Katalog

Cerpen

Rahasia Mimpi Kastawa

Cerpen Y Agusta Akhir

Saat masih sama-sama bocah ingusan, kami sering mengoloknya dan memanggilnya si Pembual. Itu karena ia sering bercerita tentang hal-hal aneh dan tak masuk akal. Misalnya ia bercerita kalau di rumahnya dijaga tiga makhluk berkepala ular atau kali lain ia mengaku bertemu dengan tuyul dan bicara dengannya. Di hari lain ia mengaku melihat peri terbang di udara mirip layang-layang. Tentu kami percaya tentang adanya hantu atau jin atau setan. Makhluk tak kasat mata. Tetapi kami tak percaya Kastawa memiliki indera keenam.

Sekitar dua bulan lalu, tanpa sengaja aku bertemu dengannya dan ia mengatakan kalau sedang merasa gelisah. Aku bertanya mengapa, dan ia bercerita perihal mimpinya dan kematian-kematian karenanya. Aku memperhatikan wajahnya sepanjang ia bercerita, dan aku tak menemukan jejak bualan di sana. Ia bicara sangat yakin, polos dan aku tak mungkin menganggapnya sebagai sesuatu yang dibuat-buat. Wajah kanak-kanaknya saat menceritakan seputar makhluk astral melintas di benak, dan memang tak seperti orang yang sedang berbohong.

“Ini rahasia,” katanya, “aku belum pernah bercerita kepada siapa pun. Aku takut orang-orang akan salah paham dan berakibat buruk padaku!”

“Tapi kenapa kau menceritakannya kepadaku?” aku iseng bertanya.

“Karena kau bisa menjaga rahasia. Aku percaya padamu. Dan aku tak mungkin memendamnya sendiri. Kau tahu, aku merasa bersalah. Mimpi begitu, menyiksaku alih-alih aku menikmatinya!”

Sebenarnya kurang tepat kalau aku dikatakan bisa memendam rahasia. Yang benar adalah aku orang yang lebih banyak diam, dan selebihnya aku hanya tak memercayainya. Lalu, untuk apa aku mengatakan kepada orang-orang kalau Kastawa, melalui mimpinya, bisa mengetahui akan ada yang meninggal di kampung ini?  

Aku mencoba memahaminya. Tetapi sejujurnya aku merasa apa yang diceritakannya adalah sesuatu yang konyol. Aku tidak menyangka kalau ia masih suka bercerita hal-hal yang tak masuk akal. Sudah mendekati kepala empat. Rupanya itulah watak yang tak bisa berubah.

“Aku ingin hal itu tak lagi terjadi padaku. Kalau memang aku harus mimpi, jangan ada yang mati!”

Aku mengangguk-anggukan kepala, supaya ia menyangka aku mengerti dan merespon apa yang dikatakannya. 

“Barangkali itu suatu kebetulan,” kataku, yang sebenarnya tidak begitu sungguh-sungguh mengucapkannya.

“Tadinya aku juga berpikir begitu. Tetapi setelah berkali-kali aku mengalami mimpi basah, esok atau lusanya ada yang mati. Selalu begitu. Rasanya tak mungkin kalau kebetulan belaka!”

Ia, kemudian dengan serius menyebutkan beberapa tetangga yang meninggal dan itu semua ditandai dengan mimpinya itu. Ia bilang tak tahu pasti siapa yang bakal dijemput maut. Hanya saja, sesaat setelah mimpi basah, ia seperti melihat ada gumpalan asap melayang-layang di udara, lalu masuk ke dalam rumah. Salah satu penghuni rumah itulah nanti yang akan meninggal.

“Tetapi aku tak bisa menebak, siapa dia!”

Aku berpikir, seandainya itu benar, ngeri juga mimpinya itu. Tetapi aku lebih suka menganggapnya sudah gila.

“Gan, kalau nanti aku mimpi basah, aku akan kabarkan kepadamu. Dan kau akan tahu, bakal ada yang meninggal!”

Aku tidak mengiyakannya. Aku hanya tersenyum dan menatap kedua matanya. Sepertinya ia tidak gila.  

Kastawa sempat bertanya kabar adik perempuanku, yang pernah ditaksirnya, ketika kami masih di masa-masa sekolah dulu. Aku jawab baik-baik saja, dan mencandai dia dengan bertanya apakah masih naksir adkikku, tetapi Kastawa hanya tertawa.

Sebelum berpisah, mendadak wajahnya tampak serius dan berkata, “Gan, kuharap kau berhenti. Carilah pekerjaan baik-baik!”

Ucapannya membuatku tersentak. Aku tahu maksudnya. Kupikir mungkin ada teman yang memberitahunya perihal ‘pekerjaanku’ selama ini. Apalagi, aku pernah tertangkap dan dipenjara. Barangkali pula ia sudah mendengarnya. Aku memang seorang pengedar, namun aku sudah memutuskan ingin berhenti. Untuk itulah aku pulang dan tak akan kembali ke ibu kota. Di sana, rasanya tak mungkin bisa kembali ke jalan yang benar. Aku sudah bertekad akan kerja baik-baik. Aku ingin hidup tenang bersama keluargaku. Keluar dari lingkaran setan. Tak ingin lagi berhubungan dengan barang haram itu. Capek jadi buronan polisi.

“Tentu saja, kawan!” sambil tersenyum aku mengucapkan itu, lalu kami berpisah.

***

Sejak pertemuan itu, di hari-hari selanjutnya kami masih bertemu lagi beberapa kali dan ia tak menyinggung perihal mimpinya yang ia sebut sebagai penanda kematian itu. Dan selama itu pula memang tak ada yang meninggal. Tetapi dua hari lalu ia datang ke rumah hanya untuk mengatakan kalau dirinya sudah mimpi basah.

“Besok atau lusa, pasti ada yang meninggal!” katanya sangat yakin.

Sampai detik itu aku masih belum bisa memercayainya. Tetapi ketika esok harinya ada yang meninggal, aku mulai ragu. Ia kembali datang untuk menegaskan kebenarannya. Aku katakan padanya kalau butuh dua atau tiga kali bukti, sehingga aku bisa percaya tentang mimpinya yang bisa menandai adanya kematian itu. Setidaknya aku tak akan lagi berpikir itu suatu kebetulan belaka. Aku juga menambahkan, tepatnya menawarkan padanya untuk bertaruh.

Tetapi ia menolaknya.

“Sebenarnya, kalau kamu tak percaya padaku, tak apa. Aku sendiri ingin lepas dari semua ini. Seperti yang kukatakan, aku justru tersiksa!”

“Baiklah, kalau begitu biar aku saja yang berjanji!” kataku, tak peduli dengan omongannya barusan.

“Terserah kau saja,” katanya.

Aku berjanji, kalau memang setelah ia mimpi basah dan kemudian ada yang meninggal esok pagi atau lusanya, maka pertama, aku akan memercayai bahwa memang mimpinya jadi penanda bakal ada yang meninggal. Kedua, aku akan membujuk adikku agar menerima cintanya.

“Itu kalau kamu masih naksir adikku. Semua kawan kita sudah menikah. Kenapa kamu masih membujang saja?”

Barangkali gagasan itu, walaupun aku tak sungguh-sungguh, dan sama tak masuk akalnya dengan mimpinya. Tetapi ia tak menanggapi. Hanya tersenyum. Senyum yang tak bisa kutebak apa artinya.

“Akan kuberitahu lagi kalau nanti aku bermimpi!”.

Tiga bulan berlalu, dan aku tak mendengar ada kematian di sini, seolah kematian benar-benar ditentukan oleh mimpi Kastawa. Padahal, ada beberapa tetangga yang sudah uzur dan sebagian tampak sakit-sakitan. Ada pula yang sudah bertahun-tahun hanya terbaring di ambin. Kupikir karena memang takdirnya mereka masih diberi kesempatan untuk hidup. 

Sial, aku jadi memikirkan apa yang dikatakannya. Tentang kebenaran mimpi senggama dan adanya kematian setelahnya. Bagaimana kalau ternyata apa yang dikatakannya itu benar? Bagaimana kalau selama ini, Kastawa memang benar-benar bisa melihat hantu atau alam ghaib? Ah, seandainya dia memang bisa melihat alam ghaib, memang apa masalahnya? Mungkin malah ia bisa menolongku, misalnya aku harus bagaimana atau melakukan apa supaya bisa memperbaiki nasib.

***

Akhirnya, pada suatu sore ia datang menemuiku. Agaknya ia tampak tidak sedang baik-baik saja. Wajahnya seperti tak memiliki cahaya. Mungkin sedang sakit atau sedang bersedih hati. Aku bertanya apakah sedang ada masalah, tetapi ia bilang tidak ada. Aku juga bertanya apakah ia sedang sakit dan ia menjawab sehat-sehat saja. Lalu ia hanya berkata pendek dan pelan.

