“Jika kamu sedang mencari siapa yang dapat mengubahmu, lihatlah ke cermin.” Sebuah persahabatan yang pada awalnya dipenuhi drama dan romantika hidup di sekolah, di rumah, di pasar, di kafe. Bercerita seputar anak-anak muda yang punya mimpi dan berjuang untuk menggapai. Tidak ada yang mustahil di dunia ini, jika manusia berusaha dan berdoa.
hasrat, giat, cermat, gerak, cipta, karya, dan iman,
serta pada seduhan terakhir
—setetes nyali kutambahkan
sebelum kiamat benar-benar menjemput
di hari keberangkatan kata sekarat
aku tetap berkhidmat pada kesembuhan
dan berharap kekuatan seorang diri
mendapati sekawanan burung kenari
menumpahkan rindu yang menghijau,
menyiramkan kasih yang membiru
melukis harmoni serupa pelangi
dan kasih manusia terajut sebagai helai kapas
selembut udara memenuhi rongga dada
—setiap makhluk ciptaan-Nya
karena tuhan mengangkat khalifah
bukan sebagai izin untuk menjarah
menghancurkan atau sekadar mengambil
tanpa memberi imbal balik yang adil
Karanganyar, 2023
Kado Pengantin
: Rasih M. Hilmy
andai putaran waktu terhenti di awal lembaran baru
nyatanya ia masih bergerak di luar sana melawan beku
air sungai mengalir ke hilir, dedaunan menua lalu gugur
awan-awan pun sedia bergilir, butiran hujan setia bertabur
sebab kini kau bukan lagi seorang diri, tapi berdua
merayakan takdir demi segenggam bahagia
seiring sejalan kalian saling menerima
semua kenyataan apa pun adanya
“denganmu, kesialan macam apa
yang membuat derita?”
tandasmu padanya
jika tahun ini kita ibaratkan jam di dinding kamar
pada angka dua belas, sepasang jarum terhenti sebentar
setelah melewati satu episode petualangan gamang
detik ini adalah kenyataan yang berumur panjang
dan semoga inilah pengadilan suci, ganjaran
atas kebebalan yang direstui semesta raya
puisi yang kalian terima tanpa pilihan
hanya kasih sayang, tiada penyesalan
“tanpamu, keindahan macam apa
yang bisa kunikmati?”
tegasmu padanya
aku menyaksikan langit tergelar di dadamu
dengan putik dan tunas yang segera saja bersemi
pada satu pagi yang terbit dari sepasang mata istrimu
mutiara berwarna biru, perak, kelabu, jingga, dan ungu
adalah jenis-jenis musim yang kini kau himpun
setulus mungkin tanpa kehendak melawan kepastian
dan seketika itu pula kutahu, kau telah menyerah
untuk hidup merawat puisi yang kau sebut rumahmu
Karanganyar, 2023
Menjala Angin
kita telah lama belajar terbang
membuntuti angin dari negeri tanpa musim
lesap tanah dan air diserobot maling
dan kota-kota di permulaan pagi,
melahirkan anak-anak yang tumbuh dari tumpukan sampah
masa depan berpinak dari rahim hologram ladah
arus tinggi informasi
laju kemajuan teknologi
pesat kembangnya industri
dan waktu adalah panggung perayaan
senjakala kemenangan
mimpi-mimpi di meja makan,
tak peduli gizi dihidangkan setengah matang
menimbun racun yang bersekutu dengan penawarnya
layanan medis ahli
kemujaraban farmasi
kepastian polis asuransi
dan rumahsakit-rumahsakit makin subur
ragam penyakit menjamur
kita agaknya terbiasa patuh dan tabah
menirukan kegilaan dinding-dinding sekolah
kalut menghafal larik mantra dan rajah
kita pun sejatinya kerap lalai menghitung
jala angin yang ditinggalkan sayap burung-burung
dan langit lebih murung ketimbang resah gunung
Karanganyar, 2023
Ian Hasan, lahir di Ponorogo, saat ini tinggal dan bergiat di Sanggar Pamongan Karanganyar, selain juga terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata. Buku Kumpulan Cerpen perdananya berjudul Lelaki yang Mendapatkan Jawaban Atas Kisahnya Sendiri, terpilih sebagai finalis Hadiah Sastra Ayu Utami untuk Pemula “Rasa” 2022. Penulis dapat disapa memalui akun instagram @ian_hasan
Sepiringnasi goreng iga bakar disajikan Ratih. Sepasang mata Pak Jo terbelalak. Rasa lapar dan selera makannya bangkit. Tak terkendali seperti masa kanak-kanak. Di restoran hotel itu Ratih duduk menghadap meja kayu jati, berseberangan dengan Pak Jo. Semua orang menyapa Pak Jo. Ia seorang guru besar, pembicara dalam forum seminar. Lelaki setengah baya itu hanya memperhatikan Ratih, perempuan beralis tebal, dengan rambut sebahu, berkacamata minus setengah. Di hadapan Pak Jo, perempuan itu menjaga kesopanan.
“Kau suka masak nasi goreng?” tanya Pak Jo pada Ratih, seorang dosen muda, kandidat doktor.
Ratih memandangi Pak Jo, promotor disertasinya, dengan jenaka.
Lelaki setengah baya itu iseng bertanya tentang makan pagi kesukaan Ratih. Ia selalu memasak nasi goreng pada pagi hari, tetapi tak pernah memenuhi seleranya, Anak gadisnya, Sekar, sebelum menikah, kadang memasak nasi goreng untuknya, tetapi terlalu banyak sayur.
“Saya sering masak nasi goreng untuk sarapan suami,” kata Ratih.
“Apa suamimu bersyukur?” Pak Jo merasa perlu mengajukan pertanyaan ini. Ia masih ingat akan perangai Sekar, yang selalu menuntutnya mengucapkan rasa terimakasih ketika menyajikan sepiring nasi goreng yang penuh sayur dan cenderung hambar.
“Ia pandai memuji masakan istri,” kata Ratih, tenang.
“Apa dia tak pernah meminta sarapan lain, selain nasi goreng?”
“Sesekali ia minta nasi goreng pete,” kata Ratih. Ia mengingat perilaku suaminya yang jenaka saat makan nasi goreng pete. “Aroma pete membuatnya lahap makan.”
“Istriku dulu suka masak nasi goreng babat gongso. Tak seorang pun bisa menandingi kelezatannya. Nasi goreng iga bakar yang kita makan ini, kalah lezat dengan masakan istriku.”
Berceritalah Pak Jo pada Ratih mengenai kelezatan nasi goreng sapi, nasi goreng kambing, nasi goreng ikan asin, nasi goreng kornet, nasi goreng sambal cumi pete, nasi goreng udang, nasi goreng magelangan, nasi goreng padang, dan nasi goreng thailand. Mereka bertukar cerita, dan tak ingin diganggu siapa pun. Orang-orang yang mengenal Pak Jo menyapa, tetapi tak pernah berani bergabung ke mejanya. Lelaki setengah baya itu menikmati makan pagi yang lezat, setelah sepuluh tahun tak pernah merasakannya, sejak istrinya meninggal. Sepasang mata Ratih menampakkan cahaya ketakjuban selama sarapan, dan lelaki setengah baya itu merasa nikmat tiap sendok nasi goreng iga bakar. Tiap teguk kopi terasa lezat dalam cecapan ujung lidahnya.
***
Usaimenjadi pembicara di hotel, menjelang sore Pak Jo meninggalkan ruang seminar. Berlari-lari kecil Ratih mengajak suaminya menemui Pak Jo di pelataran hotel, dekat air mancur, kolam ikan, dan taman. Seorang lelaki kurus, rambut gondrong, berkacamata tebal, menyalami Pak Jo.
