Buku, Resensi

Beban Berat Kaligrafi Semar

Oleh Rizki Amir

Madura sebagai sebuah daerah yang memiliki beban berat kebudayaan, nyatanya hingga saat ini—meskipun arah angin seolah sedang menuju ke wilayah timur, tetap mampu bertahan dan kerap melahirkan berbagai penulis cemerlang yang juga layak diperhitungkan dalam kancah bajak laut sastra Indonesia. Lihat saja satu di antaranya, Muna Masyari, penulis perempuan asal Pamekasan yang berhasil menyabet Cerpen Terbaik Kompas tahun 2017 lalu.

Hal semacam itu tentu saja tidak terlepas dari peran ruang-ruang diskusi dan komunitas yang meskipun sporadis, tapi begitu militan. Salah satu komunitas yang turut hadir dalam keriuhan itu adalah Bawah Arus. Meski tergolong kecil, komunitas itu diam-diam telah membimbing Andy Moe untuk maju dan berhasil menjadi peserta terpilih Majelis Sastra Asia Tenggara tahun 2018 kategori cerpen. Dan di tahun ini, laki-laki itu telah menerbitkan buku kumpulan cerpennya yang berjudul Kaligrafi Semar (Rumah Akar, 2019).

Sebagaimana pendahulunya, Andy juga mengusung suara-suara dari beban berat kebudayaan Madura yang memberi pemahaman tentang suatu permasalahan dengan menengok hubungan kausalitas berdasarkan kenyataan bagi kepentingan personal. Konsep itu seolah harus dibawa dan dikembangkan agar menjadi ekor yang baik lagi benar.

Dalam cerpen yang berjudul “Ampun”, dituturkan bagaimana Matnaji, seorang bandit besar yang memutuskan memulai hidup baru di pesantren, karena telah kehilangan relasinya dan ia tidak lagi mampu melakukan aksi sendirian. Cerpen ini tampaknya memang sengaja memilih ruang-ruang religiositas guna mengungkapkan kecemasan akan rasa aman dan trauma dari peristiwa masa lampau yang jalin-kelindan. Di pondok pesantren, Matnaji juga harus sabar menghadapi penyakitnya. Penyakit yang sering kambuh, yang didapatnya selepas kejadian itu –.(hal. 7).

Tak hanya itu, sifat mengutamakan kepraktisan dan kegunaan dalam tindakan yang dilakukan tokoh utama dalam cerpen “Boi” juga menunjukkan bagaimana orang Madura yang bergerak cepat. Alih-alih menunggu kehendak Tuhan untuk memberi pelajaran pada bapaknya, tokoh Aku justru memilih melampiaskan kekecewaannya sendiri sebagai seorang anak yang kurang kasih sayang. “Dukk!” Bola handuk berpaku itu mengenai bagian belakang kepala bapak. Lalu kulihat darah mengalir dari sela-sela rambutnya. Sebentar lagi darah itu akan menjadi banjir. Bapak akan marah padaku. Ia akan mengingatku karena telah menjadi pelempar, seperti aku mengingatnya. (hal. 16).

Di cerpen lainnya, “Nonggul”, meskipun berangkat dari premis apik yaitu mengangkat tradisi lomba setet—jenis layangan yang ada di Madura, di tengah jalan dengan perlahan tapi pasti, cerita bergeser ke arah kepercayaan akan hasrat dan prasangka tanpa peduli tindakannya itu akan merugikan orang lain atau tidak. Sungguh kental aroma mistik yang peserta percayai, bahkan para pemilik setet dapat dengan mudah marah hanya karena gulungan senar mereka dilangkahi seseorang. (hal. 60). Dan konsekuensinya adalah perlombaan itu bukan lagi jadi ajang untuk memperebutkan hadiah, tapi sebuah perang yang harus dimenangkan.

Tapi pertanyaan selanjutnya apakah beban berat kebudayaan daerah itu hanya bisa dituturkan dalam ranah asal? Seberapa besar kemungkinan dari keterpisahan yang terbentuk dan mampu‘hidup’?

Dalam cerpen “Menghadap Langit”, mungkin Andy sudah coba menjawabnya meski tanpa tendensi untuk mempertebal keterpisahan dari asalnya. Sayangnya, dalam posisi bingung dan masygul untuk tetap mempertahankan ironi yang sudah dibangun sekaligus menghadirkan suspensi, yang empunya cerita akhirnya memutuskan untuk melompati bagian penyebab di balik terjadinya peristiwa.

