Puisi

Puisi Daruz Armedian

Mungkin Ada

& Mungkin Tak Ada

mungkin ada,

seseorang

duduk di bawah

pohon purba.

matanya menatap kota

yang jauh—

dan meski jauh,

tetap terasa panas,

bau, pengap, sesak

& membosankan.

matanya menatap

kerumunan manusia

            yang jauh—

            dan meski jauh,

            tetap terasa berisik,

            jahat, licik, ambisius,

            penuh dendam

            & sangat menyedihkan.

tapi mungkin juga

tak ada

siapa pun

di sana.

tak ada kota,

tak ada manusia.

angin ketiadaan

berembus dengan percuma.

2022


Perbincangan Tengah Malam

dengan caranya

yang aneh,

sunyi meledak.

serpihnya berserak,

& semesta dimulai.

kekosongan berserakan,

di serpih yang satu,

juga di serpih

yang lain.

apa tak ada

sedikit pun angin?

tanyamu

mencari celah

pada yang mungkin.

dari arah yang jauh,

s  a  n  g  a  t   j  a  u  h ,

bertahun kemudian,

angin bergemuruh.

menyentuh serpihan itu,

menjadikannya basah,

&

kehidupan

dimulai.

cuma di bumi maksudmu?

kau tak memberi waktu.

       tak memberi jeda,

untuk persoalan

selanjutnya.

apa tak ada kehidupan

di planet lain?

di bintang-bintang,

& sejumlah tempat

dari kesunyian?

mungkin ada. mungkin tak ada.

hidup selalu soal menduga-duga.

lalu makhluk hidup yang naif,

dengan keterbatasan

pikirannya,

memberi nama-nama;

ini pohon,        ini gunung,

ini danau,        ini bunga.

itu sungai,        itu laut,

itu teluk,          itu muara.

kau membuka jendela.

biar angin masuk, katamu.

tapi di luar tak ada apa-apa.

udara akhir-akhir ini,

jarang sejuk

meski dini hari.

lalu makhluk hidup yang naif,

dengan keterbatasan

pikirannya,

memberi ruang tumbuh

untuk kehancuran,       kebisingan,

kegaduhan,                  kesemrawutan,

kerusuhan,                   polusi udara

dan lain sebagainya.

kau mengambil sebatang

rokok, dan membakarnya.

mari kita akhiri perbincangan ini.

istirahat.

lalu terjaga.

lalu bekerja.

orang miskin

seperti kita

tak punya banyak waktu

untuk membicarakan semesta.

2022


Cara Terbaik Membuka Mata

Setelah Kehilanganmu

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah waktu pelan-pelan jadi gerbong kereta,

membawamu ke arah yang tak ada aku di sana.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah bertahun-tahun sebelumnya, aku terjaga

dalam keadaan jatuh cinta.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah aku paham kau melambaikan tangan,

yang bukan untuk sapaan.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu.

cara yang sama sekali belum pernah kupelajari,

sebelum kau memilih pergi.

2021


Aku Bermimpi

aku bermimpi

menjadi bayi

yang menangis

karena paham

tangannya tidak

menggenggam

apa pun

kecuali

ketiadaan.


Desember Pada Sebuah Elegi Dini Hari

desember mengubah malam

            menjadi bahasa yang

            tak mudah dikatakan.

orang-orang tampak lebih

            murung dan segalanya

            yang mereka genggam

            hanyalah kekosongan.

orang-orang merencanakan

            sesuatu untuk hari depan

yang mereka sudah tahu

            itu adalah kegagalan,

            atau sekumpulan kemustahilan.

malam jadi tambah kosong,

            langit padam & hujan

            jatuh sebagai gesekan biola

            pada lagu-lagu melankolia.

Mata didera insomnia & Pikiran lelah

bertarung dengan angan-angan

tentang hari dan nasib baik

di tahun yang akan datang.

desember mengubah malam

            menjadi luka yang

            tak mudah disembuhkan,

            menjadi tubuh yang rentan

            jatuh dan dikecewakan.

Jogja, 2021


Menepi

selalu ada hari

di mana seharusnya

kau menepi

dan menyembuhkan

            luka-lukamu sendiri.

orang-orang mungkin

bisa memberikan pelukan,

tapi tidak untuk ketenangan

            jangka panjang.


Daruz Armedian, lahir di Tuban. Sekarang tinggal di Jogja. Tahun 2016 dan 2017 memenangi lomba penulisan cerpen se-DIY yang diadakan Balai Bahasa Yogyakarta. Tulisannya tersiar di pelbagai media cetak dan daring.

Cerpen

“…. Tapi, Bagaimana Kalau Kita Tidak Benar-Benar Ada?”

Cerpen Daruz Armedian

“…. tapi bagaimana kalau kita tidak benar-benar ada?”

Sayup-sayup kudengar dua orang, laki-laki dan perempuan, membicarakan sesuatu yang menarik bagiku. Mereka berhadap-hadapan. Apakah mereka sepasang kekasih, tentu saja aku tak tahu, dan ya, itu kurasa juga kurang perlu kutahu.

