Cerpen

Kucing dan Gerhana Bulan

Cerpen Karisma Fahmi Y

Ia membunuh satu persatu kucing di kota itu dan menggantungnya di tempat-tempat umum, seolah memperlihatkan pada semua orang bahwa ia telah bangkit, dan ia bukan kucing sembarangan. Ketakutan berembus ke seluruh penjuru kota. Tak seorangpun berani menjawab tantangannya.

Dua hari sebelum hari itu, orang-orang menguburnya di antara kuburan dukun dan kuburan ibunya. Di hari ketiga, ia bangkit. Tubuhnya masih utuh, lengkap dengan rupa dan lentur tubuh kucingnya. Ia berjalan dengan langkah acuh. Matanya yang dulu bulat sayu kini menyala, memancarkan kebencian. Taringnya mengeras. Orang-orang berlari menghindar dan menutup pintu.

Sepuluh tahun hidup dengan hinaan dan pukulan, tujuh tahun hidup di penjara, kini ia terlahir kembali sebagai manusia bebas. Ia bangkit dari kematian dan penindasan orang-orang yang berniat membunuhnya. Kini ia yakin, ia memiliki tujuh nyawa di dalam tubuhnya. Ia telah bangkit dari kematian untuk mewujudkan apa saja yang ditanamkan pada dirinya. Sepenuhnya ia mengamini, tujuh lapis nyawa yang lekat pada dirinya adalah kebenaran yang tak bisa disangkal. Kebangkitan telah melahirkan nyawa baru baginya.

Langkah pertama yang dilakukannya adalah memburu dan membantai semua kucing. Ia menganggap kucing adalah binatang lemah. Mereka, dan juga pecinta kucing itu, telah menanamkan kemalasan dengan memberi kenyamanan dan kemuliaan pada para kucing. Semua itu membuat kucing menjadi tidak bermartabat. Mereka tak pernah paham fungsi cakar yang dimilikinya, dan kumisnya menjadi begitu lentur tak berwibawa. Mereka hanyalah pembual yang lebih bangga pada kehebatan bulu ketimbang cakar dan tajam taringnya.

***

Kelahirannya dimulai dari sebuah gerhana. Berkali-kali dukun beranak menahan nafas. Dukun mengelus kening perempuan di depannya yang berleleran keringat. Kali ini benar-benar tak biasa. Dukun ikut kehabisan nafas. Bibirnya tak lepas merapal mantra.

Malam itu adalah malam gerhana, malam penuh rahasia. Dukun menjaga agar persalinan tak diganggu roh jahat. Niat jahat dan segala kegaiban dipercaya berhembus saat gerhana benar-benar sempurna. Kiriman teluh, tenung, dan semua kejahatan datang saat gerhana hitam. Perjanjian dengan segala setan dibayar lunas saat malam meremang. Kelahiran di waktu-waktu ganjil dipercaya membawa petaka.

Di kejauhan bebunyian dipukul bergantian. Para lelaki berjaga tanpa jeda. Bulan meremang. Orang-orang semakin keras memukuli apa saja, pohon-pohon, kentongan, dan juga panci atau peralatan nyaring yang lain. Binatang-binatang malam pun hening. Tak ada keributan. Semua terdiam seolah mengetahui apa-apa yang tak tertangkap kasat mata.

Perempuan itu kehabisan tenaga. Bayi di dalam perutnya bergerak seolah mencakar, menendang dan merobek dinding perutnya. Tubuhnya semakin lemah. Lamat-lamat masih didengarnya rapalan mantra si dukun agar ia terus terjaga demi bayinya. Lalu sosok itu muncul dari kegelapan. Dua purnama bundar melintasi kegelapan, melintasi tubuhnya. Perempuan itu menghembuskan nafas terakhirnya begitu dua cahaya melompati tubuhnya. Tak sempat didengarnya tangis bayi yang seketika keluar dari jalan rahimnya.

Bulan kembali benderang. Burung-burung berkelepak di pepohonan. Bayangan kucing hitam berjalan keluar. Tangis bayi diikuti teriakan histeris beberapa perempuan di dalam ruangan. Dukun bayi ternganga tak percaya. Kucing hitam melintas tepat di depannya ketika gerhana. Bayangan samar-samar dan gesekan bulu ekornya yang lembut menyapu telapak tangannya. Kucing itu membawa pergi nyawa perempuan di depannya persis ketika gerhana benar-benar sempurna.

Kabar kelahiran bayi kucing saat gerhana itu menyebar. Orang-orang hendak membinasakan bayi itu, bayi yang dianggap sebagai siluman kucing yang menjadi kutukan.

“Bunuh bayi itu! Ia siluman!” teriak orang-orang.

“Tak semudah itu membunuh siluman kucing!” suara lantang si dukun memukul mundur nyali orang-orang.

