Sesaat
setelah bangun, Ulira mencari pensil dan kertas kosong yang lepas dari
pelukannya waktu tidur. Ia lalu berpejam sebagaimana sering diajarkan Nurli:
bila kau merindukan seseorang, tutup matamu dan pikirkanlah ia. Maka, hal
menelusuk ke pikiran Ulira kali ini: perempuan berambut pendek dengan poni
diacak-acak angin muncul dari balik gedung tinggi. Pakai rok kotak-kotak
setengah betis—koyak di bagian tengah sampai lewat lutut. Gincunya merah sekali,
basah seperti habis makan bihun goreng yang kebanyakan minyak. Pedagang gulali
lewat dari samping. Gadis kecil menarik-narik tangan perempuan bersamanya. Itu
membuat lidahmu sakit, kata si perempuan. Aku ingin lidahku merah: gadis kecil
kemudian senang memegangi awan merah muda diberi tangkai sekaligus takjub pada
awan yang ternyata dapat juga dijilat. Namun, walau sudah berkali-kali mencoba
memejamkan mata, di kamar berdinding ungu itu Ulira tetap tak tahu seperti apa
sorot mata perempuan berambut pendek dalam pikirannya.
Ulira tentu paham akan sorot mata. Mata Nurli bulat melotot saat Ulira memain-mainkan bawang dalam busa deterjen. Mata Nurli tertutup lebih dari separuh saat matahari di langit terlalu silau. Mata Nurli hidup saat Ulira sudah pandai merapikan piring sendiri kemudian menyabun hingga meletakkannya di rak. Mata Nurli cemas saat suatu pagi Ulira batuk pilek dan tak mau sarapan.
Lalu,
seperti apa sorot mata perempuan berambut pendek yang datang ke pikiran Ulira agar
segera mewujud dalam kertas kosong di depannya? Apakah seperti telur mata sapi setengah
matang yang diletakkan kurang hati-hati di atas bihun goreng sehingga bagian
kuningnya retak, apa seperti bola lampu warna merah berkedip pelan lalu tak pernah
menyala lagi, atau, perempuan itu kemungkinan sebangsa serangga yang terkadang
matanya tidak tahu entah di mana jadi tak perlu dibuatkan sepasang mata pada
gambar itu?
Ulira
tidak menangis meski perasaannya bingung sekali. Anak hebat tak ada menangis,
nasihat Nurli selalu. Ulira menurut. Ulira patuh pada setiap perkataan Nurli. Hanya
saja, Sabtu malam kemarin, Ulira pergi ke gereja bersama Nurli. Baru sebentar duduk
bersama, Ulira meminta izin agar dibolehkan duduk dekat temannya yang bernama Sere
di barisan bangku kanan paling belakang.
Setiap
ke gereja agar Sere tidak rewel, orangtua Sere selalu membawa sekresek camilan.
Coklat, permen, wafer. Orangtua Sere membagi-bagi cemilan satu per orang untuk
anak-anak di sekitarnya termasuk pula Ulira sambil bilang makannya jangan
berisik, ya? Gadis-gadis kecil itu mengangguk. Tak lama setelahnya, Sere
mencakar wajah Ulira. Bekas kuku Sere tampak di tulang hidung Ulira dan sebagian
nyaris mengenai matanya. Dari bekas cakar itu darah keluar sedikit, dan saat
itulah Ulira membekap mulutnya dengan renda-renda baju. Air matanya berjatuhan
cepat sekali. Suaranya tertahan-tahan di kerongkongan karena Nurli bilang anak
hebat tak penangis. Tapi air mata Ulira kian deras menyaksikan Sere menyembunyi
di ketiak orangtua Sere sambil mengejeknya dengan kata-kata, “Ini mama-ku. Mama-ku.
Sana kau sama mama kau.”
Sere
mencakar wajah Ulira karena cemburu. Sere tak suka melihat Ulira ikut disayang
orangtua Sere. Waktu itu Ulira duduk di paha orangtua Sere, sedangkan Sere disuruh
orangtuanya memungut makanan di lantai sesaat terlepas dari mulut. Lalu karena
sudah diusir, Ulira pergi meninggalkan Sere.
Mata
Ulira belum kering saat kembali duduk di sisi Nurli. Sambil memegang rok hitam Nurli,
Ulira bertanya, “Mama itu apa, Nek?”
Melihat
orang di sebelah menoleh ke arah mereka, Nurli cepat-cepat mencangklong tas,
membawa Ulira ke mulut pintu padahal ibadah belum selesai—orang-orang masih memejamkan
mata dan merunutkan segala permohonan, termasuk memikirkan orang yang
barangkali sedang sangat mereka rindukan.
“Nek,
mama itu apa?” tanya Ulira sekali lagi. Nurli tak menjawab. Nurli memegang
kuat-kuat tangan Ulira sambil menuruni anak tangga, berjalan ke halte,
memandangi sebentar lukisan perempuan di bagian bak belakang sebuah truk, lalu masuk
ke angkot warna biru pudar yang berhenti tepat di depannya.
Esok
harinya, foto perempuan berambut pendek memangku bayi berbandana putih yang kerap
dipandangi Ulira tak ada lagi di dinding kamar. Ia dimasukkan Nurli ke kresek
bekas kemudian dilemparkan. Tukang sampah menemukannya lalu melepas piguranya,
sedangkan foto si perempuan yang tampak sensual dipisahkan dari foto si bayi
mengunakan gunting, kemudian menempelkannya di dinding kamar sebagai upaya mengatasi
kesepian.
Perempuan
berambut pendek yang orang-orang memanggilnya Jitu, awalnya jatuh cinta ke
lelaki berambut rasta dengan kulit serupa bubuk kopi, lelaki yang hanya muncul tiga
bulan sekali dan singgah beberapa hari saja sampai kapal kembali berlayar. “Jangan
pernah tertarik dengan lelaki itu,” pesan Nurli suatu hari. “Kau tahu, orang-orang
macam mereka cuma mau enaknya saja. Kau mungkin terlena dengan ciumannya. Setelah
‘barang’ kau ia dapat, kau tak akan menemukannya lagi di belahan bumi mana pun.”
Karena
tak kunjung bisa dinasihati, melalui paroki (1), Nurli mengirim Jitu
ke biara. Jitu hanya enam bulan bertahan. Ia kabur ketika diminta menemani
kepala koki berbelanja ke pasar, di mana waktu itu dirinya satu-satunya
perempuan yang bisa menyetir sedangkan sopir yang biasa bekerja di sana
mengambil cuti. Jitu bahkan membawa mobil hingga berpuluh-puluh kilo meter
jauhnya.
Oleh
polisi, mobil ditemukan di tepi hutan basah yang sepi—kemungkinan Jitu menumpang
bus lewat karena saat ditemukan kunci mobil dalam posisi hidup meski mesin
mobil mati akibat kehabisan bahan bakar. Hingga suatu sore yang udaranya begitu
pengap, seseorang mengaku melihat Jitu di dermaga. Nurli membantah. Nurli sikukuh
menyebut Jitu sudah lama pergi sebagai perempuan baik-baik.
Bila
kau tak percaya, ayo kutunjukkan, kata seseorang itu. Nurli terkaget-kaget. Nurli
tak percaya melihat Jitu saling tukar rokok dengan lelaki yang bukan berambut
rasta serta berkulit bubuk kopi, melainkan kali ini bersama lelaki botak licin.
Hidungnya bangir. Matanya cenderung putih. Nurli ingin muntah menyaksikan Jitu
menggigit rahang si lelaki. “Ia tidak akan pernah jadi perempuan baik-baik.
Buah apa yang jatuhnya jauh dari si pohon?” bisik seseorang itu ke telinga
Nurli dengan nada yang sangat tenang, ditambah tatapan menelanjangi tentang
siapa diri Nurli di masa lalu.
Nurli
merupakan kekasih dari seorang padri bernama: Pet-Peet-Pet-trus? Seseorang itu
sangat bernafsu mengatakannya. “Dan kau biarawati suci tak bernoda? Lalu saking
cintamu padanya, kau rela menanggung sendiri, keluar dari biara dengan alasan
klise padahal di dalam perutmu hidup seekor kecebong, dan Pet-Peet-Pet-rus
bebas melenggang, melanjutkan pendidikannya ke Roma atas ilmu agama yang
membuatnya gila itu. Hapus air matamu. Hapus karena tak lama lagi mungkin kau
akan jadi nenek. Kau akan punya cucu—hihihi,” ejek seseorang itu dengan nada
merasa puas, karena sewaktu muda dulu, kecantikan Nurli selalu jadi momok tiap
kali ia menyukai lelaki.
Tak
lama setelahnya terjadilah kata-kata itu. Perut Jitu membesar. Jitu hamil entah
dari benih siapa, karena saat ditanya Jitu mengaku tidak tahu. Jitu tentu telah
tidur dengan banyak lelaki di penginapan-penginapan sekitar dermaga. Sebulan
sesudah Jitu melahirkan, Jitu sempat menjadi perempuan baik-baik. Ia bekerja
selama satu setengah tahun. Berhenti saat mulai merasa bosan. Orang-orang
mengabarkan ia menaiki kapal besar yang berlayar dari negara satu ke negara
lainnya. Maka sejak itu, sampai Ulira berusia lima tahun, tak pernah lagi ada
kabar tentang perempuan berambut pendek dengan bibir merah basah yang terkesan
seperti habis makan bihun goreng di mana saat menumis bawang minyaknya
kebanyakan.
Di
depan Ulira sebuah gambar kini sudah jadi. Gambar perempuan berambut pendek
dengan poni diacak-acak angin. Roknya kotak-kotak setengah betis dan koyak
sampai lewat lutut. Gincunya merah sekali. Perempuan itu tak ada mata, karena
mungkin sebangsa serangga yang letak matanya entah di mana, atau mungkin memang
sungguhan tak ada, sehingga kalau ada bagaimana mungkin ia melupakan Ulira?
Ulira
lalu berdiri di tepi jalan sembari memegangi gambar yang dibuatnya itu. Orang-orang
berbisik waktu Ulira semringah. Ulira tetap memampangkan gambar perempuan
berambut pendek yang tadi dijumpainya dalam pikiran. Saat angin kencang memainkan
rambut Ulira dan dari balik gedung pedagang gulali membunyi-bunyikan sepedanya,
saat itulah gambar di tangan Ulira lepas. Gambar terbang ke jalanan. Gambar digilas
truk lewat yang di bagian bak belakangnya terdapat lukisan perempuan berambut pendek.
***
Riau, Maret 2019
Cat:
(1) Paroki: kawasan penggembalaan umat Katolik yang dikepalai oleh
pastor

Jeli Manalu,
lahir di Padangsidimpuan, 2 Oktober 1983. Ia saat ini mukim di Rengat Riau.
Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah
Sedih Sepasang Sepatu.”
0 Komentar