Aku duduk di sini dan mereka menempati tempat duduk yang lain, yang ada di depanku. Si laki-laki, kalau tidak ada perempuan di depannya, bisa dikatakan ia sedang berhadapan denganku. Sementara si perempuan memunggungiku. Awalnya aku tak peduli dengan pembicaraan mereka, tapi ketika sampai pada kalimat itu, yang sudah kutulis di awal paragraf cerita ini, aku mulai ikut menyimak.

“Benar juga, ya. Bagaimana kalau kita di sini malah cuma dalam bentuk bayang-bayang?”

“Astaga, jangan-jangan pula, kita adalah ilusi, atau bahkan hasil dari imajinasi seseorang, atau katakanlah sesuatu yang jauh, yang tak terjangkau.”

Ini menarik, kataku dalam hati. Di depanku ada laptop terbuka dan aku tidak peduli dengannya. Kubiarkan ia menyodorkan Microsoft Word yang cuma berisi satu paragraf tentang cerita yang absurd, yang aku sendiri enggan untuk meneruskannya.

“Kurasa pembicaraan kita terlalu jauh. Hahaha.” Si perempuan menertawakan pembahasannya sendiri. Tidak, tidak, kataku, itu tidak terlalu jauh, aku suka ada orang nongkrong di kafe dan membahas soal beginian. Jarang-jarang ada yang seperti itu. Apalagi jika itu sepasang kekasih. Tahu sendirilah apa yang dibicarakan orang-orang yang tengah berpacaran? Atau jangan-jangan mereka sedang dalam masa pendekatan? Sehingga bahasannya rumit. Bukan lagi soal kangen atau tidak kangen, soal pertanyaan lagi apa, sudah makan belum, dan sebagainya.

“Iya, ya, ngapain kita bahas begituan. Yang berguna dan yang paling dekat dengan kita sekarang kan masalah keuangan. Percuma rasanya kita bahas begituan kalo kita masih kere, ke warkop cuma pesan agm (maksudnya adalah kopi hitam agak manis yang harganya 5.000), dan saldo rekening tidak lebih dari 50.000.”

Tapi kalau kulihat-lihat, mereka tidak pesan agm. Mereka memesan jus alpukat dan cokelat panas dan dua mangkok mie goreng. Tampilan yang perempuan juga modis, sebagaimana yang laki-laki juga modis. Si perempuan memakai hoodie warna abu-abu, celana levis pendek, dan sandal yang agaknya harganya kisaran jutaan. Si laki-laki pun begitu, pakai kemeja putih keren dan jam tangan. Ia bukan tampang orang miskin.

“Hahaha. Iya bener.” Si perempuan menanggapi pendek.

Mereka tertawa lagi. Memang betul, keuangan sangat perlu kupikirkan. Terlebih ketika usiaku sudah 25 tahunan. Aku juga harus memikirkan tabungan untuk biaya pernikahan kelak, biaya berumah tangga. Aku ke sini, ke kafe ini jalan kaki, dan sampai sini hanya pesan kopi. Padahal, ada lebih dari 40 menu yang lain. Dan…

“Aku pernah benar-benar miskin. Dulu, untuk ngopi saja aku butuh mikir dua kali. Sebelum ngopi, pasti aku mikir, baiknya uangku untuk makan saja.” Si laki-laki menarik napas dalam, dan meneruskan pembicaraannya, “Tapi ini bahasan yang nggak menarik. Hahaha.”

“Kamu sudah sering cerita soal itu.”

Kemudian mereka sama-sama diam. Masing-masing sibuk dengan hapenya. Aku juga kembali memandangi laptopku. Iya, ya, untuk apa juga aku menulis yang rumit-rumit begini, yang membingungkan kepalaku sendiri, yang kalau dibaca orang lain pun pasti tidak ada faedahnya. Asu memang kehidupan begini. Harusnya aku kerja baik-baik, jadi PNS kalau perlu, biar nanti kalau tua dapat uang pensiunan. Tidak perlu membaca banyak buku, tidak perlu menulis inilah, itulah, hashhhh, taiklah. Kebutuhan dasar manusia kan makan, atau katakanlah pegang uang.

Jadi untuk apa ya Darwin mikirin manusia itu berasal dari kera, untuk apa Socrates bela-belain mati karena mempertahankan pemikirannya, untuk apa para filsuf memikirkan awal mula semesta, untuk apa sih, kalau pada dasarnya yang mereka butuhkan sebenarnya cuma melanjutkan hidup dengan makan, kerja, kalau capek ya istirahat, tidur, merenggangkan ototnya?

Tidak lama, si laki-laki teriak (ya sebenarnya tidak teriak-teriak amat sih).

“Woooooh, orang Amerika menemukan gambaran black hole.”

“Iyakah, siapa?”

“Bouman, eh, sebentar.”

“Hmmm.”

“Iya bener. Bouman. Katie Bouman. Katherine Louise Bouman. Anjiiiirrr keren.”

“Nah, kan. Apa kubilang. Orang-orang luar negeri sudah jauh pemikirannya. Mereka sudah sampai ke luar angkasa. Lah, kita? Masih sibuk ngurusin hoaks terus. Bahkan ngurus got saja masih keteteran. Masalahnya pelik memang. Kalau kamu mau jadi ilmuwan di sini, atau katakanlah kamu mau meneliti sesuatu di sini, ya kamu akan tetap kelaparan. Tidak ada dukungan apa pun dari pemerintah soal penelitianmu. Ya, mungkin kamu bisa membuat proposal, minta bantuan ini-itu, tapi itu susahnya minta ampun, yang kurasa itu tanda kalau pemerintah nggak serius ngurusin beginian.”