Malam itu mereka bersikeras menghabisi nyawa siluman kecil itu. Mereka meletakkan bayi itu di atas rakit, lalu mengutus beberapa pelarung membawa bayi itu ke tengah danau, membiarkan bayi itu menjadi santapan ikan. Menjelang subuh, perahu para pelarung merapat ke pinggir. Betapa kaget dan terbelalak mata mereka demi mendapati rakit kecil itu menepi. Rakit kecil berisi bayi itu terapung dimainkan gelombang kecil air. Tangis bayi itu begitu bising. Tak ada yang membantah kata si dukun, siluman kecil itu tak bisa dibunuh begitu saja. Enam nyawa masih menempel di tubuhnya. Petaka membayang di kepala mereka. Gerhana telah membawa kelahiran bencana.

Malam itu ia merenungi nasib. Memikirkan jalan hidup yang mengantarnya ke bui. Tak pernah terbersit dalam pikirannya sekantong ikan itu akan menjadi muasal celaka dirinya. Selama ini ia hidup dalam kejaran demi kejaran orang-orang. Tatapan bengis, jahil, dan bahkan jijik setiap kali harus diterimanya. Pukulan dan guyuran air seringkali harus dirasakannya tanpa tahu kesalahannya.

Semua orang menyebutnya siluman kucing. Semua orang berlomba-lomba menyakiti, bahkan membunuhnya. Tak seorang pun iba padanya, kecuali si dukun yang tinggal di ujung kampung. Hanya si dukun yang membela dan membesarkannya selama ini. Dukun itu melindunginya dari kejaran dan pukulan orang-orang. Namun semua itu tak berlangsung lama. Dukun beranak itu meninggal ketika ia berusia tujuh tahun. Tak ada lagi orang yang mengasihinya.

Banyak kucing berkeliaran di tempat itu. Kucing-kucing itu justru memiliki nasib yang lebih baik dari dirinya. Orang-orang akan memberinya makan,  bocah-bocah kecil mengelus kepalanya, atau bergelung malas di dekat perapian. Kucing-kucing itu dimuliakan. Mereka hidup nyaman, berjemur dan bermalasan sepanjang hari. Berbeda dengan dirinya yang tak pernah jeda dari siksa dan kejaran sepanjang waktu. Sering ia berpikir apakah takdirnya tertukar dengan takdir kucing-kucing itu hingga ia selalu tertimpa sial dan penderitaan akibat rupa kucingnya. Begitulah, ke manapun ia pergi, setiap mata mengincarnya. Karenanya ia lebih senang keluar di malam hari.

Tak ada yang mengganggunya di malam hari. Tak ada yang menyentuhnya ketika gelap malam datang. Ia menyukai malam dengan segala ketenangan dan kegelapannya, karena begitu pagi tiba, semua akan kembali seperti semula. Kesialan dan kejahatan baginya tak akan berhenti sepanjang hari. Seperti pagi itu, saat ia melihat tukang sayur mendorong dagangannya. Bukan salahnya ketika ia tergiur melihat sekantong ikan yang tergantung di gerobaknya. Aroma amis ikan segar itu menyumpal hidung, mengoyak naluri kucingnya yang tiba-tiba lapar. Ia mengikuti si tukang sayur hingga ujung gang, tempat tukang sayur itu biasa mangkal. Tiba-tiba tukang sayur itu melihat ke arahnya.

“Pergi kau, bocah setan!”

Antara kaget dan lapar, demi mendengar hardikan itu, amarahnya tersengat. Diserangnya tukang sayur itu tanpa ampun. Dicakar dan digigitnya tukang sayur itu hingga tak berkutik. Meski tak punya taring tajam, namun giginya cukup kuat untuk mencacah leher berdaki si tukang sayur.

Polisi segera tiba. Ia lari meninggalkan tempat itu. Disambarnya sekantong ikan yang telah diincarnya. Namun sial, ia tertangkap. Pukulan dan gebukan bertubi-tubi menimpa tubuhnya. Ia meronta-ronta lalu limbung tak sadarkan diri. Sejak itu hidupnya berlanjut di penjara rehabilitasi anak-anak. Usianya baru sepuluh tahun. Sekantong ikan yang raib dan banyaknya kesaksian memberatkan semua tuduhan yang ditimpakan padanya.

Ia tak pernah tahu apakah benar ia adalah titisan kucing yang memiliki tujuh nyawa dalam tubuhnya sebagaimana yang diyakini orang-orang. Beberapa kali ia selamat dari maut yang ditimbulkan orang-orang padanya. Namun ia tak percaya memiliki tujuh nyawa yang menyelamatkan dirinya selama ini, nyawa cadangan yang selalu membuatnya hidup kembali.

Malam mulai gelap, lampu-lampu telah mati, penghuni sel pun telah lelap. Ia mengeluarkan pisau di bawah bantal. Ia mencuri pisau itu dari dapur seusai makan malam. Dihunjamkannya pisau itu ke dada. Sedetik ia sempat memekik, namun ia memilih kembali bungkam. Ia ingin tahu apakah benar ia memiliki enam nyawa lain yang akan menggantikan nyawa utamanya. Ia ingin tahu apakah nyawa lain akan membuatnya kembali hidup. Kalaupun harus mati di dalam bui, ia sudah tak peduli. Baginya penderitaan yang tak berkesudahan itu tak pernah terganti.

Darah menggenang di lantai bui yang kusam, mengalir hingga ke tempat opsir penjaga. Ruam amis menguar dan menggegerkan penghuni sel. Di kamar selnya, tubuhnya telah menjadi mayat. Pucat, beku, dan mati. Ia benar-benar mati. Orang-orang menguburnya di antara kuburan si dukun dan kuburan ibunya.

***

Dewan perlindungan binatang memburunya. Dengan dalih kemanusiaan dan perikehewanan, mereka membuat rencana pembunuhan terhadap dirinya. Hukum dan peradilan tak lagi mampu mengurungnya. Rencana itu diamini semua orang.

Mereka mengadakan pasar malam. Seseorang ditugaskan untuk membakar ikan. Aroma ikan segar yang dibakar itu begitu menggoda. Ia pun tak dapat menahan nafsu kucingnya. Dilahapnya sepotong besar ikan berlumur racun itu tanpa curiga. Sejak kebangkitan itu, ia tak pernah takut pada apapun, bahkan pada maut yang telah direncanakan untuknya. Maka tak perlu curiga pada segala upaya orang-orang untuk menangkap atau menyiksanya.

Ia terbatuk-batuk. Mulut dan matanya berair, lalu membusa. Tubuhnya menggigil hingga kuyub. Matanya membelalak mengejan. Bulu-bulu di tubuhnya kuyub lengket ke tubuh. Racun telah menyurutkan nyawanya. Orang-orang membawanya ke rumah sakit terdekat setelah ia benar-benar tak bergerak. Dokter memvonis racun itu telah bekerja, merenggut nyawanya. Semua bersorak gembira.

Dengan dalih peringatan, dewan perlindungan binatang pun mengusulkan untuk membuat patung dirinya dari tubuhnya yang telah memayat. Tak ada yang keberatan. Mereka bersiap mengawetkan tubuhnya di dalam sebuah peti kaca. Patung itu diletakkan di menara kota supaya semua orang dapat melihat dan mengingat perilaku genosida yang pernah dilakukannya terhadap kucing-kucing di kota itu. Ada pula yang menganggap patung itu sebagai batu peringatan bagi kucing-kucing yang mati.

Malam itu, gerhana kembali berlaga. Tak ada yang memedulikannya. Orang-orang tetap melaksanakan pekerjaan seperti biasanya. Di hening redup remang gerhana bulan yang samar, patung kucing di dalam peti kaca itu menggerakkan bola matanya, yang kini kembali bercahaya. Ia membarutkan cakarnya pada kotak kaca, mengibaskan kakinya, melepaskan tubuh lenturnya, melepaskan diri dari ruang kaca yang mengurungnya.

“Praaangg…!!” lemari kaca itu pecah berkeping. Tubuh besarnya telah bebas. Ia kembali terlahir untuk kesekian kalinya. Orang-orang pun panik, berlarian menutup pintu rumahnya. Ia berjalan membelah kota. Ia percaya, ia adalah kucing yang tak perlu takut pada apapun, termasuk pada kematiannya.

Rumah Ladam, Agustus 2022


Karisma Fahmi Y, lahir di kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Esai, cerpen dan puisi-puisinya pernah dimuat di majalah Kalpadruma, harian Solopos, harian Joglosemar, majalah Papirus, tabloid Cempaka, Nova, majalah Pesona, harian Suara Merdeka, Majalah Sastra Horison, Pikiran Rakyat, Koran Tempo, Majalah Budaya Sagang, Buletin Sastra Pawon, Joglo. Puisi, esai dan cerpennya tergabung dalam sejumlah antologi. Tinggal di Solo. Buku terbarunya Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian (Basabasi, 2017), dan satu cerpennya ada dalam buku Antologi Kumpulan Cerpen Koran Tempo 2016.

Cerpen

Cinta yang Sibuk

Cerpen Karisma Fahmi Y

“Apa yang terjadi padamu saat itu?”

“Tak ada. Barangkali hanya kesalahpamahaman.”

“Ia sudah menikah?”

“Belum.”

“Mengapa kau tak mencoba rujuk? Membicarakan kembali mimpi-mimpi kalian. Aku yakin dia masih sayang padamu.”

“Soalnya adalah pihak ketiga,” katanya datar. “Dari pihak dia,” imbuhnya lagi.

Lalu kami sama-sama terdiam. Matanya kembali larut di layar komputer, dan aku tenggelam dengan pikiranku sendiri. Gadis macam apa dia sebenarnya? Mengapa begitu sulit menebak yang ada di batok kepalanya? Aku menghela napas panjang. Ia menoleh padaku.

“Kau kenapa? Galau?” Aku menggeleng.

“Aku sedang jatuh cinta.”

“Oya?” katanya pendek, lalu tenggelam lagi pada layar di depannya. Sesungguhnya aku mengharap terjadi perubahan pada mimik mukanya. Setidaknya ia kaget, atau konsentrasinya hilang, lalu berhenti mengetik demi mendengar jawabanku. Tapi tidak. Ceritaku tidak mempengaruhi kehidupannya, konsentrasinya. Ia kembali mengetik dan mengetik.

“Aku baru merasakan mencintai yang sebenar-benar mencintai,” kataku lagi.

“Seperti apa itu?” tanyanya tanpa menoleh. Sial, jarinya tak juga berhenti mengetik.

“Mencintai tanpa syarat. Sebagai lelaki aku selalu mencintai perempuan dengan sejumlah catatan, karena ia baik, karena hidungnya mancung, karena kakinya panjang. Namun kali ini benar-benar cinta tanpa syarat. Aku mencintainya begitu saja. Semua terasa nikmat sekali,” kataku menerawang. Ia menoleh sekilas ke arahku lalu tertawa kecil.

“Berarti kau benar-benar sudah dewasa,” katanya tersenyum. Aku juga tertawa. Itulah yang membuatku menyukainya. Ia cantik, lucu, dan jujur. Aku harus mengakuinya, aku mencintainya tanpa syarat.

“Kalau kau sudah merasakan cinta semacam itu, kau harus mengejarnya. Kalau tidak, kau akan menyesal kehilangan dia,” suaranya tidak terdengar menggurui. Namun entah mengapa, tiba-tiba aku menyusut di hadapannya. “Apabila tertolak, kau akan merasakan sebenar-benar pahit dan sakitnya,” katanya berfilusuf.

Aku mencermati kata-katanya. Sebagai guru, ia memiliki kemampuan memahami tanpa harus menggurui. Ia kembali sibuk mengetik seolah mengatakan hal itu dengan sekilas saja. Apa Tuhan menciptakan cinta yang buruk padanya? Mengapa ia mengucapkan semua itu dengan datar? Apa ia telah mengalami dan melewati rasa sakit itu? Ia mengetik dan terus mengetik, tak menghiraukanku yang duduk di sampingnya dengan perasaan yang tak menentu.

Sisa hari itu sungguh tak menyenangkan. Aku melewati banyak jam kosong karena tidak ada jam mengajar. Sebagai guru olahraga, jamku memadat di pagi hari. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan dengan perasaan ini.

Bel istirahat berbunyi dan ia selesai mengetik. Dengan bernyanyi kecil ia berlalu dari depan komputer pusat. Tinggal aku yang termangu menyesapi kalimat demi kalimatnya yang mengendap di kepalaku. Tak tahukah dia bahwa aku mencintainya? Aku mengambil napas berat dan dalam. Aku tak tahu lagi cara yang harus kulakukan demi mengungkapkan perasaan. Inikah bentuk sakit dari cinta tanpa syarat?

***

Kupencet tombol off, dan semua ocehan mama berakhir. Kubiarkan mama uring-uringan di seberang karena aku tak mau bicara. Mama tak berhenti menjodohkanku dengan anak-anak teman papa. Berkali-kali aku menolak segala bentuk pernikahan kolega. Terakhir dengan Boni, anak atasannya. Sebagai kepala Dirjen, papa memiliki banyak kolega. Tiga kakak perempuanku menikah dengan anak-anak teman papa. Tanpa cinta, tentu saja. Semua berdasar harta dan jabatan. Terakhir, pernikahan kakak kedua kandas di tengah jalan karena suaminya selingkuh. Kakak kedua memang menderita, namun ia tetap kaya raya. Ia memiliki perkebunan dan vila mewah di pegunungan. Dan mama tak pernah belajar dari hal itu. Mama tetap memaksaku menikah dengan salah satu anak teman-teman papa. Kau ini bodoh atau apa? Tidak semua orang bisa bersuamikan anak Pak Direktur!

Aku menentang keras pernikahan dengan dasar kolega. Aku sudah muak dengan semua tawaran perjodohan keluargaku. Aku tak mau seperti mereka. Aku menyelesaikan kuliah dan hengkang dari kehidupan mereka, menentukan jalanku sendiri. Aku memutuskan menjadi guru dan menjalani kehidupanku sendiri. Kehidupan yang lebih sederhana daripada kehidupan pejabat yang terus menerus harus memasang bibir manis dan basa-basi karena wartawan berkeliaran di mana saja. Kunikmati gaji kecilku.

Kesederhanaan itu tercermin dari kisah cinta yang kurasakan. Aku mencintai Pak Yo, guru olahraga. Tidak tampan dan tidak kaya. Dipastikan apabila aku mengajukannya sebagai calon suami, mama akan berang.  Aku tak peduli. Hal pelik yang kuhadapi saat ini hanyalah: aku tak tahu perasaannya padaku.

Aku melihatnya duduk di sana. Ia tampak murung dan tidak bersemangat. Tatapan matanya mengarah pada Bu Sinta, guru Matematika yang sedang mengetik ulangan di komputer kantor. Bu Sinta adalah teman dekatku. Meja kerjanya tepat di sebelahku. Meski demikian, karakter kami benar-benar jauh berbeda. Bu Sinta adalah orang yang supel dan mudah bergaul dengan siapa saja, sedangkan aku lebih tertutup dan pendiam.

“Aku baru merasakan mencintai yang sebenar-benar mencintai”

“Seperti apa itu?” tanya Bu Sinta.

“Mencintai tanpa syarat. Sebagai lelaki aku selalu mencintai perempuan dengan sejumlah catatan, karena ia baik-baik, karena hidungnya mancung, karena kakinya panjang. Tapi kali ini benar-benar cinta tanpa syarat. Aku mencintainya begitu saja. Semua terasa nikmat sekali,” katanya bersungguh-sungguh.

“Berarti kau benar-benar sudah dewasa,” kata Sinta tersenyum nakal. Mereka tertawa. Aku mencermati pembicaraan mereka dengan saksama. Aku cemburu dengan kedekatan mereka. Seandainya saja aku bisa seperti Bu Sinta, barangkali aku bisa lebih beruntung dalam hal asmara.

“Kalau kau sudah merasakan cinta semacam itu, kau harus mengejarnya. Kalau tidak, kau akan kehilangan dia,” kata Bu Sinta. “Apabila tertolak, kau akan merasakan sebenar-benar pahit dan sakitnya”

Bel berbunyi. Bu Sinta keluar dari ruangan diikuti tatapan mata Pak Yo. Dalam hati aku mengeluh. Benar kata Bu Sinta, kini cinta tanpa syarat datang kepadaku sebagai ujian. Aku harus bersiap dengan segala kepahitan.

***

Mengapa kau tak mencoba untuk rujuk? Membicarakan kembali mimpi-mimpi kalian. Aku yakin dia masih sayang padamu.” Pertanyaan Pak Yo, guru olahraga itu kembali mengusikku. Pertanyaan yang sering kuajukan pada diriku sendiri. Memang benar, Pras masih menyayangiku. Ia masih sering menelepon, dan beberapa kali mengajak menonton bioskop. Kuterima semua tawaran itu sebagai kawan. Sebelum berpacaran, kami sudah berkawan baik. Rasanya tak pantas juga hanya karena pernah menjadi pacar harus memutuskan pertemanan.

Dulu kami sama-sama berada di organisasi mahasiswa pecinta alam. Saat itu ia adalah ketua tim penjelajah. Ia melindungi anak buahnya, termasuk aku, dengan penuh tanggung jawab. Setahun setelah itu kami resmi berpacaran. Tiga tahun kemudian semua menjadi kacau. Barangkali memang benar, cinta memiliki masa kadaluarsa. Ia selingkuh dengan teman sekantornya. Sejak saat itu aku merasa semua lelaki seperti babi. Mereka lupa pada janji dan komitmen yang dibangunnya sendiri. Dari awal aku sudah menegaskan, Aku bisa menempuhi apapun, kecuali satu hal, orang ketiga. Dan ironis memang bila pada akhirnya hubungan kami harus kandas karena pihak ketiga. Aku memutuskan untuk pergi. Aku tak mau dibodohi cinta ketiga. Saat itu juga aku memutuskan untuk menghapus Pras dari hidupku berikut nomor telepon dan segala hal tentangnya. Sebaliknya, ia selalu menghubungiku dan aku tak membalas semua pesan yang ia kirimkan. Dan ia benar-benar seperti babi, menyuruk ke sana kemari meminta dan memohon-mohon padaku untuk kembali padanya. Entah mengapa aku tidak tertarik pada tawaran itu. Tapi sebagai teman yang pernah berada di satu atap organisasi, tentu saja tidak sesederhana itu. Ia tetaplah teman. Dan rasanya aku tetap menjadi juniornya.

Aku begitu khusyuk dengan luka dan sakit hatiku pada lelaki hingga waktu tak lagi menjadi hal penting. Waktu terus berlalu dan kubiarkan lukaku sembuh dengan sendirinya. Sedikit demi sedikit semua menjadi biasa. Tak ada kebencian, tak ada rindu, tak ada cinta, tak ada apa-apa lagi di sana. Hatiku benar-benar kosong. Satu dua lelaki datang, tapi entah mengapa aku merasa tak ada yang benar-benar tepat.

Mengapa kau tak mencoba untuk rujuk? Membicarakan kembali mimpi-mimpi kalian. Aku yakin dia masih sayang padamu. Pertanyaan itu kembali mengiang. Pras tidak seburuk itu. Barangkali saat itu aku yang terlalu berlebihan. Aku menafsirkan segala sesuatu dengan emosi. Kemarahanku benar-benar meluap dan aku tak sudi lagi memaafkannya.

Lima tahun berlalu dan usia terus merambat ke angka-angka matang. Bapak ibuku berkali-kali mencoba menjodohkanku dengan anak-anak temannya. Aku menggelengkan kepala. Aku tidak sepahit itu. Bagiku perjodohan tak akan mengubah hidup menjadi lebih bahagia. Terlebih lagi perjodohan dengan orang yang tak kukenal. Aku tak juga mengiyakan tawaran itu.

Mengapa kau tak mencoba untuk rujuk? Membicarakan kembali mimpi-mimpi kalian. Aku yakin dia masih sayang padamu. Pertanyaan itu berulang-ulang menyentil rongga kepala. Aku tak tahu ke mana perginya rasa cinta, rindu, dan semua rasa kagum pada Pras yang dulu pernah singgah. Beberapa kali aku mendatangkan perasaan itu melalui kenangan. Menurut buku-buku picisan yang kubaca, kenangan akan membangkitkan kembali cinta yang hilang, kenangan indah akan menghidupkan kembali suasana sepasang kekasih. Bagiku kenangan tak begitu dibutuhkan. Semua kebahagiaan yang pernah kami lewati saat naik ke Bromo, Pangrango, dan sejumlah perjalanan sepanjang pantai selatan dengan motor bututnya tak mampu membangkitkan perasaan itu. Lalu bagaimana cara untuk kembali rujuk dengan Pras? Apakah aku benar-benar bisa berdamai dengan semua itu? Aku tidak yakin. Luka yang ditorehnya masih menganga di dasar dada.

Kutatap Pak Yo, guru olahraga yang duduk di belakangku. Ia juga tengah galau perihal cinta. Ia bercerita tentang cinta tak bersyarat. Semua itu membuatku berpikir ulang tentang perasaanku.

Bel berbunyi. Aku harus mengisi beberapa kelas lagi. Ada enggan yang menyergap, memintaku untuk tetap tinggal.

Bu Mita guru Bahasa Inggris tersenyum kepadaku. Tempat duduk Bu Mita tepat di sebelahku. Harum parfum floral menguar seiring tubuhnya yang berkelibat melintasiku. Inilah yang membuatku tak bisa rujuk kembali dengan Pras. Makhluk cantik yang mungil, rapi, dan anteng itu selalu menyedot perhatianku, membuat dadaku naik turun tak menentu. Aku mengagumi Bu Mita seperti dulu aku mengagumi Pras. Perasaan itu datang sebagai cinta tak bersyarat bagiku, meski bagi orang lain, termasuk bapak ibuku adalah hal yang tidak mungkin.

Aku tak tahu, apakah ini wujud dari sakit dan pahit cinta yang tak bersyarat itu? Bagiku cinta adalah omong kosong besar. Tak ada cinta yang benar-benar memenuhi syarat.***

Maret 2018-Oktober 2019


Karisma Fahmi Y, lahir di kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Esai, cerpen dan puisi-puisinya pernah dimuat di majalah Kalpadruma, harian Solopos, harian Joglosemar, majalah Papirus, tabloid Cempaka, Nova, majalah Pesona, harian Suara Merdeka, Majalah Sastra Horison, Pikiran Rakyat, Koran Tempo, Majalah Budaya Sagang, Buletin Sastra Pawon, Joglo. Puisi, esai dan cerpennya tergabung dalam sejumlah antologi. Tinggal di Solo. Buku terbarunya Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian (Basabasi, 2017), dan satu cerpennya ada dalam buku Antologi Kumpulan Cerpen Koran Tempo 2016.

Cerpen

Manna dan Buah Merah

Cerpen Karisma Fahmi Y

Manna, lelaki kurus dan pendiam yang selalu memiliki hasil panen terbaik di kampung kami. Dulunya ia bocah yang sangat menyenangkan dan ceria. Kini,  ia nyaris seperti patung. Hanya sesekali ia terlihat berbicara pada tanaman-tanamannya.

Langit ungu tua membuat sore itu tampak murung. Udara kering. Angin berhembus tak tentu, meniupkan debu-debu. Matahari masih enggan pulang meski langit hitam mulai bergulung datang. Musim kemarau belum undur. Manna menatap halaman depan rumahnya yang dipenuhi kuncup-kuncup bulat kemerahan, kuncup-kuncup ranum buah naga. Beberapa masih merupa kembang dengan kelopak yang gugur di pangkal-pangkal dahan. Mungkin bulan depan buah-buah naga merah yang tumbuh lebat itu bisa dipanen. Ia akan memetik satu per satu buah yang ranum itu dengan gunting besar yang telah ia siapkan.

Manna suka membaca buku dan bertanam. Kepada dua benda itulah seolah ia bisa tenggelam kapan saja. Aku masih ingat suatu ketika di masa kanak-kanak, ia membaca buku di pasar loak, pasar di perbatasan desa. Bapak kadang menyuruhku membeli tembakau ke pasar. Aku mengajak Manna, Didu, dan Baji. Keramaian pasar membuat kami selalu merasa harus mengunjunginya, setidaknya dua minggu sekali. Meski Bapak tidak menyuruh membeli tembakau pun, akhirnya kami akan tetap pergi ke sana. Sesekali kami menonton sirkus monyet dengan ular yang melingkar-lingkar di kepala pawangnya. Melihat penjual obat yang menyembuhkan berbagai penyakit hanya dengan mengoleskan salep atau meminum ramuan yang dijualnya dalam botol-botol kecil dengan akar-akar di dalamnya. Keramaian itulah yang kami cari.

Di pasar kami berpisah, dan berkumpul di tempat pertama, yaitu di mulut pasar, di dekat kusir-kusir bendi. Manna selalu mendatangi pedagang buku. Ia betah berjam-jam di lapak buku loak yang sebagian bukunya telah menguning dan apak. Suatu saat ia membaca buku cerita tentang arwah putri raja yang menjelma ikan setelah memakan buah merah. Arwah putri raja itu menjelma seekor ikan besar yang tinggal di dasar laut. Manna tergila-gila pada buku itu hingga sepanjang jalan pulang ia mengulang-ulang ceritanya. Kami bosan mendengarnya sementara ia terus nyerocos menceritakan kisah itu. Satu-satunya orang yang sabar mendengar ceritanya adalah Bu Guru, seorang pendatang yang juga suka bercerita di depan kelas. Kami selalu menyimak cerita Bu Guru tentang tempat tinggalnya, atau tentang negeri-negeri lain di luar sana.

Siang itu seperti biasa, kami bertemu kembali di mulut pasar. Semua sudah berkumpul, kecuali Manna. Hari semakin siang, dan kami harus tiba di rumah sebelum Asar. Tapi aku merasa Manna di lapak buku. Aku putuskan untuk ke sana. Benar  saja, aku melihatnya. Ia gelisah. Matanya menatap ke arah penjual buku. Dengan cepat ia memasukkan buku ke dalam kausnya yang lusuh dan kebesaran. Pedagang buku tak mengetahuinya. Ia sedang berbincang dengan pemilik warung di sebelah lapaknya. Aku nyaris tak percaya Manna mencuri buku.

Aku menghampirinya. Ia pucat, dan tanganku ikut  gemetaran. Kami berjalan lurus, tak berani menoleh ke belakang. Sepanjang perjalanan, aku dan Manna sama-sama bungkam. Hanya Baji dan Didu yang bercerita tentang peramal yang datang hari itu.

Keesokan harinya, Manna membawa buku berjudul “Menanam Jagung” ke sekolah. Dari mana kau memperoleh buku itu, Manna? tanya Bu Guru. Manna diam menunduk. Di kampung kami yang sangat miskin, membeli buku, sekalipun buku loak adalah hal yang tidak wajar. Kepemilikan buku sangat mencurigakan. Seolah tahu dari mana buku itu diperoleh, Bu Guru tidak memarahinya. Baiklah, hari ini kita menanam jagung bersama-sama.

Bu Guru  menugaskan setiap anak menggali tanah dan menanam biji-biji jagung yang telah disiapkan. Setiap anak mendapat sepuluh bibit jagung. Bergantian kami memupuk dan menyiramnya sebelum dan setelah pelajaran usai secara bergantian, namun hanya pohon jagung milik Manna yang tumbuh sempurna. Jagung-jagungnya tumbuh lebat, nyaris tiga hingga empat pokok jagung di tiap pohonnya. Bu Guru  memuji hasil panennya. Ia ditugasi menanam jagung di kebun sekolah, sebidang tanah yang masih kosong di belakang sekolah. Tak hanya jagung, ia juga menanam cabai, jahe, dan beberapa tanaman lain. Bu Guru  lagi-lagi memujinya. Ia bangga. Sejak saat itu ia tahu, baginya bertanam adalah sebuah suratan.

