Cerpen

Perihal Lesuika

Cerpen Jeli Manalu

Begitu lonceng bunyi, anak-anak menghambur ke luar. Para mama-papa yang datang menjemput, hari ini atau kapan saja, tak satu pun pernah terlihat berjalan kaki. Papa Riz menggunakan motor trail. Mama Moan pakai motor matic. Tuk yang sambil makan keripik sukun menunggu mobil warna jus buah naga. Seandainya Mama Nef mengantar-jemput Lesuika dengan kendaraan.

Apa di luar pagar gerimis lagi?—gerimis datang sejak pagi buta, saat adik bayi menangis sebab ingin menyusu namun Mama Nef belum mendengarkannya. Lesuika berdiri dekat kaktus sebelah kantor guru. Tangan dijulurkan ke depan, gerimis ternyata tidak ada. Gerimis reda sepuluh menit lalu. Dan Mama Nef, mungkin akan muncul sebentar lagi. Dengan payung ungu, dan sandal jepit yang mempermudah langkah kaki. Langkah kaki Mama Nef cepat-cepat dan berkesan tergesa tetapi Mama Nef bilang itu termasuk santai karena ke banyak tempat ia sudah sangat terbiasa berjalan kaki.

Hei, Lesuika. Cepat ke sini. Nanti adik bayi nangis.

Mama Nef sering berbicara begitu. Sepasang kaki Lesuika bergerak cepat menuju Mama Nef. Mereka harus buru-buru pulang demi adik bayi yang tidak Mama Nef bawa bila kebetulan sedang tidur.

Sekolah sepi. Guru-guru sudah tak ada. Bunyi sandal jepit Mama Nef beradu dengan jalanan tak kunjung muncul di luar pagar. Jerit suaranya juga belum. Apa adik bayi sedang sangat rewel sehingga Mama Nef perlu lebih banyak waktu untuk menidurkannya? Kadang Mama Nef berjalan keliling kompleks agar adik bayi bisa tertidur. Pernah Mama Nef menggendong adik bayi sambil berjalan-jalan setengah hari hanya karena adik bayi tidak mau dilepas.

Saat ini Lesuika semakin mengantuk dan lapar. Waktu istirahat ia memang ke kantin makan mi sop pedas campur bakwan bersama Riz dan Moan. Ia juga dapat lima lembar keripik sukun dari Tuk. Lalu permen dari temannya yang lain. Hanya saja perut Lesuika lekas-lekas sekali minta diisi makanan sebab ke sekolah berjalan kaki membuat pencernaannya ikut gesit bekerja. Ia pernah cerita kepada Mama Nef tentang perkataan gurunya, orang yang banyak bergerak metabolisme tubuhnya juga berjalan cepat, itulah mengapa ia berharap sekali bisa diantar-jemput dengan kendaraan seperti teman-temannya agar cepat tiba di rumah dan langsung duduk di meja makan, menghabiskan sepiring-dua piring nasi dengan tiga ekor ikan puyuh tanpa kepala, lalu minum teh manis dingin, lalu pisang, atau biskuit yang mungkin masih tersedia dalam kaleng Khong Guan di atas lemari.

Lesuika meninggalkan kaktus lalu bersandar di tembok kantor guru yang persis menghadap pagar sekolah. Di tembok itu ia menahan kantuk, ia tak boleh tertidur karena ditakutkan Mama Nef memanggilnya dari luar pagar sementara ia tak bisa mendengarnya. Agar tidak tertidur, ia mengambar-gambar di buku. Ia buat dirinya berada dalam boncengan Mama Nef—bagaimana postur tubuh Mama Nef saat berkendara di tengah keramaian: Tegang, menciut seperti orang kedinginan—Lesuika belum pernah lihat Mama Nef berkendara. Mama Nef pakai helm, Lesuika pakai helm. Ia suka helm warna jus buah naga seperti mobil keluarga Tuk. Tuk pernah memberikan Lesuika jus buah naga yang dibawanya dari rumah. Warnanya cantik. Rasanya enak. Seandainya ia diantar-jemput Mama Nef pakai kendaraan, pastilah ada yang Lesuika banggakan kepada teman sekolahnya. Mereka punya satu sepeda dan satu motor yang selalu terpakir di garasi. Dua benda itu bisa membawanya jalan-jalan hanya ketika papa pulang.

“Kenapa kamu tidak diantar Mama Nef pakai kendaraan?” tanya Tuk suatu hari.

Lesuika ingin bilang, namun lekas-lekas menutup mulut. Ia tak mau Mama Nef jadi olok-olokan di sekolah. Teman-temannya selalu cerita membanggakan mengenai orangtua mereka yang jago berkendara. Papa Riz muda seorang pembalap—Riz pernah memamerkan foto-foto papanya ketika berada di sirkuit. Selain antar-jemput sekolah, Moan bilang mamanya selalu memboncengnya pakai motor matic. Keliling kota. Ke dokter gigi. Ke tukang pangkas rambut. Sedangkan Tuk tak diragukan lagi. Ia anak beruntung yang hanya tinggal duduk dalam mobil ber-AC sambil makan keripik sukun lalu tanpa sadar sudah tiba depan pintu rumah.

“Bila diantar-jemput pakai motor, perutmu pasti tidak cepat-cepat lapar,” sahut Riz.

“Bajumu juga tidak cepat-cepat bau keringat,” sambung Moan.

Di pekarangan sekolah angin menerpa dahan-dahan kaktus. Di rumah Mama Nef menepuk-nepuk bokong adik bayi. Gerimis halus-halus muncul dan melayang ke tembok kantor guru. Lesuika belum tertidur. Ia berharap Mama Nef segera muncul dengan payung ungu, sandal jepit yang mempermudah langkah kaki lalu dari luar pagar Mama Nef menjeritkan nama Lesuika.

“Kalau Mama Nef tidak bisa berkendara, kenapa tidak sewa orang antar-jemput kamu?”

Tahun lalu, ada orang yang bersedia antar-jemput Lesuika. Orang itu berhenti karena hamil dan sekarang sibuk mengurus bayi. Bila diantar tukang ojek, Mama Nef tak percaya. Ia cemas barangkali saja si tukang ojek mengiming-imingi Lesuika makanan padahal ada maksud lain di belakangnya

Lagi pula, jarak rumah ke sekolah tidak jauh. Hanya 15 menit berjalan kaki, Mama Nef mencoba membela diri dari ketidakmampuannya berkendara. Masalah Lesuika, ia malu dilihat teman-temannya selalu berjalan cepat dan tergesa. Dan hal paling tidak ia suka bajunya jadi anyir keringat padahal hari masih pagi. Tetapi kata Mama Nef lagi Lesuika tak perlu merasa minder. Berjalan kaki bagus juga untuk tubuh Lesuika yang gampang sekali bertambah gemuk.

“Lesuika!”

Payung ungu dan sepasang sandal jepit Mama Nef menyeberang ke arah sekolah. Saat itu adik bayi tidak terlihat bersama Mama Nef.

“Lesuika,” panggilnya.

Gerimis makin menggila.

“Lesuika, kamu di mana?”

“Cepatlah berlari, Lesuika!” ***

Riau, Mei 2023


Jeli Manalu senang menulis dan berkebun. Ia lahir di Padangsidimpuan pada 2 Oktober, dan saat ini tinggal di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu” tahun 2018 dan “Kucing Penunggu Susteran dan Cerita-cerita Lainnya” tahun 2022.

Cerpen

Gaun Hijau Botol

Cerpen Jeli Manalu

Nirara berdiri tepat di depan sebuah toko, ketika notifikasi WhatsApp membuat getaran dalam saku jaketnya. Ia membuka pesan itu sesaat setelah mengalihkan pandangan dari gaun hijau botol yang dipakai patung berambut ikal, seperti rambutnya. Isi pesan dalam ponselnya, menjelaskan pada hari raya Natal akan datang seorang pastor tamu. Si pembuat pesan, yakni ketua paduan suara, mengatakan tahun ini harus lebih semarak dan meriah dari tahun-tahun sebelumnya. Kelompok paduan suara akan mengenakan baju seragam.

Membaca pesan itu, di mana seruan ketua merupakan keharusan terlebih telah didukung anggota lainnya, harapan Nirara tentang Natal dengan gaun hijau botol yang menggembirakan hati pupus seketika. Mengenakan seragam, membeli baju jadi ataupun menjahitkannya, itu artinya ada pengeluaran tambahan di bulan yang sama. Sementara, sejak gaun hijau botol dipajang pemilik toko, di mana Nirara dapat melihatnya setiap pergi dan pulang bekerja hampir seminggu lamanya, karena telanjur naksir namun belum tiba tanggal gajian, ia membujuk majikannya supaya diberi pinjaman demi menyerahkan sejumlah uang kepada pemilik toko sebagai tanda jadi, sehingga gaun itu tidak dijualkan kepada orang yang barangkali berminat membelinya. Dan sekarang, setelah mendapatkan maklumat penting di hari yang genting, selain tak dapat memiliki gaun hijau botol, kemungkinan kehilangan uang tanda jadi sebagai kompensasi karena membatalkan pesanan turut mengganggu pikirannya. Jika harus mengambil gaun bersamaan dengan baju seragam, itu mustahil lagi. Ia tidak punya cadangan uang. Rekeningnya sudah lama tak ada isi. Bila dulu belanja-belanja perkara gampang, pada kehidupannya sekarang, segala sesuatu terasa sulit.

Belakangan, sebelum tiba masa gajian, ia membuat catatan esktra ketat terhadap nominal yang hendak diterimanya. Sesudah uang di tangan, ia langsung membelanjakannya untuk kebutuhan sebulan penuh, hanya menyisakan kebutuhan lauk-pauk yang dibeli per dua hari. Token listrik, beras, minyak sayur, serta isi ulang gas 3 kilo berlabel “hanya untuk masyarakat miskin.”

Ia bimbang, juga mulai bersedih. Ingatan akan gaun berwarna hijau, yang pernah dibelikan Tona, suaminya pada Natal pertama saat mereka baru berumah tangga, hadir dalam lamunannya.

“Buka dan lihatlah. Nama warnanya, hijau botol,” kata Tona, waktu itu.

Hijau botol. Seperti warna botol kaca muatan 620 ml, tempat bir bergambar bintang. Hijau yang gelap. Atau seperti warna kasula pada masa minggu biasa dalam liturgi—Tona mengatakan itu merupakan warna kesukaannya, juga Nirara.

