Sebab aku percaya, luka tak selalu tentang bagaimana kita berjuang untuk menyembuhkannya, tetapi juga tentang bagaimana ia (luka) memberi sentuhan, dan membiarkan kita menikmatinya dalam setiap alur kesedihan itu, dan kita berhasil menamainya dalam satu bingkai kenangan. Mungkin kau salah satunya yang menerima ini.
Kisah seorang gadis hingga menjadi ibu. Kisah tentang bagaimana dia memperjuangkan cintanya. Kisah tentang bagaimana dia mengambil keputusan dalam setiap langkahnya, termasuk memperlakukan kejujuran dan menghadapi kemungkinan munculnya penyesalan. Kisah yang menguras perasaan.
Khatam novel-novel menghasilkan sesalan-sesalan. Pembaca hanya memiliki ingatan-ingatan pendek, tidak utuh, dan gagal tepat. Yang ditemukan dalam buku adalah cerita, yang terbiasa diawetkan dengan sinopsis. Kemauan berjalan di sastra tidak akan meraih kenikmatan-kenikmatan bila selalu sinopsis.
Kita kadang menginginkan yang mengesankan dengan mencomot atau memanen kutipan-kutipan. Novel yang tebal teringat berdasarkan kutipan: satu kalimat atau paragraf pendek. Siasat agar tidak terlalu menyesal dan sia-sia sebagai pembaca.
Yang sulit adalah menentukan kutipan-kutipan agar kita terhubung dengan novel dan beragam buku. Pemilihan kutipan-kutipan bisa membekali kepentingan membuat resensi. Kutipan-kutipan bisa ditaruh dalam esai-esai. Namun, penemuan dan pemilihan kutipan tidak semuanya terpakai sesuai misi atau pamrih.
Akhirnya, kutipan-kutipan untuk merasa menjadi pembaca novel diawetkan dalam paragraf-paragraf yang remeh. Usaha berjalan di novel agar tetap memperoleh, berlanjut membagikan untuk sesama pembaca.
Dua bulan setelah kebakaran itu, aku suka pergi ke taman. Tidak ada alasan lain, kecuali aku ingin menatap gumpalan awan di langit. Sebab, gumpalan awan itu mampu membuatku tenang dan damai. Biasanya awan-awan itu turun perlahan mendekatiku, menyelimuti pandanganku dengan kabut putih sampai tubuhku terasa melayang. Namun, kali ini berbeda, awan yang turun begitu kelabu, bergulung-gulung menghampiriku—membuat mataku menerobos asap hitam yang kedalamannya melebihi jurang tak berdasar.
“Siapa kau?” tanyaku.
Dari kejauhan, sebuah bayangan bergerak-gerak ke arahku. Aku ingin berteriak, tapi tak bisa. Aku ingin beranjak, tapi tak mampu. Air wajahku dingin, jantungku berdegup kencang.
“Kang?” sapa suara itu sebelum telingaku berdenging.
Dari lembut suaranya dan aroma kasturi yang kucium, aku menyadari kehadiran istriku. Sungguh, sudah lama aku tak bertemu. Setiap hari aku menanggung sepi, sendirian saja menjalani kehidupan yang tak cepat berakhir.
“Ci?” tanyaku.
Tak ada sepatah kata yang bisa kudengar. Aku tak tahu, ia membalas sapaanku atau tidak. Seiring pendengaranku yang memekak, potongan-potongan peristiwa di hari paling nahas itu terlintas.
Kala itu, aku dan Cici belum lama menikah, belum sempat benar-benar mencurahkan cinta, menjelang surup rumah kami dihantam ledakan. Di ruang tamu, aku bersama keluargaku terkena runtuhan dinding, sementara istriku menjerit-jerit terjebak api di dapur. Aku ingin menolongnya, tapi aku sulit bergerak. Beberapa saat, aku melihat istriku disergap segerombolan lelaki dan dibopong ke tepi rumah. Aku sangat takut. Kuteriaki mereka sebagai bajingan dan kuserapahi habis-habisan. Ketika aku bisa keluar dari himpitan tembok, kucari istriku dengan tubuh penuh luka koyak dan kaki pincang.
Sungguh, aku hanya bisa berteriak sekencang-kencangnya ketika mendapati istriku terkapar tanpa sehelai pakaian. Detik itu, lekas kupeluk sekujur tubuhnya yang lebam dan pangkal pahanya yang terus mengalir darah. Aku masih berharap ia hidup, meski separuh keyakinanku benar-benar diliputi keraguan.
Tertatih-tatih, istriku kugendong keluar rumah. Kuabaikan sejenak keluargaku yang sedang bersusah payah menyelamatkan diri. Aku berjalan cepat melewati mereka dan berusaha meminta bantuan orang lain, tetapi tetangga-tetangga di sekitar rumah tampak gamang dan berusaha menjauh.
“Tolong! Tolong kami! Antar kami ke rumah sakit!” desakku kala itu, kepada warga yang menyembunyikan ketakutannya dengan kedua tangan terkatup di mulut. “Bantu orangtuaku juga. Mereka di dalam. Tolong!”
Hingga akhirnya, aku hanya bisa menyimpan dendam setelah istri dan keluargaku terkubur. Sehari setelah peristiwa itu, kudatangi kantor polisi meminta keadilan. Kepada para polisi, aku menyalahkan mereka dan orang-orang yang tak sigap memberi bantuan. Kuceritakan pula, betapa kejinya perbuatan segerombolan lelaki itu dan orang yang telah melempar ledakan. Padahal aku tidak punya salah. Keluargaku tidak pantas dijadikan sasaran kesalahan.
