Katalog

Cerpen

Frans

Cerpen Erna Surya

Tikus-tikus kecil berlarian di atas kepala Frans. Mereka memakan rambut, lalu kulit kepala lelaki itu hingga lenyap seluruhnya.      Dua telinga Frans berpindah ke bawah ketiaknya, dan matanya kini ada di dada. Frans mulai ketakutan. Ia mendengar suara teriakan orang-orang. Frans tahu betul siapa mereka. Mata Frans menangkap sebuah bayangan.

It’s your turn,” bayangan itu bersuara.

Frans bangun dengan tubuh berkeringat.

***

Frans baru saja meniup lilin ulang tahunnya yang ke empat puluh bersama istri dan kedua putrinya ketika telepon berdering. Sebuah panggilan datang di waktu yang kurang tepat.  Frans sedikit menggerutu setelah mendengar suara dari seorang lelaki yang ia panggil ‘bos’ karena dua alasan: pertama,  ini adalah hari ulang tahunnya yang seharusnya ia habiskan untuk di rumah saja bersama keluarga tanpa harus diganggu dengan berbagai macam pekerjaan. Kedua,  ia sedang tidak siap untuk sebuah misi. Ini adalah hari istimewanya.

“Dia sudah membuat banyak perempuan kehilangan masa depannya,” ucap lelaki itu.  Frans diam sesaat,  kemudian mematikan telepon. Kepada istrinya,  Frans beralasan bahwa seorang pelanggan lama sedang mengalami masalah dengan mobil Chevrolet tuanya dan harus segera diperbaiki karena esok akan dibawa berkendara ke luar kota untuk sebuah urusan mendadak. Dan hanya dirinya yang bisa mengatasi masalah ini.

“Adakah urusan yang lebih penting daripada merayakan ulang tahunmu, Sayang?” tanya istrinya dengan suara lembut, berharap suaminya akan berubah pikiran untuk tetap tinggal di rumah dan menghabiskan waktu bersamanya.  Frans berjanji akan segera kembali setelah semua selesai,  dan ia tak akan melewatkan jam makan malam keluarganya. 
Frans segera memacu mobil ke bengkelnya yang berjarak dua puluh menit perjalanan dari rumahnya. 

Bengkel Frans berada di pinggiran kota, sebuah lokasi yang sangat strategis untuk sebuah usaha bengkel mobil di mana ia bisa mendapatkan harga sewa dengan sangat murah tetapi akses menuju kota pun sangat dekat.  Sedangkan untuk tempat tinggal,  Frans setuju untuk tinggal di sebuah desa kecil di mana istrinya punya lahan yang cukup untuk menanam bunga-bunga. Semenjak menikahi perempuan muda yang berjarak sepuluh tahun di bawahnya itu,  hidup Frans seketika berubah.  Ia tak lagi senang dengan berbagai macam pesta yang menyuguhkan alkohol dan perempuan bersama teman-temannya. Frans juga lebih senang menyisihkan hasil kerjanya untuk amal.  Semua itu karena istrinya senang berbagi dengan orang-orang miskin.  Frans menemukan kedamaian bersama perempuan itu.  Dan kebahagiaan semakin berlipat ketika putri pertamanya lahir dan disusul putri keduanya dua tahun kemudian.

Ketika memasuki bengkel,  Frans tak menemukan siapa pun.  Semua pegawai sudah pulang.  Bau oli menyengat.  Frans segera menuju sebuah ruangan di sudut,  sebuah ruangan yang biasanya ia pakai untuk bersantai di waktu istirahat siang.  Frans segera menggeser posisi meja dengan gerakan sangat cepat.  Lalu ia angkat tiga deret keramik sehingga menimbulkan lubang.  Di tempat itulah tersimpan rahasia Frans.
Frans mengangkat sebuah tas kecil keluar dan segera membukanya. Sudah ada catatan untuknya.

‘Bos’ yang beberapa saat menelepon tadi telah lebih dulu masuk dengan cara rahasia, meletakkan tas itu,  dan pergi lagi dengan cara ajaib tanpa seorang pun tahu.
Sudah ada sebuah catatan tentang siapa yang akan ia eksekusi malam ini,  seorang dokter bedah syaraf yang membuka praktek sampai pukul sepuluh malam setiap harinya.  Bahkan di hari Minggu pun,  ia tak libur.  Berdasarkan catatan itu, Frans tahu bahwa dokter itu memanfaatkan pasien-pasiennya yang masih muda dan cantik untuk pelampiasan nafsunya. Dan semua itu sudah berlangsung selama puluhan tahun.  Dokter itu tak menikah. Namun ia punya seorang putri yang kerap mengunjunginya di hari Minggu siang sekadar untuk mengantarkan makan siang. Tentu saja putrinya tak tertulis secara hukum negara.

Sedangkan tentang seseorang yang ia panggil ‘bos’ itu, Frans sendiri belum pernah bertemu dengannya. Entah dari mana,  lelaki itu tahu bahwa Frans pernah keluar masuk penjara sejak usianya remaja.  Banyak perkara.  Frans pernah memukul kepala tetangganya hingga gegar otak ketika mendapati lelaki itu di rumahnya dan ibunya berteriak-teriak minta tolong. Ibunya gagal diperkosa,  tapi Frans harus masuk penjara untuk beberapa saat.  Kasus lain masih ada.  Frans juga pernah mendapati dirinya tiba-tiba babak belur lantaran mencuri kalung emas di sebuah toko emas kecil di dekat pasar kota. Menjadi kurir narkoba pun pernah ia kerjakan.  Nasib baiknya,  ia belum pernah tertangkap.

‘Bos’ menggali segala informasi tentang Frans dan akhirnya merekrut lelaki itu menjadi timnya.  Frans awalnya menolak. Ia tak ingin kembali ke dalam penjara suatu saat nanti. Kedua putrinya yang menjadi alasan. Frans lebih menikmati kehidupan menjadi seorang montir yang membuka bengkel di pagi hari dan menutupnya di sore hari dengan penghasilan pas-pasan ketimbang berurusan dengan kriminal lagi. Itu sudah cukup asal ia punya banyak waktu untuk keluarganya. Namun semua pikiran itu seketika berubah ketika datang dua pilihan kepadanya: ikut bergabung atau istri dan kedua anaknya dibunuh. 

Frans resmi menjadi anggota tim eksekutor dengan bayaran sangat tinggi.  ‘Bos’ memiliki cukup banyak uang untuk melenyapkan orang-orang yang dianggapnya merusak tatanan dan nilai-nilai kemanusiaan tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Frans salah satu pembunuh bayaran yang paling ia senangi. Gerakan Frans cepat dan rapi.

Frans segera menuju ke sebuah alamat yang tertulis di sebuah kertas kecil.  Ia akan bersembunyi di sebuah tempat rahasia di rumah sang dokter,  muncul ketika dokter itu masuk,  membunuhnya,  menghilangkan jejak,  kemudian pulang.  Ia merencanakan semua itu dengan sangat saksama tanpa menghabiskan banyak waktu.  Sepanjang perjalanan, Frans bernyanyi-nyanyi kecil.  Ia ingat sebuah lagu anak-anak yang dinyanyikan ibunya waktu ia masih kanak-kanak.  Lagu itu pula yang ia nyanyikan untuk kedua putrinya setiap malam menjelang tidur. Frans sangat mencintai keduanya.

Tiba di rumah sang dokter, Frans tak menemukan siapa pun.  Frans semakin yakin bahwa misinya kali ini tak akan mendapatkan kesulitan yang berarti, juga akan memakan waktu singkat saja. Semua sudah ia pikirkan secara detail.  Dengan mengendap-endap,  Frans masuk ke rumah yang tak begitu besar itu.  Pertama, ia perhatian sudut-sudut  rumah tempat biasanya orang memasang CCTV.  Setelah merasa semua aman,  Frans memutuskan untuk bersembunyi di loteng.  Tak berapa lama, Frans mendengar suara mobil datang.  Ia bergerak pelan untuk mencari celah guna pengamatan. Dilihatnya seorang lelaki berjalan memasuki halaman,  teras,  lalu masuk ke rumah.  Frans segera menyiapkan senjatanya dan bersiap turun. Ia bergerak pelan sekali,  sampai tak menimbulkan suara.
Di ruang tengah, Frans bersembunyi di samping lemari besar. Ia melihat targetnya tengah menuang minuman ke dalam gelas.

Dooorrrrr….

Sebuah tembakan mengenai kepala Frans.  Seketika ia roboh. Frans masih bisa melihat darahnya sendiri mengalir dari kepala dan membuat lantai memerah. Tikus-tikus kecil datang lagi. Mereka muncul dari genangan darah lelaki sekarat itu. Frans merasakan kaki-kaki kecil mereka yang berjinjit menaiki hidung dan telinganya. Kini tikus itu tak hanya memakan kepala Frans, tapi semuanya. Suara-suara teriakan datang lagi. Satu per satu wajah-wajah itu muncul di kelopak matanya, dekat sekali. Frans tak sempat meminta ampun lantaran telah menghilangkann nyawa mereka.

Tiba-tiba ia mendengar suara ibunya bernyanyi lagu masa kecilnya. Kemudian suara itu berubah menjadi suara putrinya.

“Tikus kecilmu sudah kulenyapkan, ” suara lelaki itu masih samar terdengar di telinga Frans bersama lagu yang hampir selesai dan akhirnya semuanya benar-benar gelap.

“Terimakasih.  Dia paling membahayakan, ” suara ‘Bos’ di ujung sana.


Erna Surya, suka dengan cerita-cerita dan kata-kata. Seorang pengajar Bahasa Inggris di SMK. Berdomisili di Klaten.

Ragam

Khatam Buku dan Makanan Tak Habis

Lama, aku tidak membeli Kompas edisi Minggu. Pagi tapi terasa “siang”, aku begerak menuju perempatan jalan menuju arah Solo. Minggu, 19 November 2023, perutku sudah berisi nasi liwet saat sarapan bersama di Mushola Al Mubarokah. Sejam berlalu, aku mengikuti jalan-jalan warga kampung. Berjalan sekian menit, aku ikut makan bakso.

Yang terjadi: perutku sudah terisi dua kali. Yang belum: bacaan. Aku ingin “sarapan” koran dengan mengeluarkan duit tak sedikit. Sekarang, koran-koran mahal. Orang boleh memilih: semangkuk mi ayam atau Kompas. Pilihan lain: semangkuk nasi-soto atau Jawa Pos.

Hari itu aku berjanji tidak pelit. Aku harus beli koran. Bapak dan ibu pedagang menata koran-koran mau dibawa pulang. Pukul 8 pagi. Aku memilih koran, membaca beberapa koran. Mereka pernah bilang agar aku sering datang ke situ. Baca koran dan obrolan, tidak harus membeli koran.