Lelaki itu mengaku senang ketika Nirara mulai memasukkan kepalanya ke lorong gaun. Saat Nirara merentangkan kedua tangan dan menggerak-gerakkan badan, Nirara merasakan tangan Tona membantu Nirara membetulkan di bagian dada sampai pinggul. Gaun itu kemudian Nirara tahu berbahan katun lembut, namun sedikit tebal. Dalam cermin ia melihat dirinya yang sedang mengenakan gaun berkerah lebar, di mana pada sepertiga bagian ujungnya terdapat lubang-lubang mungil menyerupai gambar hati. Panjang gaun setengah betisnya. Risleting di bagian belakang. Ketika hendak mengenakannya untuk merayakan malam Natal di gereja, Nirara meminta tolong pada Tona supaya mengancingkannya. Tona memegang kepala risleting, tapi ia berkata agak kesulitan melakukannya. Ia menarik ke atas, lalu menurunkannya lagi sebelum benar-benar mencapai puncak, ia bilang resletingnya mungkin perlu diberi lilin sedikit supaya lincah gigitannya.

“Jangan bercanda, nanti kita terlambat,” protes Nirara.

Lama-lama, mereka malah saling mencumbu, sampai-sampai tiba di gereja tepat ketika pastor berkotbah di altar cintanya Tuhan tentang kelahiran bayi Yesus. Dan sebulan setelahnya, Nirara mengandung anak pertama, meski pada usia kehamilan tujuh minggu ia mengalami keguguran.

Di depan toko yang ramai oleh lalu lalang pengunjung, tiba-tiba, penyesalan kecil timbul di dada Nirara. Barangkali, bila tidak terlalu memikirkan prinsip hidup tentang masa depan kesendiriannya apabila sudah ditinggal mati Tona, sejak lama, yakni tidak mau seperti tetangganya yang memilih hidup sepi saja sejak ditinggal mati kekasih hatinya, bisa jadi, Nirara tidak sedilema sekarang ini. Ia tidak perlu menghapus keinginan pribadi atas nama kebersamaan. Sepanjang lima tahun, ia sudah mengikuti segenap aturan tak tertulis di kelompok paduan suara—wujud nyata dari sebuah kekompakan, begitu para anggota menamainya. Menjahitkan kebaya lengkap dengan roknya saat uskup berkunjung. Membeli sepatu pantofel merah ketika ada pertandingan kor antar stasi. Membayar kaos bersablon nama paduan suara saat berwisata rohani ke luar pulau, topi lebar ala perempuan bangsawan Inggris, membayar tiket, membeli syal ungu, membeli celana berwarna sama, bergantian mentraktir bila tiba hari ulang tahun, dan lain-lain dan lain-lain.

Saat itu, tiga minggu setelah Tona tiada, Nirara segera membuat keputusan. Pengurus gereja ditemui, dan berkata jika dirinya berniat menjadi anggota paduan suara. Kehadirannya disambut dengan penuh suka cita. Pertemuan selanjutnya setelah dirinya resmi bergabung, ia mengadakan jamuan makan malam di rumahnya. Bulan-bulan setelahnya ia lalui dalam kebersamaan. Empat kali Natal tak satu pun ia lewati dengan perasaan seorang diri, meski sejak kepergian Tona, hari-hari ia lalui dalam kemerosotan ekonomi.

Ia memang tidak terlalu peduli ketika tak pernah lagi membeli kepiting gendut-gendut untuk dijadikan sup kincung pedas, walau itu sekadar mengenang ulang tahun pernikahannya dengan Tona di masa lalu. Ia mengisi waktu dengan latihan vokal. Tampil di hari Minggu sebagai pemazmur atau pemimpin lagu, juga peserta kor. Menyanyi di pesta pernikahan, hingga upacara kematian. Dan ini mestinya Natal kelima dirinya merupakan bagian dari komunitas itu.

Natal memang belum waktunya walau Desember sudah merayap. Natal masih seminggu lagi, meski orang sudah ramai keluar-masuk toko pakaian, memilih model dan warna yang disuka, mencoba apakah kekecilan atau kebesaran hingga membawanya ke rumah dengan hati senang. Natal memang belum tiba, meski beberapa perempuan paruh baya yang datang tanpa ditemani seseorang, tampak menghadiahi diri mereka dengan satu atau dua pasang baju untuk menghindarkan hati dari nelangsa.

Nirara sebentar berpikir, jangan-jangan si tetangga, yang hidupnya terkesan menyedihkan karena menutup diri dari semua kemungkinan membahagiakan, saat ini justru lebih bersuka cita ketimbang dirinya. Bisa jadi perempuan itu, ada datang membeli gaun kesukaan di toko sama dengan Nirara tanpa diketahui. Perempuan yang selalu menutup pintu, dan tiap sore masih menyeduh dua gelas teh lalu duduk di balkon menatap matahari hingga tenggelam mungkin saja sedang bersenang-senang dengan pikiran serta keinginannya sendiri. Tak perlu merasa terganggu harus mengenakan baju ini atau sepatu itu. Model rambut ini, atau apakah gunanya sebuah topi dan syal, atas nama sebuah kekompakan tanpa peduli apakah perempuan paruh baya seharusnya tak perlu bekerja terlampau keras setelah ditinggal mati pasangan hidupnya demi itu semua.

“Apa gaunnya akan diambil sekarang?” tanya pemilik toko, sewaktu Nirara melangkah ragu-ragu di antara kerumunan di mulut pintu, dan matanya terpaku pada gaun hijau botol dikenakan patung berambut ikal, seperti rambut miliknya yang tak ingin ia ubah, meski teman-teman di paduan suara beberapa sudah meluruskan serta mewarnai rambut mereka untuk persiapan Natal meriah bersama pastor tamu.

“Banyak orang menanyai gaun ini. Tapi sepertinya, hanya kaulah yang beruntung mendapatkannya,” kata pemilik toko lagi.

Nirara berusaha tersenyum, belum tahu harus menjawab apa. Ia tentu mengerti perasaan pemilik toko, mengharapkan supaya barang dagangannya cepat habis, sehingga dapat menuntaskan keinginan pribadi menjelang Natal. Sejak dirinya hanya berdiri sesudah membaca maklumat penting dari ketua paduan suara, ia sesekali memperhatikan bila si pemilik toko menawarkan pakaian dengan warna atau corak berbeda ketika pengunjung ingin mencoba gaun pilihannya.

“Aku akan membungkusnya sekarang,” ujar pemilik toko, ia memiringkan tubuh patung supaya lebih mudah melepas gaun.

“Tapi aku belum punya uang. Maksudku, aku gajian tiga hari lagi.” Nirara mencoba berkelit.  

Pemilik toko melongo. Wajahnya tidak menunjukkan kesan marah, pun tak tampak bersedih. Dan Nirara, hanya berdiri saja menyaksikan pintu toko mulai ditutup, hari sudah sangat malam. Keesokan hari saat akan berangkat dan pulang bekerja, Nirara tak pernah lagi melihat toko itu buka. Begitu pula hari kedua dan ketiga seperti dijanjikannya, pun hari-hari berikutnya.

Nirara mengaktifkan ponselnya, dan mencoba menghubungi nomor yang tertera di pelat nama toko. Menunggu teleponnya diangkat pemilik nomor, Nirara menggeser-geser layar ponselnya. Ia buka galeri, mencari foto dirinya mengenakan gaun hijau botol, ketika sempat mencobanya di ruang ganti saat pertama kali datang ke toko.

Si pemilik nomor belum juga mengangkat telepon dari Nirara. Nirara mencoba menghubungi sekali lagi, sambil jarinya terus mencari foto gaun hijau botol di galeri ponsel. Saat bersamaan, lonceng gereja terdengar liris di tempat jauh. Malam pukul 19.00. Natal bersama pastor tamu, barangkali sudah dimulai.***

Riau, Desember 2021


Jeli Manalu, senang menulis dan berkebun. Ia lahir di Padangsidimpuan pada 2 Oktober dan saat ini tinggal di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu” tahun 2018.

Cerpen

Kepiting Merah

Cerpen Jeli Manalu

Tirai awalnya ragu-ragu dan sempat menolak ajakan berlibur ke pantai dari Lumut, suaminya, tepat di ulang tahun pernikahan mereka kedua puluh. Saat itu, Tirai berkata, bila pada bulan September, badai yang tak selalu disertai hujan suka datang seperti sebuah kejutan.  

“Ketinggian ombak bisa mencapai empat meter,” katanya.

Tirai juga sempat menunjukkan satu berita media daring melalui layar ponselnya. Saat bersamaan, sembari masih memikirkan tentang ombak yang bisa datang tiba-tiba itu, sisi lain dirinya perlahan membayangkan bagaimana seandainya ketika berlibur di pantai nanti ada seekor kepiting merah muncul dari dasar lautan menghampiri dirinya—pastilah itu akan jadi peristiwa menyenangkan. Dalam pikirannya yang mulai berharap itu, ia membiarkan dirinya merasakan kaki-kaki si kepiting dari punggung tangan bergerak terus ke kedua paha telanjangnya, dan ia, sudah sangat lama memimpikannya. Cuaca ekstrem, atau, menunda bermain-main dengan kepiting karena mencemaskan situasi yang bahkan belum tentu terjadi? Dan bagaimana bila ini juga merupakan momen terakhirnya bersama Lumut. Lumut lebih tua darinya. Selisih lima belas tahun. Dan Tirai percaya, orang yang lebih tua pastilah lebih dulu matinya.

“O-ok,” jawab Tirai, kemudian—ia benar-benar sudah mengenyahkan pikiran buruk tentang cuaca. Kelak bila tiba masa kesendiriannya, ia tak lagi dihantui perasaan bersalah sebab selalu teringat tidak memenuhi pemintaan terakhir Lumut, yaitu berlibur ke pantai tepat di ulang tahun pernikahan mereka kedua puluh.

Selain itu, ia juga tidak ingin seperti Nuna. Lansia pemurung, tetangganya, yang hatinya direnggut sepi serta kehilangan api hidup akibat ditinggal mati suami. Membiarkan rambut lurus dan lebatnya menjadi kusut berpilin, juga rontok. Pada baju hitamnya, yang sudah lama tidak diganti, tampak bintik-bintik ketombe. Satu gigi depannya pun dibiarkan rompal tak dipasang yang baru. Tirai tidak mau seperti Nuna. Ia ingin masa depan kesendiriannya nanti berjalan sempurna. Ia sudah punya konsep tentang itu.

