Cerpen

Aleana

Cerpen Abdullah Salim Dalimunthe

Bahkan, Aleana, sosok imajiner yang telah kauhadirkan bertahun-tahun lalu itu pergi. Ia tak lagi sanggup hidup bersamamu. Baginya, meninggalkanmu adalah sebuah keniscayaan, daripada berlarut-larut dalam pertengkaran yang tidak berkesudahan. Terlebih setelah kau memakinya dengan kata-kata paling kasar–bahkan untuk sesosok makhluk imajiner sekalipun. “Dasar lacur! Enyah kau dari sini! Ketahuilah, aku bisa menghadirkan perempuan-perempuan yang jauh lebih baik daripada engkau.” Dan kau sama sekali tidak peduli akan isak tangisnya.

Hujan menderas. Di rumahmu kini, cuma sunyi yang tersisa. Serta dingin yang larut bersama angin yang merangsek masuk melalui celah-celah ventilasi dan menyentuhmu berkali-kali. Engkau menekur. Sesekali menenggelamkan wajah di kedua telapak tanganmu. Dan, petir yang menggelegar dan bersahut-sahutan di luar sana membuatmu cemas. Membayangkan Aleana kuyup menggigil ketakutan entah di mana. Bisa saja ia tengah terlunta-lunta di pinggir jalan, meringkuk di lantai kotor di sebuah rumah kosong yang atapnya bocor, atau mungkin juga, Aleana terperangkap di bekas gudang tua bersama para penjahat kambuhan yang sedang merencanakan kejahatannya matang-matang. Apa pun itu, semuanya adalah mungkin. Aleana belum pernah sekali pun pergi jauh dari sini. Dan pula, ia takut sekali pada gemuruh petir yang saling bersahutan seperti malam ini. Setiap kali petir terdengar, Aleana terhenyak, lalu meneteskan air mata dan mendekapmu erat-erat. Ia kerap merasa petir itu memang ditujukan kepadanya.

Hujan tak kunjung reda. Rasa sesal berhamburan memenuhi rongga dada. Menyesakkan. Sungguh, kau telah berlaku jahat pada Aleana. Apalagi, kala ingatan kali pertama kau berjumpa dengan dirinya muncul dalam benakmu. Di sudut pekarangan belakang rumah, di atas potongan kayu jati berukuran besar yang tergeletak di tepian kolam yang dipenuhi ikan-ikan koi, kau duduk membisu dengan batin nelangsa. Perasaanmu remuk. Setelah sebelumnya kau terpaksa menanda-tangani surat perceraian itu. Istri yang teramat kaucintai itu akhirnya pergi. Ia lebih memilih berada dalam pelukan laki-laki lain ketimbang pelukan hangat yang senantiasa kauberikan untuknya selama menjadi suami. “Tiga tahun yang sia-sia,” kau berkata lirih.

Lama kau menatap ikan-ikan yang berenang ke sana-kemari lalu menyembul dan berkomat-kamit menunggu taburan pakan yang biasa kauberikan. Kau tidak menggubris permohonan ikan-ikan koi itu sama sekali. Di benakmu, kau mengenang impian-impian dahulu, ketika kau melamarnya. “Menualah bersama, kelak kita saksikan anak-anak kita mengasuh cucu-cucu kita di sebuah lereng perbukitan yang luas, hijau, dan landai. Mereka berkejar-kejaran disertai derai tawa kebahagiaan. Dan kau, duduk bersisian bersamaku di hamparan rumput seraya menikmati keindahan senja,” ujarmu selepas petang itu. Namun, tadi, impian itu seketika sirna. Hanya ada sunyi dan gemericik air yang menggelincir jatuh mengenai batu-batu berlumut yang tersusun rapi di sekeliling kolam. Dan suara gemericik itu, membuat perasaanmu semakin tertumbuk-tumbuk.

Kau merutuk. Hingga amarah yang sedari tadi kautahan-tahan, memuncak. Kebencian pada laki-laki yang telah merebut istrimu itu membulat. Dan, rasa kecewa pada bekas istrimu, lamat-lamat menjadi purna. Kau bersumpah; tidak lagi menaruh harap dan mencintai perempuan mana pun selain perempuan yang tengah kaulamunkan sekarang. Kau membayangkan seseorang dengan kecantikan sempurna–anggun, begitu kau menyebutnya. Kecantikan yang jauh melebihi kecantikan yang dipunyai mantan istrimu itu. Dengan dagu yang tirus, bibir yang tipis, lesung pipi yang menitik cantik di kedua pipinya yang ranum, rambut hitam kemilau lurus terurai menggapai pinggulnya yang menawan, dan sepasang mata yang teduh. Perempuan yang sedang kaubayangkan saat ini laksana seorang dewi. Dan ia hanya akan menambatkan cintanya kepada dirimu seorang. Kau akan menghadirkannya. Memanggilnya turun dari atas sana. Dari bintang yang paling benderang. Tiada yang boleh menggoyahkan keinginanmu ini. Kau meyakinkan diri. Bukankah seseorang yang tengah terluka batinnya, permintaannya akan nyaring terdengar oleh para penghuni langit? Dan mereka kelak berbondong-bondong merayu Sang Pencipta agar berkenan mengabulkan permintaan tersebut? Bukankah hal itu sering dipertuturkan oleh para alim yang mengaku dekat dengan Tuhan? “Maka, sekaranglah waktunya,” pintamu sungguh-sungguh, “biarkan dia datang menemuiku.”