Aku kembali mengabaikan laptop, atau sebenarnya mengabaikan pikiranku? Aku mendengarkan perbincangan mereka lagi. Sekarang temanya beda dari yang tadi.

“Ya, begitulah yang terjadi di sini. Mau gimana lagi.” Si laki-laki sudah tidak antusias lagi.

“Hmmm.”

Tiba-tiba aku yang merasa geram. Memang betul, banyak orang-orang yang berkompeten di negara ini, tapi selalu saja mereka disia-siakan. Mereka yang muncul di permukaan, yang mendapatkan penghargaan-penghargaan di luar negeri, adalah orang-orang yang disepelekan di sini. Aku tidak tahu akar masalah ini dari mana. Yang jelas, apasih yang jelas, ini saja tidak jelas. Aku sedang mikirin apa? Arrghhhh. Pusing sendiri aku memikirkan negara ini.

Mereka akhirnya diam lagi. Masing-masing sibuk dengan hapenya lagi.

“Pulang, yuk?” Si laki-laki memasukkan hape ke sakunya.

“Ayo. Tapi mampir beli pizza, ya.” Si perempuan berkata manja.

“Lho, ini tadi sudah makan mie goreng.”

“Aaaa. Pengen. Dari kemarin pengen.”

“Iya, iya, ayo.”

Mereka berdiri dan aku gelagapan, buru-buru fokus ke laptop lagi. Aneh rasanya kalau aku ketahuan menguping sejak tadi. Aku pura-pura mengetikkan sesuatu. Aku tulis kalimat bodoh, tidak teratur, yang penting jari-jariku bergerak di atas keyboard. Untuk keluar dari warung kopi ini, mereka harus melewati samping tempat dudukku.

“Lho, Saka, kamu di sini?”

Aku tersentak. Apa benar perempuan ini mengenaliku? Siapa dia? Aku pandangi agak lama, dan …

“Karin?” tanyaku agak ragu. Dalam pikiranku, Karin adalah mahasiswa filsafat yang pintar dan kritis. Dulu dia tampilannya tidak seperti ini. Hodie dan kacamata dan celana pendek telah mengubahnya menjadi sebegitu anggun.

“Iya.” Dia tersenyum. “Aku duluan, ya,” katanya buru-buru.

“Oke, siap, Rin.” Hati-hati, ya. Hampir saja hati-hati, ya, kuucapkan.

Si laki-laki hanya diam. Ya, karena dia tidak tahu apa-apa mengenai aku.

Bagaimana kalau kita tidak benar-benar ada, Saka?” Karin mengucapkan kalimat itu dengan nada yang lucu. Mimik mukanya tetap sama seperti dulu. Seperti mengejek. Seperti tingkah orang centil. Tapi aku tetap suka. Aku membalas perkataannya dengan tertawa kencang.

Karin berlalu sambil menggandeng tangan laki-laki itu. Mungkin itu pacarnya, mungkin itu tunangannya, mungkin itu malah suaminya. Mereka menuju ke mobil warna merah, yang sejak tadi terparkir di depan warung kopi ini. Dari jauh, masih kudengar sebuah rengekan; aaa, aku sudah pengen pizza dari kemarin, lho. Iya, kan, ini nanti mampir ke sana kan? Dan suara itu dibalas lembut; iya, iya, sayang. Buruan masuk. Gerimis.

Setelah mobil itu berlalu, aku baru sadar telah begitu khusuk melihat mereka. Posisi dudukku jadi membelakangi laptop. Aku keterlaluan melengos. Aku buru-buru kembali ke posisi semula. Microsoft Word kembali kubuka. Kupencet ctrl+N, dan jari-jariku dengan cepat mengetik; mungkin aku saja yang tak perlu benar-benar ada ….

Belum banyak aku mengetik, rasanya aku ingin segera menandaskan kopiku. Ada yang mengganjal di tenggorokanku. Belum banyak aku mengetik, rasanya mataku sudah terlalu lama memandangi layar laptop. Perih. **

Jogja, 2020-2021


Daruz Armedian, lahir di Tuban. Sekarang tinggal di Jogja. Tahun 2016 dan 2017 memenangi lomba penulisan cerpen se-DIY yang diadakan Balai Bahasa Yogyakarta. Tulisannya tayang di pelbagai media.