“Mereka buat hidup saya sengsara, Pak! Tolong!”
Namun, polisi justru memalingkan muka. Kupaksa mereka mengusut pelaku, tapi aku justru digebuk berulang kali.
“Kami tidak ikut campur,” kata salah seorang dari mereka.
Mendengar ungkapan itu, aku menyesal pernah lahir sebagai pribumi. Belum genap dua puluh tahun tanah air ini memerdekakan rakyatnya, aku merasa hak kemanusiaan keluargaku bagaikan sampah.
“Bajingan!” umpatku.
Sejak peristiwa itu, hidupku kosong. Dan, kekosongan itulah yang kini benar-benar kembali kurasakan.
Asap hitam berputar ke arahku. Membelit tubuhku. Dan, semakin lama bergerak ke atas, menciptakan udara paling dingin. Ketika mataku menjadi kabur, tetapi pendengaranku berangsur pulih, lamat-lamat sampailah gema suara itu kepadaku, “Kang, seberapa besar cintamu?”
Seberapa besar? batinku. Sampai Cici menjadi istriku, memang aku belum pernah menjawab pertanyaan itu. Bahkan kali ini, aku masih belum menemukan pengibaratan yang sepadan. Jujur saja, aku tak suka mengatakan cinta, tetapi langsung menunjukkannya. Maka, sering kuajak ia jalan-jalan, menonton di bioskop, dan membaca koran. Aku juga mengajarinya berbahasa inggris dan menceritakan kepadanya tentang kisah-kisah masa lalu. Sengaja kulakukan itu, sebab aku tahu, sebagai perempuan Cici harus punya pengalaman dan pengetahuan luas.
“Kang?” sapanya lagi.
Alih-alih ingin menjawab, tenggorokanku seperti menelan duri. Aku terbatuk-batuk, tapi tak ada suara.
Seiring dengan tubuhku yang mulai melemas, hatiku bergetar saat terbayang masa-masa aku pindah rumah dan menjalani hari-hari yang malang. Sudah dua bulan, hampir setiap waktu, tak bisa terhitung berapa kali mendiang istriku berkeliaran di benak. Aku kerap mendengarnya memanggil namaku, datang mencolek pinggangku, dan diam-diam seperti memeluk tubuhku. Sering pula aku merasa ia tersenyum, melambai-lambaikan tangannya, dan sesekali menggodaku agar aku berlari mengejarnya.
Pernah suatu masa, di dalam rumah, aku mengejarnya sampai ke pintu, namun saat aku mencoba meraih tangannya, ia lenyap dan tiba-tiba berpindah di dekat bingkai jendela. Dari sinar matahari yang terlalu silau, tubuh istriku tampak seperti siluet perempuan berambut panjang dengan gaun pendek yang teramat anggun. Ia terlihat menawan. Aku sungguh bahagia, meski setelahnya aku tetap menyadari bahwa semua itu bagaikan aku sedang berjalan-jalan di siang bolong dan melihat genangan air dari kejauhan.
Maka, aku memaklumi diriku sendiri, jika di taman ini, saat aku duduk di kursi paling ujung, di bawah deretan ketapang kencana, dan di antara warna-warni tumbuhan pacar air, aku kerap mengenang masa-masa terindah bersama istriku. Aku selalu membayangkan ketika kami duduk di dekat danau sambil makan kue keranjang yang begitu legit dan kenyal. Istriku mengatakan kue keranjang akan lebih nikmat jika dicampur parutan kelapa. Baginya, rasa kue itu akan jadi gurih dan ada asin-asinnya. Aku ingat saat itu kami tertawa karena kami teringat dengan ongol-ongol, jajanan dari tepung sagu yang mirip dengan kue keranjang, apabila kue itu benar-benar diberi parutan kelapa. Dan, tawa kami semakin lepas, ketika Cici bilang bahwa kue keranjang adalah sanak saudara dari dodol.
Pembicaraan itu selalu terngiang, sampai ketika aku memandang langit, aku merasa istriku sedang ada di atas sana. Maka, aku senang sekali saat awan-awan itu turun perlahan mendekatiku, menyelimuti pandanganku dengan kabut putih sampai tubuhku terasa melayang. Ada ketenangan dan kedamaian yang kurasakan, meski aku tak bisa melihatnya ada.
Namun kali ini, jangankan untuk merasakan ketenangan dan kedamaian, tanpa tanda-tanda ganjil sebelumnya, gumpalan awan yang biasa kutatap menjadi begitu kelabu. Aku gusar melihat sergahan asap hitam, gerak bayang-bayang, suara-suara, aroma kasturi, dan pendengaran serta penglihatanku yang mendadak tak berfungsi.
“Kau di mana, Ci?” gumamku.
Ketika aku hendak berjalan, mencari sosok yang kuyakini sebagai istriku, asap hitam semakin bergulung-gulung, sebelum pada akhirnya menyebar, dan membuatku tergelincir ke jurang.***
Yeni Kartikasari, tinggal di Ponorogo. Menyukai ice cream dan cokelat.
