Buku, Resensi

Mengheningi Kebermanfaatan Kertas

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa

Penemuan mesin cetak yang diberdayafungsikan untuk menggandakan tulisan di kertas menjadi tonggak bergairahnya ilmu pengetahuan dan peradaban. Kertas menemui keberfungsian yang paripurna. Ia menggeser dan lekas mengambil alih teknologi belum canggih seperti sabak atau batu tulis, daun papyrus, daun lontar, kulit binatang, dan media-media tulis alamis yang terbatas fungsinya. Penggandaan tulisan di kertas berarti pula dakwah pengetahuan berskala masif.

Perjalanan peradaban bermula dari penerbitan tulisan menjadi bendel-bendel buku. Dulu, peradaban identik dengan buku-buku. Sementara hari ini, sabda tersebut bisa saja tertuduh terlampau retorik, alih-alih kaku dan konservatif. Tanpa maksud melakukan generalisasi, kiranya pengguna media baru (media daring, media sosial) telanjur percaya bahwa ilmu pengetahuan bisa lebih berkembang berkat media baru. Sebagian yang ekstrem bisa saja mendaku tak perlu lagi dilakukan syiar pengetahuan melalui buku-buku. Yang demikian merasa mendapat pembelaan sebab produksi kertas tak ramah lingkungan. Penggunaan kertas berarti dukungan terhadap penebangan pohon-pohon. Kertas jadi demikian dilematik.

Mengolah yang Dilematik

Di tengah segala kebisingan itu, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (FSRD ISI) Solo bekerjasama dengan Harian Umum Solopos, Rumah Banjarsari, dan Bentara Budaya Solo mendalami “kertas” sebagai sebuah diskursus yang kompleks. Kertas menjadi subjek utama dalam serangkaian acara, workshop mengolah kertas bekas; membuat karya seni dari kertas daur ulang; pameran seni rupa; dan menerbitkan buku antologi bertajuk “Meretas Kertas”. Delapan tulisan di buku tersebut ditulis orang-orang dari pelbagai latar belakang. Mereka adalah dosen, sejarawan, pengamat sosial-kebudayaan, penulis, sampai wartawan.

Pembaca menyimak ragam dedongengan memerkarakan kertas dari zaman penemuannya yang mula-mula sampai dengung nirfungsinya di zaman sangat teknologis seperti sekarang. Masa silam mencatat keberfungsian kertas bagi praktik pemerintahan di masa sebelum masehi, untuk pelbagai kebutuhan praksis sehari-hari misalnya pembungkus kaca keramik (hlm. 3), penyebaran pengetahuan dan informasi, penggandaan teks-teks suci, dan lain sebagainya.

Konon, presiden pertama Indonesia berambisi mengentaskan bangsa dari derita buta huruf. Lelaki karismatik itu yakin betul kalau kertaslah yang mampu membuat bangsanya merdeka dan beradab. Soekarno mengajar dan menaruh harapan bangsa Indonesia membaca buku, koran, dan majalah demi mengerti laju revolusi. Harapan itu tentu saja membutuhkan kertas untuk menerbitkan buku-buku sebagai bacaan (hlm. 52).

Pesohor yang menaruh minat dan kesadaran akan kebermanfaatan tulisan di kertas tentu saja tak cuma Soekarno. Kita mengenal Hatta, Tan Malaka, sampai kepada Habibie, Gus Dur, juga Jusuf Kalla. Dalam acara Mata Najwa bertajuk Terima Kasih Pak JK (Rabu, 16 Oktober 2019), pemirsa mendapati keteguhan sikap JK memerkarakan buku sebagai sumber pengetahuan dan kebijaksanaan hidup yang utama. Para cucu mengenang JK sebagai kakek yang membebaskan cucu-cucunya membeli buku dengan nominal berapapun. Hal itu tak berlaku untuk belanja urusan lain. Buku menjadi kata kunci dalam kehidupan berkeluarga JK.