Puisi

Puisi Daruz Armedian

di luar ketiadaan

di luar ketiadaan, sesuatu yang tak teraba

oleh mata terbuka, menciptakanmu,

menciptakan ruang dan waktu,

nama dan bahasa,

rindu dan cinta,

semesta.

di luar ketiadaan, semesta menjadi

kekosongan. rindu dan cinta lebur,

nama dan bahasa hancur,

ruang dan waktu remuk,

dirimu tak terbentuk.

di luar ketiadaan, tampak

hanya ‘ada’, yang akan

menutupi ‘ketiadaan’ itu sendiri.


kemungkinan

mungkin, di bawah pohon itu,

kita pernah bercengkerama.

soal filsafat dan agama,

soal ada dan tak ada,

soal moral dan dogma,

soal muasal bahasa-bahasa,

soal adam dan hawa,

soal penciptaan dunia,

dan sebagainya.

tapi mungkin tak seperti itu.

kita tak pernah di sana,

tak bercengkerama soal apa pun.

yang ada hanya angin

menggugurkan daun-daun.


distopia

aku terjaga dan tak menemukan diriku

yang sesungguhnya.

berjalan dengan kaki yang tak menginjak

sebagaimana mestinya.

memandang dengan mata yang buta.

ruang sepertinya hanya terbuat dari kegelapan.

duh, tuhan yang menguasai alam,

kenapa mesti ada kebangkitan?

tak ada musik

mengalun di sini,

apalagi cericit burung pagi hari,

apalagi nyanyianmu

(yang di telingaku

kuanggap sebagai kebahagiaan tertentu).

duh, tuhan yang menciptakan bunyi,

kenapa mesti ada sunyi?

sesekali kurasa ada yang memanggil.

pelan-pelan tapi bergema.

mungkin dirimu

tapi tak kutahu itu di mana.

arah jalan semakin lama

semakin bercabang

dan setiap cabang

hanya berisi kekosongan

tuhan, sejak kapan kita berjauhan?


setelah kata-kata tak ada lagi

setelah kata-kata tak ada lagi,

dengan apa kita bicara,

menulis puisi,

dan mengarang cerita?

kepada apa kita musti membaca,

memahami,

dan menduga tanda-tanda?

bagaimana cara berbagi,

berjanji,

dan menjawab tanda tanya?

setelah kata-kata tak ada lagi,

mungkin hanya hening,

dan kita menjadi batu,

bisu,

mungkin hanya dingin

yang lain.


lekas peluk aku

lekas, lekas peluk aku dan tenangkan

keriuhan di kepalaku. makin hari,

bumi makin lupa cara menerima

manusia. kota makin membara,

dan hujan jatuh lebih sering dalam

bentuk melankolia. duh, manisku,

aku mencintaimu di tengah-tengah

kepadatan penduduk, di sekitar

kerumunan buruh harian, anak

jalanan, gerombolan tunawisma,

dan sebagainya. aku mencintaimu

pada zaman di mana aparat

tak pernah bersahabat, pada waktu

di mana pemerintah lupa menaruh

nuraninya. lekas peluk aku dan

tenangkan keriuhan di kepalaku.

sebab negara tak pernah memeluk

penduduknya. tak menjamin

ketenangan rakyatnya.


hatiku gelombang

hatiku gelombang:

bergemuruh

dalam pencarian.

dan kau pantai:

menunggu

dalam keheningan.

untuk dapat bertemu,

keakuanku perlu selesai.

perlu lebur menjadi buih.

hancur menjadi kekasih.


cara terbaik membuka mata

setelah kehilanganmu

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah waktu pelan-pelan jadi gerbong kereta,

membawamu ke arah yang tak ada aku di sana.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah bertahun-tahun sebelumnya, aku terjaga

dalam keadaan jatuh cinta.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah aku paham kau melambaikan tangan,

yang bukan untuk sapaan.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu.

cara yang sama sekali belum pernah kupelajari,

sebelum kau memilih pergi.


percintaan kuli bangunan

o astaga, di ruang ini kita cuma berdua.

selain itu; kalender tahun lalu,

gitar tua, jendela yang tak terlalu

beres engselnya, dan jam dinding

yang kelihatan lain. kamu mau

kutandai lehermu? atau telinga?

atau… tutup pintunya. dalam

percintaan kita, jangan ada

yang boleh masuk, apalagi aturan

negara. di luar, biar berkecamuk,

biar kota sibuk merawat polusi

dan polisi (dua hal yang amat

mengganggu ini). biarin aja.

keringat kita, pelan dan amat pelan,

menyusun bahasa, yang tidak

dipahami oleh para pembenci;

oknum partai, pemegang kekuasaan,

ustaz palsu, pendakwah gadungan,

aparat taik, kontraktor taik, bos taik.

o gendaanku yang paling yoi,

jangan tidur malam ini. kita

main sampai pagi. sampai pagi.


aku akan memelukmu

aku akan memelukmu dalam

bentuk bayangan tidak utuh,

asing dan jauh. lalu cerita

soal hidup dalam kesia-siaan

dan kematian dari orang yang

terlupakan. aku akan menyiram

pohonan yang subur di tubuhmu

dengan air mata kedukaanku:

selain kebahagiaan, kesedihan

juga butuh dibagikan.


aku ingin menyudahi kesedihanku

aku ingin menyudahi kesedihanku

sebagai manusia

yang kerap gagal memaknai

jalur-jalur hidupnya.

menjadi batu, misalnya,

atau cemara atau keheningan beranda.

diam dan mengamati

bagaimana cara manusia

meluaskan kebodohannya sendiri.