Cahaya putih mengerlap dari balik bintang paling benderang. Kemudian cahaya itu turun perlahan bak penerjun yang telah mengembangkan parasutnya. Sesekali angin mendorong-dorong cahaya itu turun lebih cepat. Dan, sesekali pula, cahaya itu seolah-olah hanya berputar-putar saja di tengah cakrawala. Kau berharap. Dan kian berharap agar cahaya itu lekas menghampirimu. Hingga gurat senyum pelan-pelan mulai terlukis di wajahmu. Cahaya itu makin mendekat. Perempuan yang tadi kaulamunkan, ada dalam kerubungan cahaya putih bersih itu, dan dia balas tersenyum. “Aku Aleana, hadir memenuhi panggilanmu,” sapa perempuan itu merdu.

Gelegar petir membuatmu tersadar. Kau mondar-mandir. Berharap Aleana tidak benar-benar pergi. Berharap Aleana cuma sembunyi. Sebentar-sebentar kau mematung di ruang tamu, lalu beralih ke ruang tengah, kemudian menuju dapur dan mengintip dari jendela mengawasi pekarangan belakang rumah, lalu kembali lagi ke ruang tamu. Mengempaskan dirimu; terduduk lesu di atas sofa. Di luar, hujan tetap deras.

“Aleana, maafkan aku,” lagi-lagi kautenggelamkan wajah, “kembalilah,” bisikmu lemah.

Seharusnya caci maki itu memang tak perlu kaulontarkan. Seharusnya kau lebih bisa menahan diri. Akan tetapi, sejak kau mendapati Aleana memandang kagum pada kolega bisnis yang baru saja kaukenal itu, hatimu panas. Kau terbakar cemburu. Bahkan, meski dua bulan telah berlalu, kau tetap sulit melupakan bagaimana Aleana menatap laki-laki yang baru kali pertama berkunjung ke rumahmu itu. Tatapan kagum Aleana mengingatkan kau pada seseorang. Seseorang yang diam-diam menyukai salah seorang atasan di perusahaan tempat ia bekerja. Seseorang yang tega membiarkan perasaanmu hancur berantakan. Seseorang yang pergi meninggalkanmu sepuluh tahun silam. Seseorang yang telah menjejakkan luka di lubuk hati paling dalam. Luka yang akhirnya membuat kau tak lagi bisa berpikiran jernih tatkala mengingat tatapan kagum Aleana pada malam itu. Padahal, betapa pun Aleana memandanginya, bukankah kolega bisnismu itu tak akan pernah mampu menjangkau Aleana? Bukankah Aleana diperuntukkan buatmu seorang?

Hujan mereda. Kegelisahan dalam pikiranmu justru sebaliknya. “Aleana… Aleana…,” kau terus memanggilnya. Hujan benar-benar reda. Dari balik jendela, kau menatap ke arah jalan. Lengang. Tidak ada Aleana di luar sana. Kau harus mencarinya, hati kecilmu berkata. Ya, kau harus segera mencarinya. Lalu kau menuju garasi, menyalakan mesin, menunggu beberapa saat hingga mesin itu menghangat, kemudian melaju menerobos kesunyian malam. Di balik kemudi, di sepanjang perjalanan yang entah, kau berpikir keras di mana kau bisa menemukan Aleana. Dan, terkadang, kau memperlambat laju mobil tatkala melihat seorang perempuan yang sedang menyusuri jalan guna memastikan apakah perempuan itu Aleana atau bukan. Namun, berkali-kali kau mencoba, semua sia-sia. Tidak satu pun dari perempuan-perempuan yang kaulihat tadi adalah Aleana. Kau menepi. Berpikir sekeras-kerasnya; ke mana harus mencari ia?

Rembulan bulat penuh. Cahaya putihnya teduh menyandar di penglihatanmu. “Cukup lama kau tak menikmatiku lagi,” bujuk rayunya semilir terdengar dalam kalbu. “Gerayangilah aku. Aku rindu,” rembulan itu memaksa.