JK merupa contoh konstekstual bahwasanya kertas menjadi media bagi para pendahulu mewariskan ilmu pengetahuan sehingga sampailah kepada generasi berikutnya. Kendati kini, gegar kehidupan sudah bergeser kepada internet melalui media baru yang dilahirkannya, kita rasanya tidak—atau belum—mampu beranjak dari persinggungan dengan kertas. Buku-buku dengan rupa ragam genre terus bermunculan, pemerintah perlu mencetak kebijakan-kebijakan menuju keabsahan pemberlakuannya, institusi-institusi pengetahuan dan keagamaan tak henti melakukan syiar pengetahuan melalui teks-teks tercetak, keperluan mencetak poster untuk aksi massa, pengabaran kematian, pernikahan, dan acara-acara lain.

Tulisan-tulisan dalam Meretas Kertas (2019) memberi kawruh pada kita betapa kertas masih menjadi suatu yang demikian penting terutama bagi institusi pengetahuan, lembaga kekuasaan, lembaga agama, serta lembaga sosial-kemasyarakatan sebagai media syiar pelbagai macam ide yang kesemuanya bermuara pada perumusan kebijaksanaan-kebijaksanaan hidup (hlm. 7). Tsah!


Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, locita.co, langgar.co, dan lain sebagainya.

Buku, Resensi

Negara Acap Kali Merecoki Hidup Kita

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa

Orang-orang Oetimu (Marjin Kiri, 2019), pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) bertarikh 2018 terbit menjelang situasi negara yang karut-marut. Menggunakan latar tahun di mana Orde Baru berkuasa, Felix teruji ketelatenannya menjahit keping-keping cerita masyarakat Indonesia bagian timur. Novel yang dilabeli 19+ itu menghamparkan kepada kita kehidupan paling lekat dan sehari-hari. Kehidupan sebagai masyarakat sipil yang kerap dibikin runyam negara dan kemudian juga institusi agama. Tingkah onar negara, aparat, institusi agama baik dalam novel karangan Felix maupun dalam kehidupan kita yang sebenar-benarnya berhasil membuat kita terlalu sering sengsara.

Puluhan tahun Indonesia membungkam Papua. Mengabaikan suara personal mereka, membatasi akses bagi media dalam dan luar negeri yang hendak meliput ke tempat itu, tak menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM. Belakangan menyepelekan protes-protes yang berakibat rusuh dan terus memakan korban jiwa, juga melakukan kejahatan teknologis dengan membatasi akses internet bagi warganya. Atas dalih menjaga keutuhan NKRI, negara acap kali abai pada nilai yang paling dasar dan berarti dalam kehidupan kita—kemanusiaan. Menyalin teriakan histeris Maria saat Sang Perwira menyampaikan pidato di hadapan mendiang suami dan anaknya, dan menghubungkan kematian mereka dengan usaha mempertahankan kesatuan negara. “Kesatuan negara yang mana? Yang harga mati itu? Yang harga mati itu kemanusiaan! Yang harga mati itu keluarga saya…” (hlm. 158).

Dalam Orang-Orang Oetimu, Maria sudah lama tak percaya pada negara, aparat, dan institusi agama. Sebelum mendapati segala yang ia perjuangkan melawan negara sia-sia belaka, Maria ialah mahasiswa yang gemar berkoloni untuk membicarakan dan berdebat memperkarakan banyak hal. Perang di Timor Timur, pemerintahan Soeharto yang anti-kritik, agama, dan  segala anak turunannya. Maria ialah representasi gadis yang tak sungkan mengumpati segala hal yang dinilainya tak tepat takaran. Ia juga hampir selalu menyanggah dengan melemparkan pertanyaan-pertanyaan retoris pada lawan bicaranya.

Dalam perkara agama mari kita kutip sebagian kecil sikap Maria menghadapi khotbah agamawan. Saat Frater Yosef memberi keterangan menuding kadar iman dan syukur kita sebagai umat amat minim, sementara itu Tuhan akan menjaga dan memberikan hal-hal terbaik pada kita apabila kita rajin bersyukur. Maria melempar sambutan telak. “Wahai Frater, bagaimana kalau Tuhan Maha murah, tetapi setiap pemberiannya selalu diambil oleh orang-orang yang serakah?” (hlm. 128).