Pagi rasa “siang” aku membeli dua Kompas: Sabtu dan Minggu. Masalah desa ada dalam edisi Sabtu. Cerita pendek, film, dan musik dalam edisi Minggu. Dua koran dalam tas bersamaku menuju rumah Sanie B Kuncoro di Fajar Indah.

Sepi. Sepeda motor diparkir, pintu dibuka sendiri. Sanie keluar menyambut dengan senyum. Aku salah waktu. Acara yang diselenggarakan Pawon dimulai pukul 09.30 WIB. Sejam aku datang lebih awal. Tertawa, tanda aku malu. Di situ, terlihat ada Artie. Dugaanku, kedatanganku mengganggu mereka yang sedang menikmati Minggu segera menjadi siang. Benar. Dua perempuan itu belum mandi dan berdandan.

Duduk di kursi: memandangi beragam tanaman diselingi membaca Kompas. Hari itu kenikmatan bersama kertas. Pengalaman yang berbeda ketimbang bergawai.

Aku mengajukan diri untuk mengurusi rumah. Sanie tidak membolehkan. Sanie mendorong kursi-kursi, membersihkan lantai, dan tikar-tikar digelar. Pengarang kondang tidak sedang bermain teater. Ia bertanggung jawab agar rumah tampak bersih dan rapi, yang nantinya menghormati kedatangan teman-teman. Aku membaca koran dan kadang-kadang melihat Sanie yang mengurusi rumah. Lelaki yang tidak punya malu.

Situasi agak berubah. Rampung mandi dan berdandan, Artie ikut duduk di teras. Kami bercakap macam-macam: dari bacaan anak sampai surat. Dua orang terlena nostalgia. Percakapan memang sastra tapi bergerak ke segala arah. Mengenang masa lalu isinya rindu-dendam. Di ujung percakapan pendek, aku usul agar diadakan seri belajar menulis surat mumpung orang-orang keranjingan bergawai.

Teman-teman mulai berdatangan. Perjumpaan dan salaman-salaman diimbuhi basa-basi. Suasana jadi meriah. Rumah itu kebersamaan. Kami duduk di tikar menghadapi sekardus Vit. Di piring dan kardus, mata melihat donat, sosis, serabi, kacang, dan lain-lain. Kami sedang berpesta makanan, sebelum omongan-omongan para pembaca buku.

Jumlah makanan dan buku yang dibicarakan tidak seimbang. Mata lebih mengarah ke makanan ketimbang buku. Namun, perjanjian hari Minggu itu buku. Aku harus menjaga kesadaran agar memikirkan buku, tidak gampang tergoda makanan. Mulutku tetap saja kedatangan serabi, sosis, gembukan, dan kacang. Teman-teman yang berada di situ memang bermufakat buku tapi sengaja berpesta makanan.

Ruangan yang terasa penuh atau sesak. Yudhi Herwibowo mulai memberi pengantar. Pertemuan yang telah direncanakan sejak lama. Terjadilah saat Minggu di rumah Sanie. Temu dan buku.

Buku-buku di atas tikar, di tangan, dan di pangkuan. Yang mengawali ulasan buku: Sanie B Kuncoro. Pengarang itu mengenakan pakaian kotak-kotak dengan warna lembut. Sosok yang anggun sedang menunjukkan novel berjudul Namaku Alam gubahan Leila S Chudori. Ia menerima novel dari pengarangnya. Keistimewaan yang sulit kami alami.

Novel mengandung sejarah, terutama 1965. Sanie mengisahkan isi buku secara runtut. Selingan adalah tafsir dan perbandingan dengan pengalaman. Aku sudah membaca Pulang dan Laut Bercerita. Namaku Alam, belum pernah ada di tanganku. Aku belum membeli atau meminjam untuk membacanya. Jadi, aku menikmati yang disampaikan Sanie. Beruntung kata-kata yang diucapkan tidak terbawa angin. Sanie duduk bersandar kursi sambil tangan menggerakkan kipas. Ia berkata dan mengundang angin agar terhindar dari sumuk.

Giliran berikutnya: Puitri. Ia dalam dandanan santun: muslimah. Sosok yang rajin ikut pengajian-pengajian. Aku menduga ia bakal membicarakan novel religius. Salah. Ia omong cukup tenang dan jelas. Novel berjudul Gemulung di tangan tidak bisa tenang. Jari-jari itu menggerakkan novel mengikuti gejolak kata dan imajinasi. Bagiku, omongan Putiri hari itu lancar, tidak seperti masa lalu. Apa ia sudah menjadi penceramah setelah bertahun-tahun ikut pengajian? Aku beharap ia memang penceramah tapi tak melulu masalah agama.

Novel yang ia baca ditulis oleh pengarang yang terbiasa menggarap cerita untuk film-televisi. Lumrah saja isi novel mendebarkan dan “mengejutkan”. Puitri bisa memberi penilaian mengenai penokohan dan latar. Aku kagum menyaksikan Puitri sebagai pembaca, bukan sekadar sebagai penggubah puisi atau cerita pendek.

Di sampingku, perempuan berpenampilan istimewa. Ia menjadi pengulas ketiga: Yessita. Sejak lama, aku melihat penampilannya mengesankan sadar mode dan bercitarasa muda. Sosok ibu yang suka bersepeda dan menulis cerita itu tampak mengenakan celana panjang dan baju dengan warna selaras. Kalung di leher. Jam tangan itu tetap mengabarkan waktu. Di kepala, topi terlihat dipasang dalam posisi terbalik.

Ia seru menceritakan arwah, sejarah, keluarga, kota, dan lain-lain. Pemicunya adalah novel berjudul Kereta Semar Lembu. Novel yang meraih penghargaan DKJ. Yessita membaca saat masa wabah. Ia sulit menganggap itu novel horor-mengerikan. Yang mengesankan adalah sejarah dan pengalaman kota-kota.

Aku yang di sampingnya merasakan takut. Novel isinya arwah dan kematian. Semestinya, Yessita menceritakan untuk edisi malem Jumat. Ketakutanku agak berkurang bila melihat es teh di depan Yessita. Teman-teman minum Vit tapi Yessita bergengsi: memamerkan es teh. Pemandangan yang menyegarkan.

Urutan selanjutnya: Yudi Agusta. Lelaki berkacamata yang akhir-akhir ini sakit-sakitan. Inginku ia waras-waras saja agar rajin menulis novel dan cerita pendek. Di tangannya, novel bercap DKJ. Setahuku, pengarang novel itu pernah terlibat dalam perdebatan ramai di media sosial, perdebatan tentang tulisan. Yudi tidak menyinggungnya tapi menyampaikan hasil percakapan dengan pengarang mengenai “pinjam-buku” atau “beli-buku”. 

Cerita yang masih penuh kesedihan. Cerita bergerak dari Aceh, Medan, dan Jakarta. Aku merasa “sedih” menikmati sinopsis. Mataku memilih untuk melihat pengulas yang mengenakan kaus warna hitam. Aku membaca kata-kata di kaus sisi depan. Kalimat dikutip dari Rumi: “Wahai Tuhanku, jika kasih-Mu hanya layak bagi yang berhati suci, ke manakah para pendosa mencari perlindungan?” Aku menganggap kutipan sesuai sinopsis novel yang disampaikan Yudi.

Di samping Yudi, ada Ngadiyo. Gilirannya berbagi kesan setelah membaca buku berjudul Mimi Lemon. Buku yang dibeli gara-gara desain atau kemasan apik. Isinya pun apik. Ngadiyo mendapat kesan-kesan bahwa pengarangnya matang dalam menghasilkan cerita-cerita.

Aku belum pernah memegang atau membaca Mimi Lemon. Dulu, yang aku baca berulang kali adalah buku puisi CH. Setahuku, ia adalah penggubah puisi yang perhatiannya tentang anak atau keluarga. Ia ternyata menulis sekian cerita pendek. Pada suatu hari di Jogjakarta, aku pernah bertemu dan bercakap sebentar dengan CH. Yang kami obrolkan adalah sastra dan anak.

Yudhi sebagai pemandu acara akhirnya menjadi pihak yang membicarakan buku. Pilihannya novel berjudul Malam Seribu Jahanam gubahan IP. Yang pernah terbaca olehku Sihir Perempuan. Beberapa tahun lalu, aku membeli Gentayangan tapi belum berhasil khatam. Yudhi mengajak teman-teman masuk ke novel terbaru IP. Bagiku, pengulas terhebat hari itu Yudhi Herwibowo. Ia bermain sinopsis dan penilaian-penilaian.

Omongan bisa disalin menjadi tulisan. Aku tidak tahu, sadarkah Yudhi saat omong menggebu-gebu sebenarnya sedang “menulis” resensi untuk novel. Aku tertarik ingin membacanya. Berharap saja suatu hari menemukan edisi bekas di pasar buku Gladag atau media sosial. Yudhi berhasil membuatku memberi perhatian lebih untuk memuji novel Indonesia.

Jatah terakhir: Indah Darmastuti. Ia duduk di bawah televisi dan kipas angin yang agak berisik. Namun, tangan Indah tetap menggerakkan kipas, yang aku duga diperoleh dari kedatangannya ke hajatan pernikahan. Ia dalam penampilan anggun. Rambut yang rapi itu tampak elok saat terkena angin yang lembut.

Di tangannya, aku melihat novel Jatisaba. Aku membaca edisi awalnya, sebelum hadir di pasar oleh penerbit Grasindo. Dulu, aku sempat  menyinggung novel itu saat acara di Salatiga. Acara diadakan para mahasiswa Semarang. Yang menjadi pembicara: aku dan pengarang Jatisaba. Dulu, kami bercakap biasa. Pada suatu masa, aku tidak menduga si pengarang kuliah di negara jauh dan pemikiran-pemikirannya bergerak jauh. Aku pasti mengaguminya.

Indah tak mau kalah dari Yudhi. Ia serius membicarakan novel. Yang tidak terlupa: omongannya menghasilkan tawa. Teman-teman terhibur oleh masalah keamburadulan demokrasi di desa. Novel terbit beberapa tahun lalu tapi dianggap Indah cocok dibicarakan menjelang 2024. Novel yang patut masuk daftar 100 “terpenting” dalam sastra Indonesia abad XXI.

Tujuh buku dibahas tujuh pembaca itu berakhir. Aneh, semuanya berakhir tanpa diikuti habisnya makanan-makanan di piring dan kardus. Padahal, ada 19 orang di ruangan, termasuk lelaki asal Australia. Teman-teman terlena cerita-cerita. Akibatnya, mereka lupa makan atau berkurang gairahnya untuk makan. Teman-teman sungguh kaum beriman sastra ketimbang kaum beriman makanan. [] Kabut

Ragam

Jawa, Omongan, Keringat

Dini hari tanpa kopi. Hari telah Jumat, 10 November 2023. Mataku menatap lagi tumpukan buku yang bertema Jawa. Buku-buku yang semalam bersamaku, sebelum mata terpejam. Mereka dalam hening, sebelum tanganku menyentuh dan membukanya pelan-pelan. Yang membaca (lagi) tak minum kopi.