Daruz Armedian, lahir di Tuban. Sekarang tinggal di Jogja. Tahun 2016 dan 2017 memenangi lomba penulisan puisi se-DIY yang diadakan Balai Bahasa Yogyakarta. Tulisannya pernah tayang di media cetak dan online. Buku kumpulan puisinya, agaknya mau terbit tahun ini.

Cerpen

Tidak Perlu Adil, Apalagi Adil Sejak dalam Pikiran

Cerpen Daruz Armedian

Pada pagi yang biasa, sebuah papan tulis di depanmu ada kalimat yang berbunyi sederhana: bertindaklah adil sejak dalam pikiran. Kalimat itu ditulis oleh jemari lentik milik seseorang yang baru menjadi guru. Kebetulan hari ini, guru itu sedang mengisi di kelasmu. Panggil saja, Bu Oka, katanya ketika teman-teman sekelasmu meminta sebuah perkenalan singkat.

Dua jam ke depan, pelajaran sejarah resmi diampu Bu Oka. Ia menggantikan Pak Saifuddin yang sudah tua dan kebetulan hari ini sedang sakit. Entah akan mengganti dengan sementara atau sampai jam-jam seterusnya. Memang sudah menjadi aturan, meski tidak tertulis, guru baru di sekolah itu mula-mula harus jadi guru pengganti. Atau menjadi bagian Tata Usaha dan penjaga perpustakaan.

Lima menit berlalu dan Bu Oka masih duduk di situ. Duduk di kursi guru sambil membolak-balik lembar-lembar absensi kelas 8 D. Wajahnya serius mengamati deretan nama-nama yang ada di sana. Ia seperti tak menghiraukan suasana kelas yang mulanya gaduh berubah jadi senyap. Berpasang-pasang mata siswa menatapnya. Menunggu apa yang akan dikerjakan perempuan itu beberapa menit ke depan.

Bu Oka masih melihat-lihat isi absensi. Dan sejenak kemudian menatap siswa di sana. Daftar kehadiran sebenarnya tidak penting, tukasnya. Lalu ia berdiri.

“Oke. Kalian tahu, siapa yang membuat kata-kata ini?” tangan Bu Oka menunjuk papan tulis. Matanya melirik kanan kiri. Menatap satu persatu siswa di situ. Semua terdiam. Kamu belum pernah mendengar kata-kata bijak itu.

“Itu adalah kata-kata Pram. Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan yang mendunia dari Indonesia. Kalian belum kenal?”

Kamu dan teman-temanmu menggelengkan kepala. Sungguh, itu kali pertama kamu mendengar namanya.

Bu Oka menjelaskan panjang lebar mengenai sastrawan yang mendunia itu. Ia pernah ditahan oleh pemerintah. Dipenjara di Jakarta, dibuang ke Nusa Kambangan (kamu pernah mendengar nama pulau itu suatu waktu, dan kamu merinding membayangkannya). Lalu dibuang ke Pulau Buru dan dipekerjakan secara paksa. Mirip kerja rodi atau romusha, atau lebih kejam dari itu. Buku-bukunya banyak yang dimusnahkan karena melawan pemerintah.

“Kalian harus tahu, kalau sebenarnya banyak orang hebat yang namanya ingin dihapuskan dari sejarah.”

Bu Oka kembali menerangkan ini itu. Sejarah-sejarah yang berbeda dengan apa yang ada dalam pelajaran sewajarnya. Asyik sekali, pikirmu.

**

Kamu merasa tidak aneh, ketika sekarang teman-temanmu semua malas untuk meninggalkan pelajaran sejarah, walaupun tidak ada absensi. Bagimu, itu karena pelajaran sejarah Bu Oka asyik sekali meski hampir semua yang diajarkannya berbeda dengan penjelasan Pak Saifuddin atau guru-guru sejarah lainnya atau tulisan-tulisan yang ada di LKS (Lembar Kerja Siswa). Padahal, sebelumnya, pelajaran sejarah adalah pelajaran yang sangat-sangat membosankan. Membolos adalah kegiatan yang digemari teman-temanmu dan tentu saja kamu, meski pada akhirnya setelah itu mendapat hukuman dari Pak Saifuddin. Disuruh berdiri di depan kelas selama dua jam penuh, atau dipaksa menghafalkan UUD (kamu tidak suka UUD). Tidak berhenti di situ, tidak masuk di mata pelajaran itu selama tiga kali, berarti juga tidak boleh mengikuti ujian.

Hari itu, kamu merasa Bu Oka datang lebih cantik dari biasanya. Dan apa yang diterangkan mengenai sejarah, lebih menarik dari biasanya. Bu Oka mengatakan kalau Soeharto (Bu Oka tak pernah memanggilnya Pak Harto atau Presiden Soeharto) telah membelokkan sejarah. Memutar film kekejaman PKI yang diulang-ulang setiap tahun kemerdekaan. Kamu yang tidak betul-betul tahu apa itu PKI hanya mendengarkan saja. Bu Oka, toh, tetap asyik cara bertuturnya.

Begitulah, kenapa kamu menyukai Bu Oka.

**

Hampir satu semester sudah Bu Oka mengajar sejarah di kelasmu. Hari ini hari terakhir pelajaran sejarah sebelum ujian. Sebelumnya, Bu Oka sudah pernah bilang kalau dalam pelajaran yang diampunya itu tidak perlu ujian. Katanya, ujian tidak penting, apalagi kalau tujuannya cuma mencari nilai. Yang penting paham atau minimal tahu. Tetapi, karena sekolah mewajibkan seluruh mata pelajaran harus ada ujian, maka pelajaran sejarah tetap ada ujian. Mengenai ini, kamu dan teman-temanmu tidak peduli, karena Bu Oka menjanjikan sebuah nilai di atas 90 bagi setiap siswa.

Sepuluh menit waktu pelajaran sejarah berlalu dan Bu Oka belum datang di kelasmu. Tidak seperti biasanya. Kamu tahu, Bu Oka lebih rajin dari siswa mana pun di sekolahanmu. Ia datang di kelas sangat pagi, sejak pintu gerbang sekolah dibuka oleh satpam. Bahkan Si Satpam kenal dekat dengan dia.

Sampai di sini, kamu mengakui, pelajaran Bu Oka itu candu, membikinmu ketagihan. Kamu gelisah. Teman-temanmu juga. Akhirnya, salah satu dari teman-temanmu mempunyai inisiatif untuk berdiskusi tentang sejarah. Sebagaimana yang diajarkan Bu Oka, diskusi itu sangat penting. Mereka menunjukmu sebagai pemimpin diskusi. Tetapi, belum sempat kamu maju ke depan, Bu Oka datang tergopoh-gopoh. Ia mengatakan kalau saat itu tidak bisa mengajar. Akan ada rapat dengan kepala sekolah.

Kalian sedih. Tetapi, menanggapi kesedihan itu, Bu Oka berjanji akan kembali mengajar lagi kalau kalian naik kelas 9. Sekarang, katanya lagi, kelas diisi dengan diskusi. Dan hari inilah, pertamakali diadakannya diskusi sejarah di kelasmu. Di masa Pak Saefuddin tidak pernah dilakukan hal semacam itu. Mengajarnya lebih mirip seminar. Murid-murid adalah budak dan ia adalah tuannya.

Dua bulan berlalu namun Bu Oka tidak pernah lagi mengajar di kelasmu. Ia sendiri tidak pernah memberi tahu kenapa tidak mengajar lagi. Akhirnya, pelajaran sejarah diampu oleh guru baru. Anak seorang guru di sekolahanmu yang baru pulang dari Mesir. Pak Rokib, begitu ia menyuruh kalian memanggilnya.

Sama seperti guru sejarah sebelum Bu Oka, Pak Rokib mengajari kalian sejarah yang semestinya. Sesuai dengan yang ada di LKS. Bahwa penculikan terhadap jendral memang terjadi. Yang berperan penting memerdekakan negara ini adalah para tentara, kiai, dan santri-santri. PKI memang mau membubarkan Indonesia dan menghianati Pancasila. PKI memang jahat dan wajib ditumpas. Ia juga mengingatkan kalian agar mengisi semua soal-soal yang ada di LKS. Karena ujian nanti—ujian yang masih jauh karena baru saja berganti kelas—soal-soal ujian tidak lepas dari buku tipis itu.

Ketika salah satu dari kalian tidak setuju dengan apa yang diajarkannya, Pak Rokib marah-marah sambil mengatakan, makanya belajar. Sekolah itu belajar, bukan terus-terusan tidur. Bukan terus-terusan bermalasan. Padahal kalian tidak sering tidur dan padahal kalian tidak malas kalau Si Guru cara mengajarnya enak.

Maka begitulah, kamu sangat merindukan Bu Oka. Merindukan bagaimana ia bercerita tentang sejarah yang belum kamu ketahui, membebaskan kamu dan teman-temanmu bertanya, berdebat, dan tentu saja berpikir. Suatu hari kamu memberanikan diri bertanya pada kepala sekolah, kenapa Bu Oka tidak mengajar lagi. Dengan tegas ia menjawabmu, Bu Oka tidak cocok mengajar di sini.

“Ada masalah?” kata Pak Kepala Sekolah sambil melotot (kamu heran, kenapa bapak itu sampai memelototkan matanya sebegitu rupa).

Kamu tak berani bicara. Dan kamu tak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi pada Bu Oka, dan pada apa yang diajarkan Bu Oka. Sama halnya pelajaran sekolah, sistem di sekolahan juga rumit untuk kamu pahami.

***

2017


Daruz Armedian, lahir di Tuban. Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga ini bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta. Mengikuti Kelas Menulis Balai Bahasa DIY. Tulisannya pernah di Koran Tempo, Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Republika, Lampung Pos, Pikiran Rakyat, detik.com, basabasi.co, dll. Pernah memenangi lomba cerpen se-DIY yang dilaksanakan Balai Bahasa DIY tahun 2016 dan 2017.

Puisi

Puisi Daruz Armedian

mengartikan pelukan

ingat malam itu: aku memelukmu. sebuah cara mengucap cinta tanpa kata-kata. tubuhku beku dan suaraku sepi seperti ditelan bumi. tapi saksikan, dadaku berteriak. seolah ada sesuatu yang retak. di dalamnya ada diriku yang lain berdoa. semoga aku bagian dari kamu.


aku sengaja mencintaimu untuk kau sia-siakan

aku sengaja mencintaimu untuk kau sia-siakan

seumpama jendela yang setia mengamatimu

melangkah pergi dan kembali

meski yang kau tuju adalah pintu

cukup aku menjadi jerawat

yang menolak tumbuh di wajahmu

agar kau tak malu dan berpaling

saat berhadapan dengan cermin dan orang lain

aku sengaja mencintaimu di dalam masa lalu yang jauh

masa di mana tak mungkin jemarimu menyentuh


membicarakan hari ini

sejak kamu ambil hatiku, aku merasakan segalanya. tak ada lagi kata ‘pinjam’ mulai saat ini. buku-buku itu juga milikmu. lengan yang merengkuhmu seperti merengkuh diri sendiri. mata yang menatapmu adalah kebutaanku terhadap orang lain.

hari ini aku meniadakan diri. kamu meniadakan dirimu. untuk satu, kita perlu hilang di tubir waktu. lalu hadir sebagai diri lain. bukan angin, bukan aku juga bukan kamu.


mempertanyakan keabadian

apa yang dipersoal? segalanya kita kenal dan tak ada yang bakal kekal. sapamu kemarin hanya angin. bumi yang bijak suatu hari akan retak. kita memang pernah membaca madah. puisi sapardi tentang waktu yang fana dan kita abadi. tapi usia manusia tak bisa setua puisi atau waktu itu sendiri.

apa yang akan kamu abadikan? segalanya meluncur deras bagai hujan. atau bagai sungai yang tawar cepat lepas ke asin lautan.

bukan aku mengutukmu jadi bongkahan batu.  makhluk dungu yang tak pandai mengenang sesuatu. hanya, kita lahir untuk titik nadir. kita tenggelam dalam ada tapi tak sungguh-sungguh ada.


belajar yang lain

dalam bahasan lain, otak kita terbagi jadi tiga. pertama untuk mengenang, kedua untuk menjalani hari ini, ketiga untuk merencanakan masa depan. aku bermimpi kehilangan otak pertama dan kamu membicarakan tak punya otak ketiga. kita menjalani hari ini di ruang dan waktu yang sama.


selamat malam, istri orang

selamat malam, istri orang

ada gelombang di matamu

seperti ingin tumpah ke daratan

apakah hari-hari kau jajaki tak sederhana

seperti hari yang kumiliki

pagi dengan kopi di meja

menghadap jendela

dan buku-buku yang

menceritakan banyak hal

selamat malam, istri orang

begitu tua wajahmu

lebih tua ketimbang usianya

apakah kenangan begitu berat kautanggung:

ketika itu pernah aku jadi pacarmu

ketika itu pernah aku datang sebagai tamu

di hari pernikahanmu

selamat malam

apalah arti pernikahan dengan lain orang

jika aku mungkin masih kau kenang?


nama lain kesedihan

/1/

nama lain dari kesedihan

adalah air mata perempuan

yang lahir dan mengalir

dari dada remuk redam

jika ia sungai

luka-luka akan diseretnya

dengan arus rumit

menuju ke arah yang

menanam rasa sakit

/2/

nama lain dari kesedihan

adalah penantian panjang

di hadapannya: waktu melambat

bosan dan gelisah meledak

serpih-perihnya terserak

menyesaki ruang tunggu

sementara kabar darimu

telah bosan mengetuk pintu telingaku

/3/

nama lain dari kesedihan

            adalah kesendirian


maafkan

maafkan kenakalanku:

mencuri namamu

dan kuserahkan

kepada tuhan

maafkan kemalasanku:

menyia-nyiakan waktu

dengan tidak mengerjakan apa-apa

kecuali duduk di sampingmu

dan membicarakan segalanya

maafkan kebodohanku:

menganggap semua ilmu pengetahuan

tidak perlu kutahu

kecuali dirimu


dingin benar udara di sini

dingin benar udara di sini

di luar, pohon-pohon berlarian

seperti ke arah masa silam

masa di mana ketakutan-ketakutan kualamatkan

di kaca jendela kereta

embun menyublim

dan aku di dalamnya

membeku

sambil menatapmu

sedang memandang

kelebat pohon-pohon itu

kau berkata pelan

ketika kereta baru setengah jam berjalan:

rebahlah di pundakku

pakailah jaketmu

udara dari ac

jauh lebih berbahaya

ketimbang jatuh cinta

aku tak butuh memakai jaket

atau merebahkan kepala

aku ingin menciummu

dan menantang bahaya dari keduanya:

jatuh cinta

dingin udara


mencemburui waktu

aku lelaki pencemburu, perempuanku

terlebih kepada waktu

ia mengubah bentuk wajahmu jadi tua

tulang-tulangmu jadi renta

kakimu jadi lelah melangkah

sedang ia masih berlari dan terus berlari

seperti anak kecil

yang tak mengerti

bagaimana perihnya menjadi dewasa

orang-orang berusaha menghitung waktu

menciptakan jam dan tanggalan

dan perhitungan-perhitungan lain

jam di lenganmu mati

dan kau tak menemukan apa-apa

selain semua itu sia-sia

tanggalan di rumahmu

selalu tidak mampu menghitung

kurun waktu dua tahun

atau lebih

aku bisa mencegah siapa pun

yang ingin merebutmu

tapi bagaimana jika itu waktu?

ia bisa saja mendatangimu

sebagai ketiadaan

menyeretmu perlahan-lahan

ia bisa saja mendatangi kita

sebagai kelupaan

kau melupakanku dan aku melupakanmu

atas dasar terlalu berat mengingat


Daruz Armedian, lahir di Tuban. Sekarang tinggal di Jogja. Tahun 2016 dan 2017 memenangi lomba penulisan puisi bagi remaja DIY. Tulisannya pernah di koran Tempo, Media Indonesia, Suara Merdeka, Republika, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Lampung Pos, dll.