Kekuasaan yang Serakah

Keberadaan negara sejak masa kolonialisme menyengsarakan hampir setiap sendi kehidupan masyarakat kendati kadarnya berlainan-lainan. Perang antara militer Indonesia dan gerilyawan Fretilin merelakan banyak sekali nyawa dan harga diri para perempuan muda. Laura belum genap berusia dua puluh saat ayah dan ibunya ditembak aparat di pinggiran dermaga. Ia seharusnya jadi gadis periang, tetapi perang merebut segala yang ada padanya. Termasuk sel-sel telurnya(hlm. 48).

Sekarang, mari kita mampir ke Buenos Aires, menyimak pengisahan Jorge Luis Borges mengenai perang saudara yang melenyapkan nyawa kakeknya. Di awal tahun 1874, Francisco Borges— kakek Jorge Luis Borges, menjadi Komandan Tertinggi di perbatasan Utara dan Barat Buenos Aires. Ia bersama sepuluh atau belasan anak buahnya berderap menuju barisan musuh. Di sana ia dilumpuhkan oleh dua butir peluru Remington (Jorge Luis Borges, 2019: hlm. 6). Dalam kalimat lain, perang senantiasa membawa duka bagi tiap-tiap pihak yang terlibat.

Kekuasaan Oligarkis

Apa tujuan perang? Ialah ambisi berkuasa. Soesilo Toer melalui Pram dalam Bubu (Pataba Press, 2015) memberi penggambaran mudah terpahami soal itu. Ia mendefinisikan kekuasaan sebagai perwujudan dari ideologi yang dianut oleh kelompok sosial tertentu. Dengan demikian, tidak heran apabila kekerasan digunakan sebagai tameng untuk menumpas ideologi yang rawan dan akan mengganggu kelangsungan hidup kekuasaan yang sedang bercokol. Dalam konteks ke-Indonesiaan, ambisi berkuasa itu menjangkiti hampir setiap orang yang masuk dalam sistem kenegaraan, entah ia bagian dari eksekutif maupun legislatif, pun termasuk yang paling purba mengamini arti kekuasaan ialah para aparat yang apapun duduk perkaranya senantiasa latah main hajar.

Tokoh rekaan Felix hadir dengan cukup utuh untuk memberi gambaran aparat yang latah main hajar. Konon, Sersan Ipi ialah polisi yang mendapat mandat istimewa bertugas di Kampung Oetimu. Mandat itu ia peroleh lantaran Am Siki, kakek asuhnya dianggap sebagai pahlawan yang telah berjuang menumpas penjajah demi mempertahankan harkat dan martabat negara. Tiap kali Sersan Ipi muncul, selalu ada yang kena hajar, baik tukang ojek, sopir truk, bahkan anak-anak sekolah sekalipun. Tak ada yang berani melawannya, sebab ia aparat negara yang berseragam dan bertindak atas nama negara. Ia bertindak demi kebaikan seluruh warga negara. Dan barang siapa melawan aparat, ia berarti melawan negara. Melawan negara sama artinya dengan komunis. Komunis harus dibunuh dan ditanam di hutan jati (hlm. 59).

Praktik “kekuasaan” itu juga terjadi di gereja. Para romo mendayafungsikan statusnya sebagai pelayan Tuhan dan sebagai orang terhormat guna melakukan pelbagai pelecehan seksual kepada remaja-remaja perempuan binaannya. Para remaja perempuan itu jelas lebih banyak bungkam sebab pelaku pelecehan itu ialah orang yang selama ini sangat dihormati masyarakat. Masyarakat kiranya mudah saja menuduh para gadis hendak merendahkan harkat martabat para romo dengan membuat kabar miring sedemikian rupa.

