Esai

Arok Villain yang Menang

Esai M. Ghaniey Al Rasyid

Pramoedya Ananta Toer telah menjadi mite. Namanya dikenang sebagai tokoh penting dalam epos republik ini. Mengenai Mite, Kata James Danandjaja mite ialah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh empu penceritanya, nyaris tanpa penyangkalan.

Agaknya pernyataan ini beraroma hiperbola, bila dikaitakan kepada Pram. Namun, narasi itu sering menyembul, saat mereka (pembaca Pramoedya) mengenang Pram, begitu pula dengan karya-karyanya, sebagai seorang pengkliping, penulis dan penyigi sejarah republik.

Pramoedya memberi sudut pandang lain menilik Arok dan Dedes. Syahdan, tafsir menyoal dua tokoh itu, mewarnai geliat pembacaan sejarah Nusantara yang lekat dengan keajaiban magis. Keris, tumpah darah, birahi dan kesucian. Novel Pramoedya menggebrak pembaca. Ia bukan hanya menilik Arok dan Dedes sebagai entitas yang mentereng sebagai anak turun Brahma, akan tetapi Pram membeberkannya dengan suguhan pertautan perebutan kuasa, haus darah.

Sehari sebelum Natal pada 1976, naskah Arok Dedes berhasil diselesaikan, setelah beberapa kertas-kertas yang di tulis di Pulau Buru berhasil Pram selundupkan. Tepat dua tahun kemudian di tahun 1979, Pram menghirup nikmatnya angin bebas setelah dituduh sebagai kriminal, menyaksikan kertas-kertas kumal yang bakal menjadi Novel Arok Dedes itu menggetarkan pembaca.

Membaca ‘Arok Dedes’ tidaklah mudah, maksudnya tak enteng mendapatkannya. Kini ‘Arok Dedes’, telah menjadi harta karun. Mafhum, para pembaca telah mendengar, kesaksian Pram. Pram menyebut novel-novelnya sebagai ‘anak’ buah pikirnya. Mereka lahir dan bertumbuh, ada pula yang harus mampus sebelum bertumbuh.

Begitu pula dengan ‘Arok Dedes’. Pram menuliskannya saat mendekam di Pulau Buru. Ia mengingat lamat-lamat Singasari dan Arok. Agaknya Pram punya pandangan berbeda dengan para penilik lainnya. Bernarnd H. M Vlekke ataupun Dhaniel Dhakidae. Mereka punya tafsir sendir menyoal Arok.

Di Majalah D&R 20-26 Desember 1999, disitu tersirat wawancara Pram. Genap dua puluh tiga tahun setelah Novel lahir, Pram berujar –Ken Arok itu Bajingan yang Jadi Juru Selamat.

Perkara tafsir semakin membikin Arok lekat dalam perdebatan. Pram berpendapat, Arok adalah Bandit. Ia sempat menjadi pemerkosa, pembunuh, penjudi dan menjadi pemenang saat mengkudeta kuasa Tunggul Ametung. Tak hanya itu, ia pun menggondol Dedes. Menang Telak!

Dari korok penuh kebusukan, nanar mata Arok menghipnotis siapapun. ‘Jagad Pramudita!’ begitulah yang tersirat dalam novel Arok Dedes, saat siapapun memandangi air muka Arok. Para peniliknya seakan terbuai oleh imaji magis, bahwa arok adalah titisan mahadewa. Mereka terpana, sampai-sampai Dedes pun terpaksa luluh meski terpaksa di mana, sebelumnya Dedes menyaksikan suaminya Tunggul Ametung yang tewas dari keris Mpu Gandring.

“Dia dianggap sebagai anak Brahma, Wisnu, Syiwa sekaligus. Arok itu menurut saya, bajingan yang menjadi juru selamat pada masanya,” ujar Pram.

Daniel Dhakidae turut menilik Arok dan Pram. Dalam buku Menerjang Badai Kekuasaan (Penerbit Kompas, 2015), Daniel meyitir Pram yang menafsir Arok Dedes. Usaha menafsir membutuhkan pertanggungjawaban, begitu pula dalam membaca Serat Pararaton Atawa Katuturing Ken Angrok.

Kata Daniel, untuk membaca serat yang menggunakan bahasa Jawa Kuno/Kawi perlu memiliki kepiawaian dengan dibuktikan pada nilai nan unggul.

Serat Pararathon dan Negarakertagama membeberkan sepak terjang Arok/Angrok saat berkecipak dalam perebutan kekuasaan di Tumapel. Di situ, Daniel mengapresiasi langkah Pram, saat mengisahkan Arok Dedes ke dalam bentuk roman. Meski demikian, ada yang sedikit terkikis saat Arok Dedes, menjadi roman. Adalah ambisi historis berdasarkan fakta-fakta yang pernah sesungguhnya terjadi yang rentan tak tersirat lengkap.

“Sejarah perlu ditempatkan dalam tanda petik (“Sejarah”), karena seluruh buku itu adalah roman dengan pikiran paling utama bahwa semuanya fiksi. Dalam arti karya fiksi, maka mistifikasi yang terjadi dalam pararaton tidak banyak berbeda dengan imajinasi yang dikatakan dalam suatu roman.”

Pram berhasil menempatkan kisah Arok Dedes di bumi manusia. Pram membumikan dan membahasakannya, agar dapat ditilik oleh pembaca Indonesia. Kisah itu tak hanya dapat ditilik kalangan tertentu saja, akan tetapi siapapun berharap Arok Dedes hinggap ke seluruh kalangan.

Arok Dedes sebagai pengingat tentang kekuasaan dan ketamakan. Kisahnya yang culas, bengis dan licik itu nampaknya dirasakan Pram saat mendekap di Pulau Buru. Ia tahu dan bergeming, bahwa kebiadaban tak selalu berakhir tragis. Ia bisa seperti Arok yang bisa saja dipuja atau dielu-elukan.

Arok Dedes yang Lahir

Jika Monte Kristo oleh Alexandor Dumas membicarakan seorang tahanan yang berusaha melarikan diri, Pram berusaha untuk meloloskan kertas-kertas yang nantinya dikenal sebagai Novel sejarah Arok Dedes.

Di Majalah D&R (20-26 Desember 1999) Pram berujar, “Saya selundupkan. Waktu itu ada teman yang menjadi motoris atau pengemudi kapal motor. Dialah yang membawa makanan, dari tempat saya di pedalaman ke Pelabuhan Namlea.”