“Semalam aku mimpi basah!”

Aku kaget mendengarnya. Aku tidak tahu mengapa kaget. Padahal, menurutku aku tak perlu bereaksi seperti itu. Toh, aku belum sepenuhnya memercayai soal mimpinya yang berhubungan dengan kematian itu. Lagi pula, aku juga sudah tahu kalau ia datang akan mengabarkan bahwa dirinya sudah mimpi basah.

“Siapa yang bakal dijemput ajal?” aku setengah berkelakar.

“Aku tidak tahu. Tapi pasti akan ada yang mati. Besok atau lusa!” ia berkata dengan suara sangat pelan, mirip orang sedang sakit sariawan atau radang tenggorokan.

Hanya begitu saja. Ia lalu pamit pergi. Aku tidak bertanya ia hendak kemana. Mungkin pulang.

Sekarang, aku tinggal menunggu saja, apakah benar akan ada yang mati besok atau lusa, sebagaimana yang tadi dikatakannya. Aku berharap akulah yang benar. Tak ada kematian di kampung ini entah besok atau lusa. Kuharap tak ada yang berduka, setidaknya dalam waktu dekat ini.

Dan esoknya memang tak ada berita duka di kampung ini. Tak ada pengumuman yang disampaikan lewat corong masjid perihal ada yang meninggal. Tak ada pula bendera penanda ada lelayu. Aku cukup senang. Aku masih berharap besok juga demikian.

Sampai pada hari berikutnya, sesaat sebelum matahari terbit, aku melihat Kastawa kembali ke rumahku. Wajahnya masih seperti yang kemarin. Pucat. Mirip orang sakit atau sedang bersedih. Ibuku, dengan wajah yang masih bersaput duka menyambutnya.   

Kastawa memeluk ibu. Keduanya berurai air mata. Keduanya tampak akrab, padahal mereka sesekali saja bertemu. Dan ketika saling melepas pelukan dan bersitatap, mereka kembali bercakap, dan samar aku mendengar ibu berkata.

“Apakah Gandi ada hutang padamu, Nak?”

Kastawa diam sejenak. Ia tampak ragu, tetapi kemudian menjawab, “Hanya sebuah janji. Tetapi tak perlu ibu tanggapi serius!”

Kastawa lalu kembali memeluk ibu. Dan aku mendengar apa yang dibisikkan Kastawa kepada ibu. Rupanya Kastawa bilang kalau aku berjanji membujuk adikku agar menyukai Kastawa. Aku melihat ibu tersenyum samar, mengangguk pelan. Kemudian berpaling pada adikku yang sedang bersimpuh, dan menangis di dekat jasadku. Lalu aku mendengar orang bercakap-cakap, “Kejadiannya dini hari tadi. Ada yang mengejarnya. Barangkali intel. Lalu menembaknya!”***


Y Agusta Akhir menulis puisi, cerpen, dan novel. Beberapa karya pernah dimuat di media baik lokal maupun nasional. Novel pertamanya, Requiem Musim Gugur (Grasindo, 2013). Novel Kita Tak Pernah Tahu ke manakah Burung-burung Itu Terbang terpilih sebagai pemenang ketiga sayembara Novel yang diadakan Penerbit UNSA Press tahun 2017. Novel Seperti Lidah Api Menjilati Bulan di Langit (Lakheisa, 2022) mendapat penghargaan dari Balai Bahasa Jawa Tengah tahun 2022.

Puisi

Puis M.Z. Billal

PAGI

Aku berbisik kepada arthur rimbaud ketika

melihat keluarga kecil – tetanggaku – bertengkar lagi

pukul setengah tujuh pagi di beranda. gadis kembar mereka yang baru

belajar berjalan masih sebagai saksi. takut, sendu, dan tidak tahu.

pasangan itu saling menuding; ingin bercerai tepat ketika

angin menggugurkan daun angsana dan mengecup

kuntum-kuntum marigold yang hendak mekar.

mereka baru berhenti saling memaki dan ambil langkah menjauh

ketika aku pura-pura tidak melihat peperangan itu.

terakhir si wanita meneriaki suaminya: aku tidak butuh cintamu lagi!

“cinta adalah kebiasaan, arthur. dan kebiasaan itu tampaknya sudah berakhir di sana.”

2023


JELANG TENGAH HARI; 10.40

Dari jendela lantai 3 perpustakaan ini, aku melihatnya

lagi. jalan sudirman selalu sejuk dipandang. pepohonan seperti

raksasa penjaga. dan langkah kakinya mengirimkan getaran

lembut sampai ke dalam dadaku. empat jam perjalanan sampai ke sini.

aku memasuki semusim di neraka. lalu ia duduk, tersenyum dan membacakan

sepotong puisi asing tiba-tiba di hadapanku.

You  who have suffered, find where love hides.

Give. Share. Lose. Lest we all die unbloomed.

aku tahu ia mencuri Ginsberg. langsung tertawa cekikikan, seperti biasa.

“otakmu adalah perpustakaan. aku penasaran buku apa yang belum selesai kau baca?”

aku tak bisa mengatakannya; bahwa kau adalah buku favoritku yang belum tuntas.

kau halaman-halaman yang tidak bisa kutinggal begitu saja. aku ingin

sukarela terperangkap di dalam ceritamu, selagi ada waktu.

dan saat kau beranjak mengambil buku di rak, aku berbisik lagi

kepada arthur rimbaud.

“cinta adalah deretan buku di rak perpustakaan umum, arthur. dan di sini dua penulis sedang kasmaran.”

2023


MATAHARI PERLAHAN CONDONG KE BARAT

Aku berbisik lagi kepada arthur rimbaud. kali ini sangat serius.

tiga hal penting telah terjadi di sini. dalam waktu berurutan.

pertama, aku melihat bocah pemulung memberikan sebungkus nasi

kepada sepasang manula difabel yang saling setia; si wanita

bisu dan tuli sementara si pria hanya memiliki kaki kiri.

itu terjadi tepat di depan sebuah resto yang menjual makanan asing

lalu seorang pelayan bertampang sinis menyuruh mereka pergi.

kedua, aku melihat jalan kota berubah jadi buntu.

ratusan mahasiswa berarak seperti semut marah

menuju gedung pemerintah daerah sambil berteriak.

api yang membakar ban adalah amuk bisu yang melahap

segalanya. lalu kudengar salah seorang anak muda membaca

sebuah puisi milik Zawawi dengan lantang,

Dubur ayam yang mengeluarkan telur,

lebih mulia dari mulut intelektual yang menjanjikan telur.

ketiga, aku melihat warga pinggiran kota sedang mengamuk

pada sepasang muda mudi  usai tertangkap basah

bercinta di dalam semak dekat rumah ibadah. mereka

tak berkutik. nafsunya tak tersulut lagi seperti sebelumnya.

dan seorang dari mereka berkata keras sambil meludah:

kalau saling cinta jangan membakar diri di sini!

aku paham maksudnya

“cinta mengajarkan kebajikan dan rasa malu, arthur. ia kuat sekali menanggung segala jenis rasa sakit.”

2023


THE BEATLES, WAKTU PETANG

kudengar ia bersenandung; don’t need to be alone

no need to be alone. it’s real love, it’s real… yes, it’s real love, it’s real…

tapi tidak menatapku. lampu-lampu di sepanjang jalan

senja mencumbu matanya yang sipit. aku suka terbenam

di sana. kota ini akan jadi suvenir. tapi ketahuilah, arthur.

ini tidak baik. ini benar-benar tidak baik.

aku akan mengatakan untuk terakhir kali padanya.

“aku sudah sampai pada bagian akhir puisi. ia adalah bagian akhir puisi.”

barangkali kota ini akan gelap. hatiku akan gelap. jiwanya akan gelap.

2023


TOMBOL OFF – DI JALAN PULANG

aku berbisik lagi;

“cinta tidak konservatif, arthur. hidupku yang terikat adat. etnis ini mengalir di tubuhku.”

lalu kutekan tombol off di tubuh arthur rimbaud; alat perekam suaraku yang puitis dan setia.

mungkin tak akan pernah kunyalakan lagi.

2023


M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Bukubukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital serta sejumlah antologi nasional.

Cerpen

Di Sebuah Kafe Tempat Aku Menemukan Kekasihku

Cerpen Aprilia Nurmala Dewi

Dingin menyusup masuk melewati pori-pori kulitku, jauh ke dalam hingga ke tulang-tulang. Bukan dingin seperti apa yang kurasa saat kubuka jendela pada suatu pagi di musim dingin di Interlaken. Bukan, bukan seperti itu. Dingin itu mencekam. Dingin yang hanya kurasakan saat kuinjakkan kaki di kafe itu. Sebuah kafe tempat aku menemukan kekasihku.