Praktik “kekuasaan” yang lain lagi ialah sekolah berbasis keagamaan yang sebelumnya dikhususkan sebagai sekolah untuk warga kurang mampu, yang secara berangsur dipoles jadi sekolah elitis yang memberlakukan biaya sangat mahal dan susah dijangkau masyarakat kelas menengah ke bawah. Perlahan namun pasti, di sekolah itu anak-anak dari keluarga kurang mampu tak bersisa sama sekali. Demikianlah aturan main tuan-tuan yang mahakuasa. Mereka menghendaki masyarakat sipilnya jadi mahasengsara. Tsah!


Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, locita.co, langgar.co, dan lain sebagainya.

Puisi

Puisi Rizka Nur Laily Muallifa

Kekasihku Tak Turun Ke Jalan

Apa yang lebih penting dari turun ke jalan

Ialah menakar berahi politik praksis

Diri sendiri

(Sala, 2019)


Mata Laut Kekasihku

Panas menyoroti tubuhmu

Lepas basuhan pertama

di bidak yang semalam kita bayar murah

Derma lelaki paruh baya

Yang sabar menunggu kebosanan

kebosanan diturunkan

dari punggung kota

Manik matamu sembunyi dalam warna laut

Yang semilirnya

Mengasihi

dan menjadi kita

Sampai saatnya angin memberitahu

Siang sudah terang

Di sanggah pulasmu yang penuh seluruh

Aku melamun panjang

Bermuara padamu

Ibu kandung puisi-puisiku

(Sala, 2019)


Luka di Pelipismu Luka di Jari Kananku

Sebelumnya aku tidak tahu

Kalau lalat juga hidup di tepian

Sungai Biru

Tempat di mana kita meredam

amarah

Melakoni hari tunggal

Membuat kita tak punya pilihan

Untuk marah satu

kepada lainnya

Kendati waktu kecil sebelum itu

Kecemasan hadir bersisipan

dengan ketakutan

Kau akan main-main

Bahkan kepada janji yang paling

Lantas pejam kita guguran daun mangga

Tertepis angan

Tapi aku tak tidur

Sebab ada saatnya tidur bukan keputusan menarik

Kupilih ikhtiar membaca laut matamu yang terkubur haru

Di pelipis kananmu

Apatah luka itu

atau kenang-kenangan dari rahim ibu

Kupilih premis kedua

untuk mengantar pulasmu jadi sempurna

(Sala, 2019)


Harga Buah

Jalan menanjak

ke Gunung Kidul

Adalah jalan buah-buahan

Apakah anggur merah tumbuh

di kebun samping rumah?

Di sini pohon salak berbuah

rimbun

(Sala, 2019)


Dua Buah Apel

Kau menguliti apel

Laiknya mengikir cita-cita

Tenang dan penuh pertimbangan

Lepas kulit apel

Kau mengirisnya lebih hati-hati

Pertimbanganmu makin setiti

Ada banyak cita-cita yang mengantar

Pada doa

Sebuah apel yang lain

Ada dalam jangkauanku

Kubiarkan kulitnya tetap lekat

Dan kupotong ia dengan ukuran

Tak rinci

Sebab aku terlalu grogi

Kalau-kalau tak kau sertakan

Dalam heningmu yang khidmat

(Sala, 2019)


Daftar Laki-laki Membosankan

Ada terlalu banyak laki-laki

Yang tidak menarik

Sama sekali

Mereka terlalu banyak bicara uang

Dan igauan-igauan berjangka

Gurauan purba untuk tampak oke

Di hadapan setiap perempuan

Diobralnya omong kosong

Soal apa-apa yang lekat

Pada tubuh perempuan

Sambil melibas enteng pikiran

Dan segenap pendirian

serta ketokohan dirinya

Laki-laki yang begitu biasanya sedikit membaca

Hal itu membuat otaknya mampet

Dan jadi tak berharga sama sekali

(Sala, 2019)