Sesudah mendengar kata ya dari Tirai, tentang istrinya itu tidak lagi ragu untuk menerima ajakannya berlibur ke pantai di ulang tahun pernikahan mereka kedua puluh, Lumut bergegas ke mobilnya. Kado yang sudah dipersiapkan ia sembunyikan ke bagasi. Ia berencana memberikannya nanti dengan cara membuka kotak kado, lalu menuntun isinya bergerak-gerak ke arah Tirai. Dan ia akan membiarkan Tirai merasa kado itu—seekor kepiting—datangnya dari kedalaman laut. Sebab ia tahu, istrinya menyukai momen bertemu kepiting ketika berlibur ke pantai.

Warna laut sama dengan langit ketika mereka tiba di sana. Biru, kesukaan Tirai. Hempasan angin juga tidak terlalu keras seperti pemberitaan media daring bulan September. Tak jauh dari tempat Tirai berdiri ia melihat para remaja membuat pola di atas pasir. Gambar manusia. Lelaki dan perempuan. Di sebelah gambar itu mereka buat gambar satu lagi. Lelaki berlari ke arah pepohonan yang ranting-rantingnya melambai. Si perempuan mengangkat ujung gaunnya hingga setinggi paha dan dengan rambut diterjang badai mengikuti serpihan ombak pulang ke tengah laut.

Tirai belum melepas sweter panjangnya sewaktu menyaksikan gambar-gambar itu dibuat para remaja. Dan tak lama setelahnya, ia berdecak kagum pada ombak yang bergerak ke luar. Ombak yang ia lihat kali itu datangnya serupa gorden berwarna cokelat susu serta berumbai. Saat gorden menghadang gambar buatan para remaja, serempak mereka berseru. Sedangkan Tirai melangkah mundur karena gugup, dan sekali lagi, ia memang sudah begitu lama tidak pernah ke pantai.

“Tidak apa-apa!” teriak Lumut dari titik yang tidak terlampau jauh, untuk menenangkan hati Tirai.

“Hei, aku bahkan menyukainya,” balas Tirai, ia tidak ingin terlihat ketakutan sedikit pun. Ia juga berbicara keras-keras agar suaranya tak habis ditelan angin.

Kemudian ia memperhatikan Lumut yang sedang tidur-tiduran. Lelaki ini memang sungguh sudah tua, batinnya. Lengan Lumut bergelambir. Pipinya melorot. Uban, kerutan, juga bercak-bercak kehitaman pada kulit. Tirai membayangkan hari-hari pertama ketika nanti ditinggal mati lelaki itu. Ia mungkin masih menyeduh teh sebanyak dua cangkir—sebuah kebiasaan yang tak mungkin lepas dalam sekejap. Bila terjadi demikian, pada hari berikutnya ia akan mengganti jenis minumannya menjadi air kelapa muda campur krim kental manis, minuman yang sering ia nikmati sebelum menikah dulu. Hal lain, seandainya ia pergi ke pasar lalu pedagang langganan menyadari ada yang kurang kemudian membuka obrolan: tumben sendirian—biasanya diantar suami—ia juga mesti mengubah kebiasaan. Yaitu, mulai mencoba berbelanja di tempat baru. Pagi hari juga ia akan mengganti rutinitas, dari membaca berita media daring menjadi joging. Joging dengan rambut dikucir tinggi seperti gadis remaja. Sepatu merah muda. Beha berbusa, yang membuat payudara tampak montok.

Setelah sendiri nanti ia tidak mau rapuh serta kehilangan hasrat hidup. Ia justru semakin aktif berkegiatan. Belajar bermain TikTok dengan anak-anak muda di kompleks tempat tinggalnya. Ikut membahas herbal awet muda di komunitas ibu-ibu. Juga ikut bergosip-gosip kecil untuk mempererat tali persahabatan khas perempuan. Janda atau duda mana yang baru menikah lagi. Siapa baru ditinggal pasangan namun sudah punya pacar untuk diajak ke pantai.

Tepatnya, Tirai tidak mau seperti Nuna. Selain tak mengurus tubuh, Nuna juga membiarkan rumah layaknya tak berpenghuni. Tumpahan bubur nasi terakhir suaminya di taplak meja berwarna burgundi dibiarkan mengerak. Setiap sore duduk di balkon, tempat favorit ia dan suaminya biasa memandang matahari terbenam ditemani dua gelas teh ungu dari seduhan kembang telang yang diberi perasan lemon, dan ia tak merasa risih ketika salah satunya hanya dicicipi semut. Bila nanti Lumut sungguh telah tiada, Tirai tidak mau seperti tetangganya itu.

Ia bisa saja mencari keberadaan Frater, mantan kekasihnya. Bila bertemu, ia akan mengajaknya menikmati air kelapa muda ditambah krim kental manis. Dan saat itu, mungkin ia boleh bertanya: apa kamu pernah punya kekasih lagi setelah hubungan kita berakhir waktu itu, di tepi pantai, yang biru, dan sejak itu, aku kehilangan kepiting gendut dan sedikit genit?

Sejak berpisah, Tirai dengan Frater memang tak sekalipun pernah berjumpa lagi. Dulu, sekitar tujuh bulan menjadi kekasih Frater, setiap minggunya, Tirai pasti memasak kepiting. Dan kepiting-kepiting yang akan dimasak itu selalu Tirai pesan kepada Lumut.

Lumut waktu itu berprofesi sebagai pedagang seafood. Kepiting-kepiting yang Tirai beli akan dijadikan sup dengan tambahan bumbu kincung yang tinggal dipetik saja di belakang rumahnya. Jika hujan datang disertai angin sehingga Tirai malas keluar rumah, ia tinggal menelepon Lumut. Tak perlu menunggu lama, Lumut sudah berdiri di depan rumah Tirai dengan sekresek kepiting gendut-gendut, serta masih lincah menjelajahi celemek yang dikenakan Tirai. Hingga suatu hari ketika sebulan penuh Tirai tak ada kabar lalu di hati Lumut tumbuh sepotong rasa kangen, tiba-tiba, Tirai datang menemuinya, dan bertanya apakah Lumut mau jadi pacar Tirai. Tirai bercerita bila dirinya dengan Frater sudah putus. Frater masuk biara lagi supaya tiga tahun berikutnya bisa menjadi pastor. Kau tidak bersedih, tanya Lumut, sekadar memastikan. Waktu itu Tirai menjawab tidak terlalu. Ia tahu Lumut menyukai dirinya sejak lama, dan yakin lelaki itu pasti berusaha menghangatkan hatinya.

“Tirai, kemarilah,” teriak Lumut. Ia sudah tak sabar untuk membuka kado supaya Tirai segera menghampirinya.

Tirai berlari datang, dan segera melepas sweter panjangnya. Sebelum berbaring di samping Lumut dan menerima ciuman lelaki itu, sebentar ia memandanginya. Lengan, pipi, uban, dan bercak-bercak kehitaman pada kulit Lumut kian kentara. Ketika rasa sedih sedikit menyusup ke hati Tirai, ia cepat-cepat menghempaskannya. Kemudian memusatkan pikiran pada rancangan masa depan kesendiriannya.

“Kepiting merah!” teriak Tirai. Refleks bibirnya lepas dari bibir Lumut. Sedangkan angin bertiup kencang menerbangkan rambutnya. Juga botol-botol air mineral mereka yang sudah kosong terombang-ambing dalam pelukan arus ombak.

Seekor kepiting hitam kemerahan namun Tirai menganggapnya berwarna merah. Kepiting itu ia biarkan menggapai-gapai punggung tangannya, lalu bergerak miring melampaui kedua pahanya yang telanjang.

Para remaja yang menggambar dua manusia di atas pasir sudah tak ada. Hati Tirai sempat bertanya ke mana mereka pergi, tapi buru-buru ia tebak sendiri jawabannya. Mungkin mereka sudah puas bermain di pantai lalu lapar dan pulang. Atau mereka mendapat telepon bahwa nenek-kakek mereka baru saja mengembuskan napas terakhirnya.

Tirai memandangi laut lagi, dan untuk kesekian kali ia melihat gelombang air serupa gorden berwarna cokelat susu serta berumbai, megah, dan tingginya mencapai empat meter atau lebih ia tidak tahu persisnya.  

“Ya Tuhan, mestinya kita membawa keranjang tadi!” Tirai berteriak takjub tidak hanya mendapatkan seekor kepiting merah tapi juga menyaksikan ikan-ikan seolah menyerahkan diri.

Ia lalu membentangkan sweter panjangnya dan meletakkan kepiting di sana. Karena begitu asyik menangkapi ikan-ikan ia tak menyadari badai angin tak disertai hujan sudah menghempas-hempaskan bulan September, bulan ulang tahun pernikahan mereka.

Ia juga tak mendengar teriakan Lumut yang sudah semakin jauh meninggalkan bibir pantai. Ia, sekarang menuju kedalaman laut mengejar kepiting merah yang meninggalkan sweternya.****

Riau, April 2021


Jeli Manalu, senang menulis dan berkebun. Ia lahir di Padangsidimpuan pada 2 Oktober, dan saat ini tinggal di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu” tahun 2018.

Cerpen

Sebuah Titipan yang Hanya Darimu

Cerpen Jeli Manalu

Sebuah titipan yang hanya darimu itu menjadi hantu di ingatanku. Waktu itu, kedatanganku ke kota ini di samping bekerja, ialah mencarimu yang mendadak hilang di pagi Jumat pada bulan Januari. Pakaianmu tak ada lagi di kamar. Sepatu, jaket, atau apa saja yang berhubungan denganmu, bahkan tak sebiji pesan kau tinggalkan sebagai isyarat yang barangkali dapat kuterjemahkan meski butuh beratus-ratus malam lamanya.

Kita hanya menguping pada pertengkaran menegangkan dari kamar ayah dan ibu. Kau sering bolos sekolah. Sementara orangtua kita menginginkanmu jadi sarjana. Kau terlalu sibuk main musik dengan anak-anak se-komunitasmu. Kau pun sudah tak pernah lagi jadi muazin di masjid kampung kita, padahal, kau tahu, dada ibu selalu berdebar setiap kali mendengar dan merasakan seruan yang kau kumandangkan dengan syahdu dan tartil itu. Tak jarang ia berlinang air mata, mengusap pipi dengan tangan penuh tanah, kemudian pura-pura berkata: mataku sangat gatal, sepertinya kena serangga.

Ayah cuma kuli bangunan. Sesekali jika orang-orang desa ada rezeki ayah akan mendapat ‘uang terima kasih’ yang diberikan secara suka rela atas anak-anak yang telah diajari mengaji. Sedang ibu, hari-harinya bergumul dengan cangkul, tanah, pupuk, pestisida, hama, musim kemarau atau hujan. Ibu akan menanam kol, bergantian dengan sawi, setelah itu seledri, kadang selada dan juga cabai. Kalau tomat tidak pernah lagi, kata ibu kelewat rumit mengurusnya. Manja sekali. Harus disayang-sayang seperti kita waktu bayi. Namun begitu, mereka berdua tetap mengupayakan kita agar jadi orang sukses.

Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan besar padahal perusahaan itu merupakan mimpi. Mimpi orang-orang agar bisa masuk ke dalamnya. Berawal dari peristiwa tak sengaja ketika aku masih jadi babu di satu rumah makan mewah. Suatu hari ketika mengemasi biji-biji nasi dan mengelap ceceran gula di meja nomor tiga puluh tiga, ada jam tangan hitam memandangi mataku. Kulihat ke arah lelaki yang baru lesap dengan mobil yang sama warnanya dengan bajuku. Untung lampu merah. Kuketok-ketok mobil itu. Lelaki itu menurunkan kaca mobilnya. Angka di atas kepala kami masih dua puluh. Kami bercakap-cakap sebentar. Ia menyodorkan uang bergambar Sukarno. Aku menolaknya. Ia memaksaku. Aku menolak lagi. Senang berkenalan denganmu, katanya, yang memberiku alamat kantornya. Aku malah tersanjung hingga tak sadar kalau bunyi klakson di belakangku sudah marah-marah.

Dua malam berikutnya lelaki itu mengunjungiku. Entah bagaimana ia tahu tempat tinggalku. Aku menyilakannya duduk. Kami bertanya-jawab mengenai diri kami. Percakapan kami seru. Aku dan ia sama-sama orang Sumatera, dan di tiap perbincangan aku menyebut diriku padanya dengan kata ‘saya’, bukan ‘aku’—sebuah kesan bahwa kami baru berkenalan atau bila seseorang kurasa lumayan berwibawa.

“Buatkan aku kopi, seperti yang sering kamu buat itu.”

“Saya tak suka kopi, Pak.”

“Ya?”

“Maksud saya, saya tidak menyediakan kopi di dapur.”

Mata kami berada di garis sama. Tetap di garis yang sama untuk beberapa saat lamanya. Aku gugup, ia justru senyum. Senyumannya ganteng dan aku suka melihatnya. Setelah itu ia tertawa keras sekali.

“Sepertinya kamu sudah sangat lama tidak tertawa,” katanya, “kalau begitu temani aku minum kopi.”

“Saya?”

“Kamu tidak mau?”

“Bu-bukan, bukan begitu.”

“Aku orang baik-baik kok. Ndak penculik kayak di koran-koran,” katanya seolah bicara pada anak kecil, dan aku menahan senyum agar tak terlampau lebar.

Segera aku ke kamar. Hampir seisi lemari kukeluarkan. Hitam, kuning, hijau, merah, ungu, putih, bunga-bunga, um, tiba-tiba, aku merasa baju-bajuku itu jelek semua. Padahal baju-baju itu masih terawat. Modelnya juga tidak kampungan.

“Tidak usah cantik-cantik, nanti aku naksir,” katanya, melalui handphone.

Detak jantungku menjadi aneh. Serasa ada mengamatinya, serasa ada yang datang perlahan-perlahan. Aku mengepal kedua tangan di bawah dagu. Dingin. Dingin yang menjalar, maka aku cepat-cepat keluar dan menutup pintu kamar dan menemui tamuku itu.

“Kamu sudah pernah berkeliling Jakarta?” tanyanya saat mobil mulai melaju, dan angin sempat menerbangkan rambutku ke lengannya sebelum ia menaikkan kaca di sebelah pipi kiriku.

Lima jam aku dengannya. Mulai dari minum kopi, makan makanan enak, diajak ke bioskop, juga, aku dibelikan gaun di gedung yang sangat mewah, di mana pelayan-pelayan di tokonya sangat ramah. Ada sepuluh baju kucoba. Tapi aku hanya mengambil dua, itu pun karena dipaksa. Jika tidak, aku cuma berani membawa pulang satu.

Sesampai di rumah aku mendapat telepon dari Sumatera, “Sudah empat tahun kau di Jakarta, apa sudah menemukannya?” terdengar suara serak ibu. Kubayangkan ia layu. Mata cekung, kening keriput, pipi kurus, mungkin ia hanya akan makan bila dibujuk-bujuk ayah. Pokoknya kau harus bawa pulang abangmu, kata ibu sembari menyelipkan gambarmu dulu, ketika mengantarkanku ke terminal beberapa tahun lalu.

Fotomu itu foto SD. Foto SMP belum ada, tapi mungkin saja ada namun entah di mana kau meletakkannya. Jadi yang ada dalam bayanganku hanyalah wajah terakhirmu bersamaku: wajah remajamu, walau kini usiamu tiga puluh lima. Tiga puluh lima yang matang dan tak bisa kutebak seperti apa gaya rambutmu. Apakah gondrong, botak, mungkin kau berkacamata atau bisa juga kau gemuk atau malah kurus?

**

Aku terbangun karena kedinginan. Tadinya kupikir hanya sedang mimpi latihan renang lalu sempat megap-megap. Ternyata atap kontrakanku sudah bocor dan aku jadi repot sekali karenanya. Lelaki itu datang menjemputku. Mungkin sebelumnya berkali-kali ia menelepon. Handphone-ku mati. Baterainya kosong, tak sempat kuisi sebelum listrik padam total dan perangkat televisiku disambar petir.

“Kamu seperti adikku saja. Sukanya main hujan.”

“Ya?” ujarku, menatapnya, kemudian menatap diriku yang serba basah.

“Kamu mengingatkanku pada masa kecilku.”

“Apa?”

“Kamu sungguh suka bermain hujan?”

“Bapak meledekku?”

“O-o, bukan.”

“Lalu?”

Ia diam melihatiku yang mulai serius. Kupandangi dirinya, seharusnya aku tak bertemu dengannya. Lelaki seperti dirinya terlalu jauh sempurna untuk orang sepertiku. Ia mapan, rupawan, baik dan banyak lagi. Pasti banyak perempuan tergila-gila padanya. Bagianku cuma: mencintai, selamanya hanya boleh dalam hati.

Ia lihat-lihat kontrakanku. Dindingnya, jendelanya, semuanya. Lalu aku tertawa kuat-kuat persis ketika ia tertawa kali pertama datang ke rumahku waktu itu. Kau tahu, ia itu sinting. Masa sudah tahu licin lantai tapi tetap pula mengenakan sepatu sambil berjingkat-jingkat. Terjatuhlah ia. Kau penasaran bagaimana ia jatuh? Ia tidak jadi jatuh, sih. Aku dengan gesit menarik kemejanya hingga terdengar bunyi krek!

**

Empat bulan kemudian selepas kami melewati ciuman-ciuman kesekian, aku pulang ke kampung halaman. Aku harus mengabarkan berita bahagia yang telah membuatku tidak bisa tidur dan tak henti untuk berpikir. Semoga ibu dan ayah menyukainya. Amin.

Kubawa ibu dan ayah mengunjungi Jakarta, hitung-hitung rekreasi. Ke mall. Makan kentucky, hamburger, pizza, hotdog, ice cream, mengajarinya naik eskalator ataupun lift, dan tak lupa membeli baju-baju bagus. Ini monas, itu ancol, yang sana taman mini, itu istana negara. Aku mengajak mereka keliling-keliling. Kadang aku bohong soal harga. Jika lima puluh ribu, kukatakan saja lima ribu agar mereka tidak enggan. Di kesempatan lain kujelaskan kalau gaji kerjaku lumayan besar. Aku menghambur-hamburkan isi dompet dan beberapa kali masuk ATM—rasanya belum pernah aku sekaya itu.

“Sudah kau dapat kabar abangmu?”

“Kita turun dulu, Bu. Aku mau ganti baju,” kataku, mengalihkan pertanyaan ibu.

“Ini rumahmu?”

“Kontrakanku.”

Bukan seperti sebelum-sebelumnya ketika akan berjumpa dengan lelaki itu ada saja yang kucemaskan. Jerawat, komedo, alis berantakan, kulit kasar, bibir tak segar, kuku yang tak lagi rapi. Tapi hari ini aku tak peduli. Kebahagiaan ibulah yang utama. Kebahagiaan ayah. Kebahagiaan keluargaku.

Kuingat tahun-tahun pertama menempati kontrakan. Jiwaku serasa sudah lekat di situ. Belum pernah aku celaka, walau kutahu kota Jakarta adalah kota yang rawan untuk kita diganggu kejahatan. Kusentuh mawar dan juga lili. Kusirami mereka. Seekor kumbang terbang jauh sekali. Kutulis surat untuk paman pemilik kontrakan: kuncinya kutitip tetangga.

“Ini rumah siapa lagi? Cantik sekali!” pekik ibu.

“Rumah bosmu?” sambung ayah.

Aku menatap mata ayah dan menelepon setelahnya. Sepuluh menit dalam kecemasan mobil warna tembaga masuk pekarangan. Aku mengatur diriku, tak boleh terlihat membingungkan di hadapan orangtua kita. Kugenggam tangan keduanya. Aku berdiri di tengah-tengah menyongsong sosok yang hampir tiba. Bang Darus berjalan kaku ke arah kami. Ia gugup melihatku yang juga gugup.

“Sarah?”

Aku mengangguk. Dadaku penuh, hanya mampu menatap sepasang sepatumu dan sepatuku—sebab saat itu, dua hati telah remuk dan tak bisa berbuat apa-apa. Kita berempat saling merangkul. Ibu senang. Ayah bersinar-sinar wajahya. Sedang pada hari cerah itu air mataku tak karu-karuan banyaknya, seperti hujan badai yang memporak-porandakan sebuah bangunan. Ingatan, terkadang memang tak bisa dijinakkan. Sore ini di tengah-tengah ramainya orang pacaran, kupikirkan lagi embusan napasmu yang pada suatu malam tepat di hidungku, disusul akan bayangan bila dulu bibirmu itu pernah menitipkan sesuatu di bibirku. **

Riau, September 2016-2019


Jeli Manalu,  lahir di Padangsidimpuan, 2 oktober 1983. Tinggal di Rengat-Riau. Buku kumcer terbarunya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu”.