Pram menulis dan terus menulis. Ia mengirimkan kertas-kertas itu sebanyak lima atau enam kali –nyicil. Kertas-kertas diselundupkan. Pram menampik kertas berakhir berserakan atau terbakar di tengah-tengah bayang-bayang kebengisan. Pram membisiki pengemudi kapal motor itu, untuk menitipkan ke seorang Pastur, bernama Pastor Roovink, yang tinggal di sebuah gereja Katolik dekat pelabuhan Namlea.

Pastur itu sempat membisiki Pram, saat menjenguknya, agar ide-ide Pram yang tertulis di atar kertas kumal itu menjadi sebuah buku, agar karyanya dapat mengetuk pembaca dari belahan dunia manpun, dan waktu kapanpun.

Kertas-kertas itu ada pula yang tak beruntung. Kertas yang nantinya dihimpun menjadi sebuah Novel, itu berjudul Mata Pusaran yang mengisahkan perang Paregreg. Kertas itu hangus, hilang entah kemana. Ia mati sebelum bertumbuh, lenyap menjadi abu.

Arok Dedes dan Arus Balik selamat. Ia lahir dan tumbuh. Para pembaca menilik dan membacanya, bahkan beberapa pembaca gusar lantaran buku itu harganya terus naik.

Dalam wawancara itu, Pram berterima kasih kepada Pastor Roovink. Saat ia resmi keluar dari Pulau Buru, Arok Dedes sudah menemui pembaca di Eropa, Amerika Serikat.

Culas, bengis, haus darah dan gila kuasa, kurang lebih demikian Pram berhasil menuliskan Arok Dedes yang didapatkan dari nukilan-nukilan Serat Pararaton dan Negarakertagama itu. Kenyataan itu bukanlah aib, akan tetapi sebuah perenungan tentang kuasa dan tahta. Itu akan tetap menyelip selama manusia hidup, hampir miri dalam Homo Homini Lupusnya Thomas Hobbess.

Alkisah, Arok Dedes mengajak kita untuk merenung sejenak tentang yang silam sekitar abad ke-13. Mereka nyatanya telah terbiasa dengan intrik, taktik dan persekongkolan licin untuk merebut yang namanya kuasa dan pamor. Jauh hari sebelum Machiaveli membikin Il Principe dari perenungan di pengasingan, Arok telah mempraktikannya, dengan segala tabiat hasrat berkuasanya. Sekian.

Sumber:

Majalah D&R No.19/XXXI/20-26 Desember 1999. Pramoedya; Ken Arok itu Bajingan yang Jadi Juru Selamat. Hlm 38-39.

Dhakidae, Daniel. Badai Kekuasaan. Jakarta: Penerbit Kompas. 2015

_________________________

M. Ghaniey Al Rasyid. Penulis Lepas. Pengkliping dan penikmat sastra yang tinggal di Kota Surakarta.

Esai

Narasi Perempuan dalam Bingkai Internet

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa

Gembar-gembor Internet of Things (IoT) menjadikan hampir segala hal di kehidupan kita mencuat ke permukaan dan berebut panggung untuk jadi konsumsi publik. Hal-hal yang tak terjamah akses internet mudah tertuduh sebagai wujud ketertinggalan, tertutup, asing, dan bahkan aneh. Era kiwari sungguhan membaiat kita sebagai manusia-manusia latah jumawa berkat kecerdasan buatan yang hadir dalam bentuk alat-alat elektronik berteknologi sentuh. Kemudahan mengakses informasi mengenai segala hal menjadikan manusia-manusia merasa tahu, gemar dan (seolah-olah) pandai dan merasa berhak bicara apa aja.

Salah satu tema yang jadi pokok bahasan “seksi” berkat gembar-gembor internet beserta kroni-kroni turunannya ialah menyoal perempuan dan kemudian juga seksualitas. Setidaknya dua tahun terakhir ini internet mengabarkan massifnya gerakan perempuan. Di akar rumput, para penggerak perempuan terus mendampingi perempuan-perempuan penyintas kekerasan seksual untuk mendapat pendampingan yang layak dan manusiawi. Kabar yang dihembuskan internet memberitahu keberadaan sekian penyintas berani mengungkap kasus yang menimpanya. Hal yang begitu jelas memantik api keberanian bagi perempuan-perempuan lain yang mengalami kasus serupa.

Jelang akhir tahun 2018, Tirto.id, The Jakarta Post, dan Vice Indonesia membentuk tim investigasi khusus bertagar #NamaBaikKampus untuk meliput perkara kekerasan seksual yang terjadi di perguruan tinggi. Liputan-liputan mendalam yang dilakukan ketiga media tersebut lekas tersebar dan turut menyulut keberanian para perempuan (lebih-lebih penyintas) untuk bersuara. Gerakan massa memprotes ketidaktegasan kampus menindak para pelaku terus bermunculan. Kita juga disodori kasus Baiq Nurul yang terkriminalisasi justru karena ia melaporkan pelecehan seksual yang menimpanya. Berkah internet memudahkan perempuan satu dengan perempuan lain yang berada di pelbagai daerah merasa satu, senasib sepenanggungan dan sudah saatnya tak takut atau malu untuk bicara.

Mendengar Para Penyintas

Para penyintas kekerasan seksual mencuat keharibaan publik internet melalui beragam cara. Setelah menyimak kisah-kisah penyintas di ranah perguruan tinggi melalui kompilasi produk jurnalistik bertajuk #NamaBaikKampus, di malam yang lebih mutakhir saya bertatap muka dengan beberapa penyintas kekerasan seksual melalui medium film. Bulan menggantung di langit Solo yang senantiasa ramah dan santun. Teater Kecil Institut Seni Indonesia Solo yang agak dipaksakan fungsinya sebagai ruang tonton terasa penuh. Sejak Magrib lepas, orang-orang membentuk antrean mengular guna menunggu jatah presensi di bagian depan Teater Kecil. Gurat wajah mereka begitu antusias menjelang pemutaran film Telur Setengah Matang (Reni Apriliana, 2019).

Film pendek berdurasi 16 menit itu diputar perdana pada 12 Juli 2019 lalu. Apa yang coba disampaikan film kepada penonton bukan suatu hal yang baru apalagi asing. Digawangi lima perempuan muda yang tergabung dalam satu kesatuan di Larasati Creative Lab, film menampakkan kepada penonton persoalan remaja tergoda dan terjerumus pergaulan seksual tanpa pengetahuan atau informasi yang memadahi soal dampak setelahnya. Anisa dan Adit ialah sejoli berusia Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang terduga kuat berhubungan badan dengan motif coba-coba berkemauan seru dan menyenangkan.

