Syawal
; Ibuku Siti Ngaisah
sepetak ladang berpuluh tahun
menyulam dirinya untuk terus hijau
di tengah-tengahnya jantung ibu
berdegup mekar menjaga kangenku
sedang pohon-pohonnya tubuh yang tabah
melepas anak-anak embun
lesap ke urat-urat
perjalanan
melimpahiku ribuan maaf
dari kejauhan
Mataram, Syawal 1440 H
Menulis Sajak Tiga Baris
yang putih adalah kabut
yang sedih adalah putih
yang terenggut
burung-burung kembali
berpulang pada magrib
menujuMu duka berjalan tertib
kuseterika baju-bajumu
setelah kau cuci bersih
masa lalu
rembulan penuh
jatuh ke mata sungai
oh, cinta yang berderai
di bawah lampu menyala
begitu subur air mata
begitu rimbun luka-luka
kemarau yang menggenangi
seluruh kota
mengenangkanku pada lagu Africa
dari puisimu, Goenawan Mohamad
kusimpan dengan sedih
sepatu kecil Aylan Kurdi
di dalam tanah
sebutir benih pecah
ia pahami hakekat ibadah
yang dalam adalah laut
yang hitam adalah luput
yang cemas adalah doa-doa yang kusebut
Ramadhan- Syawal, 1440 H
Memandang ke Seberang Halaman
apa yang kau temukan
saat kau pandang
ke seberang halaman
jalan berpaving kotak-kotak
pembatasnya dulu jajaran batang-batang
luntas, sebatang nangka bubur dan
sedepa ke kiri segerumbul talas
seorang modin, beberapa orang dandan
pernah melewati jalan itu
membawa seorang demi seorang
-calon menantu
bagi tiga anak perawan
penghuni rumah limas
sebelah kiri jalan
apa yang kau simpan
di lubuk kenang
pada seberang halaman
kau yang datang dari arah jauh
arah yang berlawanan
bersetelan jas hitam, bersongkok hitam
di kiri kanan pundakmu
disangga tangan-tangan keluarga
sepasang kembar mayang mekar
menjemput mempelai perempuanmu
ke dalam rumah limas itu
dengan tubuh saling gemetar
kau dan mempelai perempuanmu
menyesap kucuran air kendi
air yang terperam dalam tujuh
rupa kembang
yang aromanya tak bisa hilang
hingga jauh memasuki tubuh malam
membenam dalam
menetes-netes, bermalam-malam
menjadi candu tak terbilang
Ampenan, 20 Maret 2019
Jarak
sebatang jarak tumbuh masih rendah
di tepi parit dekat masjid
yang tak begitu megah
pernah kupetik beberapa lembar
daunnya
tanpa izin ke barang siapa
“petiklah
beberapa lembar daun jarak
dekat masjid itu
untuk kubalurkan ke perut bocah lelakimu”
seorang ibu dari Sumbawa
mengucap padaku
di tengah malam sebelumnya
diare serta panas menyerang
bocah lelakiku
beberapa hari selepas genap dua tahun
kini sebatang jarak kutemukan lagi, rimbun
di halaman sebuah rumah
dekat pondokan kami yang baru
kupandang setiap lewat
pohon yang menyimpan kelebat
suara seorang ibu dari Sumbawa
suara mantra yang sepurba
mitologi itu
Ampenan, 19-20 Maret 2019
Burung Hantu
di pohon hitam
di jam terkelam
kutangkap melodimu
Pagesangan, Januari 2017
Tarekat
aku menulismu
berulang-ulang
aku memanggilmu
tak pernah bimbang
dan aku menempuhmu
lewat ribuan lambang
2017
Di Kolam Renang Valerie
di atasmu duduk
bergantung enam butir jeruk
pada carang-carang sekaku telunjuk
gemar dan mahir menusuk
sesuatu yang sedih kau sembunyikan
di kediaman tengkuk
Jember, September 2018
Di Balai Kota
di balai kota menegak pagar
dari ribuan papan kembang
matahari mata yang menyabarkan
saat laki-laki itu
memasuki jantung gedung
namun ia merasa tenang
dan barangkali menang
memandang dendam kian mekar
di ruang sidang
Mei 2017-September 2018
Kesedihan Musim
sebuah paceklik datang tak memandang
waktu. Tangannya terulur demikian karib
menjangkau pintu
seekor induk unggas memburu butiran jagung
yang terbawa paruh burung
di hampar kebun yang memutih itu
seperti sehabis hujan abu
namun dari pucuk daun nangka
sebutir embun menitik
tak kentara
serupa doa yang diam-diam
terjaga
di sudut gema
bilakah hujan membuyar
lagi dari utara?
lewat tangan laut yang menyudahi nestapa
2017-2019
Doa
duhai angin yang melipur
ladang-ladang kering, musim-musim tugur
bawa sajak-sajakku serupa burung
menabur kidung dan terbang
merambahi puncak kesedihan
2018

Lailatul Kiptiyah, lahir dan besar di Blitar. Pernah lama bekerja di Jakarta. Sejak 2014 hingga sekarang menetap di Mataram dan turut menjadi bagian keluarga dari komunitas Akarpohon Mataram, NTB.