Cerpen

Tentang Nurli, Jitu dan Ulira

Cerpen Jeli Manalu

Sesaat setelah bangun, Ulira mencari pensil dan kertas kosong yang lepas dari pelukannya waktu tidur. Ia lalu berpejam sebagaimana sering diajarkan Nurli: bila kau merindukan seseorang, tutup matamu dan pikirkanlah ia. Maka, hal menelusuk ke pikiran Ulira kali ini: perempuan berambut pendek dengan poni diacak-acak angin muncul dari balik gedung tinggi. Pakai rok kotak-kotak setengah betis—koyak di bagian tengah sampai lewat lutut. Gincunya merah sekali, basah seperti habis makan bihun goreng yang kebanyakan minyak. Pedagang gulali lewat dari samping. Gadis kecil menarik-narik tangan perempuan bersamanya. Itu membuat lidahmu sakit, kata si perempuan. Aku ingin lidahku merah: gadis kecil kemudian senang memegangi awan merah muda diberi tangkai sekaligus takjub pada awan yang ternyata dapat juga dijilat. Namun, walau sudah berkali-kali mencoba memejamkan mata, di kamar berdinding ungu itu Ulira tetap tak tahu seperti apa sorot mata perempuan berambut pendek dalam pikirannya.

Ulira tentu paham akan sorot mata. Mata Nurli bulat melotot saat Ulira memain-mainkan bawang dalam busa deterjen. Mata Nurli tertutup lebih dari separuh saat matahari di langit terlalu silau. Mata Nurli hidup saat Ulira sudah pandai merapikan piring sendiri kemudian menyabun hingga meletakkannya di rak. Mata Nurli cemas saat suatu pagi Ulira batuk pilek dan tak mau sarapan.

Lalu, seperti apa sorot mata perempuan berambut pendek yang datang ke pikiran Ulira agar segera mewujud dalam kertas kosong di depannya? Apakah seperti telur mata sapi setengah matang yang diletakkan kurang hati-hati di atas bihun goreng sehingga bagian kuningnya retak, apa seperti bola lampu warna merah berkedip pelan lalu tak pernah menyala lagi, atau, perempuan itu kemungkinan sebangsa serangga yang terkadang matanya tidak tahu entah di mana jadi tak perlu dibuatkan sepasang mata pada gambar itu?

Ulira tidak menangis meski perasaannya bingung sekali. Anak hebat tak ada menangis, nasihat Nurli selalu. Ulira menurut. Ulira patuh pada setiap perkataan Nurli. Hanya saja, Sabtu malam kemarin, Ulira pergi ke gereja bersama Nurli. Baru sebentar duduk bersama, Ulira meminta izin agar dibolehkan duduk dekat temannya yang bernama Sere di barisan bangku kanan paling belakang.

Setiap ke gereja agar Sere tidak rewel, orangtua Sere selalu membawa sekresek camilan. Coklat, permen, wafer. Orangtua Sere membagi-bagi cemilan satu per orang untuk anak-anak di sekitarnya termasuk pula Ulira sambil bilang makannya jangan berisik, ya? Gadis-gadis kecil itu mengangguk. Tak lama setelahnya, Sere mencakar wajah Ulira. Bekas kuku Sere tampak di tulang hidung Ulira dan sebagian nyaris mengenai matanya. Dari bekas cakar itu darah keluar sedikit, dan saat itulah Ulira membekap mulutnya dengan renda-renda baju. Air matanya berjatuhan cepat sekali. Suaranya tertahan-tahan di kerongkongan karena Nurli bilang anak hebat tak penangis. Tapi air mata Ulira kian deras menyaksikan Sere menyembunyi di ketiak orangtua Sere sambil mengejeknya dengan kata-kata, “Ini mama-ku. Mama-ku. Sana kau sama mama kau.”

Sere mencakar wajah Ulira karena cemburu. Sere tak suka melihat Ulira ikut disayang orangtua Sere. Waktu itu Ulira duduk di paha orangtua Sere, sedangkan Sere disuruh orangtuanya memungut makanan di lantai sesaat terlepas dari mulut. Lalu karena sudah diusir, Ulira pergi meninggalkan Sere.

Mata Ulira belum kering saat kembali duduk di sisi Nurli. Sambil memegang rok hitam Nurli, Ulira bertanya, “Mama itu apa, Nek?”

Melihat orang di sebelah menoleh ke arah mereka, Nurli cepat-cepat mencangklong tas, membawa Ulira ke mulut pintu padahal ibadah belum selesai—orang-orang masih memejamkan mata dan merunutkan segala permohonan, termasuk memikirkan orang yang barangkali sedang sangat mereka rindukan.

“Nek, mama itu apa?” tanya Ulira sekali lagi. Nurli tak menjawab. Nurli memegang kuat-kuat tangan Ulira sambil menuruni anak tangga, berjalan ke halte, memandangi sebentar lukisan perempuan di bagian bak belakang sebuah truk, lalu masuk ke angkot warna biru pudar yang berhenti tepat di depannya.

Esok harinya, foto perempuan berambut pendek memangku bayi berbandana putih yang kerap dipandangi Ulira tak ada lagi di dinding kamar. Ia dimasukkan Nurli ke kresek bekas kemudian dilemparkan. Tukang sampah menemukannya lalu melepas piguranya, sedangkan foto si perempuan yang tampak sensual dipisahkan dari foto si bayi mengunakan gunting, kemudian menempelkannya di dinding kamar sebagai upaya mengatasi kesepian.

Perempuan berambut pendek yang orang-orang memanggilnya Jitu, awalnya jatuh cinta ke lelaki berambut rasta dengan kulit serupa bubuk kopi, lelaki yang hanya muncul tiga bulan sekali dan singgah beberapa hari saja sampai kapal kembali berlayar. “Jangan pernah tertarik dengan lelaki itu,” pesan Nurli suatu hari. “Kau tahu, orang-orang macam mereka cuma mau enaknya saja. Kau mungkin terlena dengan ciumannya. Setelah ‘barang’ kau ia dapat, kau tak akan menemukannya lagi di belahan bumi mana pun.”

Karena tak kunjung bisa dinasihati, melalui paroki (1), Nurli mengirim Jitu ke biara. Jitu hanya enam bulan bertahan. Ia kabur ketika diminta menemani kepala koki berbelanja ke pasar, di mana waktu itu dirinya satu-satunya perempuan yang bisa menyetir sedangkan sopir yang biasa bekerja di sana mengambil cuti. Jitu bahkan membawa mobil hingga berpuluh-puluh kilo meter jauhnya.

Oleh polisi, mobil ditemukan di tepi hutan basah yang sepi—kemungkinan Jitu menumpang bus lewat karena saat ditemukan kunci mobil dalam posisi hidup meski mesin mobil mati akibat kehabisan bahan bakar. Hingga suatu sore yang udaranya begitu pengap, seseorang mengaku melihat Jitu di dermaga. Nurli membantah. Nurli sikukuh menyebut Jitu sudah lama pergi sebagai perempuan baik-baik.

Bila kau tak percaya, ayo kutunjukkan, kata seseorang itu. Nurli terkaget-kaget. Nurli tak percaya melihat Jitu saling tukar rokok dengan lelaki yang bukan berambut rasta serta berkulit bubuk kopi, melainkan kali ini bersama lelaki botak licin. Hidungnya bangir. Matanya cenderung putih. Nurli ingin muntah menyaksikan Jitu menggigit rahang si lelaki. “Ia tidak akan pernah jadi perempuan baik-baik. Buah apa yang jatuhnya jauh dari si pohon?” bisik seseorang itu ke telinga Nurli dengan nada yang sangat tenang, ditambah tatapan menelanjangi tentang siapa diri Nurli di masa lalu.

Nurli merupakan kekasih dari seorang padri bernama: Pet-Peet-Pet-trus? Seseorang itu sangat bernafsu mengatakannya. “Dan kau biarawati suci tak bernoda? Lalu saking cintamu padanya, kau rela menanggung sendiri, keluar dari biara dengan alasan klise padahal di dalam perutmu hidup seekor kecebong, dan Pet-Peet-Pet-rus bebas melenggang, melanjutkan pendidikannya ke Roma atas ilmu agama yang membuatnya gila itu. Hapus air matamu. Hapus karena tak lama lagi mungkin kau akan jadi nenek. Kau akan punya cucu—hihihi,” ejek seseorang itu dengan nada merasa puas, karena sewaktu muda dulu, kecantikan Nurli selalu jadi momok tiap kali ia menyukai lelaki. 

Tak lama setelahnya terjadilah kata-kata itu. Perut Jitu membesar. Jitu hamil entah dari benih siapa, karena saat ditanya Jitu mengaku tidak tahu. Jitu tentu telah tidur dengan banyak lelaki di penginapan-penginapan sekitar dermaga. Sebulan sesudah Jitu melahirkan, Jitu sempat menjadi perempuan baik-baik. Ia bekerja selama satu setengah tahun. Berhenti saat mulai merasa bosan. Orang-orang mengabarkan ia menaiki kapal besar yang berlayar dari negara satu ke negara lainnya. Maka sejak itu, sampai Ulira berusia lima tahun, tak pernah lagi ada kabar tentang perempuan berambut pendek dengan bibir merah basah yang terkesan seperti habis makan bihun goreng di mana saat menumis bawang minyaknya kebanyakan.

Di depan Ulira sebuah gambar kini sudah jadi. Gambar perempuan berambut pendek dengan poni diacak-acak angin. Roknya kotak-kotak setengah betis dan koyak sampai lewat lutut. Gincunya merah sekali. Perempuan itu tak ada mata, karena mungkin sebangsa serangga yang letak matanya entah di mana, atau mungkin memang sungguhan tak ada, sehingga kalau ada bagaimana mungkin ia melupakan Ulira?

Ulira lalu berdiri di tepi jalan sembari memegangi gambar yang dibuatnya itu. Orang-orang berbisik waktu Ulira semringah. Ulira tetap memampangkan gambar perempuan berambut pendek yang tadi dijumpainya dalam pikiran. Saat angin kencang memainkan rambut Ulira dan dari balik gedung pedagang gulali membunyi-bunyikan sepedanya, saat itulah gambar di tangan Ulira lepas. Gambar terbang ke jalanan. Gambar digilas truk lewat yang di bagian bak belakangnya terdapat lukisan perempuan berambut pendek. ***

Riau, Maret 2019

Cat: (1) Paroki: kawasan penggembalaan umat Katolik yang dikepalai oleh pastor


Jeli Manalu, lahir di Padangsidimpuan, 2 Oktober 1983. Ia saat ini mukim di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu.”

Cerpen

Cinta Dalam Bus Antar Provinsi

Cerpen Jeli Manalu

Peristiwa itu sudah dua puluh satu hari yang lalu. Di sebuah tebing, seunit bus besar tiba-tiba mematahkan pepohonan di sana. Bangau putih mengepak-ngepakkan sayap, ikan hasil tangkapannya menyemplung ke dasar. Hewan kecil seperti semut, ulat, belalang, nyamuk, lalat hutan ikut kaget. Sebutir air mata pecah, luruh ke pori-pori tanah yang di sananya akar anak rumput menunggu tumbuh.