“Ini suamiku,” kata Ratih, “seorang wartawan.”
Tercium bau keringat dan rokok yang menyengat. Pak Jo teringat akan kesukaan lelaki ini makan nasi goreng pete. Ia menahan senyum, tak bisa berbincang lama dengan Ratih dan suaminya. Ia bergegas ke ruang parkir mobil. “Sampai besok, kita bertemu di ruang ujian promosi doktor!”
Meninggalkan hotel di pinggir kota, lelaki setengah baya itu memasuki pelataran rumah yang senyap. Tanaman-tanamannya layu, beberapa hari tak disiram. Ia membuka pintu rumah, dan seekor kucing berlarian mengikuti langkahnya.
Malam itu Pak Jo suntuk membaca disertasi Ratih. Sebuah taksi berhenti di depan rumah. Anak sulung dan istrinya, Alya, datang dari ibu kota, meramaikan suasana rumah. Anak sulung datang untuk urusan kerja, dan Alya ikut suami untuk jalan-jalan. Alya membawakan banyak makanan, dan terus-menerus mengajaknya ngobrol.
Pak Jo mulai membandingkan Alya dengan Ratih. Ia sempat berpikir, kenapa Alya tak semenarik Ratih, yang akan diuji disertainya besok? Lelaki setengah baya itu mulai melihat penampilan Alya: alis, sepasang mata, dandanan, cara berpakaian, dan cara bicaranya. Alya tampil dengan gemerlap. Ratih tampil dengan apa adanya.
“Besok akan tersaji makan pagi paling indah bagi Ayah.”
Pak Jo berharap besok pagi akan menikmati nasi goreng, telur dadar, dan secangkir kopi yang memberinya keceriaan. Ia juga memerlukan teman ngobrol seperti Ratih.
***
Lepas subuh, Pak Jo berjalan kaki mengitari gang-gang, mencapai taman bougenvile dan buru-buru pulang. Ia merasakan tubuhnya segar, duduk di teras, membaca koran, mandi, berdandan, dan menghampiri meja makan. Tetapi alangkah sepi meja makan itu. Alya dan anak sulungnya tidak berada di hadapannya. Ia seorang diri, mencecap kopi yang hambar. Anak sulung dan menantunya bergegas menyalaminya, mohon diri. Anak sulungnya akan mengunjungi tempat kerja. Menantunya menemui seorang sahabat, dan mereka berjanji akan berjalan-jalan berdua.
Pak Jo mengambil nasi goreng masakan Alya. Ia sarapan dalam senyap seorang diri. Dalam suapan pertama, lidahnya tersengat rasa pedas. Telur dadar yang dikunyahnya terasa asin. Ia bimbang, ingin meninggalkan sarapan nasi goreng yang sudah dibayangkan semalam akan lezat.
Terdiam, merenung seorang diri di meja makan, ia teringat akan godaan seorang teman, “Tunggu apa lagi? Kau perlu seseorang istri yang membuatkanmu sarapan nasi goreng!”
Pak Jo memaksakan diri untuk menyuap beberapa sendok nasi goreng yang terlalu pedas, mengunyah telor dadar yang asin, dan mencecap kopi yang hambar. Ia memberikan nasi goreng dan telor dadar pada kucing. Nasi goreng itu cuma diendus-endus. Telur dadar itu yang dimakannya. Nasi goreng pedas itu diabaikan kucing.
Mencuci piring dan cangkir, Pak Jo kembali duduk menghadap meja makan. Memandangi lukisan besar di dinding. Istrinya tersenyum tipis, dengan kebaya dan rambut disanggul. Sepasang matanya bening, dan selalu ia ingat godaannya tiap pagi, “Nasi goreng babat gongso sudah matang. Ayo, dimakan, mumpung hangat!”
Mereka makan bersama. Selalu Pak Jo merasakan kelezatan dalam tiap bulir nasi goreng babat gongso yang dimasak istrinya. Ada senyum tipis dalam celah bibir itu, terpancar cahaya bening di balik kacamata. Dan Pak Jo, akan marah sekali setiap kali seorang teman membujuknya untuk kembali menikah dengan seorang janda yang diperkenalkan padanya. “Kau kira akan mudah bagiku untuk menerima istri baru?”
Pak Jo mengusir kucingnya keluar rumah, mengunci pintu, menghampiri garasi. Ia mengendarai mobil pelan-pelan, berangkat ke kampus. Masih terlalu pagi. Ia mencapai kampus, menuju ruang tunggu dosen penguji disertasi. Berperangai lembut, Ratih menyambutnya, menyuguhkan sepiring nasi goreng babat gongso dengan acar, taburan bawang goreng, dan kerupuk. Aroma nasi goreng itu persis yang disajikan istrinya tiap pagi di meja makan. Dalam suapan pertama, ia menikmati kelezatan nasi goreng itu. Lahap sekali ia menghabiskan nasi goreng babat gongso, dan menemukan seluruh kenikmatan makan pagi sepuluh tahun silam bersama istri.
Pandana Merdeka, Januari 2024
S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari. Menyelesaikan program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”. Semenjak 1983 ia menulis cerpen, esai sastra, puisi, novel, dan artikel di beberapa media massa. Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen “Cermin Jiwa”, yang dimuat Kompas, 12 Mei 2007. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Kumpulan cerpen Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005), dibukukan setelah lebih dari dua puluh tahun masa proses kreatifnya. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” dimuat dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Penyusup Larut Malam” dimuat dalam Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009 dan diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018). Cerpen “Pengunyah Sirih” dimuat dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Novel yang terbit Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017), Percumbuan Topeng (Cipta Prima Nusantara, 2022). Kumpulan cerpen Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020), nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021. Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022) dan Anak Panah Dewa (Penerbit Nomina, 2022).
ikan-ikan yang kerap bersengkela di jala para nelayan
berjatuhan dari langit berlumpur
memenuhi ladang yang kami garap
bumi yang kami huni
sebagai neraka kecil.
Bekasi, 29 Januari 2024.
Tamsil Peradaban
usai Hawa memetik hukum Tuhan
bumi menjadi tempat bagi Adam
menebus dosa-dosa
dan menggumbuk roda nasib.
tapi kini,
bumi hanya lautan merah tak bertepi
dan anak-anak Adam
menjala perkara haram di atas perahu emas
mengantarkan tanah leluhur
rumah para dulur
ke dermaga penuh abu.
nanti, setelah tanggal-tanggal terpenggal
rahim bumi akan mengandung seribu catatan
dan kita akan berlomba
mengarungi pulau-pulau sastra
menerjang ombak-ombak lini masa
menganju ajang pamer
pada sesuatu yang ciri
dengan beberapa cara.
Bekasi, 29 Januari 2024.
Mengadu Nasib
: 19 tahun berlalu
dan ratusan ribu jisim
adalah bangkai tak bernisan
ladang yang dipersilakan untuk kami menanam doa
memanen perpisahan
menanak rasa sakit.
sedang di hari yang bukan Ramadan
kami berpuasa atas kerinduan
memeluk orang-orang yang hingga sekarang
tak pernah lunas kami temui
melainkan sekubit tulang
kulit dan daging hitam
berkelindan syair-syair gamang.
seraya mengadu nasib
kami menabur doa-doa paling ranum
di atas pusara yang tak lagi wangi
alangkah rasa sakit yang banglas di dada kami
adalah air mata—yang selalu tumpah
namun entah ke jasad siapa!
Bekasi, 29 Januari 2024.