“Jika kamu sedang mencari siapa yang dapat mengubahmu, lihatlah ke cermin.” Sebuah persahabatan yang pada awalnya dipenuhi drama dan romantika hidup di sekolah, di rumah, di pasar, di kafe. Bercerita seputar anak-anak muda yang punya mimpi dan berjuang untuk menggapai. Tidak ada yang mustahil di dunia ini, jika manusia berusaha dan berdoa.
hasrat, giat, cermat, gerak, cipta, karya, dan iman,
serta pada seduhan terakhir
—setetes nyali kutambahkan
sebelum kiamat benar-benar menjemput
di hari keberangkatan kata sekarat
aku tetap berkhidmat pada kesembuhan
dan berharap kekuatan seorang diri
mendapati sekawanan burung kenari
menumpahkan rindu yang menghijau,
menyiramkan kasih yang membiru
melukis harmoni serupa pelangi
dan kasih manusia terajut sebagai helai kapas
selembut udara memenuhi rongga dada
—setiap makhluk ciptaan-Nya
karena tuhan mengangkat khalifah
bukan sebagai izin untuk menjarah
menghancurkan atau sekadar mengambil
tanpa memberi imbal balik yang adil
Karanganyar, 2023
Kado Pengantin
: Rasih M. Hilmy
andai putaran waktu terhenti di awal lembaran baru
nyatanya ia masih bergerak di luar sana melawan beku
air sungai mengalir ke hilir, dedaunan menua lalu gugur
awan-awan pun sedia bergilir, butiran hujan setia bertabur
sebab kini kau bukan lagi seorang diri, tapi berdua
merayakan takdir demi segenggam bahagia
seiring sejalan kalian saling menerima
semua kenyataan apa pun adanya
“denganmu, kesialan macam apa
yang membuat derita?”
tandasmu padanya
jika tahun ini kita ibaratkan jam di dinding kamar
pada angka dua belas, sepasang jarum terhenti sebentar
setelah melewati satu episode petualangan gamang
detik ini adalah kenyataan yang berumur panjang
dan semoga inilah pengadilan suci, ganjaran
atas kebebalan yang direstui semesta raya
puisi yang kalian terima tanpa pilihan
hanya kasih sayang, tiada penyesalan
“tanpamu, keindahan macam apa
yang bisa kunikmati?”
tegasmu padanya
aku menyaksikan langit tergelar di dadamu
dengan putik dan tunas yang segera saja bersemi
pada satu pagi yang terbit dari sepasang mata istrimu
mutiara berwarna biru, perak, kelabu, jingga, dan ungu
adalah jenis-jenis musim yang kini kau himpun
setulus mungkin tanpa kehendak melawan kepastian
dan seketika itu pula kutahu, kau telah menyerah
untuk hidup merawat puisi yang kau sebut rumahmu
Karanganyar, 2023
Menjala Angin
kita telah lama belajar terbang
membuntuti angin dari negeri tanpa musim
lesap tanah dan air diserobot maling
dan kota-kota di permulaan pagi,
melahirkan anak-anak yang tumbuh dari tumpukan sampah
masa depan berpinak dari rahim hologram ladah
arus tinggi informasi
laju kemajuan teknologi
pesat kembangnya industri
dan waktu adalah panggung perayaan
senjakala kemenangan
mimpi-mimpi di meja makan,
tak peduli gizi dihidangkan setengah matang
menimbun racun yang bersekutu dengan penawarnya
layanan medis ahli
kemujaraban farmasi
kepastian polis asuransi
dan rumahsakit-rumahsakit makin subur
ragam penyakit menjamur
kita agaknya terbiasa patuh dan tabah
menirukan kegilaan dinding-dinding sekolah
kalut menghafal larik mantra dan rajah
kita pun sejatinya kerap lalai menghitung
jala angin yang ditinggalkan sayap burung-burung
dan langit lebih murung ketimbang resah gunung
Karanganyar, 2023
Ian Hasan, lahir di Ponorogo, saat ini tinggal dan bergiat di Sanggar Pamongan Karanganyar, selain juga terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata. Buku Kumpulan Cerpen perdananya berjudul Lelaki yang Mendapatkan Jawaban Atas Kisahnya Sendiri, terpilih sebagai finalis Hadiah Sastra Ayu Utami untuk Pemula “Rasa” 2022. Penulis dapat disapa memalui akun instagram @ian_hasan
Sepiringnasi goreng iga bakar disajikan Ratih. Sepasang mata Pak Jo terbelalak. Rasa lapar dan selera makannya bangkit. Tak terkendali seperti masa kanak-kanak. Di restoran hotel itu Ratih duduk menghadap meja kayu jati, berseberangan dengan Pak Jo. Semua orang menyapa Pak Jo. Ia seorang guru besar, pembicara dalam forum seminar. Lelaki setengah baya itu hanya memperhatikan Ratih, perempuan beralis tebal, dengan rambut sebahu, berkacamata minus setengah. Di hadapan Pak Jo, perempuan itu menjaga kesopanan.
“Kau suka masak nasi goreng?” tanya Pak Jo pada Ratih, seorang dosen muda, kandidat doktor.
Ratih memandangi Pak Jo, promotor disertasinya, dengan jenaka.
Lelaki setengah baya itu iseng bertanya tentang makan pagi kesukaan Ratih. Ia selalu memasak nasi goreng pada pagi hari, tetapi tak pernah memenuhi seleranya, Anak gadisnya, Sekar, sebelum menikah, kadang memasak nasi goreng untuknya, tetapi terlalu banyak sayur.
“Saya sering masak nasi goreng untuk sarapan suami,” kata Ratih.