Sehari sebelum kejadian itu ia berjumpa denganmu di terminal. Wajahnya sayu, baru pulang dari suatu tempat yang kau sendiri tidak bisa menduganya, tapi kau tiba-tiba saja merasa harus peduli terhadapnya.

“Aku sangat mudah mabuk. Bisakah kau memberiku bangku paling depan dan kalau bisa dekat jendela?” kau mendengarnya berdebat dengan penjual tiket meski intinya ia sedang memohon.

“Sudah ada di bangku itu. Yang tersisa hanya nomor ….” penjual tiket kau lihat mencari-cari di catatannya.

“Bagaimana dengan tiga?”

Penjual tiket masih memeriksa catatan untuk memastikan namun wanita calon penumpang memotong lagi, “Lima? Delapan?”

“Tinggal nomor dua puluh dan selanjutnya.”

“Sudah kubilang aku mudah mabuk.”

Kau yang melihat muram wajahnya dari dalam dirimu timbul semacam dorongan untuk melindungi dan bahkan merasa perlu menyayanginya saat itu juga. Sembari memikirkan entah apa ia melihat ke arahmu sebentar, dan saat itulah kau seakan tak percaya kalau ternyata ada saja mata orang dewasa semirip mata kanak-kanak. Jernih. Masih bisa diwarnai. Masih bisa dilukiskan sesuatu ke dalamnya, dan kau coba mengingat-ingat bagaimana caranya melukis dengan baik tanpa harus merusak banyak kanvas terlebih dahulu.

“Beli saja salah satu dari tiket yang masih ada,” ujarmu dari tempat yang tak diduga-duga olehnya sehingga ia merasa aneh kepadamu. “Ini,” katamu lagi. Kau sodorkan tiket dengan angka empat milikmu ke arahnya.

“Maksudnya?”

“Tiketmu berikan padaku. Tiketku kuberi padamu.”

“Terus?”

“Ya, supaya kau jadi perginya.”

“Terus?”

“Mak-sud-ku? Maksudku supaya kita sama-sama perginya.”

Kau perlahan-lahan menjelaskan padanya. Ia kemudian setuju. Setelah itu ia dan kau sudah berada dalam Bus Antar Provinsi.

Tiga jam pertama ada penumpang turun di persimpangan, seseorang yang duduk di sebelahnya yakni di bangku nomor tiga lalu tanpa permisi ke pengemudi kau segera saja pindah ke sana. Ia mendengar ceritamu sepanjang perjalanan seakan kau seorang pendongeng atau barangkali kehadiranmu serupa rintik hujan yang menyejukkan. Ia sendiri enggan membicarakan lebih dalam tentang dirinya. Ia hanya menjawab ketika kau bertanya, semisal apa ia sudah makan atau apa ia merasa pusing agar kau membantunya membelikan minyak angin di kedai pinggir jalan.

Suatu kali kau melihat ia memijit-mijit kening dan mematah-matahkan leher. Kau mohon izin mengubah posisi kursinya agar ia menyandarkan bahu, supaya ia bisa meluruskan kaki dan kau—entah kenapa lagi-lagi merasa ia merupakan bagian dari yang perlu kau lindungi. Sesuatu dalam dirimu berkata: meski ia mungkin kekasih dari seseorang yang mencintainya dengan hebat, dirimu justru teman terbaik untuk berbagi cerita. Kau punya bahu yang kuat. Kau punya punggung yang kokoh. Kau bisa menampung seberat apa pun beban kisah itu nantinya.

“Aku punya dua orang anak,” katamu, memecah keheningan.

Ia menjadi serius seakan lupa pada apa yang berkecamuk di dadanya. Ia ingin bertanya ke manakah anak-anak itu sekarang, atau istrimu sedang di mana: apa kau bertengkar dengannya, apa istrimu masih hidup, namun ia sungkan mengutarakannya—ia baru kenal denganmu dua hari lalu. Menurutnya tidak baik menanyakan hal-hal bersifat pribadi kecuali seseorang itu sendirilah yang dengan suka rela menyampaikannya.

“Boleh aku tahu namamu?” kau bertanya.

“Ta ….”

“Ta?”

“Tarida.”

“Aku sendiri Mangara. Panggil saja Ara.”

Lalu mendadak saja kau merasakan tanda-tanda kalau ia ingin muntah. Ia memegangi mulut menahan sesuatu yang sudah terlalu mendesak. Jemarinya mencari-cari, kau bertanya dan ia mengisyaratkan butuh kantung plastik. Bagi yang bukan pemabuk sepertimu tentu muntah dalam perjalanan merupakan hal paling menyiksa. Seharusnya perjalanan itu menyenangkan mata, hati, pikiran.

Kau membukakan botol air mineral. Ia berkumur, membuangnya ke kantong plastik dan kau sempat mencium aroma seperti belerang namun cepat-cepat mengabaikannya. “Oleskan minyak angin ke perut dan keningmu,” ujarmu, terlebih dahulu mengawalinya dengan kata ‘maaf’ agar kau tak mendapati dirimu terkesan sebagai laki-laki yang telah membuat seorang kenalan baru menjadi risih. Menit-menit berikutnya di saat ia sudah tertidur kau membaguskan syal ungu yang gulungannya melonggar meski kau tetap saja berdebar takut dikira berbuat macam-macam.

Menit berikutnya lagi separuh kepalanya bertumpu di bahumu, kau jadi terbayang pada wanita yang sangat kau cintai. Wanita bernama Dinar yang telah memberimu dua orang putra dan tiba-tiba kau teringat saat mengganti popok bayimu di usia dua bulan. Peleburan tertinggi dari seorang laki-laki terhadap wanita yang kemudian disebut satu menurutmu melakukan hal biasanya dihindari para suami yakni mengurusi yang bau-bau pada diri anak-anaknya—kau bahkan pernah mengisap lubang hidung mereka ketika mampat. Dan hal paling kau suka ialah menciumi kepala bayimu, meletakkan begitu lama bibirmu di atas ubun-ubunnya yang belum ditumbuhi rambut hingga kau rasakan denyutan-denyutan lembut lalu membisikkan sebaris doa kepada denyutan itu: aku mencintaimu. Mencintaimu sejak pertama dan selamanya. Seketika itu pula kesedihan menusuk-nusukmu, sebab sewaktu membayangkannya mereka itu sudah tak ada. Maka kepada seseorang yang baru sehari kau mengenalnya begitu dekat kebaikanmu pun tumpah. Kau tarik selimut. Kau selimuti ia yang lelap di bahumu.

Bus Antar Provinsi bermanuver sangat liar. Wanita itu menarik lengannya darimu. Ia kaget mendengar bunyi deruman keras. Sebelumnya ia ingat sudah pernah suara yang begitu terjadi: tadi, ketika Bus Antar Provinsi mogok dan ada yang diperbaiki di bagian mesinnya padahal bus itu bukan kelas ekonomi—ia bus ber-AC—tak masuk akal kurang sehat begitu. Remnya putus, teriak sopirnya. Mendadak ada yang melompat dan kalian sempat melihat sepasang lutut habis dijilat aspal diiringi histeris penumpang meneriakkan Tuhannya masing-masing.

Bus Antar Provinsi baru saja diservis. Diganti catnya. Dibongkar mesinnya. Diperbaiki lampu, klakson, diganti olinya dan lain-lain. Intinya bus itu habis pulang dari perawatan. Ia kembali cantik setelah setahun beristirahat total. Tentang mengapa ia beristirahat sampai setahun tidak ada yang tahu pasti kecuali orang-orang tertentu.

“Ada apa?” tanya wanita itu dengan napas berdesak-desakkan di dada. Ia kelihatan sangat panik serta ketakutan tampak di sorot matanya.

“Kita akan baik-baik saja,” jawabmu, menenangkan hatinya sementara kau tak mampu menjinakkan kecemasan yang luar biasa membadai di jantungmu, pikiranmu, perasaanmu. Bayangan-bayangan ngeri dari tiga tahun lalu saat kau kehilangan tiga orang terkasihmu yakni istri dan dua putramu kembali menyetani dan membuat kekhawatiranmu menggunung-gunung. Saat resah gelisahmu kian membesar refleks saja kau memeluk dirinya yang menggigil.

“Aku takut, Ara. Aku takut,” pekik wanita itu, menyebut namamu untuk pertama kali dan kau merasakan debur dadamu dua kali lipat kekuatannya. Debur antara ketakutan dan perasaan yang tak kau ketahui kenapa tapi saat itu kau teringat saat jatuh cinta kepada istrimu. Kau mengambil tangannya ia rela. Kau mendekapnya ia diam. Namun setelah sekian lama kesepian kenapa jatuh cinta lagi itu harus terjadi di saat-saat genting seperti ini?—kau merasa ini tak adil, sungguh tak adil. Kau protes akan waktu yang bikin kadar cintamu mendadak berlipat ganda, oleh karenanya kau menjadi semakin takut pada kehilangan. Kau mulai menyesal mengapa punya hati yang mudah mencintai. Jatuh cinta, kau tahu artinya, yaitu merelakan hatimu agar selalu siap merasakan sakit.

Bunyi yang lebih keras datang lagi. Letusan besar naik ke atas. Ban landas. Kau dan ia menyadari kalian semakin turun dan kalian tak berani melihat ke mana arah itu menuju. Pengemudi memutar habis ke kiri, terbanting ke batu. Bus Antar Provinsi terombang-ambing di tebing curam di mana pepohonan berpatahan karenanya. Lalu di depan sana yang kemudian menjadi di bawah kaki kalian terpampang hamparan danau berwarna hijau. Sepasang ikan mujahir yang tadi berenang pelan-pelan kini kucar-kacir setelah salah satu dari mereka sempat menabrakkan mulut ke leher ikan sebelahnya.

Ara, ini hitungan kedua puluh satu setelah hari itu. Sudah selama itu kau koma. Di sekujur tubuhmu ada kabel dan Tarida ingin sekali membantumu mengakhiri penderitaan. Dari sisi bahu kananmu ia bersedih. Kau tak kunjung merasakannya. **

                                                                                                Riau, April 2017


Jeli Manalu Lahir di Padangsidimpuan, 2 oktober 1983. Tinggal di Rengat-Riau. Buku kumcer terbarunya Kisah Sedih Sepasang Sepatu (Basabasi, 2018)

Cerpen

Sejak Ishak Ditangkap

Cerpen Jeli Manalu

Kini, sesudah malam penangkapan itu, cahaya hanya garis-garis dari lubang ventilasi. Tak ada detak jam dinding sebagaimana ketakutan jantungku ketika ada yang memukul gembok tempat tinggalku. Lalu yang kuingat: derit pintu, sepasang sepatu yang masuk, nasi berisi lauk berantakan, sebotol minuman, dan air pencuci tangan. Malam itu, pada pukul dua puluh dua ada yang menelepon. Ishak belum sempat mandi dan langsung mengenakan seragamnya sehabis kembali dari pertemuan penting. Telepon berdering lagi. Isyarat tubuh Ishak sangat lain. Wajahnya kaku. Tatapan matanya menuju satu titik tapi aku yakin ia tidak sedang melihat titik itu.