***

Kekasihku bukanlah jenis perempuan yang membuat laki-laki jatuh cinta pada pandangan pertama. Bukan pula seseorang yang pada umumnya ingin ditunggu di ujung altar pernikahan. Namun, menurutku, saat dia menyesap vodka-nya, lalu mengisap rokok dalam-dalam, kemudian membuang pandangan jauh ke Danau Thun, dia begitu menarik.

Pemandangan itu kudapati saat pertama berkunjung ke sebuah kafe bernuansa kastil yang muram. Kehadirannya membuat hari-hari di musim dingin itu lebih cerah. Dia akan datang ke kafe itu pada sore hari mengenakan mantel hitam dan duduk di tempat yang sama seolah-olah meja di sudut ruangan itu memang hanya untuknya. Pandangan kosongnya membuat dia terlihat putus asa.

Kami adalah dua orang putus asa yang akhirnya saling mengisi.

Dia pernah mengatakan ingin mengakhiri hidupnya.

“Mungkin sebaiknya aku mati di ujung sebuah pisau,” katanya pada suatu malam saat kami berbaring sambil memandangi api yang menjilat kayu perapian di rumahku.

Dia bilang dia mengasah sebuah pisau setiap saat, sama halnya dengan waktu yang mengasah lukanya. Kian hari kian menyakitkan. Sebuah luka entah apa. Dia tidak mengatakannya kepadaku.

Sementara aku kembali ke Interlaken setelah perpisahan yang menyakitkan dengan seorang perempuan baik-baik. Perempuan yang tidak menyesap vodka dan tidak merokok. Dia hanya berselingkuh.

Sejak perpisahan itu, aku pikir, hubungan dengan perempuan hanyalah kesia-siaan. Namun, godaan untuk melakukannya kembali baru muncul ketika melihat kekasihku di kafe.

***

Pada musim semi, saat air tenang Danau Thun yang kehijauan memantulkan sinar matahari dan bunga-bunga di tepiannya tumbuh dengan indah, aku menghadiahinya sebuah gaun berwarna merah muda. Aku pikir dia harus lebih bersemangat.

Aku bosan melihatnya mengenakan pakaian hitam dan bermuram hati. Ya, aku berhasil membuatnya lebih banyak tersenyum. Maka demi membuat kekasihku tersenyum, aku menambah hadiah. Gaun merah muda terasa kurang.

Dari satu gaun ke gaun lain. Hingga kemudian memberinya perhiasan terdengar lebih memuaskan. Tidak hanya aku, tentu dia juga. Aku bisa melihat binar matanya. Semangat hidup yang kembali menyala dan membuatnya melupakan mati di ujung pisau.

Dari satu perhiasan ke perhiasan lain meningkat menjadi ingin memberikannya apa saja agar lebih sering tersenyum. Seolah-olah semangat hidupku datang dari senyumnya. Aku kembali tergila-gila kepada seorang perempuan.

Sayangnya, entah mulai kapan aku merasa dia menjadi lebih haus. Sialnya, dia menjadi sangat haus dan aku menjadi sangat lelah.

Musim semi berganti musim panas. Musim panas berganti musim gugur. Dan, pada suatu hari saat tanaman anggur menguning, jalan-jalan dipenuhi daun berguguran, kami terserang rasa bosan. Dia mulai merengek untuk sesuatu yang tidak jelas. Aku tidak tahu apakah itu terlalu cepat.

Makin hari dia makin haus dan aku merasa bahwa lubang dalam dirinya yang perlu kuisi hanyalah keinginannya terhadap hadiah-hadiah yang kupersembahkan. Kami tidak lagi hangat satu sama lain.

***

Kekasihku masih menyesap vodka dan mengisap rokoknya dalam-dalam. Namun, kali ini, bagiku dia tidak semenarik musim dingin yang lalu. Aku berpikir itu sangat jahat, perasaanku sangat jahat hingga suatu hari dia membanting pintu rumahku dengan sekuat tenaga, sekuat rasa bosannya. Setelah hari itu, dia tidak lagi datang ke kafe atau ke rumahku. Aku melihatnya di tempat lain bersama pria yang lain.

Perempuan yang menyesap vodka atau tidak, sama saja. Mereka mengkhianatiku, mengkhianati uang yang sudah kuhabiskan, mengkhianati waktu yang sudah kuberikan, dan tentu saja mengkhianati perasaan yang kupikir itu cinta.

Musim dingin kali ini terasa lebih dingin meski salju tidak setebal biasanya. Aku baru merasa hangat saat membayangkan wajahnya yang mencebik dingin. Wajah dingin yang pura-pura tidak mengenaliku saat kami berpapasan.

“Bukankah dia kekasihmu, Tom? Mengapa dia tidak menyapamu? Lalu, bukankah pria yang bersamanya itu tidak terlihat seperti seorang kerabat?”

Seorang kawan yang bersama denganku berpapasan dengannya pun merasa janggal. Terlalu janggal hingga aku tidak punya jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan kawanku itu.

Rasa bosan yang bersarang di jiwaku pun rupanya mulai menjelma benci. Maka kuputuskan untuk memenuhi salah satu keinginannya untuk terakhir kali.

***

Aku meminta dia datang ke kafe itu sekali lagi. Kuiming-imingi dia dengan mengatakan akan kupenuhi sebuah permohonannya sejak lama. Dasar rakus, dia tidak menolak. Aku bahkan mendengar desahan menggoda di ujung kalimatnya sebelum menutup telepon.

Darahku mendidih melihatnya datang menghampiri tanpa rasa bersalah. Hal itu membuat suhu tubuhku memanas. Kukatakan bahwa aku ingin dia memohon terlebih dahulu. Sekali lagi, dia tidak menolak. Maka kukeluarkan pisau, yang telah kuasah semalam, dari sebuah kantong berbahan kulit rusa .

Akhirnya kulihat lagi bagaimana dia memohon. Memohon-mohon sebelum kukabulkan satu hal yang pernah menjadi keinginannya. Kuselesaikan tugasku dengan cepat. Bahkan tidak kuberi dia kesempatan sedetik pun untuk menyesali rintihan permohonannya yang memuakkan.

Pertemuan itu adalah yang terakhir. Setelah itu aku tidak lagi menginjakkan kaki di sana. Di sebuah kafe tempat aku menemukan kekasihku. Diam, dingin, dan membeku.***


Aprilia Nurmala Dewi, ibu dua putra spesial sekaligus abdi negara yang senang menulis. Lahir di Ujung Pandang dan berdomisili di Sinjai.

Puisi

Puisi Hamzah

Desimal

Mula dari nol
hitung berulang
setelah sembilan
sepuluh jari-jemari
meletakkan zaman
berbuku-buku
berbilang negara
atau res publica
diukur tonggak
satu, dua, tiga.

Sembilan, sepuluh depa
dan usia diejanya
jiwa-jiwa dijatah,
disiapkan; ditentukan.

Karanganyar, 2022


Jenaka

Kembang hijau begitu bungah
nalarnya menjalar beriring angin
bersetelan mahkota, kasut, topeng, dan galah
berseru, “wahai berdiang di angan dan ingin!”

Karanganyar, 2022

Sibak

Mulanya hela nafas begitu jernih.
Kristal-kristal es berhembus
Angin Utara dan Udara Dingin
lembah di sela-sela lereng.
Dibawanya tarikan nafas masa,
waktu, dan musim bersampir
biji-biji disemai oleh ratu
di bawah pertiwi dan tanahnya.
Harusnya desah nafas dihela
kusir-kusir berkumis salju
mengantar gugur dan semi
anak-anak tahun. Diseretnya
dua hingga empat perumpamaan
musim dengan mata panah pada
belikat bernafas setengah terengah,

Angin adalah bedebah
kembar dari waktu.”

Karanganyar, 2022


Kelelahan

Pukul delapan pagi, dia bawa sebuntal mimpi ke kamar mandi,
mimpi-mimpi itu menyisakan kantung matanya, dunia begitu mudah
dihadapi oleh sabun, sampo, pasta gigi, dan conditioner. Begitu dibilas,
luruhlah mimpi-mimpi dan tirai dahinya dibuka oleh air dingin
menjerang harap-harap kucing tersisa dari kantuknya semalam.

Saking marahnya dia, hilangnya satu buntal itu menukar limpitan
bibir terkulum berhias jigong berengut tajam
berseling umpat-umpatan, bahwa:
dia harus memanaskan motornya,                   matahari belum tinggi benar
orang dan mesin yang berkejaran,                   serta alasan agar nyawa bulan itu
tetap utuh.