Berlatar perdesaan dan menyoroti cerita hidup kelas ekonomi menengah ke bawah, film ini melahirkan pertanyaan-pertanyaan dalam benak penonton. Kendati sempat menyembunyikan fakta kehamilannya, Anisa akhirnya bercerita kepada bapaknya hampir tanpa hambatan yang berarti. Sebagai gadis “setengah matang”, Anisa tampak begitu menguasai diri saat menceritakan permasalahannya. Anisa bahkan dengan sigap memiliki pilihan-pilihan logis nan bijak seperti keinginannya untuk aborsi dan memberi pelajaran kepada Adit untuk turut merasakan malu dan menanggung akibat atas perbuatannya. Dengan demikian, tokoh Anisa justru terasa ganjil. Anisa adalah perempuan “setengah matang” yang alpa atau kebablasan terintervensi sosok-sosok peracik film sehingga latah tampil sebagai tokoh yang begitu matang.

Terlepas dari film Telur Setengah Matang, yang lebih menarik untuk disimak adalah kisah orang-orang di baliknya. Dalam diskusi pasca menonton, produser dan moderator tak segan-segan mengaku dirinya adalah penyintas kekerasan seksual. Sementara empat perempuan lain yang tergabung dalam tim produksi film punya pengetahuan dan pengalaman mendapati kisah-kisah bertaut kekerasan seksual yang menimpa para perempuan di sekitarnya. Sekira dua atau tiga tahun lalu, lima perempuan berbagi cerita dan berakhir serius. Kebetulan perempuan-perempuan itu punya latar konsentrasi yang sama, film dan grafis. Maka dipilihlah film sebagai medium untuk mereka berbicara.

Gara-gara Internet

Saya tak sepakat dengan argumen yang menyatakan “perempuan” adalah isu yang kering dan tak menarik. Di era “internet adalah segalanya”, isu perempuan terus berkembang menjadi pokok bahasan yang seksi dan massif diperbincangkan baik di jagat maya maupun di kenyataan. Orang-orang dari pelbagai kalangan kian santer memperbincangkan, berdebat, mengkaji ulang, menghasilkan karya dari isu-isu seputar perempuan. Gagasan-gagasan dan kemudian juga gerakan aplikatif bertaut perempuan terus memperbarui diri.

Kita semua jadi saksi betapa massifnya desakan publik supaya RUU Kekerasan Seksual lekas-lekas disahkan, banjirnya dukungan kepada para penyintas untuk berani bersuara, terus bertumbuhnya gerakan-gerakan pemberdayaan perempuan yang didasari atas kesadaran untuk kreatif dan berdikari. Dan internet, salah satunya melalui kedigdayaan media sosial mengabarkan dan menautkan kisah-kisah haru ataupun pilu para perempuan dari pelbagai daerah. Dengan demikian, naluri untuk merasa dan menjadi dekat satu dengan yang lain begitu mudah terjadi. Kemudahan akses internet bagi para perempuan di pelbagai daerah di Indonesia meski belum secara keseluruhan, setidak-tidaknya terus-menerus berkemauan mengentaskan para perempuan dari tumpukan permasalahan yang membayangi keseharian mereka. Isu-isu soal perempuan tak lagi terkungkung dalam jerat eksklusivisme dan isolasionisme seperti yang dikhawatirkan Muhammad Nurkhoiron dalam pungkasan tulisannya yang berjudul Identitas Perempuan Indonesia: Menyintas di Tengah Pusaran Kapitalisme Global (Desantara Foundation, 2010, hlm. 199). Tsah!***


Rizka Nur Laily Muallifa, pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, locita.co, langgar.co, dan lainnya.

Esai

Dari yang Lalu dan Sekarang yang Berjalan

Oleh Yohanes Bara

“Rumah tanpa buku bagaikan ruangan tanpa jendela,” kata Horece Mann, reformis pendidikan Amerika Serikat. Ruangan tanpa jendela itu pengap, gelap, dan sesak. Demikian juga pikiran tanpa buku, isinya hanya kekosongan, kegelapan, dan kesesakan. Artinya, kekosongan, kegelapan, dan kesesakan itu bukan terletak pada tempat tertutup, tetapi pikiran yang tertutup karena tak pernah bersentuhan dengan buku. Mortimer J. Adler dalam Cara Membaca Buku dan Memahaminya (1986) menilai membaca adalah kegiatan melakukan penemuan, mengantar dari tak paham menjadi lebih paham. Atau, membaca untuk mendapatkan informasi. Membaca untuk memahami membuat seseorang bisa menjelaskan mengenai sesuatu, sedangkan membaca untuk mendapat informasi berujung pada penghapal yang hanya bisa menceritakan ulang tanpa pemahaman.

Membaca juga sebuah peristiwa mendapat sekaligus kehilangan. Dengan membaca, seseorang mendapatkan wahana baru dalam pikirannya. Dengan membaca, seseorang kehilangan waktu untuk melakukan kesenangan lain, sebab membaca merupakan aktivitas tunggal yang tak dapat disambi hal lain. Kekosongan, kegelapan, dan kesesakan itu bisa menimpa orang atau negeri. Negeri tanpa buku ibarat negeri tanpa jendela, negeri tanpa pemahaman dan penemuan. Keadaan yang pernah dialami Indonesia sebelum buku dititipkan lewat kapal-kapal dagang kolonial atau barang bawaan misionaris.

Sejarah buku bermula dari ekspansi ekonomi kolonialisme Belanda melalui Verenigde Nederlandsche Geoctroyeerde Oost-Indische Compagnie (VOC) terhadap produksi rempah-rempah Hindia Belanda pada tahun 1596. Saat itu, VOC merasa perlu memanfaatkan pers untuk mencetak hukum yang termuat dalam maklumat resmi pemerintah. Para misionaris Gereja juga punya peran memperkenalkan percetakan di Hindia Belanda karena berkepentingan memenuhi percetakan kitab-kitab keagamaan dan traktat. Bahkan mereka sudah memiliki mesin cetak dari Belanda pada 1624 meskipun baru memproduksi sebuah Tijtboek, sejenis almanak pada 1659 oleh Kornelis Pijl.