Laki-Laki yang Ingin Menikahi Buku

Kencan kita cuma selingan

Cameo yang kebagian jatah

jarang syuting

Terjadi sesempat waktu

Saat kamu bosan baca buku

dan ingin bercakap-cakap tak perlu

(Sala, 2019)


Dari Solo ke Blora

            : Soesilo Toer

Kita melabur hutan

hijau nun hitam

Panjang, tak habis-habis

dengan puluhan ribu cerita

Membentang semenjak Rusia

Di Tanah Abang, gegas kita menjelang kerumunan

Menyimak Sang Komponis Kecil

Memainkan lagu yang itu lagi itu lagi

Di matanya, ada wajah sang ayah

sebelum gugur di pertempuran

dan dikenang warga kampung

sebagai veteran

Di dekat Lapangan Banteng,

Cerita istirah

di rumah tahanan politik

(Sala, 2019)


Bucin

Aku

Adalah cinta yang menggebu-gebu

(Sala, 2019)


Pohon Api

       :pal

rindu pongah terjatuh di

tanah yang basah oleh gelisah

membiarkan resah berkisah pada tangkai-

tangkai api yang barangkali

ingin abadi

biji-biji api itu lantas berkilatan

mula-mula hangat lantas

tanpa kau tahu bunga di dadamu terbakar

waktu itu aku sedang memagut melati di tamanmu

(Sala, 2017)


Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan buku puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, ideide.id, langgar.co, dan beberapa lainnya.

Esai

Narasi Perempuan dalam Bingkai Internet

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa

Gembar-gembor Internet of Things (IoT) menjadikan hampir segala hal di kehidupan kita mencuat ke permukaan dan berebut panggung untuk jadi konsumsi publik. Hal-hal yang tak terjamah akses internet mudah tertuduh sebagai wujud ketertinggalan, tertutup, asing, dan bahkan aneh. Era kiwari sungguhan membaiat kita sebagai manusia-manusia latah jumawa berkat kecerdasan buatan yang hadir dalam bentuk alat-alat elektronik berteknologi sentuh. Kemudahan mengakses informasi mengenai segala hal menjadikan manusia-manusia merasa tahu, gemar dan (seolah-olah) pandai dan merasa berhak bicara apa aja.

Salah satu tema yang jadi pokok bahasan “seksi” berkat gembar-gembor internet beserta kroni-kroni turunannya ialah menyoal perempuan dan kemudian juga seksualitas. Setidaknya dua tahun terakhir ini internet mengabarkan massifnya gerakan perempuan. Di akar rumput, para penggerak perempuan terus mendampingi perempuan-perempuan penyintas kekerasan seksual untuk mendapat pendampingan yang layak dan manusiawi. Kabar yang dihembuskan internet memberitahu keberadaan sekian penyintas berani mengungkap kasus yang menimpanya. Hal yang begitu jelas memantik api keberanian bagi perempuan-perempuan lain yang mengalami kasus serupa.

Jelang akhir tahun 2018, Tirto.id, The Jakarta Post, dan Vice Indonesia membentuk tim investigasi khusus bertagar #NamaBaikKampus untuk meliput perkara kekerasan seksual yang terjadi di perguruan tinggi. Liputan-liputan mendalam yang dilakukan ketiga media tersebut lekas tersebar dan turut menyulut keberanian para perempuan (lebih-lebih penyintas) untuk bersuara. Gerakan massa memprotes ketidaktegasan kampus menindak para pelaku terus bermunculan. Kita juga disodori kasus Baiq Nurul yang terkriminalisasi justru karena ia melaporkan pelecehan seksual yang menimpanya. Berkah internet memudahkan perempuan satu dengan perempuan lain yang berada di pelbagai daerah merasa satu, senasib sepenanggungan dan sudah saatnya tak takut atau malu untuk bicara.