Dermaga Masa Depan
atas nama leluhur
kami menanam kebaikan di ladang syukur
menanak seribu doa di dapur
yang tak pernah merugi.
pun memantik nyala api—membakar nyali pada sumbu yang enggan padam
hingga pemikiran kami berkobar matang
tanpa tungku arang.
di tanah yang kami cintai ini
secangkir literasi terhidang sepanjang malam
dan kami bersumpah di dalam rumah yang sama
bahwa semangat kami enggan berbeda
meramu darah yang satu, bangsa yang satu, bahasa yang satu
menggisil perkara haram
yang sekali waktu
menjelma perkara hasai.
demi menulis peradaban
mendaras kehidupan
kami menatah perahu
mengantarkan generasi
ke dermaga masa depan
dan mengarungi
luasnya kebijaksanaan Tuhan.
Bekasi, 29 Januari 2024.
Dua Kubu
sekali waktu
aku lihat geliat ibu
bersujud runcing kepada Tuhan
dan ibu bersaksi;
bahwa dirinya kerap buta
menyayangi darah daging
melebihi yang Mencipta.
di lain waktu
ayah menyergah ingatanku:
puisi tetang ibu selalu bermula dari tunggul pohon di hutan rimbun, Nak
kala desir angin menampar-nampar tubuhnya
ia berdansa penuh birahi
menyetubuhi jari-jemari di atas secarik kertas
sampai terkulai lemas, menggelinjang
mengandung benih-benih sastra
pecah sebagai bahasa
menjelma satu puisi.
Bekasi, 29 Januari 2024.
Falsasah Seorang Ibu
ibu adalah cinta yang setiap kali hampir mati
direinkarnasi dengan doa-doa
sedang di dada anak piatu
merindukan ibu
adalah doa paling sakit.
kendati demikian
kebohongan ibu hanyalah jujur
yang dibungkam dalam waktu sementara
ibu berkata “silahkan berkelana”
meski aku tahu
bahwa kepulangan
adalah inginnya yang paling rahasia.
di tempat berbeda
aku menghitung hari-hari yang terkelupas
sembari mengingat masa kecil
yang dahulu:
ibu mencariku di antara adzan magrib
menyapih mataku di waktu subuh
menyulam nasibku yang masih setengah jadi.
Bekasi, 29 Januari 2024.
Anasir Kehidupan
mengislah mawar
sebab suamimu yang bernama langit
takkan pulang membawa hujan
dan tubuhmu itu
begitu hasai
haus keadilan.
pun tanah di sekelilingmu
kian merengek
ingin memeluk basah paling berkelas
dari ceruk matamu yang gegas
untuk merekah
rindu bersudah.
kau pun tahu, mawar
bahwa hidup bukan tembikar
yang semakin dibakar
meraup tawar-menawar
dari tangan seorang pembeli.
hidup; hanya bangku sekolah kedua
yang di atasnya
kita duduk mengernyitkan dahi
mampus berpikir
kapan ujian ini berakhir?
Bekasi, 29 Januari 2024.
Ilham Nuryadi Akbar lahir di Banda Aceh dan saat ini sedang merantau di Kota Bekasi. Buku pertamanya diterbitkan oleh Alinea Medika Pustaka berjudul Kemarau Di Matamu Hujan Di Mataku. Puisi dan cerpen dimuat pada beberapa media lokal dan nasional.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul tiga lewat lima puluh menit. Aku sudah duduk di sofa ruang tamu kos ini sejak sepuluh menit yang lalu. Sekaleng minuman soda dingin di tanganku, bahkan sudah hampir habis, tapi mobil yang akan membawaku dan teman-teman ke Gunung Kidul belum juga sampai. Berkali-kali aku menarik napas panjang karena bosan. Hingga tanpa sengaja pandanganku jatuh pada kalender yang tergantung di dinding. Sebentar lagi hari natal. Hari yang mulai aku benci sejak tepat di tanggal yang sama, tiga tahun lalu, telah merenggut papah dari hidupku.
Tin tin
Suara klakson mengagetkanku. Aku bangkit, lalu menyeret koper di sampingku untuk segera menyusul masuk ke mobil.
***
“Mari-mari.” Mbah Diro, pria renta berusia delapan puluh satu tahun itu memersilakanku dan Indah untuk masuk ke rumah. Bangunan sederhana berdinding anyaman bambu dan berlantai tanah ini akan menjadi tempat tinggal kami selama dua minggu ke depan. Kami akan mengambil data dan melakukan survey lapangan untuk keperluan skripsi di desa Karangduwet yang terletak di kecamatan Paliyan, kabupaten Gunung Kidul.
Mbah Nik, istri Mbah Diro sedang menata minuman di meja. Kami menyalami keduanya sebelum akhirnya duduk. “Namanya siapa?” tanya Mbah Nik kepadaku.
“Nadia, Mbah.”
Mbah Nik mencondongkan kepala dan memasang wajah seolah tidak mengerti.
Mbah Diro lalu memperkenalkan kami dengan suara lantang. “Ini Mbak Nadia, kalau yang itu namanya Mbak Indah,” ucapnya sambil menunjuk kami bergantian. Mbah Nik terlihat mengangguk.
“Maaf, istri saya ini pendengarannya sudah jelek. Jadi kalau ngomong memang harus keras,” jelas Mba Diro. “Silakan diminum dulu. Setelah ini akan saya tunjukkan kamar kalian supaya Mbak berdua bisa istirahat.”
“Terima kasih, Mbah,” balasku dan Indah hampir berbarengan.
Mbah Diro memperlihatkan letak kamar mandi dan dapur sebelum mengantar kami ke ruang tidur. Luas kamar kami sekitar dua kali tiga meter. Ada satu dipan beralaskan tikar dilengkapi dua bantal kapuk dan dua lembar jarik yang masih terlipat rapi. Terdapat satu buah meja dan kursi kayu di sudut ruangan. Tidak ada lemari, jadi aku dan Indah tetap menyimpan pakaian di dalam koper.
Indah terlihat memainkan ponsel untuk mencari arah kiblat. “Dipan ini kita pindah menghadap ke sana ya, Nad? Sudah pukul sepuluh dan aku belum sempat salat Isya.” Aku hanya mengangguk lalu membantu memosisikan dipan sesuai arahannya. Tidak lama ia keluar kamar dan masuk lagi sudah dengan wajah, tangan serta kaki yang basah. Ia mengambil tas kecil dari dalam koper lalu naik ke dipan. Ia memakai mukena, menggelar sajadah dan melaksanakan salat.
Aku meletakkan tas di meja, kemudian duduk sambil memainkan ponsel untuk menunggu Indah menyelesaikan ibadahnya. Ada pesan dari Mas Indra, kakakku. “Natal tahun ini pulang ya, Nad. Mamah kangen kamu.”
Aku tidak membalas pesannya.
***
Mbah Diro sedang jongkok meniup bambu ke arah tungku sambil memainkan kayu bakar di bawahnya. Asap mengepul cukup banyak. Tidak lama api pun menyala. Ia mengangkat ceret yang hampir keseluruhannya berwarna hitam ke tungku.
“Loh, sudah bangun to? Mbak Indah juga sudah bangun?” tanya Mbah Diro padaku.
“Iya, Mbah. Indah masih mengaji di kamar,” jawabku singkat.
“Sebentar, airnya belum matang. Saya buatkan teh untuk sarapan.”
“Terima kasih, Mbah. Biar saya bantu.”
“Tidak perlu. Lebih baik Mbak Nadia siap-siap saja. Bukannya pagi ini harus ke balai desa. Nanti saya antar.”
“Baik, Mbah.” Aku mencari-cari keberadaan istrinya. “Ngomong-ngomong, Mbah Nik ke mana, Mbah?” tanyaku.
“Subuh tadi dijemput Warjo, anak saya, ke Playen. Istrinya baru saja melahirkan. Cucuku sudah tiga sekarang. Laki-laki semua.”
Aku manggut-manggut. “Wah selamat ya, Mbah. Gara-gara kami Simbah jadi tidak bisa ikut menengok cucu.”