Percetakan awal ini tercatat lebih banyak menerbitkan dokumen-dokumen VOC hingga pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff tahun 1744 terbitlah surat kabar pertama di Hindia Belanda bernama Bataviase Nouvelles yang dikelola oleh saudagar muda yang diperbantukan di kantor VOC, Jan Erdman Jordens (Ahmat Adam, Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan, 1995).

Surat kabar pertama ini hanya berukuran kertas folio yang berisi dua kolom di masing-masing halamannya. Bataviase Nouvelles berisi maklumat pemerintah dan iklan lelang yang diedarkan pada kalangan pegawai VOC saja dan sebagian kecil orang Eropa. Kerena dikhawatirkan isi surat kabar ini akan mengganggu monopoli Kompeni Belanda, akhirnya berhenti terbit pada 20 Juni 1746. Setelah gagal mendirikan percetakan pertama pada 1624, para misionaris kembali memiliki mesin cetak pada 1743 yang diletakkan di Seminarium Theogicum di Batavia. Percetakan ini mencetak Perjanjian Baru dan buku doa dalam terjemahan bahasa Melayu, hingga pada 1755 mereka dipaksa bergabung dengan Percetakan Benteng milik pemerintah.

Setelah VOC bubar pada 1799, usaha percetakan misionaris kian bertambah, salah satunya mesin cetak pertama di Kepulauan Maluku yang tiba tahun 1813 dan baru beroperasi pada 1819 dengan mencetak brosur keagamaan, buku sekolah dasar yang dikelola Gereja, dan surat kabar dengan bahasa anak negeri, Bintang Oetama (1858). Sejarah percetakan dan perbukuan di Nusantara pun berkembang beriringan dengan perkembangan misionaris dan sekolah-sekolah Belanda.

Sejarah panjang berbukuan tak menjamin literasi Indonesia maju dan berkembang di abad XXI. Indonesia masih memiliki masalah-masalah besar terkait literasi. Oleh sebab itu, pemerintah buru-buru membuat program Gerakan Literasi Nasional (GLN) tahun 2016. GLN setidaknya diterjemahkan dalam 6 bidang pokok: literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital, serta literasi budaya dan kewargaan. Kemudian diwujudkan lokakarya-lokakarya terkait sosialisasi kebijakan teknis bagi peserta di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, lalu menjadi program di sekolah-sekolah.

Dalam pelaksanaannya, ternyata GLN tak hanya menjadi domain Kemendikbud. Pertamina, bersamaan dengan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2019, mengadakan kompetisi mural di Balikpapan dengan menggunakan dana Corporate Social Responsibility (CSR), dengan mengangkat 6 bidang pokok yang sama dengan GLN. Di tingkat daerah, Jawa Barat, Malang, Papua Barat, Lampung, Balikpapan, Kalimantan Barat, dan Solo sudah membuat program-program dalam rangka peningkatan literasi. Mulai dari lomba-lomba, pembentukan duta baca, perpustakaan keliling hingga pengadaan buku sudah diupayakan pemerintah daerah masing-masing.

Namun, apakah membaca dalam program GLN sebatas kegiatan membaca untuk mendapatkan informasi atau membaca sebagai sebuah proses penemuan pemahaman baru? Tentu masih perlu kajian mendalam untuk menjawabnya. Jika merujuk pada kajian dari World Economy Forum 2017, kualitas jenis bacaan akan sangat menentukan kemajuan suatu bangsa. Sehingga program kampanye literasi tidak hanya berkaitan pada penganggaran tetapi juga memperhatikan konten literasi.

Untuk mendukung upaya GLN, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengucurkan Rp 10 triliun setahun untuk pengadaan buku. Pemerintah Solo beberapa tahun lalu juga menyemangati gerakan literasi dengan mendirikan Monumen Patung Soekarno Membaca di Taman Plaza Manahan. Sesuai namanya, patung perunggu senilai Rp 1,5 miliar itu berbentuk Soekarno sedang membaca buku atau lebih tepatnya sedang memangku buku karena tatapan mata Sang Proklamator ini tidak pada buku.

Dengan besaran anggaran yang tinggi dalam setiap program dan proyeknya, sulit dibantah bahwa nalar birokrasi adalah nalar anggaran. Bahkan terkadang menggunakan nalar politis yang sarat kepentingan. Misalnya, mengapa Soekarno disimbolkan sebagai seorang pembaca? Padahal Mohammad Hatta dikenal lebih pembaca dari Soekarno. Semasa kuliah di Handels-Hogeschool Belanda, dalam sebuah masa liburnya di Hamburg, Hatta memborong 19 judul buku sekali beli (Mohammad Hatta, Untuk Negeriku, 2011). Saat Hatta dipenjara di Glodok tahun 1934, ia pun membawa buku-bukunya. Bahkan, dalam masa pembuanganya di Boven Digul (Papua), Hatta membawa 4 peti berisi buku.

Hatta selalu identik dengan buku, membaca dan menulis, yang artinya memuliakan literasi. Gambaran suasana dan percakapan penulisan teks proklamasi ini kiranya dapat membawa kita ke rumah perwira tinggi Angkatan Laut Jepang di Indonesia, Laksamana Tadashi Maeda pada dini hari 17 Agustus 1945, “Setelah duduk sebentar menceritakan hal-hal yang diperdebatkan Nishimura, Soekarno dan aku mengundurkan diri ke sebuah ruang tamu kecil bersama-sama dengan Subardjo, Soekarni, dan Sayuti Melik. Kami duduk sekitar meja dengan maksud untuk membuat sebuah teks ringkas tentang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Tidak seorang di antara kami yang membawa dalam sakunya teks proklamasi yang dibuat pada tanggal 22 Juni 1945, yang sekarang disebut Piagam Jakarta.”

Dalam peristiwa tersebut, Soekarno berkata, “Aku persilakan Bung Hatta menyusun teks ringkas itu sebab bahasanya kuanggap yang terbaik. Sesudah itu kita persoalkan bersama-sama. Setelah kita memperoleh persetujuan, kita bawa ke muka sidang lengkap yang sudah hadir di ruang tengah.” Hatta menjawab, “Apabila aku mesti memikirkannya, lebih baik Bung menuliskan, aku mendiktekannya.” Soekarno yang mengakui bahwa kebahasaan Hatta adalah yang terbaik.

Peristiwa sejarah itulah yang sebenarnya mengingatkan kita pada episode-episode literasi, yang selalu mengaitkan agama, politik, dan peradaban. Akhirnya, pada masa sekarang kita diharuskan memikirkan kemajuan literasi. Pemerintah telah berbuat meskipun sulit maksimal. Dukungan dari berbagai instansi atau komunitas terus saja dibuktikan yang menginginkan masa sekarang tetaplah berliterasi supaya tidak malu pada masa lalu yang sudah menampilkan sejarah rumit dan panjang.