“Apa suamimu bersyukur?” Pak Jo merasa perlu mengajukan pertanyaan ini. Ia masih ingat akan perangai Sekar, yang selalu menuntutnya mengucapkan rasa terimakasih ketika menyajikan sepiring nasi goreng yang penuh sayur dan cenderung hambar.
“Ia pandai memuji masakan istri,” kata Ratih, tenang.
“Apa dia tak pernah meminta sarapan lain, selain nasi goreng?”
“Sesekali ia minta nasi goreng pete,” kata Ratih. Ia mengingat perilaku suaminya yang jenaka saat makan nasi goreng pete. “Aroma pete membuatnya lahap makan.”
“Istriku dulu suka masak nasi goreng babat gongso. Tak seorang pun bisa menandingi kelezatannya. Nasi goreng iga bakar yang kita makan ini, kalah lezat dengan masakan istriku.”
Berceritalah Pak Jo pada Ratih mengenai kelezatan nasi goreng sapi, nasi goreng kambing, nasi goreng ikan asin, nasi goreng kornet, nasi goreng sambal cumi pete, nasi goreng udang, nasi goreng magelangan, nasi goreng padang, dan nasi goreng thailand. Mereka bertukar cerita, dan tak ingin diganggu siapa pun. Orang-orang yang mengenal Pak Jo menyapa, tetapi tak pernah berani bergabung ke mejanya. Lelaki setengah baya itu menikmati makan pagi yang lezat, setelah sepuluh tahun tak pernah merasakannya, sejak istrinya meninggal. Sepasang mata Ratih menampakkan cahaya ketakjuban selama sarapan, dan lelaki setengah baya itu merasa nikmat tiap sendok nasi goreng iga bakar. Tiap teguk kopi terasa lezat dalam cecapan ujung lidahnya.
***
Usaimenjadi pembicara di hotel, menjelang sore Pak Jo meninggalkan ruang seminar. Berlari-lari kecil Ratih mengajak suaminya menemui Pak Jo di pelataran hotel, dekat air mancur, kolam ikan, dan taman. Seorang lelaki kurus, rambut gondrong, berkacamata tebal, menyalami Pak Jo.
“Ini suamiku,” kata Ratih, “seorang wartawan.”
Tercium bau keringat dan rokok yang menyengat. Pak Jo teringat akan kesukaan lelaki ini makan nasi goreng pete. Ia menahan senyum, tak bisa berbincang lama dengan Ratih dan suaminya. Ia bergegas ke ruang parkir mobil. “Sampai besok, kita bertemu di ruang ujian promosi doktor!”
Meninggalkan hotel di pinggir kota, lelaki setengah baya itu memasuki pelataran rumah yang senyap. Tanaman-tanamannya layu, beberapa hari tak disiram. Ia membuka pintu rumah, dan seekor kucing berlarian mengikuti langkahnya.
Malam itu Pak Jo suntuk membaca disertasi Ratih. Sebuah taksi berhenti di depan rumah. Anak sulung dan istrinya, Alya, datang dari ibu kota, meramaikan suasana rumah. Anak sulung datang untuk urusan kerja, dan Alya ikut suami untuk jalan-jalan. Alya membawakan banyak makanan, dan terus-menerus mengajaknya ngobrol.
Pak Jo mulai membandingkan Alya dengan Ratih. Ia sempat berpikir, kenapa Alya tak semenarik Ratih, yang akan diuji disertainya besok? Lelaki setengah baya itu mulai melihat penampilan Alya: alis, sepasang mata, dandanan, cara berpakaian, dan cara bicaranya. Alya tampil dengan gemerlap. Ratih tampil dengan apa adanya.
“Besok akan tersaji makan pagi paling indah bagi Ayah.”
Pak Jo berharap besok pagi akan menikmati nasi goreng, telur dadar, dan secangkir kopi yang memberinya keceriaan. Ia juga memerlukan teman ngobrol seperti Ratih.
***
Lepas subuh, Pak Jo berjalan kaki mengitari gang-gang, mencapai taman bougenvile dan buru-buru pulang. Ia merasakan tubuhnya segar, duduk di teras, membaca koran, mandi, berdandan, dan menghampiri meja makan. Tetapi alangkah sepi meja makan itu. Alya dan anak sulungnya tidak berada di hadapannya. Ia seorang diri, mencecap kopi yang hambar. Anak sulung dan menantunya bergegas menyalaminya, mohon diri. Anak sulungnya akan mengunjungi tempat kerja. Menantunya menemui seorang sahabat, dan mereka berjanji akan berjalan-jalan berdua.
Pak Jo mengambil nasi goreng masakan Alya. Ia sarapan dalam senyap seorang diri. Dalam suapan pertama, lidahnya tersengat rasa pedas. Telur dadar yang dikunyahnya terasa asin. Ia bimbang, ingin meninggalkan sarapan nasi goreng yang sudah dibayangkan semalam akan lezat.
Terdiam, merenung seorang diri di meja makan, ia teringat akan godaan seorang teman, “Tunggu apa lagi? Kau perlu seseorang istri yang membuatkanmu sarapan nasi goreng!”
Pak Jo memaksakan diri untuk menyuap beberapa sendok nasi goreng yang terlalu pedas, mengunyah telor dadar yang asin, dan mencecap kopi yang hambar. Ia memberikan nasi goreng dan telor dadar pada kucing. Nasi goreng itu cuma diendus-endus. Telur dadar itu yang dimakannya. Nasi goreng pedas itu diabaikan kucing.