Aku menuang teh tak bergula ke cangkir keramik setinggi telunjuk Ishak dengan perasaan yang aku sendiri tidak tahu bagaimana menyimpulkannya, namun seluruhku seakan runtuh. Gemetaran aku mengambil nampan. Kupegang dengan tangan kiri dan segera mengepitnya. Setelahnya keningku menubruk dinding saat letusan keras seperti menombak ke ceruk dadaku dan kupikir itulah saatnya aku mati.

 Dalam keadaan kalut kupaksakan diri naik ke meja dan memegang sudut lemari agar bisa mengintip. Sosok-sosok seperti gorila mendobrak pagar, merusak bunga lalu dahan-dahan mudanya berpatahan. Lututku lemas. Jantungku memacu lebih cepat, aku segera turun meraih tangan Ishak yang dinginnya sedingin tanah malam di tepi danau, “Kutitipkan anak-anak,” kata Ishak, mencium dahi dan memeluk diriku yang juga beku, “jaga dirimu,” tutupnya. Ia kemudian berjalan tanpa pernah menoleh lagi ketika dirinya digiring ke sebuah truk berisi benda jahat yang tak kuketahui namanya.

Dari kisi jendela kutatap ia sampai yang terlihat hanya malam, hingga yang ada seperti udara dipompakan ke balon kecil hingga sesak dan balon itu adalah dadaku. Udara dalam balon itu darahku yang bergelegak panik. Lalu nyeri menjalar ke hatiku. Tolong jangan bawa suamiku. Tolong kembalikan ia padaku, ujarku.

Saat kupikirkan orang yang menganggap Ishak penghalang kariernya maka aku mulai paham tempat pengasingan itu, segera kupersiapkan diri sebaik-baiknya. Pistol di lemari khusus milik Ishak. Tinggal dor! Selesai,pikirku.Tapi itu tidak mungkin, “Tanganmu tercipta bukan untuk berperang, Sayangku. Jadi ratu dan malaikat bagi anak-anak kita, itu saja,” ujar Ishak suatu hari, sembari memetik setangkai mawar dan menyelipkannya di daun telingaku.

Karenanya kuputuskan membawa tongkat bambu. Sebilah belati. Kalung berliontin patung Kristus yang bercahaya saat bertemu gelap. Kalung itu hadiah pernikahan yang Ishak dan aku dapatkan dari Ambolas, lelaki yang kemudian benci pada suamiku. Mereka dulunya sahabat karib. Berteman sejak SD, masuk SMP dan SMA sama hingga menempuh pendidikan kemiliteran. Ambolas membantu kami di awal-awal. Meminjamkan rumahnya kutempati selama Ishak bertugas di pedalaman Sumatera. Ia bilang, “Anggap saja aku kakakmu.” Tapi karena pola pikir Ambolas dengan Ishak bertolak belakang, sejak itulah banyak hal berubah.

Menempuh perjalanan selama berjam-jam ditemani tongkat bambu, belati serta kalung berliontin patung Kristus, di tepi tebing di mana aku bertemu kepala-kepala remuk tak kudapati wajah Ishak. Apa ia berusaha melarikan diri? Apa ia rasakan sakit saat dipukuli lalu memanggil namaku dengan suara yang cuma tertahan di dalam?

Yang kulakukan saat itu, lekas-lekas meredam perasaan. Cahaya kalung berliontin patung Kristus dari leherku memperlihatkan seonggok amis berdarah-darah. Aku melepas baju seseorang itu kemudian mengenakannya di badanku. Maka kalau ada gorila atau pemuja Ambolas tak sengaja menginjakku, jika ia mengarahkan senter, aku lelaki berbaju menjijikkan yang tak menjerit bila ditendang.

Setelahnya, aku menembus kebun nanas dilanjut ladang jeruk purut di mana di tengah-tengah ladang itu ada semacam terowongan yang tidak diketahui banyak orang, seperti yang pernah diceritakan Ishak,. Di sana telingaku selalu awas. Kutahan napas tersengal-sengal karena indra penciuman ‘ular’ kupercayai tajam—tak tahu bagaimana aku memikirkan teori murahan itu. Aku tak pernah baca kisah yang membahas tentang ide semacam itu. Nyatanya, ketika aku tidak bernapas sebanyak tiga puluh tiga hitungan yang hampir membuatku mati konyol, berkat bantuan sinar liontin patung Kristus di leher, aku melihat ‘ular’ besar yang lewat namun cuek-cuek saja.

Setelah si ‘ular’ berhenti di ujung mataku, terlemparlah tubuh Ishak. Andai bisa bela diri sudah kumatikan setan-setan ini, pikirku. Aku tertawa menangis menikmati perih suamiku saat dadanya dimasuki peluru. Dan sesudah hening serta tak ada cahaya aku berlari menemui Ishak. Kudekap tubuhnya yang masih hangat. Kuciumi wajahnya. Bibir matinya kutuntun menuju keningku. Aku mengambil kedua tangannya lalu melingkarkan tangan itu ke tubuhku seolah-olah ia sendirilah yang melakukannya.

Kemudian jasad Ishak kubopong melewati sungai gelap sambil memegangi semak rumput di sekitarnya, dan hari sudah sangat siang ketika aku tiba di depan rumah. “Jo!” panggilku, keras-keras, agar pintu segera dibuka. “Sam!” teriakku lagi, sebab Jo tak kunjung menyahut tetapi ada suara di dalam sana. Elis, putri manisku berumur lima tahun itu mungkin berlama-lama di kamar mandi. Kubayangkan ia menekan odol stroberi banyak-banyak. Menggosok gigi sambil bercermin karena mamanya yang cerewet tidak ada. Mungkin ia tumpahkan sabun cair, masukkan sampo dalam ember penuh air. Ia acak-acak air itu, lalu menangkap gelembung-gelembungnya.

Ketika tubuh Ishak kusandarkan ke pintu dan pintu langsung terbuka, aku tak menyangka dengan rumah yang amat berantakan. Buku-buku berserakan. Lukisan-lukisan kesayangan Ishak pecah. Perabotan berhamburan. Di TV kulihat wajah Ambolas dan para pemujanya: ingin kukunyah rasanya orang-orang itu.

“Jo! Sam!”

Replika senapan menggeletak di kasur. Di lantai ada ceceran saos tomat mengering yang anyir. Aku turun lagi dan lekas-lekas matikan TV sebab telingaku menangkap tangisan kecil dari arah kamar mandi.

Kudobrak pintu itu. Ember besar bertutup goyang. Dari sana Elis muncul, dan dalam keadaan gemetar memeluk perutku. Pakaiannya basah. Rambutnya basah. Muka penuh sabun. Mata bengkak memerah. Aku tak tahan melihat air mata bercampur ingus meleleh ke bajunya, aku menciumi anak gadisku itu.

“Abang …,” suara Elis bergetar.

“Kenapa Abang?”

“Abang dipu-kul, di sa-na,” ia menunjuk gudang dengan suara patah-patah.

Jo dan Sam kutemukan meringkuk dalam got. Cairan merah menetes-netes dari kulit keduanya, mungkin terkoyak sesuatu saat lari untuk menyembunyi.

“Apakah sangat sakit, Nak?”

“Apa Mama masih hidup?”

Aku mengangguk. Ketiga anakku merangkulku dan mendekatkan masing-masing telinga mereka ke dadaku.

“Tapi papa kita sudah tak ada,” ujarku.

“Bila aku meniupkan udara ke mulut Papa, apa Papa akan bangun, Ma?” aku tertegun melihat pipi Elis yang membesar lalu berkali-kali mengembuskan udara ke mulut Ishak, beristirahat sebentar, mengulanginya lagi, dan saat itu kami semua menangis tersedu-sedu.

Pada hari yang sama Ambolas diangkat jadi gubernur. Kubawa jasad Ishak ke hadapannya. Para wartawan merekamnya. Orang-orang mungkin mengabadikannya dalam catatan sejarah. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Aku kini semakin tua dan kering. Aku terpenjara hati serta tubuh. Tak pernah lagi melihat pagi, siang, malam, dan setiap waktu pekerjaanku hanya menajam-najamkan ingatan akan wajah keluargaku. Kata orang-orang itu, aku menghilangkan nyawa anak-anakku dan mesti dihukum seberat-beratnya.

Kau, apa percaya hal semacam itu? **

Riau, Maret 2016-2019


Jeli Manalu Lahir di Padangsidimpuan, 2 Oktober 1983. Penikmat sastra dan menulis cerpen. Tinggal di Rengat-Riau. Buku kumcernya Kisah Sedih Sepasang Sepatu (Basabasi, 2018)

Cerpen

Setelah Tersesat di Perut Ju

Cerpen Jeli Manalu

Rindu adalah rasa sakit yang kita pelihara. Semakin sakit semakin nikmat, dan percintaan ini memang mustahil sebab kita di luar manusia. Akan tetapi manusia selalu ada dalam pikiran serta perasaan kita, hingga suatu waktu kita ingin seperti mereka, yang sesekali berdebat, beberapa kali marah serta merajuk, setelahnya hidup kembali tak berjarak. Hanya, kamu lebih suka berkelana daripada tinggal. Datang kadang-kadang, berangkat tak terencana lalu aku tetap bertahan di belakang rumah lelaki itu. Apa memang karena kita berbeda, ataukah si pencipta kita sengaja membuat kita begitu padahal kita juga ada hasrat ingin dimiliki atau memiliki selamanya.

“Tetapi, aku merasa belum pernah jadi diriku,” katamu, tenang, namun ada getir yang perlu kupahami.

“Kenapa?” tanyaku.

“Aku selalu terombang-ambing. Diombang-ambing masa, diombang-ambing situasi.”

“Tapi kamu lebih beruntung dariku. Kamu bisa pergi semaumu. Ke langit, ke hutan, ke laut, ke mana saja. Kamu bisa masuk ke rumah orang-orang tanpa ada melarang. Barangkali, kamu satu-satunya yang berhak menikmati isi bumi. Aku sempat berpikir, kamu sudah tak lagi ingat padaku.”