Sore itu langit semakin gelap sempurna. Manna, lelaki pendiam itu masih menatap halaman depan rumahnya, pada batang-batang buah naga yang kasar dan kersik berduri itu. Ia takjub, tak menyangka tanaman itu tumbuh dengan cepat. Halaman yang dulunya lengang menjadi penuh dan gelap. Tanaman itu memenuhi halamannya dengan kuncup-kuncup merah yang semakin lama semakin membesar. Sebagian dahannya menjalari pagar dan bahkan beberapa tampak mengoler melintas keluar pagar. Ia tak henti-hentinya membelalakkan mata setiap kali menatap duri-duri yang tumbuh di sepanjang dahannya. Tanaman itu tumbuh mendesak ke arah mana saja. Halaman rumahnya seolah menjadi hutan kecil yang tak terawat. Batang-batang bersilangan mengabaikan perasaan ngeri yang melapisi dirinya setiap kali menatap hutan kecil liar di hadapannya.

Ia ingat kisah yang dibaca dari buku yang dicurinya, putri raja berubah menjadi ikan setelah memakan buah merah. Ia hidup abadi dalam lautan sebagai ratu para ikan. Ia ingat hari ketika Bu Guru pergi. Bersama pendatang yang lain Bu Guru pergi ke arah sungai. Dengan terburu Bu Guru memberikan pesan padanya agar ia menanam bibit buah merah di halaman sekolah. Tanamlah tanaman berduri di halaman, agar tak lagi mudah orang-orang merusak tanamanmu. Tanaman berduri itu akan menjagamu. Bu Guru  berlari ke arah sungai dan menceburkan diri ke sungai karena kejaran orang-orang. Arus sungai sangat deras. Beberapa kali penduduk di kampung nyaris mati di batang sungai itu.

Sore semakin gelap. Manna menutup pintu rapat-rapat. Langit hitam sempurna jatuh di halaman. Ia tak pernah melupakan hari itu, hari ketika Bu Guru memintanya mengantarkan jagung pada pedagang buku loak. Bu Guru memintanya memberikan jagung pada pedagang buku sebagai ganti dari buku yang dicurinya. Guru itu mengajarimu mencuri? tanya seseorang yang duduk tak jauh dari lapak buku. Mereka memang benar-benar pencuri ulung! Tak hanya tanah dan kebun yang mereka ambil! Anak-anak kita pun mereka ajari menjadi maling!

Lelaki itulah yang mengejar Bu Guru hingga ke tubir sungai. Lelaki dengan parang terhunus yang menghabisi semua tanaman di halaman sekolah. Beberapa hari setelah hari itu, orang-orang mengejar dan menyerang para pendatang. Lelaki itu pulalah yang merusak seluruh tanaman Manna. Sejak saat itu Manna menjadi pendiam. Ia hanya bicara seperlunya saja, dan terkadang kulihat ia berbicara pada tanaman-tanamannya.

Suatu ketika ia melihat lelaki itu duduk di pinggir sungai, lelaki yang menghunus parang dan merusak tanamannya. Lelaki itu sedang menunggui baju-bajunya yang dijemur di atas semak-semak daun peniti. Manna menghampiri lelaki yang matanya setengah memejam tertidur itu dan mendorongnya ke arah mata air. Lelaki setengah tertidur itu jatuh ke arah sungai. Ia yakin arusnya yang deras membuat lelaki itu tenggelam dalam waktu sekejap. Tak pernah ada orang yang selamat di arus sederas itu. Di hilir, orang-orang menemukan jenazahnya tiga hari kemudian. Orang-orang mengatakan ia jatuh ke mata air saat ia mengejar salah satu pakaian yang tertiup angin.

Angin sore berdesir kering, menjatuhkan kelopak bunga-bunga. Sesekali buah-buah mungil yang masih rawan itu bergerak dimainkan angin. Manna menutup pintu, merebahkan diri di kasur. Ia mengambil buku cerita tentang putri raja yang berubah menjadi ikan di bawah bantal. Aku tahu, Manna mengambil buku itu saat mencurinya, dan menyimpannya di punggung, di balik kausnya yang kebesaran. Ia tidak mengakuinya di depan Bu Guru sebagaimana ia tidak pernah mengakui yang ia lakukan kepada lelaki itu. Sering ia menghibur diri, bahwa Bu Guru telah menjelma seekor ikan dan menjadi guru bagi ikan-ikan di sungai, dan lelaki itu menjadi salah satu muridnya.

Rumah Ladam, Desember 2017


Karisma Fahmi Y, lahir di kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Esai, cerpen dan puisi-puisinya pernah dimuat di majalah Kalpadruma, harian Solopos, harian Joglosemar, majalah Papirus, tabloid Cempaka, Nova, majalah Pesona, harian Suara Merdeka, Majalah Sastra Horison, Pikiran Rakyat, Koran Tempo, Majalah Budaya Sagang, Buletin Sastra Pawon, Joglo. Puisi, esai dan cerpennya tergabung dalam sejumlah antologi. Tinggal di Solo. Buku terbarunya Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian (Basabasi, 2017), dan satu cerpennya ada dalam buku Antologi Kumpulan Cerpen Koran Tempo 2016.