Mendengar Para Penyintas

Para penyintas kekerasan seksual mencuat keharibaan publik internet melalui beragam cara. Setelah menyimak kisah-kisah penyintas di ranah perguruan tinggi melalui kompilasi produk jurnalistik bertajuk #NamaBaikKampus, di malam yang lebih mutakhir saya bertatap muka dengan beberapa penyintas kekerasan seksual melalui medium film. Bulan menggantung di langit Solo yang senantiasa ramah dan santun. Teater Kecil Institut Seni Indonesia Solo yang agak dipaksakan fungsinya sebagai ruang tonton terasa penuh. Sejak Magrib lepas, orang-orang membentuk antrean mengular guna menunggu jatah presensi di bagian depan Teater Kecil. Gurat wajah mereka begitu antusias menjelang pemutaran film Telur Setengah Matang (Reni Apriliana, 2019).

Film pendek berdurasi 16 menit itu diputar perdana pada 12 Juli 2019 lalu. Apa yang coba disampaikan film kepada penonton bukan suatu hal yang baru apalagi asing. Digawangi lima perempuan muda yang tergabung dalam satu kesatuan di Larasati Creative Lab, film menampakkan kepada penonton persoalan remaja tergoda dan terjerumus pergaulan seksual tanpa pengetahuan atau informasi yang memadahi soal dampak setelahnya. Anisa dan Adit ialah sejoli berusia Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang terduga kuat berhubungan badan dengan motif coba-coba berkemauan seru dan menyenangkan.

Berlatar perdesaan dan menyoroti cerita hidup kelas ekonomi menengah ke bawah, film ini melahirkan pertanyaan-pertanyaan dalam benak penonton. Kendati sempat menyembunyikan fakta kehamilannya, Anisa akhirnya bercerita kepada bapaknya hampir tanpa hambatan yang berarti. Sebagai gadis “setengah matang”, Anisa tampak begitu menguasai diri saat menceritakan permasalahannya. Anisa bahkan dengan sigap memiliki pilihan-pilihan logis nan bijak seperti keinginannya untuk aborsi dan memberi pelajaran kepada Adit untuk turut merasakan malu dan menanggung akibat atas perbuatannya. Dengan demikian, tokoh Anisa justru terasa ganjil. Anisa adalah perempuan “setengah matang” yang alpa atau kebablasan terintervensi sosok-sosok peracik film sehingga latah tampil sebagai tokoh yang begitu matang.

Terlepas dari film Telur Setengah Matang, yang lebih menarik untuk disimak adalah kisah orang-orang di baliknya. Dalam diskusi pasca menonton, produser dan moderator tak segan-segan mengaku dirinya adalah penyintas kekerasan seksual. Sementara empat perempuan lain yang tergabung dalam tim produksi film punya pengetahuan dan pengalaman mendapati kisah-kisah bertaut kekerasan seksual yang menimpa para perempuan di sekitarnya. Sekira dua atau tiga tahun lalu, lima perempuan berbagi cerita dan berakhir serius. Kebetulan perempuan-perempuan itu punya latar konsentrasi yang sama, film dan grafis. Maka dipilihlah film sebagai medium untuk mereka berbicara.

Gara-gara Internet

Saya tak sepakat dengan argumen yang menyatakan “perempuan” adalah isu yang kering dan tak menarik. Di era “internet adalah segalanya”, isu perempuan terus berkembang menjadi pokok bahasan yang seksi dan massif diperbincangkan baik di jagat maya maupun di kenyataan. Orang-orang dari pelbagai kalangan kian santer memperbincangkan, berdebat, mengkaji ulang, menghasilkan karya dari isu-isu seputar perempuan. Gagasan-gagasan dan kemudian juga gerakan aplikatif bertaut perempuan terus memperbarui diri.