Serupa dengan itu, di cerpen yang berjudul “Rumah Dulla”, kita akan berjumpa dengan Dulla yang berkemauan keras dan melihat kehadiran ibunya hanya untuk memenuhi sebuah syarat. Sayangnya ketegangan menghadapi peristiwa malah menghasilkan efek yang terlampau kasar dari perpindahan satu bagian ke bagian lainnya. Jika kau melihat kerusakannya kau tak akan percaya jika Dulla bisa selamat dari kecelakaan itu. Dulla hanya tergores beberapa senti di bagian lehernya saja namun tiga penumpangnya menemui ajal. (hal. 79).

Semua itu hanya eksplorasi, tentu. Tapi pilihan semacam itu justru menujukkan bahwa Andy tidak sedang bermain di ranah yang membuka ruang untuk pertentangan. Ia tampaknya hanya ingin dunia ceritanya dapat diterima sebagaimana mestinya.

Hal yang kuat dan menarik dari buku yang berisi lima belas cerpen itu, bagi kita, sebenarnya adalah bagaimana penulis menawarkan penggabungan antara sesuatu yang abstrak dan yang konkret. Ia berusaha menangkap laku dalam berproses. Dalam cerpen “Kaligrafi Semar” yang menjadi judul buku misalnya, ada gambaran mental yang dalam dari apa pun yang ada di luar subjek, yang digunakan untuk memahami peristiwa dan citra diri, sehingga apa-apa saja yang dilakukan tokoh Semar bukan hanya berguna sebagai tanda, tapi juga cenderung hiperbol.

Hal demikian, sekiranya perlu diketahui para pembaca lantaran mampu membuat buku kumpulan cerpen Kaligrafi Semar memiliki sisi tersendiri di laut lepas yang sudah lebih dulu diarungi para penulis prosa dari daerah Madura lainnya.


Rizki Amir lahir di Sidoarjo, 1995. Terlibat dalam Komunitas Rabo Sore. Buku kumpulan puisinya yang telah terbit berjudul Rahasia Pasar (2017). Terpilih sebagai penulis Emerging Ubud Writers and Readers Festival 2017. Selain menulis, sebagian waktunya juga digunakan untuk berdagang.

Buku, Resensi

Pada Batas Kematian

oleh Rizki Amir

Perkembangan naskah lakon yang diterbitkan menjadi sebuah buku dalam satu tahun dapat dikatakan sangat lemah. Tak banyak penerbit, baik indie maupun mayor, yang mau bergerak di lingkaran yang sepi pembeli. Selain itu, seorang penulis lakon drama juga harus memutar otak bagaimana caranya agar naskah yang ada bisa enak dibaca. Sebab, di dalam teks lakon, tokoh-tokoh yang dihadirkan untuk sebuah pementasan harus mampu hidup dengan tanda yang dapat dihapus dan menggerakkan sebuah hubungan yang dalam antara premis dan lapis.

Tapi tidak. Tidak untuk premis dan lapis yang dibawa buku naskah lakon Di Seberang Sana karya Yusril Ihza. Ia justru hidup dari naskah yang sudah ada: Bulan Bujur Sangkar karya Iwan Simatupang. Yang menjadikannya tampak berbeda adalah pergeseran peran sutradara: bukan lagi sebagai pemegang tunggal pementasan. Ia turut serta sebagai salah satu tokoh dan hadir sepenuhnya untuk menimbulkan kesan lain agar teks tak hanya bergerak ke satu arah.

Lakon di dalamnya berangkat dari celah latar panggung yang gelap: dalam salah satu adegan, tokoh Sang Sutradara berusaha menghentikan tokoh Sang Aktor untuk sekali lagi menggali keaktorannya dan kembali mempertanyakan bagaimana jika ternyata kematian seorang tokoh bukanlah puncak dari pertunjukan, di balik panggung beberapa belas menit menjelang pentas dimulai. Dan sialnya, hal itu justru berkembang menjadi argumen (atau racauan?) yang tidak mudah dipatahkan.

Sang Sutradara menganggap semua itu percuma adanya, sebab dalam naskah dikatakan, cinta harus memahami bahwa dirinya fana dan tunggal. Ada gerak lambat yang coba disampaikan. Ada rasionalitas yang ditunjukkan untuk melahirkan sesuatu. Tapi mungkin itu belum cukup kuat untuk mengaitkan iman dengan laku dan kehendak melalui proses “berpikir”. Salah satu kutipan:

…..

AKTOR

Bulan Bujur Sangkar mengancamku untuk mengimani sesuatu yang tidak aku yakini kebenarannya. Bulan Bujur Sangkar memaksaku untuk mengatakan “Aku membunuh, oleh sebab itu aku ada!”.