Dihadapinya layar, mesin, layar, mesin, layar
dengan mesin ia berlayar mengubah nasibnya
agar tidak dijera angan-angan, katanya.
Pukul lima sore, badannya bergetah.
Di tengah mesin dan manusia,
dia melihat mataharinya terbenam.

Karanganyar, 2022


Lob

Empat sudut bingkai kamera,
kehidupan ada dalam kolong lapar
tempat-tempat tercerabut
oleh perasaan lupa. Dinas adalah
wilayahnya luput, luas di mana lepra
meratu lela.

Karanganyar, 2022


Hamzah lebih suka menyebut dirinya bermatra jamak seperti larik Walt Whitman. Poliglot yang beraspirasi menjadi polimatis ini dapat ditemui di https://hamzah.id/

Cerpen

Obituari untuk Ayah

Cerpen Edellweiss London

Baru beberapa jam lalu jenazah ayah dikebumikan, tetapi beberapa sanak saudara sudah berani menyinggung tentang penerus perusahaan di depanku. Sungguh tak punya sopan-santun. Malas menaggapi Paman dan Bibi, aku melipir menjauh.

Aku membuka kantor ayah yang terletak di ujung koridor. Lengang. Kepalaku berdenyut hebat dan mataku terasa berat karena terlalu banyak menangis. Dengan kaki berat, aku menghampiri kursi goyang ayah lalu duduk di sana. Punggungku menggoyang sandaran kursi beberapa kali. Kala ayunan menjadi konstan, mataku mulai terpejam. Ingatan tentang ayah, ibu dan apa yang terjadi di antara mereka mulai berkelebat.

Mati memang tidak membawa harta, tapi tetap saja orang-orang kaya dimakamkan di tempat yang berbeda dengan rakyat jelata. Ayahku, Sastrowijoyo, adalah seorang ningrat keturunan keraton. Sebelum meninggal, ayah telah mempersiapkan tanah berharga ratusan juta untuk dijadikan pusara keluarga.

Makam ayah berada di pekuburan mewah, bersanding tepat di sebelah makam ibu. Mereka sehidup-semati, rupanya. Mengingat betapa tidak akur mereka berdua semasa hidup, aku sungguh tak menyangka jika ayah akan begitu cepat menyusul ibu.

Aku ingat, menjelang kematian ibu, ayah berbisik di telinga ibu sembari terisak, “Aku tak bisa hidup tanpamu, Utari.”

Ternyata kata-kata itu bukan isapan jempol belaka. Ibu baru berpulang kurang dari dua bulan lalu, dan sekarang ayah menyusulnya. Hatiku yang susah payah bertahan selepas kematian ibu, kini harus kembali koyak. Sesak, dan kehilangan memang tak pernah terasa lapang.

Aku kini tinggal seorang diri. Rasanya hampir tak percaya, aku telah menjadi yatim piatu dalam waktu singkat. Jika bukan karena para pelayat itu, aku menyangsikan ayah sudah tak bersamaku lagi.

Berbeda dengan ibu yang selalu mendukungku, semasa hidup ayah adalah pengkritik terbesarku. Walau aku dan ayah sering bersitegang, namun kematiannya terasa seperti tembakan peluru yang meninggalkan lubang di dadaku.

***

Bunyi ketukan pintu membuatku membuka mata. “Masuk,” kataku.

Sesaat kemudian kepala laki-laki itu tersembul dari balik pintu. Aku mengenalinya sebagai pelayan setia ayah.

“Ada apa?” tanyaku ketus. Aku agak sebal karena dia tak membiarkanku beristirahat barang sejenak.

Pelayan setia ayah mengangguk hormat. Dia menghampiri dudukku lalu mengatakan sesuatu dengan sangat pelan, “Nyuwun sewu, Panjenengan diaturi menulis obituari untuk menghormati mendiang bapak.”

Aku tertegun untuk beberapa saat, lalu menggumam, “Obituari?”

Inggih, obituari yang indah. Sama seperti yang Panjenengan tulis untuk mendiang Ndoro Putri.” Laki-laki di hadapanku itu berkata sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia memang biasa menyapa ibuku dengan sebutan Ndoro Putri.

Saat kematian ibu, aku memang menulis obituari sepanjang tiga halaman yang begitu menyentuh. Aku banyak bercerita tentang kebaikan ibu, juga waktu-waktu yang kami lewatkan berdua. Bahkan aku sempat melihat ayah menitikkan air mata saat membacanya.

“Harus?” tanyaku menyelidik.

Inggih, Mbak. Kita akan menerbitkannya di website perusahaan. Juga, mengirimnya ke beberapa surat kabar.”

“Apa yang harus kutulis dalam obituari tentang ayah? Dari mana aku harus memulainya?” tanyaku pada pelayan setia ayah yang hampir tak pernah kusebut namanya itu.

Dia mematut ujung alisnya, tampak berpikir sebentar. “Mungkin, Mbak Ayu bisa memulainya dari cerita masa kecil, atau kenangan indah bersama bapak.”

Tak ayal, jawaban pelayan setia ayah malah membuatku tercenung. Bagaimanapun, ayah tidak sama dengan ibu. Jika dirunut jauh ke belakang, kehadiran ayah selama ini lebih banyak memberiku kemarahan. Dia memang tak pernah melakukan kekerasan fisik, namun mentalku terjerembab hingga dasar jurang akibat perilakunya, juga beragam intimidasinya yang terasa mengekang.

Bagaimana aku bisa menulis obituari untuknya, jika apa yang paling kuingat adalah saat dia membawa seorang anak laki-laki ke dalam rumah kami?

“Dia Gada, adikmu. Mulai sekarang akan tinggal bersama kita,” jelas ayah dengan begitu lugas.

Aku masih tujuh tahun ketika itu. Otak kecilku masih bingung mencerna, bagaimana mungkin tiba-tiba aku punya adik yang hampir sama besar dengan diriku?

Gada berumur enam tahun pada saat itu. Dia hanya berjarak satu tahun lebih muda dari aku. Sehingga ibu meraung berhari-hari mengetahui fakta bahwa ayah menghianatinya saat usia pernikahan mereka baru berjalan beberapa tahun.

Sejak kehadiran Gada di rumah kami, ibu jadi sering menangis. Dari mulutnya, berbagai sumpah-serapah untuk ayah seringkali terdengar. Ayah hanya diam membisu. Ayah membawa pulang bukti perselingkuhannya tanpa pernah mengungkap siapa perempuan itu.

Kala ibu bertanya panjang lebar dengan emosi berapi-api, ayah hanya menjawab pendek, “Tak perlu diperpanjang, perempuan itu sudah mati.”

Begitulah, karena ibunda Gada mati muda, ayah membawa anak laki-laki itu ke rumah kami. Aku yang tadinya menikmati segala fasilitas dan kasih sayang sebagai putri tunggal, sejak saat itu harus rela berbagi.

Ibu adalah tipe perempuan Jawa yang menjunjung tinggi kehormatan. Dia bertindak dengan keanggunan seorang aristokrat. Ibu dibesarkan di tengah keluarga priayi yang tersohor. Perceraian seringkali dianggap aib, maka ibu memilih tetap mendampingi ayah. Ibu memang memaafkan Ayah, namun tak pernah menerima Gada sebagai anaknya.

Ayah berusaha bersikap adil dengan memberi Gada semua fasilitas yang kudapatkan. Sedangkan Ibu, hanya akan mengutamakan kepentinganku tanpa pernah peduli pada anak tirinya.

Gada bersekolah di sekolah yang sama denganku. Namun aku enggan mengakui dia sebagai adikku. Di sekolah, kami berlakon seperti tak saling kenal. Ibuku pun tak mau mengakui Gada sebagai anaknya dan menolak mengurus segala keperluan anak laki-laki ayah. Ibu hampir tak pernah berbicara pada Gada kecuali marah. Ibu juga tak pernah membiarkan Gada makan semeja dengan kami.

Gada anak yang cerdas. Dia cepat mengerti bahwa kehadirannya tak diterima oleh siapa pun di rumah, kecuali ayah. Dia tak pernah berisik, dan menerima segala caci-maki yang kulontarkan untuknya. Dia tak pernah membalas sumpah-serapahku selama bertahun-tahun, sejak kami masih kecil hingga dewasa. Namun segala penerimaannya justru membuatku merasa muak. Gada telah membuatku merasa menjadi orang jahat.