“Aku…, ah, sudah lama sekali rasanya,” suara dalam batinmu menyahut. Ada keinginan yang menggumpal dari lubuk hati untuk mencumbui rembulan itu lagi. Menjilati keindahannya dengan tatapan-tatapan serakah. Melumat habis kesyahduannya sehingga ketika kau memejamkan mata, wajahnya yang berseri-seri itu akan tetap tinggal dan menemani. Sebagaimana dahulu, di atas tebing itu, tebing yang terletak di utara kota tidak jauh dari tempat tinggalmu berada.

Lantas kau teringat, kau pernah bercerita kepada Aleana tentang rembulan dan tebing itu, tentang malam yang terlampau indah, tentang kebahagiaan. Dan, Aleana ingin kau mengajaknya ke sana, namun selalu kauhindari. Sebab, di sana, adalah tempat di mana kau ketika itu menebar impian-impian itu dan menancap harap.

“Setidaknya, untuk satu kali, bawalah aku ke sana.”

Buru-buru kaunyalakan mesin. Melaju menuju tebing itu.

“Aku akan menjemputmu, Aleana.”

Kau melesat. Jalanan basah dan licin tak lagi kaupedulikan. Di benakmu, hanya terpatri satu keinginan: segera membawanya pulang. Dengan yakin kauterabas setiap persimpangan jalan yang sunyi, tikungan panjang, dan tanjakan yang kini semakin sering kautemui. Kau benar-benar tidak peduli. Kau bahkan menambah kecepatan. “Aleana… Aleana…,” sebutmu berkali-kali.

Pada pemberhentian terakhir, kau bergegas turun dari mobil dan berlari. Memacu langkah melewati jalan setapak yang basah dan liat, serta tumbuhan liar yang sebagiannya berduri dan seakan-akan hendak menghalangi laju kakimu yang mulai terasa hangat. Kau terus berlari tergopoh menuju atas tebing. Hingga kau melihat, Aleana benar-benar ada di ujung sana. Berdiri persis di bibir tebing. Ia menunduk. Menekuri kedalaman jurang. Tetapi, Aleana tidak sendiri. Ia bersama seorang lelaki yang tidak engkau kenal. Mereka berpegangan tangan. Dan, mereka sama-sama meneteskan air mata. “Aleana….”

Aleana tidak menjawab. Ia seperti tuli. Begitu pula dengan laki-laki itu, ia tak bereaksi sama sekali. Kau mendekat. “Aleana….”

Mereka tetap diam.

“Aleana…!”

Mereka tetap diam.

Kau menyeru. Meneriakkan namanya berulang kali. Namun, Aleana tetap diam. Begitu pula dengan laki-laki itu, ia bergeming. Lalu kau bersimpuh di dekatnya. Akan tetapi, percuma. Tatkala kedua lututmu menyentuh tanah, Aleana dan laki-laki itu terjun dari bibir tebing. Mereka tetap berpegangan tangan. Sementara rembulan di atas sana seakan tiada peduli, ia kembali memaksa, “Gerayangilah aku lagi. Sungguh, aku teramat sangat merindukanmu.”***


Abdullah Salim Dalimunthe, tinggal di Bandung. Gemar menulis cerpen.

Cerpen

Perempuan Tiga Puluh Tahunan dan Lubang Hitam yang Menganga di Dinding Kamarnya

Cerpen Abdullah Salim Dalimunthe

Sungguh, ia ragu-ragu mengayunkan langkah ke lubang hitam yang menganga di dinding kamarnya. Selain karena lubang hitam itu bergerak-gerak bak api yang menyala-nyala, lubang hitam itu juga terlihat bagai moncong sebuah lorong yang amat panjang dan menakutkan. Bahkan, peluh seni yang terus tumbuh di dahinya sebesar biji-biji jagung, berjatuhan satu demi satu. Membasahi permukaan permadani klasik karya pengrajin Persia abad ke-18 yang sangat ia sukai. Namun, permukaan permadani klasik yang lembut pemberian suaminya itu, belum cukup memberikannya ketenangan untuk melawan rasa takut yang sedari tadi membingkai pikirannya. Ia lunglai. Terjatuh. Dan tak sadarkan diri.

Dalam ketidaksadaran dirinya, perempuan tiga puluh tahunan itu siuman. Ia mendapati lubang hitam yang menganga di dinding kamarnya kian besar. Cukup untuk memasukkan seekor gajah ke dalamnya. Ia pun melihat, lubang hitam itu benar-benar moncong sebuah lorong yang amat panjang dan menakutkan. Gelap dan pengap. Serta, aroma lembap yang begitu kentara.

Ia menangis. Ada kesedihan yang maha yang menyelusup ke dalam batinnya dan melukai. Darah mengucur deras. Anyir darah yang menggenangi batinnya menyeruak menyentuh sel-sel saraf yang membuatnya mual sejadi-jadinya. Ia tak kuasa menahan. Perempuan tiga puluh tahunan itu akhirnya muntah. “Tolong jangan paksa saya masuk ke dalam sana,” racaunya. Ia coba menahan sekuat tenaga. Tapi, lagi-lagi, anyir darah yang menggenangi batinnya itu kembali menyeruak dan menyentuh sel-sel saraf yang membuatnya semakin mual. Perempuan tiga puluh tahunan itu akhirnya muntah untuk kedua kalinya. “Tolong, jangan, saya mohon….”