Mencuci piring dan cangkir, Pak Jo kembali duduk menghadap meja makan. Memandangi lukisan besar di dinding. Istrinya tersenyum tipis, dengan kebaya dan rambut disanggul. Sepasang matanya bening, dan selalu ia ingat godaannya tiap pagi, “Nasi goreng babat gongso sudah matang. Ayo, dimakan, mumpung hangat!”
Mereka makan bersama. Selalu Pak Jo merasakan kelezatan dalam tiap bulir nasi goreng babat gongso yang dimasak istrinya. Ada senyum tipis dalam celah bibir itu, terpancar cahaya bening di balik kacamata. Dan Pak Jo, akan marah sekali setiap kali seorang teman membujuknya untuk kembali menikah dengan seorang janda yang diperkenalkan padanya. “Kau kira akan mudah bagiku untuk menerima istri baru?”
Pak Jo mengusir kucingnya keluar rumah, mengunci pintu, menghampiri garasi. Ia mengendarai mobil pelan-pelan, berangkat ke kampus. Masih terlalu pagi. Ia mencapai kampus, menuju ruang tunggu dosen penguji disertasi. Berperangai lembut, Ratih menyambutnya, menyuguhkan sepiring nasi goreng babat gongso dengan acar, taburan bawang goreng, dan kerupuk. Aroma nasi goreng itu persis yang disajikan istrinya tiap pagi di meja makan. Dalam suapan pertama, ia menikmati kelezatan nasi goreng itu. Lahap sekali ia menghabiskan nasi goreng babat gongso, dan menemukan seluruh kenikmatan makan pagi sepuluh tahun silam bersama istri.
Pandana Merdeka, Januari 2024
S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari. Menyelesaikan program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”. Semenjak 1983 ia menulis cerpen, esai sastra, puisi, novel, dan artikel di beberapa media massa. Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen “Cermin Jiwa”, yang dimuat Kompas, 12 Mei 2007. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Kumpulan cerpen Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005), dibukukan setelah lebih dari dua puluh tahun masa proses kreatifnya. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” dimuat dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Penyusup Larut Malam” dimuat dalam Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009 dan diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018). Cerpen “Pengunyah Sirih” dimuat dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Novel yang terbit Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017), Percumbuan Topeng (Cipta Prima Nusantara, 2022). Kumpulan cerpen Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020), nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021. Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022) dan Anak Panah Dewa (Penerbit Nomina, 2022).
ikan-ikan yang kerap bersengkela di jala para nelayan
berjatuhan dari langit berlumpur
memenuhi ladang yang kami garap
bumi yang kami huni
sebagai neraka kecil.
Bekasi, 29 Januari 2024.
Tamsil Peradaban
usai Hawa memetik hukum Tuhan
bumi menjadi tempat bagi Adam
menebus dosa-dosa
dan menggumbuk roda nasib.
tapi kini,
bumi hanya lautan merah tak bertepi
dan anak-anak Adam
menjala perkara haram di atas perahu emas
mengantarkan tanah leluhur
rumah para dulur
ke dermaga penuh abu.
nanti, setelah tanggal-tanggal terpenggal
rahim bumi akan mengandung seribu catatan
dan kita akan berlomba
mengarungi pulau-pulau sastra
menerjang ombak-ombak lini masa
menganju ajang pamer
pada sesuatu yang ciri
dengan beberapa cara.
Bekasi, 29 Januari 2024.
Mengadu Nasib
: 19 tahun berlalu
dan ratusan ribu jisim
adalah bangkai tak bernisan
ladang yang dipersilakan untuk kami menanam doa
memanen perpisahan
menanak rasa sakit.
sedang di hari yang bukan Ramadan
kami berpuasa atas kerinduan
memeluk orang-orang yang hingga sekarang
tak pernah lunas kami temui
melainkan sekubit tulang
kulit dan daging hitam
berkelindan syair-syair gamang.
seraya mengadu nasib
kami menabur doa-doa paling ranum
di atas pusara yang tak lagi wangi
alangkah rasa sakit yang banglas di dada kami
adalah air mata—yang selalu tumpah
namun entah ke jasad siapa!
Bekasi, 29 Januari 2024.
Dermaga Masa Depan
atas nama leluhur
kami menanam kebaikan di ladang syukur
menanak seribu doa di dapur
yang tak pernah merugi.
pun memantik nyala api—membakar nyali pada sumbu yang enggan padam
hingga pemikiran kami berkobar matang
tanpa tungku arang.
di tanah yang kami cintai ini
secangkir literasi terhidang sepanjang malam
dan kami bersumpah di dalam rumah yang sama
bahwa semangat kami enggan berbeda
meramu darah yang satu, bangsa yang satu, bahasa yang satu
menggisil perkara haram
yang sekali waktu
menjelma perkara hasai.
demi menulis peradaban
mendaras kehidupan
kami menatah perahu
mengantarkan generasi
ke dermaga masa depan
dan mengarungi
luasnya kebijaksanaan Tuhan.
Bekasi, 29 Januari 2024.
Dua Kubu
sekali waktu
aku lihat geliat ibu
bersujud runcing kepada Tuhan
dan ibu bersaksi;
bahwa dirinya kerap buta
menyayangi darah daging
melebihi yang Mencipta.
di lain waktu
ayah menyergah ingatanku:
puisi tetang ibu selalu bermula dari tunggul pohon di hutan rimbun, Nak
kala desir angin menampar-nampar tubuhnya
ia berdansa penuh birahi
menyetubuhi jari-jemari di atas secarik kertas
sampai terkulai lemas, menggelinjang
mengandung benih-benih sastra
pecah sebagai bahasa
menjelma satu puisi.