Mbah Diro menggeleng. “Tidak apa-apa, yang penting semua sehat. Sudah sana, nanti terlambat,” perintahnya kemudian.
Aku berjalan meninggalkan dapur. Sambil menuju ke kamar, aku memperhatikan sekeliling. Rumah ini ada dua kamar, satu kamar digunakan Mbah Diro dan istrinya, satu lagi yang aku dan Indah tempati. Bagian ruang tamu ada empat bangku dan satu meja panjang berbentuk kotak, bersebelahan dengan bufet di mana ada sebuah radio berukuran kecil di situ. Tepat di sampingnya ada lemari kecil dengan pintu kaca. Aku bisa melihat dua buah keris dan satu mata tombak tersimpan di dalamnya. Semua perabot terbuat dari kayu. Pada dinding bambu yang menjadi sekat kamar Mbah Diro, tertempel poster presiden Soeharto dan Sri Sultan Hamengkubuwono ke Sembilan berukuran cukup besar. Tidak ada jam dinding maupun televisi di ruangan ini. Kamar mandi berada di luar rumah.
Ponselku berdering. Aku melihat nama Mas Indra pada layar.
“Ya, Mas,” jawabku malas.
“Semalam aku mengirimkan pesan tapi tidak terbalas, kamu sudah tidur ya?” tanya Mas Indra di seberang.
“Iya, Mas. Semalam aku lelah sekali.”
“Oke. Natal besok kamu pulang kan?”
Hening.
“Nad, cepat mandi!” teriak Indah begitu masuk. Aku yakin Mas Indra pasti bisa mendengar juga suaranya.
“Sudah dulu ya, Mas. Aku harus segera bersiap.” Aku mengakhiri telepon tanpa menunggu persetujuan.
Indah terlihat masih mengenakan handuk di kepalanya, namun pakaian yang dikenakan sudah rapi. Kuturuti Indah tanpa protes, langsung melesat mengambil handuk di kamar.
***
Hari ini hari Minggu. Sejak Sabtu sore Indah pamit untuk pulang dulu ke Yogya dan akan kembali lagi nanti malam. Aku memutuskan untuk tetap tinggal di sini sampai kegiatan kami selesai. Sekamar dengan Indah membuatku mulai terbiasa bangun subuh. Udara pagi ternyata menyegarkan.
Mbah Diro sedang memanen pisang di halaman rumah. Aku bermaksud ingin membantu tapi ditolak. Takut kotor katanya. Jadi aku berinisiatif membuat teh manis hangat untuk kami.
“Mbak Nadia mau saya antar ke gereja?” tanya Mbah Diro tiba-tiba setelah melirik ke arah liontin berbentuk salib yang menggantung di leherku.
Aku terkejut mendengarnya. Entah sudah berapa lama aku tidak pernah lagi ke gereja sejak papah meninggal. Cukup lama aku tidak menjawab.
“Ada gereja di dekat pasar, kebetulan saya mau menjual pisang, jadi bisa sekalian. Setelah tehnya habis, Mbak Nadia siap-siap ya,” kata Mbah Diro seolah memerintah. Aku hanya menjawab dengan anggukan.
***
“Mbak Nadia kenapa? Kok sejak tadi terlihat murung. Apa sedang tidak enak badan?” tanya Mbah Diro. Kami berjalan beriringan kembali ke rumah. Sinar matahari sudah cukup menyengat, tapi tersamar karena banyak pohon rindang di sepanjang jalan.
“Tidak apa-apa,” jawabku singkat. Aku melihat Mbah Diro menenteng kresek putih berisi beras. “Sini saya bantu bawakan, Mbah.” Tanpa menunggu jawaban aku langsung mengambil alih bungkusan itu.
Cukup lama kami terdiam. Kemudian aku bertanya untuk memecah keheningan, “Apakah Simbah pernah sedih?”
“Tidak,” jawabnya pendek.
“Tidak?” tanyaku menirukannya.
“Mbak Nadia lagi sedih?” Mbah Diro balik bertanya.
“Tidak, Mbah. Cuma sedang kangen papah.”
“Memangnya papahnya Mbak Nadia ke mana?”
“Sudah meninggal tiga tahun yang lalu.”
Mbah Diro terlihat sedang berpikir sejenak. “Dulu Simbok pernah menasihati saat Bapak meninggal.”
Aku menengok ke arahnya, tertarik dengan apa yang akan disampaikan.
“Jangan sampai kesedihan dan tangisanmu mempersulit bapakmu di alam kubur,” ucap Mbah Diro menirukan kalimat ibunya. “Waktu itu saya masih kecil, belum begitu mengerti, jadi patuh saja dengan apa yang simbok bilang. Sekarang baru tahu kalau rezeki, jodoh dan maut itu sudah ketetapan. Mau dihindari seperti apa kalau sudah rezeki ya harus diterima. Pun sebaliknya, mau dikejar seperti apa kalau bukan haknya juga tidak akan pernah sampai. Hidup itu tujuannya cuma satu, yaitu menjalani apa yang sudah ditetapkan Gusti Allah,” lanjutnya kemudian.
“Berarti Simbah selalu bahagia?” tanyaku lagi.
Mbah Diro mengangguk tersenyum. Sadar melihatku seperti masih tidak puas, ia menjelaskan lagi. “Saya itu orang bodoh. Membaca saja tidak bisa. Belajar salat dan mengaji tidak pandai-pandai. Jadi kalau pas bulan Ramadhan, ya ikut puasa. Saatnya tarawih, ya berangkat tarawih. Makanya saya itu kalau sudah waktunya azan langsung ke masjid, karena kalau salat sendiri tidak bisa.”
Aku tersenyum mendengar jawaban polosnya.
“Apalagi Mbak Nadia kan orang pintar, seharusnya bisa lebih bahagia.”
Deg. Jantungku serasa berhenti mendadak. Ada perasaan aneh dalam hatiku.
***
Tanpa terasa, dua minggu sudah hampir terlewati. Hari ini tugasku selesai lebih cepat. Indah masih harus bertemu dengan beberapa petani, jadi aku meninggalkannya pulang lebih dulu. sesampainya di rumah, aku melihat Mbah Diro menggendong tiga buah nangka muda berukuran sedang hasil panennya hari ini.
“Simbah mau ke pasar? Saya ikut ya?” tanyaku.
“Kok sudah pulang?”
“Iya, tugasku sudah selesai, Mbah.”
Mbah Diro tersenyum mengizinkan.
Ternyata kali ini bukan ke pasar biasanya. Kami harus naik angkot satu kali untuk menuju pasar Playen. Begitu sampai, aku melihat Mbah Diro menyerahkan satu lembar uang lima ribuan dan satu lembar lagi uang seribuan. “Dua orang ya,” ucapnya kepada kernet. Aku bermaksud mengganti uang tersebut namun ditolaknya. Kami lalu masuk ke pasar.
Tanpa mencari-cari, simbah langsung berjalan menuju lapak penjual gudeg yang berada di pojok. Setelah bernegosiasi, akhirnya Mbah Diro mengucap syukur saat menerima uang sebesar dua puluh ribu rupiah di tangannya. Aku sangat sedih melihatnya. Sampai akhirnya sebelum kami naik angkot untuk kembali pulang, Warjo yang kebetulan sedang berada di pasar, memanggil simbah dan menyerahkan dua bungkusan besar yang tidak lama kemudian aku tahu isinya ayam, telur dan juga sayuran.