Dalam ketidaksadaran dirinya, perempuan tiga puluh tahunan yang tadi sempat siuman dalam ketidaksadaran dirinya itu kembali pingsan. Dan, dalam pingsannya itu ia bermimpi–sama seperti mimpi yang kerap menghantuinya sejak dulu. Di mimpinya, ia melihat dirinya berjalan menyusuri lorong gelap yang ada di lubang hitam itu. Berjalan dan terus berjalan. Ia mengendap-endap. Membuntuti dirinya sendiri yang terpaut belasan langkah di depannya. Ia merasa lelah, tapi tak mampu untuk berhenti. Terus dan terus menyusuri lorong gelap hingga secercah cahaya kemerah-merahan terlihat dari ujung sana. Ia pun cepat-cepat memacu langkah. Buru-buru ingin mengetahui cahaya apa yang ada di ujung sana. Hingga tanpa ia sadari, dirinya tidak lagi berada di depannya–bahkan tidak lagi ada di sana.

Cahaya kemerah-merahan itu ternyata senja. Ya, senja. Senja yang menyelimuti tanah landai yang cukup luas yang ditumbuhi alang-alang yang sedang berbunga. Dan, dari sela-sela alang-alang yang sedang berbunga tersebut, perempuan tiga puluh tahunan melihat aliran sungai yang agak berkelok dan panjang. Aliran sungai itu mengarah ke dalam hutan. Berada persis di hadapannya. Akan tetapi, bukan lebatnya hutan dan panjangnya aliran sungai itu yang menarik perhatiannya saat ini, melainkan sesosok gadis kecil. Gadis kecil yang bermain-main di pinggiran sungai sambil mengejar seekor kupu-kupu. Setiap kali kupu-kupu itu hinggap di pucuk bunga-bunga liar yang tumbuh di tepian sungai, gadis kecil itu mengintai lalu menyergapnya. Dan, apabila kupu-kupu itu berhasil lolos, kemudian terbang terlalu tinggi atau jauh ke tengah sungai, maka gadis kecil itu akan menari-nari seolah-olah tidak memedulikan kupu-kupu itu lagi. Sampai kupu-kupu itu terkecoh lalu kembali hinggap dan gadis kecil itu akan menyergapnya lagi.

Selangkah demi selangkah perempuan tiga puluh tahunan itu mendekat. Ia melihat gadis kecil yang mengenakan gaun panjang–berwarna putih–tanpa lengan itu sedang menari-nari di hadapannya. Rambut gadis kecil itu hitam legam agak bergelombang dan panjangnya sedikit melewati bahu. Sesekali angin menerpa rambutnya, juga rambut perempuan tiga puluh tahunan itu. “Anak manis, siapa nama kamu?” perempuan tiga puluh tahunan menyapa dengan sangat hati-hati, ia tidak ingin mengagetkan gadis kecil itu.

Alih-alih menjawab, gadis kecil malah menempelkan jari telunjuknya ke bibir. Ia lantas menunjuk kupu-kupu yang masih terbang ke sana-kemari. Perempuan tiga puluh tahunan paham maksud dari gadis kecil tersebut. Ia lalu diam. Menunggu dan terus mengamati gadis kecil itu hingga senja berangsur pekat. Dan, rembulan muncul perlahan-lahan.

“Boleh saya ikut bersama kamu, anak manis?”

Gadis kecil mengangguk, kemudian berjalan menyusuri pinggiran sungai menuju hutan. Perempuan tiga puluh tahunan bergegas menyusulnya.

“Anak manis, tunggu!”

Bagi perempuan tiga puluh tahunan, gadis kecil itu terlampau gesit. Ia kesulitan mengikuti langkah gadis kecil itu ketika melewati bebatuan licin yang besarnya tiga kali dari buah nangka paling besar yang pernah ia lihat semasa kecil dulu. Perempuan tiga puluh tahunan berhenti sejenak. Ia mengatur napas.

“Anak manis, tunggu! Jangan tinggalkan saya!”

Perempuan tiga puluh tahunan langsung mengejar tatkala bebatuan licin yang sejak tadi jadi rintangannya sudah tidak ada lagi. Ia berlari sekencang-kencangnya–saat melihat gadis kecil itu lamat-lamat tenggelam ke dalam hutan.

“Kamu di mana?”