Kita semua jadi saksi betapa massifnya desakan publik supaya RUU Kekerasan Seksual lekas-lekas disahkan, banjirnya dukungan kepada para penyintas untuk berani bersuara, terus bertumbuhnya gerakan-gerakan pemberdayaan perempuan yang didasari atas kesadaran untuk kreatif dan berdikari. Dan internet, salah satunya melalui kedigdayaan media sosial mengabarkan dan menautkan kisah-kisah haru ataupun pilu para perempuan dari pelbagai daerah. Dengan demikian, naluri untuk merasa dan menjadi dekat satu dengan yang lain begitu mudah terjadi. Kemudahan akses internet bagi para perempuan di pelbagai daerah di Indonesia meski belum secara keseluruhan, setidak-tidaknya terus-menerus berkemauan mengentaskan para perempuan dari tumpukan permasalahan yang membayangi keseharian mereka. Isu-isu soal perempuan tak lagi terkungkung dalam jerat eksklusivisme dan isolasionisme seperti yang dikhawatirkan Muhammad Nurkhoiron dalam pungkasan tulisannya yang berjudul Identitas Perempuan Indonesia: Menyintas di Tengah Pusaran Kapitalisme Global (Desantara Foundation, 2010, hlm. 199). Tsah!***


Rizka Nur Laily Muallifa, pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, locita.co, langgar.co, dan lainnya.

Puisi

Puisi Rizka Nur Laily Muallifa

Memasak Ibu

perempuan kecil memasak
untuk menghadirkan aroma tubuh ibunya

(Sala, 2019)

Apakah Cinta Itu

di jauh, gadis kecil bertanya
pada ibu di rumah
apakah cinta itu, bu?
cinta itu, nak
saat kamu tidak berhasrat mengubah apapun
dari orang lain
pernah kamu jatuh cinta?
kupikir belum
bahkan kepada ibu?
ya, bahkan kepada ibu

(Sala, 2019)

Halaman Belakang

kesedihan adalah mengalami pertemuan
beku
kamu tak percaya diri menemuiku di keramaian
aku tak percaya diri mencintaimu

apakah kita perlu sering-sering bertamu
di halaman pungkasan majalah mingguan
sekadar untuk bertemu
di ruang depan pikiran

(Sala, 2019)

Setengah Hari

siang baru setengah dan miring ke kanan
sebab hujan tak bercabang
bertamu di himpitan pintu kamar
di dalamnya, mataku
hilang di tiap gigitan jambu

orang-orang kecut memandang
nyala neon
seperti ilustrasi komet jatuh
di pelajaran IPA sekolah dasar
mengumpati sabtu yang gagal tidur

(Sala, 2019)

Aku Tidak Suka Bekerja

aku tidak suka bekerja.
kecuali minggu,
hari-hari jadi sibuk dan menyebalkan
aku jadi tak punya cukup waktu
memandang buku-buku

sebetulnya kamu juga, tidak
suka bekerja
tapi bekerja sudah jadi
kehidupan itu sendiri

kenapa begitu?
karena bapak sudah jarang memberi uang saku
kamu anak laki-laki, dan harus
mandiri

(Sala, 2019)

Puisi di Jalan

di jalan
aku sering jadi puisi

sekian kilometer puisi tak tercampak
ingatan
duduknya tenang
menyusun diksi sesuai warna baju

lampu tiba-tiba memerah
wajah puisi jadi ramah
diantarnya senyum koma ke tiap-tiap arah

di puluhan jalan berlubang
puisi membenamkan diri
mengamati
batu-batu kecil bergaun malam

setelah tanjakan
puisi hilang di belokan
ia, tak pernah sampai rumah

(Sala, 2019)

Lelaki Bermata Jauh

waktu dan keriuk kerupuk hijau pernah kita simpan
baik-baik di toples bekas biskuit lebaran
tiap susunan kita tata dengan pertimbangan setiti

dua ratus tiga puluh bulan kemudian
di hari rekah, kita kalah
dan sepakat tak ada lagi tiket terselip di jendela kereta yang muram
kita pilih gembok tanpa kunci untuk stasiun kota yang tenggelam

(Sala, 2019)

Rizka Nur Laily Muallifa.Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, locita.co, langgar.co, dan lain sebagainya. Aktif di KomunitasDiskusi Kecil Pawon, Kisi Kelir, Bentara Muda Solo