Yohanes Bara Bekerja di Majalah UTUSAN dan Majalah BASIS.

Esai

Mengencani Jakarta

Esai oleh Shela Kusumaningtyas

Sebentar lagi kereta akan tiba di stasiun pemberhentian  berikutnya. Begitulah pekik yang diumumkan. Speaker yang dipasang di sudut-sudut kereta melantangkan dan terus mengulang pemberitahuan itu. Para penumpang yang berjejalan di tengah gerbong telah bersiap menembus barisan penumpang lain yang juga berjibaku dengan pegangan.

Mereka yang akan turun lantas menyusun jurusnya masing-masing supaya tidak terjepit di dalam kereta yang penuh sesak. Lalu akhirnya terlewat untuk keluar kereta. Sebab pintu kereta terbuka tak lebih dari lima menit.

Penumpang yang kebetulan dapat tempat duduk pun mesti beranjak dari bangku. Mereka harus menyibak celah-celah sempit antara para penumpang yang berdiri. Kemudian mendekatkan posisi dengan pintu kereta.

Gerak mereka mesti gesit. Pasalnya, penumpang di luar juga telah menunggu untuk dapat masuk kereta. Sehingga, dibutuhkan kerja sama antara penumpang yang turun dan naik. Supaya tidak ada yang dirugikan.

Di situlah kesabaran dan emosi diuji. Penumpang yang akan turun akan menyingkal dan menghalau penumpang yang buru-buru naik. Lalu teriakan yang memekakan telinga akan dilontarkan. Bahwa penumpang naik mesti menunggu dulu semua penumpang benar-benar turun.

Sementara penumpang yang akan naik kadung tidak sabar. Mereka abaikan peringatan dari penumpang yang turun. Sebab, jika benar-benar memasuki kereta ketika penumpang dari dalam sudah tidak ada yang turun, kemungkinan untuk bisa dapat ruang di dalam kereta akan sulit.

Kereta sudah begitu sesak sehingga pasti yang akan naik akan dicegah. Lalu mereka disuruh untuk menanti kereta selanjutnya. Padahal, mereka sudah menunggu terlalu lama, hingga parfum yang mereka semprotkan dengan semangat telah menguap baunya. Daya pikat aromanya telah berbaur dengan udara yang mulai tersusupi asap knalpot.

Riasan para perempuan yang akan naik juga mulai terhiasi bulir keringat. Alis yang mereka lukis hampir makan waktu sejam pelan-pelan kehilangan goresannya yang indah. Sebab tak sengaja terseka oleh tisu yang harusnya untuk mengelap keringat.

Penumpang kereta seolah menjelma jadi sosok yang egois. Hampir semuanya menghindari sikap untuk mengalah, karena dengan mengalah, kepentingan mereka akan kacau. Misalnya, waktu untuk tiba ke kantor jadi terlambat.

Selain perilaku saling serobot dan terabas untuk masuk dan turun kereta, keegoisan juga tampak saat kereta melaju. Rasa kantuk seakan langsung menyergap para penumpang yang beruntung bisa menaruh pantat di kursi yang tersedia. Mata langsung disetel terpejam sesaat setelah penumpang duduk, supaya tidur bisa pulas sepanjang perjalanan, mulut dibungkam oleh masker. Tangan mendekap tas. Ini agar sensasi tidur memeluk guling layaknya di rumah bisa dirasakan. Tampilan yang begini menjadi semacam tanda bagi penumpang lain untuk tidak mengusik tidur mereka.

Jika sudah begitu, penumpang lain menjadi patuh terhadap kebijakan tak tertulis tapi telah mengakar di kalangan para pelaju kereta. Dengan demikian, tidak ada yang berani  menepuk pundak penumpang yang tidur.

Tentu bukan tanpa sebab tidur mereka diganggu. Karena penumpang lain akan meminta izin supaya tempat duduknya mereka berikan kepada penumpang yang lebih membutuhkan. Seperti lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, dan orang membawa balita.

Itulah pemandangan yang jamak ditemui di commuter line. Baik dari atau menuju Jakarta, perjalanan menumpang commuter line menjadi sebuah pertarungan usaha. Ada perjuangan yang mesti dibayarkan supaya tiba di tempat tujuan.

Sikap tolong-menolong dipertaruhkan di dalam gerbong. Kedewasaan dan kebaikan tersorot nyata dalam setiap perlintasan yang dilalui.

Memang betul, acap kali penumpang muda yang sebenarnya masih kuat berdiri dan bergelantungan enggan untuk berbagi kursi. Dalih yang dipakai adalah mereka menempuh perjalanan dari titik mulai hingga titik terakhir relasi kereta.

Dari situ biasanya perdebatan sengit tercetus di dalam gerbong. Semua adu argumen. Tiap mulut kukuh menumbangkan pendapat lawan bicara. Dan masker penutup menjadi pengaman supaya ketika terjadi cekcok soal kursi, tak ada yang mengidentifikasi wajah mereka masing-masing.

Sedangkan penumpang lain asyik jadi penonton sembari mengabadikan momen itu lewat gawai pintar. Sudah bisa ditebak, keributan itu akan sampai ke akun-akun Instagram yang kerap menyebarkan peristiwa viral dan menggemparkan.

Apakah kejadian singkat di kereta listrik tersebut bisa jadi cerminan betapa memburu waktu di Jakarta bisa mengubah kelembutan hati seseorang? Wajar saja, secara psikologis memang jiwa manusia akan lebih tertekan jika dihadapkan pada ketergesaan. Sedangkan Jakarta selalu menuntut orang-orang untuk gesit dan tahan banting meski sesempit apapun waktunya.

Maka dari itu, banyak perantau di Jakarta yang akhirnya tak lagi jadi dirinya. Jakarta mengubah mereka menjadi egois sekaligus temperamen. Pasalnya, jika tidak beradaptasi seperti itu, orang-orang itulah yang akan tergilas. Lalu keok di tengah laju Jakarta yang terus mengebut dengan kecepatan tinggi, tanpa memperhatikan sekitar.

Bahkan Jakarta nyaris lupa tentang arti bernapas lega, karena seluruh penghuninya dipaksa untuk menabrak batas demi mencapai tujuan tanpa pernah berhenti. Padahal manusia sesekali butuh rehat, hanya sekadar untuk mengamati sekeliling yang perlu dibantu.