Kompor menganggur tanpa panci dan air. Aku gagal membuat kopi. Di lemari, tak menemukan bungkus kopi. Habis. Lupa membeli untuk kebahagiaan dini hari. Segelas air bening dianggap cukup untuk menuju “mata air” Jawa dalam buku-buku.

Pagi itu aku meninggalkan rumah, setelah berhasil membuat pameran jemuran pakaian. Mampir ke rumah tetangga: setor 12 ribu untuk bensin. Tujuanku adalah UNS. Di sana, ada Javanologi. Aku bersama sekardus buku, kresek berisi buku, dan tas besar berisi buku bergerak menuju UNS saat matahari memberi berlimpah sinar dan sumuk.

Di pendopo Javanologi, beberapa orang dalam penampilkan rapi. Meja bundar dan kursi-kursi. Aku bersalaman dengan orang-orang yang aku kenali. Mereka dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Pukul 8 pagi tapi masih sepi. Beberapa orang terus melanjutkan persiapan acara. Berdiri di dekat tiang, aku memandangi pendopo dengan suasana tak Jawa. Segala benda yang berada di pendopo sulit mengisahkan Jawa. Mataku mungkin salah. Pikiranku tentu sedang tak keruan. Pagi itu aku tetap belum minum kopi tapi malah terlibat percakapan-percakapan dengan beberapa orang.

Urusanku adalah menata buku-buku di atas meja. Kedatanganku mula-mula sebagai pedagang buku bekas. Puluhan buku ditaruh di meja. Aku mulai bercakap dengan dua orang mengenai buku, bahasa, sastra, tokoh, sejarah, dan lain-lain. Menit-menit berlalu, tetap belum berhasil minum kopi.

Aku diminta panitia berkumpul di ruangan bersama para pembicara dan moderator. Dugaanku diajak sarapan. Di ruangan kecil, kami disuguhi kardus-kardus. Isi: arem-arem dan botol. Mulutku seperti tak membolehkan arem-arem diam dalam waktu lama. Habislah arem-arem dalam hitungan detik. Minum air bening lagi. Ruangan tanpa kopi.

Dampak mulai terasakan. Omonganku sembarangan di hadapan profesor (Jogjakarta) dan pimpinan lembaga (Semarang). Kami lekas memasuki obrolan mengenai arem-arem, khotbah Jumat, humor, lingusitik, dan lain-lain. Ruangan itu tak cukup menampung ocehan dan tawa. Di hitungan menit, kami segera keluar untuk mulai acara dinamakan seminar.

Akhirnya, aku melihat termos di pendopo. Benarlah termos itu bertuliskan kopi. Gelas lekas terisi kopi. Duduk minum kopi. Acara seminar pun dimulai dengan urutan-urutan lazim. Para peserta sudah tampak duduk tenang dan memberi perhatian. Aku tetap memperhatikan kopi sambil memandangi buku pemberian panitia. Di sampul buku, aku membaca nama: Indah Darmastuti. Buku berjudul Tani Cilik, terbitan pemerintah. Akibatnya, buku tidak diperdagangkan. Buktinya di bagian atas: “Milik Negara”. Segelas kopi dan buku mengenai petani.

Duduk bersama peserta. Posisi kursiku tidak memungkinkan mataku melihat dua profesor dan moderator secara lurus. Meja bundar membuatku salah tingkah. Jadi, posisiku “menyamping”. Kepala harus menengok jika ingin berhadapan dua profesor (Solo dan Jogjakarta), yang bergantian menjelaskan naskah-naskah Jawa.

Hari menjelang siang, aku salah kursi dan bingung memperlakukan meja bundar. Panas mulai terasa. Aku mulai pindah ke belakang. Keputusanku adalah duduk dengan meja yang berisi daganganku. Aku sengaja membawa buku-buku mengenai Jawa. Beberapa buku adalah serat dan babad.

Di situ, aku bercakap dengan lelaki gemuk. Percakapan meninggalkan tema seminar. Yang kami obrolkan adalah sastra dalam jalinan Indonesia dan Amerika. Yang terpenting mengenai penerjemahan. Aku omong sembarangan berbekal bacaan-bacaanku. Hari itu bertambah sumuk gara-gara sering omong dan tertawa. Aku diambilkan segelas kopi. Minum lagi dan memandangi dua profesor memberi jawaban-jawaban tetap berpusat Jawa.

Jeda. Kami bergerak ke masjid di UNS untuk melaksanakan sholat Jumat. Duduk di lantai tanpa dilapisi tikar atau karpet, aku tidur. Mata terpejam saat khotbah. Seingatku, khotbah bukan mengenai Jawa. Masjid yang besar membuatku menjadi lelaki dalam kerumunan orang, lelaki yang sulit membuka mata dan mendengarkan khotbah secara serius. Kalah dengan tidur.

Kembali ke pendopo. Aku mengambil kardus. Konon, kardus itu mengesahkan makan siang. Aku membuka tergesa tapi meragu. Di meja bundar bersama teman-teman, aku memilih omong ketimbang serius dengan makan. Di kardus, ada nasi, sambal, telur, daging ayam, dan lain-lain. Aku sulit menikmatinya. Inginku malah nasi bungkus saja, bukan nasi dalam kardus. Hari itu aku menantikan pidato William Wongso di TIM, Jakarta. Ia bakal mengisahkan dan menjelaskan nasi bungkus. Pada saat makan kehilangan selera, aku mengajak teman-teman dalam obrolan mengenai Jawa. Obrolan singkat saja. Makananku tidak habis. Siang yang membuatku bertambah salah.

Duduk di depan, menghadapi para peserta. Di atas meja, aku menumpuk puluhan buku. Aku bersama moderator dan pembicara berambut gondrong bernama Rendra. Aku dan Rendra tidak bergelar profesor. Jadi, kami boleh omong tidak mutu.

Aku berdiri memegang mikrofon. Siang yang sumuk tapi aku memilih berdiri dan bergerak ketimbang duduk. Omonganku dilengkapi dengan tangan bergantian memegang buku agar tampak oleh para peserta. Petikan novel menjadi pembuka. Novel sudah aku baca tiga kali, terkutip dalam esai-esaiku. Novel itu mengenai Jawa dan Eropa. Aku pilih menjadi pembuka untuk mengetahui nasib naskah-naskah Jawa dalam pamrih kolonialisme dan “pembentukan” Jawa abad XIX dan XX.

Omonganku terus berantakan untuk membuka Jawa silam. Yang aku tampilkan adalah perempuan suka duduk lesehan. Perempuan berasal dari Amerika Serikat betah berada di Radya Pustaka, Kasunanan Surakarta, dan Mangkunegaran. Bertahun-tahun, ia mengurusi naskah-naskah. Risikonya, ia mudah bersin dan batuk. Paru-paru pun kotor. Namun, ia menghasilkan tulisan-tulisan ampuh.

Aku pun memamerkan katalog dan buku-buku berasal dari studi naskah. Buku-buku terbitan pemerintah yang diedarkan ke perpustakaan-perpustakaan. Selama puluhan tahun, buku-buku berasal dari kajian naskah-naskah itu diam dan sepi tanpa peminjam atau pembaca. Aku memperolehnya dari pasar buku bekas. Wajarlah bila naskah-naskah Jawa terbukti tak diminati orang-orang. Urusan yang rumit dan penuh teka teki. Aku menutup ocehan tak bermutu dengan mengutip dari novel gubahan pengarang Jepang. Novel mengenai toko buku bekas dan keimanan pembaca buku.

Di depan, aku merasa sumuk. Tisu-tisu aku gunakan untuk mengelap keringat. Seminar di pendopo tapi sumuk. Siang yang garang. Semula, aku senang mengetahui seminar diselenggarakan di pendopo terbuka, bukan di ruangan tertutup dengan pancaran lampu dan mesin pendingin udara. Sumuk justru diperoleh dan pemandangan yang tak akrab dengan kejawaan. Moderator di samping malam sempat berbisik: mengantuk. Dugaanku, ia mengantuk gara-gara ocehan dan bau keringatku.

Rendra berdiri sambil menunjuk layar. Omongan yang seru. Ia berbagi pengalaman naik gunung. Keputusan ratusan kali naik gunung bermisi bertemu naskah-naskah Jawa. Rendra mengetahui bahwa naskah-naskah Jawa tak selalu berada di museum atau keraton. Pencarian dan penemuan naskah-naskah di gunung-gunung itu ketakjuban.

Aku menikmati omongan yang menggairahkan. Raga, pikiran, dan imajinasi Rendra selalu bergerak tanpa lelah. Di ketinggian, ia berurusan naskah-naskah Jawa dari masa silam. Ia mengerti beragam hal. Aku menunduk malu. Seumur hidupku belum pernah naik gunung.

Siang itu ramai omongan. Para peserta bisa tertawa dan tepuk tangan. Mereka terhindar dari godaan tidur, melamun, dan bisik-bisik. Rendra tampil memberi “matahari” yang terang bagi orang-orang memasuki naskah-naskah Jawa.

Siang itu aku tidak minum kopi. Aku menghabiskan dua botol berisi air mineral. Siang perlahan menjadi sore. Di kejauhan, terdengar azan. Seminar segera diakhiri saat kaos basah dan wajah berkeringat.

Sore itu pulang. Hasrat terbesarku: mampir ke warung mi ayam. Aku ingin makan yang panas dan pedas. Di Colomadu, sepeda motor diparkir di pinggir jalan dan tubuhku diparkir di depan meja. Semangkuk mi ayam membuat keringat mengalir deras. Warung tanpa kipas angin. Segelas es jeruk lekas habis. Dua bungkus rambak mengurangi mulut yang kepedasan. Sore itu mi ayam, bukan masalah-masalah Jawa yang adiluhung atau picisan.[] Kabut

Cerpen

Kematian Tak Sempurna

Cerpen M Arif Budiman

Pada mulanya Pras belum menyadari bahwa ia telah berada di alam keabadian. Ia baru benar-benar memahami setelah sebuah ambulans datang. Empat petugas medis berpakaian hazmat turun dari ambulans, memasukkan tubuh Pras ke dalam kantung mayat, lantas membawanya pergi. Ambulans pun meraung-raung membelah jalanan kota.