Cerpen

Satu Menit di Neraka

Cerpen Daruz Armedian

Bandu mati suri dan ketika hidup kembali, ia menceritakan pengalamannya satu menit berada di neraka. Orang-orang setempat tidak ada yang percaya, meskipun kemudian tetap menyimak ceritanya.

Orang-orang setempat yang tidak percaya mengenai pengalaman Bandu sewaktu mati tentu saja bukan tanpa alasan. Banyak orang mati suri dan ketika hidup kembali, mereka tidak mengerti apa-apa. Mereka dibuat lupa oleh pencipta semesta ini. Pengetahuan mereka dibuat kembali dari nol lagi.

Orang-orang setempat yang penasaran cerita Bandu tentang satu menitnya di neraka juga bukan tanpa alasan. Siapa yang tidak rindu kebohongan paling asyik di tengah-tengah banjirnya kebohongan yang buruk di dunia maya? Tentu saja penasaran dengan cerita Bandu menjadi pilihan terbaik. Bandu toh memang tukang cerita yang baik. Bandu toh juga bersungguh-sungguh ingin memberikan pengalamannya.  

“Satu menit di neraka ternyata menyedihkan. Kau akan tahu bagaimana malaikat yang digambarkan terbuat dari cahaya itu menjadi begitu bengis. Persis iblis. Mereka tidak peduli ada makhluk-makhluk Tuhan paling mulia tersiksa di neraka. Malaikat itu terus membodami mereka, sampai hancur, sampai tulang-tulangnya menjadi bubur.”

Orang-orang menyimak dengan saksama. Saleho, pemuda yang kebetulan masa kecilnya sering mengoleksi buku kecil Siksa Neraka, melongo sampai pada titik terlebar. Mulutnya seperti ingin memangsa lebih banyak udara.

“Satu menit di neraka, kau akan tahu bagaimana rasanya tulang punggung meleleh, otak mendidih, dan daging matang.”

“Gimana Abang bisa tahu itu sedangkan sekarang Abang baik-baik saja? Abang masih bisa bercerita. Abang masih bernapas seperti biasa.” Celetuk Ahmad Sultan Syafi’i, mahasiswa fakultas dakwah.

“Tunggu dulu, Anak Muda. Masalah ini tidak segampang yang ada di pikiranmu.”

“Terus gimana, Bang?”

“Karena cuma satu menit, maka aku belum disiksa. Aku baru di pinggir neraka dan melihat semua kejadian-kejadian mengerikan di dalamnya.”

“Bukannya satu menit di neraka itu sudah terhitung lama?”

“Aku tidak paham soal itu. Yang jelas, aku belum disiksa. Hanya, Tuhan berencana memasukkan aku ke dalamnya lewat malaikat-malaikat yang bengis itu.”

“Tunggu dulu. Kamu jangan ngawur!” tersinggung karena malaikat dibilang bengis, Ustaz Khaliq angkat bicara, “cukupkan saja ceritamu itu.”

“Mohon maaf, Ustaz. Kalau tidak mau mendengar cerita saya, silakan Ustaz undur diri. Saya akan tetap melanjutkan cerita saya soal di neraka yang siksaannya sangat pedih.”

Ustaz Khaliq geram, alih-alih masih tetap mendengarkan cerita Bandu. Dan tepat ketika cerita itu sampai pada peristiwa yang paling mengerikan (tentu saja tidak perlu ditulis di sini), Ustaz Khaliq tergidik, lalu pergi dan tidak mau mendengarkan cerita mengenai neraka lagi. Terlalu mengerikan, bahkan walau hanya untuk dibayangkan, pikirnya. Lalu satu orang menyusul pak ustaz, lalu satu orang lagi, lalu beberapa orang, lalu semuanya pergi meninggalkan Bandu.

Bandu terbahak-bahak melihat kejadian itu. Sehingga orang-orang yang belum jauh pergi, memandangi Bandu dengan heran. Kemudian terdengar teriakan dari Bandu, “Kalau kalian takut neraka, mestinya tak perlu mengharapkan surga! Kalian menyembah Tuhan atas nama ketakutan!”

Semuanya tersentak. Tetapi, itu tentu bukan hanya karena perkataan Bandu, tapi juga karena tepat pada saat mengucapkan itu, Bandu terbang. Semakin meninggi dan meninggi dan akhirnya tak kelihatan lagi.[]


Daruz Armedian Lahir di Tuban dan bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta. Mendapatkan penghargaan cerpen terbaik tingkat remaja di DIY dari Balai Bahasa Yogyakarta tahun 2016 dan 2017.