“Alhamdulillah, akhirnya kita bisa makan enak sebelum Mbak Nadia dan Mbak Indah pulang,” ucap Mbah Diro. Seketika hatiku rasanya diremas-remas. Aku berusaha menahan tangis agar tidak pecah. Begitu angkot berhenti di depan pasar yang biasanya kami kunjungi, aku meminta izin pada simbah untuk turun terlebih dahulu. Secepat kilat aku berlari masuk ke gereja. Menuju bangku paling depan, lalu berdoa.
“Tuhan, aku meralat apa yang kukatakan dalam doaku kemarin. Aku tidak protes lagi mengapa papah meninggal. Karena aku tahu, papah sekarang sudah di surga bersama-Mu. Aku juga tidak akan meminta-Mu mengambil nyawaku pada malam natal nanti untuk menyusul papah.” Tangisku akhirnya pecah. Beban dan rasa sakit yang selama ini ada di dadaku seperti berdesakan ingin keluar berbarengan dengan derasnya air mataku. Usai mengakhiri doa, aku mengambil ponsel dan membalas pesan Mas Indra.”***
Septi Rusdiyana Penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga dengan dua putri cantik bernama Negar dan Nala
Imam Khoironi, lahir di desa Cintamulya 18 Februari. Masih mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris di UIN Raden Intan Lampung. Tidak terlalu suka seafood dan durian. Penggemar mi ayam dan bakso garis keras ini suka nulis puisi, cerpen kadang-kadang juga esai. Buku puisinya berjudul Denting Jam Dinding (ada di tokopedia). Karya-karyanya pernah dimuat di berbagai online dan cetak. Puisinya masuk dalam buku Negeri Rantau; Dari Negeri Poci 10 dan banyak antologi puisi lainnya. Ia bisa di-stalking di Facebook : Imam Imron Khoironi, Youtube channel: Imron Aksa, IG : @ronny.imam07 atau di www.duniakataimronaka.blogspot.com.
Lelaki berotot besar berambut cepak dan berkumis melintang itu berhenti mencengkeramku ketika tiba di depan sebuah rumah kecil sederhana yang sudah dipenuhi orang-orang, dan semuanya tidak ada yang kukenal. Dia mengempaskanku dengan kasar di halaman dan berkata dengan gusar, “Temanmu sudah mati.”
Aku tak berkomentar. Aku merasa di antara senang dan sedih. Senang karena kematian orang itu berarti kebebasanku lagi, sedih karena aku tahu bagaimana rasanya ditinggal mati orang tercinta. Sebelum aku merasakan lebih jauh, aku mendengar riuh tangis dari dalam rumah. Lelaki besar berotot itu menarikku masuk ke dalam rumah, lantas mendorongku hingga mendesak orang-orang yang berkerumun.
Semua orang menjeda tangisnya sebentar dan memberi jalan. Lalu, menutup jalan lagi dan mengelilingiku sambil melanjutkan tangisnya. “Jangan menangis di luar kewajaran, ya,” kata beberapa di antara mereka kepadaku dengan penuh perhatian.
Aku sebenarnya ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi rasanya sekarang tidak ada gunanya mengatakan hal-hal itu. Yang mampu kulakukan akhirnya hanyalah mengangguk dan memperlihatkan raut sedih.
Lalu, kerumunan menyibak sehingga tampak seorang wanita renta terhuyung ke arahku dan meraih tanganku. Air matanya mengalir di pipinya. “Anakku sudah mati,” isaknya.
“Aku tahu,” kataku. “Aku sangat sedih, semuanya terjadi begitu tiba-tiba.”
Kata-kataku yang sesederhana itu ternyata justru membuat air matanya mengalir lebih deras. Bahkan, ratapannya sekarang begitu menyayat, membuat bulu kudukku berdiri.
“Tolong jangan terlalu bersedih seperti ini, Bibi,” kataku.
Dia mendengar kata-kataku. Tangisnya sedikit mereda. Tanganku yang masih digenggamnya ditarik ke wajahnya, dan dengan punggung tanganku dia mengelap air matanya. Dia kemudian menatapku dengan masih terisak, dan berkata, “Kamu juga harus menerimanya dengan tabah.”
Dia mengangguk, “Kamu pun harus menjaga kesehatan.” Katanya sambil mengelap air matanya dengan tanganku lagi. Jika tidak dipegang dengan erat, pasti aku sudah menariknya.
“Tentu, Bi—semua yang ada di sini pun harus melakukannya,” kataku. “Kesedihan ini harus kita ubah menjadi kekuatan.”
Dia mengangguk. “Kuharap kamu tidak menyalahkan putraku karena dia telah mengembuskan napas terakhir sebelum kamu sempat menemuinya.”
“Tidak, Bibi. Aku tidak akan pernah menyalahkannya,” kataku.
“Kuminta kamu tidak terlalu bersedih,” katanya dengan masih terisak.
“Aku hanya khawatir tidak dapat menahan air mataku, Bi.”
Dia tersedu lagi dan sekali lagi mengelap air matanya dengan punggung tanganku. “Dia satu-satunya orang yang kumiliki, tetapi kini dia pergi. Kau adalah anakku sekarang.”
Aku terkejut dengan kalimat terakhirnya. Kini aku merasa air mataku menggenang. Kutarik tanganku dengan sedikit memaksa dan putus asa. Aku berhasil mendapatkan tanganku kembali setelah mengatakan bahwa aku membutuhkannya untuk menghapus air mataku sendiri. Lalu tanyaku, “Benarkah itu, Bibi?” Aku tak punya kata-kata lain, kecuali itu.
Entah apa yang dipikirkannya, tetapi setelah aku bertanya seperti itu, tangisnya kembali meledak beberapa lama. Setelah reda, dia menarik tanganku dan membawaku ke ruangan lain. Di dalam ruangan itu dia berkata, “Temanilah saudaramu sebentar.” Lalu, dia keluar.
Kukitarkan pandangan. Tidak ada siapa pun, kecuali sosok yang terbaring di atas dipan dan ditutupi dengan kain kafan putih. Ada sebuah kursi di sebelah dipan. Aku menggesernya sedikit, lalu duduk di sana.
Aku duduk diam di sana hingga beberapa lama dan hanya memandangi jasad tertutup kafan, jasad orang yang tidak pernah aku kenal. Sampai akhirnya aku merasa penasaran untuk melihat seperti apa wajah orang itu. Kuangkat kafan yang menutupinya. Sekilas kulihat wajah pucat, usianya masih muda. Aku benar-benar merasa tidak mengenalnya. Kututupkan kembali kafan itu dan berguman, “Jadi, inikah temanku?”
Pikiranku gelisah, menerka-nerka apa yang akan terjadi terhadapku setelah pemakaman orang ini. Lalu, kucoba mengingat dan merenungkan rentetan kejadian yang menyeretku hingga di sini.
Semuanya bermula pada pagi tadi, terjadi begitu saja dan sangat cepat.
Aku terbangun dan mendapati hujan yang turun sejak tengah malam tadi masih juga bertahan. Hawa dingin yang dibawanya membuatku malas bangkit dari kasur. Kuraih ponsel di meja kecil yang berimpitan dengan tempat tidur ini. Pukul 6.41. Jika bukan karena hujan itu, sinar matahari sudah menyusup melalui celah jendela dan membuatku tak betah tiduran seperti ini. Kuletakkan kembali ponsel di meja kecil, lalu kutuntun telunjuk kanan ke sudut mata kananku, menggosok gumpalan kotoran di sudutnya. Itu pasti terkumpul saat aku tidur, dan membiarkannya tetap di sana adalah tidak pantas. Aku tidak terburu-buru bangun, dan karena itu aku mencongkelnya dengan santai. Tiba-tiba sisi pahaku merasa dingin. Mungkin karena angin dingin yang menyusup melalui celah-celah jendela. Dan tangan kiriku yang menganggur menjadi berguna dengan merapatkan selimut. Aku baru menyadari bahwa kemarin sebelum tidur aku melepas baju dan celana panjangku. Udara begitu panas kemarin. Kipas angin kecil yang kubawa tidak memberi pengaruh apa-apa sehingga tidak memberiku pilihan lain kecuali melepas pakaian luar. Aku cari-cari di mana baju dan celanaku dengan memanfaatkan mata kiriku yang menganggur. Kulihat mereka ada di sebelah meja kecil, teronggok dan tampak kusut.
Terdengar suara pintu diketuk.
Aku mengabaikannya karena kukira itu ketukan di pintu rumah sebelah. Itu wajar, karena pintunya bersebelahan. Dinding pembatas rumah yang kusewa untuk beberapa bulan ke depan ini memang serupa sekat antarkamar, satu dinding tembok dipakai untuk dua rumah. Rumah ini kecil: hanya memiliki satu kamar tidur, satu dapur kecil, dan satu kamar mandi sempit. Terletak di pinggiran kota, dekat dengan lingkungan kumuh. Aku sengaja menyewanya semata-mata agar dekat dengan masyarakat di lingkungan kumuh yang harus aku teliti sebagai prasyarat kelulusan kuliahku.
“Hei … temanmu sekarat, dan kau masih sempat tidur?” sebuah suara di sela-sela ketukan.
Aku mengernyit. Aku merasa tidak punya teman satu pun di sini. Aku di sini sendiri, tidak ada siapa pun yang aku kenal sebelumnya. Aku di sini baru tiga hari dan baru tiga orang yang aku kenal: Pak Rt, pemilik rumah ini, dan satu petugas hansip. Aku berpikir semua data diri sudah aku berikan kepada mereka secara lengkap dan uang sewa sudah aku lunasi di awal. Jadi, rasanya janggal jika di antara mereka bertiga datang sepagi ini menemuiku untuk urusan itu. Namun, ketukan itu memang untukku. Apakah kata-katanya hanya pancingan agar aku membuka pintu?
Aku berpikir, seseorang pasti telah salah mengetuk pintu. Jadi, aku tetap mengabaikannya dan melanjutkan membersihkan gumpalan di mataku. Namun, ketukan itu terus berlanjut. Ketukannya kini terdengar memaksa dan kasar. Siapa dia? Aku ingat tentang bagaimana kebiasaanku di rumah: setiap kali aku kembali setelah pergi, aku akan selalu mengetuk pintu dengan baik, dan menggunakan kunciku hanya ketika yakin tidak ada orang yang akan membukanya. Sekarang, ketukan itu menjelma gedoran. Orang di luar pasti melakukannya bukan dengan buku jari, tetapi dengan tinju tangannya atau kakinya. Gedoran itu terdengar semakin kasar dan keras. Aku ingin tetap mengabaikannya, tetapi aku berpikir, jika sampai pintu itu jebol maka aku yang harus bertanggung jawab karena memang begitu perjanjiannya dengan pemilik rumah. Sayang rasanya jika harus kugunakan uang untuk hal yang sebenarnya bisa kuhindari.
Aku segera bangkit, mengenakan celanaku dengan terburu-buru dan segera menuju pintu depan tanpa sempat mengenakan baju. Namun, sebelum aku mencapai pintu, terdengar benturan yang sangat keras. Pintu itu jebol, satu engselnya mencelat, dan terbanting sedemikian keras membentur dinding.
Aku terhenti, terkesima dengan pemandangan itu.
Kini tampak di depan pintu seorang pria besar berambut cepak dengan tubuh penuh otot besar menggelembung di sana-sini. “Kau ini keterlaluan. Temanmu sekarat dan kau malah santai-santai seperti ini?” Saat bicara, matanya melotot, kumis yang melintang membuatnya tampak makin garang.
Aku tidak paham apa yang dia katakan. Aku berpikir dia pasti salah orang. Kutenang-tenangkan diriku dan mencoba bicara. “Mungkin Anda datang ke alamat yang salah, Paman.”
“Temanmu yang sekarat kini membutuhkanmu dan kaupikir aku sedang buang-buang waktu dengan bermain-main alamat palsu?” Dia berkata keras, nyaris berteriak.
Tidak ada keraguan sedikit pun di wajahnya atau nada suaranya. Keyakinannya yang membara mampu membuatku ragu terhadap diriku sendiri. Jangan-jangan kemarin aku yang terlalu lelah sehingga salah masuk rumah. Aku melompat ke luar, memeriksa nomor rumah di atas bingkai pintu. Ini memang rumah yang kusewa. Tapi, aku tak mengenal lelaki besar dengan kumis melintang ini. Aku yakin dia salah alamat.
“Ini rumah yang kusewa tiga hari lalu. Paman mungkin salah orang.” Kataku dengan sikap sangat percaya diri.
Melihat sikap percaya diriku, dia tampak bingung. “Kamu Wage, bukan?”
“Ya. Memang. Tapi, aku tak pernah mengenal Paman.”
Mendengar jawabanku dia mendengus, amarahnya menyala. “Hei dengar! Temanmu sekarat!”
“Tapi, aku tidak punya teman di sini. Hanya Pak Rt, pemilik rumah ini, dan satu hansip yang aku kenal di sini.”
“Omong kosong, dasar pencundang kecil!” Dia memelototiku.
“Aku mahasiswa yang melakukan riset lingkungan di dekat sini,” kataku. “Paman bisa melihat bukti-buktinya. Jika Paman mencoba untuk melepaskan orang itu padaku, aku benar-benar menolak, karena aku memang tidak pernah memiliki seorang teman pun di sini. Namun …,” Aku melembutkan nada bicaraku. “Namun, Paman tidak perlu khawatir, Paman bisa menyumbangkannya ke salah satu tetangga di sini. Mereka pastinya punya banyak teman dan menurutku salah satu dari mereka tidak akan keberatan, dan bahkan mungkin Paman bisa mengajak yang lain.”
“Tapi dia temanmu, berhentilah menyangkal!” Dia perlahan mendekatiku. Matanya tampak menyala, mulutnya sedikit menganga seolah bersiap melahapku.
“Sebenarnya, siapa orang yang Paman bicarakan ini?”
Dia menyebutkan sebuah nama yang terasa asing ditelingaku.
“Aku tak kenal nama itu!” Aku berteriak.
“Dasar pecundang! Masih berani menyangkal?!” Dia mengulurkan tangan sebesar betisku dan mencoba meraih leherku.
Refleks aku mundur hingga sampai di sudut tempat tidur. Aku tahu aku akan kalah jika berkelahi dengan orang ini. Tapi, aku mencoba menggertak dengan putus asa, “Aku mahasiswa yang sedang meriset lingkungan di sini. Aku punya bukti-buktinya. Jika kamu masih memaksaku, aku terpaksa harus mengusirmu dari sini.”
Dia menanggapi dengan mengulurkan tangannya yang kuat dan menjambak rambutku hingga aku kesakitan. Aku beberapa kali mencoba memukulnya, tapi sepertinya tidak berpengaruh apa pun baginya. Dia terus menyeretku dari sudut kasur dan mencampakkanku ke lantai seperti sampah. “Jangan banyak tingkah! Pakai bajumu! Cepat!” bentaknya. “Atau aku harus menyeretmu seperti tadi, hah?!”
Aku sadar, tidak ada gunanya berdebat atau berkelahi dengan orang ini. Dia setidaknya tiga kali lebih kuat dariku. Jika aku nekat, dia bisa melemparku ke pembuangan sampah yang tak jauh dari sini dengan sedikit usaha seperti dia akan membuang sekarung sampah ke selokan. Lalu, kataku, “Jika kehadiranku menyenangkan hati orang yang sedang sekarat, aku akan pergi melakukannya.” Aku bangkit perlahan dan meraih baju di samping meja kecil.