Bekasi, 29 Januari 2024.
Falsasah Seorang Ibu
ibu adalah cinta yang setiap kali hampir mati
direinkarnasi dengan doa-doa
sedang di dada anak piatu
merindukan ibu
adalah doa paling sakit.
kendati demikian
kebohongan ibu hanyalah jujur
yang dibungkam dalam waktu sementara
ibu berkata “silahkan berkelana”
meski aku tahu
bahwa kepulangan
adalah inginnya yang paling rahasia.
di tempat berbeda
aku menghitung hari-hari yang terkelupas
sembari mengingat masa kecil
yang dahulu:
ibu mencariku di antara adzan magrib
menyapih mataku di waktu subuh
menyulam nasibku yang masih setengah jadi.
Bekasi, 29 Januari 2024.
Anasir Kehidupan
mengislah mawar
sebab suamimu yang bernama langit
takkan pulang membawa hujan
dan tubuhmu itu
begitu hasai
haus keadilan.
pun tanah di sekelilingmu
kian merengek
ingin memeluk basah paling berkelas
dari ceruk matamu yang gegas
untuk merekah
rindu bersudah.
kau pun tahu, mawar
bahwa hidup bukan tembikar
yang semakin dibakar
meraup tawar-menawar
dari tangan seorang pembeli.
hidup; hanya bangku sekolah kedua
yang di atasnya
kita duduk mengernyitkan dahi
mampus berpikir
kapan ujian ini berakhir?
Bekasi, 29 Januari 2024.
Ilham Nuryadi Akbar lahir di Banda Aceh dan saat ini sedang merantau di Kota Bekasi. Buku pertamanya diterbitkan oleh Alinea Medika Pustaka berjudul Kemarau Di Matamu Hujan Di Mataku. Puisi dan cerpen dimuat pada beberapa media lokal dan nasional.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul tiga lewat lima puluh menit. Aku sudah duduk di sofa ruang tamu kos ini sejak sepuluh menit yang lalu. Sekaleng minuman soda dingin di tanganku, bahkan sudah hampir habis, tapi mobil yang akan membawaku dan teman-teman ke Gunung Kidul belum juga sampai. Berkali-kali aku menarik napas panjang karena bosan. Hingga tanpa sengaja pandanganku jatuh pada kalender yang tergantung di dinding. Sebentar lagi hari natal. Hari yang mulai aku benci sejak tepat di tanggal yang sama, tiga tahun lalu, telah merenggut papah dari hidupku.
Tin tin
Suara klakson mengagetkanku. Aku bangkit, lalu menyeret koper di sampingku untuk segera menyusul masuk ke mobil.
***
“Mari-mari.” Mbah Diro, pria renta berusia delapan puluh satu tahun itu memersilakanku dan Indah untuk masuk ke rumah. Bangunan sederhana berdinding anyaman bambu dan berlantai tanah ini akan menjadi tempat tinggal kami selama dua minggu ke depan. Kami akan mengambil data dan melakukan survey lapangan untuk keperluan skripsi di desa Karangduwet yang terletak di kecamatan Paliyan, kabupaten Gunung Kidul.
Mbah Nik, istri Mbah Diro sedang menata minuman di meja. Kami menyalami keduanya sebelum akhirnya duduk. “Namanya siapa?” tanya Mbah Nik kepadaku.
“Nadia, Mbah.”
Mbah Nik mencondongkan kepala dan memasang wajah seolah tidak mengerti.
Mbah Diro lalu memperkenalkan kami dengan suara lantang. “Ini Mbak Nadia, kalau yang itu namanya Mbak Indah,” ucapnya sambil menunjuk kami bergantian. Mbah Nik terlihat mengangguk.
“Maaf, istri saya ini pendengarannya sudah jelek. Jadi kalau ngomong memang harus keras,” jelas Mba Diro. “Silakan diminum dulu. Setelah ini akan saya tunjukkan kamar kalian supaya Mbak berdua bisa istirahat.”
“Terima kasih, Mbah,” balasku dan Indah hampir berbarengan.
Mbah Diro memperlihatkan letak kamar mandi dan dapur sebelum mengantar kami ke ruang tidur. Luas kamar kami sekitar dua kali tiga meter. Ada satu dipan beralaskan tikar dilengkapi dua bantal kapuk dan dua lembar jarik yang masih terlipat rapi. Terdapat satu buah meja dan kursi kayu di sudut ruangan. Tidak ada lemari, jadi aku dan Indah tetap menyimpan pakaian di dalam koper.
Indah terlihat memainkan ponsel untuk mencari arah kiblat. “Dipan ini kita pindah menghadap ke sana ya, Nad? Sudah pukul sepuluh dan aku belum sempat salat Isya.” Aku hanya mengangguk lalu membantu memosisikan dipan sesuai arahannya. Tidak lama ia keluar kamar dan masuk lagi sudah dengan wajah, tangan serta kaki yang basah. Ia mengambil tas kecil dari dalam koper lalu naik ke dipan. Ia memakai mukena, menggelar sajadah dan melaksanakan salat.
