Mendua

bila
kuluahkan; sempurna bayangmu

yang
hendak kulipat dekat

ada
lembayung jingga membayu benak

serupa
gadis hilang perawan, kocar-kacir mencari sasaran

ratap
tersuruk, ambruk

pecah
gelombang, menghantam karang

kian
kuingat jerit hati tersayat

saat
kudulang kembali ingatan itu

di
pantai cermin indah nian seri

kau
tikam aku dengan genit rayuan

tersulam
sejumput ikrar, memadu kasih lewat cumbu birahi

janji-janji
hanya omong kosong

tipu
bualanmu mencubit!

Sebulan
lebih kuurung rerindu ini, menahan konak kian terpenjara

rupa-rupa
air mataku berderai gagah

menyaksi
lekat lekuk tubuhmu tengah asik bercinta di pelabuhan dermaga 

napas
tersedak sembilu membara

;hatiku
patah

Pantai Cermin,
2019


Hubungan
Jarak  Jauh

:Bagi A.B

Cobalah
engkau bayangkan

aku
seumpama ikan benih dari hulu

yang
dengan tabah tergerus arus para perambah

Sedang
kau

Adalah
pelayar yang melawan arus gelombang

Namun
tetap kita 

menghilir
mudik di sepanjang risalah penantian

menakik
segala rintang

menanjak  jarak membentang

dengan
rindu yang semakin garang

Panam
Kota, 2019


Terkenang Mantan Kekasih 

:An

memasuki
jalan kecil, melewati tiap-tiap gang sempit

lampu-lampu
kendaraan serupa kunang-kunang

yang
bertubrukan. seraya aku mengenangmu

bagaimana
kabarmu setelah kurun waktu 4 tahun kutinggalkan

masihkah
wajahmu yang lugu manis seumpama buah manggis

itu
gemar tersenyum tipis?

atau
jangan-jangan setumpuk awan mendung tengah menyelimut

selepas
kupatahkan kau dari peraduan cinta yang sekecut buah mempolam

kau
tahu, akhir-akhir ini aku mudah terserang penyakit lupa

baik
itu hari, tanggal, dan apa pun itu

namun
bagiku, lengang jalan yang sering kita susuri, 

bagai
riak-riak kecil yang terpercik dari pengayuh

membilang
kenang yang ingin kembali memulai

Harapan
Raya, 2019


Tuli

diladang
sunyi,

capung-capung
mengepung

lalat
bertengker di ujung

dan
biji kedelai tengah membenih; semi 

aku
melirik, mendongak pandang

orang-orang
sibuk berkerumun

bercengkerama
entah apa

Pekanbaru,
2019


Air Mata

di
ranjang basah, kutiduri keringat mata

tak
sempat kuseka, hanya kujilati asinnya

ranum
membuahi; perih

Pekanbaru,
2019


Sakau

Aku
adalah wanita yang gemar menjambak imaji

mengeram
rahim puisi tanpa metafora

memuntahkan
birahi frasa yang entah apa

semua
kulumat sesuka sakauku mengeja

Pekanbaru,
2019


Bayang

Di
sebuah ranjang ada bayang mengangkang!

bertabuh
dengan sayap kenang

serupa
kunang-kunang berteduh di daun ketapang

Pekanbaru,
2017


Jerebu

aku
tertidur dalam kepulan asap jahannam,

menyibak
mataku menyerih, perih

Pekanbaru,
2015


Ihwal Rumah Tangga

:Sakinah Bersamamu

Aku
membangun sebuah atap di hutan belantara

Sebelum
kaudirikan sebuah pondasi

Di
dalam tembok-tembok perkasa

Dan
untuk sekian kalinya pada senja yang terpasung

Oleh
cericit murai yang ceriwis

Kita
salingsilang menjenguk kerinduan

sebagai
pengembara purba

Rumah
adalah Raga

Yang
lebih Agung

Dari
sebuah hiduk suci

Rumah
adalah keheningan

Yang
menebar teduh dari ancaman

Rumah
adalah kunci

Yang
membuka pintu hati

Untuk
kita saling mencintai

Pekanbaru,
2015


Ihwal Angan

Aku
melayang-layang bagaikan kapas putih

Dihembus
angin liar

Dan
busur-busur bercahaya lentur

Timbul
tenggelam

Dalam
puncak pikiran

Pekanbaru,
2019


Pusvi Defi,
kelahiran Medan, 23 Juni 1994. Mencintai puisi, dan kamu.