Begitu melihatku selesai mengenakan baju, dia segera menarikku dan mendorongku keluar. Di luar, hujan semalam masih menyisakan gerimis. Aku ragu melangkah. Namun, dia terus mendorongku dari belakang, membiarkan gerimis membasahiku. Dia sendiri membawa payung. Ketika aku minta sedikit ruang di bawah payungnya, dia mencengkeram lenganku dan melemparkanku ke depan. Sungguh pagi yang buruk, berbasah-basah dalam gerimis hanya untuk mengunjungi teman yang tidak pernah aku kenal.
Begitulah yang terjadi padaku.
Aku masih duduk di sini, di kursi di samping jasad itu, hingga beberapa lama sambil memandangi jasad yang sudah aku lupa wajahnya meski baru saja aku lihat. Aku ke sini bukan atas kemauanku, tapi agar terbebas dari teman yang tak kukenal ini. Namun, kematiannya ternyata tidak membebaskanku, karena seorang janda renta telah menggantikannya, memasukkan dirinya di dalam tanggung jawabku. Aku bisa saja pergi diam-diam. Tapi, kemanusiaanku mencegah. Tak tega rasanya membiarkan janda renta dan miskin tanpa penjagaan dan perawatan. Memercayakannya kepada yang berwenang sama saja membiarkannya hidup terlunta-lunta. Biarlah nanti aku yang merawatnya, memberikan tanganku sebagai sapu tangan, dan membersihkan kubur anaknya. Setidaknya sampai dia tutup usia.
Sekarang, yang terpenting menurutku, aku harus menemukan tukang kayu untuk memperbaiki pintu yang telah ditendang oleh lelaki besar itu. Itu tanggung jawabku atas kesepakatanku dengan pemilik rumah sewaan itu, selain juga untuk keamanan barang-barangku.
Era Ari Astanto penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di komunitas Sastra Alit. Karya tunggal yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (Najah, 2013), The Artcult of Love (Locita, 2014), Novel Bertutur Sang Gatholoco (Basabasi, 2018), Novel Riwayat Bangsat (Basabasi, 2019). Karya antologi: Memoar Bermasjid (Diomedia, 2017), kumcer Masa Depan Negara Masa Depan (Surya Pustaka Ilmu, 2019), Memoar Ramadhan dan Merantau (Diomedia, 2019), kumcer Hanya Cinta yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya (Divapress, 2020). Cerpen-cerpennya juga tayang di beberapa media online. Buku terbarunya yang terbit: Novel dwilogi Nama yang Menggetarkan (Diomedia, 2020).
jadilah penerang di batas usia, luruh jadi suluh sederahana,
meski maktu memaksamu terus berpura-pura
maka sudahilah kemarau di kepala, kejahatan dunia maya,
lipatan dalam perkawanan masa, nyanyi bising di telinga,
keruh hati harta dunia, dan cintailah semua dengan
angan yang mengambang dalam perenungan
dari lautan taksa kita bermula
lalu hempas di ombak masa
tanpa sempat melepas kata-kata
lalu hilang dalam hitungan angka
Yogyakarta, 2023
Kasih Tak Santai
Dalam syair masa lalu
yang terkubur dalam madah sembilu
ayat peraduan telah mencipta
ritus khayali tentang requiem
yang dinyanyikan tanpa kata
Nada-nada dilantunkan
koda-koda didendangkan
doa nyaris hilang dari persembahan
cinta seakan menunggu ajal ditetapkan
Kuingat engkau, serupa kuingat syair
yang menyisakan titik nadir dalam
seonggok pasir, pongah, lalu mangkir
saat akan disisir, menyisakan tangis tanpa
mata berair, dan kenang yang terus
melekat hingga akhir
Di ujung hari
geram gusarmu mulai
keluar masuk kepala
tanpa kalimat sapa
Mencintaimu bukan soal
bagaimana cara bertahan
mencintaimu adalah seberapa
kuat merawat kehilangan
Yogyakarta, 2021-2023
Malam Tahun Baru
jika ada yang mencariku
aku tidak kemana-mana
aku di rumah
menumpahkan resah yang ruah
maaf.
sebab aku tak bisa menemanimu
merayakan pergantian tahun
ada yang lebih butuh ditemani
dalam riuh ramai kembang api
tubuh sunyi
diri sendiri
/2/
setelah sehari penuh
tubuh penuh peluh.
isi tenagamu dengan tidur
sebab nanti malam perayaan syukur
sorak ramai retak-retak
nyanyi sunyi larik sajak
terdengar sampai ruang-ruang
kamar belakang
seperti biasanya
aku setia mendengar letus kembang api
hanya dalam kamar
sunyi geletar
Yogyakarta, 2022-2023
Merakit Cuaca
langit kota masih basah
oleh hujan air mata
yang dirakit dari luka-luka
menganga dan terbuka
lebih dari seharusnya
ikatan adalah musim dendam
yang kupendam dalam sekam
Yogyakarta, 2022
Lintasan Manusia Indonesia
dari ingatan yang pecah berserak
kaususun getas dasar yang retak:
cermin negara
dengan kota dan kata
dengan revolusi yang ledak berkali-kali
serak suara menebal dalam sejarah:
hari kita berserah
biar kita sokong di atas meja
kemana tubuh bangsa menuju berada
menginci tanah, merawat air
membeli percaya:
sila yang lima
Yogyakarta, 2023
Pancaroba Pekerja
di kering keringat menjelang jam istirahat
geletar cecar mengerak di kerah-kerah biru
menebal di kubang lara
bersanding dengan jajaran
gagasan berbalas culas
setiap lintasan waktu adalah
musim gugur untuk tubuh-tubuh suluh
“larilah ke kamar gelap”
melipat waktu yang lengang
macam harap yang kami tanggung
pada utopia menggunung
Yogyakarta, 2023
Ode Amuk Malam
sebelum ksatria mengasah dendam
biarkanlah tuba memeram ode untuk amuk malam
sedang lengking nyanyimu sendu melulu
meniup gebalau ringkik parau
di televisi kata-kata berubah menjadi senjata
saling menerkam tanpa aba-aba
menyusun sajak-sajak tanpa peduli rima
dan kebenaran telah mati dalam hitungan lima
Yogyakarta, 2023
‘65 Setelah Jakarta
Kami dibariskan di tengah jalan
Lalu disuruh jongkok dengan popor di pelipis kanan
aroma anyir menguar dari darah yang memancar
dari dada yang terkoyak lebar
setiap pagi tubuh-tubuh kaku rubuh
mengalir sepanjang Sungai Brantas
tanpa identitas
Blitar, 2022
Fatamorgana
Kita membenci dosa khalayak
Tapi berbuat dosa
lebih banyak
Yogyakarta, 2022
Ahmad Radhitya Alam, lahir di Blitar dan sedang bergiat di Yogyakarta. Menulis puisi, fiksi, dan esai yang termuat di beberapa media. Bergiat di Bunker Collective Space dan Teater Terjal. Dapat dijumpai via Instagram: radhityaalam_
Malam telah sempurna jatuh. Kulihat kau masih setia dengan layar di depanmu. Beberapa teman sudah pulang sejak tadi. Gerimis mulai turun ketika aku beranjak ke pantry yang berseberangan dengan ruanganmu. Sengaja, tak kuseduhkan kopi untukmu karena pagi tadi kamu mengeluh jika perutmu mulas dan kepalamu agak pening. Tampaknya, dua serangan dalam tubuhmu itu berlanjut sampai malam ini. Ditambah, kau harus menyelesaikan banyak laporan seharian tadi.
Kantor kecil ini menjadi tempat persinggahan yang nyaman. Tentu, setelah semua penghuninya pulang. Kecuali satpam jaga yang bertugas di luar. Tapi, aku bisa katakan mereka bukan orang yang sulit. Dengan sebungkus rokok saja, semua aman. Gerimis awal Desember turun tak tentu waktu. Dari jendela di ruanganmu yang terbuka, aku melihat rambutmu teracak berantakan. Tapi, sungguh, itu justru membuatku semakin tak bisa berhenti menekuni wajahmu dari sini.
Seduhan teh pahit yang selesai kuracik, kubawa mendekat ke mejamu. Engkau mengembuskan napas panjang. Selalu begitu ketika kau selesai dengan pekerjaanmu. Aku mulai mencari kata-kata yang pas untuk menyibak kebisuan, untuk membuka malam. Kau mulai meminum teh buatanku. Kuseret kursi sejajar dengan kursimu.
“Maaf,” ucapmu pelan ketika lenganmu hampir saja menyenggol wajahku ketika kau menaruh gelas teh.
Aku tersenyum.
“Kenapa?” tanyamu kemudian.
Kusingkirkan lenganmu ketika hendak kaulingkarkan di pundakku, seperti yang selalu kaulakukan setiap kali kita menjebakkan diri pada suasana malam di kantor ini.
Dulu, kita selalu merasa malam habis begitu cepat. Angin yang kencang sekali pun tak pernah bisa mengusir keringat kita setelah lelah menyapu malam yang panas dan bergejolak. Kau akan selalu mengatakan kepada satpam jaga jika kau ketiduran di kantor karena kelelahan, meskipun nyata, ia sama sekali tak percaya dengan perkataanmu.
“Istriku ceroboh menuang minyak pagi tadi sehingga menciprat ke bajuku.” aku tak paham maksudmu pada awalnya. Namun, cepat-cepat kau melipat lengan bajumu. Sebercak noda minyak tergulung ke dalamnya.
Kaupindah ke sisiku yang lain. Sigap, tangan kirimu, kini telah mendarat di pundakku. Gegas, kuturunkan lenganmu yang entah kenapa, kali ini terasa begitu berat.
Tumpahan minyak di bajumu. Ah, aku sama sekali tak mencium bau noda jika kau tak bilang. Namun, ucapanmu membuatku mulai merasa ada yang menancap-nancap di ulu hatiku. Seperti biasa, ada sesuatu yang membuatku semakin jatuh dan merasa kecil: istrimu. Wanita yang mengingatkanku pada Ibu.
Dua minggu yang lalu, sengaja aku mampir ke rumahmu sebelum berangkat. Meskipun jam masuk kantor masih jauh, kau sudah tampak rapi dengan kemeja panjang bergaris dan sepatu tali yang kubelikan beberapa bulan yang lalu. Kau dan istrimu sedang sarapan di meja makan yang letaknya lurus dengan pintu depan. Aku lantas teringat bagaimana kaukatakan bahwa kemeja itu adalah hadiah dari atasan kita karena kinerja tim kita yang bagus. Istrimu percaya begitu saja. Ya, tentu saja, sebab ia tak hanya menyerahkan kepercayaan penuh padamu, namun juga menyerahkan seluruh hati dan hidupnya untukmu. Kau selalu mengatakan itu, meskipun membuat hatiku sedikit ngilu.
Senyum canggung yang melengkung di bibirmu, lekas terhapus oleh uluran tangan istrimu kepadaku. Kami bersalaman di depanmu. Aku mengatakan jika aku sengaja menjemputmu untuk bertemu kolega di arah yang berlawanan kantor demi menghemat waktu. Istrimu tersenyum. Murni senyuman seorang istri kepada rekan kerja suaminya. Aku bisa merasakan ketulusan di sana.
Namun, aku mendadak salah tingkah ketika tiba-tiba istrimu meraih tanganku, mengajakku ke meja makan.
“Mari, Bu, saya masak sayur asem banyak hari ini. Kebetulan, anak-anak berangkat pagi sekali dan nggak sempat sarapan.”
Aku tak mungkin menolak saat ia sudah menyeret sebuah kursi untukku.
Di meja makan itu, kau membisu. Tak pernah aku melihatmu sedemikian kaku di hadapanku. Istrimu lebih banyak bercerita ini-itu. Istrimu, yang senyumannya begitu teduh, mengambilkan sepiring nasi untukku, dua iris tempe, dan seiris ayam tepung.
Aku membisu di tempat dudukku serupa tawanan yang tak bisa melakukan apa pun selain menurut. Bahkan aku nyaris gemetar ketika tanganku meraih sendok. Denting antara piring dan sendokku terdengar melolong di pagi itu.
Suapan pertama sayur asem istrimu membawaku memasuki lorong-lorong masa kecilku. Ada senyum ibuku di sana. Ada tangan keriputnya yang beraroma bumbu dapur. Dulu, setiap Sabtu jika Bapak pulang mengajar, Ibu selalu memasak sayur asem dengan belimbing wuluh untuk kami. Bapak tak pernah mau jika belimbing wuluh itu diganti tomat atau asam jawa sekalipun.
Hidangan itu lekas kutandaskan, demi tak ingin melihatmu tercekik dalam kebersamaan yang ganjil.
***
“Kenapa?” tanyamu. Kini, kau telah sadar sepenuhnya bahwa tanganmu benar-benar kulepaskan.
“Cantikmu akan luntur jika murung begitu.” kau mulai merayu. Aku sama sekali tak bernafsu.
Pikiranku saat ini terisi penuh istrimu. Pertemuanku saat sarapan dua minggu yang lalu, membuatku harus berpikir dua kali untuk sekadar memelukmu sekalipun. Kebiasaan yang dulu selalu kulakukan sesaat setelah kantor sepi. Kelebat istrimu yang mengenakan daster di dapur ketika itu serupa magnet yang menarik sesuatu di sudut perasaanku. Apalagi ketika dengan senyum tulus, ia mengambilkan nasi untukku.
Mungkin kau tak bisa memahaminya. Namun, bahasa tubuh yang kuberikan setelah pertemuan itu, kukira lebih dari cukup dari sekadar kata-kata. Tetapi rupanya, kau terlalu buta untuk menerimanya.
Aku sempat melihat beberapa sudut rumahmu yang sederhana tetapi manis. Istrimu juga mengatakan ia menanam sendiri semua bunga di halaman belakang ketika kau mengambil tas ke kamar.
Buku-buku tertata di rak-rak kayu cokelat tua. Sebagian dilabeli nama istrimu. Ah, ya, kau pernah bilang jika istrimu gemar menulis. Sebuah foto terbingkai di atas rak buku itu, menampakkan senyum kalian yang teduh. Istrimu tengah hamil di foto itu. Rasa iri mulai menitik dalam hatiku. Hamil. Sesuatu yang tak bisa terjadi padaku, sampai kapan pun. Sebab sesuatu mengharuskanku merelakan rahimku.
Di saat itulah, tancapan di sudut perasaanku mulai ganas mengaduk-aduk. Aku berusaha merasa biasa saja. Menepisnya saat kita menghabiskan malam berdua di kantor. Tetapi, senyum istrimu hadir setiap kali aku hendak mendekatimu. Terasa semakin teduh manakala tanganku hendak melingkar di tubuhmu. Senyum istrimu itu membawa serta wajah ibuku.
Hingga malam ini datang, rupanya kau tak mampu mengartikan bahasa yang kusampaikan, sementara aku semakin tersiksa dan merasa bahwa kehadiranku dalam hidupmu benar-benar tak diperlukan.***
Latif Nur Janah, lahir 1990. Buku pertamanya, Suwung, adalah kumpulan cerita pendek berbahasa Jawa (Suryapustaka Ilmu, 2022). Menetap di Gemolong, Sragen, Jawa Tengah.