Itulah anehnya Jakarta. Kejam tapi banyak yang cinta, sehingga jadi rebutan banyak pendatang yang nafsu untuk mengencaninya.

Tak percaya soal Jakarta yang jadi incaran bak gadis yang ditaksir banyak lelaki? Tengok saja betapa penuhnya Transjakarta yang melayani berbelas koridor? Seluruh Jakarta kini memang telah tersambung dengan bus ber-AC kebanggan pemerintah provinsi ini. Bahkan, masyarakat dari kota penyangga di sekitar Jakarta juga terlayani dengan bus ini. Trayeknya telah diperpanjang lintas provinsi dan menjamah kota satelit seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Tangerang Selatan.

Transportasi yang terintegrasi seperti itu tentu memudahkan mereka yang ingin mengadu nasib di Jakarta. Belum lagi ditambah mudahnya moda transportasi lain untuk menjangkau Jakarta. Sebut saja kereta listrik yang bisa memangkas waktu tempuh dari Bogor, Bekasi, Depok, Tangerang, dan Rangkasbitung ke Jakarta.

Itu baru moda transportasi yang terhitung jarak pendek. Belum lagi layanan transportasi yang memudahkan masyarakat seantero Indonesia untuk berduyun-duyun datang ke Jakarta. Misalnya, kereta ekonomi dengan tarif termurah dari Semarang ke Jakarta bisa ditebus dengan harga kurang dari Rp. 150.000,-. Kendati penumpang mesti merasakan duduk di bangku yang keras sembari berbagi dengan satu atau dua orang penumpang lain, nyatanya tiket kereta ini hampir pasti laris terjual terutama saat akhir pekan atau pasca lebaran.

Lihat saja berita-berita yang memenuhi media massa. Kebanyakan mencatat bahwa perpindahan penduduk dari daerah ke Jakarta mencapai puncaknya ketika lebaran telah usai. Saat itu, para perantau lama ada yang “menyusupkan” pendatang baru yang tergiur dengan bayangan kesuksesan yang bakal direguk ketika bekerja di Jakarta.

Tak ayal, kontrakan petakan yang menjamur di gang-gang sempit di balik gedung-gedung pencakar akan semakin sesak terisi. Tidak ada yang kosong di Jakarta. Semua lahan bisa disulap jadi tempat tinggal atau tempat memungut rezeki. Di Jakarta yang sepi hanyalah hati para warganya yang telanjur dirasuki oleh hasrat ekonomi sebab untuk mengencani Jakarta butuh modal yang terlampau besar.

Jakarta juga telah menukar segala yang ia punya untuk penghuninya. Apa saja yang telah Jakarta beri ke penghuninya tentu tidak bisa ditukar dengan sikap angkuh para masyarakat. Bayangkan saja, Jakarta rela merusak tubuhnya. Tepian laut diuruk menjadi daratan padat demi masyarakat berkantong tebal yang butuh hunian dengan panorama laut yang membentang eksklusif. Selain itu, tanah makin dikeruk untuk disumpal dengan rel-rel yang bakal dilalui kereta bawah tanah layaknya di negara maju. Tanah juga makin digali demi mendapatkan setetes air untuk membasuh badan yang penuh peluh dan debu polusi. Sekaligus untuk memeroleh air yang mampu menghidupi keringnya kerongkongan.

Demikianlah Jakarta, banyak yang memaki namun tak banyak yang rela terusir dari ibu kota negeri ini. Jakarta mungkin seperti kekasih yang tidak romantis dengan cara-cara yang lumrah dan pasaran. Jakarta gengsi memberikan sebatang coklat atau seikat bunga bagi penghuni tercintanya. Jakarta hanya akan mencurahkan kelimpahan cintanya kepada mereka yang mau bergerak demi perubahan dan kemajuan.

Shela Kusumaningtyas, mendefinisikan diri sebagai seorang yang gemar membaca, menulis, berenang, dan jalan-jalan. Tulisannya dimuat di pelbagai media—baik cetak dan online. Telah menerbitkan dua buku di Ellunar Publisher, Kumpulan Puisi Berjudul Racau dan Kumpulan Opini di Media Massa Berjudul Gelisah Membuah. Bisa dihubungi via e-mail [email protected]

Esai

Kabar Bohong

Esai Alexander Robert Nainggolan

Alkisah, Nabi Yusuf dipanggil oleh Zulaikha, istri dari majikannya ke dalam kamar. Zulaikha yang terpesona akan ketampanannya bermaksud ingin bercumbu dan menginginkan dirinya. Dan ajakan dari Zulaikha itupun ditolak oleh Yusuf, bermaksud untuk keluar kamar menuju pintu, namun Zulaikha bersikeras dan menarik gamis yang dikenakannya. Gamis itupun robek di bagian belakang. Keinginan Zulaikha gagal untuk bercinta.

Celakanya, Zulaikha malah menyebarkan kabar bohong dengan menyebutkan bahwa Yusuflah yang ingin memperkosanya. Untungnya, sebagaimana kisah itu berlanjut ucapan Zulaikah– yang konon memiliki kecantikan tak terperi itu tidak serta merta ditelan mentah-mentah oleh suaminya. Ia menguji dengan penalaran yang cerdas, jika bagian depan gamis yang robek maka benarlah kabar yang disampaikan Zulaikha. Namun jika gamis bagian belakang yang robek, maka benarlah pernyataan dari Yusuf.

Kisah Nabi Yusuf sudah bertahun-tahun lampau lewat dalam peradaban manusia. Namun cerita itu setidaknya relevan untuk saat ini. Ketika begitu banyak orang yang berbicara, dengan sungguh-sungguh, terkesan penuh dengan keyakinan– namun ternyata hanya bualan semata. Segala yang didekripsikan, apa yang terjadi dalam dirinya tak lebih adalah gembar-gembor, hiperbola yang berlebihan. Nyatanya fakta berbicara.

Meskipun dengan keajaiban teknologi dan berita yang super cepat, dalam hitungan detik kita pun tak bisa mencegahnya. Kemajuan tekonologi untuk menyebarkan kabar  yang cuma berada di ujung jari manusia. Dengan hanya menekan tombol pada telepon pintar melalui media sosial, kitapun turut terkena getahnya. Bahwa apa yang diucapkan ternyata berbanding 180 derajat dari kenyataan yang terjadi.