Sebagai satu-satunya anak perempuan, ayah tak pernah mempercayaiku. Ayah selalu memasang Gada di sebelahku. Gada hampir tak punya keinginan sendiri. Apa yang dia lakukan hanyalah menuruti perintah ayah. Ke mana pun aku pergi, Gada menjagaku. Dia akan mengantarku ke sana kemari, menungguku dalam diam, lalu menjemputku dengan senyuman. Dia mengerjakan apa pun yang kusuruh, termasuk membeli pembalut saat aku tengah datang bulan.

Jika aku dan ibu pergi berbelanja, Gada akan dengan patuh berjalan di belakang, membawakan seluruh belanjaan yang kami beli. Jika kami mampir ke restoran, dia akan duduk menjauh, tidak akan makan kalau tidak disuruh. Jika ibu berbaik hati menyuruhnya makan, Gada akan memesan menu paling murah. Perbuatan yang membuatku makin membencinya karena dia sok menderita.

Ayah memberikan semua uangnya kepada ibu, mewariskan semua aset perusahaannya kepadaku, namun dia memberikan seluruh hatinya kepada Gada. Bahkan ayah sendiri yang mengajari Gada menyetir mobil. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan untuk aku.

“Kau tak boleh menyetir, biar Gada yang mengantarmu,” begitu kata ayah, membuatku semakin muak.

Ibu hidup untuk aku, ayah hidup untuk Gada. Begitulah keluarga kami terbelah. Ibu dan ayah kerap berdebat karena ibu bersikeras mendahulukan kepentinganku, sedang ayah kerap meminta belas kasihan ibu agar Gada mendapat sesuatu yang sama sepertiku.

Aku tumbuh menjadi perempuan dewasa yang egois. Gada tumbuh menjadi lelaki yang tak punya daya juang. Sekali lagi, dia membuatku membencinya karena telah menempatkanku menjadi penjahat.

Menulis obituari untuk ayah, tak mungkin menafikan kehadiran Gada. Tak ada seorang pun yang tahu bahwa Gada adalah putra kandung ayah. Di luaran, ayah mengakui Gada sebagai anak angkatnya. Hanya kepada aku dan ibu saja, seorang Sastrowijoyo, pejabat publik yang merangkap pengusaha kayu, mengakui bahwa dia memiliki anak lain di luar nikah. Aku dan ibu mengunci rapat mulut kami. Bagiku dan ibu, kehormatan keluarga adalah nomor satu.

Aku bangkit dari kursi goyang, ganti menghampiri pelayan setia ayah lalu membisikkan sesuatu di telinganya, “Bagaimana kalau kau saja yang menulis obituari untuk ayah? Lagipula, kau juga anaknya, kan, Gada.” ***


Edellweiss London adalah penggiat literasi di Rumah Baca Cerdas Institute A. Malik Fadjar, Universitas Muhammadiyah Malang. Sekarang aktif menulis di grup kepenulisan Nulis Aja Dulu, anggota klub menulis Tiga Strata, dan militan eksklusif di Terus Saja Tulis. Penulis tinggal di Malang, Jawa Timur.

Katalog

Ayam Jangan Mati di Lumbung Padi (Sebuah Refleksi Kepustakawanan Lasa)

“Ayam Jangan Mati di Lumbung Padi.”. Buku biografi tokoh kepustakawanan ini diangkat dari hasil penelitian Aha yang berjudul: “Pustakawan Bukan Jalan Hidup tapi Menghidupi: Sebuah refleksi Kepustakawanan Lasa Hs.”

Buku ini dihadirkan di ruang baca Anda untuk mencoba mengangkat kisah Lasa dalam perjalanan hidupnya sebagai pustakawan senior di Jogja dan telah purna tugas  mengabdi sebagai ASN dan pangkat terakkhir adalah pustakawan utama golongan IVe  di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Sebagai buku yang mengangkat isu kepustakawanan, biografi tokoh ini relatif  jarang ditulis dan tokoh yang ‘langka’ seperti ini menarik sebagai role model bagi siapa pun yang menaruh kepedulian pada isu-isu kepustakawanan.

Tak ubahnya sebuah anomali, di perpustakaan yang diam dan sepi, sejatinya terjadi keriuhan dalam pikiran, ide dan gagasan untuk sebuah kemajuan.  Konsep perpustakaan yang hidup seperti ini bukan hanya dipahami oleh seorang Lasa Hs, namun telah diresapi dan diejawantahkan olehnya melalui denyut-denyut kehidupannya dalam keseharian. Lasa Hs adalah satu dari sedikit orang yang memaknai perpustakaan bukan sebagai museum, namun sebagai lumbung kehidupan. Karena itulah, orang yang masuk dalam perpustakaan, ibarat masuk dalam lumbung kehidupan itu sendiri. Sehingga ketika seorang masuk di dalamnya, dia akan mendapatkan energi untuk bekembang menjadi manusia seutuhnya. (Hamdani MW)

 

Penulis: Agung Hartono (Aha)

Cetakan: Pertama, Tahun 2024

Penerbit Nomina Ide Karya

109 halaman; 13 x 19 cm

ISBN:

Harga: Rp 50.000,-

Info Pemesanan: 085647226136

Puisi

Puisi Gandhang Kandhiridho

Tujuh Fragmen Penghabisan

1.

pada sebuah jalan tersembunyi

akhirnya kau temukan

dirimu yang sempat hilang

jalan yang mengarah ke tempat

dengan pintu yang terbuka

untuk kau masuki

tempat yang berisi percakapan-percakapan

silam yang berdebu untuk ditelusuri

kini menemukan kepingan utuh

kepingan wajah yang merekah

muncul terangkai satu persatu

peristiwa demi peristiwa menyembul

ke permukaan

dan kepekatan mulai terurai warnanya

sementara ruang kosong

tadinya penuh tanda tanya

kini kembali terisi

sekalipun itu tak cukup kuat

kalahkanmu dari rasa sunyi.

2024

2.

perlahan kepalaku mulai melupakan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama bercokol menghantuiku sepanjang malam dalam beberapa tahun belakangan ini.

aku tidak tahu ini gejala apa.

kata sebagian orang, ini pertanda baik, sekaligus dalam waktu bersamaan bisa jadi adalah pertanda buruk.

itu kata mereka, atau lebih tepatnya, konon.

namun satu hal, aku, tetap seperti biasa.

tidak merasa baik atau sebaliknya.

yang terjadi justru sikap apatisku atas sekelilingku, bahkan untuk diri sendiri semakin menjadi-jadi.

kupikir orang-orang akan melihat dengan kacamata tersebut.

tapi setelah kupikir-pikir lagi ini sama saja menyimpulkan secara konyol akan hal remeh-temeh.

maksudku, aku tidak perlu lagi menggubris anggapan mereka akan ini.

termasuk apa yang mereka sematkan padaku.

bisa dibilang, dalam derajat tertentu aku cenderung sepakat pada yang terakhir.

lucu, bukan?

dan menurutku ini sangat lucu.

aku lebih suka disebut seseorang yang lucu, atau orang yang suka melucu.

hanya saja tidak untuk orang lain.

2023

3.

terkadang aku merasa seperti seorang yang gemar menulis puisi panjang-panjang kepada kekasihnya.

namun ujung-ujungnya kalimat yang tertulis tidak bisa dibaca sama sekali.

aku tidak mengerti kenapa aku menuliskannya.

sementara pilihan untuk menekan tombol “berhenti” sangat terbuka lebar di depan mata.

bahkan kadangkala aku seperti seorang yang gemar mencipta sajak-sajak pendek yang ujung-ujungnya hanya didengar sekilas untuk akhirnya lesap pada ruang kealpaan.

aku tidak tahu kenapa kalimat-kalimat pendek itu tercetus di kepalaku berulang-kali.

seakan hanya bisa berhenti setelah mataku terpejam dalam pelukan mimpi.

sedangkan bisa saja aku menekan tombol “cukup” yang sebetulnya hanya berjarak hitungan senti.

tapi entah kenapa aku merasa itu tidak perlu.

paling tidak untuk sementara waktu.

2023

4.

setelah percakapan terakhir itu

kau hanya berbicara pada dirimu sendiri

angin berembus dingin

bayangan tubuh yang pergi

ruangan yang gelap

menyelimutimu dari kekalahan

setiap orang pernah kehilangan, paling tidak

sekali dalam hidup mereka.

dan bagian terburuk dari episode itu

adalah mencari cermin yang sama

melalui cermin yang lain

meskipun telah retak.

2024

5.

tak ada apa-apa di sini

tak ada tawa renyah

tak ada wajah polos

tak ada cerita-cerita yang patut dibanggakan

tak ada apa-apa

bahkan jika mungkin ada

tak lebih dari selubung

itu pun makin memudar

sisa rahasia dirimu

jadi apalagi? pergilah!

aku telah habis gairah

kepalaku dipenuhi sejarah

berisi suara-suara darimu

yang menjelma asing di telingaku.

