi tadi, terjadi begitu saja dan sangat cepat.

Aku terbangun dan mendapati hujan yang turun sejak tengah malam tadi masih juga bertahan. Hawa dingin yang dibawanya membuatku malas bangkit dari kasur. Kuraih ponsel di meja kecil yang berimpitan dengan tempat tidur ini. Pukul 6.41. Jika bukan karena hujan itu, sinar matahari sudah menyusup melalui celah jendela dan membuatku tak betah tiduran seperti ini. Kuletakkan kembali ponsel di meja kecil, lalu kutuntun telunjuk kanan ke sudut mata kananku, menggosok gumpalan kotoran di sudutnya. Itu pasti terkumpul saat aku tidur, dan membiarkannya tetap di sana adalah tidak pantas. Aku tidak terburu-buru bangun, dan karena itu aku mencongkelnya dengan santai. Tiba-tiba sisi pahaku merasa dingin. Mungkin karena angin dingin yang menyusup melalui celah-celah jendela. Dan tangan kiriku yang menganggur menjadi berguna dengan merapatkan selimut. Aku baru menyadari bahwa kemarin sebelum tidur aku melepas baju dan celana panjangku. Udara begitu panas kemarin. Kipas angin kecil yang kubawa tidak memberi pengaruh apa-apa sehingga tidak memberiku pilihan lain kecuali melepas pakaian luar. Aku cari-cari di mana baju dan celanaku dengan memanfaatkan mata kiriku yang menganggur. Kulihat mereka ada di sebelah meja kecil, teronggok dan tampak kusut.

Terdengar suara pintu diketuk.

Aku mengabaikannya karena kukira itu ketukan di pintu rumah sebelah. Itu wajar, karena pintunya bersebelahan. Dinding pembatas rumah yang kusewa untuk beberapa bulan  ke depan ini memang serupa sekat antarkamar, satu dinding tembok dipakai untuk dua rumah. Rumah ini kecil: hanya memiliki satu kamar tidur, satu dapur kecil, dan satu kamar mandi sempit. Terletak di pinggiran kota, dekat dengan lingkungan kumuh. Aku sengaja menyewanya semata-mata agar dekat dengan masyarakat di lingkungan kumuh yang harus aku teliti sebagai prasyarat kelulusan kuliahku.

“Hei … temanmu sekarat, dan kau masih sempat tidur?” sebuah suara di sela-sela ketukan.

Aku mengernyit. Aku merasa tidak punya teman satu pun di sini. Aku di sini sendiri, tidak ada siapa pun yang aku kenal sebelumnya. Aku di sini baru tiga hari dan baru tiga orang yang aku kenal: Pak Rt, pemilik rumah ini, dan satu petugas hansip. Aku berpikir semua data diri sudah aku berikan kepada mereka secara lengkap dan uang sewa sudah aku lunasi di awal. Jadi, rasanya janggal jika di antara mereka bertiga datang sepagi ini menemuiku untuk urusan itu. Namun, ketukan itu memang untukku. Apakah kata-katanya hanya pancingan agar aku membuka pintu?

Aku berpikir, seseorang pasti telah salah mengetuk pintu. Jadi, aku tetap mengabaikannya dan melanjutkan membersihkan gumpalan di mataku. Namun, ketukan itu terus berlanjut. Ketukannya kini terdengar memaksa dan kasar. Siapa dia? Aku ingat tentang bagaimana kebiasaanku di rumah: setiap kali aku kembali setelah pergi, aku akan selalu mengetuk pintu dengan baik, dan menggunakan kunciku hanya ketika yakin tidak ada orang yang akan membukanya. Sekarang, ketukan itu menjelma gedoran. Orang di luar pasti melakukannya bukan dengan buku jari, tetapi dengan tinju tangannya atau kakinya. Gedoran itu terdengar semakin kasar dan keras. Aku ingin tetap mengabaikannya, tetapi aku berpikir, jika sampai pintu itu jebol maka aku yang harus bertanggung jawab karena memang begitu perjanjiannya dengan pemilik rumah. Sayang rasanya jika harus kugunakan uang untuk hal yang sebenarnya bisa kuhindari.

Aku segera bangkit, mengenakan celanaku dengan terburu-buru dan segera menuju pintu depan tanpa sempat mengenakan baju. Namun, sebelum aku mencapai pintu, terdengar benturan yang sangat keras. Pintu itu jebol, satu engselnya mencelat, dan terbanting sedemikian keras membentur dinding.

Aku terhenti, terkesima dengan pemandangan itu.

Kini tampak di depan pintu seorang pria besar berambut cepak dengan tubuh penuh otot besar menggelembung di sana-sini. “Kau ini keterlaluan. Temanmu sekarat dan kau malah santai-santai seperti ini?” Saat bicara, matanya melotot, kumis yang melintang membuatnya tampak makin garang.

Aku tidak paham apa yang dia katakan. Aku berpikir dia pasti salah orang. Kutenang-tenangkan diriku dan mencoba bicara. “Mungkin Anda datang ke alamat yang salah, Paman.”

“Temanmu yang sekarat kini membutuhkanmu dan kaupikir aku sedang buang-buang waktu dengan bermain-main alamat palsu?” Dia berkata keras, nyaris berteriak.

Tidak ada keraguan sedikit pun di wajahnya atau nada suaranya. Keyakinannya yang membara mampu membuatku ragu terhadap diriku sendiri. Jangan-jangan kemarin aku yang terlalu lelah sehingga salah masuk rumah. Aku melompat ke luar, memeriksa nomor rumah di atas bingkai pintu. Ini memang rumah yang kusewa. Tapi, aku tak mengenal lelaki besar dengan kumis melintang ini. Aku yakin dia salah alamat.

“Ini rumah yang kusewa tiga hari lalu. Paman mungkin salah orang.” Kataku dengan sikap sangat percaya diri.

Melihat sikap percaya diriku, dia tampak bingung. “Kamu Wage, bukan?”

“Ya. Memang. Tapi, aku tak pernah mengenal Paman.”

Mendengar jawabanku dia mendengus, amarahnya menyala. “Hei dengar! Temanmu sekarat!”

“Tapi, aku tidak punya teman di sini. Hanya Pak Rt, pemilik rumah ini, dan satu hansip yang aku kenal di sini.”

“Omong kosong, dasar pencundang kecil!” Dia memelototiku.

“Aku mahasiswa yang melakukan riset lingkungan di dekat sini,” kataku. “Paman bisa melihat bukti-buktinya. Jika Paman mencoba untuk melepaskan orang itu padaku, aku benar-benar menolak, karena aku memang tidak pernah memiliki seorang teman pun di sini. Namun …,” Aku melembutkan nada bicaraku. “Namun, Paman tidak perlu khawatir, Paman bisa menyumbangkannya ke salah satu tetangga di sini. Mereka pastinya punya banyak teman dan menurutku salah satu dari mereka tidak akan keberatan, dan bahkan mungkin Paman bisa mengajak yang lain.”

“Tapi dia temanmu, berhentilah menyangkal!” Dia perlahan mendekatiku. Matanya tampak menyala, mulutnya sedikit menganga seolah bersiap melahapku.

“Sebenarnya, siapa orang yang Paman bicarakan ini?”

Dia menyebutkan sebuah nama yang terasa asing ditelingaku.

“Aku tak kenal nama itu!” Aku berteriak.

“Dasar pecundang! Masih berani menyangkal?!” Dia mengulurkan tangan sebesar betisku dan mencoba meraih leherku.

Refleks aku mundur hingga sampai di sudut tempat tidur. Aku tahu aku akan kalah jika berkelahi dengan orang ini. Tapi, aku mencoba menggertak dengan putus asa, “Aku mahasiswa yang sedang meriset lingkungan di sini. Aku punya bukti-buktinya. Jika kamu masih memaksaku, aku terpaksa harus mengusirmu dari sini.”

Dia menanggapi dengan mengulurkan tangannya yang kuat dan menjambak rambutku hingga aku kesakitan. Aku beberapa kali mencoba memukulnya, tapi sepertinya tidak berpengaruh apa pun baginya. Dia terus menyeretku dari sudut kasur dan mencampakkanku ke lantai seperti sampah. “Jangan banyak tingkah! Pakai bajumu! Cepat!” bentaknya. “Atau aku harus menyeretmu seperti tadi, hah?!”

Aku sadar, tidak ada gunanya berdebat atau berkelahi dengan orang ini. Dia setidaknya tiga kali lebih kuat dariku. Jika aku nekat, dia bisa melemparku ke pembuangan sampah yang tak jauh dari sini dengan sedikit usaha seperti dia akan membuang sekarung sampah ke selokan. Lalu, kataku, “Jika kehadiranku menyenangkan hati orang yang sedang sekarat, aku akan pergi melakukannya.” Aku bangkit perlahan dan meraih baju di samping meja kecil.

Begitu melihatku selesai mengenakan baju, dia segera menarikku dan mendorongku keluar. Di luar, hujan semalam masih menyisakan gerimis. Aku ragu melangkah. Namun, dia terus mendorongku dari belakang, membiarkan gerimis membasahiku. Dia sendiri membawa payung. Ketika aku minta sedikit ruang di bawah payungnya, dia mencengkeram lenganku dan melemparkanku ke depan. Sungguh pagi yang buruk, berbasah-basah dalam gerimis hanya untuk mengunjungi teman yang tidak pernah aku kenal.

Begitulah yang terjadi padaku.

Aku masih duduk di sini, di kursi di samping jasad itu, hingga beberapa lama sambil memandangi jasad yang sudah aku lupa wajahnya meski baru saja aku lihat. Aku ke sini bukan atas kemauanku, tapi agar terbebas dari teman yang tak kukenal ini. Namun, kematiannya ternyata tidak membebaskanku, karena seorang janda renta telah menggantikannya, memasukkan dirinya di dalam tanggung jawabku. Aku bisa saja pergi diam-diam. Tapi, kemanusiaanku mencegah. Tak tega rasanya membiarkan janda renta dan miskin tanpa penjagaan dan perawatan. Memercayakannya kepada yang berwenang sama saja membiarkannya hidup terlunta-lunta. Biarlah nanti aku yang merawatnya, memberikan tanganku sebagai sapu tangan, dan membersihkan kubur anaknya. Setidaknya sampai dia tutup usia.

Sekarang, yang terpenting menurutku, aku harus menemukan tukang kayu untuk memperbaiki pintu yang telah ditendang oleh lelaki besar itu. Itu tanggung jawabku atas kesepakatanku dengan pemilik rumah sewaan itu, selain juga untuk keamanan barang-barangku.


Era Ari Astanto penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di komunitas Sastra Alit. Karya tunggal yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (Najah, 2013), The Artcult of Love (Locita, 2014), Novel Bertutur Sang Gatholoco (Basabasi, 2018), Novel Riwayat Bangsat (Basabasi, 2019). Karya antologi: Memoar Bermasjid (Diomedia, 2017), kumcer Masa Depan Negara Masa Depan (Surya Pustaka Ilmu, 2019), Memoar Ramadhan dan Merantau (Diomedia, 2019), kumcer Hanya Cinta yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya (Divapress, 2020). Cerpen-cerpennya juga tayang di beberapa media online. Buku terbarunya yang terbit: Novel dwilogi Nama yang Menggetarkan (Diomedia, 2020).

Puisi

Puisi Ahmad Radhitya Alam

Bianglala

Benar saja,

sekumpulan warna

pulang kampung

di selasela derai cemara

Di batas cakrawala, bias menjelma

            lingkaran roulette di mata penjudi

dan target operasi di mata polisi

Bianglala hilang

dalam hitungan menit

tanpa sempat mengatakan

pesan terakhirnya

Yogyakarta, 2022


Tubuh Waktu di Kota Maya

Di tubuh waktu aku memuai bersama udara kota

menyelisik masa tanpa tanda akan bersua

serupa rumah yang tak kunjung dihuni

kosong dan tak pernah terisi

Dengan seluruh perhitungan waktumu

kembalilah ke punggung masa

sebelum semua benar-benar maya

Di waktu yang makin batu

hidup hanya memupur bahasa

memendam isi hati dalam mulut teknologi

membungkus akal budi dalam wajah Instagram tivi

Dengan segenap wirid  yang dirapal ibu tanpa jeda

jadilah penerang di batas usia, luruh jadi suluh sederahana,

meski maktu memaksamu terus berpura-pura

maka sudahilah kemarau di kepala, kejahatan dunia maya,

lipatan dalam perkawanan masa, nyanyi bising di telinga,

keruh hati harta dunia, dan cintailah semua dengan

angan yang mengambang dalam perenungan

dari lautan taksa kita bermula

lalu hempas di ombak masa

tanpa sempat melepas kata-kata

lalu hilang dalam hitungan angka

Yogyakarta, 2023


Kasih Tak Santai

Dalam syair masa lalu

yang terkubur dalam madah sembilu

ayat peraduan telah mencipta

ritus khayali tentang requiem

yang dinyanyikan tanpa kata

Nada-nada dilantunkan

koda-koda didendangkan

doa nyaris hilang dari persembahan

cinta seakan menunggu ajal ditetapkan

Kuingat engkau, serupa kuingat syair

yang menyisakan titik nadir dalam

seonggok pasir, pongah, lalu mangkir

saat akan disisir, menyisakan tangis tanpa

mata berair, dan kenang yang terus

melekat hingga akhir

Di ujung hari

geram gusarmu mulai

keluar masuk kepala

tanpa kalimat sapa

Mencintaimu bukan soal

bagaimana cara bertahan

mencintaimu adalah seberapa

kuat merawat kehilangan

Yogyakarta, 2021-2023


Malam Tahun Baru

jika ada yang mencariku

aku tidak kemana-mana

aku di rumah

menumpahkan resah yang ruah

maaf.

sebab aku tak bisa menemanimu

merayakan pergantian tahun

ada yang lebih butuh ditemani

dalam riuh ramai kembang api

            tubuh sunyi

            diri sendiri

/2/

setelah sehari penuh

tubuh penuh peluh.

isi tenagamu dengan tidur

            sebab nanti malam perayaan syukur

sorak ramai retak-retak

nyanyi sunyi larik sajak

terdengar sampai ruang-ruang

kamar belakang

seperti biasanya

aku setia mendengar letus kembang api

            hanya dalam kamar

            sunyi geletar

Yogyakarta, 2022-2023


Merakit Cuaca

langit kota masih basah

oleh hujan air mata

yang dirakit dari luka-luka

menganga dan terbuka

lebih dari seharusnya

ikatan adalah musim dendam

yang kupendam dalam sekam

Yogyakarta, 2022


Lintasan Manusia Indonesia

dari ingatan yang pecah berserak

kaususun getas dasar yang retak:

cermin negara

dengan kota dan kata

dengan revolusi yang ledak berkali-kali

serak suara menebal dalam sejarah:

hari kita berserah

biar kita sokong di atas meja

kemana tubuh bangsa menuju berada

menginci tanah, merawat air

membeli percaya:

sila yang lima

Yogyakarta, 2023


Pancaroba Pekerja

di kering keringat menjelang jam istirahat

geletar cecar mengerak di kerah-kerah biru

menebal di kubang lara

bersanding dengan jajaran

gagasan berbalas culas

setiap lintasan waktu adalah

musim gugur untuk tubuh-tubuh suluh

“larilah ke kamar gelap”

melipat waktu yang lengang

macam harap yang kami tanggung

pada utopia menggunung

Yogyakarta, 2023



Ode Amuk Malam

sebelum ksatria mengasah dendam

biarkanlah tuba memeram ode untuk amuk malam

sedang lengking nyanyimu sendu melulu

meniup gebalau ringkik parau

di televisi kata-kata berubah menjadi senjata

saling menerkam tanpa aba-aba

menyusun sajak-sajak tanpa peduli rima

dan kebenaran telah mati dalam hitungan lima

Yogyakarta, 2023


‘65 Setelah Jakarta

Kami dibariskan di tengah jalan

Lalu disuruh jongkok dengan popor di pelipis kanan

aroma anyir menguar dari darah yang memancar

dari dada yang terkoyak lebar

setiap pagi tubuh-tubuh kaku rubuh

mengalir sepanjang Sungai Brantas

tanpa identitas

Blitar, 2022


Fatamorgana

Kita membenci dosa khalayak

Tapi berbuat dosa

lebih banyak

Yogyakarta, 2022


Ahmad Radhitya Alam, lahir di Blitar dan sedang bergiat di Yogyakarta. Menulis puisi, fiksi, dan esai yang termuat di beberapa media. Bergiat di Bunker Collective Space dan Teater Terjal. Dapat dijumpai via Instagram: radhityaalam_

Cerpen

Munajat Penyesalan

Cerpen Latif Nur Janah

Malam telah sempurna jatuh. Kulihat kau masih setia dengan layar di depanmu. Beberapa teman sudah pulang sejak tadi. Gerimis mulai turun ketika aku beranjak ke pantry yang berseberangan dengan ruanganmu. Sengaja, tak kuseduhkan kopi untukmu karena pagi tadi kamu mengeluh jika perutmu mulas dan kepalamu agak pening. Tampaknya, dua serangan dalam tubuhmu itu berlanjut sampai malam ini. Ditambah, kau harus menyelesaikan banyak laporan seharian tadi.

Kantor kecil ini menjadi tempat persinggahan yang nyaman. Tentu, setelah semua penghuninya pulang. Kecuali satpam jaga yang bertugas di luar. Tapi, aku bisa katakan mereka bukan orang yang sulit. Dengan sebungkus rokok saja, semua aman. Gerimis awal Desember turun tak tentu waktu. Dari jendela di ruanganmu yang terbuka, aku melihat rambutmu teracak berantakan. Tapi, sungguh, itu justru membuatku semakin tak bisa berhenti menekuni wajahmu dari sini.

Seduhan teh pahit yang selesai kuracik, kubawa mendekat ke mejamu. Engkau mengembuskan napas panjang. Selalu begitu ketika kau selesai dengan pekerjaanmu. Aku mulai mencari kata-kata yang pas untuk menyibak kebisuan, untuk membuka malam. Kau mulai meminum teh buatanku. Kuseret kursi sejajar dengan kursimu.

“Maaf,” ucapmu pelan ketika lenganmu hampir saja menyenggol wajahku ketika kau menaruh gelas teh.

Aku tersenyum.

“Kenapa?” tanyamu kemudian.

Kusingkirkan lenganmu ketika hendak kaulingkarkan di pundakku, seperti yang selalu kaulakukan setiap kali kita menjebakkan diri pada suasana malam di kantor ini.

Dulu, kita selalu merasa malam habis begitu cepat. Angin yang kencang sekali pun tak pernah bisa mengusir keringat kita setelah lelah menyapu malam yang panas dan bergejolak. Kau akan selalu mengatakan kepada satpam jaga jika kau ketiduran di kantor karena kelelahan, meskipun nyata, ia sama sekali tak percaya dengan perkataanmu.

“Istriku ceroboh menuang minyak pagi tadi sehingga menciprat ke bajuku.” aku tak paham maksudmu pada awalnya. Namun, cepat-cepat kau melipat lengan bajumu. Sebercak noda minyak tergulung ke dalamnya.

Kaupindah ke sisiku yang lain. Sigap, tangan kirimu, kini telah mendarat di pundakku. Gegas, kuturunkan lenganmu yang entah kenapa, kali ini terasa begitu berat.

Tumpahan minyak di bajumu. Ah, aku sama sekali tak mencium bau noda jika kau tak bilang. Namun, ucapanmu membuatku mulai merasa ada yang menancap-nancap di ulu hatiku. Seperti biasa, ada sesuatu yang membuatku semakin jatuh dan merasa kecil: istrimu. Wanita yang mengingatkanku pada Ibu.

Dua minggu yang lalu, sengaja aku mampir ke rumahmu sebelum berangkat. Meskipun jam masuk kantor masih jauh, kau sudah tampak rapi dengan kemeja panjang bergaris dan sepatu tali yang kubelikan beberapa bulan yang lalu. Kau dan istrimu sedang sarapan di meja makan yang letaknya lurus dengan pintu depan. Aku lantas teringat bagaimana kaukatakan bahwa kemeja itu adalah hadiah dari atasan kita karena kinerja tim kita yang bagus. Istrimu percaya begitu saja. Ya, tentu saja, sebab ia tak hanya menyerahkan kepercayaan penuh padamu, namun juga menyerahkan seluruh hati dan hidupnya untukmu. Kau selalu mengatakan itu, meskipun membuat hatiku sedikit ngilu.

Senyum canggung yang melengkung di bibirmu, lekas terhapus oleh uluran tangan istrimu kepadaku. Kami bersalaman di depanmu. Aku mengatakan jika aku sengaja menjemputmu untuk bertemu kolega di arah yang berlawanan kantor demi menghemat waktu. Istrimu tersenyum. Murni senyuman seorang istri kepada rekan kerja suaminya. Aku bisa merasakan ketulusan di sana.

Namun, aku mendadak salah tingkah ketika tiba-tiba istrimu meraih tanganku, mengajakku ke meja makan.

“Mari, Bu, saya masak sayur asem banyak hari ini. Kebetulan, anak-anak berangkat pagi sekali dan nggak sempat sarapan.”

Aku tak mungkin menolak saat ia sudah menyeret sebuah kursi untukku.

Di meja makan itu, kau membisu. Tak pernah aku melihatmu sedemikian kaku di hadapanku. Istrimu lebih banyak bercerita ini-itu. Istrimu, yang senyumannya begitu teduh, mengambilkan sepiring nasi untukku, dua iris tempe, dan seiris ayam tepung.

Aku membisu di tempat dudukku serupa tawanan yang tak bisa melakukan apa pun selain menurut. Bahkan aku nyaris gemetar ketika tanganku meraih sendok. Denting antara piring dan sendokku terdengar melolong di pagi itu.

Suapan pertama sayur asem istrimu membawaku memasuki lorong-lorong masa kecilku. Ada senyum ibuku di sana. Ada tangan keriputnya yang beraroma bumbu dapur. Dulu, setiap Sabtu jika Bapak pulang mengajar, Ibu selalu memasak sayur asem dengan belimbing wuluh untuk kami. Bapak tak pernah mau jika belimbing wuluh itu diganti tomat atau asam jawa sekalipun.

Hidangan itu lekas kutandaskan, demi tak ingin melihatmu tercekik dalam kebersamaan yang ganjil.

***

“Kenapa?” tanyamu. Kini, kau telah sadar sepenuhnya bahwa tanganmu benar-benar kulepaskan.

“Cantikmu akan luntur jika murung begitu.” kau mulai merayu. Aku sama sekali tak bernafsu.

Pikiranku saat ini terisi penuh istrimu. Pertemuanku saat sarapan dua minggu yang lalu, membuatku harus berpikir dua kali untuk sekadar memelukmu sekalipun. Kebiasaan yang dulu selalu kulakukan sesaat setelah kantor sepi. Kelebat istrimu yang mengenakan daster di dapur ketika itu serupa magnet yang menarik sesuatu di sudut perasaanku. Apalagi ketika dengan senyum tulus, ia mengambilkan nasi untukku.

Mungkin kau tak bisa memahaminya. Namun, bahasa tubuh yang kuberikan setelah pertemuan itu, kukira lebih dari cukup dari sekadar kata-kata. Tetapi rupanya, kau terlalu buta untuk menerimanya.

Aku sempat melihat beberapa sudut rumahmu yang sederhana tetapi manis. Istrimu juga mengatakan ia menanam sendiri semua bunga di halaman belakang ketika kau mengambil tas ke kamar.

Buku-buku tertata di rak-rak kayu cokelat tua. Sebagian dilabeli nama istrimu. Ah, ya, kau pernah bilang jika istrimu gemar menulis. Sebuah foto terbingkai di atas rak buku itu, menampakkan senyum kalian yang teduh. Istrimu tengah hamil di foto itu. Rasa iri mulai menitik dalam hatiku. Hamil. Sesuatu yang tak bisa terjadi padaku, sampai kapan pun. Sebab sesuatu mengharuskanku merelakan rahimku.

Di saat itulah, tancapan di sudut perasaanku mulai ganas mengaduk-aduk. Aku berusaha merasa biasa saja. Menepisnya saat kita menghabiskan malam berdua di kantor. Tetapi, senyum istrimu hadir setiap kali aku hendak mendekatimu. Terasa semakin teduh manakala tanganku hendak melingkar di tubuhmu. Senyum istrimu itu membawa serta wajah ibuku.

Hingga malam ini datang, rupanya kau tak mampu mengartikan bahasa yang kusampaikan, sementara aku semakin tersiksa dan merasa bahwa kehadiranku dalam hidupmu benar-benar tak diperlukan.***


Latif Nur Janah, lahir 1990. Buku pertamanya, Suwung, adalah kumpulan cerita pendek berbahasa Jawa (Suryapustaka Ilmu, 2022). Menetap di Gemolong, Sragen, Jawa Tengah.

Puisi

Puisi Galuh Ayara

Noise Teatrikal

kau void

dan melankolik

setiap waktu aku menyaksikanmu merasakan sebuah dejavu

seakan aku berada di kursi paling depan

sebuah pertunjukan teater yang blur

lalu masa lalu dan masa depan saling membunuh

di dunia kita semua warna menyala seperti neon

sedang kau tidak

tubuhmu redup

seringkali kau tak dilihat

tapi aku selalu berusaha melihatmu dan

ingin berlama-lama menyaksikan segala keredupan itu

aku menyimpanmu

dalam sebuah memori yang kuat dan menyala

tapi

satu persatu peristiwa pergi dari kepalaku

dan kusaksikan teater itu ditutup

dengan penuh kecewa

aku tak mau beranjak dari kursi lalu–

kau kabur

tak meninggalkan pesan apapun bahkan sekelebat bayangan

2023


Buku Mewarnai

bayangkan maut memiliki warna merah muda

malaikat adalah makhluk yang buta warna

dan kau adalah buku dengan sampul kusut dan gelap

maut itu menyelinap ke lembar-lembar dirimu yang putih

kau menjadi buku yang merah muda

lalu engkau berubah menjadi sosok yang gembira luar biasa

tapi orang-orang malah berduka

kau dianggap tiada lalu

terlupa begitu saja

2023


Pengampunan

tubuhku terbelah-

belah jadi seribu

dalam warna hitam yang kental

mirip seperti gumpalan darah

lalu segalanya menjadi persis

masa lalu melintas;

suara bising merenggut segalanya

jadi rasa asing

tubuhku tabah

lenyap dalam

‘sleeping through my fingers’

lalu lahir lagi dari

sepasang tangan yang terbakar

pada sebuah pigura putih;

kosong

bagaimana bisa aku tak mengingkari realitas?

perjalanan menghadiahiku

wajah penuh lebam

tetapi di dunia ini

tidak ada perih yang terlalu sakit

bahkan jika kematian adalah pengampunan

maka bertahan hidup tetap keberuntungan

2023


Maleficent

suatu ketika ia pernah bilang,

‘ibu kamu cantik sekali. beri ia hadiah yang mekar.”

tapi ibuku tak suka bunga

ia suka nonton sirkus dan membiarkan lututnya gemetar setiap kali pertunjukan itu seakan mengingatkannya pada sebuah tragedi.

ia juga mengajarkanku bagaimana cara menikmati gelisah yang menjadi-jadi

“kapan ibu kamu ulang tahun?”

tidak pernah

2023


Setubuh Kesenangan

kepada teman saya; morgot kidder

kepulan-kepulan asap di kepalamu seumpama awan mendung abu atau hitam kelam

o betapa kau tidak perlu pedulikan bunyi-bunyi petir yang acap membuatmu duduk gemetar berpangku tangan di sudut tempat tidur

kau hitung hari ke depan dengan umur tubuhmu yang kian letih

apa yang kau butuh hari ini?

;adalah setubuh kesenangan,

aroma kopi robusta

sebatang rokok kretek, bunyi kampanye-kampanye busuk parade politik yang berputar di instagram

nikmati apa pun yang disediakan dunia

teman saya, morgot kidder

lupakan beban deritamu

kau adalah dewi bulan yang agung

yang sedang bersiap pergi ke langit

dengan seseorang yang sedang setia menunggu cerita-cerita kecilmu berikutnya.

2023


Galuh Ayara, penulis kelahiran Jawa Barat. Karyanya dimuat di berbagai media.

Cerpen

Denting

Cerpen Yeni Kartikasari

Hari belum sepenuhnya pagi, tapi kau sudah berada di Olivia, berjalan ke lantai tiga, menghampiri meja di dekat jendela kaca, duduk termenung menunggu seseorang yang kau tahu tak akan pernah datang lagi. Seperti biasa, seorang barista bertubuh jangkung dengan vest hitam dan apron cokelat menghampirimu—meminta izin menyeduh kopi panas yang tadi kau pesan.

“Ada lagi yang bisa saya bantu, Sir?” tawarnya.

Kau menggeleng pelan. Barista itu pergi meninggalkan kau bersama secangkir mochaccino berlukis bunga. Kopi itu kau tatap sebentar. Di luar, hujan sangat deras. Pandangan yang semula kau lemparkan ke lampu-lampu kota mengabur bersama rintik yang disertai angin kencang. Jika hari-hari sebelumnya kau hanya menitihkan air mata, kini tangismu semakin panjang.

Kau tak bisa lupa, setahun lalu, sejak Habsa pergi, kau benar-benar merasa ditinggalkan. Bukan karena dia menikah dengan orang lain, melainkan dia telah pergi selamanya. Perpisahan yang kau rasakan, bukan lagi seperti kau melepas teman-temanmu yang menerima Awardee LPDP ke negeri kincir angin, atau saat kau harus melambaikan tangan kepada sahabat-sahabatmu yang pulang ke kampung halaman setelah lulus kuliah, namun perpisahan yang membuatmu kehilangan segala-galanya, bahkan separuh dirimu yang selama ini kau pertahankan untuk hidup.

Habsa adalah orang terdekatmu, lebih dekat dari saudara dan ayah ibumu, sebab kau memang tak pernah merasa memiliki keluarga. Dia adalah satu-satunya perempuan yang menjadi temanmu bercerita usai terlilit masalah di Savario.  Kau masih ingat setelah pendidikan magister Fashion Designmu tuntas, kau mencoba bekerja di Savario sebagai staff pembuat pola busana. Keberhasilanmu masuk ke butik bergaya Eropa Style yang bertempat di gedung bekas kolonialisme itu membuatmu sangat bangga. Selain karena megah dan terkenal, Savario sering disebut-sebut dosenmu sebagai tempat orang-orang ahli di bidang fashion.

Namun sayangnya kebangganmu tak bertahan lama. Gaun yang akan dipakai seorang artis untuk menerima penghargaan penyanyi pop terbaik tak muat dikenakan saat fitting. Bagian penghias menyalahkan penjahit, bagian penjahit menyalahkan pemotong kain, dan bagian pemotong kain menyalahkanmu sebagai pembuat dan pengambil ukuran badan. Kau yang pada saat itu tak mau disalahkan, kemudian mempertanyakan suatu hal; mengapa para pemotong dan penjahit tidak mengecek ulang ukuran? Tapi Habsa—staff sewing yang menjahit bagian badan menimpali bahwa orang-orang di Savario tak bekerja di luar tanggung jawabnya. Kau yang tersudut akhirnya ingin mengganti gaun itu, namun sudah tidak ada waktu. Pelanggan itu marah-marah. Bosmu lebih tersungut-sungut. Kau dimaki-maki sebelum dikeluarkan tanpa pesangon.

Usai hari itu kau sangat kecewa. Karena kau tak lagi memiliki pekerjaan, atau lebih tepatnya telah enggan mencari lowongan kembali, waktu senggangmu kau habiskan untuk berdiam di kafe-kafe. Setelah berkelana cukup lama, pengembaraanmu berhenti di Olivia—kafe yang letaknya tak jauh dari bekas bandara. Tepat di lantai tiga, di dekat jendela kaca di mana kau bisa melihat jalan raya dari kejauhan, kau benar-benar merasakan ketenangan yang selama ini kau cari.

Kau sengaja memilih kafe yang tak terlalu ramai dengan nuansa klasik di setiap dekorasinya. Di Olivia, kau mengeluarkan secarik kertas dan mulai menggambar desain slip dress yang pernah popular di tahun 90-an. Demi hiburan, begitulah tujuanmu melakukan hal itu. Masih teringat jelas di pikiranmu, bagaimana kau membuat lekuk tubuh dan detail gaun hingga kau tak menyangka dapat bertemu Habsa dalam keadaan serba tanda tanya.

Suara Habsa lirih menyapamu kala itu.

Gugup. Kau menyingkirkan tas jinjingmu supaya Habsa dapat duduk di hadapanmu. Di awali sapaan tentang kabar, percakapanmu dengan Habsa berlanjut canggung.

“Sekarang kerja di mana?”

Kau berkelakar. Kau katakan pada Habsa bahwa pekerjaanmu adalah pelanggan rutin Olivia—penikmat kopi yang sesekali mendesain busana masa lalu. Tapi, Habsa tak percaya itu. Kau dianggap menyembunyikan pekerjaanmu yang telah mapan, melebihi reputasi pembuat pola busana. Habsa bahkan menyebut JJ Bride, Oura Kebaya, dan QZM Boutique, tempat-tempat terkenal lain di Jakarta. Kau hanya tersenyum. Usiamu yang beranjak berkepala tiga, membuatmu mengerti bahwa tak semua keadaan bisa kau jelaskan terhadap perempuan.

Sejak saat itu, hampir setiap hari, sekitar pukul empat pagi, Habsa kerap merencanakan pertemuan denganmu. Tidak lagi membahas tentang pekerjaan, atau lika liku hidup yang tiada habisnya, perempuan berpipi bakpao yang kemerah-merahan itu mulai bercengkerama terhadap hal-hal sepele; menertawakan penampilan pengunjung, menerka pikiran orang melamun, dan sesekali mengacaukan karya desainmu.

“Gak pengen keluar Indonesia?” tanya Habsa suatu kali.

“Buat apa?”

“Ya, Mengembara.”

“Kau sendiri gak ke sana?”

“Nggak ada teman.”

Lewat perbincangan itulah, kau teringat Galleria Vittorio Emanuele dan Louis Vuitton di Eropa yang sangat megah. Bangunan berlapis emas yang disorot ratusan lampu dengan puluhan butik gaun permata. Mendadak kau ingin ke sana—menjelajah negara-negara yang pernah membuat bangsamu sengsara. Kau ceritakan semua itu kepada Habsa. Dari rekah senyumnya, kau tahu dia bersuka cita. Impian masa depan kau rencanakan. Janji berkelana ke Eropa kau sepakati. Mula-mula kau hanya menganggap perempuan itu butuh hiburan, namun semakin lama kau merasa dirimu memang berharga dalam hidup seorang perempuan yang bahkan kepadanya kau belum pernah mengisahkan sejengkal kehidupanmu. Kau merasa berarti dan dibutuhkan dan itu sudah cukup bagimu.

Namun, ketika kau mencoba mendekatinya setelah dua bulan menjalin kebersamaan, dia mengatakan akan keluar dari Savario, pulang ke Surabaya untuk melangsungkan pernikahan. Dari caranya berbicara, kau tahu dia sangat bahagia, sebagaimana kau mengerti bahwa dia juga melihatmu bahagia. Meski kau hanya berpura-pura, senyum mengambang di bibirmu seiring rasa nyeri yang menjalar di sekujur tubuh. Kau ingin menangis, tapi malu. Hatimu yang remuk semakin hancur ketika beberapa hari kemudian perempuan yang kau cintai itu dikabarkan mengalami kecelakaan tunggal di tol Rawamangun.

Kenapa kau pergi? batinmu berulang kali sejak malaikat membawa ruh Habsa ke langit tertinggi, terus-menerus sampai kini di Olivia, untuk ratusan kali dalam setahun, ada yang begitu terkenang ketika kau menatap kursi kosong di hadapanmu. Setengah jam lalu, kau buru-buru memesan taxi karena langit sedang bergemuruh silih berganti. Sebenarnya kau tidak takut hujan, tapi kau khawatir tak dapat pergi dari kontrakan, sebab kesepian selalu melahapmu ketika jam sudah menunjukkan pukul lewat sepuluh malam.

Sudah setahun, batinmu. Kau baru datang dan sudah menangis. Bayanganmu tentang hari-hari setelah Habsa pergi adalah reka adegan yang membuatmu dirudung kesengsaraan.

Kau terus dibuntuti rasa penyesalan sebab perpisahanmu dengan Habsa tidak ditandai dengan ucapan selamat tinggal atau kata-kata sampai jumpa di lain waktu. Sering kau berpikir, akan lebih baik ketika perempuan itu masih terus hidup, menikah, dan memiliki bayi-bayi mungil, meski kau hanya dapat memandangnya lewat ponsel. Daripada kau harus menyaksikan fragmen mobil terbakar dan mayat sehitam arang dengan darah yang berlumuran disekujur tubuh. Kau ingin tak percaya bahwa tragedi itu nyata, tapi semuanya telah terjadi. Perpisahanmu dengan Habsa adalah sebuah akhir. Kau sudah tidak bisa melihatnya lagi, bahkan untuk selamanya.

Kini di Olivia, kau menyadari sudah banyak waktu yang terbuang percuma; duduk di kafe meneguk kopi panas, mendengar album Gordon Lightfoot yang diputar berulang-ulang sambil membayangkan perempuan yang kau yakini masih hidup. Kau tak tahu seberapa lama lagi melakukan rutinitas itu. Kau tak bekerja dan entah sudah berapa lembar uang yang kau keluarkan. Belum lagi orang tua yang terus kau bohongi dan kau mintai jutaan nominal untuk alasan bertahan hidup.

Kau takut jika suatu saat nanti ada saudara-saudaramu atau pihak keluargamu tahu bahwa lelaki yang merantau demi kemapanan hidup akhirnya menggelandang dan menjadi pesakitan. Kau khawatir seandainya mamamu akan menempeleng kepalamu atau ayahmu akan mendaratkan pukulan di lengan dan kakimu, sebab kau tahu rasa sakitnya bukan berada di sana. Jelas kau tak ingin merasakan hal itu. Maka kau hanya bisa menumpahkan air mata sebanyak-banyaknya.

“Permisi,” Kau terkejut mendengar suara itu. Tangismu buyar. Seorang barista yang sama kembali ke mejamu, melayangkan tawaran, “Sorry, Sir. Sepertinya kopi Sir sudah dingin. Apar Sir mau menggantinya? atau mungkin hendak memesan camilan dan makanan?”

Kau tersadar. Kopi asal Yaman beraroma wangi cokelat itu belum kau teguk. Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Suara Gordon Lightfoot berganti alunan denting yang disusul kerlip lampu. Di luar jendela, hujan tak lagi memekakkan telingamu. Kau melihat barista itu dan dia pun melihat matamu yang sembab. Udara dingin. Pandanganmu kabur.***


Yeni Kartikasari, tinggal di Ponorogo.

Puisi

Puisi A. Warits Rovi

KESENDIRIAN MESIN KETIK

aku melanjutkan hidup dengan paling sederhananya degup

sambil menikmati kesendirian—sepi terus menyayangi

dan pada setiap rongga tubuhku, anak laba-laba

tekun mengaji:

           mengaji dengan membaca setiap kerangka tulang

yang patah dan berdebu. bibirnya yang pucat pernah

berkali-kali menanyakan

sehelai kertas;

            kertas adalah kekasih masa laluku yang lebih

memilih printer untuk memasrahkan urusan hidup

dengan ukiran huruf-huruf;

                         huruf-huruf telah diperintah zaman

untuk meninggalkanku selamanya, dan tak boleh

interupsi kepada dunia, karena dalam langkah kemajuan

ada yang mesti ditinggalkan.

Rumah Filzaibel, 2023


LAPTOP SEDERHANA, IDE SEDERHANA, DAN

KESEDERHANAAN SEBENTUK SAJAK

1

suatu pagi yang ditinggal embun, laptop memintaku

menulis sajak dengan kedip mata kursor yang memelas

beberapa kali kucari gagasan, beberapa kali kutempuh

gugusan—yang ada hanya kekosongan yang mengakhiri

tatap mata titik di datar layar;

                                       layar dirambah jalan kepiting

yang menjepit rontoknya rambut bulan dan kuku patah

milik angin;

           angin yang mengitari kepalaku—saat diri terus berpikir

tentang sajak apa yang pantas ditulis, sedang di luar sana

sajak-sajak ditulis hanya untuk didustai.

2

dengan sapa rahasia, laptop lalu membisikkan sesuatu

“tulislah saja tentang aku, apa pun bentuknya,” suaranya

serak, gamang, dan gemetar, tiba samar

di lubang telinga:

                 telinga hanya bisa menerjemahkan suara

rontokan daun di halaman rumah tak berpenghuni, sebab

ia berkesimpulan bahwa sajak adalah kata lain dari sepi.

huruf-huruf pun kuketik, saling dekap di balik

tarian jari-jari;

            jari-jari yang sabar menyusun tubuh sajak sederhana,

sesederhana daun jatuh menyapa tanah, sesederhana ide yang

datang tiba-tiba tapi pergi dengan tergesa, sesederhana laptop

yang—diam-diam—mencintai jari-jari dengan sajak

yang tak menemukan kata-kata.

Sumenep, 2023


DUNIA VISUAL

dunia dilahirkan kembali ke dalam cahaya

bernama “maya”—si pesolek yang mahir menutupi sisi yang asli

dengan binar kembang putih, dan usianya kian panjang

setelah orang-orang menggulir

layar gawai:

          gawai dengan wajah berparam barang-barang diskon

yang digemari kaum adam dan hawa, barang sehelai bentang rambutnya

telah ia semir dengan harga-harga, lantas ia mahir memilih

gratis ongkir jasa ekspedisi:

                     jasa ekspedisi  yang rutin mengirim paket berisi

bigorafi dunia cahaya itu sendiri, yang terus menari-nari

tapi terus menyendiri.

Gapura, 2023


SELAMAT MALAM, INSTAGRAM

selamat malam, instagram; bulan warna asam

ceking mengerucut dalam foto unggahanmu

di bawahnya ada namaku yang kautulis

dengan warna lipstikmu;

                        lipstikmu adalah warna langit

dalam mimpi-mimpiku, dalam puisi-puisiku.

karena suatu waktu saat kuoles ke bibirku,

malam jadi pergi dan matahari datang sendiri

sebab pada warna lipstik itu

cintamu-cintaku telah setubuh.

Rumah Filzaibel, 2023


PETANI DUSUN BUNGDUWAK

ia menegur dirinya sendiri dengan

seutas cemeti yang memecut

punggung sapi:

                  sapi betina yang membagi tugas dengan si jantan

                  si jantan harus tangguh membaca medan tanah karapan

                  agar di seberang alam; moyang bisa bertepuk tangan

                  sedang si betina bertugas menarik tenggala, menanam isi dada ke

                  guritan tanah:

                               tanah masih berupa sajadah pada makna yang lain

                               agar kedaulatan terus bersembahyang

                               indah berdiri tak harus berduri

                               tapi berisi seperti padi;

                                                            padi yang merelakan bijinya kepada petani

                                                            dan merelakan daunnya kepada sapi

                                                            supaya sapi dan petani

                                                            sama-sama kuat menghadapi cemeti

                                                            cemeti hakiki dan cemeti majasi

                                                            yang dilecut pelaku kapitalisasi.

Rumah Filzaibel, 2023


A.Warits Rovi. Lahir di Sumenep Madura 20 Juli. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media. Buku Cerpennya yang telah terbit “Dukun Carok & Tongkat Kayu” (Basabasi, 2018). Buku puisinya adalah “Kesunyian Melahirkanku Sebagai Lelaki” (Basabasi, 2020), “Bertetangga Bulan” (Hyang Pustaka, 2022). Sedangkan buku puisinya yang berjudul “Ketika Kesunyian Pecah Jadi Ribuan Kaca Jendela” memenangkan lomba buku puisi Pekan Literasi Bank Indonesia Purwokerto 2020. Ia aktif di Komunitas Damar Korong dan mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura. Berdomisili di Jl. Raya Batang-Batang PP. Al-Huda Gapura Timur Gapura Sumenep Madura 69472.

Ragam

Puisi, Tepuk Tangan, Mesin

Senja berlalu tanpa sempat melihat perubahan wajah langit. Malam itu datang saat jumlah lampu menyala makin bertambah. Ruangan-ruangan yang terang, yang menandakan gelaran berjudul malam.

Di atas sepeda motor, aku dan Ahmad meningalkan masjid megah di Solo. Jalanan cukup ramai. Di pinggir jalan, ratusan warung makan menantikan kedatangan kaum lapar. Kami tidak mampir, tak ada kewajiban makan. Malam dan makan yang membuat kota meriah dan penuh pemujaan selera. Kami bukan berpikiran makanan. Di jalan, obrolan kami bersinggung sejarah, tokoh, dan buku.

Di Mesen, Solo, kami berhenti di suatu tempat yang memiliki papan penuh logo. Di situ, logo pemerintah dan logo-logo mengartikan usaha-usaha besar di Indonesia. Aku berada di tempat yang diresmikan dengan logo-logo. Aku belum sempat memikirkannya, tidak ada keinginan memotret untuk suatu hari membuat tulisan mengenai pemerintah dan logo. Malam itu aku datang bukan untuk pembicaraan logo tapi puisi.

Kamis, 7 Desember 2023, hari untuk puisi. Kedatanganku dengan buku puisi berjudul saut kecil bicara pada tuhan (2003). Beberapa hari lalu, buku itu dikhatamkan. Di tempat dengan lampu-lampu remang, aku duduk bersama tas berisi buku puisi dan kaki tanpa sandal atau sepatu. Aku menikmati malam dengan cekeran. Kaki yang lama terbiasa bersandal jepit merasakan sedikit sakit saat berjalan di atas kerikil-kerikil. Kaki yang manja, tibas saatnya bertelanjang untuk kembali mengenali tanah, tidak selalu lantai. Telapak kaki itu bertemu tanah dan rumput.

Obrolan sebentar bersama teman-teman: dari tema seni (tradisi) sampai sekolah. Salaman dan percakapan menandakan kami tidak ingin malam membisu atau sepi. Di atas meja, asbak digunakan teman-teman suka merokok. Mataku memandingi asap yang puitis. Suguhan kopi cukup nikmat meski tidak dilengkapi gorengan. Aku minum kopi dan bercakap sambil melihat kesibukan orang-orang mau mengadakan diskusi atau obrolan sastra.

Yang dinantikan datang: Saut Situmorang (Jogjakarta). Kedatangan saat malam bertambah malam. Lelaki gendut berambut panjang itu datang bersema Idrian Koto, bos JBS yang menerbitkan (ulang) saut kecil bicara pada tuhan (2023). Setahuku, dulu buku itu diterbitkan oleh Bentang. Aku membaca ketika masih kuliah, membuatku berani mengundang Saut Situmorang ke kampus (UMS) untuk diskusi sastra. Buku yang pernah ikut memberi pengaruh dalam pengenalan puisi-puisi abad XXI.

Pada malam yang  berasap oleh rokok-rokok beragam merek, aku mulai kembali ke puisi-puisi pernah terbaca, sekian tahun lalu. Kursi-kursi sudah diduduki beberapa orang. Empat kursi di depan masih kosong. Aku melihat belum ada tanda-tanda acara bakal dimulai. Angka 8 sudah terlewati. Malam yang bagi orang-orang belum perlu tergesa. Namun, aku memberanikan diri duduk di kursi tanpa ada panggilan dari panitia. Aku mengajak Indra Agusta untuk turut duduk di sampingku agar orang-orang mengetahui dikusi dimulai.

Pembaca acara memegang mikrofon, mengeluarkan kata-kata berkaitan diskusi dalam seri Tilikan. Kerja komunitas seni yang mengajak orang-orang bertemu dan bicara. Aku belum pernah ikut seri Tilikan. Malam itu bagiku kehormatan bisa hadir bersama mereka yang masih terus menggerakkan seni di Solo.

Di samping, perempuan berdiri membaca puisi. Ia terbiasa membaca puisi di panggung dan lomba. Di hadapan orang-orang, ia membaca puisi gubahan Saut Situmorang dengan apik. Ia diganjar tepuk tangan dan pemotretan.

Beri Hanna berperan menjadi moderator. Di depan, Saut Situmorang pun sudah duduk. Kami tidak mengetahui situasi obrolan bakal seru atau sendu. Meja di depan kami agak penuh. Yang terlihat beberapa botol minuman bermineral. Ada tiga potong roti. Anggur di piring kecil. Yang menakjubkan ada botol-botol kecil berisi air bening. Aku yakin itu minuman istimewa. Di meja, ada juga beberapa buku Saut Situmorang yang menanti pembeli.

Indra Agusta mulai memberi kata-kata. Pembicaraan yang berat. Puisi-puisi Saut Siumorang berkaitan dengan hal-hal yang mengacu iman, adat, pengembaraan, dan lain-lain. Puisi-puisi yang berani dalam urusan bahasa. Hal terpenting adalah penulisan “Mu”. Penggunaan huruf kapital itu membuat pembaca sulit dalam kepastian dalam usaha mengerti manusia dan Tuhan. Saut Situmorang justru menulis “tuhan” menggunakan huruf kecil, bukan “T”.

Cara membaca puisi dan menafsirkan puisi belum tersuguhkan. Indra Agusta sekadar mengingatkan usaha pembaca yang jarang mudah dalam memasuki puisi. Ia menemukan kemampuan Saut Situmorang dalam penggunaan beragam (sumber) bahasa untuk turut masuk dalam puisi. Jadi, yang dinikmati pembaca adalah puisi-puisi berbahasa Indonesia tapi judul kadang berbahasa asing. Di puisi, kata atau istilah asing pun turut hadir selain berasal dari bahasa daerah.

Aku berharapan Indra Agusta membuat resensi untuk buku Saut Sittumorang untuk dikirimkan ke Jawa Pos. Dugaanku, ia mahir membaca buku, tak mau hanya rampung saja. Sosok itu memiliki kekuatan meresensi, yang tidak membiarkan buku tertutup dan berdiam di rak.

Di depan, aku ikut omong masalah buku Saut Situmorang. Aku cuma membicarakan masalah matahari dan bulan. Puluhan puisi melulu mencantumkan matahari dan bulan. Bintang kadang ikut tapi tidak dijanjikan selalu hadir. Aku belum kepikiran masalah “tuhan” atau “Tuhan”. Yang terbaca selama beberapa hari adalah kebiasaan Saut Situmorang menulis matahari dan bulan. Aku menduga ia (tidak) menyadari bahwa matahari dan bulan terlalu “menentukan” puisi-puisinya, digubah sejak masa 1980-an.

Selanjutnya, Saut Situmorang membicarakan diri, puisi, situasi sastra Indonesia. Ia berbagi biografi. Puisi-puisi itu berkaitan biografi. Beberapa omongannya mengejutkan meski beberapa hal aku sudah mendengarnya sejak lama. Dulu, aku membaca esai-esainya yang keras. Malam itu Saut Situmorang tampil agak kalem tapi tidak mengurangi kesombongannya. 

Malam yang diramaikan tepuk tangan. Pemicunya adalah Beri Hanna. Aku sering bingung dengan kebiasaan tepuk tangan dalam diskusi. Malam itu keseringan tepuk tangan. Berri Hanna yang menjadi moderator sengaja mementingkan tepuk tangan. Aku menunduk malu. Tepuk tangan mungkin mengusir sepi dan kemalasan. Aku tidak mau ikut tepuk tangan.

Aku telat mengetahui puisi-puisi gubahan Saut Situmorang itu akrab alam. Puisi-puisi yang religius ketimbang mengumbar lelucon atau “makian”. Di mataku, Saut Situmorang itu “pendakwah” yang menyamar. Ia fasih menyajikan kebijaksanaan-kebijaksaan melalui puisi. Hal berkebalikan dari kebiasannya membuat onar dan perdebatan. Malam itu aku menghormati Saut Situmorang yang sanggup menguak lakon bocah dan religiositas.

Yang membuatku sebal malam itu bukan tiga orang di sampingku yang menikmati air bening dalam botol-botol kecil. Aku terganggu dengan suara mesin air, yang terus bersuara saat kami bergantian omong. Mesin-mesin air berada di sebelah Beri Hanna. Kami bicara puisi bersaing dengan mesin air. Saut Situmorang tidak merasa terganggu mesin air tapi omong tentang mesin sebagai penyair atau penyair sebagai mesin. Aku tidak mengerti yang diomongkannya.

Obrolan perlahan bingung arah. Tepuk tangan tetap terdengar. Tubuhku mulai bermasalah. Aku sulit bertahan. Aku ingin pulang. Malam bertambah malam. Puisi selesai dulu. Aku ingin tidur.

Di akhir, aku ikut menjelaskan masalah sastra dan kelembangaan pendidikan di Indonesia, sejak masa kolonial sampai Orde Baru. Omongan sudah meninggalkan buku berjudul saut kecil bicara pada tuhan (2023). Aku tidak sanggup lagi bersama orang-orang merayakan malam dengan kata, kopi, buku, rokok, dan lain-lain.

Aku sengaja berpamitan dan minta maaf tidak bisa terus duduk di situ. Aku pulang setelah menganggap selesai omong tentang (buku) puisi. Malam itu aku mendapat kebaikan dan kejutan. Seorang teman memberikan bingkisan dalam kresek hitam. Ada teman memberikan buku puisi terbaru Afrizal Malna. Aku pulang tetap tanpa alas kaki tapi membawa hadiah-hadiah terindah.

Di rumah, aku membuka kresek. Isinya sarung yang berwarna kalem. Yang memberi hadiah mungkin menginginkan diriku rajin beribadah. Sarung bisa digunakan dalam beragam acara, tidak cuma untuk ibadah. Ia mungkin berpesan bahwa aku jarang berpenampilan menarik saat menghadiri acara-acara. Aku mengerti sarung itu tanda pertemanan dan “peringatan”.

Pada saat berbaring, aku mulai membuka halaman-halaman buku Afrizal Malna. Pemberian yang menjawab keinginanku beberapa hari lalu. Aku sempat mengajak teman-teman yang sering dolan ke rumah untuk memesan buku baru terbitan JBS. Buku baru itu malah datang duluan.

Aku sudah berpisah dari acara sastra di Solo. Di atas kasur, aku menjadi cengeng. Malam yang lelah tapi mengesankan. Aku tidak lagi ingat puisi-puisi Saut Situmorang. Kecengenganku untuk kebaikan dua teman yang memberi sarung dan buku. Sebelum mata terpejam, aku mengganti masalah matahari dan bulan dengan sarung dan buku. Malam itu airmata. [] Kabut

Ragam

Di Bumi Seribu Masalah

Siang belum tergusur, masih ada beberapa jam. Aku mencuci pakaian dengan jadwal berubah: memilih siang ketimbang sore. Siang yang mau berakhir inginku semua pekerjaan rampung. Mencuci pakaian dilanjutkan mencuci piring dan gelas. Akhirnya, semua selesai dengan acara penutup: menyapu. Yang membingungkan: mandi di akhir siang. Mandi yang rasanya sia-sia jika keringat mudah mengalir setelah handuk dijemur. Tubuh yang telah mandi tetap berada dalam siang yang berkeringat. Sejenak menaruh tubuhku di depan kipas angin.

Pada menit-menit menjelang sore, aku dan Ahmad ikut keramaian di jalan. Yang ingin kami datangi adalah masjid. Sore bukan untuk hiburan tapi kesadaran menuju tempat ibadah.

Kami berada di jalan menjelang azan terdengar. Beberapa menit yang kami rasakan dengan percakapan tentang sejarah Indonesia. Yang kami sebut adalah nama-nama asing: Kahin, Anderson, Holt, Feith, Liddle, dan lain-lain. Mereka menulis sejarah Indonesia. Kami yang membaca melalui buku-buku edisi terjemahan bahasa Indonesia. Perjalanan ke tempat ibadah di Solo tapi ketagihan omongan sejarah.

Kamis, 7 Desember 2023, bukan hari bersejarah dalam hidupku. Aku mengajak teman untuk berada di Masjid Sheikh Zayed (Solo). Di sana, ada diskusi yang aku ketahui dari pengumuman beredar di media sosial, dua hari sebelumnya. Kedatangan ke masjid mula-mula berhasil ikut shalat asar berjamaah, telat satu rekaat. Pengumuman diskusi terdengar dari mikrofon masjid. Diskusi yang mungkin penting setelah ibadah. Sore yang indah di masjid yang berlampu tidak terlalu terang, tidak seterang matahari yang berada di luar.

Kami menuju menara: naik tangga. Yang aku inginkan di pinggiran tangga adalah buku-buku. Di atas, perpustakaan. Seharusnya, sejak di bawah ada buku-buku atau gambar-gambar mengisahkan buku. Jadi, saat kaki naik tangga ada doa-doa perbukuan. Mata yang melihat buku-buku, mata yang akan melupakan lelah. Yang naik tangga akan berimajinasi naik ke menara buku.

Pintu itu terbuka. Perpustakaan terbuka untuk umum. Aku segera masuk ingin berada di depan rak-rak. Mataku tak sabar melihat buku-buku, yang dimulai dengan punggung-punggung buku. Beberapa detak saja kenikmatan di depan rak buku. Pejabat di masjid itu memanggilku. Ia memintaku masuk ke ruangan berkaca. Mengikuti perintah dan petunjuk meski gagal bersilahturahmi ke buku-buku.

Salaman dengan Yessita dan Afthonul Afif. Di Solo, aku masih sering bertemu dan bersama Yessita. Salaman yang berbeda dengan Afif. Lelaki ganteng dari kudus. Aku mengakuinya sebagai “manusia kudus” atau “manusia suci”. Artinya, salaman itu tidak biasa setelah sepuluhan tahun tak bertemu dan tiada percakapan. Dulu, kami pernah dekat dengan predikat penulis di Koran Tempo dan Kompas. Masa lalu yang memberi arah berbeda untuk ditempuhi. Pada suatu masa, ia menjadi intelektual penting di Indonesia. Aku hanya bergembira menjadi bapak rumah tangga.

Obrolan-obrolan cepat memberat. Sekali lagi, obrolan kami berkaitan sejarah di Jawa (Nusantara). Kami cuma bisa omong sepenggal-sepenggal tentang sejarah di Jawa, kolonialisme, Islam, sekolah, penerbitan, pesantren, kitab suci, pabrik gula, kebatinan, dan lain-lain. Di atas meja, aku memperoleh pisang dan anggur. Di menara, sejarah ingin dijatuhkan dari “ketinggian”. Obrolan yang tidak memungkinkan debat.

Diskusi bertema “Sehat Mental Ala Jawa” dimulai dengan kehadiran 20-an orang. Jumlah yang sedikit tapi membuat ruangan longgar. Ramai dan sesak mungkin tidak enak bagi mataku yang mulai mengantuk. Di depan, Yessita memberi awalan. Afif memberi keterangan panjang mengenai kesehatan mental.

Dua sosok yang menggunakan waktu untuk kata-kata. Yang terlihat: Afif mengenakan jam tangan di sebelah kiri dan Yessita mengenakan jam tangan di sebelah kanan. Di atas, aku tidak melihat jam dinding. Perpustakaan tidak memerlukan jam. Para pengunjung dianggap mudah mengerti tentang jam buka dan jam tutup. Mereka tidak menuntut adanya jam dinding.

Aku mendengarkan dengan berdebar. Banyak masalah-masalah ruwet masa sekarang, yang mengakibatkan depresi dan bunuh diri. Orang-orang yang meminta perhatian. Kegagalan mendapat pujian menimbulkan rasa bersalah. Akhirnya, pamrih-pamrih minta dikasihani malah diumumkan secara terbuka.

Aku menyimak omongan-omongan Afif sambil mengutuki diri. Diskusi yang bakal berisi masalah-masalah dan salah-salah. Contoh-contoh yang diajukan Afif menunjukkan manusia masa sekarang sulit “waras”. Mereka bernafsu bahagia tapi gagal. Mereka ketagihan dolan-dolan tanpa kepikiran jawaban atas masalah-masalah hidup. Yang merepotkan adalah pengalaman bahagia, bukan pengakuan yang manipulatif atau bermutu rendahan.

Mataku melihat dua rak buku yang menjadi batas panggung bagi moderator dan pembicara. Di situ, ada tempelan kertas dengan tulisan: “harap tenang”. Mengapa kertas itu tidak dilepas? Jika tidak dilepas mendingan kata-kata diganti menjadi “harap bahagia”. Aku malah tergoda “harap makan”. Di depanku, ada suguhan berupa panganan rebusan: jagung, ketela, kacang, singkong, dan lain-lain. Aku juga menikmati segelas teh hangat, tak lupa dua iris jadah.

Afif yang bicara lama mulai menyebut nama-nama dan masa. Aku lekas teringat buku-buku kesehatan mental garapan Zakiah Daradjat masa 1980-an. Dulu, masalah itu sudah melanda Indonesia tapi tidak segawat masa sekarang. Afif memilih menggunakan referensi-referensi asing dan mutakhir. Aku sedikit memahaminya. Namun, yang berbobot adalah pengutipan dari Ki Ageng Suryomentara,, yang lahir dan tumbuh di Jawa.

Afif telah menjelajah jauh dalam persoalan bahagia dan sehat mental. Ia menulis banyak buku. Yang terkeren adalah buku-buku mengenai Ki Ageng Suryomentaram. Di Indonesia, ia adalah pakar. Aku mengenalnya setelah membaca buku-buku kajian Ki Ageng Suryomentaram, terutama Psikologi Jawa yang ditulis Darmanto Jatman.

Sore itu kami masih berada di bumi seribu masalah. Kami tidak bisa memesan bumi yang berbeda. Kami pun menantikan langit menurunkan jawaban-jawaban tapi bumi sedang gersang untuk menerimanya. 

Sore itu seharusnya dihadirkan satu pembicara lagi yang bisa omong tentang sastra atau film. Tentu berkaitan erat dengan kesehatan mental. Konon, penerbitan buku-buku dan film-film terbaru ada urusannya dengan kesehatan mental. Buku-buku berisi kutipan-kutipan pendek dan bergaya bijak sedang laris. Buku-buku filsafat klasik dijadikan pegangan bagi yang memburu bahagia.

Yang membuatku menantikan kehadiran orang omong sastra adalah terbitnya novel-novel terjemahan yang menceritakan masalah-masalah mental abad XXI. Aku ingat novel berjudul Vegetarian gubahan Han Kang. Aku pun pernah khatam novel Perpustakaan Malam (Matt Haig). Ada beberapa novel lagi yang membuatku sebagai pembaca mudah murung. Dunia sedang amburadul. Para tokoh dikutuk seribu masalah. Aku yang membaca juga memiliki salah-salah untuk memasuki cerita bergelimang masalah.

Di perpustakaan, aku mau mencari novel-novel yang membahagiakan agar diskusi tidak memberat. Namun, keinginan itu gagal diwujudkan. Tubuhku lungkrah dan mengantuk. Beruntung ada peserta-peserta mengajukan beragam pertanyaan yang mampu membuatku tidak menuruti nafsu tidur. Ikut berpikir lagi. Afin menjadi juru jawab yang sanggup menjelaskan mirip kiai tapi ia menolak disebut kiai.

Acara itu selesai. Di atas kepalaku, berputar novel-novel yang ikut merayakan pedih, depresi, bunuh diri, lara abad XXI. Yang menanggungkan masalah bukan cuma orang-orang Indonesia tapi sedunia. Aku tidak mengira bakal datang kiamat. Inginku menata novel-novel yang turtu “bertanggung jawab” dalam perayaan masalah-masalah yang menyedihkan, traumatik, dan menghancurkan. Aku ingin menebus salah-salah dengan khatam novel-novel. Persembahan fiksi yang melampaui kenyataan-kenyataan yang ditanggungkan. Pembaca novel-novel mutakhir bisa mudah menjadi yang bersalah atau menanggungkan salah di atas salah untuk hidupnya dan pergaulannya dengan orang lain.

Di jelang akhir diskusi, Yessita berulang mengucap terima kasih dan minta maaf. Pengulangan itu justru membuat aku sadar tema diskusi. Jika masalah terima kasih dan minta maaf diajukan sejak awal pasti diskusi bakal seru. Jadi, Yessita berperan ganda sebagai moderator dan pembicara. Dugaanku, ia mampu menjelaskan dua masalah itu berkaitan kesehatan mental. Aku berusaha mengerti terima kasih dan minta maaf yang menentukan kewarasan, kebahagiaan, dan kebersemaan, selain mengurangi siksa kesalahan dan kutukan hidup.

Rampung diskusi, aku ingin segera turun menghindari bayang-bayang buruk mengacu kesehatan mental. Keinginan yang gagal setelah ada lelaki yang menyapa. Kami mula-mula dalam tanya-jawab pendek. Akhirnya, kebablasan serius bercakap tema pendidikan. Tema yang agak menyelamatkanku dari sisa-sia diskusi.

Percakapan itu tetap mengingatkan novel, tidak sekadar kebijakan-kebijakan pemerintah dan usaha-usaha komunitas belajar. Aku malah tergoda lagi omong sejarah, dari masa kolonial sampai Orde Baru. Aku menambahi dengan perkamusan pendidikan beragam bahasa. 

Azan magrib terdengar, kami memutuskan turun dari perpustakaan. Kami ingin beribadah meski mengetahui telat tiga rekaat. Mikrofon digunakan imam sudah terdengar zikir dan doa setelah shalat. [] Kabut

Cerpen

X, Y, dan Z

Cerpen Ken Hanggara

Dua hari setelah kematian X, seseorang bernama Y pergi ke kota kelahirannya dan memikirkan kematiannya sendiri. Jika dia lahir di kota itu, dia harusnya mati di kota yang sama. Ada ikatan bagi Y yang menyatukan masa lalu dan masa depan. Sulit dijelaskan, tapi bisa dibayangkan seperti biji pepaya dengan daging buahnya, atau seperti jeruk dengan pusarnya.

“Sedekat itulah saya,” begitu kata Y ke gadis penjual kebab yang ditemuinya sekeluar dari pintu stasiun. Gadis penjual kebab hanya memandangi sambil lalu karena harus melayani pembeli lain.

Hari itu udara begitu dingin. Setiap orang mendamba kehangatan bukan hanya pada permukaan kulit tubuh dan wajah, melainkan juga lambung dan, barangkali, jiwa.

Y berlalu sebelum potongan terakhir kebab yang dibelinya habis. Dia menikmati kunyahan terakhir sambil melangkah melewati barisan toko di tepi jalan.

Orang-orang begitu sibuk. Andai saat ini hari penting seperti perayaan dalam skala nasional atau ada peristiwa dahsyat yang memiliki daya tarik dalam radius ribuan mil, Y barangkali tidak akan bisa membeli kebab dan mungkin juga tidak sempat bercerita soal kaitan masa lalu dan masa depan yang serupa jeruk dengan pusarnya.

Y berhenti di depan toko elektronik, memandangi rak lusinan TV yang dinyalakan dengan tayangan berita hari itu. Y memikirkan perenggutan paksa bisa merusak ikatan masa lalu dan masa depan dengan mudah.

Biji pepaya akan dengan gampang digelontorkan ke selokan, sementara daging pepaya bisa dimakan dan masuk ke lambung di tubuh seseorang, yang bepergian ke sana kemari, dan boleh jadi tidak akan pernah kembali ke area di mana selokan tempat biji pepaya tersebut digelontorkan. Lagi pula, tak ada yang menjamin apa sesuatu yang terbuang sia-sia di selokan tetap berada di titik yang sama; orang hanya peduli jika cincin atau benda berharganya jatuh dan mulai memikirkan hal semacam ini.

Y membayangkan, kalau dia mau, bisa saja kaitan antara masa lalu dan masa depan baginya terputus begitu saja, tanpa harus membuatnya hilang ingatan. Maksudnya, masa lalu bisa digelontorkan begitu saja ke selokan dan dia akan baik-baik saja dengan segala peristiwa di masa depan. Masa lalu akan tertinggal di sana atau hanyut entah ke mana; biar itu menjadi urusan selokan dan Tuhan. Biar Tuhan mengaturnya sebagaimana yang seharusnya terjadi. Biar juga Tuhan membisiki walikota di mana dulu dia dilahirkan, yang menjabat hari ini, untuk bekerja dengan cara-cara yang entah seperti apa, sehingga fungsi dari selokan itu menyuguhkan pelbagai kemungkinan bagi masa lalunya yang ada di sana; terbuang dengan sengaja karena memang Y menginginkannya begitu.

“Andai bisa begitu,” gumam Y selagi menatap barisan manusia di gedung parlemen yang saling melempar kursi demi uang, di tayangan berita. Tentu saja demi uang. Omong kosong kalau ada yang bilang politik untuk rakyat. Barangkali betul, jika sudut pandangnya diletakkan di pojok paling tersembunyi dan kotor dan penuh penyakit di kota kecil ini, dan bukan diletakkan di batok kepala seorang akademisi, misalnya, yang menjelma politisi dengan segala tujuan dan misi yang tak benar-benar mulia.

Y melanjutkan langkah sambil membayangkan, andai hatinya bisa sekebas politisi, yang mampu berkata lain dengan apa-apa yang dikerjakan, tanpa terbebani moralnya. Y jelas tak akan bisa tidur andai dia terjebak dalam situasi seperti potongan berita tadi; dia tidak mampu membohongi diri dan selalu dihantui. Demikianlah cara kerja dari ikatan yang menyatukan masa lalu dan masa depan. Ikatan yang justru dirawat oleh Y karena dia tak ingin melepaskan itu. Dia bisa, bukannya tidak bisa. Dia bisa, tetapi enggan.

Y dan X begitu lekat. Mungkin mereka adalah wujud dari masa lalu dan masa depan itu sendiri.

Y tidak mengerti bagaimana X bisa begitu lekat hingga saat kematian tersebut dia sadari. Tidak ada yang perlu Y lakukan selain pergi ke masa lalu, ke kota kelahirannya, dan mencari segala tentang X di sana, sosok yang tak dia kenal di masa-masa ketika masalah hidup hanya sebatas PR matematika yang tak pernah dia gemari atau ledekan beberapa teman sekolah karena dia tidak memiliki sepatu bagus.

Jejak-jejak lama X, barangkali, dapat menjadi obat bagi Y.

Dia menolak saat orang-orang berkata, “Dialah cinta sejatimu.”

Mereka berkelakar atas hal itu, tapi Y menolak dan sekaligus sakit hati. Y tak mau melukai Z yang menjadi istri X sejak dulu, jauh sebelum mereka bertemu.

X, Y, Z, adalah sebuah takdir yang lucu, dan Y kerap tertawa akan perkara ini, lalu membayangkan Tuhan juga tertawa, para malaikat, setan-setan, para arwah di kuburan, keluarga besarnya, bahkan ayah-ibunya yang menyayangi, juga tertawa. Seluruh tawa tergabung sempurna, membuat kuping Y kebas atas segala suara. Lagi pula, dia tak benar-benar bermain api bersama X.

Y hanya membayangkan takdir nama mereka membuatnya terjebak di antara kedua manusia yang sudah saling memiliki sebelum dirinya hadir.

“Andai saya Z, apa segala yang saya jalani akan berbeda, Tuhan?” Y pernah membatin.

Tapi, biji pepaya yang digelontorkan ke selokan akan memiliki pelbagai kemungkinan nasib yang tidak bisa ditebak. Bahkan, andai dia membayangkan kisah ini tak ubahnya jeruk dan pusarnya, maka pusar yang menghilang usai juring demi juring jeruk dirobek oleh tangan pemangsa jeruk, juga memiliki nasib yang misteri; pusar itu memang di suatu tempat yang tidak terlihat atau bisa disebut hilang karena tak ada jejak, tetapi tidak ada seorang pun yang tahu di mana pusar itu berakhir dan jelas tak akan ada yang tahu.

Jika Y adalah Z, tidak lantas X menjadi suaminya. Bisa saja X dan Y (yang bukan dirinya) justru menikah dan itu terjadi setelah (barangkali) X dan Z (yang andai dirinya) bertemu lebih dulu. Bisa saja X dan Y (yang bukan dirinya) menikah sebelum Z (yang andai dirinya) hadir di antara mereka. Bisa jadi X dan Y (yang bukan dirinya) tak akan pernah menikah karena tak saling mencintai, tetapi Z (yang andai dirinya) ternyata juga tak ada kesempatan diperistri oleh X karena beragam faktor.

Y benar-benar pusing memikirkan itu.

Kemarin lusa, X mati di apartemennya. Tak ada yang tahu–sejauh yang Y tahu.

Y pergi begitu saja, batal mengajak X berbicara soal permainan yang mungkin akan seru jika mereka lakukan kali itu, karena saat itu Z tidak sedang di kota tersebut. Z menghadiri acara penting sebagai tamu undangan. Y merasa rendah begitu menatap X yang pucat dan tidak lagi bernyawa.

Y tidak perlu menelepon siapa-siapa, karena dia hanya akan malu. Yang perlu dia lakukan adalah merawat cinta tanpa dihantui rasa malu, dengan menggali masa lalu X. Dia akan tetap begitu, entah sampai kapan. Mungkin sampai kiamat datang dan seisi dunia hancur bersamaan dengan hancurnya seluruh jejak dan ikatan yang ada tentang mereka.***

Gempol, 2019-2023


Ken Hanggara lahir di Sidoarjo, 21 Juni. Menulis cerpen, novel, esai, puisi, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-hara (2018), dan Buku Panduan Mati (2022). Segera terbit kumpulan cerita terbarunya dengan judul Pengetahuan Baru Umat Manusia.

Puisi

Puisi Faustina Hanna

Tuguran*

        sejam berlalu semenjak jurit waktu berpiuh bersama

                   keranjang dosa

                                         yang kumuh

/1/

dari kejauhan ada yang menanti;

pada jalur utama sepeda motorku: gapura-gapura teguh

penuh paru lampu. maka mulailah kuhitung teliti  

     −lembar per lembar

kerabat jauh langit merah telah lengkap. semestinya hanya

satu yang termuda akan terlambat melapor.

/2/

perlahan, begitu berhati-hati dan khidmat

induk-induk angin datang berkabar tentang sepenggal kidung

baru. mengapa ada yang sebegitu lembut dan mulia seperti cara

Bunda berbisik di sisi telingaku

/3/

sebelum tiba saatnya, izinkan kami terlebih dahulu kelola hati

berarak serupa larva iman yang mentah, lapar dan kian bergerak

hingga jarak;

bisa saja segala telaten ditanami menjadi sederet kebun jiwa

yang rapat. di sana akan banyak yang bersahutan mesra

tentang lesung usia yang menyimak secara santun setiap wadah

hingga ketukan,

terdengar jelas, bukan? aku, dia, dan sejatinya tentang setiap tubuh.

tak perlu tungku dipesan untuk memasak setiap nama yang

sulit teringat pada daftar panjang kekeliruan serta kesalahan.

sudi pandanglah ketika ranting yang geram itu bisa saja melubangi

beratus pasang mata kami (menuju lantas menggempur nurani

yang terkadang kerdil).

     tidak!

asalkan kami dieratkan oleh aroma dupa nan syahdu milik-Mu.

milik-Mu

yang kerap memulangkan kembara senja kepada kanak-kanaknya.

/4/

semenit lalu aku baru saja mengambil air suci, membuat

tanda salib, lalu biarkan rindu paling abadi yang kumiliki sejatinya

akan bermuara di dada. memperbarui tiap janji darah dan tulangku.

ya, persis hari itu di antara lebat temaram Kau bersabda agar kami

berbuah banyak.

     Tuhan…

kami sungguh ingin menjadi cinta yang bersahaja di dalam rumah-Mu.

/5/

pada altar suci;

induk-induk angin masih bercerita akan kasih mahasempurna dan

segenap anak-anak-Mu serupa gapura-gapura teguh penuh paru lampu

/6/

tiba saat bagi lilin-lilin mungil untuk segera dipadamkan. berilah waktu

sejenak, kepada baris cahaya untuk segera terkatup,

biar hening ini tercipta untuk-Mu. biar kami berdoa kemudian berjaga-jaga

bersama Engkau.

     “Berjaga-jagalah dan berdoalah,

     supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan:

     roh memang penurut, tetapi daging lemah.”**                       

5-6 April 2012-2022

* Tuguran adalah Ibadat dalam umat Katolik yang dilakukan setelah Misa

Kamis Putih Malam. Memiliki makna penting: umat akan berjaga-jaga

bersama Yesus Kristus dalam doa kepada Bapa-Nya di Taman Getsemani.

Umat berdoa bersama di hadapan Sakramen MahaKudus yang telah dipindahkan

dari Altar Utama. Untuk merenungkan wafat Kristus demi umat manusia,

keesokan harinya pada Jumat Agung.

** Injil Matius 26:41


Jantung Hati

− bagi ‘wajah Silentium’ yang dilukis oleh Adikku, Jefron (Viktorinus Dale Hikon)

#1

Maka merupalah bayanganku,

niscaya kau takkan berkhianat

kepada apa yang terjamah

dan terpangkas oleh

cahaya

sepanjang tubuhku.

#2

Terima kasih.

Telah bersedia menjadi biji mata tersendiri

yang teramat kukasihi. Tatkala aku

memutuskan menutup raga,

sepasang mata

pun hatiku

dari setiap kemungkinan

— duka maupun suka cita.

Juli 2023


Risalah Rambut, 1

tanpa sepengetahuanmu −namun sedalam ingatanku− bibir ini

selalu gagal membujuk pulang setiap jejak senyum masamku

yang tertinggal, dan berserakan pada simpanan cermin kamar

mandi. aku tahu, aku telah menghafalnya: segala peristiwa itu

seperti harus terjadi sewaktu kau berhari-hari menjadi lugu,

dan tak tersentuh oleh gemetar jari-jemari di tanganku. kau

acuh tak acuh, seolah bukan lagi bagian dari diriku yang utuh.

kepada cinta yang terasa sulit mengeratkan wewangi sampo

dengan ujung-ujung halusmu, pagi kembali datang bersama gerak

sendu hari kemarin yang dukanya mudah memecahkan vas bunga.

— vas bunga di sisi kiri hatiku. maka; kini kau yang lebih dulu

berani memutuskan berantakan mendahului segala pikiran,

membilangkan isi gumamanku, mendamparkan bagian-bagian

remeh dirimu yang belum lama tumbuh, di keningku.

September 2013-2020


Risalah Rambut, 2

   (bisikanku bagi ujung rambut yang telah mencapai pinggul)

tumbuh, teruslah tumbuh memanjang. hingga cinta menjadi

sedemikian alpa akan keberpihakan malam ini; entah kepada

ujung penghabisanmu, atau kepada mabuk yang dijanjikan

oleh sentuhan bibirnya. abaikan! sebab tentu kau perlu

durhaka pada sepanjang kisah yang ditentang sebagai batas

kewajaran dan keteraturan dalam kembar cermin muram di

hadapanku ini. 

Mei 2020


Anuptaphile

Ada kalanya cinta berupaya mengetuk pintu hati saya.

Dengan teramat santun, saya meminta kepadanya

Agar sabar menunggu, namun tiada sekali pun saya

Bergerak maju untuk membuka pintu dan menyambutnya.

Saya ngeri menghadapi setiap kemungkinan; bahwa saya

Akan mabuk meski tanpa anggur, hingga alpa membedakan

Warna-warna pelangi.

2019


Aksentuasi

Di belantara puisi,

tiada yang dapat menyesatkan sekaligus

menyelamatkan dirimu

selain

bisamu sendiri.

18 September 2023

(17.05)


Faustina Hanna, lahir di Jakarta, 5 April 1987. Penikmat seni budaya dan kearifan lokal. Sehari-hari bekerja sebagai karyawan perusahaan swasta di Jakarta, aktif menulis puisi, freelance Graphic Design, menekuni fotografi dan ragam kuliner Nusantara. Sajak-sajaknya telah tersiar di pelbagai media cetak dan online. Silentium (Teras Budaya Jakarta, 2023) adalah buku kumpulan puisi pertamanya. Beberapa sajaknya tergabung dalam antologi. Pernah menjuarai lomba penulisan puisi dan berencana melanjutkan studi ke Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.