
Bianglala
Benar saja,
sekumpulan warna
pulang kampung
di selasela derai cemara
Di batas cakrawala, bias menjelma
lingkaran roulette di mata penjudi
dan target operasi di mata polisi
Bianglala hilang
dalam hitungan menit
tanpa sempat mengatakan
pesan terakhirnya
Yogyakarta, 2022
Tubuh Waktu di Kota Maya
Di tubuh waktu aku memuai bersama udara kota
menyelisik masa tanpa tanda akan bersua
serupa rumah yang tak kunjung dihuni
kosong dan tak pernah terisi
Dengan seluruh perhitungan waktumu
kembalilah ke punggung masa
sebelum semua benar-benar maya
Di waktu yang makin batu
hidup hanya memupur bahasa
memendam isi hati dalam mulut teknologi
membungkus akal budi dalam wajah Instagram tivi
Dengan segenap wirid yang dirapal ibu tanpa jeda
jadilah penerang di batas usia, luruh jadi suluh sederahana,
meski maktu memaksamu terus berpura-pura
maka sudahilah kemarau di kepala, kejahatan dunia maya,
lipatan dalam perkawanan masa, nyanyi bising di telinga,
keruh hati harta dunia, dan cintailah semua dengan
angan yang mengambang dalam perenungan
dari lautan taksa kita bermula
lalu hempas di ombak masa
tanpa sempat melepas kata-kata
lalu hilang dalam hitungan angka
Yogyakarta, 2023
Kasih Tak Santai
Dalam syair masa lalu
yang terkubur dalam madah sembilu
ayat peraduan telah mencipta
ritus khayali tentang requiem
yang dinyanyikan tanpa kata
Nada-nada dilantunkan
koda-koda didendangkan
doa nyaris hilang dari persembahan
cinta seakan menunggu ajal ditetapkan
Kuingat engkau, serupa kuingat syair
yang menyisakan titik nadir dalam
seonggok pasir, pongah, lalu mangkir
saat akan disisir, menyisakan tangis tanpa
mata berair, dan kenang yang terus
melekat hingga akhir
Di ujung hari
geram gusarmu mulai
keluar masuk kepala
tanpa kalimat sapa
Mencintaimu bukan soal
bagaimana cara bertahan
mencintaimu adalah seberapa
kuat merawat kehilangan
Yogyakarta, 2021-2023
Malam Tahun Baru
jika ada yang mencariku
aku tidak kemana-mana
aku di rumah
menumpahkan resah yang ruah
maaf.
sebab aku tak bisa menemanimu
merayakan pergantian tahun
ada yang lebih butuh ditemani
dalam riuh ramai kembang api
tubuh sunyi
diri sendiri
/2/
setelah sehari penuh
tubuh penuh peluh.
isi tenagamu dengan tidur
sebab nanti malam perayaan syukur
sorak ramai retak-retak
nyanyi sunyi larik sajak
terdengar sampai ruang-ruang
kamar belakang
seperti biasanya
aku setia mendengar letus kembang api
hanya dalam kamar
sunyi geletar
Yogyakarta, 2022-2023
Merakit Cuaca
langit kota masih basah
oleh hujan air mata
yang dirakit dari luka-luka
menganga dan terbuka
lebih dari seharusnya
ikatan adalah musim dendam
yang kupendam dalam sekam
Yogyakarta, 2022
Lintasan Manusia Indonesia
dari ingatan yang pecah berserak
kaususun getas dasar yang retak:
cermin negara
dengan kota dan kata
dengan revolusi yang ledak berkali-kali
serak suara menebal dalam sejarah:
hari kita berserah
biar kita sokong di atas meja
kemana tubuh bangsa menuju berada
menginci tanah, merawat air
membeli percaya:
sila yang lima
Yogyakarta, 2023
Pancaroba Pekerja
di kering keringat menjelang jam istirahat
geletar cecar mengerak di kerah-kerah biru
menebal di kubang lara
bersanding dengan jajaran
gagasan berbalas culas
setiap lintasan waktu adalah
musim gugur untuk tubuh-tubuh suluh
“larilah ke kamar gelap”
melipat waktu yang lengang
macam harap yang kami tanggung
pada utopia menggunung
Yogyakarta, 2023
Ode Amuk Malam
sebelum ksatria mengasah dendam
biarkanlah tuba memeram ode untuk amuk malam
sedang lengking nyanyimu sendu melulu
meniup gebalau ringkik parau
di televisi kata-kata berubah menjadi senjata
saling menerkam tanpa aba-aba
menyusun sajak-sajak tanpa peduli rima
dan kebenaran telah mati dalam hitungan lima
Yogyakarta, 2023
‘65 Setelah Jakarta
Kami dibariskan di tengah jalan
Lalu disuruh jongkok dengan popor di pelipis kanan
aroma anyir menguar dari darah yang memancar
dari dada yang terkoyak lebar
setiap pagi tubuh-tubuh kaku rubuh
mengalir sepanjang Sungai Brantas
tanpa identitas
Blitar, 2022
Fatamorgana
Kita membenci dosa khalayak
Tapi berbuat dosa
lebih banyak
Yogyakarta, 2022

Ahmad Radhitya Alam, lahir di Blitar dan sedang bergiat di Yogyakarta. Menulis puisi, fiksi, dan esai yang termuat di beberapa media. Bergiat di Bunker Collective Space dan Teater Terjal. Dapat dijumpai via Instagram: radhityaalam_