2024

6.

hargailah setiap momentum.

sebab ia hanya datang sekali seumur hidupmu:

perjalanan, peristiwa, pelajaran,

orang-orang baru, orang-orang lama,

yang asing dan yang dikenal.

dalam satu kilasan di sebuah tikungan jalan,

atau di emperan pertokoan karena terjebak hujan,

atau di sebuah antrian ruang tunggu yang terkadang membuat kita gusar.

meskipun sekejap, hargailah.

sebab itu semua akan menjelma kenangan di arsip laci ingatan kita.

2023

7.

kenangan tak pernah bergerak maju.

ia selalu berhenti di belakang sana.

hidup tidak menuntutmu membawa seluruh kenangan itu di sini.

ia hanya menyediakan setangkup ruang kecil yang sesekali bisa dijenguk sebentar

untuk kemudian sebagai penanda bahwa peristiwa itu telah berlalu.

2023


Gandhang Kandhiridho, lahir dan berdomisili di Surakarta. Senang menuangkan kata-kata melalui medium puisi. Buku puisi yang sudah terbit; Rahim Waktu (2021) & Separuh Wajahku Bulan (2023).

Cerpen

Bopeng

Cerpen Kathy Okano

Sebelum jatuh cinta pada Hanuman, aku pernah sangat ingin mati. Aku merasa kosong seperti selongsong yang ditinggalkan proyektil apinya. Namun, aku juga merasa berat. Kosong tetapi berat. Aneh bukan? Dan tidak jelas.

Kenangan-kenangan yang kumiliki seperti potongan-potongan puzzle yang berserak. Juga tidak jelas. Kadang aku harus berusaha sangat keras agar setiap potongan sesuai, untuk sebuah ingatan yang utuh. Kadang juga isi kepalaku memuntahkan ingatan-ingatan yang tiba-tiba mencuat seperti kancing baju yang terlepas.

Ketika berusia dua belas, aku pernah mendengar kisah tentang ruh yang tak mau berdamai dengan raga yang ditempatinya. Memberontak. Pemilik raga nyaris sakit jiwa dibuatnya. Itu juga terjadi padaku. Pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam pikiranku, nyaris membuatku gila.

Perasaan hampa seperti tabung bejana hampa udara seolah menggerogotiku. Jika kosong sama dengan nol, apakah ia sama juga dengan ketiadaan? Lalu jika aku merasa kosong, apakah itu artinya aku tiada? Tetapi aku merasa diriku ada. Aku berpikir, jadi aku ada. Ada dulu atau berpikir dulu? Ada dulu atau sadar dulu? Mungkinkah manusia sadar selagi dirinya belum ada? Ataukah kesadaran yang membuatnya ada? Ah, omong kosong! Pikiranku terus mengembara dan membuatku muak hingga berteriak. Kasihan. Kasihan. Papa lebih kasihan, aku yakin ia amat terluka melihat putri semata wayangnya seperti ini, dan kekayaan yang dihasilkan pabrik anggurnya tak dapat menolong.

Lalu, Februari itu, ketika langit dengan murah hati menumpahkan hujan, kekosongan itu terasa lebih jinak. Setelah sebulan aku berada di Indonesia–Yogyakarta, Aunty Barnes mengajakku menonton pertunjukan wayang wong yang mementaskan lakon Anoman Obong. Itulah awal mula aku jatuh cinta pada sang Hanuman. Pada Mas Adi, Argo Dumadi. Aku tersihir oleh penampilannya yang memukau.

Tubuhnya yang tinggi tegap menari-nari lentur dan anggun, dipadu dengan jurus-jurus silat penuh kejantanan. Mengalirkan ekspresi Hanuman sejati. Dengan perjuangan setulus hati, Hanuman mengobrak-abrik kerajaan Alengka.

Hanuman membakar Alengka dengan api berkobar-kobar yang diikatkan di ujung ekornya. Menumpas kecurangan dan kejahatan, serta angkara murka Rahwana yang menculik Dewi Sinta. Dengan hentakan kaki-kakinya yang kukuh lincah, tangan-tangannya yang perkasa, dan gerakannya yang trengginas Hanuman melompat ke sana-kemari. Melompat dan melesat tinggi-tinggi, melingkar-lingkar bak putaran sejuta cambuk, menangkis serangan Rahwana yang membabi-buta.

Suasana tegang mencekam. Sorot lampu panggung dimainkan gelap-terang-gelap-terang-gelap diakhiri dengan sorot seperti sebuah ledakan ketika Rahwana terkapar. Perjuangan Hanuman yang tanpa pamrih itu berakhir gemilang. Dewi Sinta yang terkulai dalam ketakutan pun bebas dari cengkraman keji Rahwana. Pertunjukan diakhiri dengan Hanuman menyerahkan Dewi Sinta pada suaminya, Sri Rama. Rupanya bukan hanya aku yang terpesona, orang-orang bahkan menjerit histeris untuk Hanuman.

“Ada londo wedok datang ke tobong!” komentar dari anak-anak wayang membuatku geli, ketika pertama kali aku mendatangi tobong. Lazimnya mereka menyebut ras kulit putih dengan wong londo.

Aku mencari Mas Adi. Berdalih melakukan penelitian tentang kehidupan anak-anak wayang. Mereka mengerumuniku, penasaran. Aku berpendapat, kehidupan di tobong ini nyaris tidak memiliki rahasia, tidak memiliki privasi.

Sayang sekali orang yang kucari tidak di tempat. Sedang mengurus perizinan untuk tampil di Surakarta, katanya. Sebagai gantinya, Sri Ratih–istri Mas Adi yang juga seorang ledhek dan perempuan paruh baya yang memperkenalkan dirinya sebagai ibu sang Hanuman, menemani kami–aku dan Aunty Barnes. Aunty Barnes yang sudah fasih berbahasa Indonesia membuat kami cepat akrab. Aku menikmati kedekatan kami meski dalam hati tersimpan setitik kecewa. Orang yang kusukai sudah beristri.

“Orang Indonesia memang banyak yang menikah muda,” ucap Aunty Barnes ketika kami dalam perjalanan pulang. Sepertinya ia paham bahwa aku patah hati.

Hari-hari berikutnya aku sering datang ke tobong. Siang, sore, atau malam hingga tengah malam. Mewawancarai bintang utama penelitianku dan menonton setiap pementasannya. Orang-orang mengatakan bahwa aku kedanan. Aku tak menampiknya, juga tak membenarkannya.

Aku menikmati kehidupan bersama anak-anak wayang di tobong. Menyantap makanan yang sederhana, sayur lodeh, juga ikan asin. Semuanya terasa nikmat. Aku juga mencintai Asri, putri Mbak Ratih dan Mas Adi. Dan kekosongan yang dulu amat ganas, kini makin jinak.

Asri. Padanya aku berlaku seperti seorang ibu. Menyisir dan mengikat rambutnya, juga menyematkan pita merah. Menggunting kuku-kukunya, menemaninya belajar, tak jarang juga ngeloni saat tidur siang. Ibunya tak sempat.  Mbak Ratih sibuk menyiapkan panggung dan kostum untuk para pemain wayang wong. Asri mengikatku, lebih dari cintaku pada Mas Adi.

Berita-berita miring tentangku dan Mas Adi terus beredar. Namun, tak ada klarifikasi dari Mas Adi, dan aku tak mau memusingkannya. Sedang Mbak Ratih sepertinya memendam sakit hati. Tapi bukankah Mbak Ratih seharusnya yang paling tahu bahwa aku dan Mas Adi tak memiliki hubungan apa-apa? Dan berita-berita miring itu juga tak benar, bahwa aku dan Mas Adi sering bermesraan? Satu-satunya moment kedekatan kami adalah ketika Mas Adi mengantarku pulang ke kaputren dengan naik becak. Hanya itu. Aku menghormati kesetiaannya pada pernikahan karena tak tergoda sedikit pun padaku, yang orang bilang serupa Anne Hathaway.

Kuperhatikan Mbak Ratih selalu murung dan sering melamun, sehingga membuat penampilannya saat menari gambyong tampak tidak semarak. Tidak sedikit penonton yang protes. Tapi dia tidak memperbaiki diri. Ia malah tampil semakin buruk, buruk, dan buruk. Akhirnya ia jatuh sakit. Banyak bisik-bisik yang mengatakan ia ngenes karena berkali-kali menyaksikan aku dan Mas Adi bermesraan. Apakah Mbak Ratih sungguh termakan oleh berita bohong itu?

Aku masih ingat suatu malam ia mengerang-erang sambil memegangi perutnya, ngoling-oling. Wajahnya pucat pasi, bibirnya biru digegat-gegat. Roknya yang kuning berubah menjadi berwarna merah, dengan gemetar aku memperhatikan darah itu bersumber dari vaginanya. Ketika itu semua sedang pentas di panggung, aku tetap di tobong untuk menemaninya dan Asri.

“Sampeyan yang mbuat saya gini. Sampeyan guna-gunai saya!” lirih ia menuduh, tapi penuh dendam. “Agar sampeyan bisa demenan sama suami saya. Dasar londo edan! Minggat sana, jangan sentuh saya!” sambungnya, menghardik.

Aku tidak menghiraukan ucapannya, berusaha bersikap tenang agar bisa menolongnya, sedang tangis Asri sudah meledak.

Oleh dokter, Mbak Ratih dinyatakan menderita kanker rahim. Dan setelah berjuang selama sebulan, ia meninggal. Hari ketika Mbak Ratih dimakamkan, menjadi hari paling menyiksa buatku. Berpuluh-puluh pasang mata seolah menghakimi, menyalahkanku atas kematian istri Mas Adi.

“Terang saja dia mau berkorban gitu karena kedanan Mas Adi–suami Dik Ratih, si Anoman!” seru ibu yang didukung oleh perempuan lainnya, ketika mengetahui biaya pengobatan dan pemakaman aku yang menanggung. Aku melakukannya bukan karena mencintai Mas Adi, tapi karena menyayangi Asri.

“Esmee Helaine tidak kedanan aku. Tapi akulah yang kedanan, mabuk kepayang dan tergila-gila–gandrung kepati-pati sama dia. Jangan salahkan londo itu!” Suara Mas Adi mengiba-iba. “Istriku meninggal karena memang sakit, bukan karena black magic.”  Pembelaan Mas Adi justru menyakiti hatiku dan menempatkanku pada posisi yang serba salah.

Seperti ujung rantai yang ditarik, kemudian bagian lainnya mengikuti, hal-hal buruk terjadi secara beruntun.

Waktu di mana pekat menjadi penguasa hari dan sunyi, rasa hormatku pada sang Hanuman berkecai-kecai. Aku menahan muntah. Gila. Aku tak ingin mempercayai apa yang kulihat. Menjijikkan. Hanuman dan Rahwana bermesraan! Keringat dingin membalutku seperti kepompong, lututku lemas. Apakah Mbak Ratih tahu? Apakah ini penyebab sesungguhnya kengenesannya?  Aku membekap mulutku sendiri dan tanpa kuinginkan, air mata melelehi pipiku. Mereka terkejut ketika mendengar pekikan, dan lebih terkejut lagi ketika melihatku berdiri gemetaran.

“Asri bukan anakku,” Argo Dumadi berkata ketika menghampiriku yang tengah berkemas. Aku bergeming. “Ratih mendapatkannya dari laki-laki lain,” sambungnya, menyalakan sebatang rokok kemudian menghisapnya dalam-dalam.

Aku tak menanggapi. Aku juga tak melihatnya. Aku jijik. Meski sesungguhnya aku ingin berteriak dan meludahinya. Menuntut perbuatannya yang tercela dan mengkambing hitamkan orang lain untuk menutupi bopengnya. Kalau bukan karena Asri, aku tak akan menginjakkan kaki ke tobong lagi setelah kematian Mbak Ratih, terlebih karena kesalahpahaman yang disebabkan oleh Mas Adi karena pengakuannya.

Sejak hari itu kondisi kesehatanku menurun drastis. Aunty Barnes mengantarku pulang ke Ostrali. Kekosongan yang kurasakan kembali mengganas dan ingatanku melayang pada Grandma. Ia yang memaksaku menjadi seperti yang diinginkannya, menjadi feminim, menjadi sempurna. Aku ingat, sejak saat itu kekosongan mulai membungkusku seperti selimut kepompong, mengisap habis gairah hidup dan kedamaian dalam dadaku. Aku benci Grandma, aku benci Mas Adi, aku benci Mbak Ratih. Namun, aku mencintai Asri yang sekarang telah tumbuh menjadi gadis cantik. Aunty Barnes yang membawanya kemari untuk mengenyam pendidikan yang lebih layak.

Aku memandangi gadis yang pernah mengalami tangis yang panjang karena kehilangan ibunya, juga ayahnya yang katanya mati gantung diri karena tak kuat oleh tekanan situasi. Sudah terbukakah boroknya?

Ia tengah membelakangiku, membuka jendela-jendela di kamar perawatan agar udara segar menggantikan udara yang mulai terasa pengap. Rasa sayang memenuhi dadaku. Aku tak ingin ia bernasib seperti ayah atau ibunya, karena air cucuran atap ke mana jua jatuhnya? Aku ingin melindunginya dari karma orangtua, maka kuhujamkan pisau pengupas buah berkali-kali ke punggungnya dengan cepat, hingga ia roboh.***


Kathy Okano, nama pena penulis asal Sulawesi Tengah, yang menyukai drakor dan anime. Menamatkan pendidikan S1 pada 2017. Sekarang sedang aktif di klub menulis Tiga Strata, NAD (Nulis Aja Dulu) dan anggota militan eksklusif TST (Tulis Saja Terus). Menyukai makanan pedas dan gurih.

Cerpen

Lelaki Berjubah Putih

Cerpen Pasini

Hujan tak kunjung reda. Sepertinya langit nelangsa dengan seisi bumi yang cukup lama dicengkeram kuasa kemarau dan tergerak menyudahinya. Tapi rerimbun pohon beringin tempat aku berteduh sungguh penuh kasih. Tak setitik pun air yang diperbolehkan menetes di kemejaku.

Pada sisi jalan berbeda, di bawah pohon beringin yang lain, seorang lelaki berjubah putih meneduhkan juga tubuhnya. Ia tersenyum menatapku. Aku mengangguk takzim, sebelum kemudian mataku kembali menekuni bulir-bulir air langit yang jatuh dan mengenai apa saja. Menimpa atap gedung dan meruntuhkan kesombongannya. Menimpa besi dan meninggalkan jejak karat. Melarutkan debu pada jalan aspal dan bebatuan. Serta memupus dahaga tetumbuhan yang menangguk rindu sampai semusim penuh. Beberapa hari ke depan, kelopak bunga akan tersenyum dengan indahnya.

Aku menjadi teringat akan sebuah senyum pula. Milik seorang gadis kecil. Hidupnya belum tercemari legamnya dunia sehingga hanya meminta lalu terkabulkan yang ia tahu. Dan sebaiknya memang begitu. Biarlah kesusahan hanya milik orang-orang dewasa dan jangan dikenalkan pada anak-anak sebelum waktu mereka tiba.

“Sebuah boneka beruang ya, Yah. Yang besar,” pinta gadis itu tadi pagi.

Aku mengangguk sembari mengembalikan senyumnya dengan lebih manis. Lalu kuangkat tubuhnya tinggi-tinggi, hendak kudekatkan dengan langit. Tempat di mana semua orang menggantungkan doa dan harapan. Bahkan ia masih memelihara senyumnya di beranda dengan pandangan mengikuti angkutan berwarna kuning yang membawaku pergi. Sampai kemudian tubuh mungil gadis itu digantikan dengan pohon palem, pohon akasia, pohon pakis, dan pohon bebungaan di tepi sepanjang jalan menuju pabrik sepatu tempat aku bekerja.

Lelaki berjubah putih tak ada di tempat teduhnya. Mungkin ia menerobos hujan dan tak jenak menunggunya sampai sedikit reda.  Begitu pun senyum gadis kecilku. Mereka sama-sama hilang. Berganti dengan senyum kecutku. Aku membuka tas kerja berwarna hitam untuk sebuah tujuan memberi keyakinan bahwa memang hanya ada amplop tipis di dalamnya.

Sebagian besar isi amplop itu telah berganti dengan senyum seorang lelaki tua berbaju lusuh. Karena perutnya kenyang sekarang. Besok ia bisa memeluk tubuh istri juga cucu. Setelah selama ini menumpuk rindu demi rindu hingga memenuhi setiap sekat, lorong, dan bilik hatinya. Tak ada ruang untuk rasa yang lain. Tak ada keinginan selain bertemu orang-orang terkasih. Tapi sayang keinginan itu selama ini ibarat benda antik tergadai yang belum mampu ia tebus kembali.

Aku sibuk merangkai kalimat yang tepat  untuk kusampaikan pada istriku di rumah. Juga gadis kecil kami. Aku tidak ingin membuat  kecewa tentu saja. Bahkan selama ini aku sanggup melakukan apa pun demi memelihara senyum mereka.

Mungkin istriku akan mendiamkan aku. Atau melontarkan kemarahan. Lalu mengubah kebiasaan secangkir kopi di pagi hari dengan air putih. Mau tidak mau memutar otak agar sisa uang belanja bulan kemarin cukup untuk sampai bulan depan. Daging, telur, diganti dengan tahu dan tempe. Jamur tiram, ikan, diganti dengan kangkung dan bayam. Lalu suasana meja makan akan berubah dingin. Tidak ada gelak tawa. Tidak ada bual cerita. Menghikmati isi piring masing-masing dan tidak disambi tanya: liburan ke mana enaknya akhir pekan. Atau: rilis film terbaru apa di bioskop.

Tapi bagaimana dengan gadis kecilku? Bisakah matanya dibuka pada rupa-rupa dunia sementara yang ada di otaknya hanyalah boneka, keripik kentang, pesta ulang tahun yang meriah, serta gaun berumbai? Apa yang kusebutkan sebagai kesusahan lelaki tua yang menahan lapar dan berpakaian lusuh lagi robek, akan dianggapnya sebagai dongeng belaka sebagaimana isi komik yang istriku bacakan untuknya di ambang waktu tidur. Di kehidupan nyata, peristiwa semacam itu mana mungkin ada.

Sayang, langit prematur menutup kran air yang tercurah ke bumi. Padahal aku belum menemukan patah-patah kata yang tepat. Tapi senja keburu hadir dengan sisa-sisa hujan berupa genangan air di badan jalan yang berlubang. Mau tidak mau aku harus bergegas pulang. Aku tidak mungkin menghindari rumah layaknya prajurit perang yang kalah.

   Sebuah mobil putih menepi. Dikendarai lelaki tua berjubah putih. Ingatanku melayang pada beberapa puluh menit silam, seseorang yang juga meneduhkan tubuhnya di bawah kerimbunan dedaunan pohon. Tetapi aku tidak begitu meyakininya. Karena bisa saja keduanya adalah orang berbeda.

 “Naiklah. Saya akan mengantar Kisanak sampai tujuan,” tawarnya dengan senyum laksana cahaya.

 “Terima kasih, Pak. Maaf saya tidak ada ongkos. Lagi pula rumah saya tidak terlalu jauh. Tidak sampai satu jam jalan juga sampai.”

 “Bukankah Anda sudah membayarnya tadi?”

Aku bingung. Tapi sepasang kakiku buru-buru naik, mendahului  kepalaku yang bahkan masih sibuk mencerna, apa maksud dari kata-katanya barusan. Bagai otak dan rangka tubuhku tidak terhubung dalam satu jalinan koordinasi. Seperti ada yang menggerakkan sendi-sendiku tapi itu bukan perintah pikiranku sendiri. Aku terduduk kikuk pada jok hitam yang licin dan mengkilat. Sepanjang perjalanan, lelaki tua itu banyak tersenyum. Kami hanya bicara seperlunya.

 “Tidakkah waktu Bapak terbuang hanya dengan mengantarkan saya?”

“Tidak ada kebaikan yang percuma. Semua ada hitungannya.” Lalu ia tersenyum lagi.

Aku diturunkan tepat di halaman, sebelum kemudian mobil dan pengemudinya segera menghilang dari pandangan. Tas kerjaku melorot dan nyaris jatuh. Sampai tidak menyadarinya karena sibuk melamun.  Aku hendak membetulkan posisinya pada pundak setelah terlebih dulu menautkan bagian kancing yang agak terbuka. Tanpa sengaja tanganku menyentuh amplop. Padat dan menggelembung. Aku terkesiap.  Ada  lembar-lembar merah.  Jumlah yang mencengangkan. Tubuhku sampai bergetar.

Sesampainya di dalam rumah, tidak pernah kulihat istriku sebahagia ini sebelumnya. Untung ia tidak bertanya dari mana uang sebanyak itu berasal. Karena  memang bukan jawaban atas kemungkinan itu yang kupersiapkan. Aku justru sudah dalam keadaan siaga untuk beberapa hal yang buruk. Bahkan semisal ia mengusirku dan menyuruh tidur di emperan toko karena pulang tanpa membawa sebagian besar uang gajian.

“Gusti…” lirihku dalam zikir.

Menjelang malam, hujan kembali turun dengan derasnya.  Aku terjaga sampai dini hari, tapi tak kunjung menemukan jawaban dari berondong pertanyaan yang menyerang batok kepala. Beranjak pagi aku baru tertidur. Lelaki tua dengan baju yang lusuh mendatangiku dalam mimpi.

***

 “Tiga kali sehari itu jumlah yang berlebihan, Nak. Sekali sehari, tapi setiap hari, itu sudah cukup.” Lelaki tua itu terkekeh.

Beberapa saat sebelumnya, lelaki tua itu melontarkan kegetirannya lewat kisah seorang bocah piatu yang ditinggal berpulang ibunya kala bertaruh nyawa melahirkannya ke dunia. Ayah si bocah berlimpah ke perempuan baru. Menumpahkan tanggung jawab sepenuhnya atas anak tersebut pada dirinya dan istrinya yang merupakan orang tua dari perempuan yang meninggal setelah melahirkan itu.

Ketika lelaki tua pergi merantau, cucunya baru berusia tiga bulan. Tapi dalam foto terakhir yang dikirim istrinya dari kampung halaman, bocah itu sudah setinggi pangkal paha orang dewasa. Punya rahang kotak semirip dirinya. Rambut lurus serupa istrinya. Dan mata bulat milik mendiang anaknya.

Dalam surat yang menyertai foto, istrinya menyebutkan bahwa bocah itu begitu pandai bicara. Banyak bertanya. Sampai ia susah menjawabnya. Semisal tanya, apakah surga itu tempat yang teramat jauh sampai-sampai ibunya harus menempuh waktu yang lama untuk bisa menemuinya tapi belum juga tiba sampai hari ini. Atau tanya, kapan kakek membawa pulang mobil-mobilan yang nenek  janjikan.

Ini adalah kota besar yang keras. Tidak memberikan ruang yang lapang bagi seorang tua dan tanpa keahlian. Meski begitu lelaki tua itu pantang menengadahkan tangan. Pagi-pagi sekali ia sudah mendorong gerobaknya  mengitari komplek perumahan, perkantoran, dan gedung-gedung pabrik. Memungut sisa-sisa limbah yang bisa menjadi rupiah. Besi tua, kaleng bekas minuman, botol plastik.

“Berapa lama Bapak tidak pulang?”

“Tiga setengah tahun.”

Dijawabnya dengan mata keras berkedip, menahan sesuatu agar jangan sampai jatuh. Aku tidak bisa membayangkan itu aku yang tidak bertemu istri dan anakku.

Awalnya aku hanya ingin segera pulang ke rumah. Setengah hari kerja di tanggal muda. Beberapa rencana telah berada di kerangka kepala. Tapi baru beberapa pijak meninggalkan muka gedung, pandanganku singgah pada seorang lelaki tua. Duduk mematung di sisi jalan dengan gerobak sampah di dekatnya. Matanya menatap gerobak bakso, gerobak siomay, dan gerobak ketoprak yang sibuk berlalu-lalang. Acuh melewatinya.

Kuraba amplop cokelat tua yang baru saja diangsurkan bagian keuangan. Beberapa kepentingan saling berperang: boneka beruang, beras, susu, lelaki tua, bayar kontrakan, air ledeng, lalu lelaki tua lagi. Siklus berulang beberapa kali seiring wajah cerah langit yang bertukar kepada muram. Setelah beberapa lama, barulah wajah layu lelaki tua di hadapanku itu keluar sebagai pemenangnya.

 “Saya kira ini cukup untuk ongkos jalan. Belilah mobil-mobilan. Juga kebaya berenda untuk istri Bapak. Sisanya buat pegangan.”

Tanpa kata lelaki tua itu menatapku. Tubuhnya langsung kaku. Ia bagai bukan manusia melainkan patung yang terbuat dari butir-butir pasir lalu dicampur semen dan diguyur bulir-bulir air. Sejenak kemudian mata lelaki tua itu mengembun, tangannya bergetar.

 “Cepatlah Bapak cari tiket kereta atau bus. Cuacanya sungguh tidak bersahabat…”

Ujung kalimatku disambung dengan titik-titik gerimis. Tapi untung saja kami masih sempat berpelukan. Aku berlari dan mencari tempat berteduh. Tak sempat memastikan ke arah mana lelaki tua berbaju lusuh itu mendorong gerobak sampahnya.***


Pasini, mitra BPS Kabupaten Ngawi sebagai tenaga entri data. Menulis cerpen yang pernah tersiar di sejumlah media cetak dan daring. Salah satu cerpennya masuk sebagai nominasi cerpen terbaik dalam Anugerah Sastramedia 2022.