SUTRADARA

Apa perlunya kau benar-benar merasakan kematian atau ingin memotong pembuluh darahmu sendiri hanya untuk sebuah pertunjukan?

AKTOR

Orang Tua dan kematian, keduanya bergelayutan di tiang gantungan. Tentang nasib yang ditanggalkan atau sekadar permainan untuk menghibur kegalauan absurditas selama 60 tahun lamanya. Itulah aku, sebagai tokoh utama pada pertunjukan malam ini.

(hal. 8)

Tampaknya melalui dialog antara Aktor dan Sutradara itu mengatakan bahwa naskah Bulan Bujur Sangkar karya Iwan Simatupang, yang akan diperankan, lahir dalam keadaan absurd. Sebab perlawanan di balik tirai normalnya hanya bisa dilakukan aktor secara terbatas: dengan diam atau membangunkan rasa takut. Tapi di dalam teks, Yusril tidak tertarik untuk memilih keduanya. Ia malah meletakkan lakon baru di batas antara yang riil dan yang subtil dari lakon yang sudah ada.

Lakon Di Seberang Sana tidak hanya menawarkan kerangka berpikir tertentu dalam melihat bagaimana jalin-kelindan antara manusia sebagai pelaku yang berkehendak dengan kenyataan kesehariannya, tetapi juga hubungan timbal balik itu bisa seiring dalam upaya mendialogkan antara gagasan teks dengan kenyataan dalam kehidupan.

Sebagai orang yang menghidupi teater, Yusril tidak hanya melakukan strategi “manipulatif” yang artistik, tetapi juga bagaimana pemikiran tentang pencarian makna dari kematian yang memiliki banyak tanda berujung pada kepasrahan diurai sedemikian rupa. Tentu saja, praktik keyakinan semacam itu perlu juga dibaca sebagai teknik permainan berdasarkan metode dan sistem pementasan.

Coba kita cermati batas antara teks itu kembali. Dengan memandang laku dengan keraguan, Sang Aktor sadar akan kehidupan di luar teater yang tragis; ia menganggap Sang Sutradara bukanlah seseorang yang paling tahu tentang peran yang diciptakannya. Bisa kita lihat, Sang Aktor—sang aktor yang bukan lagi dari naskah Iwan Simatupang—telah melihat dari dekat, bahwa panggung adalah kontradiksi. Sementara itu Sang Sutradara kita, dalam keyakinannya yang lurus, ia tak pernah berubah. Tak akan pernah berubah.

Bagian paling ganjil dan menggelikan dalam buku lakon itu adalah dengan menyuguhkan perbincangan kaku, misalnya, dengan mengutip harakiri untuk berserah pada kematian dan disambut dialog lempeng adanya—dan di beberapa titik, pembaca pun jadi terjebak pada keberulangan. Ikatan dialog antar tokoh lebih diperkuat di beberapa tik-tok sebelum naskah usai. Sebagai contoh kata Sang Sutradara: “Pada akhirnya, kau masih belum bisa memaknai kehidupan di atas panggung. Kalau begitu, aku akan mengakhiri pertunjukan ini tanpa tepuk tangan. Selamat malam.” (hal. 20)

Kenapa dialog antar tokoh yang ditulis seakan-akan bersifat problematis? Bisa jadi, melalui buku lakon drama ini, Yusril ingin menjadikan eksistensi sebagai subjek wacana dan secara bersamaan memberikan kesadaran baru tentang bentuk-bentuk kematian. Bagaimana pun juga ada sesuatu yang tidak akan selesai, yang menyebabkan lakonnya tidak utuh: motif yang ditawarkan naskah Bulan Bujur Sangkar sebagai pondasi penciptaan memiliki standar ganda. Meskipun, saya pikir, itu hanya salah satu sebabnya.

Namun, terlepas dari hal itu, para pengkhusyuk sastra-teater, khususnya wilayah Jawa Timur, kini setidaknya telah mengantongi satu nama baru dari kota Surabaya: Yusril Ihza, seorang pemuda yang menulis naskah drama, yang akan menambah variasi bacaan kita di babak baru percaturan dunia sastra-teater.


Rizki Amir lahir di Sidoarjo, 1995. Terlibat dalam Komunitas Rabo Sore. Buku kumpulan puisinya yang telah terbit berjudul Rahasia Pasar (2017). Terpilih sebagai penulis Emerging Ubud Writers and Readers Festival 2017. Selain menulis, sebagian waktunya juga digunakan untuk berdagang.