Ada seseorang yang barangkali piawai untuk mengekspresikannya. Sehingga dari mimik atau gestur tubuhnya kita merasa terhipnotis dan mengamini bila yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran. Namun kebenaran adalah keselarasan dari fakta, bukan sekadar opini yang dibangun dari pendapat-pendapat. Parahnya lagi, jika ternyata opini yang diungkapkan ternyata hanya merupakan manipulasi yang bertolak belakang dengan kejadian sesungguhnya. Sebagaimana yang dijabarkan dalam sebuah teori bahwa kebenaran memerlukan konsistensi atau kecocokan. Antara fakta yang melingkupinya, sehingga dapat dicocokkan dengan segala bukti yang ada.

Dengan kecepatan arus teknologi yang melingkupi kita saat ini, kita diharapkan untuk dapat memilah setiap kabar. Kabar yang terlanjur tersebar dalam media sosial. Barangkali dengan mengujinya. Tidak dengan gegabah membagikan kabar itu di mana saja.

Demikianlah, setidaknya kita harus bisa bertindak. Menjadikan diri sendiri sebagai filter, dengan menelaah akan peristiwa yang sedang terjadi. Dengan kata lain, kita harus pandai untuk berandai-andai dan menduga-duga kebenaran itu sendiri. Kecuali, dalam karya sastra– sebuah fakta yang nyata bisa menjadi kebohongan. Sebab karya sastra membutuhkan imajinasi dan metafora. Kebenaran yang disuguhkan dalam karya sastra barangkali berpijak kepada realitas. Namun ia dibalut dengan sejumlah personifikasi lain, yang tentunya berusaha mengungkapkan keindahan dengan cara yang lain.

Meskipun, jauh hari sastrawan F. Rahardi menegaskan bahwa karya sastra bukanlah kebohongan. Lebih lanjut, ia mengungkapkan: karya sastra adalah fiksi. Beda fiksi dengan  nonfiksi adalah fiksi merupakan tulisan berdasarkan imajinasi, sementara nonfiksi adalah tulisan berdasarkan data dan fakta nyata. Jadi karya sastra sebagai fiksi memang bukan sesuatu yang nyata, tetapi karya sastra juga bukan kebohongan. Sastrawan bukan seorang pembohong. Sastrawan yang baik justru selalu menyuarakan kebenaran. Ini bukan pendapat saya pribadi tetapi ada di Webster, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Encyclopedia Americana, Encyclopedia of Writing, Ensiklopedi Indonesia, dan lain-lain. Padanan kata imajinasi adalah khayalan, rekaan, angan-angan. Lawan kata imajinasi adalah kenyataan, fakta, realitas, sesuatu yang benar-benar ada dan terjadi. (Harian Kompas, 19 Maret 2000)

Menurut kamus besar, bohong bermakna: tidak sesuai dengan hal (keadaan dan sebagainya) yang sebenarnya. Seorang yang berbohong senantiasa berusaha untuk menutupi kebenaran yang melingkupinya. Maka apa yang dikabarkannya akan berusaha untuk dicarikan penguat, ditutupi. Walaupun sebagaimana peribahasa, sepintar-pintar kita menutupi bangkai, baunya akan tercium juga.

Apa yang terjadi belakangan ini dengan fenomena kabar bohong (hoax) yang makin “menggila”, barangkali kita perlu untuk terus melakukan cek dan re-cek akan kebenaran sebuah berita. Dengan melakukan pemilahan, kita tak akan membuat dunia semakin gaduh terhadap kenyataan sebuah berita.

Meskipun kita tahu ada banyak tingkatan akan kebenaran. Kebenaran terdiri dari kebenaran indera merupakan tingkatan yang paling sederhana dan pertama yang dialami manusia, yang kedua sebagai tingkatan ilmiah, pengalaman-pengalaman yang didasarkan disamping melalui indara, diolah pula dengan rasio. Ketiga sebagai tingkat filosofis, yakni sebagai rasio dan pikir murni, renungan yang mendalam mengolah kebenaran itu semakin tinggi nilainya. Dan yang terakhir adalah tingkatan religius, kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan yang Maha Esa dan dihayati oleh kepribadian dengan integritas dengan iman dan kepercayaan.

Dalam kamus umum bahasa indonesia yang ditulis oleh Purwadarminta ditemukan arti kebenaran, yakni:

  1. Keadaan (hal dan sebagainya) yang benar (cocok dengan hal atau keadaan yang sesungguhnya); misalnya, kebenaran berita ini masih saya sangsikan; kita harus berani membela kebenaran dan keadilan.
  2. Sesuatu yang benar (sungguh-sungguh ada, betul-betul demikian halnya dan sebagainya); misalnya, kebenaran-kebenaran yang diajarkan oleh agama.
  3. Kejujuran; kelurusan hati; misalnya, tidak ada seorangpun sangsi akan kebaikan dan kebenaran hatimu.
  4.  Selalu izin; misal, dengan kebenaran yang dipertuan.
  5. Jalan kebetulan; misal, penjahat itu dapat dibekuk dengan secara kebenaran

Pada akhirnya untuk memilah arus informasi yang terlanjur mengembara ke dalam benak orang banyak, kita mesti bertindak seperti suami Zulaikha, mengujinya dengan berbagai paradigma atau kemungkinan-kemungkinan. Sebab kebenaran tak pernah hadir majemuk, ia tunggal meskipun kita memandangnya dari sisi mana saja. Walaupun terkadang kita akan sulit untuk membedakannya. Mana yang kabar benar atau bohong. Namun dengan tidak gegabah ketika mengkhidmati sebuah kabar, niscaya akan dapat dibedakan mana yang sungguhan atau palsu. Bukankah sebutir mutiara akan tetap bercahaya walaupun ia berada di dalam lumpur sekalipun?

Nah, sudah siapkah anda untuk berbohong kali ini?

Alexander Robert NainggolanLahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Bekerja sebagai staf Unit Pelaksana Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kecamatan Menteng Kota Adm. Jakarta Pusat. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di pelbagai media.Pernah dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi di LPM PILAR FE Unila. Bukunya Rumah Malam di Mata Ibu (Kumpulan Cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (Kumpulan Puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (Kumpulan Cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (Kumpulan Puisi, Basabasi, 2016).