Aneh, begitulah yang ada dalam pikiran Pras ketika menatap orang-orang berpakaian layaknya astronaut itu di dalam ambulans. Mereka memperlakukan tubuhnya selayaknya orang-orang yang terkena wabah menular. Padahal masih ingat betul bahwa ia hanyalah seorang pengidap penyakit narkolepsi akut. Bahkan ia masih ingat kapan terakhir kali berkomunikasi secara sadar dengan Maya dan dokter saraf, sebelum dokter saraf menyuntikkan obat bius ke dalam tubuhnya.

Sesampainya di rumah sakit, petugas medis segera membawa tubuh Pras ke kamar mayat. Setelah mendapat arahan dari penjaga kamar mayat, tubuh Pras langsung dimasukkan ke dalam salah satu lemari pendingin. Pras hanya terdiam ketika melihat tubuhnya perlahan membeku. Kini ia sepenuhnya menyadari bahwa tak mungkin kembali ke dalam tubuhnya. Ia telah sepenuhnya menjadi arwah. Arwah tanpa wadah.       

Pras benar-benar terpukul dengan nasibnya. Ia tak pernah menyangka bahwa akan mati dengan cara yang sedikit aneh dan kurang masuk akal. Padahal semasa hidup ia merasa tak pernah merugikan orang lain. Adapun permasalahannya dengan Maya hanyalah persoalan biasa. Pertengkaran-pertengkaran kecil, silang pendapat, beradu argumen yang tak lain merupakan bumbu-bumbu dalam rumah tangga.

Ketidaktahuan Pras akan penyebab kematiannya mendorongnya untuk terus mencari tahu. Ia terus mencoba berkomunikasi dengan orang-orang yang ditemuinya, termasuk Sarkum, si penjaga kamar mayat.

Pada mulanya Sarkum tak merespon setiap perkataan Pras. Butuh berjam-jam hingga Sarkum menyadari akan kehadirannya setelah Pras menjatuhkan sebuah gunting bedah ke lantai.

“Selamat datang,” ujar Sarkum, santai. Seolah apa yang Pras lakukan tak membuat Sarkum tersita perhatiannya. Ia tetap bergeming menonton acara televisi kesukaannya.

Melihat respon Sarkum, Pras tak lantas putus asa. Ia mencoba mencuri perhatian lelaki paruh baya itu dengan menggeser sebuah kursi.

“Kamu pikir aku takut? Kalau mau ikut nonton, nonton saja. Tak perlu berisik,” ujar Sarkum, acuh.

Pras merasa dirinya tak dihargai oleh Sarkum. Ia pun mencoba menjatuhkan benda lain yang menurutnya akan menyita perhatian si penjaga kamar mayat.

“Sontoloyo!” dengus Sarkum, beranjak dari tempat duduknya sembari berkacak pinggang setelah melihat gelas kopinya jatuh berderai. “Dari sekian banyak tamu yang mampir ke kamar ini, kamu yang paling kurang ajar! Kamu pasti Pras kan? Aku tahu itu sebab hanya kamu tamuku malam ini.”

Melihat tingkah Sarkum, Pras pun tersenyum. Meski demikian ia sangat beruntung karena apa yang dilakukannya mendapat respon.

“Kamu boleh bahagia malam ini dengan mengacak-acak ruanganku. Tapi besok pagi, setelah kamu kumandikan dan kumasukkan ke dalam peti mati, kamu tak akan berbuat banyak. Dengan catatan itu semua atas perintah Dokter S. Namun jika ia menghendaki kamu dibuang begitu saja seperti tempo hari, apa boleh buat. Kamu tak perlu protes!”

Pras terdiam mendengar perkataan Sarkum. Ia bertanya-tanya siapakah sebenarnya Dokter S yang disebut-sebut Sarkum. Apa hubungannya dengan kematiannya. Apakah Dokter S merupakan nama lain dari Dokter Saraf?    

Pras pun kembali memutar otak bagaimana caranya agar ia dapat berkomunikasi langsung dengan Sarkum layaknya manusia pada umumnya. Namun sepertinya Tuhan tak merestui usaha Pras untuk berkomunikasi secara langsung dengan Sarkum. Ia hanya bisa menyentuh benda-benda di sekitarnya.

***

Hari menjelang siang ketika Sarkum dan Markum, seorang penjaga kamar mayat lainnya mengeluarkan tubuh Pras dari dalam lemari pendingin. Tubuh Pras benar-benar telah membeku. Uap es perlahan menguar dari tubuhnya. Dengan penuh kesabaran, Sarkum membawa tubuh Pras menuju meja pemandian.

“Untung badanmu ringan. Jadi aku tak perlu repot-repot minta bantuan banyak orang.”

Sesampainya di meja pemandian, Sarkum dengan penuh kehati-hatian memindahkan tubuh Pras.

“Asal kamu tahu. Meski tamu-tamu yang aku hadapi sudah tak bernyawa lagi, tapi pantang bagiku untuk berlaku kasar. Aku tahu, sebelum para jasad dikuburkan, maka pemiliknya masih menunggui. Termasuk kamu.”

Setelah tubuh Pras berada di meja pemandian, Sarkum dan Markum mulai memandikan tubuh Pras. Dengan perlahan ia menyirami tubuh Pras, lalu mengeramasi rambut Pras dengan sampo juga menyabuni seluruh tubuhnya.

Melihat perlakuan Sarkum, Pras merasa sungkan. Seumur-umur, setelah dewasa, baru kali ini ada yang memandikannya.

“Kamu cukup beruntung karena Dokter S tak jadi membuangmu lagi. Kamu tahu kenapa?”

Pras yang semula berdiri dikejauhan, segera mendekati Sarkum.

“Itu semua karena permintaan istrimu. Aku dengar istrimu yang meminta agar kamu disuntik mati. Kamu tahu kenapa? Sebab kamu tukang selingkuh.”

Mendengar perkataan Sarkum, Pras pun terkesiap. Meski ia kerap berlaku kasar pada Maya, tapi Maya tak mungkin berlaku sekejam itu.

“Ah, tapi itu tadi kabar burung. Kamu boleh percaya, boleh tidak. Mmm… Tapi tunggu dulu.” Tiba-tiba Sarkum memegang-megang kemaluan Pras. “Astaga… Bagaimana mana mungkin istrimu setega itu? Lihat saja, rudalmu ini tak ada tanda-tanda bahwa kamu tukang selingkuh. Ukurannya saja tak lebih besar dari jempolku!”

Seketika Sarkum dan Markum terkekeh. Sementara mendengar ejekan Sarkum, Pras pun tersinggung. Lalu menghempaskan gayung ke lantai.

“Wah, maaf. Aku tak bermaksud mengejekmu. Percayalah, aku hanya bercanda. Tapi untuk perihal kematianmu, kamu boleh cari sendiri penyebabnya. Kamu bisa temui Dokter S, atau bahkan istrimu sendiri.”

***

Setelah dimandikan, Sarkum pun mendandani Pras sesuai permintaan Dokter S dan tentu saja Dokter S sesuai permintaan Maya.

“Sesuai permintaan Dokter S. Kau tak perlu kupanggilkan tukang rias. Cukup aku saja. Aku juga cukup lihai mendandanimu. Lagipula, kau tak perlu memakai gincu, bukan?”

Pras cukup gusar mendengar pernyataan Markum. Kali ini Pras tak menjatuhkan apapun untuk membuktikan ketidaksukaanya.

“Ssstt… kau tak perlu berlebihan, Pras. Biasa sajalah. Toh aku hanya bercanda,” tukas Markum. Lalu melanjutkan mendandani Pras.

“Wah, kamu gagah juga ternyata setelah memakai setelan jas. Aku dengar jas ini merupakan jas pernikahanmu dulu ya?”

Dasar tukang gosip! Dengus Pras melihat tingkah polah Sarkum.

“O iya, aku dengar istrimu tak menghendaki kamu dibungkus dengan kain mori. Ia takut kamu akan berubah jadi setan lemper atau arem-arem. Ia juga tak menghendaki kamu di kremasi. Selain baumu nanti seperti satai bakar, ia juga takut abu dari sisa-sisa tubuhmu akan tercecer kemana-mana dan bikin batuk orang lain. Makanya, ia lebih memilih kamu didandani seperti ini. Selain lebih manusiawi, kamu biar terlihat ganteng di hadapan Tuhan. Tapi itu kata istrimu, bukan kataku.”

Dasar tukang gosip! Dengus Pras lagi.

“Nah, sekarang kamu sudah rapi, sudah wangi. Tinggal dimasukkan ke dalam peti. Tapi sepertinya aku tak bisa sendiri. Aku mesti cari bantuan orang lain. Tunggu sebentar, aku panggilakan Markum dan sopir ambulan.”  

Sarkum meninggalkan tubuh Pras di meja pembaringan.  Sebentar kemudian ia Kembali lagi bersama Markum dan seorang sopir ambulan. Mereka pun segera memasukkan Pras ke dalam peti mati.

“Nah, purna sudah tugasku sekarang. Kau terlihat gagah di dalam sini. Berbaringlah dengan tenang. Sebentar lagi seseorang akan menjemputmu.”

***

Matahari baru sepenggalah ketika ambulans memasuki kawasan pemakaman elit Budi Pekerti. Enam pria berbadan tegap bergegas menghampiri ambulan untuk menurunkan peti mati.

“Hati-hati. Tak perlu terburu-buru,” ujar pria berkaca mata gelap. “Pastikan bagian kepala di depan,” tegasnya.

Keenam pria berbadan tegap meletakkan peti mati di atas stan penyangga di samping liang lahat.

“Kalian boleh menyingkir.”

Enam pria berbadan tegap mengangguk.

Tak lama berselang, sebuah BMW berwarna hitam datang. Pras yang sedari tadi terus memandang peti jenazahnya, kini mengalihkan pandangannya ke sepasang pria dan wanita yang baru saja datang.

“Mari kita berdoa bersama. Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa Tuan Pras,” ajak pria berkacamata gelap.

Setelah doa bersama selesai, enam pria berbadan tegap menurunkan peti mati ke liang lahat dan menimbunnya dengan tanah. Sementara Pras tampak terpaku menatap satu-satunya wanita yang ada dipemakamannya. Ia tak menyangka bahwa kematiannya tak sepenuhnya sempurna, sebab Maya bersama dokter saraf menghadiri pemakamannya.

Ngablak, Juli 2023


M Arif Budiman, lahir di Pemalang, Jawa Tengah. Karyanya dimuat di beberapa media massa dan daring. Sekarang menetap di Kudus.

Puisi

Puisi Ludira Lazuardi

RHAPSODY OF LONGING

Kekasih,

tak pernah alpa dalam kepala

kala debar pertama

melebur bersama debur-debur

ombak di karang dan pantai

dan rayleigh biru menghambur memburai

angkasa berwarna jingga

seketika rindu tak terhingga

Lalu setelah itu

tiap kedatanganmu

adalah tantangan bagi nyaliku

mampukah aku nyalakan

rasa di kedalaman relungmu yang misteri

mimpikan cinta mengaliri vena-arteri

karena kau begitu indah

sebab kau begitu rapuh

Bila tiba waktu untuk berpisah

aku ingin berkesah

namun tak ingin buatmu resah

sungguh, pergimu

adalah perigi setiap sunyi

terasingku di sunyaruri

sepi bersepai-sepai

di antara dersik angin sepoi-sepoi

Kekasih,

seumpama kaudedah dada

geledahlah dengan seksama

kau akan menemu gundah gelebah tiada sudah

berkelindan pada asa

pada rasa

pada karsa

Kekasih,

bilamana aku bangun setiap pagi

itu untuk mencintamu sekali lagi

Jogja, 2023


REPENTANCE

Aku telah sampai di sini

di mana apa yang layak kuingat hanya sebatas senyummu yang terkembang

membawamu berlayar jauh dariku.

Tiap pagi aku bangun untuk memungut hari-hari kemarin

yang tercecer ketika kita melewati jalanan dengan riang pun amarah

lalu pulang dengan sebuket kenangan dalam genggaman

 hadiah dari semesta untukku merayakan malam dalam diam

(Empedu malam pecah, kuarkan pahit di ujung-ujung lidah)

Bunyi-bunyi sunyi mulai berani keluar dari tempat sembunyi

Ah, berisik sekali keheningan ini

Dulu bersama kita pernah mengunjungi dunia mimpi-mimpi

sengaja lupa cara bangun

menutup mata pada realita

Dulu bersama kita pernah berdiri di puncak dunia

dengan angkuh hendak melampaui yang namanya selamanya

Ketika kita tak lagi saling paham

tersesatku dalam angan sangat dalam,

ingin yang dingin aku menggigil di ujung asa

Ketika kita saling mendiamkan

diam-diam memendam dendam

Kekosongan berdesak-desak memenuhi jemala

Sungguh sesak, aku nyaris meledak

Adakah punggungmu masih menanggung

reruntuhan tahun-tahun yang kita bangun dengan tangan kita?

Karena di tiap tapak langkah kakimu menjejak jarak

 menjelma jenggala kelam

kediaman bagi sesal yang terkutuk

Aku lelah sampai di sini

di mana aku telah berhenti menghitung usia

hanya demi mendapati waktu tersia-sia

dalam penantian yang tak kenal kata usai

Katanya, kita tidak akan ada tanpa waktu

sementara definisinya masih saja menyusahkanku.

Jogja, 2023


DALAM

dalam matamu

badai abadi

dalam hatimu

luka tiada terperi

dalam ingatmu

aku mati

dalam hidupmu

aku tak lagi berarti

dalam kamusmu

tak ada kata

kembali

dalam sesalku

kamu

Jogja, 2023


LUAR ANGKASA

hampa udara

diam

melayang dalam arus abadi yang diam

sedetik adalah selamanya

selamanya yang tak berarti apa-apa

Jogja, 2023


HINGGA PENANTIAN USAI

Hingga penantian usai

Yang aku sendiri tak tahu kapan akan terjadi

Barangkali nanti kala kita telah berhenti menghitung usia

Dan mendapati waktu tersia-sia

Kau tahu aku masih akan di sini

Hingga penantian usai

Dan musim-musim kesedihan berhasil dilerai

Ketika benih-benih rindu yang ditabur

Berbuah manis nan menggiur

Kubayangkan kamu dalam dekap

Mengisi setiap gelap dengan harap

Hingga penantian usai

Dan kelopak bunga jiwa terakhir jatuh

Kau masih akan menemukanku di situ

Berlutut di sebuah batu berlumut menunggu

Hingga penantian usai

Di mana aku tak lagi mengumpat jarak yang tak sudi dilipat

Ataupun mengutuk penantian yang tak punya usai

Sehingga aku selesai.

Jogja, 2022


SOLAR PLEXUS

Pada suatu ketika

: Ganglion terinfeksi kecupan mesra

: Impulse teraktivasi kerlingan mata

Kemudian

Di kedalaman rongga gulita ini,

rahim cinta sekaligus makamnya

Antagonisme dada dan kepala tak berkesudahan

Bergumul kalut kalang kabut saling serang jatuh menjatuhkan

Ada kalanya pencipta rasa berdiri tegak di tengah hamparan

            : biarkan mawar mekar di atas akar-akar

            : biarkan burung-burung bercinta di luar sangkar

Seketika produsen logika datang membadik, harapan

tumbang tepat di ujung lantunan

tembang

            : cinta, bentangan sepi berduri

              tak mungkin mampu kauseberangi.

Dan demikianlah mereka terus bertarung

Hingga deras darah yang naik terjun mencipta halimun

Di kedalaman liang abdomen ini

Sang pencinta yang sekarat, penguasa kelam masa silam

Lunglai luruh di tubir nestapa, menatap, meratap sesaat

Perasaan dan penalaran laksana makan buah simalakama

Mana kalah mana menang

Dia tetap binasa.

Jogja, 2022


Ludira Lazuardi, perempuan yang memendam bara di hatinya.

Puisi

Puisi Diana Rustam

UBAN

kuucapkan terima kasih kepada uban

yang memperingatkanku kepada layu setelah mekar

kepada padam setelah menyala

kuucapkan terima kasih kepada uban

yang mengajariku menghitung sebuah penghabisan

bahwa fajar akan menjadi senja

kulihat diriku kepada uban

aku ada, dan akan menjadi tiada


LIDAH

suatu ketika aku tiada lagi mengenal dirinya

bagai kuda yang lepas dari kekang di padang pasir gersang

yang telah merasuk ke dalam rongga-rongga tubuhnya nafsu buta

tiada timur kepada barat kepada utara kepada selatan

penjuru-penjuru tertabir badai

kemana kata-kata yang bersilaju ditambat

aku tiada lagi mengenal dirinya

lidahku yang suatu ketika memagut berbongkah-bongkah hati

dan menjadikan mereka berdarah dan mati.


MATA

maafkan aku

telah kunodai beningmu, asal mula yang sejati itu

yang ditetesi kasih ibu dan peluh di dahi ayah

hari-hariku adalah memupuk noktah hitam

dan membiarkanmu tumbuh menjadi buta kepada cahaya


TELINGA

dapatkah aku mengulang, duhai?

akan kuletakkan engkau dimana kicau burung mendendangkan kidung pagi

dimana angin berkesiur menimpali ombak yang membelai karang ketika senja menjinggakan langit

dimana gemericik air sungai yang pecah menabrak bebatuan

dan serangga-serangga menimang malam di perut-perut dedaunan

dan bersemayamlah engkau dalam ketenangan

dapatkah aku mengulang, duhai?

akan kuletakkan dirimu di mana seruan Tuhan digaungkan

dan teguhlah engkau di atas kebenaran


KAKI

sepasang kaki yang diam

gentar kepada onak

gamang memandang jalan-jalan bercabang

Menimbang- nimbang pada neraca hati yang bimbang

sepasang kaki yang diam

menunggu sampai waktu menjadi usang

lapuk kemudian roboh sebelum berjuang

alangkah menyedihkan dan pengecutnya


Diana Rustam. menulis puisi dan cerpen di media sosial. Beberapa karyanya telah dimuat di media sastra online dan koran lokal.

Ragam

SABTU: SASTRA DAN NOSTALGIA

Sabtu tak dijanjikan seru. Aku memulai Sabtu, 28 Oktober 2023, bukan dengan upacara tapi menjemur cucian. Di atas, matahari seperti memanjakan tubuh dengan sinar terlalu terang. Sabtu yang terang, belum tentu Sabtu yang seru.

Beberapa tahun lalu, aku terbiasa menulis esai-esai bertema Sumpah Pemuda. Kini, aku dikutuk jemu. Sulit menulis dengan ikhlas tentang Sumpah Pemuda meski aku khatam buku Keith Foulcher, Suwarsih Djojopuspito, Abdoel Moeis, dan lain-lain. Aku sedang kebingungan mengartikan Sumpah Pemuda saat di Jakarta diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia dan Kongres Kebudayaan Indonesia. Kongres-kongres masih menentukan derajat peradaban Indonesia. Di buku-buku sejarah, Sumpah Pemuda selalu teringat dengan Kongres Pemuda II (1928). Kita masih muungkin mengingat “kerapatan” tapi rasanya lawasan.

Sabtu pagi, aku meninggalkan rumah untuk sampai ke Universitas Muhammadiyah Surakarta. Lama aku tidak berkeliaran di tempat ikut membentuk biografi. Sampailah di tempat parkir, bergerak lagi untuk “memarkir” tubuh di ruangan seminar. Hari itu aku menghadiri seminar sastra diadakan oleh para mahasiswa PBSI, FKIP, UMS. Aku bukan undangan atau pendaftar sebagai peserta. Datang sebagai pengunjung ilegal. Urusanku adalah menonton Panji Sukma berperan sebagai pembicara.

Adegan yang harus dilakukan adalah naik tangga menuju lantai 4. Aku sedang melewati tangga-tangga nostalgia. Dulu, aku berulang lewat tangga untuk kuliah. Masa lalu sebagai mahasiswa di situ.

Ruangan yang tampak suram dan murung. Aku sulit mengatakan bersih dan rapi. Papan untuk pemasangan bentangan kain acara sudah rapuh. Di atas, lamat-lamat kelihatan. Tembok-tembok itu menua. Duduk di kursi, merasa sedang mengikuti perkuliahan. Di depan, dua kursi rotan untuk pembicara dan moderator. Mataku melihat benda-benda dalam ruangan kurang selaras. Tampak mimbar di panggung. Di sebelah panggung, ada angklung tanpa dimainkan menghasilkan kemerduan.

Yang hadir puluhan mahasiswa. Mereka mengenakan batik dan jas almamater. Aku sedang dalam “teater” hajatan pernikahan dicampur perkuliahan. Duduk di depan dengan ketenangan tanpa mampir mengisi buku tamu dan tanda tangan. Panji Sukma berbagi kardus berisi jajanan. Ia memastikan tampangku kelaparan. Kardus dan minuman dalam botol membuatku sah mengikuti acara.

Sabtu, 28 Oktober 2023, Panji Sukma dan para mahasiswa menyanyikan Indonesia Raya. Pemberi sambutan malah kebablasan memberi penjelasan bahwa 28 Oktober 1928 adalah peresemian bahasa Indonesia. Aku menikmati semuanya sebagai “upacara”.

Panji Sukma mulai omong. Mikrofon di tangan. Tubuhnya tidak mau duduk di kursi. Ia sedang manahan sakit. Beberapa hari sebelumnya, tubuh gagah dan bertato itu merasakan sakit. Obat-obat memasuki tubuhnya tanpa janji segera sembuh. Di hadapan para mahasiswa, lelaki kesakitan membicarakan sastra di Indonesia. Usaha agar tak bergerak terlalu jauh, ia menceritakan diri sebagai pengarang. Omongan-omongan aku anggap tak mengikuti jalan besar ditetapkan panitia menggunakan tema mengandung “multikultural”. Bagiku istilah itu susah.

Penampilan Panji Sukma moncer dengan novel Sang Keris dan Kuda tampak rapi. Ia sadar diri sedang berada di ruangan bersama kaum muda bakal menjadi pendidik. Omongan tentu ikut “rapi”, tak perlu ada ledakan atau makian. Panji Sukma memberi suguhan novel-novel gubahan para pengarang Indonesia. Ia pun mengabarkan novel-novel berpengaruh saat mengerjakan penulisan cerita.

Mulut itu berucap: Lelaki Harimau gubahan Eka Kurniawan. Di kursi, aku perlahan mengenang. Beberapa tahun lalu, ruangan itu berselera sastra saat aku masih menjadi mahasiswa. Di situ, Saut Situmorang pernah omong sastra. Aku mengundang dalam acara diskusi, setelah aku terkesima dengan puisi-puisinya. Ia datang menggunakan sepeda motor merek Honda, bergerak dari Jogjakarta. Aku ingat penampilan dan omongan Saut Sitomurang bikin berdebar para mahasiswa. Ada dosen-dosen tampak kurang senang. Aku sedang dalam masa nakal, berhak menghadirkan Saut Situmorang ke UMS. Urusan paling menyulitkan adalah “botol” untuk penyair yang berambut gimbal.

Di panggung, masa yang berbeda, yang aku lihat adalah Panji Sukma yang berambut panjang. Ia dengan kesantunan. Kehadirannya cukup menghibur dan membuat para mahasiswa rajin bertepuk tangan. Yang pasti, aku sedang menikmati omongan orang sakit. Bagiku kurang seru. 

Aku kembali mengingat Eka Kurniawan. Dulu, aku mengundang Ratih Kumala ke UMS. Aku rampung membaca novel dan beberapa kali berkunjung ke rumah Ratih Kumala di Solo. Pertemuan-pertemuan kadang dengan kehadiran Eka Kurniawan. Di ruang semianr itu, Eka Kurniawan turut saat Ratih Kumala omong di depan seratusan mahasiswa, beberapa tahun lalu.

Panji Sukma belum mengetahui di ruangan yang sama, dulu hadir Eka Kurniawan yang kondang dengan Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau. Yang hadir di ruangan itu masih ada beberapa pengarang, yang membuatku merasa pasti menempuhi jalan sastra. Nostalgia sebagai mahasiswa yang keranjingan sastra. Di UMS itu pula aku mengenang babak-babak awal menggerakkan buletin Pawon dengan berjualan dan mencari para pelanggan. Keisengan tak terlupa adalah membentuk Jamaah Fundamentalis Sastra, selain turut dalam teater.

Panji Sukma selesai omong, para mahasiswa memberi pertanyaan-pertanyaan. Aku kadang ingin menutup telinga. Namun, kehadiranku tidak boleh hanya menuruti nostalgia. Aku mendengar pertanyaan-pertanyaan “biasa”. Panji Sukma menghormati dengan jawaban-jawaban santun. Lelaki itu kadang memicu tawa tapi tetap saja seminar sastra tak seru.

Acara selesai, aku, Panji Sukma, dan Aji W mampir sebentar ke kelas digunakan untuk pameran puisi. Mataku prihatin melihat kertas-kertas putih memuat puisi dipajang dengan tali-tali. Beberapa buku ditaruh di atas meja. Mereka terlalu berani mengadakan pameran yang justru tampak “meremehkan” sastra.

Kami bertiga lekas turun. Percakapan pendek bertema sastra saat siang mengganas. Kami wajib makan. Berjalan keluar kampus sambil aku melihat sisi-sisi auditorium, yang dulu aku gunakan berjualan buku-buku bekas. Riwayat sebagai pedagang buku dan kaset bekas dimulai di situ meski mengalami pengusiran oleh pejabat kampus.

Kami masuk warung bakso. Di atas meja, tiga mangkok bakso tetelan. Panji Sukma menjadi juragan agar lapar dan haus terjawab. Dua lelaki merokok di sampingku. Aku menyainginya dengan makan dua bungkus rambak. Keringat mengalir membuktikan bakso dan es telah bereaksi dalam tubuh.

Kami pun berpisah, berbeda arah. [] Kabut

Ragam

KAMIS, PENGUNJUNG, BUKU

Kamis, nama hari yang kadang bermakna religius. Aku jarang membuat pengertian bermula nama-nama hari. Pengetahuanku belum mendalam untuk mengartikan manusia dan waktu.

Pada, 26 Oktober 2023, aku digoda mengartikan Kamis adalah buku. Di rumah, aku masih bersama ribuan buku berdebu. Keseharian yang berulang, tidak memunculkan makna-makan mengejutkan. Aku yang memegang dan membuka buku-buku, menggunakannya untuk menulis esai atau iseng memanen kutipan. Beberapa buku dipotret untuk dipamerkan di media sosial: dagangan.

Beberapa hari lalu, hujan deras dan angin. Atap rumah berantakan. Air hujan mudah masuk “memandikan” buku-buku. Aku dengan kengawuran naik ke atas seperti mendekati matahari. Yang terjadi adalah tubuh terkena panas dan berkeringat. Di ketinggian, tubuh cepat basah dan gemetaran. Ilmu (tukang) rumah tidak termiliki, berakibat gagal membereskan atap yang berantakan. Aku cuma sedikit merapikan agar tidak terbuka lebar untuk air hujan. Yang terpikirkan: nasib buku-buku bila mendapat berkah hujan.

Siang itu mendapat kabar dari teman. Ia tinggal di Jogjakarta, berpredikat pedagang buku. Kabar datang bahwa ia mungkin mau sedikit merepotkan. Rencana ia mau dolan dan menginap di rumahku saat malam. Aku mendapat penjelasan jika siang ia berdagang buku di Solo. Kaget. Orang dari Jogjakarta “berani” berjualan buku di Solo.

Poster dikirim ke gawaiku. Aku membaca tanpa gairah: “Hari Besar Perpustakaan 2023”. Acara diadakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surakarta. Telat mengetahui pengumuman acara yang seharusnya mengenai buku. Acara diselenggarakan Kamis-Jumat, 26-27 Oktober 2023. Yang ditawarkan: (1) pasar dan pameran buku, (2) panggung kreasi seni. Di poster, aku membaca diksi buku.

Gambar di poster adalah buku-buku tebal beragam warna. Yang terlihat bukan foto buku. Gambar buku dan bola dunia mungkin diperoleh di internet. Aku yang kelelahan dan gemetaran setelah turun dari ata rumah merasa berkepentingan bertemu teman-teman. Siang yang terang itu memberi alasan terpanas menuju Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surakarta.

Kaget. Parkiran ramai berada di jalan kecil di sebelah kantor. Sepeda motorku parkir di situ, memberi 2 ribu kepada seseorang tidak sah sebagai tukang parkir. Ia tidak mengenakan seragam, tidak memberikan karcis. Aku berikan saja 2 ribu demi membuktikan acara disangka melulu buku.

Salah. Tempat itu ramai oleh ratusan murid SD, para ibu, dan guru. Mereka mondar-mandir. Ibu-ibu duduk atau berkerumun berbagi cerita. Di tangan mereka, gelas es teh dan makanan. Mereka yang memilih terlindung dari sinar matahari tapi tetap saja sumuk.

Aku melihat di halaman depan yang panas. Tenda-tenda untuk penjualan buku. Yang tampak adalah dagangan dari dua toko buku di Solo. Mereka pindah tempat sejenak, berharap mendapat pembeli. Ada pula meja-meja di atasnya banyak buku yang ditunggu oleh Patjarmerah. Ada dagangan buku-buku bekas. Pastilah itu dagangan teman dari Jogjakarta. Aku duduk di situ: panas dan sepi. Orang-orang tidak mampir: menonton buku atau membeli buku. Yang berdagang buku jauh dari kerumunan murid dan ibu.

Dagangan yang ditata rapi itu kesepian. Dagangan tanpa tatapan mata dan sentuhan tangan para “pengunjung” dalam acara Hari Besar Perpustakaan 2023. Dugaanku, ratusan murid datang dalam kepentingan penugasan dari sekolah. Pihak sekolah-sekolah mungkin dapat undangan untuk berkunjung ke perpustakaan. Siasat mencipta keramaian dan “kesuksesan” bagi dinas pemerintah dan sekolah.

Kesadaran yang terlambat. Hal terpenting adalah “kunjungan”. Di poster, aku membaca keterangan bagian bawah: “Kunjungan perpustakaan daerah Kota Surakarta”. Ratusan murid dan ibu adalah “pengunjung”. Mereka sewajarnya mengisi buku tamu atau buku kunjungan. Hitunganku: dua hari bakal ada ratusan pengunjung. Perpustakaan terbukti dikunjungi banyak orang.

Pada saat berkeliling sebentar, aku melihat panggung dan gelaran karpet. Panitia menamakan “panggung kreasi seni”, tidak harus ada hubungannya dengan buku. Ingat, perpustakaan tidak hanya buku. Di lantai atas, murid-murid malah bisa menonton film. Pengertianku kolot bahwa perpustakaan itu buku gara-gara ada “pustaka”. Aku wajib meralatnya. 

Di bawah tenda dan suasana yang gerah, aku dan dua teman dari Jogjakarta membuat obrolan enteng. Obrolan bertema buku. Kami memesan es teh dan es jeruk. Menit-menit berlalu, kami tidak betah berada di tenda. Aku bergerak masuk ke perpustakaan. Teman-teman memilih berada di teras.

Murid-murid itu mondar-mandir. Mereka tampak ceria. Beberapa murid membawa buku tulis dan bolpoin. Telingaku mendengar mereka sedang direpotkan membuat tugas dari sekolah berupa laporan kunjungan. Mereka datang dengan tugas, bukan keinginan yang tulus atau berusaha menikmati perpustakaan. Aku pun berkunjung dengan pamrih.

Masuk ke perpustakaan, berharap tidak kepanasan lagi. Dingin perlahan terasa. Di ruang koleksi buku, murid-murid berlarian. Ada yang main petak umpet. Ruangan yang mirip pasar. Ruangan itu menampilkan buku-buku yang tenang dan kesepian. Namun, murid-murid lebih berkuasa di ruangan. Para pegawai tampak kebingungan. Yang pasti mereka “berprestasi” gara-gara jumlah pengunjung terhitung banyak. Aku tidak mengisi buku kunjungan, lekas bergerak ke rak-rak.

Dulu, aku mengunjungi perpustakaan milik pemerintah itu saat masih berada di Jebres dan Kepatihan. Aku membaca koran dan buku-buku lama. Sepuluhan tahun berlalu, aku masuk ke perpustakaan di gedung yang kokoh dan alamatnya dekat Stasiun Balapan (Solo). Mataku masih melihat koleksi buku-buku dari yang pernah terlihat saat di Jebres dan Kepatihan. Koleksi baru tidak banyak. Di ruangan yang ramai, aku ingat masa lalu dan sedih. Aku merasa tidak bergairah untuk masuk lagi ke perpustakaan milik pemerintah. Tatanan rak dan koleksi buku hanya lirih memanggilku. Yang terpenting, di ruangan itu tidak kepanasan atau keringatan.

Aku kembali ke halaman. Pamit ke teman-teman. Sore, jatahku menjemput anak-anak pulang sekolah. Teman-teman tampak sedih. Kamis tidak berarti orang-orang keranjingan buku dengan membeli buku-buku: lama dan baru. Acara itu justru terlihat persekutuan perpustakaan dan sekolah. Teman-teman berjanji mau dolan ke rumah. Mereka mungkin tidak betah di (halaman) perpustakaan yang mengabarkan “hari besar” tapi tidak menghasilkan nafkah.

Malam, dua teman dari Jogjakarta sampai di rumahku. Tiga teman lain yang tinggal di Solo juga berada di rumahku. Kami dalam obrolan seru bertema perbukuan. Obrolan mengandung tawa, ejekan, dan bualan. Di depan kami, seporong teh hangat ditemani martabak dan rokok. Mereka menikmati obrolan bersama ribuan buku berdebu yang berserakan. [] Kabut

Cerpen

Spelunkers

Cerpen Ludira Lazuardi

You will find what you seek. Kamu akan menemukan apa yang kamu cari.” Aku ingat betul kata-kata ayahku saat aku kecil. Beliau adalah seorang speleolog. Meneliti gua-gua di seluruh dunia adalah pekerjaannya. Seumur hidup ayah dihabiskan untuk menyusuri gua, terlebih yang belum pernah terjamah manusia.

“Apa yang ayah cari di gua?” tanyaku suatu waktu.

“Banyak hal, Sayang. Sisa-sisa peradaban, dunia baru, dan terutama, keajaiban.”

“Apakah Ayah percaya keajaiban?”

“Tentu saja. Keajaiban akan membuatmu mengerti betapa berharganya hidup ini.”

Barangkali kegemaranku menyusuri gua karena sedikit banyak aku ingin menjadi seperti beliau. Aku juga ingin menemukan keajaiban. Itu satu alasan. Aku sangat merindukan ayah, mungkin itu alasan paling kuat kenapa aku rela tersesat berlama-lama di dalam gua-gua penuh jalan rahasia. Dengan menyusuri gua, aku berharap bisa mengerti kenapa ayah sampai lebih memilih pergi daripada menemani aku tumbuh.

Ayah menghilang sepuluh tahun yang lalu saat meneliti salah satu gua yang baru ditemukan di China. Sampai sekarang jasadnya belum ditemukan. You’ll find what you seek. Jadi sekarang aku yang akan mencari ayah.

Aku berada di Guangxi dengan beberapa teman sesama spelunkers. Kami mulai dari gua terakhir yang ayah datangi. Pintu gua itu berupa lubang berdiameter sekitar setengah meter. Kami terpaksa masuk satu-satu menggunakan tali. Siapa sangka, setelah kami turun sekitar tiga puluh meter, jalan sempit gua berubah menjadi sangat luas.

Ada sekitar lima pintu lain yang bisa dilewati manusia. Kami putuskan untuk membagi tim. Aku memilih sendiri sementara tim lain terdiri dari 3 orang. Mereka adalah teman-teman yang sudah sering menyusuri gua bersamaku. Jadi mereka sudah hafal kebiasaanku, juga sudah tahu kemampuanku. Jadi mereka tidak menolak saat aku ingin sendiri dengan hak istimewa memilih pintu mana yang akan kutelusuri. Kupejamkan mata sekejap dan kudengarkan suara angin yang berembus dari tiap pintu. Suatu nyanyian memanggilku dari arah lubang gua paling sempit. “Aku ambil yang ini,” ucapku sambil menunjuk lubang paling kiri.

“Oke, kita bertemu di sini maksimal tiga jam lagi. Setuju?”

“Sip, kita mulai. Jangan lupa hidupkan alat komunikasi dan perekamnya.”

Gua ini tipikal karst yang mirip dengan gua-gua di Indonesia. Pintu sempit yang kulewati hanya sekitar dua meter saja, selebihnya gua makin melebar dan tinggi. Kususuri tiap dinding, berharap menemukan lukisan purba, tetapi aku harus kecewa karena dindingnya bersih dan basah.

“Kay, gimana keadaan di sana? Ganti.” Protofonku berbunyi.

“Belum ada yang menarik. Ganti,” jawabku.

Aku sudah berada dalam gua itu sendirian sekitar satu jam. Kubayangkan ayahku sedang bekerja mencatat batuan dan keadaan gua. Beliau terlihat sangat antusias dan bahagia. Aku terus bergerak maju dan hampir putus asa sampai kurasakan embusan angin dari arah depan. Makin dekat, gua makin terang. Aku matikan senter yang kubawa dan mempercepat langkah.

Betapa terpukaunya aku melihat pemandangan di hadapanku. Sebuah hutan purba dengan berbagai tumbuhan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tanaman dengan aneka macam bentuk bunga bercahaya, pohon-pohon kemerahan dengan daun biru tua, dan hamparan rumput yang berwarna merah terang.

“Bagaimana tanaman-tanaman ini bisa tumbuh di sini?” Aku mendongak mencari sumber cahaya selain dari tumbuhan yang bersinar. Barangkali ada lubang tempat kemungkinan matahari masuk. Yang kutemukan lebih menakjubkan dari yang ada di dasar. Langit-langit gua itu tinggi dan penuh cahaya gemerlap seperti bintang. Awalnya kupikir itu sejenis cacing Arachnocampa Luminosa. Namun, cacing yang menghuni Glowworm Cave di Selandia Baru itu memancarkan cahaya biru temaram. Sedangkan langit-langit gua ini lebih berwarna kemerahan dan menyilaukan.

Guys, kurasa aku menemukan sesuatu. Ganti.” Aku mendekatkan mulut ke protofon, tidak sabar membagikan tempat istimewa ini dengan teman-temanku. Sambil menunggu jawaban, aku mengitari tempat itu lagi dan tergoda untuk menyentuh salah satu bunga paling cantik di antara lainnya. Warnanya biru terang, mahkotanya lebih rumit dari bunga lain, dan aromanya lembut memabukkan.

“Kay, kami juga menemukan sesuatu.” Kurasa itu suara Yuda. Dia terdengar lesu. “Sepertinya, kami menemukan yang selama ini kamu cari. Maaf,” lanjutnya.

Tanpa Yuda menerangkan lebih lanjut, aku tahu yang mereka temukan, ayahku. “Seperti apa keadaannya?”

“Yah, sepuluh tahun berlalu, Kay. Kami membuka tasnya dan menemukan foto dan namamu. Jadi kurasa sudah seratus persen.”

“Oke,” jawabku singkat, bingung harus bersikap bagaimana. Aku tahu tidak seharusnya berharap beliau masih hidup. Akan tetapi, aku masih yakin bisa menemukannya, dan harus siap seperti apa pun keadaannya. Nyatanya kini, saat tahu beliau benar-benar sudah meninggal, aku masih saja merasa patah hati. Yah, paling tidak aku telah menemukan apa yang ingin aku temukan. Ayahku, bersama keajaiban yang beliau ceritakan.

“Tapi ada yang aneh, Kay. Ada tanaman bersinar kemerahan tumbuh dalam apa yang tersisa dari jasadnya. Seperti, bagaimana ya menjelaskannya.” Suara Yuda terjeda, seolah dia sedang berusaha menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang dilihatnya. “Kuharap perkiraanku salah. Sebelum menjadi tulang, tanaman ini seperti memakan beliau.”

“Itu tidak mungkin. Aku juga menemukan banyak sekali tanaman bersinar di sini, Yud. Indah sekali.”

“Untuk berjaga-jaga, sebaiknya kamu jangan menyentuh tanaman itu, Kay. Siapa tahu beracun. Kita laporkan dulu hasil temuan kita.” Seorang teman lain menimpali.

“Thomas ada benarnya, Kay,” ucap Yuda. “Kay, halo, Kay, kamu masih di sana? Kay?” Gelombang kekhawatiran terdengar jelas dari suara teman-teman.

Aku ingin menjawab mereka, tetapi tidak satu pun kata mampu keluar dari mulutku. Aku merasa sangat pusing, dunia di sekitarku berputar-putar dan pandanganku makin kabur. Rasanya aku melihat bunga yang kusentuh tadi tumbuh makin tinggi dan melilitku sebelum akhirnya gelap total dan aku tidak bisa merasakan apa pun.


Ludira Lazuardi, perempuan yang memendam bara di hatinya.

Ragam

PEMBACA DAN KOTA

Malam penderitaan telah berlalu. Malam penuh siksa gara-gara sakit gigi. Kamis, 19 Oktober 2023, datang dengan terang yang sulit ditandingi lampu yang bermerek terkenal menjanjikan “terus terang” dan “terang terus”. Pagi yang siang. Selanjutnya, siang makin tambah siang.

Aku meninggalkan rumah, berpesta panas di jalan. Alamat tujuan adalah toko buku terkenal di Solo. Iseng mau sembunyi dari matahari. Masuk dengan pamrih ikut membaca koran dan majalah. Sejak lama, aku biasa berbekal 2 ribu atau 3 ribu untuk mendekam di toko buku selama 1 jam atau lebih. Di situ, aku adalah pembaca yang tergesa dan pemotret halaman-halaman kertas yang memamerkan huruf-huruf.

Di bawah sinar lampu, aku membaca Kompas. Di luar, orang-orang menikmati sinar matahari tanpa menjadi pembaca koran. Aku membaca Kompas terbitan Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis. Berdiri membuka halaman-halaman koran yang harganya 9 ribu. Jadilah pembaca cepat!

Aku memberi perhatian yang lama untuk Kompas, Senin, 16 Oktober 2023. Judul berita di halaman depan: “Terjajah Pangan di Kepulauan”. Berita itu bersanding dengan foto Ducati Lenovo di Mandalika, NTB. Aku belum tergoda memikirkan balapan di jalan beraspal. Pikiranku justru ingin balapan membaca berita, segera melupakan atau membuat catatan kecil.

Di toko buku, aku jarang membeli koran, majalah, atau buku baru. Peranku cuma menjadi pembaca. Siang itu aku mewajibkan diri membeli Kompas berisi tulisan-tulisan bertema pangan. Duit untuk beli bensin digunakan untuk Kompas. Pada hari Kamis, aku membeli koran edisi Senin, edisi yang sudah basi. Bensin (12 ribu) membuatku bisa bergerak di jalan beraspal dan pesta panas. Koran (9 ribu) membuatku malu berjalan di muka Bumi makin rusak dan mengalami krisis pangan.

Sore, teman-teman datang ke rumah. Obrolan sejenak mengenai pendidikan, guru, dan bacaan. Sore yang tergesa. Aku masih mengurusi pekerjaan-pekerjaan di belakang tapi harus menghormati teman-teman menginginkan obrolan. Aku tidak bisa menyuguhkan teh hangat. Padahal, teman membawakan pisang goreng. Yang terpenting obrolan singkat.

Aku sempat mengutip hal-hal dalam novel berjudul Kirti Njunjung Drajat (1924) gubahan Jasawidagda. Novel yang mengisahkan lelaki muda emoh menjadi priyayi seperti dikehendaki orangtua. Ia memilih bekerja di pabrik. Episode mendapat pengetahuan dan keberanian menentukan nasib dipengaruhi bacaan. Darba, tokoh dalam novel, memiliki gairah membaca beragam surat kabar terbit dan beredar di Solo dalam masa pergantian: akhir abad XIX dan awal abad XX. Ia membaca surat kabar berbahasa Melayu dan Jawa, sebelum menambahi kemampuan dalam bahasa Belanda.

Di hadapan teman-teman, aku sebenarnya ingin menguatkan masalah pendidikan dan keaksaraan bergerak di Solo masa lalu. Mangkunegaran menjadi tempat penting. Jaswidagda bekerja sebagai pengajar di Mangkunegaran. Ia malah pernah menulis buku berjudul Bocah Mangkunegaran. Aku juga mengabarkan ke teman-teman tentang kesusastraan dan Mangkunegaran. Nama wajib diobrolkan bila mengadakan acara di Mangkunegaran: Partini atau Arti Purbani. Ia adalah pengarang cerita-cerita. Beberapa orang mengenalinya sebagai istri Hossein Djajadiningrat.

Senja, mereka pamit. Aku kembali ke urusan rumah dan mushola di desa. Malam tiba, teman-teman yang lain datang ke rumah. Aku masih sempat mengutip hal-hal dalam novel gubahan Jasawidagda. Novel yang aku baca berulang, masih sering aku jadikan referensi dalam menulis esai-esai.

Hari yang dijanjikan tiba, Jumat, 20 Oktober 2023. Aku dan dua teman naik bis, bergerak dari Terminal Tirtonadi (Solo) menuju Balai Bahasa Jawa Tengah beralamat di Ungaran. Bus yang malas. Pagi itu aku menduga bakal terlambat sampai Ungaran. Di Salatiga, bus tidak bisa melanjutkan perjalanan. Kami diminta ganti bus. Telat. Telat. Telat.

Di ruang diskusi (Balai Bahasa Jateng), 30-an orang sudah hadir untuk ikut dalam diskusi novel Kirti Njunjung Drajat, menjelang peringatan 100 tahun. Aku masih berada di jalan. Bus sudah kehilangan takdir kecepatan. Kami naik bus sekalian ingin mengenang kepergian Darba, tokoh buatan Jasawidagda, menentukan nasib dengan bekerja. Di Solo, ia sudah magang di Kepatihan sebagai juru tulis, berkemungkinan menjadi priyayi. Ia malah meninggalkan Solo, bekerja di Semarang. Bekerja di pabrik dan menambahi pengetahuan-pengetahuan modern. Perjalanan ingatan dalam novel tidak seperti kenyataan saat harus naik dua bisa tetap terlambat dalam diskusi.

Perut lapar, menahan kencing, dan berkeringat. Aku lekas duduk untuk mengikuti diskusi. Segelas air bening sudah masuk perut. Di kertas lambaran, aku menaruh suguhan yang diberikan panitia: jagung rebus, pisang rebus, dan kacang rebus. Inginku segera menyantapnya. Gagal. Segelas jahe sudah aku taruh di atas meja. Dipandangi dulu setelah mengikuti petunjuk pembawa acara: berdiri untuk bersenandung Indonesia Raya.

Di atas meja, pangan khas desa. Aku jadi teringat dengan tulisan-tulisan di Kompas. Para wartawan menulis tentang pangan terutama di Indonesia timur. Pangan tradisional dihajar nasi dan mi instan. Pagi itu aku sarapan pisang, jagung, dan kacang. Nasi belum masuk perut.

Di novel Kirti Njunjung Drajat, Jasawidagda mengisahkan surat kabar dan pangan: abad XIX dan XX. Aku memilih membahas masalah surat kabar. Semula, Darba berperan sebagai pembaca surat kabar. Ia selanjutnya berani menjadi pembuat tulisan dimuat di surat kabar.

Yang ditulis dalam novel: “Anggenipun Darba maos serat kabar punika dados senengan ageng. Ing saben dinten prasasat boten kendhat pamaosanipun ing serat kabar…” Aku dulu pernah seperti Darba. Kini, aku sulit menjadi pembaca koran setiap hari. Harga-harga koran membuatku tidak sanggup memutuskan menjadi pembaca. Harga koran kadang mengejek bila mengingat (harga) beras dan sayur. Istri dan tiga anak mungkin membuat pemberontakan jika aku rakus “makan” koran. Pada masa lalu, Darba membaca Jawi Kandha, Slompret Melajoe, Bramartani, Medan Prijaji, dan lain-lain.

Jaswidagda mengunggulkan pemuda yang rajin membaca koran untuk mengerti zaman “kemadjoean” dan sanggup bersikap dalam “zaman bergerak” di Solo. Di depanku, 30-an mahasiswa dari pelbagai kampus bukanlah pembaca koran. Mereka malah tidak memiliki pengalaman membeli dan memegang koran. Hidup mereka baik-baik saja. Studi mereka tidak bermasalah. Aku salah omong mengenai pembaca surat kabar di depan kaum muda bergawai, tidak hidup dalam kegandrungan bacaan bekertas. Maka, aku menunduk dan malu. Tertawa menebus kecewa.

Surat kabar dan buku mengubah jalan hidup. Darba dijadikan sosok yang merasakan dampak ketakjuban keaksaraan awal abad XX. Jasawidagda bercerita: “Samangke ingkang tansah dados pamanahan, bab badhe pangupadosipun padamelan. Sampun mesthi kemawon pancen wiwit alit dumugi sekolah saha magang, ingkang kajangka namung anggenipun badhe dados priyantun. Nanging makaten punika Darba namun katut ombaking kathah, liripun anak priyanyun limrahipun dados priyantun, mangka nalika pamagangipun Darba angsal tigang taun, sampun kadhedheran raos boten sakeca, saya malih sareng Darba mindhak-mindhak seserepanipun, dening remenipun maos buku-buku saha serat kabar, tetela bilih kapriyantunan punika inggih satunggaling sarana kemawon kangge pangupajiwa…”

Darba meninggalkan jalan (tradisional) kepriyayian. Ia mengenal seorang Belanda yang memberi ragam pengetahuan dan ajakan untuk bekerja di Semarang. Ia menuruti jalan modern. Di Semarang, ia bekerja dan belajar. Pada akhirnya, kembali ke Solo dengan modal besar digunakan untuk mendirikan toko dan bengkel sepeda saat Boedi Oetomo bertumbuh dan Sarekat Islam memiliki pikat besar di Solo. Rekaman “sejarah” oleh Jaswidagda itu bisa dibandingkan dengan Student Hidjo (1920) oleh Marco Kartodikromo dan Moeslimah (1923) oleh Mochtar Boechari.

Beberapa hari yang lalu, aku khatam lagi Kirti Njunjung Derajat ditemani buku Takashi Shiraishi berjudul Zaman Bergerak (1997) dan buku Susanto yang berjudul Kanonisasi Budaya (2023). Sejarah yang terbaca dalam tulisan Takashi Shiraishi berlatar awal abad XX memudahkan mengetahui sosok, pers, politik, modal, dan lain-lain. Di buku Susanto, aku menemukan dua buku garapan Jasawidagda digunakan dalam mengungkapkan Surakarta masa lalu: Kirti Njunjung Drajat dan Bocah Mangkunegaran.

Di ruang diskusi, aku ikut mengajukan Serat Jayengbaya gubahan Ranggawarsita. Aku anggap itu kitab dagelan terpenting di Jawa. Ranggawarsita tampil dengan humor, bukan pengumbah nasihat-nasihat bijak mengenai pekerjaan. Di hadapan 30-an orang mahasiswa, aku sekadar mengingatkan tentang pendidikan dan pekerjaan mengacu novel gubahan Jaswidagda dan buku-buku berkaitan. Di sampingku, dosen dari Semarang ikut mengingatkan masa lalu dalam ketegangan ideologi, bahasa, dan identitas seperti diceritakan Jasawidagda. Ia sanggup memberi uraian akademik. Aku malah omong sembarangan mengenai novel dan segala hal.

Diskusi rampung. Aku berhasil makan nasi bakar dibungkus daun pisang, tempe goreng, dan kepala ayam. Suguhan yang nikmat sebelum berjumpa Tuhan edisi jumatan. Pada saat makan, bicara dengan beberapa orang, tidak lupa berjualan buku. Kedatanganku tetap sebagai pedagang buku bekas, selain sebagai tukang omong sembarangan.

Siang makin siang. Aku dan teman-teman sempat masuk ke perpustakaan dikelola Balai Bahasa Jateng. Di situ, melihat buku-buku dan obrolan enteng bersama para pegawai. Di bagian belakang, aku melotot dan girang saat menemukan buku mengenai iluminasi dan (sejarah) keaksaraan di Indonesia. Buku besar dan tebal terbitan Lontar. Buku yang mustahil dibaca gara-gara berbahasa Inggris. Terkutuklah!

Kami pulang naik bus. Kami memang tampak naik bus. Aku justru merasa sedang dipanggang matahari. Mesin pendingin udara dalam bus sedang bermasalah. Tubuhku berkeringat. Kaos dan baju basah memberi bau kecut. Di tanganku, ada buku kecil bertema Zen. Aku tidak mau kecewa dan memaki dalam bus. Buku kecil itu terbaca diselingi tidur sejenak yang melelahkan.

Sore, tiba di Terminal Tirtonadi. Sepeda motor yang seharian di parkiran ditunggangi kembali menuju rumah. Di jalan, tunggangan itu kehabisan bensin. Soreku rasanya tetap siang kuadrat. Aku berusaha tidak maki-maki. Hari terlalu banyak keringat tapi tidak sia-sia. [] Kabut