Aku meletakkan tas di meja, kemudian duduk sambil memainkan ponsel untuk menunggu Indah menyelesaikan ibadahnya. Ada pesan dari Mas Indra, kakakku. “Natal tahun ini pulang ya, Nad. Mamah kangen kamu.”
Aku tidak membalas pesannya.
***
Mbah Diro sedang jongkok meniup bambu ke arah tungku sambil memainkan kayu bakar di bawahnya. Asap mengepul cukup banyak. Tidak lama api pun menyala. Ia mengangkat ceret yang hampir keseluruhannya berwarna hitam ke tungku.
“Loh, sudah bangun to? Mbak Indah juga sudah bangun?” tanya Mbah Diro padaku.
“Iya, Mbah. Indah masih mengaji di kamar,” jawabku singkat.
“Sebentar, airnya belum matang. Saya buatkan teh untuk sarapan.”
“Terima kasih, Mbah. Biar saya bantu.”
“Tidak perlu. Lebih baik Mbak Nadia siap-siap saja. Bukannya pagi ini harus ke balai desa. Nanti saya antar.”
“Baik, Mbah.” Aku mencari-cari keberadaan istrinya. “Ngomong-ngomong, Mbah Nik ke mana, Mbah?” tanyaku.
“Subuh tadi dijemput Warjo, anak saya, ke Playen. Istrinya baru saja melahirkan. Cucuku sudah tiga sekarang. Laki-laki semua.”
Aku manggut-manggut. “Wah selamat ya, Mbah. Gara-gara kami Simbah jadi tidak bisa ikut menengok cucu.”
Mbah Diro menggeleng. “Tidak apa-apa, yang penting semua sehat. Sudah sana, nanti terlambat,” perintahnya kemudian.
Aku berjalan meninggalkan dapur. Sambil menuju ke kamar, aku memperhatikan sekeliling. Rumah ini ada dua kamar, satu kamar digunakan Mbah Diro dan istrinya, satu lagi yang aku dan Indah tempati. Bagian ruang tamu ada empat bangku dan satu meja panjang berbentuk kotak, bersebelahan dengan bufet di mana ada sebuah radio berukuran kecil di situ. Tepat di sampingnya ada lemari kecil dengan pintu kaca. Aku bisa melihat dua buah keris dan satu mata tombak tersimpan di dalamnya. Semua perabot terbuat dari kayu. Pada dinding bambu yang menjadi sekat kamar Mbah Diro, tertempel poster presiden Soeharto dan Sri Sultan Hamengkubuwono ke Sembilan berukuran cukup besar. Tidak ada jam dinding maupun televisi di ruangan ini. Kamar mandi berada di luar rumah.
Ponselku berdering. Aku melihat nama Mas Indra pada layar.
“Ya, Mas,” jawabku malas.
“Semalam aku mengirimkan pesan tapi tidak terbalas, kamu sudah tidur ya?” tanya Mas Indra di seberang.
“Iya, Mas. Semalam aku lelah sekali.”
“Oke. Natal besok kamu pulang kan?”
Hening.
“Nad, cepat mandi!” teriak Indah begitu masuk. Aku yakin Mas Indra pasti bisa mendengar juga suaranya.
“Sudah dulu ya, Mas. Aku harus segera bersiap.” Aku mengakhiri telepon tanpa menunggu persetujuan.
Indah terlihat masih mengenakan handuk di kepalanya, namun pakaian yang dikenakan sudah rapi. Kuturuti Indah tanpa protes, langsung melesat mengambil handuk di kamar.
***
Hari ini hari Minggu. Sejak Sabtu sore Indah pamit untuk pulang dulu ke Yogya dan akan kembali lagi nanti malam. Aku memutuskan untuk tetap tinggal di sini sampai kegiatan kami selesai. Sekamar dengan Indah membuatku mulai terbiasa bangun subuh. Udara pagi ternyata menyegarkan.
Mbah Diro sedang memanen pisang di halaman rumah. Aku bermaksud ingin membantu tapi ditolak. Takut kotor katanya. Jadi aku berinisiatif membuat teh manis hangat untuk kami.
“Mbak Nadia mau saya antar ke gereja?” tanya Mbah Diro tiba-tiba setelah melirik ke arah liontin berbentuk salib yang menggantung di leherku.
Aku terkejut mendengarnya. Entah sudah berapa lama aku tidak pernah lagi ke gereja sejak papah meninggal. Cukup lama aku tidak menjawab.
“Ada gereja di dekat pasar, kebetulan saya mau menjual pisang, jadi bisa sekalian. Setelah tehnya habis, Mbak Nadia siap-siap ya,” kata Mbah Diro seolah memerintah. Aku hanya menjawab dengan anggukan.
***
“Mbak Nadia kenapa? Kok sejak tadi terlihat murung. Apa sedang tidak enak badan?” tanya Mbah Diro. Kami berjalan beriringan kembali ke rumah. Sinar matahari sudah cukup menyengat, tapi tersamar karena banyak pohon rindang di sepanjang jalan.
“Tidak apa-apa,” jawabku singkat. Aku melihat Mbah Diro menenteng kresek putih berisi beras. “Sini saya bantu bawakan, Mbah.” Tanpa menunggu jawaban aku langsung mengambil alih bungkusan itu.
Cukup lama kami terdiam. Kemudian aku bertanya untuk memecah keheningan, “Apakah Simbah pernah sedih?”
“Tidak,” jawabnya pendek.
“Tidak?” tanyaku menirukannya.
“Mbak Nadia lagi sedih?” Mbah Diro balik bertanya.
“Tidak, Mbah. Cuma sedang kangen papah.”
“Memangnya papahnya Mbak Nadia ke mana?”
“Sudah meninggal tiga tahun yang lalu.”
Mbah Diro terlihat sedang berpikir sejenak. “Dulu Simbok pernah menasihati saat Bapak meninggal.”
Aku menengok ke arahnya, tertarik dengan apa yang akan disampaikan.
“Jangan sampai kesedihan dan tangisanmu mempersulit bapakmu di alam kubur,” ucap Mbah Diro menirukan kalimat ibunya. “Waktu itu saya masih kecil, belum begitu mengerti, jadi patuh saja dengan apa yang simbok bilang. Sekarang baru tahu kalau rezeki, jodoh dan maut itu sudah ketetapan. Mau dihindari seperti apa kalau sudah rezeki ya harus diterima. Pun sebaliknya, mau dikejar seperti apa kalau bukan haknya juga tidak akan pernah sampai. Hidup itu tujuannya cuma satu, yaitu menjalani apa yang sudah ditetapkan Gusti Allah,” lanjutnya kemudian.
“Berarti Simbah selalu bahagia?” tanyaku lagi.
Mbah Diro mengangguk tersenyum. Sadar melihatku seperti masih tidak puas, ia menjelaskan lagi. “Saya itu orang bodoh. Membaca saja tidak bisa. Belajar salat dan mengaji tidak pandai-pandai. Jadi kalau pas bulan Ramadhan, ya ikut puasa. Saatnya tarawih, ya berangkat tarawih. Makanya saya itu kalau sudah waktunya azan langsung ke masjid, karena kalau salat sendiri tidak bisa.”
Aku tersenyum mendengar jawaban polosnya.
“Apalagi Mbak Nadia kan orang pintar, seharusnya bisa lebih bahagia.”
Deg. Jantungku serasa berhenti mendadak. Ada perasaan aneh dalam hatiku.
***
Tanpa terasa, dua minggu sudah hampir terlewati. Hari ini tugasku selesai lebih cepat. Indah masih harus bertemu dengan beberapa petani, jadi aku meninggalkannya pulang lebih dulu. sesampainya di rumah, aku melihat Mbah Diro menggendong tiga buah nangka muda berukuran sedang hasil panennya hari ini.
“Simbah mau ke pasar? Saya ikut ya?” tanyaku.
“Kok sudah pulang?”
“Iya, tugasku sudah selesai, Mbah.”
Mbah Diro tersenyum mengizinkan.
Ternyata kali ini bukan ke pasar biasanya. Kami harus naik angkot satu kali untuk menuju pasar Playen. Begitu sampai, aku melihat Mbah Diro menyerahkan satu lembar uang lima ribuan dan satu lembar lagi uang seribuan. “Dua orang ya,” ucapnya kepada kernet. Aku bermaksud mengganti uang tersebut namun ditolaknya. Kami lalu masuk ke pasar.
Tanpa mencari-cari, simbah langsung berjalan menuju lapak penjual gudeg yang berada di pojok. Setelah bernegosiasi, akhirnya Mbah Diro mengucap syukur saat menerima uang sebesar dua puluh ribu rupiah di tangannya. Aku sangat sedih melihatnya. Sampai akhirnya sebelum kami naik angkot untuk kembali pulang, Warjo yang kebetulan sedang berada di pasar, memanggil simbah dan menyerahkan dua bungkusan besar yang tidak lama kemudian aku tahu isinya ayam, telur dan juga sayuran.
“Alhamdulillah, akhirnya kita bisa makan enak sebelum Mbak Nadia dan Mbak Indah pulang,” ucap Mbah Diro. Seketika hatiku rasanya diremas-remas. Aku berusaha menahan tangis agar tidak pecah. Begitu angkot berhenti di depan pasar yang biasanya kami kunjungi, aku meminta izin pada simbah untuk turun terlebih dahulu. Secepat kilat aku berlari masuk ke gereja. Menuju bangku paling depan, lalu berdoa.
“Tuhan, aku meralat apa yang kukatakan dalam doaku kemarin. Aku tidak protes lagi mengapa papah meninggal. Karena aku tahu, papah sekarang sudah di surga bersama-Mu. Aku juga tidak akan meminta-Mu mengambil nyawaku pada malam natal nanti untuk menyusul papah.” Tangisku akhirnya pecah. Beban dan rasa sakit yang selama ini ada di dadaku seperti berdesakan ingin keluar berbarengan dengan derasnya air mataku. Usai mengakhiri doa, aku mengambil ponsel dan membalas pesan Mas Indra.”***
Septi Rusdiyana Penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga dengan dua putri cantik bernama Negar dan Nala
Imam Khoironi, lahir di desa Cintamulya 18 Februari. Masih mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris di UIN Raden Intan Lampung. Tidak terlalu suka seafood dan durian. Penggemar mi ayam dan bakso garis keras ini suka nulis puisi, cerpen kadang-kadang juga esai. Buku puisinya berjudul Denting Jam Dinding (ada di tokopedia). Karya-karyanya pernah dimuat di berbagai online dan cetak. Puisinya masuk dalam buku Negeri Rantau; Dari Negeri Poci 10 dan banyak antologi puisi lainnya. Ia bisa di-stalking di Facebook : Imam Imron Khoironi, Youtube channel: Imron Aksa, IG : @ronny.imam07 atau di www.duniakataimronaka.blogspot.com.