Puisi

Puisi Ahmad Radhitya Alam

Bianglala

Benar saja,

sekumpulan warna

pulang kampung

di selasela derai cemara

Di batas cakrawala, bias menjelma

            lingkaran roulette di mata penjudi

dan target operasi di mata polisi

Bianglala hilang

dalam hitungan menit

tanpa sempat mengatakan

pesan terakhirnya

Yogyakarta, 2022


Tubuh Waktu di Kota Maya

Di tubuh waktu aku memuai bersama udara kota

menyelisik masa tanpa tanda akan bersua

serupa rumah yang tak kunjung dihuni

kosong dan tak pernah terisi

Dengan seluruh perhitungan waktumu

kembalilah ke punggung masa

sebelum semua benar-benar maya

Di waktu yang makin batu

hidup hanya memupur bahasa

memendam isi hati dalam mulut teknologi

membungkus akal budi dalam wajah Instagram tivi

Dengan segenap wirid  yang dirapal ibu tanpa jeda

jadilah penerang di batas usia, luruh jadi suluh sederahana,

meski maktu memaksamu terus berpura-pura

maka sudahilah kemarau di kepala, kejahatan dunia maya,

lipatan dalam perkawanan masa, nyanyi bising di telinga,

keruh hati harta dunia, dan cintailah semua dengan

angan yang mengambang dalam perenungan

dari lautan taksa kita bermula

lalu hempas di ombak masa

tanpa sempat melepas kata-kata

lalu hilang dalam hitungan angka

Yogyakarta, 2023


Kasih Tak Santai

Dalam syair masa lalu

yang terkubur dalam madah sembilu

ayat peraduan telah mencipta

ritus khayali tentang requiem

yang dinyanyikan tanpa kata

Nada-nada dilantunkan

koda-koda didendangkan

doa nyaris hilang dari persembahan

cinta seakan menunggu ajal ditetapkan

Kuingat engkau, serupa kuingat syair

yang menyisakan titik nadir dalam

seonggok pasir, pongah, lalu mangkir

saat akan disisir, menyisakan tangis tanpa

mata berair, dan kenang yang terus

melekat hingga akhir

Di ujung hari

geram gusarmu mulai

keluar masuk kepala

tanpa kalimat sapa

Mencintaimu bukan soal

bagaimana cara bertahan

mencintaimu adalah seberapa

kuat merawat kehilangan

Yogyakarta, 2021-2023


Malam Tahun Baru

jika ada yang mencariku

aku tidak kemana-mana

aku di rumah

menumpahkan resah yang ruah

maaf.

sebab aku tak bisa menemanimu

merayakan pergantian tahun

ada yang lebih butuh ditemani

dalam riuh ramai kembang api

            tubuh sunyi

            diri sendiri

/2/

setelah sehari penuh

tubuh penuh peluh.

isi tenagamu dengan tidur

            sebab nanti malam perayaan syukur

sorak ramai retak-retak

nyanyi sunyi larik sajak

terdengar sampai ruang-ruang

kamar belakang

seperti biasanya

aku setia mendengar letus kembang api

            hanya dalam kamar

            sunyi geletar

Yogyakarta, 2022-2023


Merakit Cuaca

langit kota masih basah

oleh hujan air mata

yang dirakit dari luka-luka

menganga dan terbuka

lebih dari seharusnya

ikatan adalah musim dendam

yang kupendam dalam sekam

Yogyakarta, 2022


Lintasan Manusia Indonesia

dari ingatan yang pecah berserak

kaususun getas dasar yang retak:

cermin negara

dengan kota dan kata

dengan revolusi yang ledak berkali-kali

serak suara menebal dalam sejarah:

hari kita berserah

biar kita sokong di atas meja

kemana tubuh bangsa menuju berada

menginci tanah, merawat air

membeli percaya:

sila yang lima

Yogyakarta, 2023


Pancaroba Pekerja

di kering keringat menjelang jam istirahat

geletar cecar mengerak di kerah-kerah biru

menebal di kubang lara

bersanding dengan jajaran

gagasan berbalas culas

setiap lintasan waktu adalah

musim gugur untuk tubuh-tubuh suluh

“larilah ke kamar gelap”

melipat waktu yang lengang

macam harap yang kami tanggung

pada utopia menggunung

Yogyakarta, 2023



Ode Amuk Malam

sebelum ksatria mengasah dendam

biarkanlah tuba memeram ode untuk amuk malam

sedang lengking nyanyimu sendu melulu

meniup gebalau ringkik parau

di televisi kata-kata berubah menjadi senjata

saling menerkam tanpa aba-aba

menyusun sajak-sajak tanpa peduli rima

dan kebenaran telah mati dalam hitungan lima

Yogyakarta, 2023


‘65 Setelah Jakarta

Kami dibariskan di tengah jalan

Lalu disuruh jongkok dengan popor di pelipis kanan

aroma anyir menguar dari darah yang memancar

dari dada yang terkoyak lebar

setiap pagi tubuh-tubuh kaku rubuh

mengalir sepanjang Sungai Brantas

tanpa identitas

Blitar, 2022


Fatamorgana

Kita membenci dosa khalayak

Tapi berbuat dosa

lebih banyak

Yogyakarta, 2022


Ahmad Radhitya Alam, lahir di Blitar dan sedang bergiat di Yogyakarta. Menulis puisi, fiksi, dan esai yang termuat di beberapa media. Bergiat di Bunker Collective Space dan Teater Terjal. Dapat dijumpai via Instagram: radhityaalam_