Dengan napas tersengal-sengal, ia nekat masuk dan mencari-cari gadis kecil itu di dalam sana. Ia menatap pohon-pohon besar yang akar-akarnya berjuraian menghunjam tanah. Perempuan tiga puluh tahunan itu bergidik. Ia merasa akar-akar pohon yang berjuraian itu seolah-olah hendak menggerayangi tubuh dan merobek-robek perutnya. Matanya berkunang-kunang. Dan, hampir saja perempuan tiga puluh tahunan itu pingsan, seandainya saja gadis kecil itu tidak segera menghampiri dan menjawil tangannya.

“Anak manis, tolong, jangan jauh-jauh, saya takut.”

Gadis kecil tersenyum. Ia kembali melangkah sembari menggamit tangan perempuan tiga puluh tahunan itu. Perempuan tiga puluh tahunan cuma bisa pasrah.

“Di mana kita sekarang?”

Perempuan tiga puluh tahunan mengamati pohon-pohon besar yang kini terlihat jauh lebih tinggi dan besar daripada pohon-pohon yang ia lihat tadi. Dan, akar-akar gantung pohon-pohon besar itu tampak lebih kokoh daripada akar-akar tadi yang sempat membuatnya ngeri. Ia pun melihat, di bawahnya, daun-daun yang berguguran yang telah berwarna kuning kecokelatan itu terhampar dengan sangat tebal. Daun-daun layu itu juga terasa begitu lembap.

“Kita mau ke mana?”

Gadis kecil mengarahkan telunjuknya ke sebongkah batu yang ada di dekat tebing–batu dan tebing hutan itu berjarak tinggal beberapa langkah lagi.

“Di mana rumah kamu?” perempuan tiga puluh tahunan celingukan; ia tak melihat sebuah rumah–atau apa pun yang bisa dijadikan sebagai tempat tinggal–di sekitar situ.

Dengan ringan gadis kecil itu tersenyum.

“Di mana orangtua kamu? Saya tak melihat siapa pun di sini selain kamu,” perempuan tiga puluh tahunan langsung duduk menyandar pada batu yang tadi mereka tuju. Ia kelelahan. “Papa kamu di mana?”

Gadis kecil menggeleng. Ia tampak murung.

“Kamu tidak punya papa?”

Gadis kecil bergeming.

“Maafkan saya sudah menanyakan hal itu.”

Suasana tiba-tiba menjadi kaku. Perempuan tiga puluh tahunan menyesal telah membuat gadis kecil itu bersedih. Meskipun dalam hatinya, ia iri pada gadis kecil tersebut. Ia senantiasa iri pada tiap-tiap anak yang tidak mempunyai papa. “Beruntunglah manusia yang tidak mempunyai papa. Beruntunglah Isa putra Maryam. Beruntunglah kamu, anak manis,” gumam perempuan tiga puluh tahunan itu seraya melempar pandang ke arah langit. Memandangi bintang-bintang yang terlihat–yang tidak terhalangi oleh kerindangan pohon-pohon besar itu. Sejenak kemudian, perempuan tiga puluh tahunan memejamkan mata, “Seandainya saya seperti kamu.”

“Bagaimana dengan mama kamu? Kamu pasti punya mama, kan?” perempuan tiga puluh tahunan kembali menoleh. “Di mana dia sekarang?”

Gadis kecil tidak menjawab.

“Oh, anak manis, tolong jangan katakan kepada saya, kalau kamu tidak seberuntung itu. Setidaknya, dulu, saya pernah mempunyai seorang mama yang sangat baik,” perempuan tiga puluh tahunan menghela napas cukup panjang, “walau TBC akhirnya membuat dia mati.”

“Ta-nah.”

“Apa?” tentu saja perempuan tiga puluh tahunan itu mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh gadis kecil tersebut. Akan tetapi, mengapa gadis kecil itu berkata demikian; tanah?

“Ibuku adalah ta-nah.”

Perempuan tiga puluh tahunan terperanjat mendengar perkataan gadis kecil tersebut. Ia tatap gadis kecil itu dengan saksama. Gadis kecil lalu mendekat. Mengangsurkan tangannya pada perempuan tiga puluh tahunan. Mengajak perempuan tiga puluh tahunan itu melihat sisi sebaliknya dari batu yang ia jadikan sandaran. Dan, di situ, di sela-sela antara batu dan tebing hutan itu, perempuan tiga puluh tahunan mendapati gundukan daun yang tidak terlalu tinggi. Gadis kecil lantas menunjuk gundukan itu.

Dengan sigap perempuan tiga puluh tahunan menyibak daun-daun layu yang terasa basah dan menutupi ceruk di sela-sela batu dan tebing hutan itu. Betapa terkejutnya ia, kala mendapati kerangka bayi yang tersembunyi di balik serasah pada sebuah ceruk di lantai hutan. Bahkan, tengkorak bayi yang ia temukan itu tidak lebih besar dari kepalan tangannya. Dan, kerangka bayi yang masih terlihat utuh itu juga tampak seperti kerangka bayi yang baru saja dilahirkan.

Ia mengerang. Sesuatu berdetak dalam perutnya. Makin lama makin terasa. Dan semakin kencang. Detak itu seolah berkejar-kejaran dengan detak jantungnya sendiri. Sesuatu yang ada di perutnya itu kini berontak. Menendang-nendang. Memukul-mukulnya dari dalam. Perempuan tiga puluh tahunan mendekap perutnya yang membesar. Ia berusaha sekuat tenaga menahan rasa sakitnya. Dan tiba-tiba saja, bak menerima hantaman keras, perempuan tiga puluh tahunan itu terpekik, “… akhh!” Ia terpelanting jauh. Seketika segalanya jadi menghitam.

“Hahaha.”

“Hahaha.”

“Mari bersulang.”

“Mari kita rayakan.”

Suara ramai orang yang bercakap-cakap itu membuatnya terbangun. Samar-samar, serupa bayangan, dilihatnya dua orang yang tengah asyik bercakap-cakap itu mengangkat gelas dengan penuh sukacita. Ia masih terbujur lemah di atas permadani klasik karya pengrajin Persia abad ke-18 yang sangat ia sukai itu. Dan, mereka, dua orang laki-laki tua yang bercakap-cakap sambil tertawa-tawa itu kian menjengkelkan. Perempuan tiga puluh tahunan mengerjap-ngerjapkan mata. Berharap dua laki-laki tua yang saling berbesan itu lenyap dari penglihatannya. Perempuan tiga puluh tahunan kemudian menangis. Ia teringat seorang lelaki yang dulu pernah ia jadikan kekasih dalam khayalannya. Laki-laki yang kerap memberikannya bahu tiap-tiap ia merasakan sedih. Laki-laki yang seringkali mengusap-usapkan hidungnya ke pipi, leher, juga payudara dan selangkangannya. Laki-laki yang tidak pernah lupa mengecupkan bibirnya dengan penuh penghayatan. Dan, laki-laki itu, sayangnya mati dengan cara yang entah bagaimana. Perempuan tiga puluh tahunan tidak pernah tahu. Ia tak pernah paham. Namun, dalam lamunannya, ia meyakini, bahwasanya laki-laki itu mati dimangsa kawanan serigala lapar. Sebagaimana yang pernah diceritakan mamanya dahulu: cuma serigala laparlah yang tega menghabisi nyawa orang baik-baik. Dan serigala lapar itu tentu tidak akan melakukannya sendirian.

Dua laki-laki tua saling berbesan itu kini raib dari penglihatannya. Ia melihat lubang hitam yang menganga di dinding kamarnya masih bergerak-gerak bak api yang menyala-nyala. Dan, di depan lubang hitam yang menyala-nyala itu pula, ia menyaksikan dirinya tengah mengendap-endap membuntuti gadis kecil yang berjalan menyusuri lorong gelap dan menakutkan itu. Ia tak kuasa menahan. Perempuan tiga puluh tahunan itu menangis sejadi-jadinya.***

Abdullah Salim DalimuntheTinggal di Bandung. Gemar menulis cerpen.

Cerpen

IA

Cerpen Abdullah Salim Dalimunthe

Ia ingin mati sekali lagi, tapi tidak di sini, tidak dengan keadaan seperti ini. Ia lalu pergi–setelah menandaskan bir yang tinggal setengah. Menyisakan tanya yang kini bersarang di kepala saya. Ada banyak pertanyaan, tetapi, yang paling mengganggu adalah: siapa sebenarnya lelaki itu? Dan, apa tujuannya berkata seperti itu kepada saya? Saya tidak mengenalnya. Atau, lebih tepatnya, saya tidak mengenal orang-orang yang berada di sini. Tidak seorang pun.

Saya kerap melihatnya tiap-tiap datang kemari–maksud dari “tiap-tiap” di sini hanyalah beberapa kali, paling baru empat atau lima kali, karena saya memang belum lama akrab dengan tempat semacam ini, baru sekitar dua atau tiga minggu kemarin. Ia terbiasa duduk di bar stool paling ujung, dekat dengan dinding. Di situ cahaya tidak terlalu terang. Mirip dengan meja yang selalu saya pilih. Cukup remang. Di sudut yang berseberangan dengan sudut di mana laki-laki itu terbiasa menikmati minumannya. Hanya saja, di sini lebih hening dan cukup jauh dari konter bar. Saya tidak ingin tergoda untuk meminum lebih dari segelas koktail. Ya, segelas koktail dan dua atau tiga batang rokok untuk mendengarkan beberapa buah lagu yang diputar di tempat ini. Sekadar melepas penat usai bekerja. Dan, melupakan sejenak persoalan yang terjadi antara saya dan Bastian. Hubungan saya dengan tunangan saya itu tengah mengalami kemunduran. Saya merasa, hubungan kami saat ini menjadi renggang. Sangat renggang.

***

Ia memperhatikan saya sejak saya memasuki tempat ini. Saya bisa merasakannya di setiap langkah saya. Tatapannya seakan rekat pada saya. Bahkan, setelah berada di meja yang selalu saya pilih, laki-laki itu tetap menatap saya. Ia tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Laki-laki itu bukan tipe lelaki yang beraninya cuma curi-curi pandang seperti lelaki yang banyak saya temui. Ia tipe pemburu. Tatapannya bagai tatapan seekor harimau lapar dengan ketenangan yang purna. Ia masih menatap. Saya mencoba untuk tidak memedulikannya. Lagi pula, saya merasa terganggu atas sikap dan ucapannya kemarin.

Masih terekam jelas dalam ingatan, bagaimana laki-laki itu menghampiri saya. “Boleh saya duduk di sini?” tanya lelaki itu dengan raut muka yang datar. Saya tidak menjawab; hanya membalas tatapannya. Namun, ternyata, laki-laki itu memiliki kesimpulannya sendiri dalam merespons tatapan saya. Dengan santai ia menarik kursi lalu duduk. Meneguk bir yang dibawanya, kemudian menyalakan sebatang rokok. Ia tidak berbicara sepatah kata pun. Cukup lama. Sesekali ia berangguk-angguk mengikuti irama lagu yang sedang diputar. Hingga sebatang rokok yang ia sesapi akhirnya kandas. “Saya ingin mati sekali lagi, tapi tidak di sini, tidak dengan keadaan seperti ini,” katanya, lalu pergi usai menandaskan bir yang tersisa di gelasnya.

Ia berdiri. Dari gelagatnya, saya bisa menebak, ia akan datang menghampiri saya seperti kemarin. Mungkin sebaiknya saya berterus terang saja kali ini. Saya akan bilang padanya: “Saya tidak butuh ditemani siapa-siapa.” Barangkali dengan begitu ia langsung mengurungkan niatnya untuk duduk semeja dengan saya. Dan, seandainya pun ia tetap memaksa, tidak sulit bagi saya untuk mengusirnya. Saya pikir di tempat ini, akan banyak laki-laki yang bersedia menolong saya. Dua atau tiga lelaki yang sedang berada di tempat ini cukup untuk menaklukkan otot kekar laki-laki itu dan melemparkannya ke luar sana.

 “Boleh saya duduk di sini?”

 “Maaf, saya tidak….”

 “Kau pasti ingin tahu.”

“Apa? Maaf, tahu soal apa? Apa yang ingin saya ketahui?”

Ia menarik kursi lalu duduk dengan cuek; membiarkan pertanyaan saya menguap begitu saja. Ia bahkan tak menghiraukan tatapan saya yang menuntut kejelasan dari perkataannya barusan. Di benak saya pertanyaan-pertanyaan itu kembali muncul: siapa sebenarnya lelaki ini? Apa maunya?

“Dulu, saya pernah mati, sekali,” ia berbicara dengan nada yang agak gusar.

Saya diam–mencoba bersikap tenang guna mendengar penuturannya. Ia menekuri gelas yang masih terisi penuh. Saya menunggu laki-laki itu meneruskan cerita. Hingga berpuluh-puluh detik kemudian, ia belum juga melanjutkan ceritanya. Seolah-olah sedang memikirkan sesuatu. Atau, boleh jadi, laki-laki itu tengah menanti reaksi saya terlebih dahulu. Kami pun terdiam selama berpuluh-puluh detik berikutnya. Dan, ponsel saya tiba-tiba berbunyi; sebuah pesan masuk.

Ia tampak gelisah. Jemarinya sibuk merogoh-rogoh saku kemeja.

“Rokok?”

Ia menolak sekotak rokok yang saya sodorkan. “Ini saja,” dengan cepat ia raih sebatang rokok yang masih menyala dan tergeletak di atas asbak–sebatang rokok yang saya letakkan tadi ketika hendak membalas pesan. Terpaksa saya cabut lagi sebatang kemudian menyalakannya.

“Bukan kematian itu yang saya sesalkan,” ujarnya seraya menatap saya, “karena setiap orang pasti akan mati.”

Ia menghentikan penuturannya sewaktu seorang pelayan mengantarkan pesanan. “Terima kasih,” sambut saya lantas berdehem ke pelayan tersebut. Saya menginginkan pelayan itu segera pergi–saya kurang nyaman dengan tatapan pelayan yang penuh tanda tanya itu.

“Seharusnya dia berterima kasih pada saya, bukan malah membunuh saya,” lanjutnya lagi setelah pelayan itu menjauh.

“Kau dibunuh? Kenapa?”

“Menurutmu apa yang menyebabkan seseorang ingin meledakkan kepala orang lain jika bukan karena cemburu?”

“Cemburu?”

“Ya, sejak dia menyadari saya dan kekasihnya itu saling menyukai.”

Mendadak saya tertawa. Bukan karena apa yang baru saja ia katakan, melainkan lebih dikarenakan laki-laki itu jadi terlihat lucu. Ia yang mengaku-aku pernah mati, dan kini ia mengomel karena kematiannya itu disebabkan oleh rasa cemburu orang lain? Ternyata penilaian saya kemarin salah, ia bukan seekor harimau. Ia cuma seekor anjing kurap yang coba-coba bermain dengan perasaan orang lain. Dan mengeluh selepas merasakan akibatnya.

“Saya bersungguh-sungguh,” laki-laki itu lebih mencondongkan badannya ke arah saya; seakan tidak terima dengan reaksi saya barusan, “seharusnya dia berterima kasih.”

Saya lalu diam–agar dirinya tak kehilangan selera untuk kembali bercerita.

“Karena saya telah membahagiakan perempuan yang dia cintai.”

“Dengan melukai perasaan dan harga dirinya?”

“Kenapa harus terluka? Bukankah saya melakukan sebuah kebaikan? Saya menyukai kekasihnya dan memberikan kesenangan buat kekasihnya itu. Apa itu salah? Seharusnya kaulihat betapa bergembiranya kekasihnya itu ketika saya mencumbuinya di sebuah kamar hotel. Perempuan itu menikmati setiap sentuhan yang saya berikan.”

“Hentikan! Kau terdengar menjijikkan.”

“Hei, ada apa denganmu? Kenapa kau begitu marah?”

Entah mengapa, tiba-tiba saya merasa menjadi sangat haus. Bergegas saya basahi kerongkongan saya dengan segelas koktail sampai habis. Kemudian saya memesannya segelas lagi.

“Padahal, saya hanya ingin menjelaskan, bahwa laki-laki itu harusnya berterima kasih kepada saya,” tukasnya lalu menyesapi rokok hingga tuntas.

Saya menggeram–wajah saya memanas.

“Setidaknya dia jadi tahu, kekasihnya itu tidak sesetia seperti apa yang kerap dia gembar-gemborkan pada orang-orang,” pungkasnya lantas berdiri dengan wajah kesal.

Ia beranjak meninggalkan saya yang juga merasa kesal. Bukan cuma kesal, bahkan muak. Bahkan lebih daripada itu; terlintas dalam pikiran saya untuk membunuhnya, kalau saja ia tidak segera lenyap dari penglihatan saya. Ia benar-benar lenyap setelah sebelumnya berubah menjadi segumpalan awan yang melayang-layang di udara dan lesap menerobos langit-langit. Saya tertegun beberapa saat sebelum akhirnya terkesiap tatkala pelayan tadi kembali meletakkan segelas koktail di meja saya. “Cepat tinggalkan meja ini!” bentak saya kepada pelayan itu.

Saya menenggelamkan muka pada kedua telapak tangan. Pikiran saya benar-benar kacau.

“Maaf, saya terlambat. Kamu sudah dari tadi di sini?” seorang perempuan duduk di hadapan saya. “Kamu tampak kusut. Kamu baik-baik saja?”

Perempuan itu Shasha, sahabat saya sejak lama–sejak kami sama-sama kuliah.

“Sepuluh tahun kenal sama kamu, saya baru tahu kamu suka ke tempat seperti ini.”

Ia mengamati sekeliling. Ia juga memperhatikan apa-apa yang ada di atas meja. Memandangi satu per satu: segelas bir yang tersisa setengah, segelas koktail yang telah kosong, dan, segelas koktail yang masih terisi penuh. Ia juga melihat ke arah asbak.

“Sejak kapan kamu merokok?”

“Belum lama.”

“Kamu lagi ada masalah?”

“Sepertinya begitu.”

Ia mengernyit, kemudian menatap saya cukup lama.

“Kamu ingin cerita?”

Saya menggeleng, lalu meraih wristlet. Ia menatap saya dengan heran.

“Kenapa?”

Saya tidak menjawab. Akan tetapi, demi mengurangi kecemasan Shasha, saya tersenyum. Kendati pikiran saya kembali sesak. Apalagi ketika indra pencium saya mengendus sesuatu yang sangat saya akrabi. Sesuatu yang selalu membuat saya bergairah. Sesuatu yang senantiasa saya ingat. Dan, sesuatu itu menguar dari tubuh Shasha. Saya tetap tersenyum. Perlahan-lahan tangan saya menyelinap masuk ke dalam wristlet. Membelai sebuah revolver yang terasa dingin di ujung jemari saya, sambil menimbang-nimbang apakah saya harus berterima kasih padanya, atau….

*******

Catatan:
Bar stool         : kursi berkaki tinggi
Wristlet           : tas berukuran kecil menyerupai dompet

Abdullah Salim Dalimunthe,tinggal di Bandung. Gemar menulis cerpen.