Esai

Pepatah-pepatah Usang dan Geseran Pemikiran yang Mengembalikan Jalan

Esai Richard Oh

Di zaman kasak-kusuk seperti ini, mungkin kita lebih memahami kenapa pepatah seperti, Diam adalah Bijak,  sebagai sebuah penyesatan yang sangat merugikan. Mana mungkin diam itu bisa menjadi bijak? Mungkin bagi kebanyakan orang hal itu sebuah gaya yang lebih menyembunyikan kebingungan atau sebuah tenggang rasa yang lebih mengacu pada keuntungan berdiam daripada merugikan orang lain.  Nah, itu satu lagi kebiasaan berpikir yang sama sekali tidak masuk akal. Merugikan orang. Bagaimana manusia bisa berpikir dirinya bisa merugikan orang, kalau dia tidak juga berpikir keuntungan dirinya?

Diam itu sama sekali tak berguna, kecuali bagi seorang bankir yang memperhitungkan untung dan rugi. Diam itu juga tidak bijak. Kecuali kalau kita balik ke era romantis dahulu, di mana seseorang berambut panjang dan suka bermain gitar dan berkecenderungan diam seperti manusia penuh penderitaan, seperti objek ketabahan dalam kesunyian atau kesunyian berpendam seribu kebijakan atau kebajikan. Stereotipe jadul yang entah kenapa menjadi populer di kampus sini dan tokoh romantis di sekian film laku. Tapi kita paham itu. Karena seorang pendiam bisa dengan mudah diproyeksi apapun di kepala kita: soliter, berarti kuat dan tabah secara karakter, romantis seperti seekor hewan peliharaan yang tidak membuat jengkel karena diapapun ia tidak membalas kembali dengan menggigit, misterius mengundang keingintahuan, simpatik karena tidak rewel mengusik urusan siapapun. Karakter yang sebenarnya warisan dari era ketika manusia memandang kehidupan sebagai sebuah tragedi. Di era setelah Goethe menjadi sebuah karakter romantika kelas wahid. Karakter penuh sensibilitas dan kehalusan jiwa dan kesabaran mendengar semua keluhan dan…tak berguna bukan? Karena apa yang bisa dilakukan manusia seperti itu, selain sebuah pundak atau bantal tangisan atau tong sampah semua kekesalan dan keluhan. 

Ada lagi satu frase populer yang beberapa tahun terakhir sering diutarakan sebagai sebuah bendara putih untuk memartisi diri dari pengkritik, sebuah warisan dari relativisme pascamoderen: Jangan menghakimi orang. Kita ketahui hari ini, di era serba relatif seperti sekarang, berdiam seribu kata sama sekali bukan sebuah penanda kebijakan atau tidak berbicara terus terang sebuah kebajikan berkonotasi tidak menghakimi orang. Di era di mana semua okay dan setiap hal memiliki berbagai sudut pandang, di mana letak kebenaran diberangus sebanyak alasan dan justifikasi, semua tergantung dari sudut pandang mana, tanpa sebuah wawasan yang menaungi apapun yang beredar. Tidakkah kita juga bisa berpikir: karena semuanya relatif maka berlaku kritis memungkinkan terwujudnya sebuah ruang di mana kekacrutan dan kekacauan bisa ditengarakan menjadi sebuah kecerahan solusi?

Mengkritisi tindak-tanduk seorang tercinta, teman dan kolega semakin terasa penting, karena tindakan itu mencerminkan sebuah partisipasi atau pertukaran berguna untuk mempertahankan sebuah standar kehidupan dalam setiap komunitas atau lingkaran kecil hubungan keluarga ataupun pertemanan. Menghakim dan mengkritik adalah dua hal yang berbeda. Menghakimi seseorang memiliki konotasi menjatuhkan seseorang untuk kepentingan diri. Mengkritik dengan berniat untuk memperbaiki adalah tindakan partisipatif yang benar. Dalam kekalutan era modern, kedua hal ini menjadi sengkarut tak terpisahkan. Sehingga saat ini mengkritik menjadi sebuah penghakiman yang melanggar kepribadian seseorang. Dalam keadaan seperti itu, seorang kekasih, teman, kolega, saudara, tak berdaya berkontribusi sama sekali. Karena ia menjadi seseorang yang mendengar tanpa berekspresi  atau sekutu keterpurukan yang diharapkan hanya simpati atau telinga yang sabar mendengar.

Empati tentunya memiliki fungsi yang tidak pasif untuk membangun semangat. Membangun semangat tentunya bukan hanya melewatkan masa sulit dengan rasionalisasi sederhana, tapi untuk menguasai persoalan agar bisa memajukan diri ke arah yang jauh lebih baik. Empati bukanlah pengasuh yang membantu seseorang terhanyut dalam perasaannya. Mestinya ia menjadi sebuah pelajaran berharga untuk diri sendiri untuk meluaskan wawasan terhadap keragaman dunia dan sifat-sifat manusia. Tidak seperti dipahami oleh Martha Nussbaum yang berpikir bahwa empati atau welas asih bisa menjadi sebuah terapi kehidupan, saya ingin mengajukan sebuah pemikiran sederhana: bahwa semua hal yang bisa memajukan manusia terletak bukan di perasaan, tapi di akal yang bisa membongkar kebuhulan situasi untuk sebuah jalan yang lebih mantap. Semangat dan perjuangan berasal dari sebuah perspektif pikiran yang mendorong seseorang untuk berorientasi ke sebuah arah di wawasan yang semakin membuka jalan ke depan.

Kritik mengacu pada debat dalam sebuah persilangan pemikiran. Di situ, baik sang pengkritik dan sang pembela diri memperoleh perspektif baru atau sebuah dimensi di luar diri. Di situ terlihatnya sebuah pandangan yang berguna untuk masing-masing mempertimbangkan. Kritikan bisa ditolak atau diterima, tapi dengan sebuah alasan atau landasan yang kuat sebagai argumentasinya.

Aleteia, keterbukaan dalam kebenaran, dan parrhesia, berani berbicara sebenarnya, adalah dua acuan yang dibutuhkan saat ini. Di manapun kita berada, dengan siapapun kita berhubungan atau bergaul, di situlah kita bisa menegakkan pilar-pilar kebersamaan yang saling membantu bahu-membahu untuk membangun sebuah komunitas yang tidak lagi mempersoalkan keuntungan secara individu atau keunggulan bagi siapa yang memicu persaingan tapi menciptakan sebuah arena kehidupan yang memungkinkan setiap individu bergerak dengan tempo dan energi yang berbeda ke arah sebuah dunia yang lebih baik untuk semua.

Richard Oh, sastrawan dan sutradara. Bersama Takeshi Ichiki merintis Kusala Sastra Khatulistiwa.