“Kenyataan aku selalu kembali. Itu karena aku merindukanmu.”

“Tapi kamu pergi terlalu lama. Sangat lama. Aku, kamu tahu? Aku kesepian.”

Mendengarku yang merajuk, kamu segera melingkupiku, menjelajahiku mulai dari  pinggir kolam ke tengah kolam, ke tumbuhan kecil yang daunnya disinggahi sepasang capung. Aku ingin selamanya seperti ini: merasakanmu dan kurasakan kau juga merasakanku.

“Tetapi kamu lebih beruntung dariku,” kilahmu lagi.

“Kenapa?”

“Apa kamu tahu kesedihan macam apa yang paling nikmat di dunia?”

Kurenungkan kata-katamu, rasanya belum pernah kamu bicara semanusiawi ini. Kita memang bukan manusia. Bukan hewan. Bukan pula tumbuhan.

“Ketika kamu tak dapat menangis sementara kamu sangat ingin menangis.”

“Ummmm….”

“Um?”

“Ketika kamu tak dapat menangis sementara kamu sangat ingin menangis? Kalimat yang aneh.”

“Kamu tidak mengerti?”

“Aku tidak mengerti. Bahasamu terlalu sulit dicerna. Tapi ngomong-ngomong dari mana kamu dapat kata-kata itu? Apa kamu pernah menyusup ke sebuah universitas seperti yang pernah kita dengar dibicarakan lelaki itu lalu kamu masuk kelas dan pura-pura jadi udara dingin agar ruangan tidak berisik oleh kipas kertas digunakan para wanita, hanya supaya kamu bisa menguping suatu ilmu penting?”

“Kadang-kadang.”

“Lalu ilmu apa yang kamu sukai?”

“Banyak. Mungkin salah satunya filsafat.”

“Apa itu filsafat? Kedengarannya menarik.”

“Aku tidak tahu. Orang-orang menyebutnya begitu.”

 Kita lalu tertawa dalam bahasa kita di mana orang-orang bisa menyebutnya sebagai desau angin, bisa pula gemericik air. Kemudian sesosok lelaki bermuka muram muncul dari mulut pintu dengan kantong hitam yang langsung dicampakkan pada kita.

Glasakk! Glkglkglkglkglk.

Lelaki itu tak memperhatikan kita. Tapi kita melihat tangan gadis kecil ditarik-tarik wanita bersepatu pantofel.

“Eis, ikut Ibu hari ini,” kata wanita yang ujung kiri roknya membuat kerucut sampai setengah jengkal di atas lutut.

“Eis harus ikut Ibu hari ini,” katanya, sekali lagi.

Gadis kecil itu menarik tangan sendiri dengan gaya anak-anak yang lagi tak suka diusik.

“Eis ikut Ibu hari ini!”

“Eis dengan ayah saja, Bu.”

“Tidak bisa. Eis sudah seminggu dengan ayah.”

“Tapi Eis mau sama ayah ….”

Muka si wanita menjadi jelek walau tadi riasannya membuat ia kelihatan menggoda, walau tadi, barangkali, lelaki itu ingin mengatakan hal yang telah lama dipendam-pendam hingga debaran jantungnya begitu keras begitu dahsyat. Adakah lelaki itu rindu, tanyaku. Kamu tidak jawab. Wanita itu justru tampak semakin jengkel. Buru-buru ia mendekat ke si lelaki. Dari bibir ungunya melengkinglah suara, “Ju, kamu bilang dong sama Eis. Bujuk dia. Bujuk dia!”

Lelaki yang kemudian kita kenal sebagai Ju mulai melunak. Ia membujuk-bujuk lengan gadis bermata jernih dengan rambut dikepang dua. Ia elus-elus kepalanya, dan bahkan menari lucu seperti seorang balerina.

“Hari Sabtu Eis Ayah jemput. Sekarang Eis temani Ibu dulu, ya?”

“Tapi ….”

“Sabtu pasti Ayah jemput.”

“Janji?”

“Janji.”

Setelah Eis menautkan kelingking ke jemari Ju, Ju mengantar Eis ke Toyota Starlet merah tua. Mobil pun melaju. Ju berdiri di pintu memandangi dua orang pergi bersama benda yang kini hanya tampak seperti tungau bergerak. Satu orang yang akan selamanya ia cintai—gadis itu. Dan seseorang yang pernah mencintainya—wanita itu.

“Aku sudah sangat sering menyaksikan hal-hal seperti ini,” katamu sendu. “Manusia memang begitu. Perasaan manusia selalu berubah-ubah.”

“Berubah-ubah? Apa maksudnya dengan perasaan yang selalu berubah-ubah?”

“Sewaktu jatuh cinta, ada kalanya jadi durhaka. Yang satu lari dari rumah masa kecil. Satunya lagi menyangkal ayah-ibu. Manusia suka menipu diri: berseru atas nama cinta seolah paham apa itu cinta. Pada kadar terendah cinta tak lebih dari selembar keset usang yang tinggal menunggu waktu untuk dilemparkan. Si lelaki letih bekerja. Si wanita lelah mengurus anak, mengeluhkan atap bocor, cucian selalu banyak serta punggung kerap sakit. Keduanya jenuh. Keduanya menghabiskan waktu untuk urusan yang ujung-ujungnya menimbulkan kalimat yang berakhir dengan tanda seru. Akibatnya mereka lupa cinta. Mereka lupa untuk bercinta.”

“Tapi kita tidak akan begitu, ‘kan?” tanyaku, meyakinkanmu, dan mungkin kamu menganggapku mulai manja lagi. Karena aku terus membicarakan betapa suramnya kehidupan para manusia, betapa tidak jelasnya perasaan orang-orang dan ternyata hati manusia bisa juga berpindah-pindah: berurbanisasi, bertransmigrasi bahkan berimigrasi, kamu tahu harus melakukan apa. Kamu mendekapku, erat-erat, semakin erat, yang bila orang melihat kita maka akan tampak semacam ombak-ombak kecil: peristiwa keintiman kita.

**

Sabtu kali ini terasa sejuk sekali. Meski begitu langit barat serupa kain satin berwarna keemasan. Seekor burung keluar-masuk pohon, sementara para berudu dan sekumpulan organisme menyembunyi di tubuhku yang kembali dingin.

Lelaki itu masuk ke rumah. Terdengar suara pintu yang lagi marah, entah memukul atau dipukul. Tapi itu sama-sama pukulan. Lalu kupanggil kamu yang tak lagi kurasakan bersamaku.

“Cinta!” teriakku, ke pohon kelapa yang buahnya sangat banyak. Aku mengira kamu ada di sana. “Cintaku, kembalilah! Sini, sini temani aku saja.”

Ju keluar lagi. Dibantu cahaya mengintip dari mulut pintu, kulihat lelaki itu meremas perut. Aku mencium aroma alkohol yang berahi. Ia lemparkan botol bir kosong kepadaku. Juga, ia tumpahkan sekantong puntung rokok bau bercampur lendir makanan amis. Dasar Ju sialan! Senangnya membuang sampah sembarangan.

“Tapi di mana kamu, Cintaku?”

Ju berguling-guling. Tampaknya ada sesuatu membuat keributan di ulu hati Ju. Mungkin tidak persis di ulu hati, tetapi ia kesakitan di bagian bawah dada. Dan pula, suara aneh di mulutnya menjelaskan kalau ia ingin muntah sepuasnya, meski muntah agaknya menundah-nunda terjadi.

 Ju mengambil batu, melemparkannya ke rumah tetangga. Sudah tiga kali Ju melakukannya. Ketiga sangat keras. Saat mengambil batu keempat si tetangga pun datang. Tetangga itu sangat damai hatinya. Air wajahnya teduh dan sudah sangat paham akan Ju.

“Kau hanya kena angin duduk. Jangan terlalu banyak begadang dan hiduplah baik-baik,” kata si tetangga.

Saat larut akan apa yang kulihat di teras belakang rumah Ju sekonyong-konyong sentuhan deras menjalari tubuhku. Aku kaget, “Maafkan aku, Sayangku,” katamu, dengan nada menyesal, “Aku mencoba masuk ke tubuh Ju, dan ternyata tersesat selama berjam-jam dalam perutnya.”

“Di perut Ju? Untuk apa melakukannya?”

“Aku ingin tahu inti masalahnya. Lelaki itu pernah selingkuh. Si wanita membalasnya dengan cara berselingkuh. Tetapi Ju tidak tahu kalau pembalasan itu cuma bohongan.”

“Bagaimana kamu tahu itu?”

“Sebelum menerobos tubuh Ju aku mencari wanita itu lebih dulu.”

Aku tercengang, kaget dan tidak habis pikir. Kehidupan manusia sungguh sulit dipercaya. Berputar-putar, berkelok-kelok, bergelombang, tapi itu kenyataan.

Setelah gelap berlalu hari Minggu tiba lagi. Embun meninggalkan bunga pecah seribu. Matahari memantul dari jendela nako. Kita melihat Ju membuka pintu dalam keadaan sehat walafiat.

“Ayah!” gadis manis tiba-tiba muncul dan langsung melompat ke pangkuan Ju.

“Kenapa Eis tidak tunggu sampai Ayah jemput?”

“Ibu ajak Eis, Ayah. Lihat, Ibu beli balon besar. Ibu bilang, kita akan mengirimnya ke langit.”

Ju menatap lama ke wanita yang berdiri di tengah halaman. Ada tiga balon di tangannya. Merah semuanya. Di bagian luar kita membaca tulisan: Ju, Sis, Eis. Wanita itu memegang balon bertanda ‘Ju’. Ju memegang balon bertuliskan ‘Sis’. Anak itu memegangi nama sendiri. Kita turut bahagia meski berdebar-debar menunggu peristiwa berikutnya.

Mula-mula balon melewati jendela, lalu atap genteng, lalu sejajar dengan antena televisi. Aku, selamanya kolam kecil di belakang rumah Ju yang tak pernah surut merindukanmu. Kamu pengembara yang tak mau luluh. Hai, angin, kasihku, sebagaimana kedirianmu yang bukan dirimu sendiri, aku bergejolak menatapmu terombang-ambing bersama tiga balon besar berwarna merah menuju langit. **

Riau, Juni 2016-2018

Jeli Manalu lahir di Padangsidimpuan, 2 oktober 1983. Tinggal di Rengat-Riau. Buku kumcer terbarunya Kisah Sedih Sepasang Sepatu. Bisa dihubungi di WA: 085278619906. 
Email: [email protected],  Facebook: Jeli Manalu, IG: @jelimanalu



Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI