Puisi

Puisi A. Warits Rovi

KESENDIRIAN MESIN KETIK

aku melanjutkan hidup dengan paling sederhananya degup

sambil menikmati kesendirian—sepi terus menyayangi

dan pada setiap rongga tubuhku, anak laba-laba

tekun mengaji:

           mengaji dengan membaca setiap kerangka tulang

yang patah dan berdebu. bibirnya yang pucat pernah

berkali-kali menanyakan

sehelai kertas;

            kertas adalah kekasih masa laluku yang lebih

memilih printer untuk memasrahkan urusan hidup

dengan ukiran huruf-huruf;

                         huruf-huruf telah diperintah zaman

untuk meninggalkanku selamanya, dan tak boleh

interupsi kepada dunia, karena dalam langkah kemajuan

ada yang mesti ditinggalkan.

Rumah Filzaibel, 2023


LAPTOP SEDERHANA, IDE SEDERHANA, DAN

KESEDERHANAAN SEBENTUK SAJAK

1

suatu pagi yang ditinggal embun, laptop memintaku

menulis sajak dengan kedip mata kursor yang memelas

beberapa kali kucari gagasan, beberapa kali kutempuh

gugusan—yang ada hanya kekosongan yang mengakhiri

tatap mata titik di datar layar;

                                       layar dirambah jalan kepiting

yang menjepit rontoknya rambut bulan dan kuku patah

milik angin;

           angin yang mengitari kepalaku—saat diri terus berpikir

tentang sajak apa yang pantas ditulis, sedang di luar sana

sajak-sajak ditulis hanya untuk didustai.

2

dengan sapa rahasia, laptop lalu membisikkan sesuatu

“tulislah saja tentang aku, apa pun bentuknya,” suaranya

serak, gamang, dan gemetar, tiba samar

di lubang telinga:

                 telinga hanya bisa menerjemahkan suara

rontokan daun di halaman rumah tak berpenghuni, sebab

ia berkesimpulan bahwa sajak adalah kata lain dari sepi.

huruf-huruf pun kuketik, saling dekap di balik

tarian jari-jari;

            jari-jari yang sabar menyusun tubuh sajak sederhana,

sesederhana daun jatuh menyapa tanah, sesederhana ide yang

datang tiba-tiba tapi pergi dengan tergesa, sesederhana laptop

yang—diam-diam—mencintai jari-jari dengan sajak

yang tak menemukan kata-kata.

Sumenep, 2023


DUNIA VISUAL

dunia dilahirkan kembali ke dalam cahaya

bernama “maya”—si pesolek yang mahir menutupi sisi yang asli

dengan binar kembang putih, dan usianya kian panjang

setelah orang-orang menggulir

layar gawai:

          gawai dengan wajah berparam barang-barang diskon

yang digemari kaum adam dan hawa, barang sehelai bentang rambutnya

telah ia semir dengan harga-harga, lantas ia mahir memilih

gratis ongkir jasa ekspedisi:

                     jasa ekspedisi  yang rutin mengirim paket berisi

bigorafi dunia cahaya itu sendiri, yang terus menari-nari

tapi terus menyendiri.

Gapura, 2023


SELAMAT MALAM, INSTAGRAM

selamat malam, instagram; bulan warna asam

ceking mengerucut dalam foto unggahanmu

di bawahnya ada namaku yang kautulis

dengan warna lipstikmu;

                        lipstikmu adalah warna langit

dalam mimpi-mimpiku, dalam puisi-puisiku.

karena suatu waktu saat kuoles ke bibirku,

malam jadi pergi dan matahari datang sendiri

sebab pada warna lipstik itu

cintamu-cintaku telah setubuh.

Rumah Filzaibel, 2023


PETANI DUSUN BUNGDUWAK

ia menegur dirinya sendiri dengan

seutas cemeti yang memecut

punggung sapi:

                  sapi betina yang membagi tugas dengan si jantan

                  si jantan harus tangguh membaca medan tanah karapan

                  agar di seberang alam; moyang bisa bertepuk tangan

                  sedang si betina bertugas menarik tenggala, menanam isi dada ke

                  guritan tanah:

                               tanah masih berupa sajadah pada makna yang lain

                               agar kedaulatan terus bersembahyang

                               indah berdiri tak harus berduri

                               tapi berisi seperti padi;

                                                            padi yang merelakan bijinya kepada petani

                                                            dan merelakan daunnya kepada sapi

                                                            supaya sapi dan petani

                                                            sama-sama kuat menghadapi cemeti

                                                            cemeti hakiki dan cemeti majasi

                                                            yang dilecut pelaku kapitalisasi.

Rumah Filzaibel, 2023


A.Warits Rovi. Lahir di Sumenep Madura 20 Juli. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media. Buku Cerpennya yang telah terbit “Dukun Carok & Tongkat Kayu” (Basabasi, 2018). Buku puisinya adalah “Kesunyian Melahirkanku Sebagai Lelaki” (Basabasi, 2020), “Bertetangga Bulan” (Hyang Pustaka, 2022). Sedangkan buku puisinya yang berjudul “Ketika Kesunyian Pecah Jadi Ribuan Kaca Jendela” memenangkan lomba buku puisi Pekan Literasi Bank Indonesia Purwokerto 2020. Ia aktif di Komunitas Damar Korong dan mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura. Berdomisili di Jl. Raya Batang-Batang PP. Al-Huda Gapura Timur Gapura Sumenep Madura 69472.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *